Thursday, June 09, 2016

Bapak-bapak Ngumpul

Bersosialisasi adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika bisa bersosialisasi dengan tetangga yang merupakan saudara terdekat kita. Sejak pindah rumah dari yang lama ke yang baru, saya dan pak suami mengalami perubahan dalam bersosialisasi. Perubahan yang nyata adalah seringnya pak suami ikut nongkrong kalau ada bapak-bapak yang ngumpul. 

Maklum lah, tetangga di rumah lama sedikit sekali. Depan rumah dan samping kanan masih berupa kebun. Tetangga di sebelah kiri sudah tua dan obrolannya kurang nyambung. Ada sih yang seumuran tapi kalau pulang kerja pagi. Nah, keadaan ini yang membuat pak suami nggak pernah ngumpul bareng bapak-bapak. 

Keadaan berbalik saat kami tinggal di lingkungan baru. Awal-awal pindah, kalau weekend pasti ada saja bapak-bapak yang ngumpul. Dimulai dari obrolan antara dua bapak kemudian nambah lagi dan lagi. Tak lama kemudian, terdengar suara gelak tawa mereka pecah. 

Beneran nih, waktu awal pindah, obrolan antara dua bapak bisa nambah dengan bapak-bapak yang lain. Mereka ngobrol dari pagi sampai siang. Betaaah banget. Saking betahnya, kadang mereka mencari tempat yang adem supaya bisa dilanjutkan ngobrolnya. Mungkin kalau tidak ada teriakan dari anak-anak atau ibu-ibu, mereka bakal lupa waktu, hahahahaha. 

Bapak-bapak kalau ngumpul tak kenal waktu dan tempat. Bisa pagi, tapi seringnya malam hari terutama saat mau libur atau weekend. Kalau weekend atau libur, bapak-bapak bisa ngumpul sampai pukul 01.00. Iya, dini hari, Ciiiin!! Dan mereka asyik aja goleran di jalan. Seru deh kalau melihat guyub yang seperti ini, hahahaaha. 

Jujur, seringnya saya nggak tahu pak suami ngumpul sama bapak-bapak pukul berapa. Hawong, pak suami kalau keluar rumah saat saya sudah tidur. Mungkin bapak-bapak yang lain juga, menunggu saat anak mereka sudah bobok. Alasannya sih, biar nggak ada yang ngrecoki atau nyuruh pulang. Hahahahaha.

Saat saya terbangun dan mendapati pak suami ngilang, pikiran saya pasti lagi ngumpul sama bapak-bapak. Dan benar, saya sering mendengar gelak tawa yang memecah sunyi dan syahdunya malam*halah. 

Baru-baru ini, selepas tarawih, pak suami ngobrol dengan seorang bapak yang juga ikut tarawih. Dari obrolan antara dua orang menjadi obrolan beberapa orang. Mereka ngobrol sambil berdiri, lho. Saya tahu karena mereka ngobrol di depan rumah. Selama belum tidur, saya lihat pak suami bolak-balik ke kamar mandi. Tapi setelah itu ya keluar lagi untuk melanjutkan obrolan yang belum tuntas. 

Dari yang semula nggak ngantuk akhirnya saya tinggal tidur sendirian di kamar. Ketika sahur, saya tanya ke pak suami semalam ngumpul sampai jam berapa. Katanya sih sampai pukul 21.45. Haaaa, mereka betah berdiri dari pukul 20.00-21.45. 

Bagaimana sikap saya sebagi istri?

Saya sih santai dan enjoy saja dengan bapak-bapak yang suka ngumpul ini. Wajar lah karena dunia lelaki memang seperti itu. Saya menganggap ini salah satu me time-nya bapak-bapak. Kasihan kan mereka sudah stress atau jenuh dengan kerjaan kantor. Dengan ikut ngumpul seperti ini, saya yakin stress mereka berkurang *sotoy. Jangan salah, bapak-bapak juga suka curhat, lho. Tapi curhatan mereka berbeda dengan ibu-ibu. Curhatan bapak-bapak mah seputar masalah lelaki dan lebih banyak guyonnya ketimbang bapernya. Hahahaha. 

Selain stress berkurang karena curhat, kadang mereka juga tahu apa yang menjadi trending topic di kompleks. Selain curhatan, bapak-bapak kalau ngumpul sejatinya ada permasalahan yang dibahas, kok. Misalnya saja membahas security, sampah, atau fasilitas yang ada di komplek. Pembahasan mereka sih simple karena lelaki nggak suka ribet. Pembahasan sambil diselingi obrolan ringan atau guyonan kan malah enak, istilahnya serius tapi santai. Apalagi kalau ditambah dengan aneka jajanan. Waini, yang bikin bapak-bapak tambah betah ngumpul.

Kalau bapak-bapak ngumpul, ibu-ibu turut berperan kok. Peran ibu di sini dengan menyiapkan camilan atau jajanan. Nggak semua bawa sih yang penting ada camilannya. Kadang ada yang menyediakan teh, kue, cireng, gorengan, pisang, dll. Seringnya bapak-bapak di sini membuat susu jahe sendiri. Mereka ngobrol sambil membakar jahe dan merebus air. Setelah air matang, baru deh mereka bikin susu. Nikmat dan gayeng ya kalau begini. 

Saya sih senang kalau melihat pak suami juga senang. Iya, prinsip saya sesimple itu. Jadi, selama pak suami bahagia dengan acara ngumpul ini, saya nggak keberatan. Terserah saja pak suami mau ikut ngumpul atau enggak.

Etapi dengan satu syarat, pak suami harus transfer cerita lucu minimal satu, hahahahahaha. Soalnya saya suka tertawa sendiri jika mendengar mereka terbahak-bahak. Penasaran sih apa yang ditertawakan. Dan, setelah mendengar siaran ulang dari pak suami, saya pun tertawa terpingkal-pingkal. Saya membayangkan kalau bisa mendengar cerita lucu tersebut secara live. Huahahahahaha. 

Hhmm, saya nggak memaksa sih kalau pak suami mau cerita atau enggak. Seringnya sih apa yang sedang menjadi permasalahan di kompleks, diceritakan lagi sama pak suami. Dengan begini, saya jadi tahu permasalahan di lingkungan tempat tinggal. Saya juga yakin kalau ada cerita yang under cover dan sengaja tidak diceritakan ke saya biar nggak baper, hahahaha. 

Dengan adanya kegiatan bapak-bapak ngumpul, saya merasakan perubahan pada pak suami. Dulu, yang awalnya saya kenal pendiam dan kurang suka bersosialisasi ternyata berbeda setelah ikut ngumpul-ngumpul. Yang saya kira nggak bisa bercanda ternyata bisa juga bikin suasana cair. 

Percayalah, kegiatan bapak-bapak ngumpul ini merupakan aktivitas yang positif dan termasuk me time yang murah meriah daripada mereka harus ngumpul dengan teman-teman kantor di kafe atau mall. Bener, kan? ^-^




















6 comments:

  1. bener bgt mba...apalagi kalau bapak2 kumpul sekalian siskamling..tambah akrab dan tambah aman..he he he

    ReplyDelete
  2. saya ada kosa kata yang gak tau mak pit, "gayeng" what is this? :o

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com