Friday, January 27, 2017

Thanaka, Bedak Tradisional dari Myanmar

Di salah satu rubrik majalah langganan saya, beberapa bulan lalu menceritakan tentang Myanmar. Tulisan dari pembaca yang pernah pergi ke Myanmar, sangat menarik. Tulisan tersebut membuat saya untuk tahu lebih banyak tentang Myanmar. Dalam rubrik itu si Penulis menceritakan tentang tradisi yang tak lekang di Myanmar. Salah satunya yaitu masih banyaknya orang Myanmar yang tidak malu memakai thanaka.

Apa itu thanaka?

Singkatnya, thanaka adalah semacam bedak dingin yang dipakai orang Myanmar. Tapi ini bukan sembarang bedak, lho. Bagi orang Myanmar, memakai thanaka merupakan warisan leluhur dan tradisi yang sudah ada sejak lama. Baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda, banyak sekali yang memakai thanaka. Mereka memakai thanaka di mana-mana dan tidak malu meski di tempat umum.

Kalau misal memakai bedak dingin seperti itu di Indonesia, gimana ya? Pastinya bakal dilihatin banyak orang. Pede banget, ya. ☺

Orang Myanmar tidak malu karena thanaka bukan sembarang bedak tradisional. Bedak thanaka berasal batang dari kayu thanaka. Potongan kayu tersebut selanjutnya diulek untuk diambil serbuknya. Lalu serbuk thanaka diberi sedikit air dan dioleskan di pipi. 

Kayu thanaka mudah didapat karena banyak dijual di pasar tradisional ataupun pasar modern yang ada di Myanmar. Namun saat ini thanaka dalam bentuk instan banyak juga dijual di toko kosmetik atau apotek. Maka tak heran bila masih banyak masyarakat Myanmar yang memakai thanaka. 

Kayu Thanaka-Sumber dari unctad.org

Masyarakat Myanmar memakai thanaka setiap hari karena mereka percaya akan khasiatnya. Mereka memakai thanaka untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Hm, penggunaannya hampir mirip sun block ya. Di samping itu, thanaka juga bisa digunakan sebagai obat kulit misalnya untuk mengatasi jerawat atau gatal-gatal. 

Tidak lama setelah saya membaca tentang thanaka di majalah, saya melihat postingan Una di timeline media sosial. Dia berfoto memakai bedak dingin. Statusnya saat itu, dia mengatakan kalau sedang memakai thanaka. Saat itu juga saya inbox Una tentang thanaka. Lalu kami bercerita soal thanaka.

Ternyata Una mendapat oleh-oleh dari Myanmar. Wow, thanaka asli dari sononya. 

Una yang baik hati menawarkan thanaka karena dia punya beberapa buah. Alhamdulillah, saya sih nggak menolak ya diberi bedak thanaka. Saya penasaran banget dengan bedak thanaka. Kalau membaca khasiatnya sih nggak ragu, ya. Thanaka merupakan bedak alami yang sudah lama dipercaya manfaatnya. Apalagi kalau gratis, siapa yang nggak nolak coba? ☺☺ 

Kiriman Thanaka dari Una

Sekitar 2 minggu terakhir, hampir tiap hari saya memakai bedak thanaka. Saya memakai thanaka biasanya sehabis sholat dhuhur sampai sebelum ashar. Selama memakai thanaka, saya tidak menggunakan sun block sebelumnya. Jadi wajah benar-benar bersih dari make up. 

Cara memakai thanaka mudah banget. Bedak kiriman teman saya keras sekali. Jadi saya harus mengirisnya sebelum digunakan. Iris thanaka secukupnya lalu beri air. Usapkan thanaka di bagian wajah.

Kalau orang Myamnar memakai thanaka di pipi, saya memakai di seluruh wajah, persis seperti memakai bedak dingin saat saya masih kecil. Hm, biar maksimal aja sih, hahaha. 

Gimana rasanya memakai bedak thanaka?

Jujur, saya suka sekali memakai thanaka. Saat thanaka masih basah, wajah terasa adem. Namun ketika bedak thanaka sudah mengering, kulit wajah terasa kencang sekali seperti memakai masker. 

Membersihkan thanaka juga cukup dibilas dengan air. Bedak thanaka yang kering mudah dibersihkan dan wajah bersih seketika. Iyes, wajah terasa adem, segar, dan bersih.

Pakai Thanaka
Kalau bedak thanaka sudah habis, saya pengin banget membeli thanaka di Indonesia. Tapi setelah gugling kayaknya tidak ada penjual bedak thanaka di Indonesia bahkan di Jakarta juga belum ada. Saran dari mbah gugel kebanyakan disuruh membeli di olshopnya Malaysia. 

Hm, apa saya yang katrok ya tidak tahu info penjual bedak thanaka. Mungkin Teman-teman ada yang tahu penjual thanaka di Indonesia? Tapi harganya yang reasonable, ya.☺

PS : Makasih ya Una, untuk bedak thanakanya. Kalau aku dikasih lagi nggak nolak kok.^-^.


















Continue Reading…

Friday, January 06, 2017

Abang Ojek Online

Malam itu, saat pak suami pulang kerja, saya ajak jalan keluar rumah. Hal yang sering saya lakukan jika saya merasa bosan di rumah. Jika bosan, obat andalannya biasanya makan bakso di lapak langganan. Iya, saya orangnya memang sereceh itu. 

Kalau keluar rumah tapi tidak ada tujuan, biasanya pak suami ogah banget. Buang waktu dan tenaga, katanya. Lagipula besok juga harus berangkat pagi ke kantor, melakukan aktivitas rutin.

Daripada pergi tanpa tujuan, akhirnya dia usul untuk sekalian belanja bulanan aja. Apalagi saat itu mau long weekend natal. Artinya, swalayan sebentar lagi bakal ramai. Kami memang malas kalau belanja saat libur panjang atau weekend. Nggak kuat sama antrenya.

Mengingat mepetnya waktu karena sudah malam, akhirnya kami pergi belanja dengan persiapan yang ala kadarnya.

Saya akui kalau pria itu lebih berpikir menggunakan logika dibanding wanita. Ini yang saya suka, karena saya banyak memakai perasaan, hahaha. Menurut pak suami, sebenernya masih ada waktu kalau mau beli bakso. Apalagi lapak bakso langganan jualannya simpel yakni cuma melayani bakso. Minumannya hanya air mineral gelas yang kardusnya ditata di dekat kursi pembeli. 

Akhirnya saya pun menyanggupi. 

Meski lapak bakso cukup ramai akhirnya kami bisa makan tanpa lama mengantre dan cus belanja di swalayan sebelum tutup.

Sampai di swalayan, parkiran agak ramai. Tumben amat padahal saat itu weekday, lho. Untungnya kondisi di dalam lumayan lengang. Antrean di kasir tidak terlalu ramai. Syukurlah. Saya dan pak suami mulai menyusuri lorong demi lorong yang sudah kami hafal.

Saat kami tiba di lorong sabun cuci, mata saya tertuju kepada pria yang berjaket dan memakai masker. Saya lirik sedikit ke arahnya. Oh, ternyata dia abang ojek online yang sedang belanja. Saya tahu saat dia memegang hape bergambar foto sabun cuci. Si Abang agak lama mencari sabunnya. Entah karena kurang familiar atau untuk memastikan bahwa pesanannya benar, sesuai keinginan pelanggan.

From Pixabay
Saya tersenyum melihat kejadian ini. Teringat beberapa bulan lalu saat pak suami mengalami kejadian yang sama dengan abang ojek tadi. Iyes, pak suami pernah belanja bulanan sendiri meski cuma beberapa menit.

Jadi waktu itu pak suami ngedrop saya di klinik perawatan kulit. Dikiranya saya bakal facial. Daripada nungguin lama akhirnya pak suami belanja bulanan sendiri. Nggak tahunya saya cuma konsul dokter dan membeli krim saja.

Selama saya di klinik, pak suami berkali-kali mengirim gambar via whatsapp. Untuk memastikan aja sih barang yang dibeli benar atau tidak. Atau malah menunjukkan kalau barang yang mau dibeli tidak ada, penggantinya ada merk lain. 

Saya anggap ini wajar sih karena takut kalau saya ngomel atau malah barangnya salah dan tidak terpakai. Lah, sayang uangnya kan? -.-

Setelah konsul dokter, saya pun cus menyusul pak suami ke swalayan naik angkot nyusul belanja bulanan.

❤❤❤

Kembali ke abang ojek online yang belanja tadi. Saya menaruh hormat dan respek yang luar biasa terhadap pekerjaan apa pun dan kepada siapa pun. Karena saya tahu untuk mendapatkan pekerjaan itu sulit. Untuk mencari uang itu butuh perjuangan dan kerja keras. Apalagi di saat sekarang ini, ya. Ekonomi semakin sulit saat kebutuhan sudah tidak bisa ditolak lagi meski bukan untuk sekedar gengsi.

Si Abang masih bekerja saat yang lain sudah di rumah bertemu keluarganya. Si Abang bekerja dengan sungguh-sungguh memastikan bahwa pelanggan akan puas dengan jasanya. Si Abang yang mungkin kurang paham dengan barang-barang yang didominasi kaum ibu dipaksa harus tahu dan mencari sampai ketemu.

Ah, apalah arti saya dibanding perjuanganmu, Bang. Saya salut.

Setelah melewati lorong sabun cuci, saya bertanya ke pak suami.

"Tadi lihat ada abang ojek belanja, nggak?"

"Iya," jawab pak suami.

"Hebat, ya, dia. Jam segini masih kerja. Kalau kamu udah pulang, belanja ama aku lagi."

"Hu um. Harus banyak bersyukur, tuh," jawab pak suami lagi.

Saya tersenyum penuh syukur dan kagum kepada si Abang tadi.

❤❤❤

Di lain cerita, saat booming AADC2 saya sempat membaca status teman saya di media sosial. Teman saya mengunggah foto abang ojek online yang ikut antre tiket. Antrenya panjang dan lama kayak choki-choki. 

Eh, pas giliran si Abang dilayani ternyata tiketnya habis. Si Abang bingung dan telepon customer. Akhirnya pembelian tiket pun nggak jadi. 

Duh, kebayang kan perjuangan mereka. Saya yakin cerita abang ojek online nggak cuma ini saja. Masih banyak kejadian tidak terduga yang dialami oleh abang ojek online. Maklumlah, saya suka nonton acara OK-Jek jadi tahu sedikit kehidupan mereka. 

❤❤❤

Etapi nama juga manusia, ya. Hari ini saya kumat ngambeknya karena kurang bersyukur piknik. Malu dengan abang ojek online yang belum genap sebulan bertemu. Ah, nama juga manusia.-.-

Kalau Teman-teman punya cerita dengan abang ojek online, nggak?


















Continue Reading…

Thursday, January 05, 2017

Seminar Laktasi : Standar Emas Pemberian Makan Bayi dan Anak

Saya paling suka jika dapat menghadiri acara bertema kesehatan. Pada hari Minggu (18/12/2016), saya mendapat undangan dari AIMI Depok untuk menghadiri seminar laktasi di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Seminar ini diadakan dalam rangka selebrasi AIMI Depok yang ke-2. 

AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Depok merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada 1 November 2014, yang bertujuan meningkatkan persentase ibu menyusui. Dalam rangka ulang tahun ke-2, AIMI Depok menyelenggarakan seminar laktasi yang dihadiri oleh tenaga kesehatan dan masyarakat umum.  



Segala hal tentang bayi dan anak selalu menarik untuk diikuti. Saat ini banyak sekali informasi yang beredar mengenai tumbuh kembang bayi dan anak. Hal yang sama juga terjadi pada banyaknya info tentang makanan bayi. Pemberian makan pada bayi dan anak akan mempengaruhi perkembangan otak dan anggota tubuh lainnya. Dampak pemberian makan yang kurang tepat bisa menyebabkan bayi gagal tumbuh atau malah obesitas. 

Meski belum punya momongan namun saya antusias mengikuti acara ini karena narasumber yang hadir sangat kompeten dan mereka tak sekedar berbagi ilmu tapi juga pengalaman. Narasumber di seminar laktasi ini, yaitu :

1. dr. Utami Roesli, Sp.A, IBCLC, FABM
2. dr. Stella Tinia, M.Kes, IBCLC
3. dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC
4. dr. Hikmah Kurniasari, MKM, CIMI
5. Tiur Hutagalung, LLM, CIMI

Oke, saya akan cerita apa saja yang dibagikan oleh narasumber tersebut.

#Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Sesi pertama tentang IMD. Menurut dr. Utami Roesli, IMD dimulai secepatnya, segera setelah bayi lahir. IMD dilakukan dengan cara bayi ditengkurapkan di dada ibu sehingga kulit bayi melekat pada kulit ibu minimal satu jam. Kulit ibu mempunyai kemampuan menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi.  

Di sesi ini, dr. Utami berbagi pengalaman IMD melalui video saat cucunya lahir. Dalam video tersebut, selama IMD bayi tidak langsung bisa menyusu. Bayi akan mengalami fase menangis, merangkak mencari payudara, dan mengenali payudara. Setelahnya, bayi akan menyusu. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Saat skin to skin contact inilah, ayah bisa mendoakan anak.  

Indikasi keberhasilan IMD yaitu ibu dan bayi dalam keadaan stabil. Setelah bayi melakukan kontak kulit dengan ibu dan kondisi ibu stabil baru dilakukan kontak kulit dengan ayah. 

Manfaat skin to skin contact antara ibu dan bayi antara lain :

1. Mempertahankan kehangatan bayi
2. Lebih berhasil dan lebih lama menyusui
3. Detak jantung dan pernafasan lebih cepat stabil
4. Bayi lebih jarang dan lebih sebentar menangis
5. Kasih sayang dan bonding lebih baik

Dalam menutup sesi pertama, dr. Utami Roesli memberikan catatan yang sangat berharga
"ASI merupakan hadiah sangat berharga yang dapat diberikan orangtua pada anaknya. Dalam keadaan miskin mungkin itu hadiah satu-satunya yang dapat diberikan. Dalam keadaan sakit, ASI adalah hadiah yang menyelamatkan jiwa." 

#Kriteria Evaluasi Keberhasilan Menyusui

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Tahun 2013 cakupan ASI eksklusif hanya 54,3% dari target 80%. 

Penyebab rendahnya cakupan ini antara lain :

1. Pemasaran susu formula
2. Kesulitan pemberian ASI pada ibu bekerja
3. Tenaga kesehatan belum berpihak pada ASI eksklusif
4. Tenaga konselor ASI jumlahnya terbatas
5. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye ASI
6. Belum semua RS melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM)

Pada sesi ini, dr. Stella menjelaskan indikator menyusu dapat terlihat mulai dari rooting, latch on, suckle, dan swallowing. Tahapan yang dimulai dari bayi memutar kepala ke arah payudara dan membuka mulut mencari payudara. Lamanya pelekatan pada payudara, gerakan menghisap sampai menelan yang membutuhkan ASI yang cukup.

Menilai keberhasilan proses menyusui tidak bisa dilihat dari 1 parameter saja namun memerlukan observasi menyeluruh baik faktor biometrik maupun psikososial pada ibu dan bayi. 

Untuk itu, memberikan edukasi kepada ibu tentang pemantauan keberhasilan menyusui akan membantu ibu menilai kondisinya sendiri. Dalam hal ini, dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang penting. Jika bermasalah, sebaiknya segera mencari bantuan agar dapat memberikan ASI kepada bayi. 

#Relaktasi pada Bayi Bingung Puting

Sesi ketiga merupakan sesi yang krusial karena berlangsung saat mendekati waktu istirahat. Namun narasumber yang membawakan sesi ini sangat komunikatif membuat peserta tidak mengantuk malah semangat mengikuti paparan yang disampaikan oleh dr. Asti Praborini.

Jujur, saya membaca judul pada sesi ini sering salah. Relaktasi saya baca relaksasi. Duh, padahal artinya beda banget. Parahnya, saya baru pertama kali mendengar istilah relaktasi.  

Apa itu Relaktasi?
Relaktasi adalah usaha mengembalikan bayi untuk menyusu lagi ke payudara. 

Kasus relaktasi ini banyak terjadi misalnya ibu yang tidak sabar mendengar tangisan bayi lalu memberikan susu formula dan dot sehingga proses menyusui berakhir. Kasus ini tidak hanya terjadi pada ibu bekerja saja namun juga terjadi pada ibu yang tidak bekerja. 

Relaktasi sangat penting karena selain sebagai makanan terbaik bagi bayi, ASI adalah obat. Selain itu, menyusu bukan hanya kegiatan memberikan ASI saja tapi lebih dari itu. Menyusu dapat meningkatkan bonding antara ibu dan bayi yang dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang anak.

Cara melakukan relaktasi sebagian besar menggunakan metode rawat inap di RS disertai bantuan konselor. Dengan metode ini akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk ibu dan bayi dalam proses relaktasi. 

Bagi saya, sesi ini sangat menarik karena ada pasien dr.Asti yang menceritakan pengalaman relaktasi secara langsung. Sebut saja namanya Ibu Melati temannya Ibu Mawar. Ibu Melati seorang pekerja. Karena aktivitasnya di kantor maka dia memberikan ASI ke bayinya dengan dot. Setelah pulang kerja dan hendak menyusui, bayi itu menolak. Iya, bayinya mengalami bingung puting. Hal ini terjadi terus menerus. 

Ibu Melati sudah mau resign demi bayinya namun dilarang si Bos. Ibu Melati diberi kelonggaran waktu untuk cuti sesukanya. Maka, Ibu Melati melakukan relaktasi selama cuti. 

Ibu Melati melakukan relaktasi dengan rawat inap di rumah sakit. Berkat kesabaran dan bantuan konselor ASI selama relaktasi akhirnya si Anak mau menyusu sampai usia 2 tahun. 

Pasien dr.Asti Berbagi Pengalaman Relaktasi

Tahap relaktasi ini lumayan panjang. Intinya adalah menyapih dari dot menggunakan gelas, melakukan skin to skin contact antara ibu dan bayi. Jika kasusnya berat, yakni bayi sudah tidak mau puting maka relaktasi dibantu dengan alat bantu laktasi yang dibuat dari Naso gastric Tube no 5F40cm dan Spuit 50cc. Alat bantu laktasi digunakan untuk membuat bayi senang di payudara, karena bayi sudah terbiasa dengan aliran deras dot. Alat bantu laktasi dapat diisi dengan ASI donor yang sudah dipasteurisasi/susu formula. 

Jika suplai ASI ibu berkurang maka ibu akan mendapatkan terapi laktogog dan akupuntur. 

Jumlah susu dalam alat bantu laktasi lama-lama akan dikurangi. Begitu juga dengan dosis laktogog sehingga nantinya bayi hanya akan menyusu langsung ke payudara. 

#Makanan Pendamping ASI

Banyak yang sudah tahu kalau MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan. Kenapa?

1. Kemampuan oromotorik bayi sudah baik
2. Bayi mampu menegakkan kepala
3. Mampu duduk dengan bertopang
4. Saluran pencernaan sudah siap menerima makanan padat

dr. Hikmah, selaku narasumber menyebutkan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemberian MP-ASI yaitu :

1. Usia : 6-9 bulan, 9-12 bulan, >12 bulan
2. Frekuensi  dalam 1 hari yang terdiri dari makanan utama dan selingan
3. Jumlah, seberapa banyak porsi makan bayi dalam 1 kali makan
4. Tekstur, kekentalan bentuk makanan bayi
5. Variasi, macam-macam makanan yang diberikan
6. Responsif, cara memberikan makan pada bayi
7. Kebersihan mulai dari bahan makanan, alat makan dan tangan ketika makan

Banyak sekali mitos mengenai MP-ASI yang beredar di masyarakat. Apa saja mitos tersebut?

1. Cukup berikan ASI saja bila ana tidak mau makan
2. Makanan yang diberikan teksturnya cair supaya mudah ditelan
3. Tidak boleh memberikan lauk hewani
4. Bayi melepeh makanan tandanya bayi tidak menyukai makanan tersebut

Do's saat MP-ASI :

1. Berikan dorongan jika anak menolak makan
2. Berikan pujian saat anak makan
3. Bersabar dalam memberikan makan pada anak
4. Tetap susui bayi on demand

Don'ts :

1. Jangan paksa anak jika tidak mau makan
2. Jangan berikan banyak minum sebelum dan sewaktu makan

#Pijat Bayi, Sentuhan untuk Tumbuh Kembang Optimal

Materi terakhir disampaikan oleh Tiur Hutagalung, SH, MH, CIMI. Beliau adalaha anggota IAIM ( International Association of Infant Massage) dan pengurus IAIM Indonesia.

Ibu Tiur mengatakan bahwa selama ini banyak sekali bayi yang dipijat oleh dukun bayi dengan gerakan yang keras. Tak jarang, bayi sering takut dan menangis ketika dipijat.

Pijatan pada bayi merupakan suatu penyaluran kasih sayang berupa sentuhan yang diberikan oleh orangtua terhadap bayinya. Pijat adalah terapi sentuhan tertua yang dikenal manusia dan yang terpopuler. Dalam beberapa kultur di dunia banyak yang mempraktikkan pijat bayi dari generasi ke generasi.

Waktu memijat bayi disesuaikan dengan bayi. Bisa saat setelah mandi, sebelum tidur, dll. Saat memijat, perhatikan tingkah laku bayi dan sebaiknya dilakukan secara rutin.

Pijat bayi sebaiknya dilakukan oleh orangtua sendiri. 

Hal-hal yang diperhatikan saat memijat :

1. Meminta izin setiap kali akan memijat
2. Menggosokkan minyak ke telapak tangan di depan wajah bayi sehingga bayi mengenali suaranya sebagai awal pijat. Minyak untuk memijat bayi sebaiknya menggunakan minyak dari sayuran, biji, buah, yang tidak melalui proses pemanasan.
3. Bernyanyi untuk bayi
4. Berbicara kepada bayi dan berinteraksi selalu
5. Bila bayi menangis/lapar/mengantuk/ingin ganti popok, sesi pijat harus dihentikan.

Ibu Tiur membagikan pengalaman pribadinya saat memijat bayi. Beliau rutin melakukan pemijatan pada anaknya saat bayi. Pemijatan yang dilakukan tidak berupa gerakan yang keras namun sentuhan dan gerakan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sampai sekarang saat anaknya sudah SMA masih minta dipijat oleh ibunya. Uniknya, bukan pijatan seperti orang dewasa namun sentuhan dan gerakan halus bagi anaknya merupakan pijatan. Meski demikian, si Anak tetap senang dan tertidur lelap. 

Nah, itu tadi ilmu yang bisa saya bagi saat seminar laktasi pada bulan Desember yang lalu. Banyak banget kan ilmunya. Selain diisi sharing ilmu dan tanya jawab, seminar laktasi juga banjir hadiah. Banyak banget door prize yang dibagikan ke peserta. Serunya, ada door prize yang ditempel di bawah kursi, lho. Jadi bikin peserta heboh karena hadiahnya tiket pesawat PP dari sponsor. Dan masih banyak lagi keseruan-keseruan lainnya.

Sebagian Peserta dan Narasumber

Terima kasih ya AIMI Depok karena sudah memberikan kesempatan kepada saya. Sukses terus untuk program-programnya. ASI YES!!☺
   




                                      




















Continue Reading…

Monday, January 02, 2017

Hello, 2017!

Saat ini saya kagok mau nulis tentang apa. Maklum, udah sebulan nggak ngeblog jadi agak kaku. Postingan ini semacam pemanasan, nih. Seperti biasa, saya tetap curhat ^-^

Di saat yang lain bikin resolusi, saya enggak. Karena resolusi saya masih sama seperti tahun kemarin, ingin menjadi seorang ibu.

Saat yang lain bikin postingan ter- atau membingkai momen setahun terakhir, saya biasa aja, nggak ngapa-ngapain. Lha apa yang dibingkai, wong ngeblog aja males banget, hahaha.

Iya nih, saya akui kalau tahun 2016 saya malas ngeblog. Bahkan bulan Desember nggak ada postingan sama sekali. Padahal saya masih punya hutang postingan, huhuhu. 

Banyak faktor yang bikin saya malas ngeblog. Jenuh. Bingung. Kebanyakan pikiran. Kurang piknik. Mungkin itu beberapa faktor yang bikin saya malas ngeblog. Insha Allah, saya akan perbaiki di tahun ini.

Gambar dari Pixabay

Sebenarnya banyak banget momen yang ingin saya bagi di blog ini, salah satunya program inseminasi kedua. Program ini saya lakukan bulan September lalu dan belum saya share di blog ini. Tungguin cerita insem ini ya sampai saya nggak malas buat cerita, hahahaha.

Meski saya malas ngeblog tapi blogwalking tetap saya lakukan, lho. Saya suka banget blogwalking. Seringnya sih sebagai silent reader. Blog yang saya kunjungi nggak cuma yang di Indonesia saja tapi blogger yang tinggal di luar negeri juga saya samperin. Yah, kadang kangen dengan cerita mereka. 

Jujur, dengan blogwalking saya jadi tahu hal-hal yang saya nggak ketahui sebelumnya. Saya juga tahu tentang info terkini di blogsphere atau pergosipan Indonesia tanpa mengikuti acara infotainment. 

Oke, waktu terus berjalan dan nggak akan balik lagi ke belakang. Jadi, tetap semangat dan optimis di tahun yang baru, ya! Harapan saya semoga Teman-teman lebih sehat, lebih bahagia, dan lebih baik di tahun 2017 ini. Aamiin.

Adakah yang bikin resolusi di tahun ini? Happy new year. ☺
Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com