Friday, September 29, 2017

Mengurangi Media Sosial dan Rasakan Manfaatnya

Niatan membuka akun media sosial karena tuntutan kerjaan atau lomba blog yang saat itu rajin saya ikuti. Makin lama saya merasa kurang nyaman dengan media sosial. Akhir-akhir ini saya membatasi interaksi dengan media sosial. Bahkan ada media sosial yang udah sebulan lebih nggak saya buka. 

Facebook. Sudah sebulan lebih saya nggak aktif di Facebook. Kalau nggak buka Fb sih saya masih betah sebab dulu pernah vakum selama setahun. Mungkin kalau Mark Zuckerberg menutup Facebook, saya nggak sedih-sedih amat kali, hahaha.

Saya aktif lagi di Facebook karena gabung di beberapa komunitas blogger. Yah biar nggak ketinggalan info di grup aja sih. Kebanyakan info lomba, job, atau sharing ilmu blogging ada di Facebook.

Meski sempat sepi, tapi Fb masih eksis karena beberapa perubahan yang memudahkan pengguna berinteraksi di dunia maya. Ditambah lagi jumlah kata di platform Fb yang nggak dibatasi, menjadikan medsos ini banyak digunakan. Kadang sih status yang puanjaaang malah bikin males bacanya.-.-

Tapi semakin ke sini saya kok merasa kalau Fb sering membawa energi negatif ya. Banyaknya artikel hoax yang dishare, status nyinyir, belum lagi yang pada perang di Fb. Seolah-olah mereka yang paling benar.

Hal ini bikin saya capek dan nggak nyaman lagi sama Facebook. Bahkan untuk sharing postingan blog pun sudah jarang saya lakukan di Fb. Saya orangnya memang gitu. Kalau sudah nggak nyaman sama sesuatu bakal menjauh dengan sendirinya.

Berkurangnya interaksi di medsos nggak hanya di Facebook aja. Untuk Whatsapp juga saya batasi.

From Pixabay
Gimana cara membatasi interaksi di WA?

Gampang sih. Beberapa (hampir semua malah) WAG notifikasinya saya bikin mute selama setahun. Saya males aja kalau HP bunyi melulu karena ada pesan dari anggota grup. Kebanyakan sih pesannya juga kurang penting untuk saya dan grup.

Selain mengaktifkan mute, sekarang saya hampir nggak pernah membuka status WA. Saya males kalau bolak-balik ngecek status teman.

Saya pernah berada pada kondisi di mana tiap ada status baru di WA, pasti saya buka. Yah karena saya penasaran dan gemes kalau ada status yang belum dibuka. Hehehe.

Sekarang sih saya udah cuek bebek dengan itu semua. Tepatnya males aja sih. Hhmm, mungkin cenderung nggak kepo sama kehidupan orang lain ya. Jadi bisa dibilang, saya nggak tahu perkembangan teman-teman di kontak WA. Mau dia ke mana, dengan siapa, dan sedang berbuat apa juga saya nggak tahu.☺

Hayati lelah untuk mengetahui perkembangan mereka satu per satu. Toh, hal ini nggak ngefek untuk kehidupan saya juga kan. 

Meski sudah mengurangi penggunaan Fb dan WA, saya belum bisa lepas nih dari Instagram. Saya punya akun IG belum ada setahun sih. Sumpah, mainan IG sangat mengasyikkan. Selain gambarnya yang oke, captionnya juga bisa panjang. Nggak kayak Twitter. 

Terkadang saya lebih suka baca caption lho. Apalagi kalau postingan IG didukung video dan gambar yang banyak. Kompliiiit. Udah kayak blog aja kan?

Meski suka sama IG tapi saya males buka atau ngikutin IG story seseorang meski dia seorang artis atau orbek ((ORBEK)) sekalipun. Jaraaaang banget. Sayang kuota euy, hahaha.

Hal lain yang bikin saya suka IG yaitu ada sista- sista online langganan yang saya nantikan diskonannya. Kalau dulu saya belanja online lewat Facebook sekarang lebih banyak ke Instagram. Kalau sista-sista olshop tersebut ngelapak di market place ya saya ke market place aja dong. Biasanya kan mereka kasih promo gratis ongkir. Mayan kan.^-^.

Yup, saya suka banget belanja online. Habisnya belanja online praktis sih. Harganya juga bersaing sama toko offline.

Selain sista-sista online, tiap hari saya buka IG yang captionnya saya suka karena sangat menginspirasi.

Eh ngomongin tentang caption kapan-kapan aja ya. Takut kepanjangan blogpostnya hahaha.

Dengan mengurangi penggunaan medsos, yang saya rasakan hidup menjadi lebih nyaman dan tentram. Mengurangi penggunaan medsos berarti kan berkurang juga kepo kita terhadap kehidupan mantan orang lain. Sebab hukum alam mengatakan kalau kepo atau tahu status orang di medsos kadang bikin iri.

Menurut saya, ini manusiawi sih. Jika melihat keadaan orang lain yang lebih dari kita pasti deh ngerasa kalau hidup kita gini-gini aja. Kok hidup mereka kayaknya enak ya. Bisa jalan-jalan di sela kerja, bisa kuliah lagi, udah ke sini dan ke situ. Banyak lah kalau dijabarin satu per satu. Bener kan?

Nah ini nih yang lagi saya terapkan. Mengurangi medsos untuk hal-hal yang kurang perlu. Kalau bisa sih memanfaatkan medsos untuk hal-hal yang positif. Sukur-sukur bisa menambah nilai diri kita atau malah menambah penghasilan.

Jujur sih hal ini belum bisa saya lakukan. Soalnya saya kurang aktif di media sosial. Pengennya aktif di blog tapi punya blog satu aja jarang diupdate. Hahaha. Doakan ya semoga rajin update blog dan bisa mengurangi penggunaan media sosial yang kurang perlu.

Media sosial nggak salah kok. Mereka diciptakan karena memang tuntutan zaman yang semakin maju. Hanya kita yang harus bijak dalam menggunakannya. Jangan sampai medsos memperdaya hidup kita. 

Sapalah temanmu di dunia nyata semanis engkau menyapa orang lain yang belum kamu kenal di media sosial. Rasakan manfaatnya ketika kamu bisa berinteraksi di dunia nyata. Bisa melihat wajahnya, senyumnya, dan ngobrol bareng. Sumpah, itu asyik banget. 


Continue Reading…

Dobel 3 dan Renungannya

Tahun ini saya dan pak suami fix sudah dobel 3. Nggak terasa saya akan memasuki usia cantik, hahahaha. Yah, semoga saja nggak cuma usianya yang cantik tapi juga perilakunya. Aamiin. 

Ngomong-ngomong, ulang tahun saya dan pak suami cuma selisih sebulan sih. Saya duluan yang ulang tahun, sebulan kemudian baru pak suami. Dari kecil kami nggak pernah merayakan ulang tahun. Cuma pas ABG, selebrasi ulang tahun saya biasanya dengan mentraktir sahabat terdekat atau mengajak mereka makan di rumah. 

Semakin berumur, saya kok merasa banyak banget perubahan pada diri saya. Terutama saat berusia 33 tahun ini. Perubahan yang terasa banget sih soal kepribadian saya. Beneran, saya merasa berubah dratis. 

From Pixabay

Ada yang bilang bahwa menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu belum tentu. Ya, semakin berumur, saya semakin sadar bahwa saya makin tua. Flek hitam udah nambah, uban udah muncul, dan saya merasa lebih sensitif. Tapi apa iya saya sudah bertambah dewasa? 

Jika ditanya demikian, saya akan menjawab begini,

hhmm, saya hanya ingin lebih bijaksana menjalani hidup. 

Saya belajar dari orang-orang di sekeliling saya. Bisa dari teman, keluarga, sahabat, tetangga, bahkan netizen di dunia maya. Yang saya temukan bahwa banyak sekali yang sudah berumur secara usia namun sejujurnya mereka belum dewasa. 

Sifat yang belum dewasa ini mirip seperti anak kecil lah. Ada yang meributkan hal-hal kecil yang sebenernya nggak penting, ada yang bertengkar menganggap idenya benar dan berebutan mencari pembenaran tapi mereka tidak tahu mana yang benar. 

Dulu, saya cenderung cerewet dan suka hahahihi, ngomong ya langsung aja nggak pake mikir. Sekarang, apa-apa yang keluar dari jari ataupun mulut saya pikir ulang. Sekarang saya memikirkan dampak apa yang dirasakan oleh orang lain terhadap apa yang saya tulis atau saya utarakan. Jadi, nggak asal ngomong aja.

Perubahan ini nggak serta merta terjadi begitu saja. Pastinya ada proses yang panjang dan perlu dipahami.

Entah, apakah kebiasaan saya membaca buku atau novel mempengaruhi hal ini atau tidak. Namun tiap kali saya selesai membaca satu buku, pasti ada aja hal yang saya ambil hikmahnya. 

Yang paling ngena sih setelah baca Unbelievable Japan. Saya banyak belajar dari sikap dan budaya orang Jepang yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Selain bacaan, bisa saja perubahan ini karena saya gaulnya dengan emak-emak yang mana sangat sensitif dengan berbagai obrolan. Bisa saja apa yang kita bicarakan ditanggapi lain oleh lawan bicara. Ujung-ujungnya malah kita sendiri jadi bahan omongan deh. Wakwaw.-,-

Nah, hal inilah yang membuat saya banyak berubah. Saya mulai mengontrol apa yang saya bicarakan supaya tidak menyinggung orang lain. 

Untuk saya pribadi, saya merasa perubahan ini ke arah yang positif. Saya merasa lebih damai, tenang, dan lebih suka dengan kehidupan saya sendiri tanpa mengusik atau kepo dengan masalah orang lain. Saya hanya ingin bahagia menjalani kehidupan saya sendiri dan keluarga. Makanya saya hidup mengikuti arus saja dan tidak ngoyo. 

Namun, untuk kehidupan sosial saya hanya ingin berbaur seperlunya saja. Toh, dengan demikian saya berharap masih bisa berkontribusi untuk lingkungan baik pertemanan maupun lingkungan tempat tinggal. 

Satu lagi, saat saya search di IG saya menemukan quote seperti ini 

"Bahwa setiap dari kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Jadi jangan sibuk mencari dosa orang lain."

Nah, makjleb saya bacanya. Mungkin ini juga yang mempengaruhi perilaku saya akhir-akhir ini untuk lebih dewasa dan bijaksana. Kalau kamu gimana? 
Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com