6 comments
Setiap hari bapak berlangganan korannya orang Jawa Tengah di kantor. Jadi setiap pulang kantor bapak selalu membawa koran. Untuk koran weekend, yakni hari Sabtu dan Minggu nggak didapat dari kantor. Seringnya bapak membeli di loper koran langganan dekat Kantor Pos Semarang. Bapak hanya membeli koran hari Sabtu sedang hari Minggu selalu tak ada koran di rumah. Padahal di hari tersebut ada rubrik yang kutunggu. Rubrik yang membuatku tersenyum sendiri dan mengiyakan cerita di dalamnya.

Rubrik tersebut bernama Pak Bei, merupakan tokoh komik kartun karangan Masdi Soenardi. Tokoh ini sangat terkenal di kalangan orang Jawa Tengah kala itu. Pak Bei tokoh yang sok tahu, nggak mau rugi, berpeci hitam, dan sering bernasib buntung. Kasihan sekali. Sedangkan tokoh 'Bu Bei' diceritakan sebagai istri yang polos. Cerita kehidupan Pak Bei sangat lucu. Mengupas topik-topik yang hangat dengan gaya humor khas. Topik kenaikan BBM, harga sayur mayur, pemilihan capres, atau tentang kehidupan bertetangga semua dikemas dengan apik. Setiap yang membaca kisahnya pasti akan ketagihan cerita selanjutnya, menanti seminggu lagi. Ada pesan moral yang disampaikan lewat cerita Pak Bei. Sungguh, Pak Bei bagai candu. Dan, aku terkena candu tersebut.



Sekarang aku nggak tahu apakah komik Pak Bei masih muncul di harian tersebut atau nggak. Mengingat saat ini aku menetap di kota lain. Yang kutahu ternyata pencipta tokoh kartun tersebut sudah meninggal dunia. Sewaktu tanya mbah google, aku baru tahu kalau komik Pak Bei pernah dibukukan. Sayang, aku belum memiliki komik tersebut.  Ah, Pak Bei.. Pak Bei..aku padamuuuu... 



*sumber gambar diambil dari sini 
2 comments
Alhamdulillah, saya hari ini dapat membuat beberapa postingan. Hal ini nggak saya sangka sebelumnya karena mengawali agak telat. Bangun untuk bertemu Tuhan agak kesiangan. Tapi saya masih bisa bersyukur merasakan nikmat-Nya yang luar biasa, nikmat yang tak hentinya diberikan kepada saya. Awalnya saya merasakan bahwa hari ini akan mendung. Tiupan angin yang kencang membuat pohon-pohon di sekitar rumah memberikan suara yang indah. Angin semilir dari pagi sampai detik ini mengetik pun masih saya rasakan. Hari ini cerah dan hawanya adem banget. Masakan lezat yang dari kemarin saya masak masih bisa disantap. Ah, terlalu banyak nikmat-Nya jika harus dijembrengkan di sini.

Bersyukurnya lagi, dengan membuka grup yang saya ikuti ternyata ada beberapa lomba. Meski mepet deadline, alhamdulillah saya masih bisa mendaftar menjadi peserta. Sebenarnya saya ikut lomba itu karena ingin menambah postingan. Yang semula nggak ada ide malah lancar sekali menuliskan kata per katanya. Sesuatu yang kalau dipaksa maka akan bisa. Apa iya, otak saya harus dipaksa terus seperti ini? *hehe*. Saya hanya mengambil sisi positifnya saja. Jika layak mendapat hadiah maka akan saya syukuri tapi jika nggak dapat pun tetap saya syukuri karena dengan adanya lomba-lomba tersebut saya bisa menambah postingan. Maklum, bulan ini saya banyak absen ngeblog. Apalagi kalau bukan si malas sedang menemaniku sepanjang hari itu. Ah, jangan salahkan si malas. Coba berkaca pada diri sendiri saja dan memaknai hari ini dengan bijak atas semua kejadian membuat lebih bahagia. 




-Selamat Hari Minggu, Kawan-


3 comments
Saat ini bisnis online sudah nggak asing lagi di masyarakat apalagi online shopping. Banyak banget olshop yang menawarkan aneka dagangan di situs-situs belanja. Bahkan ada juga yang serius menerjuni bisnis ini dengan membuka website.  Banyak juga mereka yang sukses dengan berbisnis online. Bisnis olshop itu enak-enak nggak. Saya di sini berperan sebagai konsumen dan penjual. Enaknya sebagai pembeli itu lebih efisien waktu karena nggak perlu capek harus membeli ke tempatnya langsung. Kalau saya sedang pengen sesuatu tinggal searching dan aktivitas ini membuat lupa waktu karena asyik mencari barang di olshop. Saya juga pernah kecewa loh saat membeli baju yang ternyata nggak sesuai dengan tubuh saya atau nggak sesuai dengan gambar. Sebagai penjual online ada enak dan nggak enaknya juga. Yang paling enak menjalankan bisnis online ini adalah fleksibilitas waktu dan nggak butuh ruang yang besar. Bisnis ini bisa dilakukan dimana saja sambil jalan-jalan atau mengurus keluarga di rumah. Enak kan kemudahan di bisnis online?

Tapi hal ini beda banget dengan apa yang saya jalani sebagai penjual. Kalau diingat lagi, saya mulai berjualan di olshop tahun 2011. Saat itu saya menggunakan facebook sebagai media untuk berdagang. Saya membeli kerudung pasmina dari agen lalu dijual. Lumayan juga sih sebenarnya karena kerudung hanya sisa satu dari beberapa lusin yang saya pesan. Setelah itu saya lanjut berjualan mie sayuran dan bumbu penyedap non MSG. Sempat laris karena yang beli teman-teman kantor dan tetangga. Yah, ternyata koneksi di kantor sangat manjur atau mungkin mereka kasihan sama saya *hiks*. Semakin ke sini semangat saya untuk berjualan naik turun. Karena kesibukan kantor saat itu maka olshop saya terbengkalai. Bumbu penyedap yang menjadi stok di rumah menjadi terbuang sia-sia. Sejak itu saya agak sedikit trauma dan menutup olshop.

Setelah resign setahun lalu saya sempat membuka olshop lagi. Saya berjualan aneka baju dan jilbab. Karena kejadian yang dulu nggak mau terulang maka saya menerapkan sistem dropship. Ada sih satu dua reseller yang pesan tapi untung dari penjualan tersebut belum bisa menutup biaya pulsa internet sebulan *hiks*. Saya berjualan karena hobby dan mengambil untung hanya sedikit. Jeleknya saya yang pertama, kalau jualan tuh sering ngepoin toko sebelah dan membandingkan harganya. Sebisa mungkin harga di olshop saya sama atau malah lebih murah dibanding olshop tetangga. Tetapi kadang hal ini menohok hati saya karena untung benar-benar mepet. Parahnya lagi, ketika membuka olshop reseller yang beli di saya eh nggak tahunya reseller tersebut menaikkan harganya gila-gilaan. Dia ambil untungnya gedhe banget. Sempat sedih dan merasa bingung, apa yang harus saya lakukan saat itu. Menaikkan harga dengan untung sedikit nambah, tapi harga lebih mahal dibanding toko tetangga atau menyamakan harga dengan toko tetangga tapi untung mepet. Saya benar-benar bingung saat itu.

Kejelekan saya yang kedua, saya itu moody banget kalau jualan. Misalnya pas saya sedang ada masalah atau sedang menghadapi suatu kejadian maka saya sering nggak jualan. Tapi kalau tertarik suatu hal atau insting jualan saya lagi oke, maka saya buka olshop. Olshop buka tutup mungkin itu yang pas buat saya *hehe*. Lha saya nggak konsisten jualan soalnya. Dari Oktober kemarin sampai sekarang saya menutup olshop lagi. Padahal beberapa reseller banyak yang nanyain. 

Dari beberapa pengalaman tersebut maka saya akan sharing hal-hal yang berhubungan dengan olshop baik sebagai pembeli atau penjual.

#Telaten
Peran sebagai pembeli atau penjual, ini penting banget. Sebagai pembeli telatenlah mencari penjual yang memberikan harga yang lebih murah. Di olshop itu penjual bisa dikategorikan penjual tangan pertama, kedua, dst sampai tangan seribu *lebay*. Nah, usahakan mencari penjual yang tangan pertama karena harganya pasti lebih murah. Kalo sebagai penjual hampir mirip dengan pembeli, wajib telaten mencari supplier yang lebih murah agar harga barang yang dijual nanti dapat bersaing. 

#Terpercaya
Bisnis olshop itu pada dasarnya bisnis kepercayaan. Sekali konsumen dibohongi maka efeknya toko kita akan sepi atau malah disebarluaskan di dunia maya kalau olshop kita pembohong. Nah sebagai penjual atau pembeli carilah toko yang benar-benar dapat dipercaya agar teman-teman nggak rugi baik rugi uang atau rugi waktu dan yang penting biar nggak sakit hati. Salah satu olshop yang dapat dipercaya cirinya mereka biasanya akan memasang foto aktivitas yang terjadi di toko tersebut.

#Konsisten
Nah, ini wajib dimiliki oleh penjual. Olshop yang konsisten memposting akan ramai dibanding yang jarang posting. Jangan seperti saya yang belum konsisten jualan di olshop *hehe*. Kalau pembeli mau konsisten belanja juga nggak papa kok asal kantongnya nggak jebol. :)

#Sistem 
Kalau teman-teman sudah mendapatkan olshop yang sreg, tanyakan bagaimana sistem pembelian di olshop tersebut. Apakah harus transfer dp dulu atau harus cash atau malah bisa COD. Sedangkan untuk penjual juga demikian. Tanyakan dulu sistemnya dan pelajari dengan baik agar nggak rugi-rugi amat seperti saya *curcol*. Bagi pemula sebaiknya mencari supplier yang bisa melayani sistem dropship jadi kita nggak perlu menyetok barang dirumah sehingga efek ruginya bisa diminimalkan. Kalau sudah punya pelanggan yang banyak, bisa membeli secara grosiran atau malah menjadi agen.

#Jenis Barang
Khusus untuk penjual dan berkaitan dengan 'sistem' di atas. Ada loh supplier yang nggak mau ngecer dan harus beli seperti agen. Nah, sebelumnya pikirkan dulu apakah jenis barang tersebut akan cepat laku dijual atau jika lakunya lama apakah barang tersebut awet atau cepat kadaluwarsa. Pikirkan lagi tentang hal ini. Sedangkan untuk pembeli sebaiknya lebih teliti lagi terhadap barang yang mau dibeli secara online. Nggak semua barang bisa diberi online. Kalau saya pernah nggak cocok beli baju di olshop karena ternyata tubuh saya nggak cocok dengan model bajunya. Padahal model baju di gambar tersebut cantik banget *ya iyalah artis bo'*. Jangan cepat tergoda dengan foto yang ada di olshop. Ada beberapa barang yang saya nggak mau beli di olshop diantaranya kosmetik, sepatu, sandal, dan barang elektronik. Saya mau yang aman dan nyaman untuk diri saya sendiri.

#Rekening
Nah, ini penting nih. Sebagai pembeli atau penjual sebaiknya mencari supplier yang banknya sama dengan kita. Kenapa? supaya kita nggak kena cas tambahan waktu transfer. Ini termasuk prinsip ekonomi kan? Mengeluarkan biaya seminim mungkin *hehe*.

#Ekspedisi
Ekspedisi itu juga berpengaruh loh dengan olshop kita. Carilah ekspedisi yang biayanya minim. Meskipun demikian ada pula yang ekspedisinya sesuai keinginan pembeli. Ekspedisi ini ada yang bisa menjangkau daerah terpencil dan ada yang nggak. Saya juga pernah mengalami hal ini. Pulsa lumayan berkurang karena untuk bolak-balik telepon menanyakan barang sudah dimana karena pembelinya bawel. 

#Nomor Resi
Sebagai pembeli dan penjual yang baik jangan lupakan nomor resi. Kalau kita sebagai pembeli, kita bisa melacak barang kita lewat web yang tersedia dan kita tahu apakah barang sudah dikirim atau belum. Sebagai penjual, pelayanan untuk memberi nomor resi ini penting karena pembeli akan lega bila sudah diberi resi dan tentunya akan menambah kepercayaan konsumen untuk berbelanja di olshop kita. Meski pembeli nggak minta resi, beritahukan no resi mereka. Paling sebel kalau dapat supplier yang lamaaa banget ngasih nomer resi. Sebagai penjual dropship kita sudah diomelin pembeli karena resi nggak turun-turun. Padahal maunya kita juga cepet tapi apalah daya supplier lelet *curcol lagi*.

#Promosi
Jangan lupa untuk promosi di medsos yang lagi in. Dengan rajin berpromosi maka olshop semakin dikenal dan siapa tahu akan banyak konsumen yang beli.

#Networking
Jalinlah networking yang baik antara kita dengan supplier agar tercipta komunikasi dua arah. Pertahankan terus networking ini. Menjalin silaturahim dengan banyak orang nggak ada salahnya kan?

#Tahan Banting
Nah, ini yang belum ada pada diri saya. Saya itu gampang stress kalau ketemu pembeli yang bawelnya minta ampun. Padahal bisnis online sangat membutuhkan sifat ini. Huhuhu mungkin karena saya nggak tahan banting, maka sering buka tutup olshop. Ssssttt, jangan ditiru ya.


Eeeemmmmhh, itulah pengalaman saya yang berhubungan dengan olshop atau lebih tepatnya curcol. Hehehe gerakan maju mundur cantik saya untuk jualan atau berbisnis semoga bisa menemukan jalan yang tepat biar  menghasilkan seperti mereka yang sudah sukses. 


-Postingan ini diikutkan dalam GA Toko Online-











5 comments
Saya suka banget sama sambal tumpang. Masakan ini terbuat dari tempe busuk. Iya, tempe busuk. Ih, enak banget loh tempe ini diolah. Baunya khas, nggak bau busuk. Nah, Senin kemarin saya membeli tempe dan sengaja dibusukkan. Membusukkannya di taruh di tempat terbuka saja, jangan dimasukkan di kulkas. Saya taruh di piring dan ditutup sama wakul kecil yang bolong-bolong. Alhamdulillah, hari ini tempenya sudah bisa diolah. 

Makan sambal tumpang enaknya tuh anget-anget, yang pedes, dan ditambah lalapan. Ces, pada ngiler kan? Langsung saja ya, saya tuliskan resepnya.

Bahan :
Tempe busuk 1 potong, hancurkan setengah halus
Santan dari 1/2 butir kelapa, dipisah antara yang kental dan yang encer
Tahu coklat 10 buah
Minyak goreng secukupnya untuk menumis

Bumbu :
Cabe merah kriting 8
Cabe rawit setan 10
Bawang merah 6
Bawang putih 3
Daun salam 3 lembar
Lengkuas
Kencur kira-kira 2 cm
Daun jeruk 5 lembar
Garam secukupnya
Gula pasir secukupnya

Lalapan (Sesuai Selera) :
Bisa mentah seperti kenikir atau daun poh-pohan
Atau yang direbus seperti daun singkong atau daun ginseng
Kebetulan saya punya tanaman singkong dan daun ginseng di rumah, jadi saya pake untuk lalapan.

Cara membuat :
1. Haluskan bumbu
2. Tumis bumbu sampai harum
3. Masukkan tahu, tumis sebentar agar bumbu meresap
4. Masukkan santan encer
5. Biarkan tahu menjadi matang
6. Masukkan tempe yang telah dihancurkan
7. Biarkan kurleb 3 menit
8. Masukkan santal kental
9. Tunggu sampai mendidih.
10. Sajikan bersama lalapan

Suasana mendung seperti ini cocok banget makan sambal tumpang sama lalapan. Apalagi makannya pake tangan, bikin tambah dan tambah lagi :)

Sambal Tumpang dan Lalapan


7 comments
Ini ceritanya saya dapat pas ketemu salah satu besties. Kami memang janjian untuk ketemu makan siang sekaligus melepas kangen dan ngobrol ngalor-ngidul. Seperti biasa yang namanya emak-emak pasti curhat sana dan sini sampai besties tersebut cerita kalau dia sedang dirundung masalah dan membuatnya bete berhari-hari. Hal ini malah menjadikan dia membuat daftar syukur setiap hari. Kegiatan ini sudah rutin dilakukan selama sebulan.

Saya kaget juga sih karena saya memang sudah membuat daftar syukur tapi nggak rutin. Pertama kali saya membuat daftar syukur itu awal November kemarin. Saya hanya mencatat 10 hal-hal yang saya syukuri pada hari itu. Kegiatan ini saya lakukan tapi nggak rutin dan sering banyak bolongnya. Malah sering bikinnya pagi hari untuk nulis rasa syukur hari kemarin. Hal ini malah membuat saya lupa tentang hari kemarin dan cenderung malas untuk menuliskannya. :(

Kalau orang bikin wishing list itu sudah biasa kan ya tapi jarang banget orang bikin daftar ucapan syukur *em bener nggak sih pendapat saya ini*. Apa karena saya yang kuper ya, jadi baru tahu akhir-akhir ini saja. 

Awal saya membuat daftar syukur ini karena nonton Dian Sastro di acara Just Alvin. Waktu itu ada foto wishing list-nya Disas yang berjudul 'Repelita' jadi semacam target yang mau dicapai Disas selama lima tahun ke depan. Nah, si Disas ini malah komen balik kalau dia itu juga bikin 'daftar syukur'. Lupa deh dia sudah bikin berapa lama. Sayangnya, akhir-akhir ini Disas jarang bikin lagi. Kata Disas, dengan membuat daftar syukur tersebut hidup lebih enak dan nikmat yang didapat semakin banyak. Beneran loh ini ceritanya. Nah, waktu nonton tersebut saya jadi ingat salah satu firman yang bunyinya kurang lebih seperti ini, jika kita semakin banyak bersyukur maka Tuhan akan menambah nikmat kepada kitaDeg, mendengar ucapan Disas saya jadi mak ser ternyata LOA berjalan. 

Kejadian serupa juga saya alami ketika ngobrol dengan besties di tempat makan sambil menunggu hujan reda. Saya nggak nyangka besties tersebut membuat daftar syukur padahal dia bikin daftar tersebut juga nggak membaca atau tahu dari siapa-siapa. Dia hanya ingin melampiaskan kebeteannya karena masalah yang dihadapi dengan sudut pandang yang positif. Setiap hari besties tersebut membuat daftar hal-hal yang disyukurinya pada hari itu sebanyak-banyaknya. Dia menulis daftar tersebut di komputer kantor. Sebelum menulis daftar yang baru, dia akan membaca kembali daftar syukur hari sebelumnya. Sungguh, kata besties, hidupnya menjadi lebih tenang meski sedang ada masalah malah dia bisa melupakan sejenak masalahnya. Dia menjadi lebih bahagia. Dia menjadi lebih bijak menyikapi permasalahan. Daaaann, rejeki yang mengalir ke dia terus-terusan, bertambah setiap hari. Dia kadang nggak menyangka dapat rejeki yang datangnya tak terduga bisa lewat suami, teman, atasan, atau orang yang tak dikenal. Sungguh, mata saya terbuka lebar akan hal ini. 

Berkat kejadian tersebut saya berjanji akan merutinkan membuat daftar syukur setiap hari sebelum tidur. Saya akan menulis nikmat yang telah saya dapat pada hari itu sebanyak-banyaknya dan seingat saya. Dan, baru sehari hal tersebut saya praktikkan, pagi hari setelah bangun tidur rasanya seneeeeng banget. Ada rasa bahagia dan optimis menjalani hari baru. Saya menjadi bersemangat menjalani aktivitas di hari baru. 

Teman-teman, tanpa bermaksud menggurui mulai sekarang yuk menulis daftar yang membuatmu bersyukur setiap hari dan rasakan efeknya dalam kehidupan kita. Postingan ini saya buat untuk sekedar sharing terhadap apa yang saya alami. 


2 comments
Saya selalu terkesima dengan kelebihan seseorang. Bukannya membandingkan dengan diri sendiri atau malah bikin iri. Enggak, enggak sama sekali. Tapi lebih pada kagum dan mensyukuri karunia-Nya karena ada beraneka ragam insan yang mewarnai kehidupan. Ceilah, bahasanya :)

Seperti salah satu sahabat terbaik saya, yang mempunyai banyak kelebihan salah satunya membatik. Orang seumuran saya yang generasi 90-an ini ketika tahu ada yang bisa mbatik pasti 'WOW' rasanya. Karena apa? karena membatik itu katanya nggak gampang. Membatik itu kalau pas menorehkan canting di kain mbleber, ya hasilnya nggak bagus. Butuh ketelatenan dan kesabaran. Belum lagi menggambar polanya yang mlungker-mlungker. Sahabat saya ini mempunyai bakat membatik mungkin turunan dari moyangnya. Neneknya bisa mbatik, ibunya juga, apalagi budhenya.

Ketika kecil, sahabat saya senang membantu neneknya membatik. Namanya membantu lama-lama menjadi kebiasaan dan secara nggak sengaja malah terlatih alami. Saat dia hijrah ke Jakarta dia lumayan banyak job untuk mbatik. Tau dong ya di kota besar yang namanya keahlian khusus itu sangat dihargai dibanding di kota kecil. Makanya dengan keahliannya itu, sahabat saya sering mendapat job di acara yang bergengsi. Misalnya saja di acara nikahan di gedung mewah yang nggak sembarang orang bisa masuk. Pernah juga dia dapat job di acara pembukaan mall elit yang tamunya 'wah'. Yang paling berkesan, dia mendapat job di acara nikahannya Raffi-Gigi. Langsung dong ya, dia kasih lihat kartu pass-nya ke saya. Jujur, saya malah bingung kenapa kok saya dikirimi foto itu. Sebaliknya, saya sarankan untuk menjadikan foto tersebut sebagai dp di BB.

Card Pass Raffi-Gigi dari Dok. Sahabat

Sontak saja, teman-temannya pada nggak percaya dan tanya ina-ini-inu. Kok bisa sih masuk ke sana? Apa benar itu foto asli miliknya? atau malah yang paling mainstream, kamu nggak ngambil di google kaaaann? Oemjiiiii hare gene masih ada ya orang yang berpikiran seperti itu *eh ini eranya mbah google ding*. Padahal dia itu beneran di sana loh, ngetem dari siang sampai malam.

Hampir semua temannya nggak percaya soalnya sahabat saya dianggap sebelah mata. Padahal kan kalau disadari semua itu jangan dinilai karena materi. Setiap orang itu berbeda, nggak ada yang sama. Dan kita nggak bakalan tahu soal rejeki. Bisa saja saat ini kita di atas, siapa tahu besok kita di bawah. Jangan menyepelekan orang lain loh.

Jujur, katanya sejak saat itu dia bangga dengan dirinya. Dia bangga karena dia mempunyai pengalaman yang nggak setiap orang bisa. Dia punya pengalaman untuk masuk ke acara-acara yang nggak semua orang diundang. Dia bangga karena dia mampu berjuang dengan keahliannya tanpa embel-embel pangkat atau jabatan orang lain. Dia sangat mandiri.

Peralatan Mbatik-Dok Sahabat

Oia, teman saya juga pernah cerita. Kalau dapat job, seringnya dia pakai kebaya kan. Nah, suatu saat dia pernah tuh pakai kebaya dan bawahannya kain jarik. Jariknya berupa batik tulis bikinan almarhumah neneknya. Waktu membatik di suatu acara, dia didatangi tamu, dan jariknya ditawar sekian juta. Dia menolak dan bilang kalau itu peninggalannya neneknya, nggak bakal dijual. Tak berapa lama, tamu tersebut balik lagi dan menaikkan tawaran sekian puluh juta. Gilak ya, tamu ini ngebet banget. Tetep dong ya, teman saya nggak goyah.

Hasil Karya Sahabat

Dengan bakatnya tersebut dia punya mimpi bisa keliling dunia lewat mbatik. Bulan ini saja dia udah dapat beberapa job di acara pernikahan yang cukup berkelas.

Jangan takut bermimpi, kawan. Raihlah dan yakinlah akan mimpimu dan semoga Tuhan memeluk semua mimpi-mimpimu.



-Untukmu-







16 comments
Baiklah, saya lanjutkan cerita sebelumnya ya. Jadi, ceritanya waktu puasa kemarin kami keliling komplek yang ada di Depok. Antara niat nggak niat sih mencari rumah.
3 comments
Ceritanya itu saya dan suami ingin merasakan tinggal di komplek secara saat ini kami tinggal di kampung. Memang sih, sewaktu mencari rumah dulu, saya ingin rumah yang lapang dengan taman depan dan belakang. Alhamdulillah sudah dipenuhi sama suami saya. Eeee yang namanya manusia kan kadang pengen mencoba hal-hal yang baru kan ya.
20 comments
Teman-teman masih punya KPR? Hehehe gemes sama bunga atau marginnya gak? Sepertinya itu dialami semua yang pinjam ke bank, ya. Karena gemes ini maka saya dan pak suami memutuskan untuk menutup KPR. Ini termasuk nekat sih, karena diluar rencana tahun ini. Meski awalnya ngos-ngosan, tapi endingnya enak, nggak mikir utang, hehehe. Kalau keuangannya berlebih sih nggak papa ya. Lha ini, cuma bisa untuk menutup utang dan selanjutnya menyederhanakan hidup selama sebulan. Tapi seruuu banget kalau hidup itu ada utang dan tantangannya. Betul?