16 comments
Saya terbilang baru di blogsphere. Saya mulai ngeblog tahun 2014 saat merasa kesepian dan bengong di negeri orang. Karena memang suka menulis maka saya langsung jatuh cinta sama blog. Dari yang semula menulis curhatan lama kelamaan saya ingin berbagi lewat blog. Yah, meski curhat di blog masih jalan terus sih, hahahahaha. Maklum lah, ngeblog masih suka-suka. 

Ngeblog itu seru. Seru banget malah. Dengan bergabung di beberapa komunitas, jujur saja ilmu ngeblog saya bertambah. Begitu juga dengan pertemanan. Komunitas-komunitas ngeblog bermunculan banyak banget. Saya sih suka dengan berbagai komunitas blog tersebut meski anggotanya ya itu-itu saja. Maklum, anggotanya ya blogger. 

Dengan bergabung di beberapa komunitas blog, bukan berarti saya tahu kehidupan blogsphere, ya. Saya nggak terlalu mengikuti perkembangan blogsphere secara rutin. Beneran! 

Karena apa? Saya kurang aktif di media sosial. Iya, saya memang mengurangi interaksi di media sosial. Maklum lah, saya bukan orang yang kekinian. Media sosial yang saya punyai hanya facebook, twitter, G+, dan blog. Udah cuma itu aja. 

Media tadi juga jarang saya mainkan. Saya lebih sering menggunakan media tersebut untuk sharing tulisan saja. Dan, dari media sosial tersebut, saya lebih aktif menulis di blog. Saya lebih ekspresif saat menulis ketimbang ngomong. Dengan menulis, saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran. Kalau ngomong, saya cenderung cerewet ke orang yang saya anggap dekat. Makanya banyak banget yang bilang first impression ke saya itu jutek dan pendiam. Padahal kenyataannya jauh banget, hahahaha. Kata sahabat sih, saya orangnya mah bocor alus.^-^.

Jika ada huru-hara di blogsphere, saya lebih banyak tahu dari teman. Untuk mencari info lanjutan biasanya cukup membaca tulisan para blogger. Masak iya nggak ada satu pun blogger yang menulis berita trending tpoic. Hhmm, kayaknya impossible. Dengan begitu, saya bisa menyimpulkan sendiri kejadian yang hangat dibicarakan. Setelahnya, saya hanya diam lalu belajar dari tulisan-tulisan tersebut.

Yah, blogger juga manusia. Dan, apa yang menjadi opininya pasti berbeda antara yang satu dengan yang lain. Saya pelajari tulisan-tulisan tersebut dan nggak menutup kemungkinan bakal diterapkan jika memang itu cocok.

Semakin ke sini, saya lihat banyak blogger yang menggunakan blog sebagai media untuk mencari rupiah. Saya acungi jempol untuk blogger yang seperti ini. Saya tahu untuk memonetize blog itu butuh effort yang nggak gampang. Harus berani membranding blog dan melakukan networking yang banyak. Jika branding dan networking sudah mapan, maka agency akan mudah berdatangan. 

Jujur, saya belum bisa ke tahap seperti itu. Tapi untuk ke sana pasti ada. Saat ini, saya hanya menikmati proses menulis dan berbagi curhatan di blog. Sekali lagi, saya ngeblog masih suka-suka.

Meski blog ini isinya banyak curhatnya, alhamdulillah beberapa sponsored post pernah saya terima. Nggak banyak sih, tapi lumayan buat beli bakso yang nongkrong di pengkolan. Bahkan saya pernah menolak beberapa sponsored post karena masih belum sreg. Seneng ya ketika blog kita diakui dan mendapat tawaran kerja sama. 

Namun sejujurnya, bukan itu tujuan saya ngeblog. Saya lebih bahagia ketika ada yang komen bahwa mereka mendapat informasi melalui postingan yang saya tulis. Saya lebih bahagia ketika ada yang email dan menanyakan ini-itu perihal yang saya tulis. Saya lebih bahagia ketika bisa membantu lewat tulisan di blog.

Iya, beberapa kali saya sering mendapat email tentang ikhitar saya untuk hamil. Beberapa kali saya mendapat komentar yang menanyakan apa yang saya tulis. Dan, saya kaget ketika ada mahasiswa ada yang email untuk ikut kegiatan sosial bersama ibu Jepang yang pernah saya tulis di sini. Mahasiswa tadi sedang melakukan tugas kuliah tentang kehidupan orang Jepang di Indonesia. Dia tahu tulisan saya tentang sifat orang Jepang yang pernah saya tulis di sini

Ah, saya bahagia ketika bisa mengajak anak muda untuk ikut kegiatan yang positif. Bahkan ada juga blogger yang ikut kegiatan tersebut. Blogger tersebut memang dekat dengan saya. Mereka semua masih muda. Dan, mereka juga bahagia ketika berpartisipasi di kegiatan sosial tersebut. Meski kecil, tapi bahagianya tak terkira. Mereka juga tahu kehidupan lain di ibu kota yang nggak pernah mereka bayangkan sebelumnya. 

Etapi ada sih yang bikin agak jiper gitu. Si blogger yang memang jago Bahasa Jepang lebih bisa mempraktikkan ngobrolnya bersama ibu-ibu Jepang. Lah saya? Masih jiper dan ngomong sedikit-sedikit. Yah, sukoshi wakarimasu lah ya. Teman blogger tersebut mengucapkan terima kasih di Line karena dengan kenal saya, maka pergaulannya dengan orang Jepang tambah luas. 

See?
Dengan blogging, saya sudah mendapat kebahagiaan yang tak bisa diganti dengan uang. Yah, meski blog ini cuma apa adanya. Masih jauh dengan seleb blog yang lain. 

Saat ini, saya jarang memposting tulisan di facebook. Seringnya sih posting di twitter, itu pun cuma mention ke satu akun doang. Untuk blogwalking, saya cenderung menjadi silent reader di beberapa blog yang saya ikuti. Saya suka blogwalking tapi lebih sering tidak meninggalkan jejak. Ketika saya nggak berkunjung ke blog mereka, rasanya ada yang bikin kangen. 

Blog-blog yang saya kunjungi macem-macem, ya. Ada yang tinggal di Indonesia dan di luar negeri. Ada perbedaan sih antara blogger yang tinggal di Indonesia dan di luar negeri. Untuk yang tinggal di luar, bahasa dan ulasan mereka lebih santai. Mereka lebih banyak menceritakan kehidupan sehari-hari di luar negeri. Asyik deh kalau gini, saya jadi tambah tahu kehidupan di luar Indonesia yang cukup seru.

Sebagian besar blog yang sering saya baca isinya nggak terlalu berat, sih. Bahasanya juga santai. Dengan membaca postingan mereka di blog, pasti ada saja pelajaran yang saya dapat. Entah tentang parenting, isu-isu terkini, kehidupan di kantor, kehidupan di luar negeri, dan masih banyak lagi.

Yah, membaca blog itu ibarat membaca status seseorang yang panjaaaang. Tapi blog itu lebih asyik karena blogger lebih banyak menuangkan ide dan opininya secara lugas dan independen. Dengan blog, mereka mau posting tulisan panjang atau pendek, terserah. Mau pakai foto atau enggak, terserah. Dan, kalau sudah mengikuti blognya pasti deh pengin tahu si blogger mau cerita apa lagi ya? 

Hhmm, insya Allah saya akan terus ngeblog karena saya suka menulis. Meski ngeblognya nggak serajin dulu tapi saya usahakan untuk sesekali bikin postingan, hahahaha. Maklum lah, ngeblog masih suka-suka. 




















Akhir-akhir ini saya teringat pada teman satu tim saat masih kerja. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja saya kangen dengan mereka. Kangen dengan gaya bercandanya. Kangen dengan keakrabannya. Ah, saya kangen dengan dunia kerja. Tepatnya saya kangen dengan tim kerja yang solid. 

Bekerja dengan tim yang solid sungguh anugerah yang patut disyukuri. Kantor, sebagai rumah kedua merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Hubungan kekeluargaan yang harmonis antara atasan sampai bawahan akan mempengaruhi kinerja tim yang ada di dalamnya. Beruntung, saya pernah merasakan bekerja dengan tim yang solid.

Bulan Juli, sembilan tahun yang lalu. Kali pertama saya bekerja di sebuah rumah sakit plat merah sebagai tenaga kontrak. Suasana yang saya rasakan pertama kali adalah sibuk dan hangat. Iya, saya bekerja di bagian perencaaan yang saat itu sibuk dengan anggaran perubahan. Suasana hangat dan kekeluargaan saya rasakan meski baru pertama kali kenal. 

Bagian perencanaan, salah satu bagian yang lumayan penting. Berbagai ide atau usulan dari masing-masing unit akan digodog menjadi hal yang dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien dan kesejahteraan pegawai. Nggak mudah untuk memenuhi semua usulan tersebut. 

Usulan yang masuk akan disaring dan dipertimbangkan. Bila memang dibutuhkan maka akan diajukan ke direksi selanjutnya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni antar instansi. Di sini, negosiasi dan lobi yang baik sangat dibutuhkan. Dan, ilmu ini tidak ada di bangku kuliah. Hanya pengalaman yang bisa membuat nego berhasil. 

Tak hanya itu saja. Bekerja di bagian perencanaan sungguh pening ketika berhadapan dengan anggaran yang berjumlah milyaran. Uang yang ada harus dialokasikan secara tepat ke berbagai kegiatan yang nantinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Hhmm, bongkar pasang angka sampai error pernah dijabanin. Tukar pendapat dan gejruk antar teman sudah pernah kami alami. Dan, itu seru. Membuat saya lebih banyak belajar. 

Iya, saya banyak belajar dengan mereka. Belajar bagaimana mengolah data, membuat perencaaan yang baik, membuat laporan pertanggungjawaban, membuat kata-kata untuk diajukan ke dewan, belajar tentang pertemanan, dsb. Duh, saya benar-benar kangen dengan suasana ini.

Saat itu, staff perencanaan hanya berjumlah 3 orang. Satu pegawai lama, sedangkan sisanya pegawai baru. Saya termasuk pegawai baru. Baru pertama kali kerja, langsung berhadapan dengan perubahan anggaran yang harus segera dibuat. Mau tak mau, saya harus bisa dan banyak belajar. 

Kala itu kabag dan  kasub sedang dinas keluar kota. Padahal saat yang sama ada data yang harus dikumpulkan. Data pengadaan alat kesehatan yang jumlahnya cukup besar. Kami, sebagai staf yang tak tahu apa-apa harus bertindak cepat agar data tersebut bisa masuk ke biro. 

Akhirnya kami bertiga bekerja sampai malam. Ada yang mengumpulkan data, ada yang telepon bos, ada yang mengutak-atik data. Semua bekerja. Saat itu yang ada di pikiran kami hanya memenuhi data yang diminta oleh biro. Alhamdulillah, semua lancar.

Sejak itu, tim kami makin solid. Kami lebih suka pulang malam daripada pulang ke rumah. Kami lebih suka berada di kantor daripada di rumah. Kami suka kerja lembur tanpa memandang upah yang diterima. Iya, bagi kami kebersamaan adalah hal yang membahagiakan. Ternyata, bekerja seberat apa pun jika bersama dengan tim yang solid maka pekerjaan terasa mudah dan tidak menjadi beban.

Beruntung, saat itu kami punya bos yang perhatian dan tidak pelit. Jika anak buah lembur maka esoknya, ibu buah tak segan akan mentraktir atau mengajak jalan-jalan. Itu semua demi kebahagiaan anak buah. Itu semua untuk semangat kerja anak buah. Dan saya banyak belajar dari beliau. 

Kebersamaan dengan mereka adalah salah satu hal yang membahagiakan dalam hidup saya. Pulang malam masih memakai baju korpri lalu lanjut makan nasi goreng. Pulang kerja makan bakso bersama. Jalan-jalan keluar kota ke tempat yang belum pernah kami datangi. Nguliner bersama. Guyon sampai terbahak-bahak di kantor. Mendengarkan musik bersama di kantor. Karaoke bersama. Narsis bersama. 


Hei Ju, I miss our togetherness so much.
I miss our crazy life time.

Believe me, you are still my best partner in crime.
No one who crazy like you.

Do you still remember?
When the world is still belong to us.^-^. 


*Kangen suasana kantor yang solid kayak dulu.

















6 comments
Bersosialisasi adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika bisa bersosialisasi dengan tetangga yang merupakan saudara terdekat kita. Sejak pindah rumah dari yang lama ke yang baru, saya dan pak suami mengalami perubahan dalam bersosialisasi. Perubahan yang nyata adalah seringnya pak suami ikut nongkrong kalau ada bapak-bapak yang ngumpul. 

Maklum lah, tetangga di rumah lama sedikit sekali. Depan rumah dan samping kanan masih berupa kebun. Tetangga di sebelah kiri sudah tua dan obrolannya kurang nyambung. Ada sih yang seumuran tapi kalau pulang kerja pagi. Nah, keadaan ini yang membuat pak suami nggak pernah ngumpul bareng bapak-bapak. 

Keadaan berbalik saat kami tinggal di lingkungan baru. Awal-awal pindah, kalau weekend pasti ada saja bapak-bapak yang ngumpul. Dimulai dari obrolan antara dua bapak kemudian nambah lagi dan lagi. Tak lama kemudian, terdengar suara gelak tawa mereka pecah. 

Beneran nih, waktu awal pindah, obrolan antara dua bapak bisa nambah dengan bapak-bapak yang lain. Mereka ngobrol dari pagi sampai siang. Betaaah banget. Saking betahnya, kadang mereka mencari tempat yang adem supaya bisa dilanjutkan ngobrolnya. Mungkin kalau tidak ada teriakan dari anak-anak atau ibu-ibu, mereka bakal lupa waktu, hahahahaha. 

Bapak-bapak kalau ngumpul tak kenal waktu dan tempat. Bisa pagi, tapi seringnya malam hari terutama saat mau libur atau weekend. Kalau weekend atau libur, bapak-bapak bisa ngumpul sampai pukul 01.00. Iya, dini hari, Ciiiin!! Dan mereka asyik aja goleran di jalan. Seru deh kalau melihat guyub yang seperti ini, hahahaaha. 

Jujur, seringnya saya nggak tahu pak suami ngumpul sama bapak-bapak pukul berapa. Hawong, pak suami kalau keluar rumah saat saya sudah tidur. Mungkin bapak-bapak yang lain juga, menunggu saat anak mereka sudah bobok. Alasannya sih, biar nggak ada yang ngrecoki atau nyuruh pulang. Hahahahaha.

Saat saya terbangun dan mendapati pak suami ngilang, pikiran saya pasti lagi ngumpul sama bapak-bapak. Dan benar, saya sering mendengar gelak tawa yang memecah sunyi dan syahdunya malam*halah. 

Baru-baru ini, selepas tarawih, pak suami ngobrol dengan seorang bapak yang juga ikut tarawih. Dari obrolan antara dua orang menjadi obrolan beberapa orang. Mereka ngobrol sambil berdiri, lho. Saya tahu karena mereka ngobrol di depan rumah. Selama belum tidur, saya lihat pak suami bolak-balik ke kamar mandi. Tapi setelah itu ya keluar lagi untuk melanjutkan obrolan yang belum tuntas. 

Dari yang semula nggak ngantuk akhirnya saya tinggal tidur sendirian di kamar. Ketika sahur, saya tanya ke pak suami semalam ngumpul sampai jam berapa. Katanya sih sampai pukul 21.45. Haaaa, mereka betah berdiri dari pukul 20.00-21.45. 

Bagaimana sikap saya sebagi istri?

Saya sih santai dan enjoy saja dengan bapak-bapak yang suka ngumpul ini. Wajar lah karena dunia lelaki memang seperti itu. Saya menganggap ini salah satu me time-nya bapak-bapak. Kasihan kan mereka sudah stress atau jenuh dengan kerjaan kantor. Dengan ikut ngumpul seperti ini, saya yakin stress mereka berkurang *sotoy. Jangan salah, bapak-bapak juga suka curhat, lho. Tapi curhatan mereka berbeda dengan ibu-ibu. Curhatan bapak-bapak mah seputar masalah lelaki dan lebih banyak guyonnya ketimbang bapernya. Hahahaha. 

Selain stress berkurang karena curhat, kadang mereka juga tahu apa yang menjadi trending topic di kompleks. Selain curhatan, bapak-bapak kalau ngumpul sejatinya ada permasalahan yang dibahas, kok. Misalnya saja membahas security, sampah, atau fasilitas yang ada di komplek. Pembahasan mereka sih simple karena lelaki nggak suka ribet. Pembahasan sambil diselingi obrolan ringan atau guyonan kan malah enak, istilahnya serius tapi santai. Apalagi kalau ditambah dengan aneka jajanan. Waini, yang bikin bapak-bapak tambah betah ngumpul.

Kalau bapak-bapak ngumpul, ibu-ibu turut berperan kok. Peran ibu di sini dengan menyiapkan camilan atau jajanan. Nggak semua bawa sih yang penting ada camilannya. Kadang ada yang menyediakan teh, kue, cireng, gorengan, pisang, dll. Seringnya bapak-bapak di sini membuat susu jahe sendiri. Mereka ngobrol sambil membakar jahe dan merebus air. Setelah air matang, baru deh mereka bikin susu. Nikmat dan gayeng ya kalau begini. 

Saya sih senang kalau melihat pak suami juga senang. Iya, prinsip saya sesimple itu. Jadi, selama pak suami bahagia dengan acara ngumpul ini, saya nggak keberatan. Terserah saja pak suami mau ikut ngumpul atau enggak.

Etapi dengan satu syarat, pak suami harus transfer cerita lucu minimal satu, hahahahahaha. Soalnya saya suka tertawa sendiri jika mendengar mereka terbahak-bahak. Penasaran sih apa yang ditertawakan. Dan, setelah mendengar siaran ulang dari pak suami, saya pun tertawa terpingkal-pingkal. Saya membayangkan kalau bisa mendengar cerita lucu tersebut secara live. Huahahahahaha. 

Hhmm, saya nggak memaksa sih kalau pak suami mau cerita atau enggak. Seringnya sih apa yang sedang menjadi permasalahan di kompleks, diceritakan lagi sama pak suami. Dengan begini, saya jadi tahu permasalahan di lingkungan tempat tinggal. Saya juga yakin kalau ada cerita yang under cover dan sengaja tidak diceritakan ke saya biar nggak baper, hahahaha. 

Dengan adanya kegiatan bapak-bapak ngumpul, saya merasakan perubahan pada pak suami. Dulu, yang awalnya saya kenal pendiam dan kurang suka bersosialisasi ternyata berbeda setelah ikut ngumpul-ngumpul. Yang saya kira nggak bisa bercanda ternyata bisa juga bikin suasana cair. 

Percayalah, kegiatan bapak-bapak ngumpul ini merupakan aktivitas yang positif dan termasuk me time yang murah meriah daripada mereka harus ngumpul dengan teman-teman kantor di kafe atau mall. Bener, kan? ^-^




















4 comments
Marhaban ya Ramadhan. Nggak terasa ya kalau sebentar lagi mau Ramadhan. Saya selalu senang kalau bulan suci Ramadhan tiba. Entah lah, rasanya ada suasana yang berbeda di bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan bulan yang lain. Padahal kalau dipikir aktivitas selama Ramadhan sama seperti bulan-bulan lainnya. Mungkin karena orang-orangnya lebih sabar kali ya, jadi suasananya beda. Hahahaha. 

Meski Ramadhan tinggal menghitung hari tapi kesibukan menyambut bulan suci ini bagi beberapa orang nggak bisa dibilang mudah, terutama buat saya pribadi. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan ini dan itu supaya pas puasa nanti lebih tenang dan fokus. Nggak tahu deh kalau Teman-teman bagaimana, apakah juga sibuk menjelang Ramadhan. 

Beberapa kesibukan sebelum Ramadhan yang terjadi di masyarakat terbilang unik. Saya bilang unik karena kesibukan tersebut nggak hanya untuk persiapan puasa saja tapi juga untuk menyambut lebaran.

Lha wong beberapa timeline di media sosial atau grup chatting sudah ada yang menawarkan aneka kue lebaran. Pelapak hijab fashion juga sudah woro-woro batas akhir pemesanan supaya barang bisa sampai ke customer sebelum lebaran. 

Hhmm, padahal puasa saja belum tapi hiruk pikuknya sudah menggema jauh-jauh hari dari persiapan sebelum puasa sampai menjelang lebaran. Jangan salah lho, saya salah satu diantaranya. Iya, saya termasuk orang yang agak rempong sebelum Ramadhan, hahahaha. 

Saya memang tipe orang yang suka prepare jauh-jauh hari (kecuali untuk belajar, sukanya pakai sistem kebut semalam, hahahaha). Saya males banget kalau harus antre panjang atau berdesak-desakan membeli barang di pusat perbelanjaan. 

Karena apa?

Dari awal puasa sampai mau lebaran, banyak banget orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan. Mereka ada yang mau belanja untuk persiapan lebaran, beli baju baru, buka bersama, atau hanya untuk window shopping aja. 

Dulu, sewaktu awal menikah, saya sempat mengalami hal ini. Maklum, saat itu masih penyesuaian menjadi pasangan baru dan masih beradaptasi di tempat yang baru pula. Minggu kedua Ramadhan, biasanya saya dan pak suami belanja persiapan lebaran di mall. Belanjaan tersebut bukan untuk kami saja namun untuk keluarga juga. Kebayang ya, banyaknya belanjaan saat itu. Apalagi mall selalu penuh karena masyarakat juga punya tujuan yang sama. Pyuh, lelahnya hayati awak saat itu.

Kejadian tersebut membuat saya nggak sanggup karena benar-benar bikin capek. Akhirnya berdasarkan pengalaman yang nggak mengenakkan tersebut, saya sudah mempersiapkan segala keperluan selama puasa sampai lebaran sebelum Ramadhan tiba. 

Apa saja kesibukan saya sebelum Ramadhan?  

#Hunting Tiket Mudik

Waini, bagi perantau yang mau mudik ke kampung halaman menggunakan transportasi umum jangan sampai kehabisan tiket mudik. Secara suasana ngumpul bareng keluarga besar terasa guyub di saat lebaran, kan?

Kalau lebaran, saya dan pak suami lebih suka mudik naik kereta api. Pengalaman hunting tiket kereta yang sistemnya error melulu sudah menjadi hal biasa. Hunting tiket tengah malam, kami jabanin. Kalau sistem error, kami tinggal tidur lagi. Pas subuh mau hunting lagi, nggak tahunya tiketnya sudah habis. Hahahahaha, seru sih hunting tiket yang beginian.

Kadang nih, kalau tiketnya masih, pilihannya beda gerbong. Lalu pencarian tiket pun dilanjut lagi sampai dapat meski mudiknya mepet dengan lebaran. Tak mengapa, asal bisa lebaran bersama keluarga di kampung halaman. 

Bagi Teman-teman yang mudik menggunakan kereta api, pemesanan tiket dibuka sejak H-90 (3 bulan) sebelum keberangkatan. Kalau nggak mau begadang seperti kami, Teman-teman bisa pesan tiket di agen. Perhatikan cara pemesanan di agen tersebut supaya bisa dapat kursi. Mereka nggak bisa melayani pemesanan tiket yang dadakan apalagi jika Teman-teman nggak melampirkan data yang lengkap. Agen tiket juga manusia, Ciiinnn! 

#Belanja Keperluan Puasa dan Lebaran

Menjelang Ramadhan, berbagai kebutuhan untuk puasa dan lebaran sudah ada di pusat perbelanjaan dari mulai pakaian sampai makanan. Barang-barang ini sangat laris diborong pembeli. Dari minggu pertama Ramadhan sampai menjelang lebaran tempat belanja selalu penuh. Hal ini membuat pengunjung antre berjam-jam untuk membayar di kasir. 

Saya pernah mau belanja barang sebelum lebaran dan terpaksa balik lagi begitu melihat antrean panjang di kasir. Nggak sanggup kalau harus ikut antre. 

Untuk menyiasati hal tersebut, saya dan pak suami nyetok makanan dan belanja untuk kebutuhan dua bulan sekaligus. Misal nih, puasa jatuh di bulan Juni. Maka akhir Mei atau awal Juni, saya dan pak suami belanja bulanan untuk bulan Juni dan Juli. Selain belanja rutin bulanan biasanya kami juga belanja untuk keperluan lebaran sekaligus. Biasanya barang yang banyak dibeli yaitu makanan untuk stok selama Ramadhan dan persiapan lebaran. Jadi selama Ramadhan, kami nggak pernah ke mall meski hanya untuk window shopping. Kalau ada yang kurang, tinggal beli di warung atau mini market terdekat. 

#THR

Meski bagi-bagi THR menunggu kalau bonus dari kantor cair tapi ada baiknya jika besarnya THR dan siapa yang menerima dibikin list. Catat semua keponakan, orang-orang yang ingin kita santuni atau yayasan yang ingin kita bantu. Dengan membuat list THR, pengeluaran untuk anggaran ini bisa dikontrol dengan baik. 

#Bersih-bersih Rumah

Datangnya bulan Ramadhan ibarat tamu agung yang berkunjung ke rumah. Kalau ada teman yang mau main ke rumah, biasanya kita pencitraan kan biar rumah terlihat rapi dan bersih. Hahahahaha. Kalau teman saja diperlakukan demikian, maka sudah selayaknya jika Ramadhan juga disambut dengan rumah yang bersih supaya lebih nyaman untuk beribadah. 

Hhmm, saya masih ada pe-er nih untuk membersihkan rumput liar di taman. 

#Mempersiapkan Hati

Waini, yang nggak kalah penting yaitu mempersiapkan hati sebelum Ramadhan. Gampang sih ngomongnya tapi susah banget dijalani. 

Jika Ramadhan tiba, siapkah kita untuk nggak kepo sama kehidupan orang lain? Siapkah untuk menjadi orang yang lebih sabar? Siapkah kita untuk nggak ngegosip di Whatsapp atau Line? Hahahaha. 

Haduuuhh, berat banget ini. Semoga ya saya bisa mempersiapkan hati selama Ramadhan. 

Etapi yang rada susah bagi saya mungkin ngegosip di Line sama teman yang tek-tok. Dari yang semula cuma menanyakan kabar aja malah merembet ke hal-hal lain yang malah bikin kepo. Huahahahahaha. *Balang brambang deh ke kamu yang merasa melakukan ini :p 

Oia, melalui postingan ini saya mohon maaf lahir batin ke Teman-teman yang sudah mampir ke blog ini. Maaf ya kalau saya ada salah-salah kata dalam menulis. Saya mohon maaf jika ada perkataan dan perbuatan yang nggak sengaja saya lakukan dan menyakiti hati Teman-teman. Semoga kita dapat menjalani bulan Ramadhan tahun ini dengan baik, ya. Aamiin.

Anyway, sebelum Ramadhan Teman-teman sibuk ngapain, nih?