Terima Kasih, Masa Lalu!

Halo, semua?

Ada yang kangen sama blog ini nggak sih?

Hahaha, pede abis ya.

Sudah dua bulan nggak ngeblog, rasanya kangeeen banget. Kesibukan mengurus anak dan kehidupan di dunia nyata membuat saya cepat lelah dan memilih leyeh-leyeh sambil skrol dan skrol teruuuss, hahaha.

Bikin postingan satu aja nggak selesai-selesai padahal udah nyicil bikin draftnya lho. Jadinya blog nggak keurus.

Curhat lagi, yuk.

Akhir-akhir ini saya sering teringat kejadian di masa lalu. Tiba-tiba aja kenangan masa lalu muncul. Pas mau tidur, nongol. Lagi nenenin sinok, nongol. Lagi bengong, apalagi. Jadi ya saya putuskan postingan kali ini ngomongin tentang masa lalu.

Ya nggak gimana-gimana sih karena masa lalu saya nggak ada yang spesial. Cuma lagi pengen nulis aja, hahaha.

Beberapa waktu lalu kayaknya banyak yang ngomongin tentang loveself dan inner child ya. Kalau dipikir lagi, ini erat kaitannya dengan masa lalu deh. Bagaimana kita menerima keadaan masa lalu dan menjadikannya sebagai proses penerimaan diri sehingga lebih mencintai diri kita yang saat ini.

Ciyeee, bahasanya ndakik banget, hahaha.

Eh, btw bener nggak sih analisis tadi? Hahaha, maafkan ya analisis sotoy ini.

Pixabay

Saya mau cerita dulu, nih.

Selama vakum ngeblog, saya sempat sakit perut dan migrain. Rasanya perut kayak melilit gitu. Kadang melilit kadang juga enggak. Mungkin maag atau gimana, saya juga nggak tahu. Kayaknya saya belum pernah sakit maag.

Sakit perutnya beberapa hari dan makin lama agak berkurang rasa memilitnya.

Kalau migrain biasanya sih karena saya lagi masuk angin atau lagi kepikiran sesuatu. Dulu saya lumayan sering migrain. Sakit migrain sempat berkurang drastis sejak saya menerapkan food combining. Tapi karena waktu itu lagi hamil dan sampai sekarang (masih menyusui) dadah babay dulu sama food combining.

Selama badan nggak karuan, saya gunakan untuk istirahat dan mengurangi gadget. Alhamdulillah, sakit agak berkurang. Apalagi kalau setelah dipijat ama pak suami.

Duh, jadi kangen pijat di Indonesia, huhuhu.

Nah, ketika sakit agak berkurang saya nemu bacaan dari Alodita tentang psikosomatis, bersyukur, dan bahagia. Baca sendiri aja ya di sini.

Habis baca blognya Alodita, saya mikirin soal ini.

Jangan-jangan saya terkena psikosomatis. Gejalanya hampir sama cuma saya nggak separah Alodita. Mencoba ikutan konsultasi pun enggak, hahaha.

Terus curhat ke pak suami nyeritain tentang psikosomatis dan jangan-jangan penyakit saya kemarin karena itu. Saat sesi curhat ini, nggak nyangka ternyata pak suami juga pernah mengalami hal yang sama.

Kayaknya bapake terlalu mikirin masa depan jadi ya bawaannya berat, hahaha. Kalau saya beda. Bukan mikirin tentang masa depan tapi malah masa lalu.

Etapi ini juga bisa berat lho kalau kita nggak bisa mengatur pikiran dan emosi dengan baik.

Kalau nggak ada masa lalu pasti nggak ada masa sekarang. Ya iyalah ya. Tapi kalau pengalaman masa lalu nggak bisa bikin kita belajar, sayang banget jadinya. Apalagi kalau masih ada dendam dan perasaan kurang ikhlas, hal ini bisa berdampak pada kualitas kehidupan sekarang.

Pengalaman masa lalu yang bikin saya banyak belajar tentang kehidupan. Banyak banget hal-hal yang saya alami hingga menjadikan saya seperti saat ini.

Masa lalu saya bisa dibilang biasa aja. Malah banyak pengalaman yang nggak enaknya, hahaha. Justru dari pengalaman yang nggak enak tersebut saya banyak belajar dan menjadi banyak bersyukur.

Bagi sebagian orang, dulu mungkin saya orang yang menyebalkan. Bahkan sampai sekarang mungkin saya masih dianggap sebagai orang yang menyebalkan. Yah, namanya juga hidup, kita nggak bisa menyenangkan semua orang kan.

Tapi lama kelamaan saya belajar dan berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan orang yang sempurna namun setidaknya ada perubahan dalam diri saya.

Nggak mudah untuk mengalami ini semua. Banyak sekali pergumulan di dalam hati ketika memutuskan untuk berubah. Saya akui untuk memaafkan masa lalu apalagi terhadap orang-orang yang pernah menyakiti kita, sangat susah. Susah sekali.

Namun susah bukan berarti tidak bisa. Saya terus belajar dan mencoba untuk memaafkan. Toh, hari ini dan sampai detik ini kehidupan saya berproses karena ada campur tangan dari mereka. Kalau tidak ada mereka, mungkin saya tidak bisa seperti saat ini.

Saat menulis ini aja, orang-orang di masa lalu tersebut masih saja berkeliaran di pikiran saya, huhuhu.

Saya selalu berpikir positif dan memberikan afirmasi yang baik terhadap diri sendiri. Jika ada kenangan masa lalu melintas, saya selalu mengucapkan ini,

"Saya berhak untuk bahagia dan hei jika kamu muncul di pikiranku lagi, ok nggak papa. Jangan lama-lama ya. Cepet pergi! Jangan ganggu kebahagiaanku lagi."

Hahaha, jadi kayak ngomong ke diri sendiri aja sih.

Saya meyakini bahwa orang lain punya cara yang berbeda terhadap kebahagiaannya sendiri. Apa pun caranya. Entah cara tersebut akan menyakiti kita atau enggak. Ikhlaskan saja semuanya. Toh itu semua telah terjadi. Nggak ada yang perlu disesali.

Yang diperlukan hanya sikap kita untuk merespon kejadian masa lalu. Boleh aja kita menertawakan bahkan benci dengan kejadian di masa lalu. Andai waktu bisa diputar ulang, maka saya juga ingin memperbaiki keadaan di masa itu. Tapi kenyataannya kan nggak bisa.

Berdamailah dengan semua kenangan tersebut meski sangat menyakitkan. Namun jangan lama-lama, ya. Move on, dong. Toh, orang-orang di masa lalu juga belum tentu ingat dengan kejadian tersebut.

Sikap untuk berdamai dan memaafkan diri sendiri sangat membantu saya menjalani hari-hari saat ini dengan baik. Jika ada kenangan masa lalu melintas, saya cukup tersenyum aja. Alhamdulillah, ini sangat berpengaruh pada saya.

Akhir-akhir ini sakit perut dan migrain yang sempat muncul lama-lama udah jarang nongol. Saya lebih bahagia dan fokus mengurus keluarga dengan baik.

Terima kasih buat kalian yang sudah mengisi masa lalu saya. Udah saya maafkan semua. Semoga kalian juga bisa memaafkan saya, ya. Kosong kosong ya semuaaa. Dengan adanya kalian saya jadi belajar untuk menjadi lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Arigatou!


No comments