Pemakaman Muslim di Jepang

Hari Selasa, seminggu yang lalu..

Hati saya masih terasa sesak dan sedih jika mengingat kejadian ini. Sebagai migran, saya sadar untuk selalu siap dengan segala risiko yang terjadi.

Cerita yang akan saya tulis mungkin bisa diambil hikmahnya. Tentang pemakaman muslim di Jepang.



'Mba, nanti jadi ketemuan, ya. Kayaknya saya agak telat karena anak masih bobok.'

Pesan itu saya kirimkan ke teman saya, sebut saja namanya A. Saya dan A baru kenalan beberapa hari namun belum pernah ketemu. Kami dikenalkan karena dia bertemu secara tak sengaja dengan teman saya yang sedang belanja di swalayan. Sebagai sesama Indonesia wajar kalau mereka saling menyapa.

Teman tersebut memberikan nomor WA saya kepada A. Lalu kami kenalan via WA.

Ah, senangnya bisa tambah kenalan di Jepang. Apalagi tempat tinggal kami cukup dekat. 

A tinggal di Kannai mengikuti suaminya yang bekerja di sini. Dia datang sejak Agustus lalu. Selisih 4 bulan dari saya.

Saat melihat profilnya di WA, saya menyimpulkan kalau A belum punya anak. Bisa saja dugaan saya salah karena mungkin A tidak mau menampilkan foto anaknya di profil WA.

Namun karena saya ada janji dengan teman Indonesia yang lain di tempat bermain anak, akhirnya saya mengajak A. Maksud hati ingin mengenalkan A dengan beberapa teman tersebut. Biar sekalian gitu.

Sebenarnya, saya merasa nggak enak untuk mengajak A ketemuan di tempat bermain anak. Jika prasangka saya benar kalau dia belum punya anak, nanti dia mau ngapain di tempat bermain anak.

Tuhan berkehendak lain.

Hari ketemuan tiba. Saya dan A rencananya bertemu di swalayan dekat apato. Lalu kami ke tempat bermain anak jalan kaki bersama.

Ternyata dugaan saya benar kalau A belum punya anak. Tapi pada saat saya mengajak ketemuan, A sedang dititipi anak temannya. Dengan demikian, A setidaknya ada aktivitas di tempat bermain anak.

Saya yang awalnya tahu ada orang Indonesia lagi, senangnya luar biasa. Namun kesenangan saya berubah jadi duka saat tahu keadaan yang sebenarnya.

A dititipi anak, sebut saja namanya Bebi. Saat pertama kali bertemu, Bebi sosok anak yang sangat menyenangkan. Usia Bebi 3 tahun. Anaknya riang, manis, dan lincah sekali.

Bebi dan keluarganya tinggal di daerah Shonandai. Jaraknya cukup jauh dari Kannai, sekitar 15 stasiun subway.

Bebi dititipkan ke A sekitar 2 hari sebelumnya. Hal ini dilakukan karena kondisi orang tuanya yang tidak memungkinkan untuk mengurus Bebi karena saat itu mereka sedang mendapat musibah.

Mama Bebi hamil 8 bulan. Hari Jumat dia periksa kandungan dan dinyatakan dalam kondisi sehat. Namun keesokan harinya dia harus dirawat di rumah sakit.

Saya juga nggak tahu banyak soal penyakitnya. Menurut A, janinnya tidak bisa diselamatkan karena darahnya beda sama ibunya.

Hati ibu mana yang nggak sedih dan kaget menerima kabar seperti itu. Sehari sebelumnya tidak ada apa-apa namun setelahnya janin dinyatakan meninggal.

Mungkin di bahasa medis ada nama penyakit seperti ini, maaf, saya orang awam jadi nggak paham.

From Shutterstock 

Sebagai migran muslim yang jadi minoritas di Jepang, pemakaman muslim menjadi hal yang sangat luar biasa effortnya.

Kalau di Indonesia, jika ada kabar orang meninggal biasanya akan diworo-woro, banyak orang yang datang melayat. Lalu diadakan prosesi sebelum pemakaman, kemudian dikuburkan, selesai.

Di Jepang beda.

Saat Mama Bebi masih di rumah sakit, papa Bebi sibuk mengurus ini itu supaya jasad anaknya bisa dikebumikan secara Islami. Praktis, mama Bebi sendirian di rumah sakit.

Hanya ada beberapa teman yang menjenguk. Mereka yang menghibur dan menguatkan mama Bebi.

Untuk info aja nih, nggak semua tempat di Jepang ada pemakaman muslim, lho. Pemakaman muslim di Jepang hanya ada 3 tempat yaitu di Shizuoka, Ibaraki, dan Yamanashi.

Itu semua lokasinya jauh dari tempat tinggal kami. Saya dan teman-teman yang ada di kisah ini tinggal di Yokohama.

Papa Bebi memilih memakamkan anaknya di Ibaraki.

Jarak dari Yokohama ke Ibaraki 

Saya cek di Google, jarak dari Yokohama ke Ibaraki sekitar 121 km dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam. Bisa jadi jarak dan waktu tersebut bertambah jika lokasi pemakaman tidak di pusat Ibaraki.

Alhamdulillah, papa Bebi dijemput oleh asosiasi muslim di sini dan difasilitasi pemakamannya.

Untuk detail soal pemakamannya, maaf, saya nggak tahu banyak. 

Sebagai seorang ibu, saya tahu banget bagaimana perasaan mama Bebi. Ditinggal sendiri di rumah sakit, nggak bisa ikut pemakaman anak, dan lokasi penguburan yang jauh sekali.

Dada saya masih sesak jika mengingat cerita ini.

Badan sakit dan batin tambah sakit ketika tahu anak yang sebentar lagi mau lahir malah tiada. Kejadian ini terjadi di negeri orang pula.

Kalau pun mau ziarah ke makam layaknya orang Indonesia, tentu susah. Jarak Yokohama-Ibaraki yang lumayan jauh menjadi kendala. Banyak hal yang harus diperhitungkan antara lain waktu, jarak, dan biaya transportasi yang nggak murah.

Ya, sebagai migran, saya dan teman-teman harus siap dengan segala risiko yang terjadi di sini. Cerita tentang migran nggak hanya yang indah-indah saja. Namun ada cerita lain yang mungkin saja nggak diceritakan di media sosial. Jadi orang hanya tahu yang enaknya saja.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran kepada siapa saja yang ingin menjadi migran. Harus kuat dan siap mental apalagi kalau menjadi minoritas di negeri orang.


8 comments

  1. Asem manisnya kehidupan ya mb pit, ga kebayang pas dapat hal hal ga terduga serba mendadak ga ada saudara di tanah rantau, aih ku blom siap mental

    Sedih pastinya ga kebayang jadi ibunya beby, btw aku jd ingat kisah nya irish bella kalau baca cerita begini

    Hmmm, pas mb pit banyak cerita hal2 tentang kepang jujur aku seneng, nambahi informasi buat ku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Nit, harus siap dengan semua risiko yang nggak diduga.

      Btw makasih ya Nit untuk apresiasinya. Curhat di blog buat kenang-kenangan ntar kalau balik, hahaha.

      Delete
  2. hiks, kenapa saya bacanya kok jadi sedih banget ya.
    Soalnya saya pun perantau di Jawa, jangankan di Jepang ya, saya kadang mikir, kalau saya meninggal sekarang, kayaknya makam saya bakal ada di Jawa, padahal pengennya di Sulawesi, tapi juga bingung sih, kalau anak-anak di sini.

    Ya Allah, semoga nanti diberi yang terbaik, dan yang pasti semoga Allah masih memberikan kesempatan untuk berpulang padaNya dalam keadaan lebih suci dari dosa, aamiin ya Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga pernah mikirin hal yang sama, mba, karena kan saya perantau juga. Rumah di Depok.

      Aamiin, semoga doanya terkabul.

      Delete
  3. Selama ini tiap ke Jepang, apalagi adikku tinggal di sana g, pernah kepikiran utk tanya apa ada pemakaman muslim di sana.kebayang ya mba sedih nya itu :(. Anak baru meninggal, ga bisa hadir pula di pemakaman. Semoga si ibu ttp kuat dan ikhlas yaa :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Terima kasih, mba, untuk doanya.

      Iya, mba, karena hal-hal seperti ini jarang banget diceritain di media sosial. Jadinya cuma tampak enaknya aja.

      Delete
  4. Memang ini salah satu kesulitan kalo menetap di negeri orang dan menjadi minoritas ya mbak, salah satunya sulit mencari tempat pemakaman muslim.

    ReplyDelete