Hari Pertama di Tahun yang Baru

Rabu, 1 Januari 2020

Sore itu, selepas asar, saya, pak suami, dan sinok melangkahkan kaki keluar apartemen. Saya, terutama, ingin sekali melihat kehidupan di Jepang pada saat hari pertama di tahun yang baru.

Perjalanan kali ini sangat santai. Saya dan pak suami tidak ada target apa pun. Kami hanya ingin menghabiskan waktu sambil melihat aktivitas masyarakat di sini. Bosan juga jika musim liburan seperti ini hanya dihabiskan di apartemen.

Baru saja keluar apartemen, saya merasakan atmosfer yang berbeda. Jika di hari biasa suasana di sekitar apartemen ramai dengan aktivitas bisnis, ternyata hari itu terasa sepi sekali.

Baca juga: Tahun baru di Jepang

Jalanan lengang. Mobil yang biasa parkir di pinggir jalan hampir tidak ada. Restoran, supermarket, dan klinik yang biasanya ramai, kali ini tidak ada aktivitas sama sekali alias tutup semua. Hari itu hanya konbini yang masih setia melayani pelanggan.

Saya lega dan berucap syukur dalam hati karena masih ada yang jualan. Jika saya butuh sesuatu, setidaknya masih ada tempat yang dituju.

Hiasan untuk menyambut tahun baru

Hawa dingin yang menusuk tulang memaksa saya untuk memasukkan tangan ke dalam kantong jaket. Berkali-kali pula saya membetulkan masker yang sering melorot. Ah, jika masker tersebut melorot, saya tak tahan dengan hembusan angin dingin.

Untunglah sore itu matahari masih menampakkan dirinya. Sinarnya sangat membantu saya yang benci dengan hawa dingin. Tentu saja kami memilih sisi jalan yang tidak terlalu silau.

Wow, baru kali ini saya merasakan Jepang yang sepi sekali. Kalau seperti ini, saya mengiyakan berita yang mengatakan bahwa Jepang mengalami depopulasi. Kadang, hal ini kontras dengan banyaknya manusia yang berjubel tiap kali ada gelaran acara di mana-mana.

Ah, saya tak tahulah dengan itu semua.

Sambil berjalan, kami mengobrol bersama. Sesekali disertai dengan candaan kepada si kecil supaya dia tetap merasa senang. Untunglah, dia nyaman dalam gendongan ayahnya.

Ketika melewati taman, saya tersenyum melihat anak kecil yang sedang bermain. Tak jauh dari situ, si ibu mengawasi sambil duduk di kursi taman. Anak tersebut sedang bermain jungkat-jungkit. Mainan jungkat-jungkit memang favorit anak-anak di sini. Bentuknya binatang dengan warna-warni yang cerah. Jika dihadapkan dengan mainan seperti ini, anak mana yang tidak tertarik?

Kami masih saja berjalan sampai ke tempat yang ingin dituju. Sebenarnya kami sering ke tempat tersebut. Namun tidak pernah bosan. Ada saja yang seru untuk dilihat dan dicicipi. Ups, sayangnya cuma sedikit yang bisa dikonsumsi oleh muslim di tempat ini.

China Town Yokohama.

Maaf, fotonya gelap, haha.

Di sinilah kami memutuskan untuk menghabiskan sore hari itu. Hari pertama di tahun yang baru.

Sengaja kami memilih gerbang utama untuk masuk. Gerbang ini terletak di dekat Motomachi. Sebuah gerbang yang gagah berwarna hijau menyambut kami.

Sebenarnya bisa saja kami memotong jalan supaya lebih cepat sampai. Namun, kami ingin sekali melihat China town dari ujung.

Kaget saya dibuatnya. Kawasan ini memang tak pernah mati. Ramainya bukan main. Atmosfer yang berbeda saya rasakan lagi. Dari yang semula sepi menjadi ramai.



China town di Yokohama kabarnya diklaim sebagai China town terbesar di Jepang. Jika melihat luasnya area dan banyaknya toko memang saya setuju. Tanpa bermaksud sombong, saya pernah juga mampir ke China town di Singapura dan Malaysia. Bagi saya, China town di Yokohama memang yang terbesar dan terbaik. Di dua tempat yang saya sebutkan tadi tidak ada apa-apanya.

Saya selalu senang dan menikmati setiap perjalanan yang saya lalui. Melihat kiri kanan yang penuh dengan penjual. Tentu saja yang paling dominan adalah penjual makanan dan minuman.

Permen bentuk apel yang warna-warni. Lucu ya.

Aroma penganan yang menguar membuat saya lapar. Belum lagi jika melihat bentuk dan foto-fotonya. Sudah dingin ditambah dengan bau makanan yang tampak lezat, perut ini mana tahan. Mereka berontak. Namun saya masih bisa bersabar, haha. Ajakan pak suami untuk membeli penganan yang mirip onde-onde saya acuhkan. Lah, kadang sebagai ibu rumah tangga, saya menjerit kalau mengingat harga-harga di sini jika dikurskan ke dalam rupiah. Jiwa emak-emak, wajar kan ya. Akui sajalah, haha.

Aneka sayuran di China town

Penganan mirip onde-onde tadi terpaksa hanya saya pandangi sambil lalu. Harga satu bulatan tanggung 100 Yen, sekitar 13ribu jika dikonversikan ke dalam mata uang kita. Mungkin nanti jika kami ke sini lagi, saya akan niat untuk membelinya. Haha.

Kami masih berjalan. Semakin ke dalam, semakin ramai. Saya juga berhenti di restoran Sario. Restoran ini pernah kami datangi. Hanya tempat ini yang menyediakan menu halal. Bahkan di Sario juga disediakan tempat salat.

Namun sore itu kami tidak mampir ke Sario. Bulan lalu kami sudah makan di Sario juga. Tapi di cabang yang lain yaitu di World Porter.

Sementara, dadah dulu dengan Sario.

Info menu halal di Sario 

Akhirnya sampai di Daiso. Tempat yang menjual barang seharga 100Yen. Meski tidak semua barang-barang yang dijual di sini harganya segitu. Beberapa item ada yang harganya lebih.

Karena saya sedang butuh beberapa barang, kami memutuskan untuk berhenti dan membeli di Daiso. Setelah dirasa cukup, perjalanan dilanjut lagi.

Waktu sudah hampir magrib dan kami agak terburu-buru. Selain gelap, malam itu dinginnya terasa sekali. Suhunya agak drop.

Sambil berjalan ke arah pulang, kami mampir sebentar ke Gyomu Suppa. Supermarket yang menjual aneka bahan makanan dengan harga miring. Di sini juga menyediakan makanan halal. Ada daging ayam, makanan kaleng, kaldu, dan camilan ringan.

Jika mampir ke supermarket seperti ini, bisa dipastikan kalau sinok pasti rungsing. Dia ingin belanja juga. Untunglah ayahnya orang yang sabar. Mereka berdua asyik bermain kereta dorong. Sesekali saya lihat sinok sibuk memasukkan barang ke keranjang. Jika begini dia senangnya bukan main. Mungkin saat ini dia sedang dalam fase meniru. Ia ingin berbelanja seperti ibunya.

Ah, lucunya. Biarlah kami menikmati momen ini. Momen yang akan kami rindukan suatu saat nanti.

Setelah puas berbelanja, kami pulang. Hari semakin malam dan tentu saja dingin semakin menusuk tulang.

Kami berjalan melewati Naka-ku lalu ke arah Yokohama Stadium. Area ini merupakan tempat umum yang banyak dikunjungi warga karena tamannya cukup luas.

Sayangnya, malam itu terasa sepi sekali. Hanya beberapa orang yang berjalan terburu-buru. Langkah mereka cepat sekali. Mungkin sama seperti kami, mereka juga ingin cepat sampai tujuan biar tidak kedinginan.

Terima kasih untuk hari pertama di tahun yang baru ini. Hari yang indah sekali. Sinar matahari yang hangat berganti dingin yang menusuk tulang. Hanya kehangatan keluarga dan hati yang penuh syukur yang bisa menghangatkan suasana hari itu. Ah, senangnya.

Matur nuwun, Gusti.^_^


8 comments

  1. Hari pertama di 2020 berjalan lancar ya mba, ikutan senang baca ceritanya :D dan ikut merasa perjalanan singkat namun terasa special karena bersama keluarga~ hehe.

    Saya hari pertama di tahun 2020 justru nggak ke mana-mana, karena dingin hihi. Jadi memutuskan untuk menikmati tahun pertama dengan santai relax plus blogwalking ke sana ke mari. Hehehe. Semoga hari-hari berikutnya selalu menyenangkan untuk mba dan keluarga :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya saya males ke mana-mana, mba, karena dingin. Saya ga tahan dingin. Cuma kasihan suami dan anak kalau cuma ngendon di apartemen. Jadi dadakan nyari tempat yg dekat.

      Doa dan harapan yang sama untuk Mba sekeluarga. Terima kasih, ya.^_^

      Delete
  2. gw hari pertama di 2020 adalah tidur, males aja si buat kemana-mana :D ... gw gak gak pernah ke jepang, tapi emang disana sedingin itu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung Jepangnya mana dulu. Daerah Jepang utara emang dingin banget dan ada saljunya.

      Kalau di tempat saya cenderung ga ada salju tapi dingiiin. Apalagi saya orangnya ga tahan dingin. Jadi ya gitu deh, dikuat-kuatin.

      Delete
  3. Masha Allah, selamat ganti kalender Mba hihihihi.
    Kamipun mengisi hari pertama di tahun baru dengan jalan-jalan, Alhamdulillah semua menikmati, anak-anak happy, sayapun minim drama.

    Jalanan juga lebih lengang, orang-orang kayaknya masih tidur karena begadang :)

    Btw asyik ya bisa jalan-jalan kalau lengang, bagi seseorang yang mencintai keheningan kayak saya itu keren banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, mba Rey, makasih ya. Selamat ganti kalender juga ya, mba, hehe.

      Iya, enak banget kalau pas jalan2 lengang. Apalagi bawa keluarga, ya. Jadi kalau anak rewel nggak terlalu menggangu orang. Tapi nyatanya anak saya tetep aja rewel dan diliatin orang, haha.

      Delete
  4. alhamdulillah ya Mba, moga tahun ini lebih baik dalam segala hal ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih, Mba Fitri. Doa yang sama untuk Mba Fitri sekeluarga.

      Delete