Ketakutan Menjadi Orangtua

Akhir-akhir ini saya sering baca berita tentang tingkah laku orang yang nggak senonoh di area publik. Bikin geregetan. Ketika membaca berita tersebut, hati saya miris dan sedih. Lalu pikiran jadi ke mana-mana. Inilah salah satu ketakutan saya menjadi orangtua.

Di zaman serba internet ini, hampir tiap hari kayaknya ada berita yang viral, ya. Sayangnya kebanyakan berita yang negatif. Yang masih lekat di ingatan saya yaitu tweet dari Fiersa Besari tentang dua anak muda yang mesum di gunung. Iyes, mereka melakukan tindakan asusila di dalam tenda sewaktu naik gunung.

Cuitan Fiersa Besari bijak sih. Dia mengatakan bahwa melakukan perbuatan mesum di gunung jelas salah. Tapi tindakan menarik selimut, mempermalukan pelakunya, memvideokan, dan menyebarkan ke media sosial itu jauh lebih salah.

Saya terdiam membaca tweet tersebut. Pikiran jadi nggak karuan.

Gimana ya rasanya jadi pelaku tersebut? Gimana ya perasaan orangtua dari pelaku tersebut?
Gimana ya kalau anak saya nanti nonton video tersebut?
Gimana ya kalau misalnya anak saya jadi pelaku atau malah yang memvideokan? (Astaghfirullah, amit-amit)

Saya sadar bahwa tiap orangtua mempunyai tantangan sendiri dalam mendidik anak. Saat ini, eranya arus informasi yang sangat massif menjadikan siapa pun bisa mengakses apa pun di internet tanpa batas. Bahkan anak-anak sekalipun.

Sebaik-baiknya anak dididik dengan berbagai aturan di rumah, tapi lingkungan sekitar pengaruhnya sangat besar. Maksud saya di sini yaitu teman-temannya.

Lingkungan pertemanan inilah yang juga berperan dalam membentuk karakter anak di kemudian hari. Meski saya baru menjadi orangtua tapi saya takut jika anak saya kelak berada di lingkungan pergaulan yang salah. Hm, kayaknya tiap orangtua juga takut akan hal ini.

Hal yang saya alami sendiri yaitu betapa anak-anak sekarang terlalu hedon. Ini bukan tanpa alasan karena saya sering mendengar percakapan mereka tentang kebendaan atau barang-barang branded yang dimiliki. Hhhmmm..

Pixabay

Tapi bagaimanapun juga didikan keluarga menjadi pondasi dan modal yang kuat buat anak.

Sewaktu kecil saya dididik di keluarga yang nggak suka foya-foya dan di lingkungan yang memegang adat ketimuran yang kental. Yah, gimana mau foya-foya kalau kedua orangtua cuma abdi negara biasa aja. Padahal lingkungan pertemanan saya sangat borjuis karena saya bersekolah di sekolah favorit yang isinya ya gitu deh. Hahaha.

Karakter inilah yang membentuk saya sampai sekarang. Saya nggak goyah sama godaan mereka. Saya bisa hemat meski nggak hemat banget juga, hahaha.

Adat timur di negara kita memang tinggi. Gampangnya ya banyak yang membahas soal ini di medsos. Berita yang dianggap kurang sesuai dengan budaya kita bakal dikupas habis-habisan, dibikin thread, dan diviralkan. Ya nggak?

Seiring berjalannya waktu kadang saya nggak peduli dengan berita-berita itu. Toh itu hidup mereka kok masyarakat yang sibuk komentar sana-sini. Yah, hargai sajalah pilihan orang lain.

Tapi kenyataannya berbeda saat saya mengalaminya sendiri.

Eh, gimana maksudnya?

Waktu itu saya lagi di kereta dan menggendong anak saya. Di depan saya berdiri 3 orang laki-laki. Mereka bukan warga lokal. Entah turis atau pekerja migran, saya nggak tahu.

Perawakan mereka biasa aja. Cakep juga nggak. Badan juga biasa aja seperti lelaki paruh baya lainnya.

Semula mereka bertiga ngobrol biasa aja. Tapi beberapa menit kemudian saya kaget banget waktu melihat 2 orang diantaranya lagi mesra-mesraan. Sumpah, hati saya berdesir nggak karuan.

Lalu pelan-pelan otak saya bekerja. Oke, saya berada di negara orang yang budayanya berbeda. Oke, itu pilihan hidup mereka. Oke, itu bukan urusan saya. Oke, itu hak mereka.

Tapi sebagai orang yang dididik dengan budaya timur tetap saja saya shock. Apalagi saya bawa anak. Langsung pikiran ke mana-mana lagi, kan. 

Dulu waktu belum punya anak, saya cuek aja lihat begituan. Meski kaget tapi nggak seperti ini rasanya. Hm, apa karena saya mainnya kurang jauh, ya. Hahaha.

Mungkin, mungkin lho ini, hal-hal yang saat ini dianggap tabu oleh masyarakat kita ke depannya bakal menjadi hal yang biasa aja. Pengaruh informasi yang begitu cepat menjadikan apa saja bisa massif dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Siapa tahu batasan antara agama, norma, dan kebebasan individu menjadi sangat tipis.

Bisa jadi ungkapan ini menjadi hal yang lumrah dan bisa dimaklumi meski melanggar aturan nggak tertulis yang dulu sempat dijunjung tinggi. Ya, ungkapan seperti ini, "Asal kamu nggak mengganggu orang lain, ya silakan aja. Itu hakmu."

Haduuh, inilah yang menjadi pikiran saya akhir-akhir ini. Hal-hal yang sebenarnya nggak perlu dipikirin dalam-dalam malah jadi ketakutan sebagai orangtua zaman now. Mau mengurangi berita yang negatif biar tenang kok ya nggak bisa karena penasaran, hahahaha.

Btw ada yang mempunyai ketakutan yang sama kayak saya nggak sih?


8 comments

  1. Sama mbak Pipit, aku juga kadang was-was dengan makin terkikisnya adat ketimuran di Indonesia ini. Dulu orang pacaran masih ngumpet-ngumpet karena malu jadi omongan orang, sekarang sudah biasa, bahkan yang sudah hamil belum menikah juga dianggap lumrah jaman sekarang, nauzubillah.

    Apalagi saya punya anak perempuan, jadinya tambah was-was gitu.😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas, zaman sekarang kayaknya punya anak cewek atau cowok sama was-wasnya, hehehe.

      Semoga ya anak-anak kita bertumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik.

      Delete
  2. Kalau saya merasa Indonesia masih kental budaya timurnya, setelah merasakan sendiri stay di negara timur yang sudah hampir 90% kebarat-baratan. Yang tadinya bermesraan di tempat umum alias PDA itu agak tabu, sekarang dengan mudah dilakukan di mana saja. Yang dulunya tinggal bersama sebelum menikah adalah hal yang agak terlarang, sekarang justru semacam sebuah step yang perlu dilakukan sebelum menikah demi bisa mengenal karakter pasangan ~

    Terus saya jadi ingat perbincangan saya dengan beberapa rekan yang sudah jadi orang tua dengan anak-anak teenagers beranjak dewasa. Mereka bilang, "Kita nggak akan bisa membendung informasi yang berkeliaran di sekitar kita hanya demi menutup mata anak-anak kita kelak dari paparan hal-hal negatif yang ada. Karena era sekarang sangat berbeda dengan era orang tua kita dan pola pendidikan saat membesarkan anak juga sangat berbeda. Jadi yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan lebih banyak mengedukasi dan memberikan fondasi pada anak-anak kita soal apa yang bagus dan tidak untuk dilakukan, dengan harapan mereka paham."

    Karena susah juga, anak-anak masa kini itu punya kebebasan yang lebih banyak daripada era kita dulu ya mba. Jaman kita dulu mungkin masih ada takut-takutnya disabet pakai lidi atau dimarahi orang tua. Tapi anak jaman sekarang kata rekan saya, agak berbeda cara menghadapinya. Karena selain mereka nggak ada takut-takutnya, paparan informasi yang ada membuat mereka lebih kuat untuk melawan. Jadi harus kitanya yang play smart as orang tua dan itu susah :") meski saya belum punya anak, tapi saya punya banyak keponakan dan saya bisa bayangkan betapa susahnya mengurus keponakan mereka.

    So untuk mba Pipit, semangat ya, semoga dengan fondasi berlandas cinta kasih akan membuat anak mba Pipit kelak mengerti mana yang baik dan mana yang bukan. Dan semoga anak mba nggak akan melakukan hal-hal yang kelak akan membuat mba kecewa. Yang terpenting, keep giving your best mba, God will care the rest :>

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah,kalau di Indonesia masih kental budaya timurnya meski ada beberapa orang yang merasa nggak cocok.

      Nah, ini ni saya masih belajar banget untuk bisa kreatif ngasih pendidikan dan wejangan ke anak nantinya supaya dia paham.

      Terima kasih mba untuk supportnya.

      Delete
  3. Hal hal yang dianggap tabu, menjadi layak dan patut diperbincangkan, semua akan dikupas secara tajam setajam sieeeet !!! *wkwkkw ini mah slogan silet ala fenny rose hahaha


    Ealah mb pit ki sma favorit toh, trus kepikiran sma favorit di magelang ki apa ya, taruna nusantara kah hihi #tebak tebak buah manggis

    Oiya mengenai bahasan kali ini, zaman emang dah makin edun, edaaaan piye gitu
    Opo opo digibahkan massal, kdg aku juga risih mb pit liat berita viral sing aneh aneh rep tutup mata tutup telinga mesti ono ae sing bahas, betapa menyebalkan haha

    Kita bisa ancang2, ning sakmaksimalnya kita kasi bordenline tuk hal hal2 tertentu, balik lagi emang kadang lingkungan sih sing paling mbahayani. Makane sedari kecil udah harus dididik sik bener2 berpondasi sesuai agama atau norma2 kesusilaan yg berlaku, ndaan nek wes gede dikit bakal susah maneh mengarahkannya. Wes duwe karep sih soale wekekke #ngomong opo to aku haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, aku sekolah di Semarang bukan Magelang.

      Berita viral di mana-mana memang ada yang bahas ya meski kita udah tutup mata dan telinga. Yang semula nggak tahu malah jadi tahu dan makin penasaran.

      Nah, iya, didikan sejak kecil penting banget buat membangun pondasi dan karakter anak.

      Delete
  4. Punya anak pasti memiliki ketakutan serupa, Mbak.
    Salah satu keputusan kami buat homeschooling ya ketakutan akan hal tersebut, jadi inginnya kami kuatkan pembangunan karakternya. Bukan kami tidak percaya dengan sekolah, akan tetapi ya lebih pada ingin bener-bener mendampingi dia dalam bertumbuh dan berkembang.

    Setiap orang tua pasti pun memiliki tantangan.

    Fighting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, mba. Sempat kepikiran banget soal ini. Ternyata emang masing2 punya tantangan.

      Oh, anaknya homeschooling ya. Hebat. Jadi bisa tahu perkembangan dan minat anak secara langsung.

      Delete