Uang Memang Penting Tapi Bukan yang Utama

Hm, judulnya panjang amat dan kelihatan klise, ya. Tapi percayalah, yang akan saya ceritakan memang benar seperti itu. Bahwa hidup nggak melulu soal uang atau materi. Kayaknya berat ya bahasannya, hahaha.

Beberapa hari yang lalu saya main ke apartemen teman. Biasalah sesama perempuan saling curhat. Teman saya itu kayaknya satu-satunya teman yang sering saya ajak ketemu dan ngobrol. Yah, maklum, jumlah orang Indonesia di sini sedikit.

Padahal kami baru kenal sekitar bulan November dan secepat itu kami bisa akrab. Alhamdulillah, teman yang baik juga rezeki, kan.

Teman saya sebut saja namanya A. Dari sisi materi, A dan suaminya bisa dibilang mapan banget. A dan suaminya sudah lama tinggal di Jepang meski berpindah-pindah lokasinya.

Suaminya A kuliah di Jepang dan langsung cari kerja di sini. Mereka sudah terbiasa hidup semi nomaden karena terkadang bosan. Satu-satunya cara supaya bisa pindah-pindah seperti itu, suaminya ya harus pindah kerja.

Selama 5 tahun ke belakang, A dan suaminya ditempatkan di Jakarta. Harusnya tinggal di negeri sendiri ada perasaan senang kan ya. Tapi ternyata enggak, lho.

Banyak yang bilang kalau ibukota lebih kejam dibanding ibu tiri, hahaha. Orang-orang yang tinggal di Jakarta terkesan sibuk dan terburu-buru. Bagi A dan suaminya, kehidupan di Jakarta lebih keras dibanding di Jepang. Selama di Jakarta mereka menjadi lebih sibuk. Saking sibuknya, mereka jarang sekali ketemu.

Aneh, kan, padahal mereka tinggal di negara sendiri, lho.


Pixabay

Selama di Jakarta, A dan suaminya bekerja. A memilih bekerja karena kalau di Jakarta, dia bingung mau ngapain. Di negara kita sepertinya belum ada ruang bagi ibu rumah tangga untuk mengaktualisasikan diri.

Suaminya A super sibuk. Berangkat pagi, pulang kadang pagi lagi. Bosnya orang Jepang yang workaholic. Kerja sampai jam 2 pagi juga pernah dijabanin.

Tahu sendiri Jakarta super macet. Makanya, salah satu syarat tempat tinggal mereka yaitu dekat dengan kantor. Meski begitu, kalau ke kantor mereka bawa mobil sendiri-sendiri. 

Saking sibuknya, mereka jarang ngumpul berdua. Pagi mereka keluar apartemen kemudian berpisah di parkiran. Pulang kantor nggak tahu sampai apartemen jam berapa. Kalau weekend, suaminya kadang ada urusan kantor. Belum lagi ngurus entertainment kalau ada tamu. Nemenin main golf, ketemu cewek cantik dan seksi merupakan hal yang biasa bagi suaminya A.

Hm, kalau gini, saya jadi ingat kisah-kisah di buku Jakarta Under Cover by Moammar Emka. Wow, baca bukunya jadi membuka mata saya tentang realita kehidupan di Jakarta.

Oke, kembali ke topik.

Mereka juga jarang banget liburan. Buat liburan saja mereka harus menyempatkan waktu.

Suatu kali mereka pergi liburan berdua. Pulang liburan, suaminya cuma tidur sebentar di bandara untuk menunggu penerbangan selanjutnya demi dinas kantor.

Saat ibunya meninggal, A dan suami berangkat dari kota yang berbeda dan bertemu di bandara tempat ibunya disemayamkan.

Selama mendegarkan kisahnya saya hanya diam kemudian bertanya, "Ada yang kurang nggak dari kehidupan seperti itu?"

A dan suami merasa bahwa kehidupan seperti ini kalau diteruskan akan berdampak kurang baik pada hubungan mereka. Satu-satunya jalan supaya bisa lepas, suaminya mencari tempat kerja yang baru dan bukan di Jakarta.

Kalau dipikir, dengan posisi suaminya yang sudah mapan dan dapat fasilitas segala macam, kehidupan mereka sudah nyaman banget. Tapi A dan suami memutuskan keluar dari Jakarta dan mencari perusahaan baru di Jepang.

Ketika mengajukan resign, big bos perusahaan sampai datang ke Indonesia untuk menanyakan langsung apa benar keputusan yang dia buat. Dengan mantap suami A bilang iya. Sekarang, mereka tinggal di Jepang lagi.

Di Jepang, suaminya A sering lembur juga. Pulang kantor sekitar jam delapan atau sembilan malam. Tapi dia berangkat ke kantor sekitar jam setengah sepuluh pagi dan nggak terburu-buru karena perjalanan ke kantor ditempuh dengan jalan kaki. Di Jepang juga nggak ada macet parah kayak di Jakarta, hehe.

Selama di Jepang, setiap hari A bisa menyiapkan sarapan dan bekal untuk suaminya. Kalau nggak masak, mereka  biasa makan di luar sambil ngopi. Waktu untuk ngobrol berdua menjadi lebih banyak.

Meski mereka melepaskan semua kenyamanan dan fasilitas yang didapat selama di Jakarta, A dan suaminya tidak menyesal sama sekali. Karena tujuan hidup mereka bukan hanya uang. Uang tidak bisa menggantikan kebahagiaan yang sedang mereka nikmati saat ini.

Selamat menikmati hidup kembali untukmu, Mas dan Mba. Semoga bahagia selalu.^-^.


10 comments

  1. Aku aku ! Aku dah baca buku moammar emka yang jakarta undercover, n terkedjoet melihat sisi lain jakardah hehehe

    Tapi bacane wes sue mb pit
    Jaman kuliah aku dah baca tu buku

    Banget ngerasain, pernah tinggal 3 tahun dinjakarta, ku ngerasa kebanyakan di jalan thok huhu
    Walaupun yah klo secara fasilitas entertaint ada dimana mana termasuk emolnyah

    Ah emamg pada akhirnya yang dicari ketenangan djiwa sik ya, memang kalau hidup ga serba kemrungsung ngaruh juga kok di kesehatan mental dan juga fisik
    Jadi klo aku menjelma sebagai suami A, ya memang lebih milih opsi ke jepun lagi, biar kata mungkin ga sebanyak yang dinjkt salarynya, tapi asal mangan ora mangal tetep ngumpul ama pasangan rasanya ya worthed ajah..#begicuw kan ya istilahnya hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh buku Jakarta Under Cover memang uwow ya, hehehe. Aku juga dulu pinjam teman pas SMP apa SMA gitu.

      Aku juga pernah ngerasain kerja di Jakarta sekitar 3 tahunan. Ya Alloh lelah banget di jalan. Kadang berpikir kalau hasil yang didapat nggak sebanding dengan lelahnya. Akhirnya bisa resign juga dengan alasan yang kuat.

      Hok o, hidup kalau kemrungsung ngefek banget ke aktivitas sehari-hari dan ngefek ke mental.

      Delete
  2. Saya dulu besar di Jakarta mba Pipit, sampai kerja juga sempat di Jakarta, tapi setelah itu sumpek banget rasanya. Seperti nggak punya kehidupan lain di luar kerja, kerja dan kerja hehehe. Terus akhirnya saya memutuskan untuk pindah dengan berbagai macam pertimbangan ~

    Saya juga di Korea nggak berminat ke Seoul dan lebih prefer di Pulau Jeju, meski nggak ada shopping mall tapi nggak tau kenapa rasanya tenang dan damai jiwa raga :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba yang besar di Jakarta pasti lebih tahu kondisi di Jkt kan ya. Memang hidup di Jkt agak sumpek karena lebih banyak waktu kerjanya. Mungkin karena kondisi macet jadi berasa nggak ada kehidupan lain karena kelamaan di jalan. Padahal cuma jarak dari rumah ke kantor. Dan lagi kalau weekend mau jalan2 juga macet di mana2.

      Mba, Jeju nggak ada shopping mall nya? Weee baru tahu karena saya kira kayak Bali gitu, hehe. Wah, boleh diceritain nih soal kehidupan Jeju di blog. Pasti menarik.:)))

      Delete
  3. Salut juga sama mbak A dan suaminya yang rela melepaskan segala fasilitas mewah di Jakarta agar mereka berdua bisa lebih mendapatkan waktu bersama. Sebuah keluarga biarpun banyak duit kalo jarang bersama ya rasanya kurang lengkap.

    Eh, tapi kenapa ngga ke Yogyakarta, kan disana ngga terlalu macet. Tapi disana ngga semaju Jepang sih.😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas, betul sekali. Waktu bersama keluarga sangat penting ya.

      Kenapa ga Yogya? Ya, itu pilihan mereka sih, Mas, hehehe.

      Eh, bukannya Yogya sekarang macet ya? Apa karena saya ke sana pas liburan aja ya, hahaha.

      Delete
  4. betul sekali ini mba.. kita tidak bisa menghambakan uang :) meskipun utk skg uang utk menopang kehidupan

    ReplyDelete
  5. Saya memang tidak tinggal di kota besar, karena ga bisa bayangin seperti apa, hahaha.
    Tapi, cerita ini jadi ingatkan saya sama cerita di mana suami bertanya, kalau dia ditawarin posisi tinggi, gaji berlipat tapi pindah pulau (antara Lombok dan Malang/Surabaya) apakah saya setuju. Karena kalau di Bali saja, dia harus sabar kenaikannya sesuai dengan masa kerja dia yang belum lama.

    Saya, yang ga bisa LDR langsung bilang "Aku cukup puas kok dengan sekarang meskipun gajih segitu" Yang penting kita kumpul, jujur kalau aku harus pindah ke dua pulau tersebut belum sanggup, karena bisnisku baru mulai. AKu juga bilang, kalau di masa mendatang, dia ga harus ikut orang terus, pikirkan untuk bisnis sendiri, karena dia bercita-cita memberikan hadiah waktu buat anaknya.

    Terkadang, iming-iming materi tak selalu menggiurkan saat sudah masalah kenyamanan hati :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba, saya pernah juga mengalami LDM waktu suami masih awal-awal di Jepang. Sekitar 4 bulan baru bisa kumpul lagi.

      Iya, berat ya jauh dari suami meski saat itu saya tinggal bareng orangtua kandung. Beda rasanya.

      Mau bagaimanapun, tetap lebih enak kumpul bersama keluarga inti lengkap ya mba. Kalau ada apa-apa bisa langsung dimusyawarahkan.

      Delete