Tentang Pertanyaan 'Kapan'

Akhirnya saya dapat pertanyaan 'kapan' dengan tingkat yang berbeda, hahaha. Emang ya kalau dipikir pertanyaan 'kapan' nggak selesai dari kehidupan kita. Setelah anak pertama lahir, ditanya kapan punya anak lagi. Saya sempat mikir, kalau anak kedua nanti udah ada, lalu pertanyaan 'kapan' selanjutnya kira-kira apa ya? Hahaha, mikirnya udah kejauhan.

Sebagai orang Indonesia tentu saya udah biasa dengan pertanyaan 'kapan'. Sejak zaman belum punya pacar sampai sekarang udah beranak satu, pertanyaan tersebut terus ditanyakan dengan tingkatan yang berbeda.

Dulu waktu belum punya pacar, saya ditanya kapan nih punya pacar. Setelah punya pacar, pertanyaannya ganti kapan nikah. Setelah nikah dan belum punya anak, ganti lagi jadi kapan punya anak. Dan yang terakhir, saya ditanya kapan mau nambah anak. Pertanyaan kapan rauwis-uwis, hahaha.

Pertanyaan 'kapan' di kehidupan kita muncul karena orang Indonesia termasuk masyarakat komunal. Salah satu sifat dari masyarakat komunal yaitu batas antara kehidupan pribadi dan sosial sering kali kabur bahkan nggak berbatas.

Hal ini berbeda dengan masyarakat yang bersifat individual yang menjadikan batas kehidupan pribadi dan sosial sangat jelas. Sehingga pertanyaan 'kapan' di kehidupan mereka nggak jadi masalah.

Pixabay

Lalu, apakah pertanyaan 'kapan' ini salah diucapkan?

Enggak juga. Tergantung kedekatan kita dengan lawan bicara. Kalau pertanyaan kapan diucapkan ke orang terdekat, bisa jadi hal ini menambah keakraban. Tapi kalau pertanyaan 'kapan' diucapkan ke orang lain yang nggak dekat apalagi di waktu yang salah, malah hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan.

Saat saya baru balik dari Jepang, belum ada sehari ketemu dengan tetangga. Eh, udah ditanya kapan anak kedua launching. Reaksi saya agak kaget sih cuma kasih senyum aja ke dia.

Padahal dia kan tahu kondisi saya dan pak suami seperti apa. Kami bukan seperti dia karena butuh waktu lama untuk mendapatkan anak.

Nggak cuma satu orang aja lho yang nanyain kapan punya anak lagi. Saya heran karena mereka seperti menyamaratakan jalan hidup seseorang sesuai standar kebahagiaan umum.

Saya sendiri pernah nanya 'kapan' tapi ke orang yang benar-benar dekat. Dan kalau mau nanya, pasti saya awali dengan minta maaf. Dan biasanya mereka menjawab dengan baik jadi saya tahu alasannya kenapa mereka belum begini dan begitu.

Bagi saya, pertanyaan 'kapan' di masyarakat kita bukan bentuk kepedulian. Ini adalah sebuah budaya turun temurun yang kadang nggak bisa dihindari. Namun bukan berarti kita tanggapi pertanyaan tersebut dengan ketus.

Bisa jadi pertanyaan 'kapan' diucapkan sebagai bentuk basa-basi. Namun zaman sudah berganti. Mungkin suatu saat nanti pertanyaan ini akan menjadi benar-benar basi ketika masyarakat sudah paham benar akan arti privasi.

Contohnya, saat ini generasi milenial sudah jengah dan malas karena tiap ketemu keluarga besar akan ditanya 'kapan kawin'. Udah banyak kan mereka berkeluh kesah di media sosial tentang hal ini?

Data BPS 2017 tentang Indeks Kebahagiaan  Indonesia menyebutkan bahwa tingkat kebahagiaan para single lebih tinggi dibanding mereka yang sudah menikah. Penelitian ini melibatkan 72.317 responden di 34 provinsi.

Penelitian lain juga banyak yang menyebutkan bahwa saat ini generasi milenial cenderung untuk menunda pernikahan dengan berbagai alasan, antara lain faktor finansial dan ketidaksiapan untuk berkomitmen.

Menjadi single bukan aib namun pilihan. Jika itu membuat seseorang menjadi  lebih bahagia dan nyaman, lajang bukan suatu masalah. 

Yang menjadi masalah adalah orang lain yang terus-terusan bertanya 'kapan kawin' atau pertanyaan 'kapan' lainnya tanpa melihat kedekatan atau waktu yang tepat untuk ditanyakan.

Semoga kita lebih bijaksana saat akan bertanya 'kapan' ke orang lain. Jadi, kapan kamu update blog? #eh 😝


Sumber penelitian BPS dari Femina.
https://www.femina.co.id/sex-relationship/generasi-millennial-cenderung-menunda-pernikahan


17 comments

  1. Sepengalaman pernah berada di Jepang, umumkah pertanyaan 'kapan' diajukan ke kita disana, kak ?.

    Kalau di negara kita kan kayaknya umum banget masalah receh pun ditanya kapan ini kapan itunya, de el el ...
    Padahal sebenarnya hal kayak gitu ngga penting2 amat ditanyakan.
    Mungkin sudah kultur kali ya kalau orang Indo suka basa-basi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Jepang nggak umum menanyakan hal tersebut karena sudah termasuk ranah privacy. Apalagi di sana orangnya individual dan sangat menjaga privacy.

      Iya, betul. Di tempat kita sudah kultur. Tapi anak-anak muda sekarang kayaknya juga punya kultur yang berbeda dengan orang dulu. Mungkin pertanyaan-pertanyaan receh yang udah menyangkut privacy jadi sungkan ditanyakan.

      Delete
  2. Gek aku dadi ngerti ciri masyarakat komunal en the individual
    #sekilas aku teringat pelajaran sosiologi mb piiiit

    Yaps, memang begitulah adanya, pertanyaan ini emang udah jadi semaca adat, kebiasaan, tradisi yang turun temurun diucapkan karena ya begitulah tipis antara membedakan urusan privasi dengan hal hal umum, apalagi memang kan tipikal background pendidikan serta didikan keluarga masyarakat di negeri kita beragam ya mb pit, ada yang emang menonjolkan unggah ungguh banget dan memganggap itu masuk ranah privasi, ada pula yang menganggapnya sebagai bahan obrolan biasa saja yang lumrah, tergantung sudut pandang emang...

    E jangan salah loh, ini baru pertanyaan kapan pas kita masih usia muda ((usia muda gw kata haha))

    Di usia ibuk ibuk kita juga masih loh bakal dapat pertanyaan kapan,
    Misale : putrane kapan lulus, putrane pun nyambut damel, kapan mantu, kapan momong cucu, kapan tindak kaji dll dsb.....#berdasarkan pengamatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oia, bener banget, Nit, pertanyaan kapan dipengaruhi banyak hal karena back ground masyarakat kita yang berbeda-beda ya.

      Woooo hok o ya, aku baru ingat. Banyak buibuk yang nanyain ini sama ibuku. Padahal ibuku juga suka nanya hal-hal tadi ke buibuk yang lain.

      Wayahe sampun pinten, bu? Hahaha.

      Makasih ya Nit buat sharingnya. Never ending pertanyaan kapan.😂

      Delete
  3. Salah satu pertanyaan 'kapan' yang sering aku alami sekarang adalah 'kapan nambah anak lagi', padahal bukannya tidak mau tambah anak tapi memang belum rejeki dikasih anak kedua.

    Pertama istri saya juga shok, maklum dia dari negeri wakanda makanya kaget ada pertanyaan seperti itu, tapi sekarang sih udah biasa, bahkan kalo ditanya seperti itu 'kapan punya anak lagi', istri saya jawab 'ntar kalo Indonesia tidak punya hutang luar negeri lagi.'😂

    Saya sih tidak akan tanya mbak Pipit kapan update blog lagi, tapi kapan main ke blog saya.🤣

    *Kabooor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, bener Mas, sikap istrinya. Udah dicuekin aja mereka.

      Btw saya udah main ya ke blognya sampai bingung templatenya kayaknya ganti melulu ya, hehe.

      Delete
  4. "KaPaN bIsA nAiK mOtOr SeNdIrI?" adalah pertanyaan 'kapan' yang sering saya denger. LA BODO AMAT BUKAN HIDUP LU KAN WOKWOKOWOKWOKW.

    "Jadi, kapan kamu update blog?" Iya iya kaka, bentar lagi WKWKWKKWKW.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, sabar, Kak. Yang penting udah update blog, kan?😂

      Delete
  5. Kalau di KR hampir sama seperti Jepang mba, pertanyaan 'kapan' itu agak tabu untuk ditanyakan pada kalangan generasi muda, meski yang tua-tua tetap ada yang bertanya :))))

    Saya pribadi, seingat saya dari dulu nggak pernah ditanyakan 'kapan' sama orang-orang di sekitar saya, apa mungkin karena saya terlalu kaku orangnya, jadi mereka sangat kesulitan untuk approach saya hehehe. Tapi memang sayanya dari kecil selalu keeping a distance sama orang, jadi orang serasa nggak enak katanya kalau mau bincang-bincang hangat sama saya :\

    Eniho, semoga semakin ke sini, generasi sekarang, akan lebih respect terhadap privasi seseorang, dan nggak perlu bertanya pertanyaan 'kapan' plus pertanyaan nggak penting lainnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngomong ngomong eniho itu artinya apa sih mbak, sering mbak Eno ngomong begitu tapi aku tidak paham artinya, apa bahasa Korea Selatan ya? 🤔

      Delete
    2. @Creameno: hm, bisa jadi lingkungan sekitar mba yang punya back ground berbeda dengan masyarakat kebanyakan dan mereka menghargai privasi.

      Kalau mba yang kaku dan menjaga jarak, bisa juga itu terjadi sehingga orang lain enggan nanya ke mba karena sungkan, hehe.

      @Mas Agus: saya bantu jawab ya. Cmiiw dulu nih.

      Eniho adalah penulisan anyhow dari bahasa Inggris. Biar lebih Indonesia ejaannya. Artinya kurleb bagaimanapun.

      Delete
  6. Saya setuju banget tentang pertanyaan "kapan" itu boleh ditanyakan tergantung kedekatan kita dengan lawan bicara. Terkadang dengan teman dekat pun saya agak enggan nanya "kapan". Saya sih baru akhir-akhir ini ditanya soal "kapan anak kedua". Asal ketemu dia, itu-itu lagi yang ditanyain, bingung akutu kayak nggak ada bahan pembicaraan lain apa ya 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga, mba. Kalau nggak deket banget nget saya juga sungkan nanya kapan. Hahaha, sabar ya Mba Jane. Cuekin aja.

      Delete
  7. Kapan balik ke Jepang lagi Mbak?
    Kapan anakmu punya adek? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Unaaaa, teganya dirimu padaku. Waseeeemmm ya..

      Aku jawab nih: SOON 😝

      Delete
  8. Kalau saya sudah sampai di tahap mengerti kalau sebenarnya udah jadi ciri khas (yang salah) dari orang kebanyakan di Indonesia, karena orang di sini tuh ramah-ramah, daaaan malas baca hahahaha.

    Apa hubungannya ama baca?

    Maksudnya, setiap ketemu orang, mau orang asing kek, terlebih ketemu orang yang dikenal, jadinya bingung mau nanya apa buat basa-basi.
    Jadinya ya kasih pertanyaan standar aja.

    Gimana kabarnya?
    Duh makin (gendut, kurus, cantik, kusam, etc)
    Sudah nikah?
    Sudah punya anak berapa?
    Kapan nih mau nikah?
    Kapan nih punya anak (karena mereka sering dengar gosip, zaman now banyak yang sengaja nunda punya anak, dikata semua orang sama, hahaha)
    Kapan punya anak kedua, biar sekalian capeknya (suka banget liat orang capek, wakakakak)

    Dan semacamnya.
    Jadi kadang meski rada risih, saya jawab cerdik aja sambil senyum meringis.

    Jawabnya ya, doain ya!
    Udah deh gitu aja aman.
    Kalau dia ngotot kasih nasihat macam-macam, ya saya balas dong.

    Makanya doain ya, sekarang dong doaiannya, yang keras biar saya aamiin in hahahaha

    Tapi saya setuju dengan postingan yang mengkampanyekan atau selalu menyinggung masalah basa basi yang kebasian dengan pertanyaan kapan itu.

    Setidaknya mungkin kita nggak bisa mengubah kebiasaan nenek-nenek baheula kalau bertanya suka kepo.
    Tapi kita para generasi milenial sebijaknyalah mengerti mana pertanyaan basa basi yang nggak basi.

    Banyakin baca, biar pengetahuan luas, jadi kalau mau basa basi, banyak juga bahannya.

    Kalau masih ada generasi milenial nanya basa basi kapan yang basi, mari kita bilangin aja.

    "Ih kamu kok kayak nenek-nenek baheula?" hahahahahaha

    *kabooorrrrrr

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalau ada yang nanya kapan, cuma kasih senyum aja. Kalau masih ngotot, dijawab doain aja. Biar cepet ya, Mba. Hehehe.

      Saya setuju kalau generasi milenial atau yang lebih baru sebaiknya belajar menjadi lebih baik daripada generasi selanjutnya. Karena bagaimanapun, zaman pasti berbeda dan berubah. Apalagi saat ini perubahan yang terjadi cepet banget.

      Delete