Tetangga Masa Kini

Ini bukan cerita tentang julid, lho. Namun, saya mau cerita kehidupan bertetangga di masa kini.

Waktu tinggal di Jepang, salah satu hal yang saya dan suami kangenin yaitu tetangga. Yup, tetangga yang setiap hari selalu hidup bersama dan berdampingan. Mereka adalah saudara terdekat yang siap membantu jika kami ada masalah.

Komplek tempat tinggal saya mayoritas penghuninya seumuran. Meskipun ada juga warga senior tapi jumlahnya sedikit. Jadi tempat tinggal saya kebanyakan dihuni oleh orangtua milenial.

Saya nyaman tinggal di lingkungan seperti ini karena gap antartetangga nggak terlalu besar. Misalkan kita mau ngobrol masih pada nyambung dan nggak terlalu roaming.😁

Tinggal di komplek dengan tetangga yang seumuran banyak enaknya. Komunikasi hampir seluruhnya dilakukan via grup Whatsapp. Soal iuran bulanan, mau ada kegiatan ini itu, bahkan arisan pun online. Hahaha.

Dulu sih arisan masih muter dari rumah ke rumah. Kenyataannya yang datang cuma sedikit. Kasihan tuan rumah yang udah mempersiapkan segala sesuatunya. Hal ini nggak sebanding dengan waktu dan tenaga yang telah digunakan untuk menyambut tamu arisan.

Jadi sejak beberapa tahun lalu diputuskan arisan online. Hanya tiap berapa bulan sekali diadakan acara kumpul bareng di taman komplek atau musholla.

Arisan online isinya cuma ngumpulin uang dari anggota. Pengumpulan uang umumnya ditransfer ke bendahara. Pengocokan arisan pakai app. Dan, nggak ada yang dibahas di arisan online.

Etapi di arisan biasa juga nggak ada yang dibahas, tuh. Seringnya pada diem-diem bae. Tapi ujungnya pada japri ke pengurus. Jadi apa dong gunanya arisan? 😂

Kalau cuma untuk silaturahmi kan bisa setiap saat. Ketemu tetangga di jalan, kasih senyum dan ngobrol sebentar, itu bentuk silaturahmi juga, kan?

Kelihatannya tetangga di komplek tempat tinggal saya seperti individualis, ya. Tapi kenyataannya nggak juga, kok. Masih ada kegiatan bersama warga yang dilakukan secara rutin.

Kalau untuk ibu-ibu biasanya makan bareng di taman komplek atau musholla. Makanannya bawa sendiri alias potluck. Pas acara, makanan dikumpulkan dan jumlahnya buanyak banget.

Taman depan di komplek

Selain acara makan, ibu-ibu juga menjenguk tetangga yang baru melahirkan. Uangnya dari iuran bersama. Tugas pengurus yang membelikan kado sesuai yang direkues oleh si ibu.

Oia, pengurus ibu-ibu dilakukan setahun sekali secara bergiliran. Jadi biar semua merasakan menjadi pengurus komplek. Tiap ibu tahu rasanya menerima komplain atau saran dari warga yang nggak setuju dengan sesuatu yang telah diputuskan.

Sedangkan untuk bapak-bapak, ada futsal dan badminton. Kegiatan badminton dilakukan di lapangan komplek.

Anak-anak bermain di lapangan 

Acara rutin seperti pengajian, buka bersama, peringatan 17an, penyembelihan hewan kurban, dan acara sosial lainnya dilakukan di musholla.

Karena tetangga saya termasuk orangtua zaman now, jadi apa-apa dibikin simpel. Misal konsumsi acara seringnya potluck. Wuih, kalau udah gini, makanan buanyak banget sampai pak security juga kebagian.

Untuk acara 17an dan buka bersama biasanya warga komplek memilih katering. Jadi benar-benar dibikin simpel dan nggak terlalu capek.

Taman belakang

Meskipun penghuni komplek termasuk modern tapi ada hal-hal receh yang saya suka. Kalau saya dan tetangga sekitar rumah masih suka ngobrol bareng, minta garam, daun salam, numpang ngukus karena kehabisan gas, dan minta air panas.

Hal-hal yang saya sebutkan tadi sebenarnya termasuk sepele. Tapi entah kenapa justru hal-hal kecil inilah yang bikin hidup bertetangga jadi tambah asyik, hahaha. Padahal cuma minta garam atau air panas berasa kayak dekat banget hubungan silaturahminya.

Coba bayangin kalau tinggal di komplek mewah apa ada hal-hal sepele kayak  gini dilakukan sesama penghuni komplek?

Hora umum.😂

Saya pribadi sejak beberapa tahun lalu membatasi diri keluar rumah. Tapi untuk acara kumpul bersama, saya usahakan ikut. Dan saya masih ngobrol dengan tetangga sekitar rumah. Alhamdulillah, tali silaturahmi masih berjalan dengan baik.

Sejak ada anak, mau nggak mau saya keluar rumah menemani anak bermain. Entah di taman komplek atau sekadar sepedaan keliling komplek. Kegiatan ini menjadikan saya ketemu tetangga lebih sering. Setiap ketemu paling say hi atau ngobrol ringan.

Jujur, tiap ngobrol sama tetangga bawaannya senang. Berawal dari sapa dan senyum yang berlanjut ke obrolan ringan, saya jadi tahu info terbaru di komplek.😚

Asyiknya lagi nih ibu-ibu di komplek saya banyak banget yang jualan. Jadi grup whatsapp isinya kebanyakan barang dagangan. Komplit banget deh. Ada yang jualan pakaian, telur, ikan, ayam, kue, camilan, frozen food, dll.

Mereka jualan hanya di grup aja. Soalnya tempat tinggal saya melarang warganya membuka toko/warung di dalam komplek.

Komplek tempat tinggal saya berbentuk cluster tapi nggak terlalu eksklusif. Sekitar komplek saya yaitu pemukiman penduduk lokal yang mayoritas berlogat Betawi.

Supaya hubungan warga komplek dengan penduduk lokal tetap baik, komplek saya mempekerjakan petugas security dan asisten rumah tangga dari penduduk sekitar.

Segini dulu cerita saya tentang tetangga masa kini. Meski kelihatannya individual tapi hubungan silaturahmi di lingkungan tempat tinggal saya masih terjaga dengan baik. Kami masih saling sapa, mengenal nama tetangga, dan perhatian jika ada warga yang membutuhkan pertolongan.

Kalau tetangga di lingkungan teman-teman gimana, nih?

14 comments

  1. Tetangga saya nggak kenal mba :""))) seperti yang pernah saya ceritakan di blog saya ~ kalau di Bali, kebanyakan tetangga saya itu foreigners jadi sangat individual. Ada beberapa Indonesians tapi juga sibuk masing-masing saja sama hidupnya (termasuk saya juga sih) jadi kami nggak ada kegiatan seperti mba yang potluck, arisan, atau acara 17-an :"""DDD

    Tapi meski saya nggak tau apa-apa, si mba justru lebih update dari saya karena beliau lebih bersosialisasi dari saya, entah kepada security, petugas cleaning, petugas sampah, dan mungkin mba-mba dari rumah tetangga. Jadi kadang saya dapat info justru dari si mba yang jaringan informasinya lebih banyak dari saya :"""3

    Nah kalau di Korea, sebenarnya nggak jauh beda, saya juga nggak kenal orang-orang di sebelah karena memang mostly pada individual. Paling kenalnya sama security guard, atau penjaga GS 25 semacam minimarket versi Korea :DDD boro-boro mau saling sapa, kalau pas-pasan paling saling menunduk saja atau bahkan saling nggak melihat :"< pernah suatu kali saya lagi jalan di lorong unit, eh ada pintu kebuka, lalu sedetik kemudian ditutup lagi hahaha. Orang itu ternyata tau ada orang lain di lorong, jadi dia masuk lagi ke unit, dan setelah saya masuk unit saya, baru dia ke luar :))) segitunya nggak mau pas-pasan coba haha. Jadi kami nggak penrah lihat muka satu sama lainnya. Tapi saya rasa ini nggak berlaku ke semua, pasti ada yang baik juga meski bisa dibilang biasanya yang baik itu yang sudah agak berumur hehe. Kalau yang muda-muda lebih ke nggak peduli sepertinya :""D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Eno, saya pernah ngerasain banget tinggal kayak Mba. Nggak kenal siapa2. Yup, pengalaman waktu tinggal di apartemen di Jepang.

      Ada penghuni nenek2 dekat unit saya, pas saya keluar, beliau langsung masuk. Ada juga orang yang dari luar mau masuk ke apato tapi pas tahu saya di lift, dia pura2 ngapain dulu di luar, sengaja memperlambat supaya kami nggak satu lift. Hehe.

      Ah, iya, kadang begitu. Dulu pas punya asisten, saya jadi tahu info soal tetangga. Hihihi sinyal mereka lebih kuat.:))

      Saya rasa, orang2 yang tinggal di Indonesia sekarang banyak yg individual, mba. Apalagi kalau komplek mewah dan apartemen. Di mana2 hampir sama meski nggak semua orang gitu, sih.

      Delete
  2. Wah senengnyaaaa punya ortu yang pemikirannya zaman now begitu, kak ..
    Ngga kolod kayak rata-rata manula jaman sekarang.
    Eit, bener loh .. di Indo itu bnayak banget manula yang kolodnya minta ampun dan pakai ilmu kudu.
    Kudu diturutin apa yang dia mau, terutama ke usia yang lebih muda.

    Kebetulan di area tempatku tinggal juga termasuk type individual.
    Ora urus karo urusane wong liyo.
    Ngga mau kepo gitu, kak 🙂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas, ada enaknya karena gapnya nggak terlalu jauh. Hehe, saya juga merasakan kok punya orangtua yang hampir mirip tapi mereka nggak kolod banget. Hm, seringnya saya yang melawan dengan teori2 yang saya baca, hehe.

      Nah, enak juga kalau punya lingkungan yang nggak kepo. Lebih ayem, hehe.

      Delete
  3. Kalo di kampung saya sih masih biasa saja mbak, ada acara gotong royong sebulan sekali bersihin jalan, bahkan kadang bersihkan kuburan gitu.

    Namanya kampung, orang jualan masih bebas berkeliaran biarpun ada corona, ngga jualan ngga makan.😂

    Yang jualan juga macam-macam, ada yang jual ayam keliling, tahu, tempe, cabe, ikan dll. Jualan makanan jadi seperti klepon atau bakso keliling juga ada.

    Cuma karena di kampung ya duitnya pas pasan.🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, suasana seperti ini saya temui di rumah orangtua saya. Mereka juga tinggal di kampung yang guyub. Jajanan sering ada yang lewat. Harganya murah dan enak.

      Delete
  4. Kagak punya tetangga! *kaboorrr hahahaha.

    Tapi serius ya, saya itu sejak kecil dipingit, sama sekali nggak pernah keluar kumppul tetangga, satu-satunya hal yang bikin saya ketemu orang luar ya cuman karena saya sekolah.
    Sepulang sekolah di rumah aja.

    Dan akhirnya, setelah dewasa, ampuunnn sulit banget bertetangga.
    Saya bisa ramah, bahkan teramat ramah, tapi saya males aja gitu keseringan keluar.
    karenanya, selalu ada gap di manapun saya tinggal, orang-orang mengatakan saya sombong, karena nggak mau berbaur.

    Padahal ya, saya lebih suka beberes rumah ketimbang ngobrol ngalor ngidul gaje di luar :D
    Dan ternyata Allah itu tahu apa yang saya butuhkan, ditaruhlah saya di sudut komplek ini, di mana tetangga 1 blok rumahnya kosong semua, cuman ada tetangga samping kiri, itupun dia sama kayak kami, jarang keluar rumah.
    Begitulah, kami nggak punya tetangga di sini hahaha.

    Sedih juga sih, tapi setidaknya nggak ada drama berlebihan, dan kalau ada yang mendesak, tetangga samping rumah masih bisa digedor-gedor sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba Rey, semua ada plus minusnya. Nggak punya tetangga kayak Mba Rey, enak karena pada nggak kepo. Alhamdulillah, Mba, kalau masih ada yang bisa dimintai bantuan kalau ada apa2.

      Delete
  5. Sejak tinggal di Bogor aku nggak pernah akrab sama tetangga, Mbaa. Kebetulan aku masih tinggal di rumah mertua, nah gang rumah mertua ini tuh penghuninya senior semua, semuanya hidup individualis huahaha.

    Yang seru malah sampingnya rumah mertua ini adalah gedung sekolah yang mana sang empunya gedung masih saudara jauhnya mertua. Tetanggaan sama sekolahan ya gitu deh, tiap pagi aku dengar murid-murid nyanyi Indonesia Raya, sampai anakku tuh ikutan hafal lho wkwkwk

    Kalau waktu masih tinggal di Bali, nah itu masih merasa punya tetangga karena sering saling sapa. Kebetulan karena satu gang itu adalah pendatang, makanya kami bisa lumayan akrab. Bahkan yang pernah aku cerita di postingannya Mba Eno soal kehidupan bertetangga ini, rumah kami kebagian jatah kurban daging sapi padahal kami non Muslim. Rasa toleransinya besar sekali di Bali (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, saya juga pernah merasakan tinggal dengan orang2 yang senior karena waktu itu orangtua saya pindah. Untungnya bapak saya orangnya ramah dan rajin ikut kegiatan sosial jadi kami diterima dengan baik.

      Iya, Mba, saya juga bisa merasakan kalau tinggal di lingkungan yang banyak pendatangnya. Rumah saya juga begitu. Rasa kekeluargaannya lebih erat karena merasa senasib, hehe.

      Delete
  6. Mo ngomong yang mana dulu ini yah hmm 🤔😂 bakal panjang ceritanya ini hihihi..

    Dulu saya butuh waktu bertahun-tahun mengumpulkan keberanian untuk bersosialisai dengan tetangga mba (kurleb 5 tahunan) itupun karena Si Kk yang sering main, jadi terpaksa emaknya memberanikan diri bertamu ke tetangga 😂.

    Padahal disini rumahnya termasuk padat dan banyak penghuninya. Tapi karena tetangga di arah depan, banyak istri pensiunan, udah pada senior. Jadi kadang saya serem sendiri karena beberapa kali ada yang saya senyumin saat bertatap muka, malah melengos bahkanabahkan yang mukanya datar (meskipun di negeri sendiri ada jg yg begitu).

    Ada juga yang negor, tapi tanpa basa basi baru kenal langsung nanyain urusan pribadi dengan suami yang saya rasa bukan pada tempatnya untuk membuka aib suami di depan orang yg baru saya kenal meskipun itu tetangga sendiri.

    Sejak saat itu, saya beneran menutup diri dari tetangga sekitar. Kalo pengen ngobrol saya ke rumah temen kuliah ato temen waktu saya kerja dulu, sama anak-anak. Meskipun jauh jaraknya, saya jabanin. Karena kadang stress sendiri di rumah gak punya temen ngobrol, sementara saat itu sosmed gak segetol seperti sekarang. Apalagi kuota, miskin beud 😅

    Setelah beberapa tahun kemudian, ternyata tetangga2 belakang banyak yang merit dan beranak pinak 😂 mereka2 inilah bagian dari ortu millenial dan anak2nya yang sering main dgn Si Kk, dari situ baru saya berani ngobrol, karena lebih seide dan lebih nyambung, ternyata banyak juga yang seumuran tapi anak2nya udah pada gede semua, tapi anak-anaknya yang paling kecil banyak yang seusia dengan Si Kk.

    Dibilang telat nikah, gak juga sih, saya termasuk yg duluan nikah diantara temen2 kerja. Tapi karena orang sini nikahnya kecepetan, ada yg lulus SMP udah nikah, beuh, anaknya itu seumuran dengan adik saya 😂.

    Kalo dulu ditanya pesbuk, twitter, pin bb, pada geleng2 semua 😂. Banyak yang belom ngerti bersosmed, taunya bersosialisai dengan ngobrol dan ngumpul di teras rumah tetangga.

    Sejak teknologi handphone semakin canggih, baru dah, pada heboh maen pesbuk, ngumpul2 udah jarang. Tapi saat itu saya malah udah jarang maen pesbuk lagi 😂 lebih seneng ngobrol sambil ngeliat pemandangan sekitar, ngobrol nyantai, ngalor ngidul dilapangan, sambil menikmati sepoi-sepoi angin. Tidak cukup lagi hanya dari sosmed 😅😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, senioritas dalam tetangga kok kayaknya ada, ya, hehe. Mungkin mereka merasa ingin dihargai. Padahal kita yang lebih muda sudah respek ya.

      Punya tetangga yang seumuran memang banyak enaknya ya, Mba. Tapi tetap harus dipilah dan dipilih dalam berkomunikasi karena takutnya mereka salah persepsi. Saya sering banget mengalami hal ini.

      Ah iya, bener banget. Saat ini saya juga merasakan hal yang sama. Pengen lebih banyak ngobrol bareng teman2 secara langsung dan nggak cukup via medsos.

      Delete
  7. Hidup bertetangga itu sebenarnya menyenangkan mbak, meski kadang ada bagian menyebalkannya. Cuma secara keseluruhan sih, inget pelajaran masa lalu, manusia itu makhluk sosial dan memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia (bukan jin, bukan setan, bukan tuyul).

    Katanya kalau kurang bertetangga juga bisa menimbulkan penyakit "jiwa" juga. Tidak salah juga sih, selama masa WFH yang hampir tiga bulan, saya merasakan sendiri kalau tanpa interaksi dengan tetangga, rasanya menekan juga.

    Cuma, untuk bisa memiliki lingkungan bertetangga yang enak, mau tidak mau, kita juga harus mau berkontribusi. Arisan, kerja bakti, dan sejenisnya memang kadang merepotkan dan menyebalkan, tapi kegiatan ini adalah sebuah usaha membentuk lingkungan tadi/

    Apalagi kalau dalam kesusahan, biasanya justru para tetangga itu yang berada di baris depan untuk membantu.

    Iya nggak..

    Cuma, ya seperti dalam sinetron pasti selalu ada tetangga yang bikin bete. Nah kalau yang kayak gini ini yang kadang bikin bertetangga jadi terasa tidak menyenangkan.

    Salam dari warga Bogor dah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget yang dikatakan Pak Anton. Bertetangga itu menyenangkan karena salah satu sifat manusia adalah makhluk sosial. Tapi kalau punya tetangga yang bikin bete bikin lelah jiwa raga juga. Hehe.

      Partisipasi kita di masyarakat akan berbanding lurus dengan apa yang kita dapatkan dari masyarakat.

      Delete