Hal-hal yang Diperhatikan Saat Ikut Suami ke Jepang

Beberapa kali saya ditanya sama teman dan pembaca blog ini tentang hal-hal apa aja yang harus diperhatikan saat ikut suami ke Jepang. Baru-baru ini, ada pembaca blog yang kirim email ke saya nanyain lagi. Ya udah deh, saya bikin postingan aja, ya. Kalau nanti ada yang nanya lagi, tinggal kasih linknya.😊

Oke, saya cerita berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman teman yang saya kenal, ya. Bisa jadi pengalaman saya berbeda dengan info yang kamu dapat.🙏

Masing-masing suami pergi ke Jepang tujuannya berbeda. Ada yang kerja sebagai karyawan Jepang, ada yang dinas kayak suami saya, dan ada yang training.

Jadi, kalau saya ditanya, saya akan balik nanya. Tujuan suami ke Jepang apa? Berapa lama ke Jepang?

Kenapa saya tanya seperti ini?

Karena ini berhubungan dengan visa. Kalau suami cuma training kurang dari 3 bulan dan keluarga pengen ikut, bisa pakai visa kunjungan biasa. Tapi kalau keluarga pengen tinggal di Jepang sampai urusan suami selesai, pakai dependent visa.

Tentunya visa kunjungan biasa dan dependent visa beda. Kalau visa biasa masa berlakunya 14 hari. Sedangkan dependent visa, masa berlakunya mengikuti sampai urusan suami selesai. Cara pengurusannya juga berbeda. Dependent visa butuh CoE (Certificate of Eligibility). CoE bisa diurus oleh perusahaan atau diurus sendiri. Biar nggak repot, enaknya minta bantuan perusahaan.😁



Selain visa, hal-hal berikut yang harus diperhatikan saat ikut suami ke Jepang:

#Aturan Perusahaan

Sebelum ikut atau nyusul suami ke Jepang, sebaiknya tanyakan dulu ke perusahaan.

Apakah keluarga boleh ikut? Kalau misal boleh, gimana cara mengurusnya? Apakah perusahaan bersedia membantu mengurus administrasi yang dibutuhkan?

Tanyakan secara detail di awal karena tipenya orang Jepang tuh lebih baik ngomong di depan daripada nanti repot urusan di belakang.

#Akomodasi

Ini penting banget karena akomodasi akan membuat kita betah atau enggak tinggal di negeri orang. Apakah akomodasi nyaman untuk keluarga?

Soal akomodasi, pengalaman saya dan teman yang saya kenal berbeda.

Akomodasi tergantung dari perusahaan dan status suami di Jepang.

Pengalaman saya: karena suami saya statusnya dinas tapi single, jadi dapat apartemen mungil yang memadai untuk single atau maksimal bawa istri masih bisa.

Alhamdulillah, perusahaan suami saya baik banget. Mereka membantu proses administrasi (terutama bikin CoE) sampai urusan apartemen. Saya dan keluarga yang datang tidak dikenakan biaya tambahan apartemen. Dan, apartemen yang disediakan full furnish dan full service.

Full furnish di sini bukan berarti barang-barangnya komplit banget, ya. Enggaaakk. Barangnya cukup untuk dua orang. Sayangnya, kompor listrik di apartemen cuma 1 tungku jadi masaknya harus sabar.😁

Sedangkan apartemen full service maksudnya kalau ada kerusakan di apartemen, suami tinggal lapor ke kantor. Nantinya pihak kantor yang akan lapor ke apartemen untuk merespon keluhan. Bahkan sampah yang salah pun nggak dikembalikan ke penghuni. Semua yang mengurus staff apartemen.😆

Soal apartemen, pengalaman teman saya beda-beda. Suami mereka statusnya pegawai perusahaan Jepang bukan dinas kayak suami saya. Nah, akomodasi yang mereka tempati tergantung perusahaan.

Ada perusahaan yang memberikan biaya tambahan apartemen jika keluarga ikut.

Ada perusahaan yang memberikan sistem pembayaran dibagi dua. Sekian persen ditanggung perusahaan, sekian persen ditanggung sendiri.

Ada juga perusahaan yang mengurus semua. Suami teman cuma disuruh memilih apartemen yang sudah disediakan oleh agen properti. Biaya apartemen ditanggung oleh perusahaan.

Pengalaman sahabat saya lebih ekstrim lagi. Suaminya ke Jepang training cuma seminggu tapi keluarga pengen ikut. Katanya, mumpung di Jepang, hahaha.

Jadi mereka kayak piknik karena semua biaya sendiri kecuali tiket pesawat suaminya karena tiket suami ditanggung kantor. 

Jadwal mereka selama di Jepang seperti ini:

Sebelum training, si suami jalan-jalan sama keluarga. Mereka menyewa apartemen selama seminggu. Setelah jalan-jalan, keluarga balik ke Indonesia. Sedangkan suami lanjut training di Jepang. Selama training, suami tinggal di hotel yang sudah disediakan perusahaan.

Nah, perusahaan suami kamu seperti apa?

Resto Indonesia di Tanmachi, Higashi Kanagawa

#Bekal dari Indonesia

Bekal yang dibawa dari Indonesia tentu saja bawa makanan, obat-obatan, baju musim dingin (kalau ketemu musim dingin), dan baju sesuai musim.

Untuk makanan, bawa bumbu instan yang disuka, makanan awet kayak srundeng, abon, mie instan (bakal kangen ama Indomie hehehe), bumbu pecel, bumbu nasgor, bumbu opor untuk dimasak pas lebaran, saos, kecap, dan sambel.

Pengalaman saya pribadi, mie instan wajib dibawa karena mie instan jadi penolong saat saya kelaparan begitu sampai apartemen pertama kali. Soalnya kan saya belum tahu tempat belanja di mana.

Oia, kalau kamu suka banget sama sambel, bawa yang banyak. Nggak usah bawa sambel yang berat. Beli yang sachet aja. Sumpah, kamu bakal kangen banget sama sambel soalnya sambel di Jepang nggak pedes sama sekali. Kagak ada apa-apanya dibanding sambel Indonesia. Sambel Indonesia juara dan the best!!!! Percaya deh.😍😍


#Surat-surat

Surat-surat penting dari Indonesia tolong dibawa, ya. Misalnya buku nikah. Pengalaman saya, tinggal di Jepang sebanyak 3x, ditanyain mulu soal buku nikah waktu lapor ke kuyakusho.

Oia, kalau misal anak kamu kira-kira bakal sekolah di Jepang, bawa aja akte kelahiran anak. Siapa tahu ditanyain pas daftar sekolah. Siapa tahu lho ya. Maaf, saya belum ada pengalaman tentang anak sekolah di Jepang jadi ini hanya perkiraan saya aja.🙏

#Tentang anak

Hal-hal yang berkaitan dengan anak juga perlu mendapat perhatian yang lumayan besar karena berhubungan dengan kenyamanan mereka selama tinggal di Jepang. Maklum, anak-anak kan adaptasinya berbeda dengan orang dewasa.

Hal utama yang harus diperhatikan yaitu lengkapi vaksin anak sesuai dengan umurnya. Jepang sangat concern masalah vaksin. Kalau perlu bawa buku catatan vaksin anak selama di Indonesia.

Jadi ketika anak udah di Jepang, mereka akan mendapat 'boshi techo' (semacam buku kesehatan anak). Dari buku ini akan ketahuan riwayat kesehatan dan vaksinnya. Mereka akan mendapat vaksin lanjutan. Vaksin ini ada yang gratis dan berbayar.

Selain vaksin, tolong bawa makanan atau snack favorit anak. Ini untuk adaptasi aja sih saat awal-awal tinggal di Jepang. Terutama bagi yang muslim, mungkin agak susah menemukan baby food atau camilan anak yang halal atau aman bagi muslim.

Kalau kamu bisa baca tulisan kanji yang halal atau haram sih oke banget.😁

Snack halal di Gyomu Supa 
            
#Biaya hidup

Besarnya biaya hidup tergantung life style masing-masing keluarga. Sebenarnya biaya hidup di Jepang bisa ngirit kalau kamu udah tahu tempat belanja yang murah, memanfatkan diskon atau pengumpulan poin.

Misalnya, belanja di Gyomu Supa. Ini adalah super market dengan harga yang murah. Untuk sayuran, sayangnya kebanyakan frozen. Di Gyomu Supa banyak daging dan snack halal dari berbagai negara. Jangan males untuk cek label halalnya, ya.

Untuk belanja harian yang murah, biasanya orang-orang belanja saat ada diskon atau malam hari. Di hampir semua super market, saat malam hari mereka biasanya memberi diskon untuk makanan yang nggak awet kayak ikan segar, sushi, dll. 

Kalau belanja di mall, biasanya mereka ngasih diskon saat ada event atau di akhir musim. Diskonnya gila-gilaan. Jangan males cek harga di sana, ya.😂

Sedangkan untuk penggunaan peralatan elektronik, pengalaman teman saya yang tinggal di Jepang, mereka beli barang second. Nggak usah gengsi pakai barang bekas karena barang bekas di Jepang kualitasnya bagus banget.

Oia, kalau beli barang yang berukuran besar dipikirin juga soal sampahnya. Sampah barang besar akan dikenai biaya. Jadi, pikir-pikir dulu sebelum beli, ya.🤗

Berhubung apartemen saya full furnish, jadi saya nggak ada pengalaman tentang barang elektronik. Suami saya cuma beli humidifier dan barang elektronik untuk happy-happy aja. Barang ini tentunya dibawa pulang ke Indonesia. Jadi nggak nyampah di sana.

Autumn di Kyoto

#Jalan-jalan 

Mumpung di Jepang, pasti pengen jalan-jalan dong. Iya, kaaan?

Kalau mau jalan-jalan terutama ke luar kota, buat itinerary dengan baik dan detail karena biaya transportasi di sana lumayan mahal. Apalagi kalau mau naik shinkansen. 

Kalau misal kamu tinggalnya jauh dari Tokyo dan pengen jalan-jalan ke Tokyo, hmmmm budgetnya lumayan, lho. Bagi orang Indonesia, apalah artinya pergi ke Jepang tapi kalau belum pernah ke Tokyo. Iya, kaaan?😂

Waktu saya ke Odaiba, saya pernah ketemu anak magang yang tinggal di Okinawa. Jarak Okinawa dan Tokyo jauh banget. Mereka menabung dulu supaya bisa ke Tokyo. Biasanya mereka jalan-jalan ke tempat yang jauh saat ada libur panjang kayak Golden Week.

Sebaiknya kamu cari info yang banyak tentang tiket murah, penginapan murah,  makanan halal atau yang muslim friendly.

#Banyakin Info

Jangan males untuk mencari info sebanyak-banyaknya. Siapa tahu pengalaman saya berbeda dengan orang lain atau info yang kamu dapat. Lebih baik tanyakan juga ke teman-teman yang sudah lama tinggal di Jepang. Pengalaman dan pengetahuan mereka pasti lebih banyak karena pengalaman saya di Jepang cuma seuprit.

Oia, buat kamu yang muslim, cuma info aja nih. Kamu bisa nambah info tentang hal -hal yang muslim friendly atau makanan halal yang ada di Jepang. Saya pernah menulis soal ini.


#Lapor ke kuyakusho 

Setelah kamu sampai di Jepang, jangan lupa lapor ke kuyakusho maksimal 14 hari. Kamu akan mendapatkan residence card dan hal-hal lain layaknya warga Jepang seperti asuransi kesehatan dan tunjangan anak (kalau ada anak).


Sekian dulu cerita dari saya. Semoga info ini bisa membantu kamu sebelum ikut suami ke Jepang, ya. Maaf, kalau info saya ada yang kurang.🙏

28 comments

  1. Wah kereen ...kak Pipit sepertinya siap berangkat lagi ke Jepang niih ..
    Ditunggu cerita liburan di lokasi-lokasi keren di negaranya mantan kekasihku ya, eh maaf keceplosan 🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya aminkan dulu ya komennya Mas Himawan, hehe. Sebenarnya saya nulis ini karena ada yang tanya di email, Mas. Karena beberapa kali ditanya hal yang sama, akhirnya bikin postingan aja.😊

      Eh, mantannya Mas Him orang Jepang ya?

      Delete
    2. Iya, kak.
      Tapi mantanku yang kumaksud bukan mantan yang kusebutkan dengan tanda coret di postku hehehe.
      Mantanku orang Jepang blasteran Guam-Hawaii itu baik banget tapi suratan berkata lain kami harus berpisah karena suatu keadaan.

      Delete
    3. Aduh, maaf, saya belum bisa main ke blognya Mas Him. Saya malah penasaran nih sama postingannya hehehe.

      Hhmm, pastinya banyak kenangan bersama mantan tersebut ya, Mas.😊

      Delete
  2. Saya bisa relate sama urusan persaos sambalan dan Indomie serta bumbu-bumbu dapur dan lainnya, mba 🤣 setiap kali harus ke Korea, pasti ada satu koper terpisah yang isinya bumbu-bumbuan dan permicinan dari Indonesia 🙈 hahahahahaha. Apalagi saos sambal dan kecap, wajib hukumnya untuk dibawa 🤣 nggak bisa hidup rasanya tanpa sambal aneka rupa ~

    By the way, kalau dari list di atas paling enak apabila semua fasilitas dibiayai perusahaan yah 😂 tinggal terima beresss. Apalagi kalau dikasih fasilitasnya super complete ~ staff juga jadinya bisa kerja dengan tenang 🤭 hihihi. Saya suka banget baca cerita pengalaman yang mba Pipit bagikan. Jadi tau kehidupan ala lokal di Jepang bagaimana 😍 sedikit banyak ternyata nggak jauh beda sama Korea especially soal membuang sampah besar dan harus bayar hahahahahaaha.

    Oh dan soal barang bekas, setuju bangettt mba, barang-barang bekas di Jepang one of the best dan terkenal. Even bekas tapi masih bagus-bagus biasanya. Dulu teammate saya ada yang sampai bela-bela beli PS bekas di sana karena murah dan masih bagus kualitasnya 😂 kalau saya justru suka ke vintage store yang jual perintilan bekas, mba 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Eno, iya banget. Bumbu dan permicinan Indo mah nggak ada lawan ya, hahaha. Soalnya lidah kita udah Indo banget. Nggak bisa kalau nggak makan sambal.

      Iya, Mba, seperti yang Mba Eno ceritakan di blog, urusan sampah di Jepang dan Korea hampir sama. Ada pemilahan dan sampah besar harus bayar, hahaha.

      Teman2 di Jepang juga suka hunting barang bekas. Bahkan teman pak suami juga hunting barang elektronik bekas untuk sekolah anak di Indo. Anaknya seneng banget, hehehe. Biarpun bekas tapi kualitasnya oke banget.

      Delete
  3. Jadi tahu apa saja yang harus disiapkan jika ingin ke Jepang, baik untuk sekedar jalan jalan, training kerja, jadi karyawan atau lainnya.

    Ternyata sampah di Jepang juga ada biayanya kalo besar ya. Kalo disini mah bebas, mau buang kasur ke tempat sampah juga gratis.😄

    Berarti harus banyak nyari informasi kalo di Jepang ya mbak. Cuma susahnya di Jepang itu pakai huruf kanji bukan bahasa Inggris, kalo Inggris kan tinggal ketik di google translate.😄

    Oh ya. Ngomong ngomong selama di Jepang mbak Pipit sudah ketemu Nobita atau Conan ngga mbak? 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, Mas Agus. Semoga info ini bisa membantu, ya.😊

      Bayar, Mas. Makanya orang Jepang merawat barang mereka dengan baik. Karena barang tsb bisa dijual lagi ketimbang ribet ngurus sampahnya. Hahaha, iya kalau di Indo semua masih gratis, belum tertata dengan baik. Semoga ke depan ada aturan yang baik ttg sampah, ya.

      Kadang bisa aja sih baca kanji pake Google translate. Tapi ribet, hehe.

      Saya udah ketemu Nobita di museum Doraemon hehe. Kalau Conan belum soalnya rumahnya Conan jauh dari tempat saya tinggal.😑

      Delete
    2. Saya juga pernah beberapa kali beli barang bekas dari Jepang mbak yaitu hape dari operator DoCoMo merk Fujitsu dan Sharp, karena harganya murah. Padahal aku cek hapenya dibuat tahun 2015 tapi biarpun begitu masih bagus dan layak pakai.😊

      Barang dari Jepang bagus kualitasnya ya.

      Delete
    3. Wah, Mas Agus pernah beli hape second Docomo?

      Iya, Mas, orang Jepang pintar merawat barang jadi layak dijual lagi.:)

      Delete
  4. pengin liat ikan KOI disana mbak, update ikan koi ya ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, maaf, saya jarang foto ikan koi di sana, hehe.🙏

      Delete
  5. Temen saya juga yg kerja di sana jadi gaya suka pamer barang elektronik, second tapi emang masih bagus. Jadi ngiler pengen nyusul juga tapi akibat pandemi ini jadi rada susah buat ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, emang bener sih, Mas. Barang2 elektronik di sana second tapi kualitasnya oke banget. Seperti yang saya ceritakan di komen sebelumnya.

      Semoga Mas Arif nanti bisa nyusul ke Jepang. Aamiin.🤗

      Delete
  6. Wah, jadi pengetahuan baru nih buat saya pribadi :D kayaknya yang masalah perbumbuan khas Indonesia tuh daftar yang harus dan wajib dimasukkan ya Mbak. Teman-teman saya yang tinggal di luar negeri juga selalu nyetok bahan-bahan dan bumbu dari Indonesia :D

    Duh, makin pingin main ke Jepang waktu baca post ini. Sepertinya menyenangkan sekali ya :D

    Btw ini pertama kalinya saya berkunjung ke blog Mbak dan langsung suka sama gaya ceritanya. Bakal dimasukin ke dalam list blog yang wajib dikunjungi, nih :D

    Terima kasih sudah menuliskan ini ya Mbak. Sehat dan bahagia selaluu <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba Andhira, soalnya lidah udah terbiasa makanan Indo ya. Apalagi soal sambel, aduh jangan sampai lupa bawa. Hehe.

      Semoga mba Andhira suatu saat nanti bisa ke Jepang, ya.

      Btw, terima kasih banyak, Mba Andhira untuk apresiasinya. Sehat dan bahagia juga untuk Mba Andhira.😊

      Delete
  7. Mantab infonya mba pit, tak-cc-in ke mbakku ni, soale dia masi ada obsesi tinggal di jepang karena pas awal merried dulu pak su nya ada dines mayan lama trus deseu nyusul, tapi uda balik lg sih di indo n abis itu punya anak...but pas taktanya masih pengen tinggal di jepang po, jare sih masih hhaha

    Enak mba pit apartemen uda fully furnished, tp kompore mung 1 tangkringan ya 😂 jadine masak kudu sabar yen mau bikin macem2 menu, hihi,

    Oh ya mba pit selama di jepang, tempat wisata sing pernah dikunjungi mana aja mba?

    Btw takusangka, mau ke tokyonya musti ada dana besar ya mba pit, klo dari yokohama ke jepang misal ceritane nek di indo kayak jarak dari kota mana ke kota mana mba pit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, kakaknya juga pernah tinggal di Jepang? Emang sih Jepang ngangenin banget.😍

      Iya, Nita, alhamdulillah apartemenku full furnish dan service. Baik banget perusahaan pak suami. Hehe.

      Aku jalan2 ke Nikko, Kyoto, Osaka, Tokyo ama di sekitar Yokohama aja. Dinas yang kemarin kami jalan2 kayak nostalgia aja karena ini ada anak. Biar si kecil tahu tempat jalan2 emak bapaknya, hehe.

      Jarak Yokohama-Tokyo kalau di Indo kayak jarak Depok-Jakarta. Persis plek. Sama2 bisa dijangkau pake kereta.😊

      Delete
  8. Jujur, dulu pernah banget bercita-cita pengen tinggal di luar negeri, bahkan sejak dulu selalu nyemangati paksu buat cari beasiswa atau apa saja di luar negeri.

    Sayangnya paksu anak mami, jadinya jangankan di luar negeri, saya minta tinggal di Sulawesi aja dia keder hahahaha.

    Padahal, asyik juga sih ya jadi punya banyak pengalaman, apalagi kalau anak-anak masih kecil :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih Mba tinggal di luar bisa menambah pengalaman apalagi kalau ada anak. Beda rasanya.

      Tapi bagaimanapun, mau tinggal di mana saja, nggak masalah kok, Mba. Bahkan di negeri sendiri juga enak banget kok. Banyak hal2 yang terasa biasa di Indo tapi ketika berada di luar, terasa mewah sekali.😊

      Delete
  9. Karena aku nggak punya pengalaman ikut suami tinggal di luar negeri, aku sebatas menyimak saja info yang dijabarkan Mba Pipit ini. Siapa tau kannn, siapa tau aja berguna di kemudian hari 🙈

    Tapi sebagai mantan mahasiswa rantau, aku bisa sedikit relate khususnya tentang bekal dari Indonesia itu. Tiap kali pulang liburan ke Jakarta, mamaku pasti ngebekalin buanyaak banget untuk dibawa kembali ke Guang Zhou. Mulai dari kerupuk, kecap manis, sambal botolan, kopi sachetan, cokelat Beng Beng and last but not least, Indomie! Bekal dari Indonesia ini sukses menemani hari-hariku di kala homesick huhu

    Btw, soal akomodasi itu rasanya yang paling penting ya. Apalagi kalau judulnya akan tinggal dalam waktu yang hitungannya tahunan. Beruntungnya perusahaan suami Mba Pipit bisa menyediakan yang terbaik ya untuk keluarga. Jadi kasarnya nggak terlalu musingin tempat tinggal lagi (:

    Thank youuu, Mba, sudah berbagi informasi ini. Mudah-mudahan menjawab penasaran teman-teman lainnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba, bumbu dan makanan hukumnya wajib, ya. Karena itu bakal ngangenin banget. Dan bisa dijadikan obat kangen, hehehe.

      Betul banget, akomodasi penting diperhatikan. Terutama kalau bawa anak. Karena ini menyangkut kenyamanan dan berdampak betah atau enggaknya tinggal di negeri orang.

      Terima kasih, Mba Jane, sudah mampir di sini, hehehe.

      Delete
  10. Pernah pesen dendeng ama adekku, dia ngga berani, pas di custom ngaku bawa daging. Sekarang juga fine-nya jadi 3 juta yen apa kalau bawa daging, makin gak berani hahaha.
    Tak kirain kamu dua kali di Jepang-nya.
    Kapan tinggal buat keempat kalinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mahal juga ya kalau ketahuan bawa daging. Makasih infonya, Na.

      Hhmmmmmm, lagi ada rencana yang harus dijalani di Indo. Sementara di Indo dulu deh. Moga2 bisa ke Jepang lagi setelah urusan di Indo selesai. Aamiin.😊

      Delete
  11. Blognya sangat informatif. Terima kasih sharingnya. Vaksin yang harus bayar di Jepang biasanya apa saja mbak?

    Salam kenal ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mba Phebie. Salam kenal lagi, ya, Mba. Hehehe.

      Pengalaman saya, waktu vaksin mumps bayar, mba. Itu untuk mencegah gondong. Kenapa bayar? Karena angka kejadian gondong sedikit tapi kalau hal ini diderita anak, bisa mempengaruhi perkembangannya.

      Jadi kami dikasih pilihan, mau vaksin boleh, enggak juga gapapa.

      Delete
  12. Enak ya jadi orang kaya bisa ke Jepang... ngiler...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya dan keluarga ke Jepang karena ikut suami yang dinas di sana, Mas.😊

      Delete