Menikmati Momen

Halo, apa kabar?

Pertama, saya mau mengucapkan selamat Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan. Udah dapat daging kurban apa belum, nih?😁

Saya kangen ngeblog, euy. Kangen blog walking juga, hahaha. Saya memang sengaja istirahat sebentar dari media sosial. Jadi saya nggak buka media sosial selama 10 hari. Bahkan saya juga nggak buka YouTube, email dan blog. Saya hanya ingin menikmati momen bersama keluarga.😊

Dalam 2 bulan terakhir, emosi saya naik turun. Diawali dari masa penyapihan anak, saya nggak bisa ngedit postingan blog di hape, ada perasaan seneng, ada juga rasa kecewa, di-php-in sama orang, sampai saya merasa jijik dengan keriuhan di media sosial yang berujung pada tindakan impulsif untuk off sebentar.



Sebentar lagi anak saya berusia 2 tahun. Banyak yang bilang bahwa ini adalah masa 'terrible two'. Masa di mana dia lagi aktif-aktifnya nanya ini-itu, sudah punya keinginan tapi belum bisa mengomunikasikan dengan baik, sampai dia sedang dalam proses sapih.

Yang terakhir ini lumayan menguras emosi. Dari awal saya memang ingin menerapkan weaning with love. Namun ternyata proses weaning-nya nggak melulu penuh dengan love, hahahaha. Masih ada tangisan dan air mata yang membuat saya luruh memberikan ASI lagi.😂 Proses yang masih terjadi antara saya dan si kecil untuk belajar saling melepaskan.

Nggak mudah memang tapi kami berdua masih berusaha. Doain ya semoga kami bisa menjalani salah satu siklus kehidupan ini dengan baik.

Selain proses menyapih, saya juga merasa insecure dengan karier teman. Kadang rasa itu masih ada tapi pelan-pelan saya pun ikut senang dengan apa yang mereka peroleh saat ini.

Mungkin saya hanya melihat hasil bukan memandang proses yang telah mereka jalani. Di balik kariernya yang bagus, dia mungkin mengorbankan hal yang belum tentu saya mampu. Bisa jadi dia memang bekerja keras untuk kariernya.

Yah, inilah hidup yang penuh dengan cerita. Sebagai pelaku dan penonton kehidupan, saya hanya menikmati proses kehidupan itu sendiri.

Menikmati dengan melakukan hal-hal sederhana yang saya suka.

Tepat di akhir Juni, buku yang saya pesan via online sudah siap dibaca. Ada buku Ikigai, novel Hujan Bulan Juni, dan Le Petit Prince.

Saya kembali menyelami kesunyian namun penuh dengan kebahagiaan. Membaca kalimat demi kalimat dan memaknai apa yang dimaksudkan oleh penulis.

Saat membaca novel Hujan Bulan Juni by Sapardi Djoko Damono, saya merasakan emosi yang mendalam. Masih teringat jelas, saya membaca novel tersebut tepat sehari sebelum Pak Sapardi meninggal dunia.

Rasanya ambyar melanjutkan kisah cinta antara Pingkan dan Sarwono yang terpisah Jakarta-Kyoto. Saya terlalu suka dengan ceritanya yang penuh dengan filosofi budaya Jawa.

Bahkan Pak Sapardi juga mendeskripsikan musim semi dan cantiknya sakura di Kyoto dengan bagus sekali. Membaca novelnya membuat saya kangen sama Jepang, huhuhu.

Ternyata hujan tidak turun di bulan Juni namun ada hujan air mata di bulan Juli. Terima kasih Pak Sapardi untuk semua karya, sajak dan cerita yang telah bapak hasilkan.



Awal Juli saya join kelas senam lagi. Setelah vakum 2,5 tahun karena hamil akhirnya saya bisa mengajak si kecil ikut senam. 

Wah, saya seneng banget ketemu orang baru dan escape sebentar dari rutinitas sehari-hari, hahaha. Saya bisa menggerakkan badan dengan musik yang menghentak dan kencang. Berteriak dan berkeringat lagi bersama ibu-ibu yang penuh semangat.😆

Meski untuk mencapai kesenangan tersebut saya harus memberanikan diri nyetir lagi. Dan saya harus tetap fokus nyetir saat anak mulai cranky.

Semua terasa baru dan menyenangkan bagi saya.🤗

Namun ada kalanya saya jengah dengan huru-hara di media sosial. Begitu banyak bullying, komen negatif, sampai kebencian yang mengatasnamakan agama dan nggak ada habisnya itu.

Kebencian yang bisa berubah menjadi perang.

Mungkin saya sedang TMI (too much information) hingga saya gumoh dan ingin memuntahkan apa yang sudah masuk di pikiran. Saya tidak kuat berlama-lama melihat kehidupan di dunia maya yang tanpa batas, tanpa filter, bahkan tanpa etika.

Secara nggak sengaja saya menemukan Kimbab Family karena pernah menjadi trending topic di Twitter. Awalnya saya nggak tahu Kimbab Family itu siapa. Setelah buka video Youtube-nya, ternyata Kimbab Family merupakan akun keluarga campuran Indonesia-Korea.

Jujur, saya jarang subscribe akun orang Indonesia yang menikah dengan orang asing. Saya hanya suka membaca blog aja. Nggak mengikuti keseharian mereka di YouTube. 

Kimbab Family sebenarnya sama dengan akun keluarga yang lain. Videonya menceritakan aktivitas sehari-hari selama berada di Korea. Tapi saya terkesan sekali dengan sosok Mama Gina.

Saat melihat Mama Gina, saya langsung teringat dengan Mba Eno, blogger yang juga menikah dengan orang Korea dan tinggal di Korea. Mba Eno sangat humble, baik hati, dan perhatian kepada sesama baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Deskripsi saya tentang sosok Mba Eno hampir sama kayak Mama Gina.

Mama Gina yang suaranya lembut ke suami dan anak, pintar, sederhana, dan humble banget. Ternyata Mama Gina dulu sekretarisnya Pak Dahlan Iskan saat menjadi direktur utama PLN atau sampai Pak Dahlan menjadi menteri?

Bahkan Pak Dahlan sempat membuat surat untuk Gina yang menjadi salah satu surat di buku 'Surat dari dan untuk Pemimpin.'

Wow, value Mama Gina sangat luar biasa tapi beliau memilih menjadi ibu rumah tangga. Mama Gina inilah yang langsung membuat saya tersadar bahwa selama ini sikap saya salah terhadap suami dan anak. Saya yang selalu mengedepankan emosi sehingga capeknya bertambah.

Saat itu pula saya ingin berubah menjadi lebih sabar dan mengambil tindakan impulsif untuk off sebentar dari dunia maya.

Dengan menerapkan sedikit prinsip dari buku Ikigai yang saya baca, di situ ada tulisan tentang 'hiduplah untuk saat ini'. Pelan-pelan saya mempraktikkan apa yang dimaksud oleh penulis.

Ketika saya menerapkan 'hidup untuk saat ini', saya sangat menikmati setiap momen yang ada. Sehingga saya tidak terburu-buru melakukan sesuatu.

Saat saya menikmati momen beribadah, seketika tangis saya pecah. Padahal itu bukan di waktu sepertiga malam. Saya cerita semua kepada Tuhan. Hingga saya merasa Tuhan benar-benar mendengar semua yang saya keluhkan.

Mungkin selama ini saya melakukan ibadah hanya sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Bukan menjalin komunikasi yang baik dengan Tuhan. Sehingga ibadah kurang berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Saat anak menangis, saya hanya menghibur dan menuruti apa yang dia minta. Biasanya dia minta digendong, sih. Kalau masih nangis, cukup saya alihkan perhatiannya.

Saya juga lebih sabar menghadapi suami. Eh, kalau ini kebalik ding, hahaha.

Sekarang saya bisa menikmati setiap momen yang ada. Ini adalah salah satu hal sederhana untuk lebih menghargai diri sendiri dan kehidupan baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Saya kembali lagi di sini, di dunia blogging. Dunia maya yang saya sukai. Menikmati blogging dengan beberapa cerita seru dari para blogger dan mengambil makna dari setiap cerita yang mereka bagikan.

Hai, blog. Yuk, kita bersenang-senang lagi.😉

13 comments

  1. Kabar baik kak Pipit 😆
    Lama nggak kelihatan di blog ternyata kemarin-kemarin sedang off ya. Kalau gitu, selamat datang kembali kak Pipit, selamat kembali ngeblog dan selamat Idul Adha 😊💕

    Campur aduk banget ya perasaan kakak belakangan ini, tapi syukurlah kalau perlahan mulai membaik keadaannya 😊
    Asal ada niat untuk berubah menjadi lebih baik, pasti akan ada aja jalannya.
    Dan semoga proses menyapih dengan anak kak Pipit bisa berjalan dengan lancar ya. Semangat!

    Btw, aku sepakat dengan kak Pipit dalam hal bermain sosial media. Aku pun sekarang off dari sosial media terutama IG karena aku mengalami TMI juga seperti kak Pipit, rasanya pusing, beneran pusing dan eneg ketika buka sosial media terlalu lama, mungkin ini efek psikosomatis juga? 😂
    Maka dari itu, platform sosial media pribadiku saat ini yang aku aktif adalah di blog, bersyukur karena belum gumoh dengan blogging sampai saat ini 🤭

    Aku juga ngerasain hal yang sama dengan kak Pipit ketika berdoa, ketika benar-benar berdoa seperti sedang berceriga dengan sahabat, rasanya Tuhan begitu dekat dengan kita, sampai-sampai air mata ingin menetes terus setiap berdoa seperti ini, dan aku juga menikmatinya karena kalau habis seperti ini, hati langsung terasa lega dan beban berat seperti sudah diangkat ya 🥺

    Selamat kembali menulis kak Pipit ❤️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mba Lia.

      Saat off kemarin, saya benar2 introspeksi diri. Mungkin saya udah bosen dengan kericuhan di medsos. Jadi lama2 nggak kuat sendiri.

      Oia, kalau psikosomatis, kayaknya saya ada deh. Tapi lebih ke yang panik saat menghadapi sesuatu. Sampai bener2 mules.

      Wah, kita samaan, suka ngeblog juga. Terus berbagi di blog ya, Mba.

      Betul, momen saat berdoa terasa nikmat. Tapi sayangnya kadang saya juga suka buru2 jadi kurang intens komunikasi sama Tuhan.😥

      Happy blogging juga untuk Mba Lia.🤗

      Delete
  2. Finally mba Pipit update, yaaaay! 🥳🎉

    By the way semoga lancar proses penyapihan le~baby ya, mba 😁 semangats. Hehehe. Ngomong-ngomong soal sosmed yang kadang buat gumoh, saya pun merasakannya 😂 that's why saya berusaha menyaring informasi yang masuk dengan cara berusaha nggak gampang penasaran 🤣 karena ternyata gampang penasaran bisa membuat saya kepo akhirnya jadi kena perangkap clickbait news di mana-mana ahahahahahahaha 🙈 thank God, hidup jauh lebih nyaman setelah nggak penasaran sama hal-hal yang nggak ada hubungannya 😄

    Ohya, buku Ikigai-nya bagus kah mba? Sudah beberapa kali lihat rekomendasi soal buku itu tapi masih maju mundur untuk beli 🤣 hehehehe. Saya senang bacanya karena mba Pipit sudah berhasil find peace dalam hidup mba dan tau cara membuat diri mba bahagia 😍 happy mom happy family katanya mba, jadi saya berdoa semoga mba bisa selalu dilimpahkan rizki bahagia, yah. Semangat dan semoga semakin kompak bersama keluarga tercinta ke depannya 🥳

    Happy blogging, mba 💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Enooo, terima kasih ya udah sering main di sini.😊

      Aamiin, semoga lancar nih proses menyapihnya.

      Iya bener banget, Mba, saat saya kepo malah klik sana sini dan jadi tambah pusing baca berita atau komen yang belum tentu benar. Mulai sekarang saya mencoba untuk mengurangi klik sana sini, hehehe.

      Buku Ikigai bagus, Mba. Apa yang ditulis berdasarkan riset di sebuah desa di Jepang. Bahkan kalimat2 di bukunya juga banyak mengambil kutipan dari berbagai jurnal dan web. Apalagi ada penjelasan teknik tai chi yang komplit disertai gambar.

      Doa yang sama untuk Mba Eno sekeluarga. Semoga Mba Eno selalu dilimpahkan rejeki dan kebahagiaan. Aamiin.🤗

      Delete
  3. Sebelum masuk bukan ramadhan kemarin, saya sempat juga berhenti main sosial media karena merasa informasi tentang pandemi dan segala macamnya sudah sangat menganggu. Hingga akhirnya, saya tidak lagi membahas itu selain dari tulisan saya yang sudah ada. Sebenarnya, saya sangat senang berada dalam situasi tanpa sosial media. Tapi lagi-lagi, itu banyak menyangkut banyak hal yang tidak mungkin saya tinggalkan. Salah satunya untuk membagikan tautan postingan terbaru.

    Saya masuk ke blogpun awalnya untuk senang-senang aja, jadi kalo sudah mulai padam semangatnya yah saya ingat lagi apa yang bikin saya senang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, Mas. Saat detoks medsos kemarin saya benar2 bisa fokus mengurus rumah dan menghadapi si kecil tanpa buru2. Nggak kedistrak sama keinginan ingin buka medsos.

      Sama halnya dengan Mas Rahul, saya juga belum bisa bener2 off dari medsos karena masih perlu beberapa akun untuk cari info. Sekarang saya mengurangi buka medsos.

      Tooos dong. Bagi saya, ngeblog juga untuk senang2 terutama untuk pelampiasan stress.

      Happy blogging ya, Mas.🤗

      Delete
  4. Wah, pantesan kemarin tidak kelihatan, ternyata mbak Pipit off ya.

    Saya juga akhir akhir ini jarang buka FB karena jenuh. Bukan jenuh dengan berita yang tidak jelas, tapi memang dasarnya bosan buka Facebook. Kalo sosial media lain ngga punya jadinya selama ini seringnya buka blog.

    Wah, mbak Pipit lagi nyapih anak ya. Semoga saja lancar ya mbak. Memang susah susah gampang menyapih anak, yang penting sabar nanti juga anaknya mau lepas dari menyusu.

    Saya juga sebenarnya pengin beli novel tapi masih belum terlaksana juga. Yah, karena covid 19 maka saya harus irit apalagi ekonomi lagi sulit.😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas Agus. Maaf ya kalau saya nggak bw.🙏 Nanti ya Mas kayak biasa, insyaallah rapelan, hahaha.

      Ada bagusnya nggak punya banyak medsos jadi kita lebih fokus dengan apa yang kita kerjakan. Hehehe, saya juga bosen buka Fb. Buka medsos yang lain malah pusing sendiri, hahaha.

      Iya, saya lagi proses menyapih. Kadang saya masih nggak tega jadi malah nggak konsisten. Huhuhu.

      Bener, Mas Agus. Saya juga berhemat. Kalau bulan ini udah beli buku biasanya bulan besok saya baca buku via app Ipusnas. Lumayan banyak bacaan dan novel gratis yang bisa dipinjam.

      Delete
  5. Apa kabar, Mbak? Semoga sehat selalu dan bersenang-senang bersama si kecil. Masa yang tak akan kembali selain lewat kenangan. Pas banget ya Mbak, baca novel Pak Sapardi ketika beliau akan pergi selamanya. Saya juga punya kenangan bersama beliau yg belum lama saya tulis di blog. Yuk update lagi, aktif ngeblog biar makin asyik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas Rudi. Kabar saya baik. Semoga Mas Rudi juga demikian.😊

      Iya, Mas Rudi, saya lagi menikmati banget momen bersama si kecil. Jadi sekarang agak mengurangi gadget, hehehe.

      Wah, saya penasaran kenangan Mas Rudi sama Pak Sapardi. Nanti sama main ke blognya ya.

      Yuk yuk yuk ngeblog lagi biar tambah rame dan asyik.😊

      Delete
  6. Wah lama nggak main ke sini, ternyata Mba Pipit habis libur juga dari blog yaa. Selamat datang kembali, Mba Pipit! Rasanya ikut senang kalau Mba Pipit bisa menikmati momen yang ada bersama keluarga tercinta dan menemukan semangat dalam diri kembali melalui kegiatan yang disukai (:

    Tentang proses menyapih, semangat ya, Mba! Hihi aku jadi flashback waktu menyapih anak sendiri, rasanya campur aduk sekaligus bahagia melihat si anak semakin besar dan pintar. Semoga Mba Pipit dan anak sama-sama menikmati proses ini yaa!

    Tentang penggunaan sosmed, duh ini benar banget. Beberapa bulan belakangan ini aku memfilter daftar following-ku di Instagram maupun Youtube. Setelah sekian lama main sosmed, baru sadar bahwa aku bisa mengendalikan apa yang ingin aku lihat di linimasaku. Rasanya plong ketika melihat feed yang 'bersih' dan selalu memacu semangatku setiap hari (:

    Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya ya, Mba!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Mba Jane.🤗

      Iya, Mba. Proses menyapih ini campur aduk rasanya. Kadang terharu kalau lihat si kecil bisa tidur tanpa nenen. Kadang juga masih nggak tega kalau dia nangis apalagi kalau saya lagi capek banget. Udah deh kasih nenen aja biar cepet bobok, hehehe.

      Saya sekarang agak mengurangi buka medsos. Sesekali aja dan nggak terlalu kepo biar nggak klik sana sini.

      Delete
  7. Aku kemarin sempet ngerasain jenuh Ama medsos dan berfikir utk mendelete semuanya. Itu pas mama meninggal Krn wabah ini. Dan aku muak baca berita ato status temen2 yg masih meremehkan ttg pandemi, dan menganggab semua konspirasi. Jijik bacanya, juga sakit bnget. Kdg terpikir, kenapa orang2 itu yg seenaknya kluar,ga terkena, sementara mama yg patuh malah bisa terinfeksi. Tapi ya sudahlaah aku ga mau juga dianggab menentang takdir Tuhan. Skr sih udah merasa ikhlas untuk semuanya. Ga jadi mendelete account medsos, tp buatku hanya blog yg bisa bikin suasana hati membaik :).

    dengan menulis aku bisa ngerasa rileks, jenuh hilang, semangat muncul. BW tulisan temen2 yg lain, malah bisa munculkan ide2 baru :). Beda Ama medsos yg lain.


    ReplyDelete