Melihat Lebih Dekat

Beberapa minggu yang lalu salah satu teman yang tinggal di Kyoto kirim pesan Whatsapp. Sebut saja namanya Uni.

Uni mengabarkan bahwa teman yang juga tinggal di Jepang, sebut saja namanya Lisa, baru saja dirawat di rumah sakit selama kurang lebih sebulan.

Saya kaget banget waktu diberi tahu kabar ini. Sebab beberapa hari sebelum Uni kirim WA, saya sempat menanyakan tentang Lisa.

Saya dikasih screen shoot status Lisa di salah satu media sosialnya. Dia menceritakan kronologi penyakitnya secara detail.

Lisa sakit agak parah yang mengharuskan dia harus dirawat di rumah sakit selama kurang lebih sebulan. Penyakitnya termasuk penyakit yang jarang tapi cukup berbahaya hingga menyebabkan ototnya melemah.

Masalah makin rumit karena Lisa harus meninggalkan dua anaknya yang masih berusia 2 tahunan dan 7 bulan. Sedangkan suaminya harus bekerja.

Beruntung, ada teman Lisa yang mau merawat anaknya bahkan menjadi ibu persusuan bagi anak Lisa yang masih berusia 7 bulan.

Ketika membaca status Lisa, saya bisa merasakan apa yang dialami olehnya. Pasti sangat sulit karena tinggal di negeri orang yang notabene tidak ada keluarga yang bisa dimintai tolong saat kita sedang kesusahan.

Belum lagi jika memikirkan biaya selama di rumah sakit yang lumayan menguras kantong.

Hebatnya, Lisa dapat mengambil pelajaran dan hikmah saat dia sakit. Mulai dari perawatan di Jepang yang sangat detail, perhatian petugas pada pasien muslim, dan ketertarikan petugas rumah sakit akan Islam.

Saya cerita tentang kondisi Lisa ke pak suami. Saat membayangkan, rasanya saya belum sanggup jika harus berada di posisi yang sama dengannya.

Lalu saya bilang ke suami kayak gini,

"Untung ya kita udah balik ke Indonesia. Kalau kita masih tinggal di Jepang dengan kondisi hamil seperti sekarang, duh, pasti aku bakal pusing."

Bukan hanya soal menitipkan anak ke siapa tapi juga kondisi apartemen yang mungil kayaknya bakal susah jika harus ketambahan anggota keluarga baru.


Dulu waktu memilih pulang ke Indonesia, saya sempat sedih. Seiring berjalannya waktu dan tahu apa yang telah terjadi pada diri saya dan keluarga, saya lebih banyak bersyukur dan bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang telah terjadi.

Nggak cuma soal Jepang yang sayang banget ditinggalkan karena kata banyak orang lebih enak hidup di sana, hahaha. Tapi soal karier suami dan perkembangan anak.

Saat ini, tanggung jawab suami di kantor bertambah. Pengalamannya juga makin bervariasi karena beban pekerjaan yang baru membuatnya bertemu dengan banyak orang.

Mungkin pengalaman ini nantinya bisa menjadi tambahan referensi di CV-nya kelak jika ada kesempatan yang lebih baik.

Rasa syukur juga bertambah saat melihat perkembangan si kecil yang cukup pesat. Dia bisa bermain dengan bebas dan punya banyak teman. Saya juga bisa mengajarkan keyakinan yang saya anut dengan baik jika dibandingkan harus tinggal di Jepang.

Wajar jika kita sedih ketika harus menghadapi suatu masalah atau kejadian yang sedang menimpa kita. Tapi ketika kita bisa melihat lebih dekat masalah tersebut, maka hal ini akan menjadikan kita lebih bijaksana.

Kayak lagunya Sherina 'Lihatlah Lebih Dekat' yang menjadi salah satu soundtrack film Petualangan Sherina *ada yang masih inget nggak?*

Pergilah sedih

Pergilah resah

Jauhkanlah aku 

Dari salah prasangka

Pergilah gundah

Jauhkan resah

Lihat segalanya lebih dekat

Dan kubisa menilai lebih bijaksana

***

Saya jadi ingat saat pamit ke salah satu teman yang saat ini masih tinggal di Jepang. Di salah satu pesannya, dia menulis,

"Selamat menikmati matahari, Mba."

Saya membaca pesannya terdiam beberapa saat dan tersenyum. Ya, sesimpel itu. Bersyukur karena di Indonesia bisa menikmati cahaya matahari yang di beberapa negara hal ini menjadi sesuatu yang dirindukan.

Meski kadang cuaca di Indonesia panas banget tapi nggak ada apa-apanya saat merasakan musim panas di negara 4 musim. Cahaya matahari juga menjadi hal yang sangat dirindukan saat musim dingin datang.

Awalnya mungkin enak membayangkan musim dingin di luar negeri. Tapi ternyata musim dingin nggak seenak itu. Dinginnya menusuk tulang dan kelembabannya rendah sehingga kulit menjadi kering. Suami saya kadang bibirnya sampai berdarah kalau suhunya drop.

Yakinlah, seseorang akan naik tingkat jika bisa melewati satu per satu masalah yang telah terjadi. Hingga akhirnya kita bisa tersenyum jika melihat lagi setiap perjalanan hidup yang telah dilalui. Semoga setiap masalah yang sedang kita hadapi akan membuat kita lebih dewasa, tegar, dan bijaksana, ya.πŸ€—


10 comments

  1. Hi Kak Pipit, apa kabar? :D
    Thank you for sharing this story! Aku jadi ikutan bersyukur bisa merasakan tinggal di Indonesia πŸ₯Ί
    Home sweet home katanya. Mau pergi sejauh apapun, selama apapun, kembali ke negeri sendiri adalah suatu hal yang menyenangkan πŸ₯Ί

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mba Lia. Saya baik. Apa kabar?

      Sama2, Mba Lia. Iya, ternyata banyak hal-hal kecil yang bisa disyukuri di sekitar kita.

      Delete
  2. Semoga setiap masalah segera berakhir ya, keadaan sakit dan berada jauh dari orang-orang tercinta tentu bukan sesuatu yang mengenakkan. Semoga semuanya baik-baik saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, terima kasih Kang Maman untuk doanya. Saat sakit dan berada jauh dari orang-orang tercinta memang terasa berat saat dijalani.

      Delete
  3. Hola mba Pipit πŸ˜πŸ’•

    Semoga mba Lisa cepat sembuh ya, pastinya berat banget sakit di negeri orang, ditambah anak-anak nggak ada yang jaga. Saya pernah sakit waktu biztrip sekali mba, duh rasanya nelangsaaa banget. Padahal saya belum ada anak, itu saja sedihnya bukan main, jadi nggak kebayang bagaimana perasaan mba Lisa. However, seperti yang mba Pipit bilang, beliau sangat tegar, semoga beliau bisa overcome the situations dengan hati lapang πŸ’•

    Iya ya mba, kalau kita lihat segalanya lebih dekat, kita jadi bisa menilai lebih bijaksana. Seperti lagunya Sherina yang fenomenal ituuu ~ hehehe. Karena katanya, everything happen for a reason. Tinggal kitanya mau paham akan itu atau nggak. Namun ada satu yang saya syukuri dengan mba Pipit ada di Indonesia, yaitu saya jadi bisa keep in touch dengan mba Pipit akhirnyaaaa πŸ˜†

    Much love mba, and take caree yaaa πŸ˜πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Enoooo 😘😘

      Keadaan Lisa sekarang sudah membaik, Mba. Saya tahu dari media sosialnya. Saya ingat cerita Mba Eno saat sakit waktu biztrip. Nah, kita jadi tahu apa yang dialami orang lain karena kita pernah mengalami ya, Mba. Jadi lebih berempati.

      Masalah yang terjadi pada kita semoga menjadikan kita lebih paham akan makna di balik masalah tersebut. Sedih boleh, tapi justru dengan masalah tsb kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

      Aaahhh, makasih, Mba. Saya juga bersyukur bisa bersilaturahmi dengan Mba Eno yang baik banget. Semoga nanti bisa silaturahmi juga dengan teman2 blogger yg lain.😍😘

      Delete
  4. Kenalin dong, Uni yang tinggal di Kyoto.
    Dirimu kaya 'disuruh' pulang ke Indonesia tapi hikmahnya banyak ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, pankapan ya aku kenalin. Hok o yo Na. Ada banyak banget hikmah saat aku pulang.

      Delete
  5. aku masih ingat lagu lagi di petualangan Sherina mbak, salah satunya lihat lebih dekat ini
    pasti sedih mendengar kabar temen yang harus berjuang sendiri di negara orang ya, beruntung mbak Lisa tetep semangat menjalani hari harinya meskipun di rumah sakit

    ReplyDelete
  6. Aku tuh cinta bangetttt Ama Jepang. Salah satu negara yg aku ga bosen utk balik lagi tip 2 thn sekali. Negara lain biasanya cukup sekali aku dtangin :p.

    Makanya aku seneng pas adikku ditugaskan ke Jepang mba, jd setidaknya ada tempat utk aku stay ato nitipin koper yg segambreng di apatonya, sementara aku jelajah kota2 lainnya hahahaha.

    Kalo kesana aku kan slalu pilih winter. Krn aku suka cuaca dingin, makin minus makin bahagia :p. Tapi setelah baca ini, dan aku inget ada pandemi, aku jd mikir, bersyukur memang di Indonesia dulu. Ku ga kebayang menghdapi pandemi saat winter. Di JKT, tiap kali aku kluar, trus balik ke rumah, itu aku lgs mandi lagi. Mau keluarnya 4x, berarti mandinya jg 4 x. Naah kalo sdg di negara yg winter, ga mungkin juga nerapin mandi lagi dan lagi :D. Bisa rusak itu kulit wkwkwkwkkw mandi 2x pas winter aja kulitku lgs gatel, apalagi berkali2 :D. Jadi bersyukur banget sih jujurnya bisa tinggal di negara yg matahariny melimpah di saat pandemi :).

    ReplyDelete