Pengalaman Mengurus Qatar ID

Akhir Juli lalu pak suami mendapat pesan WhatsApp dari orang Malaysia yang juga tinggal di Qatar. Sebut saja namanya Malik. Pak suami dan Malik berbeda perusahaan.

Lewat WA, Malik menanyakan proses mengurus Qatar ID (QID) bagi istri pakai sidik jari manual. Ya, Malik menanyakan kasus saya yang sama dengan istrinya. Terus terang, sampai pertengahan Agustus Malik masih WA pak suami. Artinya, QID milik istrinya belum beres. Karena inilah saya menulis pengalaman mengurus Qatar ID yang berbeda dengan sebagian orang karena sidik jari saya bermasalah.

Yuk, mulai ceritanya. Siapin cemilan ya karena lumayan panjang. Btw kalau kamu nggak suka dengan ceritanya, silakan diskip aja.😁




Sehari setelah sampai Qatar, saya disuruh pak suami mengurus Qatar ID. Mumpung saat itu pak suami cuti jadi dia bisa nemenin.

Qatar ID sangat penting bagi orang yang tinggal di Qatar. Tanpa kartu ini, kita nggak bisa ngapa-ngapain. Mau daftar sekolah anak butuh QID, mau bikin SIM harus punya QID, beli kartu telepon perlu QID.

Untuk mendapatkan QID, kita melewati beberapa tahap yakni tes kesehatan dan sidik jari. Saat tes kesehatan, kita diambil darahnya dan melakukan rontgen. Jika tes kesehatan gagal, kita dikasih waktu untuk istirahat atau memulihkan kesehatan supaya tes selanjutnya lolos.

Kalau misal kamu punya riwayat penyakit khusus yang sekiranya akan mempengaruhi hasil tes kesehatan, sebaiknya kamu membawa surat rekomendasi dari dokter asal negara kamu. Saat tes kesehatan dinyatakan gagal, kamu bisa koordinasi dengan dokter di Qatar dan menjelaskan riwayat kesehatanmu. Dengan begini petugas kesehatan Qatar pasti akan memahami kondisi kamu.

Setelah tes kesehatan lolos lanjut ke proses selanjutnya yakni sidik jari.

Proses sidik jari jika normal cukup menunjukkan bukti kalau kita sudah melakukan tes kesehatan karena di berkas yang kita bawa sudah ada barcode. Petugas akan menscan barcode dan data kita akan tampil semua.

Sebenarnya proses sidik jari atau finger print sangat mudah dan cepat karena semua serba digital. Asal berkas yang kita bawa lengkap dan finger print digital nggak ada masalah maka data kita sudah masuk Metrash secara otomatis. Btw Metrash merupakan app milik kementerian dalam negeri. Semua orang yang tinggal di Qatar akan terdaftar di Metrash.

Namun jika finger print bermasalah, ya udah nikmatin aja prosesnya yang lama buanget dan cukup menguras waktu.

Seperti yang saya ceritakan di awal bahwa sidik jari saya bermasalah. Ya, sejak dulu sidik jari saya memang bermasalah jika harus finger print digital. Tiap bikin SIM di Indonesia pasti proses finger print saya lama banget karena sidik jarinya nggak keluar.

Saat finger print di Qatar juga begitu. Saya finger print di CEID (Criminal Evidence and Information Department) di daerah Ar Rayyan. Pelayanan pria dan wanita di sini dipisah, ya. Jadi jangan sampai salah masuk section.

Setelah tes kesehatan beres saat itu juga saya lanjut ke CEID bagian ladies. Ketika tiba giliran dilayani, saya menunjukkan berkas sudah melakukan tes kesehatan. Selain itu saya juga membawa paspor, visa, foto copy paspor dan QID milik pak suami. Petugas cuma cek paspor saya, dokumen lain nggak dicek. Kemudian lanjut finger print. Di sinilah drama itu terjadi.

Petugasnya berkali-kali mencoba finger print nggak bisa. Sidik jari saya nggak masuk. Ada kali tangan saya bolak-balik disemprot pakai hand sanitizer tapi tetep aja nggak ngefek. Huhuhu.

Setelah petugasnya putus asa, saya dikasih kertas intinya disuruh merawat tangan. Kasih pelembap, cuci piring pakai sarung tangan, dll. Seminggu kemudian saya disuruh balik lagi.

Saat keluar ruangan, pak suami langsung bilang gini,

'Finger print gagal, ya.'

Saya kaget karena belum cerita tapi pak suami kok udah tahu duluan. Ternyata saat itu juga dia dapat SMS dari Metrash yang menyatakan saya gagal finger print. Seandainya finger print lolos, pak suami nggak dapat SMS tapi Metrash langsung update data saya.

Kejadian ini berulang sampai tiga kali atau tiga minggu bolak-balik buat finger print. Petugas CEID mengulang terus hingga nyerah dan menyuruh saya sidik jari pakai tinta alias manual. Saya disuruh ke resepsionis dan dikasih catatan bawa berkas berikut:

  • Foto copy paspor
  • Foto copy QID sponsor (pak suami)
  • Foto copy visa

Berhubung saya sidik jari manual, di minggu selanjutnya pak suami nggak nemenin. Jadi saya pergi bersama dua anak kicik. Pikir kami, paling beres lah. Kan udah final. Kenyataannya saya diminta foto ukuran paspor. Nggak ada foto ini, maka saya nggak bisa sidik jari manual.

Pertanyaannya, kenapa foto nggak ditulis sekalian saat pengumpulan berkas minggu lalu?

Daripada saya bolak-balik pulang akhirnya saya nyari studio foto terdekat. Saya nanya ke petugasnya di mana foto studio terdekat. Dan mereka menjawab,

'I don't know.'

Edan. Petugasnya jutek banget. Saat itu juga saya marah, rasanya pengen misuh-misuh dan berkata kasar. Tapi suara hati saya yang lain mengatakan,

'Sabar, Pit. Ingat, kamu di negeri orang. Jalani dan nikmati aja.'

Saya ambil nafas berkali-kali dan telepon pak suami. Gantian saya dimarahi ama dia karena nggak bawa berkas komplet. Terus saya diam bentar. Sebenernya kepala saya mau meledak. Di saat genting kayak gini saya masih ngurus dua anak yang sibuk lari sana-sini dan minta camilan karena laper.

Rasanya saya pengen lompat ke episode hidup selanjutnya. Boleh nggak, Tuhan?

Akhirnya saya nanya studio foto terdekat ke Google dan langsung pesen Uber. Thanks to technology. Daripada nanya ke manusia mending saya nanya ke Google.😂

Proses cetak fotonya cepat. Setelah foto jadi saya balik lagi ke CEID dan melakukan sidik jari manual. Setelah selesai, petugas menyuruh saya mengumpulkan dokumen di hari kerja, nggak harus seminggu lagi. Dokumen yang diminta sebagai berikut:


Jangan lupa pas foto dan ijazah
dalam bahasa Arab


Ini kenapa petugasnya dari awal nggak nyuruh bawa berkas yang komplet sekalian. Rasanya dongkol banget. Singkat cerita minggu berikutnya saya datang lagi ke CEID bagian ladies. Berdasarkan pengalaman sebelumnya akhirnya saya bawa berkas komplet. Ternyata saya disuruh ketemu kapten dan membawa berkas ke male section.

Di male section saya diminta sidik jari manual. Saya protes karena sebelumnya sudah melakukan ini di bagian ladies. Dan mereka menjawab,

'Again.'

Sabar. Orang sabar disayang Tuhan.

Oke, setelah menunggu akhirnya saya finger print manual lagi. Setelah itu petugasnya bilang kalau ijazah pendidikan pak suami harus ditranslate ke bahasa Arab. Padahal ijazahnya sudah attasted lho. Artinya sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan dapat stempel dari notaris, Kemenkumham RI, Kemenlu RI, dan kedubes Qatar. Daftar Metrash pakai ijazah ini juga lolos.

Tapi petugasnya nggak mau tahu. Intinya lu kudu nurut aturan di sini.

Edan (lagi). Kenapa nggak sekalian dijelaskan pas nyuruh ngumpulin berkas sih. Jadi kami kan nggak bolak-balik. Ya udah hari itu juga pak suami cari jasa translate yang ternyata ada banyak, cepat, murah dan mudah. Cuma kirim berkas via WA, sorenya langsung jadi.

Kami pengen urusan ini beres secepatnya. Besoknya kami ke CEID lagi. Setelah dicek, berkas kami lolos semua dan disuruh balik lagi setelah 10 hari kerja. Alamaaak lama amat.

Berhubung kami capek dan kesabaran udah habis akhirnya pak suami minta bantuan kantor bagian government affair. Untungnya pihak kantor baik. Asalkan berkas udah lolos semua, staf kantor yang mengurus. Entah mereka pakai ilmu sakti apa untuk mengurus QID, yang jelas beberapa hari kemudian status saya di Metrash sudah update dan saya dapat berkas untuk tanda tangan QID. Setelah itu, nggak lama QID milik saya dan anak-anak sudah jadi.

Sedangkan Malik yang saya ceritakan sebelumnya, sampai tulisan ini dibuat masih mengurus QID istrinya. Pak suami sudah bilang ke Malik kalau proses QID milik saya dibantu kantor. Nah, kantornya Malik gimana apakah bisa membantu juga seperti yang saya alami.

Inti tulisan panjang ini apa? 

Kalau kamu gagal di finger print digital siapkan berkas yang komplet seperti foto di atas ditambah pas foto ukuran paspor. Jangan lupa ijazah ditranslate ke bahasa Arab.

Pengalaman saya mengurus QID berbeda dan agak ribet karena ada case khusus. Banyak drama yang harus saya lalui, hahaha. Semoga sharing ini bisa membantu kamu mengurus QID, ya. Maaf kalau ceritanya panjang.🙏

6 comments

  1. Phuuuuh, untunglah akhirnya berhasil ya mba. Aku banyak denger cerita temen yg finger print ya masalah. Kasian juga, dan ga ngerti kenapa. Apa Krn terlalu halus atau gimana yaa?

    Terkadang juga finger printku ga kebaca di hp, tapi biasanya kalo abis makan sesuatu yg lengket hahahahah. Atau basah. Setelah itu ya oke lagi.

    Nyebelin banget kalo dari orang sananya ga KSH tau dokumen lengkap... Ngerti deh rasanya. Sebenernya beberapa instansi di sini juga banyak yg gitu. sengaja dipersulit atau gimana ntah lah. Terkadang karena memang kita yg butuh, ya kita yg nurut 😔

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berhasil cepat karena kami minta bantuan kantor, Mba. Kalau enggak, mungkin postingan ini bisa lebih panjang, hehehe.

      Tangan saya memang halus tapi kering. Jadi susah finger print digital. Nggak ngerti juga kenapa ini bisa terjadi. Makanya kalau buka hape, saya nggak pernah pakai finger print. Selalu pakai password atau kode untuk buka hape. Pakai finger print di hape nggak pernah bisa.

      Nah, bisik-bisik kita aja ya. Ppppsssttt, pegawai pemerintah sini hampir sama kayak Indo. Itu sih yang saya rasain. Bener banget, karena kita butuh jadi nurut aja padahal di dalam hati dongkol banget.

      Delete
  2. Jadi sudah sering gagal finger print yaa mbak pipit. Kalau boleh tahu itu karena apa mbak pipit? Aku baru tahu kalau ternyata bisa gagal berkali-kali ketika finger print. Yang biasa aku lihat biasanya hanya sekalu-dua kali aja.

    Beruntungnya QID nya jadi, m3skipun prosesnya sangat panjang dan melelahkan. Apalagi proses yang terkesan bertele-tele. Ga mau kasih info lengkap di awal. Sebagai orang yang butuh akhirnya bisanya cma ngikuti aja...wkwkwk

    Kadang malas ngurud surat di pemerintahan karena proses seperti ini sering terjadi. Kadang ada uang terima kasih yang diselipkan juga. Perkara duit sekarang banyak yang berani nolak sih...hahaahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sering gagal finger print digital, Mas. Buka hape pakai finger print nggak pernah bisa. Tangan saya halus tapi kering. Nggak ngerti juga kenapa kok bisa gini.

      Iya, kalau petugasnya kasih tahu info secara lengkap kitanya enak, nggak bolak-balik. Jadi saya merasa dipingpong. Asli, capek banget ngurusnya.

      Ya, saya kadang malas ngurus berkas di kantor pemerintah karena bertele-tele. Tapi sekarang udah serba digital beberapa kantor sudah bagus pelayanannya. Mereka juga sudah tidak ada uang selipan. Bagus juga kalau sekarang ada yang nolak uang titipan. Ngeri juga sekarang, Mas. Apa2 bisa direkam dan diviralkan.

      Delete
  3. Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete