Wednesday, June 29, 2016

I Wanna Grow Old With You

Kemarin Sabtu pas saya les, ada teman cewek cerita tentang cintanya yang pupus. Lalu nggak berapa lama obrolan kami merembet ke masalah pernikahan. Maklum lah, teman les saya kebanyakan belum pada nikah jadi wajar jika masih penasaran soal pernikahan.

Hhmm, kalau cerita tentang pernikahan, apa ya yang diceritain? Saya juga bingung, hahahaha. Bukannya sok menggurui tapi tiap orang pasti punya cerita cintanya sendiri. Kadang cerita cinta tiap pasangan tuh unpredictable. Dari cerita teman-teman saya, mereka menemukan pasangannya pada nggak nyangka. Ada yang berjodoh di tempat kerja, dapet jodoh ternyata sahabatnya sendiri, ada yang putus nyambung, dan ada yang taaruf. Banyak lah pokoknya. Bagi saya, yang paling asyik itu ya menikmati cerita cinta itu sendiri. Hahahaha, nggaya.

Menikah itu pilihan karena sekarang banyak juga orang yang memutuskan untuk nggak nikah. Padahal menurut saya menikah itu enak, lho. Saya mengatakan enak bukan soal kehidupan se*snya, ya. Menikah itu enak saat bisa hidup berbagi dengan pasangan. 

Yang saya rasakan ketika menjalani proses pernikahan sampai sekarang yaitu kebahagiaan saat pasangan mengerti diri saya. Begitu pula sebaliknya. Iyap, saya merasakan sekali hal tersebut. Kadang pernah terpikir kalau pak suami adalah orang yang paling mengerti saya ketimbang orangtua sendiri. Padahal orangtua termasuk orang yang dekat dengan saya sejak kecil, kan? Nah, saat dewasa saya merasakan hal yang berbeda. 

Bahagia rasanya jika pak suami bisa mengerti saya. Misalnya, saat saya marah atau butuh istirahat, pak suami tahu saya baiknya diapain. Dibantu, diajak jalan-jalan, didengarkan curhatnya, atau malah dicuekin. Hahahaha, beneran lho, saya kadang dicuekin karena saking hafalnya pak suami dengan sifat saya. Lalu, jika sudah agak reda dan pikiran sudah on lagi, saya minta maaf. Tapi kalau lagi kumat, ya gitu lagi terus minta maaf lagi. Hahahahaha, manusia ya!

Lalu, bagaimana dengan kekurangan pasangan?

Ada teman saya yang katanya belum siap menikah jika harus menerima atau menyesuaikan diri dengan kekurangan pasangan. Waini, saya cuma bilang, justru ini enaknya nikah yaitu saat saya bisa menerima dan maklum dengan kekurangan pak suami.

Kadang kalau dipikir, beberapa pasangan yang saya kenal kebanyakan sifatnya berbeda dan saling melengkapi. Kekurangan masing-masing pasangan bukan menjadi masalah tapi malah dibutuhkan satu sama lain. Hal ini pula yang saya rasakan selama ini. Sifat pak suami yang sangat bertolak belakang malah membuat saya lagi-lagi berpikir bahwa sifat inilah yang saling melengkapi di kehidupan pernikahan kami. Dan, perbedaan ini yang bikin pernikahan lebih seru, hahaha.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ketika menghadapi kekurangan pasangan, yang dikedepankan adalah bagaimana reaksi kita terhadap kekurangan tersebut. Reaksi untuk mau ngomel, cuek, atau mau menunjukkan gimana yang bener. Semua itu butuh proses, kok.

Dulu, pas awal menikah, yang namanya handuk di tempat tidur, sepatu di ruang tamu, piring kotor nggak ditaruh di dapur, bakal bikin saya ngomel-ngomel panjang.

Sekarang?

Sudah biasa dengan hal-hal tadi. Tetep ngomel juga sih kalau masih ada tenaga, hahaha. Tapi kalau saya sudah capek, ya dibiarin aja terus bakal rapi kok dengan sendirinya. Entah yang merapikan pak suami sendiri atau saya. Toh kalaupun nggak dirapikan sama pak suami, saya bakal merapikan dan membersihkan rumah juga, kan?  

Jadi ya dengan berjalannya waktu dan kebersamaan dengan pasangan maka kita akan tahu sifat pasangan. Entah itu sifat yang baik atau yang buruk. Tinggal bagaimana reaksi kita menghadapi kekurangan tersebut. Lama kelamaan akan terbiasa dan menjadi hal yang lumrah karena mungkin itu sudah karakter pasangan kita. Terima saja pasangan kita apa adanya. 

Pernikahan bukan hanya soal penyesuaian karakter dengan pasangan aja, lho. Ada cerita lain yang bakal membuat pernikahan lebih rame, hahahaha. Dalam menjalani pernikahan, jujur saja, saya mengalami banyak cobaan dan godaan. Lumayan juga cobaan dan godaan yang saya alami. Paling sering sih masalah keluarga. Namun ada juga cerita yang membuat saya lebih banyak bersyukur karena memiliki pak suami tercinta *tsaaah. Semakin lama menjalani pernikahan, kok ya feeling mengatakan kalau saya benar-benar ingin menjalani hidup bersama dengan pak suami. Yes, I wanna grow old with pak suami.

Bukan tanpa alasan, sih. Selain pak suami sangat mengerti saya, menikah adalah sebuah janji yang tidak untuk main-main. Menikah bukan hanya antara saya dan pak suami tapi di situ ada dua keluarga besar yang menyatu. Keluarga besar inilah yang menjadi pengingat saya untuk selalu bersikap sopan bukan hanya ke pak suami namun juga keluarganya. Jika saya berbuat yang neko-neko pasti keluarga saya bakal kena imbasnya juga. 

Hhmm, obrolan antara saya dengan teman les tempo hari kok ya pas dengan momen yang mau saya tulis. Mumpung ini Bulan Juni, saya tiba-tiba pengin menulis ginian, ya. Padahal saya bukan tipe orang yang romantis, hahahaha. 

I don't need anybody to tell me because I know you are the best
You know my flaws
You know how to treat me and how to make me happy

Is there going to be a brighter life
Yes, we can make it!
No worry since I live with you

May love and happiness be bestowed upon us. Aamiin.

I love you full, pak suami ^-^
I wanna grow old with you
And happy anniversary.


Gambar dari sini






Continue Reading…

Thursday, June 23, 2016

Ngeblog Masih Suka-suka

Saya terbilang baru di blogsphere. Saya mulai ngeblog tahun 2014 saat merasa kesepian dan bengong di negeri orang. Karena memang suka menulis maka saya langsung jatuh cinta sama blog. Dari yang semula menulis curhatan lama kelamaan saya ingin berbagi lewat blog. Yah, meski curhat di blog masih jalan terus sih, hahahahaha. Maklum lah, ngeblog masih suka-suka. 

Ngeblog itu seru. Seru banget malah. Dengan bergabung di beberapa komunitas, jujur saja ilmu ngeblog saya bertambah. Begitu juga dengan pertemanan. Komunitas-komunitas ngeblog bermunculan banyak banget. Saya sih suka dengan berbagai komunitas blog tersebut meski anggotanya ya itu-itu saja. Maklum, anggotanya ya blogger. 

Dengan bergabung di beberapa komunitas blog, bukan berarti saya tahu kehidupan blogsphere, ya. Saya nggak terlalu mengikuti perkembangan blogsphere secara rutin. Beneran! 

Karena apa? Saya kurang aktif di media sosial. Iya, saya memang mengurangi interaksi di media sosial. Maklum lah, saya bukan orang yang kekinian. Media sosial yang saya punyai hanya facebook, twitter, G+, dan blog. Udah cuma itu aja. 

Media tadi juga jarang saya mainkan. Saya lebih sering menggunakan media tersebut untuk sharing tulisan saja. Dan, dari media sosial tersebut, saya lebih aktif menulis di blog. Saya lebih ekspresif saat menulis ketimbang ngomong. Dengan menulis, saya bisa menuangkan apa yang ada di pikiran. Kalau ngomong, saya cenderung cerewet ke orang yang saya anggap dekat. Makanya banyak banget yang bilang first impression ke saya itu jutek dan pendiam. Padahal kenyataannya jauh banget, hahahaha. Kata sahabat sih, saya orangnya mah bocor alus.^-^.

Jika ada huru-hara di blogsphere, saya lebih banyak tahu dari teman. Untuk mencari info lanjutan biasanya cukup membaca tulisan para blogger. Masak iya nggak ada satu pun blogger yang menulis berita trending tpoic. Hhmm, kayaknya impossible. Dengan begitu, saya bisa menyimpulkan sendiri kejadian yang hangat dibicarakan. Setelahnya, saya hanya diam lalu belajar dari tulisan-tulisan tersebut.

Yah, blogger juga manusia. Dan, apa yang menjadi opininya pasti berbeda antara yang satu dengan yang lain. Saya pelajari tulisan-tulisan tersebut dan nggak menutup kemungkinan bakal diterapkan jika memang itu cocok.

Semakin ke sini, saya lihat banyak blogger yang menggunakan blog sebagai media untuk mencari rupiah. Saya acungi jempol untuk blogger yang seperti ini. Saya tahu untuk memonetize blog itu butuh effort yang nggak gampang. Harus berani membranding blog dan melakukan networking yang banyak. Jika branding dan networking sudah mapan, maka agency akan mudah berdatangan. 

Jujur, saya belum bisa ke tahap seperti itu. Tapi untuk ke sana pasti ada. Saat ini, saya hanya menikmati proses menulis dan berbagi curhatan di blog. Sekali lagi, saya ngeblog masih suka-suka.

Meski blog ini isinya banyak curhatnya, alhamdulillah beberapa sponsored post pernah saya terima. Nggak banyak sih, tapi lumayan buat beli bakso yang nongkrong di pengkolan. Bahkan saya pernah menolak beberapa sponsored post karena masih belum sreg. Seneng ya ketika blog kita diakui dan mendapat tawaran kerja sama. 

Namun sejujurnya, bukan itu tujuan saya ngeblog. Saya lebih bahagia ketika ada yang komen bahwa mereka mendapat informasi melalui postingan yang saya tulis. Saya lebih bahagia ketika ada yang email dan menanyakan ini-itu perihal yang saya tulis. Saya lebih bahagia ketika bisa membantu lewat tulisan di blog.

Iya, beberapa kali saya sering mendapat email tentang ikhitar saya untuk hamil. Beberapa kali saya mendapat komentar yang menanyakan apa yang saya tulis. Dan, saya kaget ketika ada mahasiswa ada yang email untuk ikut kegiatan sosial bersama ibu Jepang yang pernah saya tulis di sini. Mahasiswa tadi sedang melakukan tugas kuliah tentang kehidupan orang Jepang di Indonesia. Dia tahu tulisan saya tentang sifat orang Jepang yang pernah saya tulis di sini

Ah, saya bahagia ketika bisa mengajak anak muda untuk ikut kegiatan yang positif. Bahkan ada juga blogger yang ikut kegiatan tersebut. Blogger tersebut memang dekat dengan saya. Mereka semua masih muda. Dan, mereka juga bahagia ketika berpartisipasi di kegiatan sosial tersebut. Meski kecil, tapi bahagianya tak terkira. Mereka juga tahu kehidupan lain di ibu kota yang nggak pernah mereka bayangkan sebelumnya. 

Etapi ada sih yang bikin agak jiper gitu. Si blogger yang memang jago Bahasa Jepang lebih bisa mempraktikkan ngobrolnya bersama ibu-ibu Jepang. Lah saya? Masih jiper dan ngomong sedikit-sedikit. Yah, sukoshi wakarimasu lah ya. Teman blogger tersebut mengucapkan terima kasih di Line karena dengan kenal saya, maka pergaulannya dengan orang Jepang tambah luas. 

See?
Dengan blogging, saya sudah mendapat kebahagiaan yang tak bisa diganti dengan uang. Yah, meski blog ini cuma apa adanya. Masih jauh dengan seleb blog yang lain. 

Saat ini, saya jarang memposting tulisan di facebook. Seringnya sih posting di twitter, itu pun cuma mention ke satu akun doang. Untuk blogwalking, saya cenderung menjadi silent reader di beberapa blog yang saya ikuti. Saya suka blogwalking tapi lebih sering tidak meninggalkan jejak. Ketika saya nggak berkunjung ke blog mereka, rasanya ada yang bikin kangen. 

Blog-blog yang saya kunjungi macem-macem, ya. Ada yang tinggal di Indonesia dan di luar negeri. Ada perbedaan sih antara blogger yang tinggal di Indonesia dan di luar negeri. Untuk yang tinggal di luar, bahasa dan ulasan mereka lebih santai. Mereka lebih banyak menceritakan kehidupan sehari-hari di luar negeri. Asyik deh kalau gini, saya jadi tambah tahu kehidupan di luar Indonesia yang cukup seru.

Sebagian besar blog yang sering saya baca isinya nggak terlalu berat, sih. Bahasanya juga santai. Dengan membaca postingan mereka di blog, pasti ada saja pelajaran yang saya dapat. Entah tentang parenting, isu-isu terkini, kehidupan di kantor, kehidupan di luar negeri, dan masih banyak lagi.

Yah, membaca blog itu ibarat membaca status seseorang yang panjaaaang. Tapi blog itu lebih asyik karena blogger lebih banyak menuangkan ide dan opininya secara lugas dan independen. Dengan blog, mereka mau posting tulisan panjang atau pendek, terserah. Mau pakai foto atau enggak, terserah. Dan, kalau sudah mengikuti blognya pasti deh pengin tahu si blogger mau cerita apa lagi ya? 

Hhmm, insya Allah saya akan terus ngeblog karena saya suka menulis. Meski ngeblognya nggak serajin dulu tapi saya usahakan untuk sesekali bikin postingan, hahahaha. Maklum lah, ngeblog masih suka-suka. 




















Continue Reading…

Wednesday, June 22, 2016

Tim Kerja yang Solid

Akhir-akhir ini saya teringat pada teman satu tim saat masih kerja. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja saya kangen dengan mereka. Kangen dengan gaya bercandanya. Kangen dengan keakrabannya. Ah, saya kangen dengan dunia kerja. Tepatnya saya kangen dengan tim kerja yang solid. 

Bekerja dengan tim yang solid sungguh anugerah yang patut disyukuri. Kantor, sebagai rumah kedua merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Hubungan kekeluargaan yang harmonis antara atasan sampai bawahan akan mempengaruhi kinerja tim yang ada di dalamnya. Beruntung, saya pernah merasakan bekerja dengan tim yang solid.

Bulan Juli, sembilan tahun yang lalu. Kali pertama saya bekerja di sebuah rumah sakit plat merah sebagai tenaga kontrak. Suasana yang saya rasakan pertama kali adalah sibuk dan hangat. Iya, saya bekerja di bagian perencaaan yang saat itu sibuk dengan anggaran perubahan. Suasana hangat dan kekeluargaan saya rasakan meski baru pertama kali kenal. 

Bagian perencanaan, salah satu bagian yang lumayan penting. Berbagai ide atau usulan dari masing-masing unit akan digodog menjadi hal yang dapat meningkatkan pelayanan kepada pasien dan kesejahteraan pegawai. Nggak mudah untuk memenuhi semua usulan tersebut. 

Usulan yang masuk akan disaring dan dipertimbangkan. Bila memang dibutuhkan maka akan diajukan ke direksi selanjutnya ke tingkat yang lebih tinggi, yakni antar instansi. Di sini, negosiasi dan lobi yang baik sangat dibutuhkan. Dan, ilmu ini tidak ada di bangku kuliah. Hanya pengalaman yang bisa membuat nego berhasil. 

Tak hanya itu saja. Bekerja di bagian perencanaan sungguh pening ketika berhadapan dengan anggaran yang berjumlah milyaran. Uang yang ada harus dialokasikan secara tepat ke berbagai kegiatan yang nantinya harus dapat dipertanggungjawabkan. Hhmm, bongkar pasang angka sampai error pernah dijabanin. Tukar pendapat dan gejruk antar teman sudah pernah kami alami. Dan, itu seru. Membuat saya lebih banyak belajar. 

Iya, saya banyak belajar dengan mereka. Belajar bagaimana mengolah data, membuat perencaaan yang baik, membuat laporan pertanggungjawaban, membuat kata-kata untuk diajukan ke dewan, belajar tentang pertemanan, dsb. Duh, saya benar-benar kangen dengan suasana ini.

Saat itu, staff perencanaan hanya berjumlah 3 orang. Satu pegawai lama, sedangkan sisanya pegawai baru. Saya termasuk pegawai baru. Baru pertama kali kerja, langsung berhadapan dengan perubahan anggaran yang harus segera dibuat. Mau tak mau, saya harus bisa dan banyak belajar. 

Kala itu kabag dan  kasub sedang dinas keluar kota. Padahal saat yang sama ada data yang harus dikumpulkan. Data pengadaan alat kesehatan yang jumlahnya cukup besar. Kami, sebagai staf yang tak tahu apa-apa harus bertindak cepat agar data tersebut bisa masuk ke biro. 

Akhirnya kami bertiga bekerja sampai malam. Ada yang mengumpulkan data, ada yang telepon bos, ada yang mengutak-atik data. Semua bekerja. Saat itu yang ada di pikiran kami hanya memenuhi data yang diminta oleh biro. Alhamdulillah, semua lancar.

Sejak itu, tim kami makin solid. Kami lebih suka pulang malam daripada pulang ke rumah. Kami lebih suka berada di kantor daripada di rumah. Kami suka kerja lembur tanpa memandang upah yang diterima. Iya, bagi kami kebersamaan adalah hal yang membahagiakan. Ternyata, bekerja seberat apa pun jika bersama dengan tim yang solid maka pekerjaan terasa mudah dan tidak menjadi beban.

Beruntung, saat itu kami punya bos yang perhatian dan tidak pelit. Jika anak buah lembur maka esoknya, ibu buah tak segan akan mentraktir atau mengajak jalan-jalan. Itu semua demi kebahagiaan anak buah. Itu semua untuk semangat kerja anak buah. Dan saya banyak belajar dari beliau. 

Kebersamaan dengan mereka adalah salah satu hal yang membahagiakan dalam hidup saya. Pulang malam masih memakai baju korpri lalu lanjut makan nasi goreng. Pulang kerja makan bakso bersama. Jalan-jalan keluar kota ke tempat yang belum pernah kami datangi. Nguliner bersama. Guyon sampai terbahak-bahak di kantor. Mendengarkan musik bersama di kantor. Karaoke bersama. Narsis bersama. 


Hei Ju, I miss our togetherness so much.
I miss our crazy life time.

Believe me, you are still my best partner in crime.
No one who crazy like you.

Do you still remember?
When the world is still belong to us.^-^. 


*Kangen suasana kantor yang solid kayak dulu.

















Continue Reading…

Thursday, June 09, 2016

Bapak-bapak Ngumpul

Bersosialisasi adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika bisa bersosialisasi dengan tetangga yang merupakan saudara terdekat kita. Sejak pindah rumah dari yang lama ke yang baru, saya dan pak suami mengalami perubahan dalam bersosialisasi. Perubahan yang nyata adalah seringnya pak suami ikut nongkrong kalau ada bapak-bapak yang ngumpul. 

Maklum lah, tetangga di rumah lama sedikit sekali. Depan rumah dan samping kanan masih berupa kebun. Tetangga di sebelah kiri sudah tua dan obrolannya kurang nyambung. Ada sih yang seumuran tapi kalau pulang kerja pagi. Nah, keadaan ini yang membuat pak suami nggak pernah ngumpul bareng bapak-bapak. 

Keadaan berbalik saat kami tinggal di lingkungan baru. Awal-awal pindah, kalau weekend pasti ada saja bapak-bapak yang ngumpul. Dimulai dari obrolan antara dua bapak kemudian nambah lagi dan lagi. Tak lama kemudian, terdengar suara gelak tawa mereka pecah. 

Beneran nih, waktu awal pindah, obrolan antara dua bapak bisa nambah dengan bapak-bapak yang lain. Mereka ngobrol dari pagi sampai siang. Betaaah banget. Saking betahnya, kadang mereka mencari tempat yang adem supaya bisa dilanjutkan ngobrolnya. Mungkin kalau tidak ada teriakan dari anak-anak atau ibu-ibu, mereka bakal lupa waktu, hahahahaha. 

Bapak-bapak kalau ngumpul tak kenal waktu dan tempat. Bisa pagi, tapi seringnya malam hari terutama saat mau libur atau weekend. Kalau weekend atau libur, bapak-bapak bisa ngumpul sampai pukul 01.00. Iya, dini hari, Ciiiin!! Dan mereka asyik aja goleran di jalan. Seru deh kalau melihat guyub yang seperti ini, hahahaaha. 

Jujur, seringnya saya nggak tahu pak suami ngumpul sama bapak-bapak pukul berapa. Hawong, pak suami kalau keluar rumah saat saya sudah tidur. Mungkin bapak-bapak yang lain juga, menunggu saat anak mereka sudah bobok. Alasannya sih, biar nggak ada yang ngrecoki atau nyuruh pulang. Hahahahaha.

Saat saya terbangun dan mendapati pak suami ngilang, pikiran saya pasti lagi ngumpul sama bapak-bapak. Dan benar, saya sering mendengar gelak tawa yang memecah sunyi dan syahdunya malam*halah. 

Baru-baru ini, selepas tarawih, pak suami ngobrol dengan seorang bapak yang juga ikut tarawih. Dari obrolan antara dua orang menjadi obrolan beberapa orang. Mereka ngobrol sambil berdiri, lho. Saya tahu karena mereka ngobrol di depan rumah. Selama belum tidur, saya lihat pak suami bolak-balik ke kamar mandi. Tapi setelah itu ya keluar lagi untuk melanjutkan obrolan yang belum tuntas. 

Dari yang semula nggak ngantuk akhirnya saya tinggal tidur sendirian di kamar. Ketika sahur, saya tanya ke pak suami semalam ngumpul sampai jam berapa. Katanya sih sampai pukul 21.45. Haaaa, mereka betah berdiri dari pukul 20.00-21.45. 

Bagaimana sikap saya sebagi istri?

Saya sih santai dan enjoy saja dengan bapak-bapak yang suka ngumpul ini. Wajar lah karena dunia lelaki memang seperti itu. Saya menganggap ini salah satu me time-nya bapak-bapak. Kasihan kan mereka sudah stress atau jenuh dengan kerjaan kantor. Dengan ikut ngumpul seperti ini, saya yakin stress mereka berkurang *sotoy. Jangan salah, bapak-bapak juga suka curhat, lho. Tapi curhatan mereka berbeda dengan ibu-ibu. Curhatan bapak-bapak mah seputar masalah lelaki dan lebih banyak guyonnya ketimbang bapernya. Hahahaha. 

Selain stress berkurang karena curhat, kadang mereka juga tahu apa yang menjadi trending topic di kompleks. Selain curhatan, bapak-bapak kalau ngumpul sejatinya ada permasalahan yang dibahas, kok. Misalnya saja membahas security, sampah, atau fasilitas yang ada di komplek. Pembahasan mereka sih simple karena lelaki nggak suka ribet. Pembahasan sambil diselingi obrolan ringan atau guyonan kan malah enak, istilahnya serius tapi santai. Apalagi kalau ditambah dengan aneka jajanan. Waini, yang bikin bapak-bapak tambah betah ngumpul.

Kalau bapak-bapak ngumpul, ibu-ibu turut berperan kok. Peran ibu di sini dengan menyiapkan camilan atau jajanan. Nggak semua bawa sih yang penting ada camilannya. Kadang ada yang menyediakan teh, kue, cireng, gorengan, pisang, dll. Seringnya bapak-bapak di sini membuat susu jahe sendiri. Mereka ngobrol sambil membakar jahe dan merebus air. Setelah air matang, baru deh mereka bikin susu. Nikmat dan gayeng ya kalau begini. 

Saya sih senang kalau melihat pak suami juga senang. Iya, prinsip saya sesimple itu. Jadi, selama pak suami bahagia dengan acara ngumpul ini, saya nggak keberatan. Terserah saja pak suami mau ikut ngumpul atau enggak.

Etapi dengan satu syarat, pak suami harus transfer cerita lucu minimal satu, hahahahahaha. Soalnya saya suka tertawa sendiri jika mendengar mereka terbahak-bahak. Penasaran sih apa yang ditertawakan. Dan, setelah mendengar siaran ulang dari pak suami, saya pun tertawa terpingkal-pingkal. Saya membayangkan kalau bisa mendengar cerita lucu tersebut secara live. Huahahahahaha. 

Hhmm, saya nggak memaksa sih kalau pak suami mau cerita atau enggak. Seringnya sih apa yang sedang menjadi permasalahan di kompleks, diceritakan lagi sama pak suami. Dengan begini, saya jadi tahu permasalahan di lingkungan tempat tinggal. Saya juga yakin kalau ada cerita yang under cover dan sengaja tidak diceritakan ke saya biar nggak baper, hahahaha. 

Dengan adanya kegiatan bapak-bapak ngumpul, saya merasakan perubahan pada pak suami. Dulu, yang awalnya saya kenal pendiam dan kurang suka bersosialisasi ternyata berbeda setelah ikut ngumpul-ngumpul. Yang saya kira nggak bisa bercanda ternyata bisa juga bikin suasana cair. 

Percayalah, kegiatan bapak-bapak ngumpul ini merupakan aktivitas yang positif dan termasuk me time yang murah meriah daripada mereka harus ngumpul dengan teman-teman kantor di kafe atau mall. Bener, kan? ^-^




















Continue Reading…

Tuesday, June 07, 2016

Revolusi Iran dan Jilbab di Indonesia

Obrolan malam antara saya dan pak suami tetiba membicarakan soal jilbab. Kata pak suami, pemakaian jilbab di Indonesia tak lepas dari revolusi Iran. Saya yang mendengar ini langsung kaget sebab beberapa minggu sebelumnya, pernyataan pak suami sama dengan ucapan salah satu teman chatting di Line. Ada hubungan apa antara revolusi Iran dan jilbab di Indonesia?

Saya memutuskan googling untuk mencari tulisan mengenai hal ini. Maklum, saya gagap soal politik yang seperti ini. Akhirnya saya pun membaca beberapa tulisan yang membahas tentang revolusi Iran serta jilbab di Indonesia. Serasa mengulang pelajaran PSPB atau sejarah. Anyway, ada yang tahu kepanjangan PSPB, nggak? Hahahahaha, ketahuan angkatan jadoel, ya.

#Revolusi Iran dan Jilbab di Indonesia 

Seperti yang terangkum di Wikipedia, revolusi Iran pada tahun 1979 merupakan perubahan Iran dari sistem monarki menjadi Republik Islam. Revolusi ini bukan karena kekalahan perang, krisis moneter, atau ketidakpuasan terhadap militer. Revolusi ini mengalahkan sebuah rezim yang dibekingi oleh kekuatan angkatan bersenjata besar-besaran. 

Revolusi di Iran terjadi karena pemerintahan monarki yang saat itu dipimpin oleh Shah Muhammad Reza Pahlevi dianggap menjalankan pemerintahan secara brutal, korup, dan boros. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah menyebabkan perekonomian tidak efisien dan Shah Muhammad cenderung mengambil kebijakan yang mengutamakan pendekatan dengan kekuatan barat (USA).  Dia juga dianggap sebagai pemimpin yang sekuler. Hal-hal inilah yang menyebabkan benturan dengan identitas muslim Iran serta cara pandang rakyatnya yang sangat menghormati agama dalam kehidupan sehari-hari. 

Ketidakpuasan atas rezim ini menghasilkan perubahan yang sangat besar. Iran dari sistem monarki berubah menjadi Republik Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini. Pada tanggal 1 April 1979, Iran secara resmi menjadi Republik Islam melalui referendum yang disetujui oleh sebagian besar rakyat Iran. 

Beberapa sumber yang saya baca menyatakan bahwa revolusi Iran pada tahun 1979 berpengaruh pada wanita muslim di Indonesia untuk memakai jilbab. Pada saat itu, perjuangan wanita muslim di Indonesia terkendala oleh berbagai peraturan yang melarang penggunaan jilbab. Iya, pada era 1970-1980 para wanita muslim di Indonesia dilarang memakai jilbab oleh pemerintah Orde Baru. 

Hubungan antara pemerintah Orba dengan Islam sempat mengalami kondisi yang buruk. Saat itu, banyak pejabat di era tersebut menganggap bahwa Islam merupakan ancaman politik sehingga pemerintah banyak melakukan penekanan. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah Orba juga banyak yang merugikan umat Islam. 

Contohnya, pada tahun 1979 di Sekolah Pendidikan Guru Negeri Bandung, pihak sekolah hendak memisahkan murid yang memakai jilbab. Namun hal ini ditolak oleh mereka yang berjilbab. Sejak saat itu, pelarangan memakai jilbab di sekolah mencuat apalagi larangan tersebut disahkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan dibuatnya SK 052. 

Sementara itu di tahun yang sama yaitu sekitar tahun 1979 sampai 80-an, masa ketika revolusi Iran sedang berlangsung. Perempuan-perempuan muda Iran diberitakan oleh media sedang berjuang lengkap dengan pakaian berjilbab. Hal inilah yang menginspirasi wanita muslim di Indonesia untuk memakai jilbab. 

#Jilbab Saat Ini 

Pemakaian jilbab di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat pesat terutama di tahun 2000-an. Jilbab saat ini mengalami evolusi yang luar biasa fenomenal. Iya, saat ini banyak sekali wanita Indonesia yang memakai jilbab. Tujuan mereka memakai jilbab berbeda-beda. Bagi sebagian orang, memakai jilbab bukan hanya faktor kepatutan, privasi, menjalankan syariat agama, tapi juga sudah menjadi life style. 

Dulu, orang hanya tahu tentang 'jilbab' saja, sebuah kain segi empat, agak tebal, dan dipakai untuk menutup kepala. Bentuk 'jilbab' tempo doeloe yang hanya disematkan dengan peniti menjadi bentuk yang umum dan lumrah di masyarakat.

Kini jilbab banyak mengalami evolusi. Dari yang semula hanya 'jilbab' biasa menjadi aneka sebutan yang beraneka ragam mulai dari ciput, khimar, bergo, pasmina, dll. Hingga terkenal sebutan hijab fashion dan saat ini menjadi life style di Indonesia. Life style inilah yang membuat jilbab semakin beragam dan membentuk suatu bisnis serta komunitas baru. Komunitas hijaber bertebaran di mana-mana. Mereka memakai jilbab sangat stylish dengan padu padan warna dan corak.  

Tak dapat dipungkiri bahwa peran dunia luar sangat berpengaruh pada perkembangan jilbab di Indonesia, misalnya dari Malaysia, Turki, dan Arab. 

Iya, perkembangan jilbab atau sekarang lebih dikenal dengan hijab fashion di Indonesia luar biasa fenomenal. Dari yang dulunya hanya kain biasa menjadi aneka rupa produk yang dikembangkan oleh para designer. Mereka merancang aneka fashion dengan mengadopsi busana dari luar negeri. Adopsi fashion disesuaikan dengan selera wanita Indonesia, maka terciptalah aneka mode hijab di pasaran.

Perkembangan ini sejalan dengan pesatnya penggunaan media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat. Produk tergres dari designer terkenal yang baru diposting, esoknya produk sejenis dan 'ala-ala' langsung membanjiri pasaran. Bahkan, para pesohor negeri juga turut andil dalam perkembangan fashion ala-ala ini. Jika artis Syahrini atau Inneke sedang memakai hijab fashion dan posting di akun media sosial mereka maka masyakarat akan menyebutnya abaya 'Syahrini' atau hoodie 'Inneke'. Pesona pesohor negeri ini masih menarik masyarakat untuk berbusana. 

Adanya fenomena yang luar biasa ini membuat jilbab menjadi sebuah komoditi baru. Komoditi dagang yang luar biasa besar. Dengan jumlah umat muslim terbesar di dunia maka tak heran jika para designer handal Indonesia ingin menjadikan negeri ini menjadi kiblat fashion muslim dunia. 

Sebagai sesama muslim, saya pun turut senang dengan adanya fenomena yang baik ini. Iya, saya senang jika jumlah wanita muslim Indonesia yang memakai jilbab bertambah banyak. Namun terkadang kesenangan ini membuat saya tertegun ketika melihat mereka yang berjilbab dengan aneka model yang masih dianggap kurang mencerminkan sebagai muslim oleh sebagian masyarakat.

Kita semua tahu, banyak orang yang memakai jilbab tapi masih berpakaian kurang sopan. Keadaan ini pernah menggegerkan dunia maya dengan istilah jilboob. Tak perlu lah saya menjelaskan lagi fenomena tersebut karena saya yakin Teman-teman sudah banyak yang tahu. 

Selain itu, saya juga tertegun ketika salah satu teman memberitahukan tentang jilbab-jilbab baru yang bahkan ada komunitasnya. Hhmm, tak perlu saya sebutkan komunitas tersebut di sini. 

LUAR BIASA fenomena hijab fashion ini di Indonesia. Sebagai masyarakat, saya ikut senang karena semakin banyak pilihan untuk berbusana tanpa meninggalkan identitas sebagai muslim itu sendiri. 


#Bersyukur Hidup di Indonesia

Tinggal di Indonesia membuat saya banyak bersyukur karena negeri ini tidak mempunyai paksaan kepada warganya untuk berjilbab. Saya menemukan artikel dari CNN Indonesia yang ini. Ceritanya, setelah revolusi Iran, pemerintah membuat peraturan yang mewajibkan wanita Iran untuk berjilbab. Untuk melaksanakan aturan ini, pemerintah menyiapkan polisi moral yang akan memenjarakan atau menghukum wanita yang kedapatan tidak memakai jilbab. Keadaan ini membuat wanita modern Iran merasa terkekang. Mereka lebih suka memakai celana panjang dan penutup kepala alih-alih menggunakan jilbab untuk menutupi kepala dan leher. 

Nah, jurnalis Iran bernama Masih Alinejad membuat laman di Facebook untuk menyuarakan kebebasan kaum wanita modern di sana. Dia mengajak wanita Iran untuk melepaskan jilbab di area publik kemudian mengunggahnya di Facebook. Aksi  Alinejad ini mendapat banyak respon dari masyarakat Iran. Maka, jurnalis ini menerima penghargaan HAM di Geneva, Swiss. 

Wow, saya tercengang membaca ini. Saya tercengang karena membandingkan keadaan ini di Indonesia. Di negeri kita yang diakui sebagai negeri muslim terbesar dunia memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk berjilbab atau enggak. Tidak ada hukuman untuk tidak berjilbab kecuali di daerah yang melaksanakan syariat Islam dengan kental.

Saya memang berjilbab dan senang jika melihat banyak wanita muslim yang berjibab. Namun alangkah baiknya jika mereka berjilbab dari hati bukan karena mengikuti tren saja. Saya yakin semua itu butuh proses. 

Awalnya saya juga berjilbab masih ala kadarnya namun lama-kelamaan menemukan gaya nyaman sendiri setelah berjilbab. Nggak perlu meniru orang lain tapi ikutilah kata hatimu untuk berjilbab. Saya juga bersyukur ketika tahu bahwa beberapa instansi juga sudah memberikan kelonggaran kepada pegawainya untuk berjilbab. Sebetulnya jilbab itu tidak mengurangi peran wanita untuk berkarya di bidangnya masing-masing. 

Yang saya tahu, wajar jika ada orang yang ingin menjalankan perintah agama dengan baik. Memakai jilbab atau enggak itu urusan pribadi masing-masing masyarakat. Dan, orang lain juga tidak berhak untuk melarang orang memakai jilbab. 

Adanya banyak perbedaan di masyarakat menimbulkan banyak pula atribut pada orang berjilbab yang malah kadang menimbulkan stereotipe sehingga membuat sebagian masyarakat berpandangan aneh, menjadi takut atau melakukan diskriminasi.  

Setelah melalui proses selama berjilbab akhirnya saya sadar bahwa saya tidak berhak menghakimi orang lain hanya berdasarkan atas apa yang mereka kenakan. Pakaian bukan tolak ukur untuk menilai seseorang. 

Sekian curhatan kali ini dan terima takjil kasih.^-^.


Referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Islam_Iran

http://www.boombastis.com/pemakai-jilbab/47891

http://dennyja-world.com/polemik-diskusi/read/31

http://www.cnnindonesia.com/internasional/20150225014108-120-34599/jurnalis-asal-iran-raih-penghargaan-ham-untuk-kampanye-jilbab/






















Continue Reading…

Friday, June 03, 2016

Kesibukan Sebelum Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan. Nggak terasa ya kalau sebentar lagi mau Ramadhan. Saya selalu senang kalau bulan suci Ramadhan tiba. Entah lah, rasanya ada suasana yang berbeda di bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan bulan yang lain. Padahal kalau dipikir aktivitas selama Ramadhan sama seperti bulan-bulan lainnya. Mungkin karena orang-orangnya lebih sabar kali ya, jadi suasananya beda. Hahahaha. 

Meski Ramadhan tinggal menghitung hari tapi kesibukan menyambut bulan suci ini bagi beberapa orang nggak bisa dibilang mudah, terutama buat saya pribadi. Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan ini dan itu supaya pas puasa nanti lebih tenang dan fokus. Nggak tahu deh kalau Teman-teman bagaimana, apakah juga sibuk menjelang Ramadhan. 

Beberapa kesibukan sebelum Ramadhan yang terjadi di masyarakat terbilang unik. Saya bilang unik karena kesibukan tersebut nggak hanya untuk persiapan puasa saja tapi juga untuk menyambut lebaran.

Lha wong beberapa timeline di media sosial atau grup chatting sudah ada yang menawarkan aneka kue lebaran. Pelapak hijab fashion juga sudah woro-woro batas akhir pemesanan supaya barang bisa sampai ke customer sebelum lebaran. 

Hhmm, padahal puasa saja belum tapi hiruk pikuknya sudah menggema jauh-jauh hari dari persiapan sebelum puasa sampai menjelang lebaran. Jangan salah lho, saya salah satu diantaranya. Iya, saya termasuk orang yang agak rempong sebelum Ramadhan, hahahaha. 

Saya memang tipe orang yang suka prepare jauh-jauh hari (kecuali untuk belajar, sukanya pakai sistem kebut semalam, hahahaha). Saya males banget kalau harus antre panjang atau berdesak-desakan membeli barang di pusat perbelanjaan. 

Karena apa?

Dari awal puasa sampai mau lebaran, banyak banget orang-orang yang datang ke pusat perbelanjaan. Mereka ada yang mau belanja untuk persiapan lebaran, beli baju baru, buka bersama, atau hanya untuk window shopping aja. 

Dulu, sewaktu awal menikah, saya sempat mengalami hal ini. Maklum, saat itu masih penyesuaian menjadi pasangan baru dan masih beradaptasi di tempat yang baru pula. Minggu kedua Ramadhan, biasanya saya dan pak suami belanja persiapan lebaran di mall. Belanjaan tersebut bukan untuk kami saja namun untuk keluarga juga. Kebayang ya, banyaknya belanjaan saat itu. Apalagi mall selalu penuh karena masyarakat juga punya tujuan yang sama. Pyuh, lelahnya hayati awak saat itu.

Kejadian tersebut membuat saya nggak sanggup karena benar-benar bikin capek. Akhirnya berdasarkan pengalaman yang nggak mengenakkan tersebut, saya sudah mempersiapkan segala keperluan selama puasa sampai lebaran sebelum Ramadhan tiba. 

Apa saja kesibukan saya sebelum Ramadhan?  

#Hunting Tiket Mudik

Waini, bagi perantau yang mau mudik ke kampung halaman menggunakan transportasi umum jangan sampai kehabisan tiket mudik. Secara suasana ngumpul bareng keluarga besar terasa guyub di saat lebaran, kan?

Kalau lebaran, saya dan pak suami lebih suka mudik naik kereta api. Pengalaman hunting tiket kereta yang sistemnya error melulu sudah menjadi hal biasa. Hunting tiket tengah malam, kami jabanin. Kalau sistem error, kami tinggal tidur lagi. Pas subuh mau hunting lagi, nggak tahunya tiketnya sudah habis. Hahahahaha, seru sih hunting tiket yang beginian.

Kadang nih, kalau tiketnya masih, pilihannya beda gerbong. Lalu pencarian tiket pun dilanjut lagi sampai dapat meski mudiknya mepet dengan lebaran. Tak mengapa, asal bisa lebaran bersama keluarga di kampung halaman. 

Bagi Teman-teman yang mudik menggunakan kereta api, pemesanan tiket dibuka sejak H-90 (3 bulan) sebelum keberangkatan. Kalau nggak mau begadang seperti kami, Teman-teman bisa pesan tiket di agen. Perhatikan cara pemesanan di agen tersebut supaya bisa dapat kursi. Mereka nggak bisa melayani pemesanan tiket yang dadakan apalagi jika Teman-teman nggak melampirkan data yang lengkap. Agen tiket juga manusia, Ciiinnn! 

#Belanja Keperluan Puasa dan Lebaran

Menjelang Ramadhan, berbagai kebutuhan untuk puasa dan lebaran sudah ada di pusat perbelanjaan dari mulai pakaian sampai makanan. Barang-barang ini sangat laris diborong pembeli. Dari minggu pertama Ramadhan sampai menjelang lebaran tempat belanja selalu penuh. Hal ini membuat pengunjung antre berjam-jam untuk membayar di kasir. 

Saya pernah mau belanja barang sebelum lebaran dan terpaksa balik lagi begitu melihat antrean panjang di kasir. Nggak sanggup kalau harus ikut antre. 

Untuk menyiasati hal tersebut, saya dan pak suami nyetok makanan dan belanja untuk kebutuhan dua bulan sekaligus. Misal nih, puasa jatuh di bulan Juni. Maka akhir Mei atau awal Juni, saya dan pak suami belanja bulanan untuk bulan Juni dan Juli. Selain belanja rutin bulanan biasanya kami juga belanja untuk keperluan lebaran sekaligus. Biasanya barang yang banyak dibeli yaitu makanan untuk stok selama Ramadhan dan persiapan lebaran. Jadi selama Ramadhan, kami nggak pernah ke mall meski hanya untuk window shopping. Kalau ada yang kurang, tinggal beli di warung atau mini market terdekat. 

#THR

Meski bagi-bagi THR menunggu kalau bonus dari kantor cair tapi ada baiknya jika besarnya THR dan siapa yang menerima dibikin list. Catat semua keponakan, orang-orang yang ingin kita santuni atau yayasan yang ingin kita bantu. Dengan membuat list THR, pengeluaran untuk anggaran ini bisa dikontrol dengan baik. 

#Bersih-bersih Rumah

Datangnya bulan Ramadhan ibarat tamu agung yang berkunjung ke rumah. Kalau ada teman yang mau main ke rumah, biasanya kita pencitraan kan biar rumah terlihat rapi dan bersih. Hahahahaha. Kalau teman saja diperlakukan demikian, maka sudah selayaknya jika Ramadhan juga disambut dengan rumah yang bersih supaya lebih nyaman untuk beribadah. 

Hhmm, saya masih ada pe-er nih untuk membersihkan rumput liar di taman. 

#Mempersiapkan Hati

Waini, yang nggak kalah penting yaitu mempersiapkan hati sebelum Ramadhan. Gampang sih ngomongnya tapi susah banget dijalani. 

Jika Ramadhan tiba, siapkah kita untuk nggak kepo sama kehidupan orang lain? Siapkah untuk menjadi orang yang lebih sabar? Siapkah kita untuk nggak ngegosip di Whatsapp atau Line? Hahahaha. 

Haduuuhh, berat banget ini. Semoga ya saya bisa mempersiapkan hati selama Ramadhan. 

Etapi yang rada susah bagi saya mungkin ngegosip di Line sama teman yang tek-tok. Dari yang semula cuma menanyakan kabar aja malah merembet ke hal-hal lain yang malah bikin kepo. Huahahahahaha. *Balang brambang deh ke kamu yang merasa melakukan ini :p 

Oia, melalui postingan ini saya mohon maaf lahir batin ke Teman-teman yang sudah mampir ke blog ini. Maaf ya kalau saya ada salah-salah kata dalam menulis. Saya mohon maaf jika ada perkataan dan perbuatan yang nggak sengaja saya lakukan dan menyakiti hati Teman-teman. Semoga kita dapat menjalani bulan Ramadhan tahun ini dengan baik, ya. Aamiin.

Anyway, sebelum Ramadhan Teman-teman sibuk ngapain, nih?




















Continue Reading…

Tuesday, May 31, 2016

Ikhtiar Hamil ke Sukimin Taryono (Lagi)

Entah ini kunjungan yang berapa kali saya berobat ke Sukimin Taryono. Saya pertama kali ke Sukimin tahun 2015 dan pernah saya ceritakan di sini. Terus kunjungan terakhir pada awal Maret 2016 lalu. Saya menulis ini karena ada beberapa email yang masuk menanyakan ikhitar hamil ke Sukimin Taryono. Sebagian besar dari mereka menanyakan apakah saya sudah hamil atau belum. 

Oke, saya cerita dulu ya. 

Jadwal mens saya itu nggak teratur. Jadwal mens tersebut pada bulan Januari (tgl 23) dan Februari (tgl 28). Karena bulan Februari dapat pas akhir bulan maka awal bulan Maret saya ke Sukimin Taryono. Sebenarnya sih yang ngajakin berobat ke sana pak suami. Saya nurut aja. 

Awal Maret saya dan pak suami ke Sukimin Taryono. Seperti biasa, kaki saya dipijat karena saat itu masih hari ke-3 mens. Sedangkan pak suami karena nggak ada keluhan apa-apa, boleh dipijat atau enggak. Saat itu pak suami minta dipijat karena sudah jauh-jauh ke sana dan pengin lebih rileks aja, hahahaha. 

Setelah dipijat, saya ditawari beli ramuan kayak jamu gitu. Ramuannya terdiri dari rempah-rempah yang siap direbus. 

Awalnya saya ditawari yang harganya 700ribu. Maaf, harga segitu dapat berapa bungkus, saya lupa. Kayaknya untuk 7 hari minum, deh. Eh, ternyata saya pernah beli jamu yang 700ribuan itu. Pernah saya ceritakan di sini juga. Nah, yang harga segitu minumnya disuruh pakai air rebusan paha ayam. Oia, fyi, saat ini saya jarang makan ayam di bagian paha. Kalau beli ayam seringnya bagian dada tanpa sayap dan kulitnya minta dibuang. Tapi kalau makan di mekdi atau kaefci sih anteng aja makan ayam setulang-tulang dan sekulit-kulitnya, hahahahaha. Nggak papa lah, saya jarang banget kok makan di situ. Paling setahun sekali *serius lho ini.  

Daripada saya ribet beli paha ayam, saya nanya ke Sukimin apakah ada jamu yang nggak pakai rebusan paha ayam. Terus saya dikasih jamu ini nih


Maaf ya Fotonya Agak Blur

Jamunya cuma 4 bungkus dan untuk pasutri. Harganya 900ribu. Iya, harga jamunya lebih mahal dari yang sebelumnya. 

Lalu di mana bedanya?


Dari perbedaan tersebut, Teman-teman jadi tahu kalau jamu yang 900ribu jumlahnya lebih sedikit jadi cuma diminum 2 hari saja. Hal ini beda sama jamu 700ribu yang harus diminum sekitar seminggu. 

#Setelah Minum Jamu, Gimana?

Hhhhmm, setelah minum jamu biasa sih. Saya sempat nggak mens pada bulan Maret. Jujur, agak deg-degan dan berharap semoga bisa hamil. Etapi pas awal April saya malah mens dan lanjut pada bulan Mei. 

Saat ini saya dan pak suami sudah berada di titik lelah. Kami hanya pasrah aja, deh. Mencoba menikmati hidup sebaik-baiknya, banyak berdoa, dan rajin berolah raga. 

Gitu aja dulu sharing saya tentang ikhtiar hamil kali ini. Sekali lagi, terima kasih buat Teman-teman yang sudah mau berbagi lewat komen di blog atau email saya. Semangat ya, Teman-teman :))






















Continue Reading…

Friday, May 20, 2016

Buka Mata, Hati, dan Telinga

Seminggu belakangan ini saya merasa galau rauwis-uwis. Kegalauan tersebut pasti ada sebabnya. Galau setelah membaca postingan blogger yang saya ikuti kemudian galau karena ngeklik akun yang nggak sengaja saya temukan. Kegalauan tadi akhirnya membuka mata, hati, dan telinga saya. 

Kadang, saya berpikir kok bisa ya semua yang saya baca, lihat, dan dengar lagi-lagi membuka hati saya untuk lebih sadar akan besarnya dunia ini. Besarnya dunia hanya mengingatkan saya betapa kecilnya saya. Padahal saya sudah berusaha untuk tahu dan memahami. Tapi, setelah saya baca lagi ternyata saya belum benar-benar tahu. Iya, dunia ini berisi aneka macam orang dengan urusannya masing-masing yang kadang bikin pusing. Toh, dengan membaca dan memahami kehidupan mereka maka saya menarik kesimpulan, inilah hidup yang penuh warna. 

Hahahaha, ngomong apa sih ini? 

Ya sudah, yuk ngomongin yang bikin saya galau.

#Memahami Perbedaan

Ini gegara saya membaca postingan blogger 'sunyi'. Iya, saya menyebutnya demikian karena blognya isinya cuma tulisan dan tulisan tok! Jangankan foto, identitas si empunya blog pun sangat minim dan bikin penasaran. Namun followers blog dan media sosialnya nggak sesunyi blognya, jumlahnya ribuan. Saya maklum karena memang tulisan blogger ini bernas dan cetar, berkisah kehidupan yang terjadi di masyarakat. 

Tulisannya di awal Mei kemarin ada yang membuat saya mengiyakan dan sependapat dengannya. Dia menulis tentang keheranannya melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang berdebat soal datangnya puasa, natal, tahun baru, dll. Berbagai perdebatan dan nyinyiran akan memenuhi media sosial yang isinya itu-itu saja tiap tahun. Hal-hal yang diributkan sudah usang dan semua orang juga paham. 

Jika puasa Ramadhan tiba, biasanya yang diperdebatkan soal warung yang boleh buka mulai jam berapa, pakai penutup atau enggak, dan penetapan awal puasa yang merembet ke penentuan tanggal 1 Syawal atau lebaran. 

Sebagai umat muslim, kalau kita memang niat puasa, saya yakin mau datang godaan apapun pasti niat tak akan goyah. Kalau bisa dengan niat tersebut, kita akan menuntaskan puasa sampai selesai. Godaan saat puasa banyak. Godaan soal makanan mah ini hanya godaan yang kecil. Masih banyak hal lain yang bisa bikin konflik batin saat puasa lho, nggak melulu soal makanan. 

Oia, saya pernah diceritain pak suami tentang indahnya perbedaan. Di dalam Islam sendiri pun ada banyak banget perbedaan. Jujur, saya nggak terlalu paham karena ilmu agama saya masih cetek banget. 

Ceritanya sewaktu di Jepang, setiap ketemu sesama muslim itu rasanya seneng banget. Berasa nggak sendirian. Ketemu sesama muslim dan hanya tersenyum itu rasanya udah nyes banget, deh. Apalagi kalau ada yang mengucapkan salam. Maklum, muslim di sana masih minoritas. 

Nah, kantornya pak suami di Jepang ada tempat khusus untuk sholat. Setiap waktu sholat tiba, pak suami dan teman-temannya yang muslim akan menunaikan ibadah wajib tersebut. Di tempat sholat ini, pak suami kadang ketemu dengan muslim dari Iran. Mereka nggak saling kenal karena beda departemen. Namun, setiap orang Iran tersebut diajak sholat berjamaah, dia mau lho. Pun begitu dengan sholat Jumat. 

Di tempat ini, masing-masing orang akan mendapat giliran menjadi imam. Tapi, muslim Iran ini nggak mau kalau jadi imam. Dia hanya mau jadi makmum saja. Pak suami dan teman-temannya nggak mempermasalahkan hal ini. Nggak papalah, toh sudah sholat berjamaah saja udah seneng banget. 

Mendengar cerita pak suami tersebut saya merasa begitu indah dan damainya Islam di negeri yang notabene bukan negara muslim. Kebersamaan sangat terasa tanpa penuh tanya ataupun nyinyir sana-sini. Yang mereka tahu, mereka sama-sama muslim dan menyembah Tuhan yang sama. 

Lalu tentang memberi ucapan saat natal.

Coba deh perhatikan ramenya media sosial tentang perdebatan soal ini yang tiap tahun isinya sama. Boleh atau nggak mengucapkan natal. Kalau Teman-teman memang ingin mengucapkan selamat natal, ya sudah ucapkan saja. Kalau ada yang tidak ingin mengucapkan, ya silakan. Mereka pasti punya pertimbangan sendiri-sendiri kok. Dan, pengguna media sosial juga banyak yang sudah dewasa. Mereka pasti tahu akan semua yang diucapkan dan dilakukannya. 

Lucunya, pas natal kemarin saya nggak sengaja membaca timeline facebook yang isinya status seorang blogger terkenal. Blogger tersebut beragama nasrani. Statusnya kurang lebih seperti ini,

"Kalian mau ngucapin selamat natal atau enggak, itu nggak mengurangi kebahagiaan dan keceriaanku merayakan natal."

See? Dia saja legowo dan maklum dengan kondisi yang terjadi di dunia maya dan nyata. 

Jadi, perbedaan itu pasti ada. Terima saja perbedaan yang ada di masyarakat. Bukan perbedaannya yang dipermasalahkan tapi bagaimana reaksi kita menghadapi perbedaan tersebut. Lakukanlah semua itu dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang lain. Kalau kita sendiri disakiti pasti nggak enak, kan?

#Profesional Dancer

Ini semua bermula dari yang namanya kebetulan, hahahahaha. Bermula dari ajakan pak suami agar saya mau ngegym. Beliau rela mengambil brosur dan jadwal di salah satu tempat gym yang lokasinya dekat rumah. 

Di tempat gym tersebut, ada pilihan member yaitu gym only atau gym plus. Harga member per bulannya tentu saja beda. Nah, pak suami menyarankan saya untuk ikut member gym plus. Artinya, selain ngegym saya juga bisa ikutan aerobik, yoga, zumba, aerocombat, dan belly dance. Semua itu terserah member, mau ikut kapan saja. Jadwal sudah tersedia. 

Saya cuma diam dan merenung mau ikut ngegym dan kelas senam ini-itu. Tapi kemudian ragu kalau saya nggak bisa menepati sendiri. Jika sudah jadi member dan nggak aktif ikut ngegym atau senam, sayang banget kan uangnya. Jadi saya cuma bolak-balik brosur tersebut dan melihat jadwal kelas senam, hahahahaha. 

Nah, pas melihat brosur, mata saya tertuju pada foto kelas belly dance. Pakaian yang ikut senam belly dance kayak penari dari Timur Tengah. Iya, penari Timur Tengah yang pakaiannya warna-warni, seksi, dan memakai celana harem. Saya hanya diam melihat itu lalu mikir. Kalau saya ikut belly dance, apa pakaian saya harus seperti mereka? Kalau iya, kayaknya nggak sanggup, deh. Hahahahhaha, nggak pede, Kakaaak. 

Bermula dari itu saya akhirnya searching tentang belly dance. Nggak sengaja pula saya nemu akun media sosial seorang profesional belly dancer di luar negeri. Haduh, melihat mereka saya seperti terintimidasi. Tubuhnya bagus banget, Ciiiin!! Sebagai sesama wanita, saya iri dan minder sama mereka, hahahahaha. 

Ngomongin belly dancer di luar negeri, saya merasa ini udah menjadi sebuah profesi, ya. Kalau di Indonesia, saya kurang tahu banyak. Di Indonesia, belly dance biasanya ada di sangar-sanggar senam dan sepertinya belum menjadi profesi layaknya di luar negeri. 

Biar gampang, belly dancer yang saya kepoin sebut saja namanya X. Ketika stalking akun media sosial Mbak X, saya melongo. Foto-foto di akunnnya hampir semua tentang kegiatannya menari bersama teman-temannya. Foto-fotonya artistik. Saya suka bajunya yang warna-warni ditambah dengan liukan tubuh yang bagus. 

Hampir di semua akunnya baik facebook, youtube atau instagram, Mbak X ingin dikenal sebagai seorang penari.  Iya, jiwanya ada di menari. 

Seorang belly dancer apalagi yang profesional, mereka akan manggung di mana-mana termasuk di festival berskala internasional. Kayaknya sih nggak ada foto yang menceritakan kelas belly dance layaknya kegiatan di Indonesia yang hanya untuk senam. Mereka menari dan menari. Sesekali ada foto yang menceritakan liburan ke luar negeri bersama rombongan tarinya, bahkan mereka pernah di Bali. Selama di Bali, selain aktivitas berlibur, mereka juga mengunggah foto saat latihan dan menari bersama.

Saya menangkap bahwa kegiatan di Bali tersebut mirip retreat yang bisa memberikan pengalaman dan energi baru setelah mereka melakukan kegiatan ini. Hhhmm, mereka sangat menjiwai setiap gerakan meliuk ke kanan dan kiri. Bagi mereka, belly dance bukan hanya soal tari tapi juga pencarian jati diri. 

Hanya di akun instagram, Mbak X mengunggah foto bersama keluarganya. Kegiatan liburan atau berkumpul bersama keluarga dan teman non penari hanya ada di instagram. 

Di semua akunnya saya mengambil kesimpulan kalau Mbak X adalah seorang penari sejati dan dia bangga dengan profesinya. Menariknya lagi, selama dia menari ternyata penontonnya nggak cuma pria saja, lho. Banyak juga yang wanita. Para penonton tersebut juga sopan dan menghargai penari. 

Ketika melihat akun media sosial Mbak X, saya jadi tahu kalau profesi belly dancer itu nggak gampang. Bagi saya, nggak gampang ini banyak artinya. Misalnya waktu perform yang kebanyakan malam dan nggak di tempat tertentu. Iya, profesional dancer ini harus siap manggung di mana-mana, di kapal misalnya. Lalu, menghadapi penonton yang ada prianya juga butuh persiapan mental tersendiri. Bener, kan?

Hasil ocehan saya kali ini adalah murni curhat, hahahaha. Membaca tulisan blogger yang saya sebutkan di atas dan cerita seorang profesional belly dancer membuat saya lebih terbuka lagi. Iya, terbuka mata, hati, dan telinga saya untuk melihat aneka rupa yang ada di dunia ini. Saya tentu nggak bisa menyalahkan atau menjudge ini dan itu. Saya hanya melakukan apa yang saya yakini. Bagaimanapun, perbedaan pasti ada. Tinggal bagaimana kita memandangnya dan menyikapi perbedaan tersebut. Dan, kalau bisa jangan nyinyir.^-^.




























Continue Reading…
Powered by Blogger.

Member Of

Recent Posts

Recent Post no Thumbnail by Tutorial Blogspot

Follow Me

Contact Me

Name

Email *

Message *

Page Views

Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com