Friday, April 13, 2018

Ngeblog dengan Happy

Nggak terasa usia blog saya udah 4 tahun aja. Setelah ngecek di blog archived, ternyata saya pertama kali ngeblog pada bulan Maret 2014. Saat itu ngeblog sebagai pelampiasan karena bengong dan kesepian saat ikut dinas pak suami di negeri orang. Belum punya teman dan kenalan akhirnya cerita keseruan pengalaman selama tinggal di sana di blog. Bagi saya, blog semacam diary yang berisi curhatan dan info yang bisa dibagikan ke pembaca. Kalau ada yang merasa terbantu dengan cerita dan pengalaman yang saya bagikan, syukur deh. 

Sekitar 4 tahun lalu, sejujurnya saya nggak tahu sama sekali tentang dunia blogging. Semua saya mulai dan lakukan karena saya suka menulis. Bahkan ikut komunitas ngeblog juga karena googling sendiri. Waktu itu nggak ada yang saya kenal sama sekali. Niatnya cuma pengen nambah temen aja, sih. 

Pertama kali masuk komunitas blogging, saya merasakan semangat ngeblog yang saat itu masih tinggi. Kayaknya hampir semua blogger juga merasakan hal sama. Komunitas rame dengan sharing postingan antaranggota, sharing ilmu, dan marak give away yang diselenggarakan oleh blogger.

Namun, akhir-akhir ini saya merasa sebaliknya. Dunia blogging nggak serame dulu. Hm, lumayan sedih, sih. Sayang aja ya blognya nggak di-update.

Saya ngeblog karena murni suka menulis dan ingin berbagi, tanpa embel-embel apa pun. Makanya ketika bisa kenal sesama blogger karena blognya, senengnya minta ampun. Iya, saya suka banget blog walking ke blog personal. Membaca cerita sehari-hari mereka menambah wawasan saya tentang segala hal. Yang pasti, saya tumbuh dan menjadi lebih dewasa berkat membaca pengalaman-pengalaman mereka. 

Sayangnya, makin ke sini blog yang berisi curhatan cerita sehari-hari makin sedikit. Semakin berkembangnya dunia blogging, membuat banyak blogger ingin merawat blognya supaya bisa menghasilkan uang. 

Hal ini nggak salah, sih. Namun, menurut saya, alangkah baiknya jika blognya jangan diisi liputan event dan postingan berbayar melulu. Hal ini yang bikin pembaca jadi bosen karena rohnya blog itu sendiri jadi hilang. Blog yang biasa dikunjungi karena cerita-ceritanya yang lucu dan informatif jadi membosankan karena seakan berisi iklan melulu. 

Saya suka banget membaca #WeeklyJournal milik Alodita. Minggu kemarin, Alodita menceritakan alasan kenapa dia sekarang nggak serajin dulu ngeblognya. Hal ini juga berlaku untuk media sosialnya yang lain. Padahal sebagai seorang influencer, aktif di media sosial sangat diperlukan demi hubungan dengan followers.

Yang menarik dari postingannya yaitu saat dia pasrah dengan pekerjaan karena mengurangi aktivitasnya di dunia maya. Saat dia pasrah tersebut, ternyata tawaran pekerjaan malah datang terus-terusan. Dengan demikian, satu per satu keinginannya malah terkabul.

Ketika membaca postingan ini, saya merenung sejenak. Meresapi apa yang ditulis oleh Alodita. 

From Pixabay

Saya bukan seorang yang antusias dengan media sosial. Makanya, followers akun medsos saya sedikit jika dibandingkan dengan blogger yang lain. Hm, saya nggak peduli sih dengan hal ini. Asal tahu diri aja, kalau ada job yang mensyaratkan followers sekian, ya mundur teratur. 

Meski followers medsos sedikit tapi saya berusaha untuk tetap ngeblog. Yah, walaupun banyak bolongnya juga, sih. Hahahaha, maafkan, ya.

Dulu, hampir tiap update blog, saya share di grup komunitas. Rasanya senang ketika ada yang komen di blog. Saya akui itu. 

Tapi akhir-akhir ini, saya udah jarang banget sharing di komunitas. Nggak semua saya share. Hanya postingan tertentu yang sekiranya berisi informasi untuk diketahui orang, baru saya share. Kalau postingan yang isinya curhatan, seringnya nggak dipublish di media sosial, hahahaha.

Boro-boro sharing di grup komunitas, hawong membuka akun media sosial kayak Facebook dan Twitter aja jarang banget. Hahahaha, saya emang mengurangi interaksi di dunia maya, sih. 

Kalau masalah kerjaan, saya pasrah. Beneran pasrah, kayak Alodita, hahahaha. Dapet job ya syukur, nggak dapet ya nggak papa. 

Lah, saya niat ngeblog karena pengen berbagi, sih. Kalau dapet job, saya anggap sebagai bonus. Jika dibandingkan dengan blogger lain mah saya nggak ada apa-apanya. 

Tapi, anehnya, di saat seperti ini, hampir tiap bulan saya pasti dapat job dari brand atau agency. Alhamdulillah, disyukuri dan dinikmati aja ya. Nggak semua penawaran kerja sama tersebut saya terima, sih. Semua tergantung konten yang cocok dengan saya dan juga harganya. 

Meski tawaran job saya nggak sebanyak blogger yang lain namun saya sangat bersyukur. Saya nikmati dan jalani semua proses itu dengan happy. Ini merupakan salah satu cara saya untuk ngeblog dengan happy. 

Bersyukur, ketika mendapatkan job dengan fee yang sangat menghargai blogger. 

Kenapa saya menulis ini?

Yah, karena saya tahu di dunia blogging ada blogger yang mau menerima job dengan harga yang (maaf) menurut saya kurang pantas. Bukan, saya bukan matre. Tapi saya menghargai diri saya sendiri. Mulai dari membangun blog, sewa domain, dan mikir tulisan postingan berbayar itu nggak gampang, lho. Semua butuh pemikiran dan proses yang nggak instan. 

Kaget juga sih ketika tahu ada yang menerima tawaran job yang fee-nya jauh banget untuk sekali postingan. Makanya, ada blogger yang membuat status dan mengeluarkan uneg-unegnya tentang hal ini. Tapi balik lagi, semua tergantung pada pemilik blog, sih.

Alhamdulillahnya saya selalu mendapat job dengan harga yang pantas. Lumayanlah bisa buat jajan online atau isi pulsa listrik sebulan. Mayan banget.

Mungkin bagi blogger yang lain ini bisa dibilang sedikit, ya. Namun, saya nggak mau melihat ke atas terus, capek, hahahaha.

Saya juga nggak tahu dari mana brand atau agency tersebut tahu tentang saya. Padahal saya masih blogger biasa aja yang jarang banget ikut ngumpul atau event. Saya juga bukan blogger yang mementingkan followers akun media sosial. 

Saya hanya blogger yang suka menulis dan ngeblog dengan happy.

Kalau kamu, gimana, ngeblognya udah happy belum? ^-^

  
Continue Reading…

Wednesday, April 11, 2018

Whatsapp Grup Sempalan Ibu-ibu yang Penuh Drama

Saat ini, Whatsapp Group (WAG) menjadi sangat lumrah dimiliki oleh siapa pun. Memiliki WAG belasan juga bukan hal yang aneh. Hal ini biasa dialami oleh ibu-ibu. Mulai WAG ibu-ibu arisan, komunitas, sampai WAG tentang anak sekolah. Menariknya, meski sudah pisah pun, ada yang masih mempertahankan grup ini karena anggotanya sama-sama cocok. Kayak grup ex anak TK, SD, dll. Bayangin aja, kalau anaknya lebih dari satu, mau berapa WAG yang diikuti? hahahaha. 

Di dalam WAG pastinya ada bermacam-macam karakter. Biasanya nih, ibu-ibu bakal membentuk WAG sempalan yang anggotanya dirasa cocok. Yah, di grup yang lingkupnya lebih kecil ini mereka akan bebas cerita atau mungkin bergosip. Hm, yah daripada menimpali di WAG yang banyak anggota lebih baik ngomongin di belakang. Iya, kan, buibu? Hahahaha, ngaku deh. 

Untungnya sampai saat ini saya nggak punya WAG yang isinya ibu-ibu yang suka nggosip. Lah, males aja kalau masuk grup yang begituan. Capek tauk ngomongin orang mulu. Bagi saya, itu akan membawa energi negatif. Lebih baik, energinya dialihkan ke hal-hal yang lebih positif. 

Etapi, saya punya WAG sempalan sih. Grup ini meski agak sepi tapi udah bertahan selama 2 tahun. Malah WAG yang anggotanya lebih banyak udah bubar kali, hahaha. Jadi WAG sempalan ini anggotanya cuma dikit banget. Karena intensitas kami yang sering ngobrol dan ber-hahahihi bareng makanya dibentuk WAG ini. Sayangnya, anggota yang paling senior cuma saya. Lainnya pada anak-anak millenial, huhuhu. Udah deh, kalau mereka ngomongin KPop, saya jadi ngah ngoh. Nggak ngerti blas. Huahahaha.

Alhamdulillahnya, WAG sempalan ini anggotanya jarang banget ngegosip. Seringnya sih share masalah kekinian. Yah, maklum namanya juga banyak yang millenial. Terus, grup bakal rame kalau mau pada ngumpul. Hahahaha, biasanya pada ribut bahas tempat dan kapan waktu yang pas buat ngumpul bareng.

From Pixabay

Mungkin hal ini beda ya sama WAG yang isinya buibu apalagi yang isinya nggosip. Tapi ada hal yang menarik, nih, dari WAG ibu-ibu. Yah, apalagi kalau bukan ibu-ibu baperan. Hahahaha, saya mbayanginnya aja udah njlimet apalagi kalau tahu percakapan di grup. Hm, bisa-bisa bikin panas ati. Kompor mana kompoorrr, hahahaha. 

Gini, WAG ibu-ibu kan sebenarnya dibentuk untuk memudahkan koordinasi. Entah untuk kelancaran anak sekolah atau yang lainnya. Tapi ketika berada di grup yang lebih besar, ada beberapa yang nggak berani ngomong. Mungkin mereka takut diomongin layaknya dia yang suka ngomongin orang di belakang. Apa yang takut kita perbuat bisa jadi akibat dari tindakan kita yang sama terhadap orang lain. Bener, kan?

Nah, biar lebih nyaman, banyak lho buibu yang membentuk grup kecil yang dirasa cocok. Tapi WAG yang kecil ini pun banyak dramanya. Haduuh, namanya juga buibu. Maklum, banyak yang baperan.

Logikanya, WAG sempalan dibentuk biar enak kan nggosipnya ngobrolnya. Dan, anggotanya biasanya sih yang sama-sama enak dan satu frekuensilah ya. Tapi kalau ternyata ada yang baperan terus nggak satu frekuensi, buat apa grup tersebut dibentuk? 

Siapa sih adminnya WAG sempalan ini, kok si anu di-add? Hahaha, pasti deh, dalam hati nanya gitu.

Ketika saya membaca atau tahu tentang hal ini, lucu aja sih. Kok ya drama buibu banyak bener, ya. Kalau gini, sesama anggota malah nggak kompak dan saling ngomongin di belakang. 

Banyak lho, buibu yang kelihatannya akur saat foto-foto tapi di belakang saling bergunjing. Banyaaak banget yang seperti ini. Saya pernah baca kisah ini dari seorang blogger yang saya ikuti. Hm, jangankan di dunia maya, ya, di kehidupan nyata pun banyak kok yang seperti ini. 

Kalau orangnya cuek dan menganggap WAG sempalan tersebut kurang berfaedah ya lebih baik keluar aja. Buat apa bertahan di grup yang bikin nggak nyaman. Ya, nggak?

Tapi balik lagi sih, WAG sempalan tersebut dibentuk buat apa? Kalau cuma buat ngegosip aja tapi anggotanya nggak tektokan ya mending nggak usah dipertahankan. Lagian, kalau WAG isinya cuma ngegosip mulu, apa nggak capek buibu? Lebih baik kan sharing hal-hal yang bermanfaat.

Kalau misal lingkup pergosipan kecil, kayak sekolah, lah pasti seputar itu-itu aja kan yang diomongin? Dan orangnya juga pasti ya itu lagi-itu lagi. Bener, nggak?

Makanya, biar WAG seru, harusnya sih para anggota sudah berteman baik di dunia nyata. Dan yang paling penting yaitu sesama anggota satu frekuensi atau selevel. Level di sini bukan materi, ya. Tapi lebih ke pemikiran dan merasa tektok banyak hal antaranggota. 

Hal ini penting demi kekompakan dan keseruan WAG sempalan buibu. Kalau dari awal ada anggota yang udah ngerasa nggak cocok, ya grupnya bakal sepi dengan sendirinya.

Postingan ini saya buat karena geli ketika tahu ada WAG sempalan yang kayak gini. Oh, dramanya buibu seakan tiada akhir, hahahaha.   

Kalau WAG sempalan kamu gimana, nih? 

Continue Reading…

Tuesday, April 10, 2018

Beli Pulsa dan Paket Data Online Jaman Now

Tiap bulan kita pasti membeli pulsa dan paket data, kan? Yah, hari gini penggunaan internet sudah menjadi kebutuhan primer. Sehari aja nggak ngenet, pasti deh, kita bakal kelimpungan. Bener, kan? 

Saya nih yang kayaknya nggak bisa hidup tanpa internet. Kalau listrik mati, udah bingung kayak apa. Apalagi kalau pulsa dan paket data habis. Haduuuh, langsung mati gaya. 

Rasanya kayak ada yang kurang kalau nggak bisa stalking akun olshop, blogwalking meski nggak ninggalin jejak, atau buka portal berita online. Dunia yang katanya dalam genggaman tiba-tiba hilang. Terus saya berasa sepi banget hidupnya, hahahaha. Yah, saya nggak bisa lepas dari gadget. Huhuhu, saya akui itu bener banget. 

Tapi kadang hal ini nggak berlangsung lama, sih. Karena sekarang beli pulsa dan paket data online sudah praktis. Tinggal klik aja udah beres. Terus, hidup udah nggak berasa sepi lagi, hahahaha. 

Oia, saya mau curhat, nih. Flash back dulu, ya.

Saya pernah kehabisan kuota waktu siang hari. Saya kan suka banget belanja online karena lebih praktis. Dulu sih belum ada market place yang jualan pulsa dan paket data. Nah, mau nggak mau saya harus panas-panasan keluar rumah buat beli pulsa. Yah, maklum kuota sudah menjadi kebutuhan primer buat (waktu itu) jualan online. Kalau sekarang sih kuota seringnya buat stalking dan belanja online, hahaha.

Beneran, di siang yang panas banget saya naik motor buat beli pulsa dan paket data online. Kadang nih, saya beli pulsa untuk nomor tetap. Sedangkan beli paket data online pakai provider lain yang lagi promo atau harganya murah. Hayooo, siapa yang kayak saya juga?

Nggak enaknya beli di toko pulsa deket rumah, untuk harga pulsa dan paket data kadang dilebihkan. Misal, pulsanya cuma dapet dua puluh lima ribu tapi harganya ada yang jual 26 atau 27 ribu. Nah, ini nih yang kadang bikin dongkol secara saya kan emak-emak irit.^-^.

Jadi, saya kudu hafal toko pulsa mana yang jualan dengan harga murah. Kalau perlu dijadikan langganan biar bisa dapat lebih murah atau minimal sama kayak pulsanya, hahaha.

Untungnya, doa saya terkabul di jaman now. Karena beli pulsa dan paket data online nggak perlu mikir irit lagi. Sekarang udah banyak tempat yang jual dengan harga yang sama dengan pulsa. Apalagi banyak yang ngasih bonus atau diskon. Hal ini juga berlaku untuk yang mau beli paket data online juga, lho.


Emang di mana sih tempat beli pulsa dan paket data online yang murah? Syukur-syukur praktis, nggak perlu panas-panasan? 

Jawabannya ada di e-commerce.

Jujur ya, saya sering banget beli pulsa di market place. Alasannya karena banyak lebihnya, hahahaha.

Jadi nih, saya kan orangnya pengen yang praktis dan simpel. Kalau beli pulsa dan paket data online nggak perlu keluar rumah dan panas-panasan kayak dulu. Cukup duduk manis di rumah, siapin token, langsung klik aja, terus pulsa langsung terisi nggak sampai 5 menit. Ya, sesimpel itu.

Sekarang apa sih yang nggak bisa di-online-kan? Semua serba online sehingga memanjakan pembeli banget. Sini, saya kasih tahu tempat belanja online langgananku.

Jaman now, beli pulsa tinggal klik aja. Nah, beli paket data online pun juga semudah itu. Jujur nih, saya sering beli pulsa dan paket data online di Blibli. Karena beli pulsa dan paket data online di Blibi aman, simpel, dan banyak bonusnya. Yah, kalau nggak banyak kelebihannya, lha ngapain saya langganan beli pulsa dan paket data online di Blibli?

Bukti kalau saya pelanggan Blibi dari dulu
Kamu masih ragu? Buruan gih, beli paket data online di Blibi.  



Continue Reading…

Tuesday, March 13, 2018

Saat Bule Kebanjiran

Kali ini saya mau ngomongin soal bule lagi nih. Bukan tentang yang aneh-aneh sih. Cuma tentang perilaku mereka yang bikin saya takjub yaitu saat bule kebanjiran.

Jadi ini cerita tentang temannya pak suami. Matur nuwun, pak, sharingnya selama ini. Bisa untuk bahan postingan blog, nih. Hahaha.


Sekitar setahun lalu pak suami ngerjain proyek dan berkantor di BSD. Sebagian timnya berisi orang asing, salah satunya bule dari Italia.

Ceritanya waktu itu sempet ada berita daerah Kemang dilanda banjir besar. Nah, si bule ini jadi salah satu korbannya. Sebut saja namanya Inzaghi. Hahaha, soalnya ini nama pemain bola favorit saya waktu itu. Cakep soalnya. Receh banget kan alasannya.

Pixabay

Kalau nggak salah, kejadiannya saat weekend. Inzaghi lagi naik taksi ke arah Kemang. Tahu-tahu hujan turun deres banget sampai daerah Kemang banjir. Parahnya lagi, taksi yang ditumpangi Inzaghi kemasukan air. Ih, kebayang dong gimana kotornya.

Nah, si Inzaghi minta diturunkan di mall. Sontak aja, semua mata tertuju padanya (kayak iklan apa sih ini) karena Inzaghi basah kuyup masuk mall.

Yang dilakukan Inzaghi di mall yaitu beli baju baru sampai daleman. Yah, namanya juga kebanjiran pasti kan nggak mau kalau tubuh kotor.

Waktu pak suami dan teman-temannya diceritain ini tentu aja kasihan. Niat mau hang out malah kebanjiran. Belum lagi diliatin orang di mall.

Tapi nih ada cerita yang bikin mereka takjub ama si Inzaghi. Habis kebanjiran, besoknya Inzaghi langsung ke rumah sakit buat medical check up sampai rontgen.

Iyes, dia melakukan itu semua. Nggak peduli berapa uang yang keluar, yang penting dia aman dari penyakit.

Wow, orang Indonesia yang mendengar ini tentu saja takjub. Gila ya, orang luar peduli banget kalau menyangkut kesehatan. Proteksinya tinggi sekali. Wong cuma kebanjiran sampai minta rontgen ckckck. Ya wajar sih karena standar hidup orang luar lebih tinggi karena mereka hidup di negara yang ekonominya lebih mapan dibanding Indonesia.

Tapi kalau sampai rontgen, ini nih yang nggak kepikiran sama saya. Wong dulu hampir tiap hari saya pernah mengalami rob. Belum lagi banjir saat hujan. Tapi ya nggak pernah melakukan MCU kayak Inzaghi sih. Apalagi rontgen. Mungkin karena udah biasa kebanjiran kali ya. Atau malah sayang ngeluarin uangnya. Kayaknya dua-duanya sih, hahahahaha.

Udah segini dulu ceritanya. Hm, kamu kalau kebanjiran bakal ngelakuin hal yang sama kayak Inzaghi nggak?


Continue Reading…

Monday, March 12, 2018

Orang Asing Sama Dengan Kita

Beberapa waktu lalu ada berita viral tentang orang asing yang kehabisan uang di Indonesia. Menariknya, di beberapa artikel linimasa menyebutkan ada polisi yang membantu mencarikan tumpangan gratis. Bahkan artikel di sini menyebutkan kalau ada hotel yang menggratiskan biaya menginap. Nggak hanya itu saja, orang asing tersebut juga diberi oleh-oleh secara gratis. Kenapa ini bisa terjadi? Kok kayaknya orang Indonesia segitunya banget ya sama orang asing. Padahal orang asing itu sama dengan kita, lho. 

Saya yang membaca berbagai berita tersebut beneran takjub dengan kebaikan orang Indonesia. Emang sih membantu sesama itu baik, terlebih yang dibantu adalah orang yang sedang kesusahan. Tetapi ini terjadi pada bule atau orang asing. Hhmm, kalau hal ini terjadi pada turis lokal, apakah masyarakat juga akan sebaik itu?

Misal keadaan dibalik, kalau ada turis Indonesia kehabisan ongkos di luar negeri apakah akan diperlakukan sama dengan turis asing yang kehabisan ongkos tersebut? 

Kayaknya orang luar akan bertindak seperti orang Indonesia, kemungkinannya kecil sekali. Yah, aturan di luar negeri sangat ketat, terutama di bagian imigrasi. Untuk masuk ke negara orang, butuh dokumen ini itu dan persyaratan yang lumayan rinci.

Stereotip masyarakat kita terhadap orang asing sangat berlebihan terutama pada bule. Dulu sih kalau sekolah ngadain darma wisata (jadul amat yak istilahnya) ke Borobudur atau ke Bali dan ketemu bule, yakin deh langsung pada rebutan minta foto. Padahal bule tersebut bukan artis atau orang terkenal. Dan, bule tersebut juga belum tentu nyaman diajak foto bareng lho. Hayoo, siapa yang pernah ngelakuin ini? Hahahaha, masa lalu banget ya.

Orang asing sangat menghargai privasi. Kalau kehidupan mereka terganggu atau nggak nyaman, biasanya mereka akan menolak dengan keras. 

Untuk kasus foto bareng, mungkin mereka nggak bisa menolak karena yang minta banyak, hahahaha. Padahal ini mungkin kali pertama bagi bule tersebut diajak foto bak selebriti. Yah, merasakan jadi artis sebentar di Indonesia, ya nggak? Hahahaha.

Eh, tapi kenapa ya yang sering diajak foto bareng saat piknik yaitu turis yang bule. Maksudnya, mereka yang berkulit putih dan berambut pirang. Tipe umum ras kaukasoid gitulah. 

Kalau misalnya ada turis yang rasnya mongoloid atau bahkan negroid, apakah mereka juga sering diajak foto? Hhmm, kalian pasti tahu jawabannya.

Emang ya stereotip orang Indonesia terhadap bule atau ras kaukasoid nggak bisa lepas dari masa lalu. Di mata orang Indonesia, bule adalah orang yang makmur, kaya, dan seneng banget kalau bisa ketemu mereka. Hal ini nggak bisa disalahkan, sih. 

Mungkin saja pengaruh dari bangsa kita yang dijajah 3,5 abad oleh Belanda. Rakyat kita diperlakukan sebagai budak untuk melayani para penjajah. Kita dianggap sebagai orang yang miskin. Praktik kolonialisme inilah yang mengakar pada pikiran orang Indonesia untuk memperlakukan para bule dengan berlebihan. 

Padahal kita semua sama derajatnya, hanya warna kulitnya saja yang berbeda. Bahkan beberapa turis yang sedang di Indonesia nggak semuanya hidup berkecukupan. 

Misalnya saja turis Australia yang liburan ke Bali. Kebanyakan sih mereka pengangguran di sana dan hidupnya dibiayai negara. Nah, sisa uang tersebut ditabung dan buat liburan ke Indonesia. Maklumlah, biaya hidup di Indonesia terbilang murah bagi mereka.

Dari Pinterest

Sebenarnya perlakuan istimewa untuk orang asing bukan terjadi di dunia traveling saja. Di dunia perkantoran pun hal ini juga sama. Saya mau cerita pengalaman di kantor pak suami.

Kantor pak suami sahamnya terdiri dari Indonesia dan Jepang. Meski demikian, kepemilikan saham terbesar ada di tangan Indonesia. Harusnya, orang Indonesia dong, yang diperlakukan istimewa. 

Kenyataannya?

Jadi, ketika ada orang Jepang yang dinas di Indonesia, mereka akan difasilitasi secara wah. Misalnya, apartemen elit di pusat kota. Bahkan orang Jepang tersebut diberi mobil beserta sopirnya. Kalau cuma staf biasa, semobil berisi 2 orang Jepang. Kalau levelnya agak tinggi, biasanya mobil dan sopir khusus untuk satu orang. 

Padahal nih, orang Jepang tersebut di negeri asalnya belum tentu punya sopir. Boro-boro sopir, mobil aja juga belum tentu punya. Karena aturan yang ketat soal mobil dan printilannya kayak kepemilikan SIM, dll. Belum lagi biaya parkir yang mahal. 

Tapi hal ini nggak berlaku saat pak suami dinas di Jepang. 

Sumpah, perlakuannya bedaaa banget kalau dibandingin sama mereka, dengan level yang sama. 

Pak suami di Jepang ya kudu mandiri. Apartemen gratis sih tapi letaknya nggak dekat kantor, agak pinggiran. Kalau dekat kantor dengan jarak 2 stasiun JR, apartemennya sempit banget dan agak kuno. Kalau di pinggiran kota, apartemennya agak bagus dan lebih luas. Saya dan pak suami pernah merasakan ini semua baik tinggal di dekat kantor ataupun agak jauhan, hahahaha.

Nah, untuk transport, pak suami nggak dapat mobil. Ya iyalah, siapa juga suami gue, ya kan? Secara, bos di Jepang aja tiap hari ngantornya naik kereta. Masak yang cuma karyawan biasa mau dapat fasilitas lebih. Apa kata orang Jepang? Hahahahaha.

Pak suami mendapat perintah detail via email tentang apa yang harus dilakukan di hari pertama masuk kerja. Emailnya biasanya nyuruh bawa dokumen apa saja ke kantor dan berangkat pertama kali sama siapa. Jadi nih, waktu pertama kali masuk kerja, pak suami diajak bareng ama teman sekantornya yang tinggal di apartemen yang sama. 

Nah, cuma itu doang. Hari pertama ngantor berangkat sama teman biar tahu naik kereta apa dan turun di mana. Pas pulang kantor ya pak suami pulang sendiri. Masak iya mau ngajak bareng teman. Ish, ini Jepang, apa-apa kudu mandiri.

Beda banget kan perlakuannya? 

Yah, mungkin kalau sistem transportasi kita oke dan layak, orang asing nggak takut naik transportasi umum. Mereka akan berperilaku sama kayak tinggal di Jepang. 

Tapi ya nggak segitunya sih dengan ngasih fasilitas yang wah, kayak mobil plus sopir.*lah curcol, hahahaha.

Kalau apartemen, mungkin saja standar apartemen di Sudirman atau Thamrin bukan sesuatu yang mewah bagi mereka. Yah, standar hidup mereka kan juga tinggi. 

Jadi, kesimpulan postingan ini apa? Ya, kalau ketemu orang asing, biasa aja. Nggak usah berlebihan sama mereka. Ntar mereka malah Ge-er, hahahaha. Orang asing sama dengan kita, kok.

Kalian pernah melihat atau mengalami perlakuan yang hampir mirip nggak? 


Continue Reading…

Monday, February 12, 2018

Kangen Serunya Bisnis Jasa Titip

Mau cerita tentang bisnis jasa titip yang cuma sebentar saya jalani. Menjalankan bisnis jasa titip emang seru sih. Bagi yang baru menjalankan bisnis jastip, kudu sabar ya. Saya udah pernah ngerasain ini. Tapi sekarang udah nggak bisnis jastip lagi karena saya menjalankan jastip hanya sementara. Kadang saya kangen ama serunya bisnis jasa titip karena untungnya lumayan, hahahaha.

Oia, postingan ini bakal panjang ya karena saya mau cerita detail keseruan bisnis jasa titip dari luar negeri, khususnya Jepang. Eh btw, ini jadi branding saya nggak sih karena posting mulu soal Jepang, hahahahaha. Pokoknya saya mah Nihon daisuki.^-^.

Memulai bisnis jastip sebenarnya nggak sengaja sih. Yang mulai duluan pak suami. Waktu itu kan pak suami dinas di Jepang sendirian selama 3 bulan. Kalau nggak ada saya, pulang kerja malah kesepian. Bengong aja gitu di apartemen. Nah, daripada kebanyakan bengong, dia buka jastip deh. Dengan membuka jasa titip kayak gini, pulang kerja setidaknya ada kegiatan hunting barang di dekat apartemen. Jadi kalau pulang ke apartemen bisa langsung istirahat. 

Namun pak suami hunting barang lebih leluasa saat weekend karena kan weekday dia kerja. Jadi kalau weekend nggak galau mau ke mana, hahahaha. 

Awalnya pak suami buka penawaran di Kaskus. Lalu minta bantuan saya untuk promoin di Facebook. Responnya cukup lumayan karena Jepang terkenal akan barang-barangnya yang lucu dan unik. Pembeli kebanyakan nitip pernak-pernik lucu kayak gelas sake, hiasan rumah, furoshiki, Kit Kat green tea, dll. 

Oiya, waktu itu Kit Kat green tea belum segampang sekarang buat mendapatkannya. Kalaupun ada, harganya mahal banget. Yaiyalah, barang impor kan?

Selama menjalankan bisnis jastip, banyak sekali hal-hal yang diperhatikan. Di sini, saya akan cerita dari sisi penjual ya, karena memang pengalaman ini yang akan saya bagikan. 

Bisnis jasa titip termasuk susah-susah gampang. Susah karena banyak hal yang diperhatikan dan dipertimbangkan mengingat saat itu yang kami jual adalah barang dari luar negeri. Hal ini tentu akan berdampak pada transport dan bagasi saat balik nanti. 

Bisnis jastip bisa dikatakan gampang, sebenarnya barang yang dicari banyak, namun kadang bingung karena takut nggak sesuai seperti harapan pembeli. Entah harganya yang mahal atau motif yang kurang sesuai. 

Ketika masa dinas di Jepang diperpanjang, akhirnya saya menyusul pak suami. Nah, dari sini saya bisa merasakan langsung serunya bisnis jasa titip. 


Biasanya sih, saya dan pak suami jalan-jalan saat weekend. Di saat jalan-jalan itu, kami sekalian lihat pernak-pernik lucu yang jumlahnya banyak sekali. Di samping pernak-pernik, banyak barang yang fungsional dijual di sana. Kalau ketemu barang yang sekiranya lucu atau laku dijual, ya kami foto. Lalu kami tawarkan di medsos.

Semakin mudah barang tersebut didapat maka semakin murah harganya. Mudah didapat di sini artinya, nggak butuh transport yang mahal dan barangnya memang banyak dijual. Maklumlah, kami harus mempertimbangkan transport yang biayanya juga lumayan. 

Tapi ada juga permintaan yang nggak kami layani. Misalnya, ada yang minta produk dari Ghibli atau barang yang berat macam tea set. Saya dan pak suami nggak ngoyo dalam hunting barang. Kalau dirasa mudah dan nggak perlu modal banyak ya kami akan usahakan cari. 

Kalau barang dari Ghibli kan khusus ya hanya dijual di museum Ghibli. Nah, biaya dari Yokohama ke Tokyo kan lumayan (kami tinggal di Yokohama). Belum lagi kalau masuk museum Ghibli. Untuk tea set, sejak awal kami sudah menolak karena itu akan merepotkan. Tea set berat bok, takut bagasi nggak muat. Maklum, kami juga memikirkan barang bawaan kami yang lumayan banyak. 

Pernah lho kami cancel karena ada pembeli nggak jelas maunya gimana. Dia ragu-ragu sih ngasih keputusan. Bodo amat dah kalau ketemu pembeli yang seperti ini. 

Oia, saya pernah dititipi gotochi, kartu pos yang unik di masing-masing daerah di Jepang. Ih, lucu banget ya gotochi. Tapi berhubung saya nggak terlalu suka koleksi kartu pos ya biasa aja. Mungkin next time kalau ada kesempatan ke Jepang lagi, saya akan beli gotochi buat pribadi, hahahaha. 

Nah, nyari gotochi tuh cuma ada di kantor pos besar. Waktu itu saya ada kegiatan sama ibu-ibu Jepang di sekitar stasiun Yokohama dan dibantu beli gotochi di kantor pos. Ya, nggak enak juga sih merepotkan orang. Untungnya, waktu itu mereka juga ada perlu di kantor pos jadi ya saya manfaatkan sekalian, hahahaha. 

Karena saya nggak enakan ama temen, akhirnya gotochi 3 lembar yang sekitar 50rb itu saya kasih cuma-cuma. Hhhmm, pak suami agak marah sih karena perjuangan buat mendapatkan gotochi lumayan susah. Tapi ya gimana, wong nggak enak ama temen. Padahal temen itu baru kenal di Facebook dan sok akrab sama saya. Yah, maklum saya orangnya gampang meleleh apalagi kalau sesama anggota komunitas. Duh.

Sejak itu saya bertekad untuk lebih tega menjadi penjual jasa titip, hahahahaha.

Pengalaman yang lebih seru sebenarnya dialami pak suami. Pertama, ada yang nitip jam tangan limited edition. Kedua, jastip kamera bekas.

Oke, saya ceritain ya.

#Jasa titip jam tangan limited edition

Ada pembeli yang hobi mengoleksi jam tangan limited edition. Ini adalah titipannya yang kesekian kali. Dia berkali-kali nitip jam tangan dan alhamdulillah dapet jamnya. Harganya pun sama-sama cucok. 

Awalnya, permintaan itu dikira jam tangan biasa. Maklum ya, pak suami kurang paham soal jam tangan limited edition. Nah, nyari di berbagai toko nggak ada. Akhirnya pembeli bilang kalau itu emang limited edition. 

Pak suami malah tertantang buat ngedapetin ini. Jadi dia nanya ke temennya yang asli Jepang. Dari info temen, jam tangan tersebut dijual di Rakuten. Buat mendapatkannya kudu melalui bidding.

Masalahnya adalah Rakuten di sana nggak ada bahasa Inggrisnya jadi pak suami nggak ngerti sama sekali. Akhirnya temennya tadi dengan baik hati menawarkan bantuan. Jadi mulai masuk Rakuten, bidding, sampai bayar pakai akun temen. Pak suami cuma ngasih harga penawaran aja.

Untungnya sih jam itu dimenangkan pak suami. Nah, pas mau bayar ke temen tadi, pak suami kaget lho. Si temen ngasih laporan komplit sampai potongan CC-nya. Hebatnya lagi, dia nggak mau dibayar lebih. Bahkan sekedar ditraktir makan juga nggak mau. 

Alhamdulillah, kalau gini kan rejeki anak soleh, hahahaha. 

Emang sih sifat orang Jepang banyak yang kayak gini. Mereka akan tulus membantu tanpa ada kepentingan apa pun. Salut banget sama temen tadi. Arigatou, Mas Bro.^_^

#Jasa titip kamera bekas

Kalau bisnis kamera bekas sebenarnya nggak sengaja dan ini baru dijalanin saat mau balik ke Indonesia. Jadi ada temen kantor pak suami yang ngajak joinan bisnis ini. Tapi sistemnya adalah pak suami beli dulu baru dijual. Sistem ini yang bikin pak suami kurang sreg karena sangat beresiko.

Selama menjalankan bisnis jastip, pak suami selalu bikin aturan pembeli harus menyerahkan DP 50% dulu baru barang dibeli. Ada uang, ada baranglah. Kalau barang nggak dapet, DP tersebut akan dikembalikan 100%. 

Pak suami akhirnya memberanikan diri tes market dan berbisnis sendiri. 

Nah, karena bisnis kamera butuh effort yang nggak gampang makanya pak suami nyoba nawarin dulu di medsosnya. Ih, nggak disangka ternyata responnya luar biasa. Kami bisa jual 3 kamera bekas lho. Dan untungnya tuh lumayan banget.

Dalam bisnis jastip kamera, pak suami lebih waspada. Maklumlah ini nominalnya gedhe dan kalau ada cacat juga akan berdampak pada hasilnya. 

Hunting kamera bekas di Jepang lumayan susah. Saya pernah diajak nyari tuh. Pertama nyari di Akihabara. Dari siang sampai sore nggak dapet kamera yang diincar. Lalu malamnya kami ke Shinjuku. Akhirnya dapet sih di toko yang kecil gitu.

Oia, kamera bekas di Jepang ada gradenya dan semua dijamin kualitasnya. Barangnya juga asli Jepang kan makanya bisnis ini laku banget dijual di Indonesia. 

Pak suami masih penasaran sama kamera bekas. Kata temennya, kamera bekas yang murah ada di salah satu distrik di Tokyo. Akhirnya H-1 sebelum balik Indonesia, dia nekat ke Tokyo sehabis kerja. Hhhmm, katanya sih di sana banyak yang jual barang bekas dan harganya lebih murah daripada di Shinjuku. Kemudian dia nyesel kenapa kok dari kemarin nggak pergi ke daerah ini aja. Hahaha.

Itu tadi pengalaman saya dan pak suami dalam berbisnis jasa titip kecil-kecilan. Kami hanya memanfaatkan waktu dan kesempatan aja. Alhamdulillah sih ini jadi pengalaman baru yang seru banget. Kami belajar tentang kesabaran, amanah, dan marketing. Bagi kami, bisnis jasa titip banyak untungnya selama kita bisa mengatur dengan baik. 

Jangan semua permintaan dituruti karena itu menyangkut amanah dan kualitas barang. Oia, jangan lupakan bagasi dan bea cukai ya, biar nggak tekor-tekor amat, hahahahaha. 

Biar nggak dicurigai petugas, penataan barang di koper dibikin yang rapi. Barang yang sejenis baiknya dipisah. Misal ada yang di koper dan di tas.

Bisnis jastip ini kalau ditekuni bisa jadi bisnis yang menjanjikan lho. Banyak kan akun di IG yang menawarkan jastip. Omzet mereka dalam sebulan banyak banget. Emang sih bisnis ini mengutamakan amanah dan kualitas. Kalau pembeli sudah percaya maka barang apa pun yang dijual bakal laris manis. Percayalah. 

Oia, saya pernah menceritakan bisnis jasa titip waktu tinggal di Jepang. Tulisan tersebut dibuat di sana namun nggak sekomplit postingan ini.


Kamu pernah punya pengalaman dengan bisnis jasa titip nggak? Boleh sebagai penjual atau pembeli ya. Ceritain dong.^-^.



Continue Reading…

Wednesday, February 07, 2018

Susahnya Posting Lewat Handphone

Beberapa hari terakhir, saya lagi rajin ngeblog nih. Mungkin karena masih awal-awal tahun ya, jadi semangatnya masih ada. Kadang juga mikir, sayang banget kalau blog nggak di-update. Yah, semoga sifat rajin ini bisa bertahan lama ya, nggak cuma bentar doang. ^-^

Sebenarnya sih kemarin saya udah nyoba bikin postingan lewat handphone. Tapi ya Allah, susahnya posting lewat handphone. Baru bikin beberapa paragraf lalu delete. Terus bete sendiri.

Saya kan punya app blogspot. Pernah sih nulis di app blogspot. Enaknya nulis di situ karena simple, cuma modal hape dan kuota aja. Tapi nulis di app blogspot kayak ngedraft doang. Kenapa? Karena nulis pakai app blogspot jadinya ancur banget. Misal nih, kita udah nulis paragraf baru tapi setelah di-preview jadinya awut-awutan. Postingan nggak ada paragrafnya. Huft -_-

Selain itu, nulis pakai aplikasi ini susah ngeditnya. Jangan-jangan saya yang norak nih karena nggak tahu cara ngeditnya. Jadi saya tetap buka kompi buat merapikan postingan.

Saya pikir, kalau pakai app ini bakal enak dan mudah bikin postingan kapan pun dan di mana pun. Ternyata sama aja, masih perlu diedit via laptop atau kompi.  Aplikasi blogspot masih perlu perbaikan yang banyak. 

Eh, dulu saya pernah bikin postingan tentang app blogspot deh. Silakan baca di sini ya.

Karena emang lagi semangat ngeblog, akhirnya saya nyoba bikin postingan lewat dashboard blogger via browser. Kalau ini sih kayak buka laptop atau kompi biasa ya. Tapi entahlah, kemarin itu nyebelin banget. Saya udah nulis beberapa paragraf dan mau saya edit rata kiri dan kanan biar rapi, nggak bisa mulu. Buat ngeklik pilihan pengaturan paragraf aja susah banget. Pas dapet yang justify, nggak bisa dipilih. Tetep aja tulisan di rata kiri. 

Bermenit-menit cuma gitu doang akhirnya saya emosi dan nggak jadi bikin postingan. Akhirnya kembali ke cara lama biar saya waras dan blog tetap ada postingan baru. Saya nulis di kompi seperti biasa, hahahaha. Yah, mungkin saya emang gaptek jadi nggak tahu nih cara posting lewat handphone yang nyaman.

Btw, ada yang punya pengalaman yang sama nggak? Kamu lebih suka posting lewat handphone atau laptop nih? 



PS : Mau dikasih foto tapi uploadnya lama jadi nggak ada fotonya.-_-

Continue Reading…

Monday, February 05, 2018

Belajar Hidup dari Orang Kecil

Saya suka sekali membaca buku autobiografi seorang tokoh. Pelajaran yang dapat diambil dari membaca buku tersebut tentu saja kisah inspiratif dan perjuangan si Tokoh dalam meraih kesuksesan. Namun, kadang saya berpikir. Kayaknya suatu hal yang lumrah kalau belajar hidup dari tokoh terkenal. Lalu, apa salahnya jika kita belajar hidup dari orang kecil di sekitar kita?

Orang-orang kecil yang saya maksud di sini yaitu mereka yang pendapatannya di bawah UMR. Pendapatan sih bisa dikatakan 'sedikit' tapi kan kita nggak tahu, bisa jadi di dalam yang sedikit itu justru terdapat keberkahan yang besar.*benerin jibab dulu

Saya dan pak suami sempat tertegun dengan tukang rumput langganan. Sebut saja namanya Pak Karto. Pak Karto merantau dari Wonogiri ke Jakarta dengan harapan agar kehidupannya menjadi lebih baik. Bertahun-tahun merantau akhirnya beliau bisa membangun rumah di Depok. 

Istri Pak Karto bekerja sebagai ART di perumahan elit di daerah Jakarta. Istri Pak Karto tinggal di rumah majikan dan pulang ke Depok seminggu sekali. Anak Pak Karto ada 4. Ada yang sudah menikah, bekerja, dan sekolah. Karena ibu mereka nggak tiap hari di rumah, anak-anak Pak Karto hidup mandiri.

Sehari-hari Pak Karto bekerja sebagai pemotong rumput. Mesin pemotong rumputnya sudah tua. Nggak heran kalau saat kerja, mesin tersebut kerap kali ngadat. Tapi Pak Karto sudah lihai dengan hal ini. Tanpa menunggu berjam-jam, mesin tersebut dapat digunakan lagi.

Suatu kali, kami memanggil Pak Karto untuk membersihkan rumput. Pak Karto termasuk orang yang rajin. Beliau selalu datang sebelum waktu yang ditentukan. Ah, senangnya jika bekerja sama dengan orang seperti beliau. 

Di saat sedang bekerja di rumah kami, hape Pak Karto tiba-tiba berbunyi. Hape tersebut disimpan di kantong bajunya. Jadi meskipun suaranya tidak terdengar tapi getaran saat ada panggilan masuk terasa. Pak Karto mematikan mesin sebentar lalu bercakap dengan orang yang telepon tadi.

Setelah itu Pak Karto bilang ke kami bahwa setelah dari rumah kami sebenarnya dia dapat job memotong rumput di area komplek yang lebih besar. Asumsinya, dengan luasan yang lebih besar tentu pendapatan Pak Karto lebih besar dari pendapatan di rumah kami. Tapi apa yang dilakukan oleh Pak Karto? 

Beliau menolak job tersebut, saudara-saudara. Ya, menolak job. Terkesan songong ya, Pak Karto, hahahaha. 

Saya dan pak suami yang mendengar ini juga kaget. Saya pun penasaran dan memberanikan diri bertanya alasan menolak job tersebut.

Pak Karto dengan santai bilang kalau dalam sehari, dia bekerja cukup di 1 tempat saja. Rejeki berapa pun yang didapat hari itu akan selalu disyukuri. Besok nyari rejeki lagi. 

Wow, matematika saya nggak masuk nih. Maklumlah pikiran udah terlalu njlimet jadi kadang saya nggak bisa berpikir sederhana seperti Pak Karto. Kalau pikiran saya, semakin banyak job berarti makin banyak pula pendapatan. Kalau ada sisa di hari itu, bisa ditabung kan ya. Tetapi ternyata matematika saya nggak berlaku untuk kehidupan Pak Karto. Beliau ingin bekerja dan istirahat secara seimbang. Kalau bekerja terus memang nggak ada habisnya. Toh, syukuri dan nikmati saja pemberian rejeki di hari itu.

See? Sebegitu simpelnya ya pemikiran beliau. Mungkin bukan hanya Pak Karto saja yang seperti itu. Masih banyak orang-orang kecil di luar sana yang percaya dan yakin akan rejekinya Tuhan. Mereka masih bisa hidup dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan di kota besar. Mereka masih bisa bersyukur atas nikmat dan rejeki yang datang tiap hari meski hanya cukup untuk makan di hari itu saja. 

Ah, saya jadi malu sama mereka. Memang ya, matematika manusia beda sama matematikanya Tuhan. Kita hanya perlu bersyukur dan berusaha, insya Allah rejeki akan datang. Ya, saya perlu banyak belajar tentang hidup dari orang-orang seperti mereka.

*Tulisan ini sekaligus buat self reminder untuk diri saya sendiri.

Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com