Monday, February 12, 2018

Kangen Serunya Bisnis Jasa Titip

Mau cerita tentang bisnis jasa titip yang cuma sebentar saya jalani. Menjalankan bisnis jasa titip emang seru sih. Bagi yang baru menjalankan bisnis jastip, kudu sabar ya. Saya udah pernah ngerasain ini. Tapi sekarang udah nggak bisnis jastip lagi karena saya menjalankan jastip hanya sementara. Kadang saya kangen ama serunya bisnis jasa titip karena untungnya lumayan, hahahaha.

Oia, postingan ini bakal panjang ya karena saya mau cerita detail keseruan bisnis jasa titip dari luar negeri, khususnya Jepang. Eh btw, ini jadi branding saya nggak sih karena posting mulu soal Jepang, hahahahaha. Pokoknya saya mah Nihon daisuki.^-^.

Memulai bisnis jastip sebenarnya nggak sengaja sih. Yang mulai duluan pak suami. Waktu itu kan pak suami dinas di Jepang sendirian selama 3 bulan. Kalau nggak ada saya, pulang kerja malah kesepian. Bengong aja gitu di apartemen. Nah, daripada kebanyakan bengong, dia buka jastip deh. Dengan membuka jasa titip kayak gini, pulang kerja setidaknya ada kegiatan hunting barang di dekat apartemen. Jadi kalau pulang ke apartemen bisa langsung istirahat. 

Namun pak suami hunting barang lebih leluasa saat weekend karena kan dia kerja. Jadi kalau weekend nggak galau mau ke mana, hahahaha. 

Awalnya pak suami buka penawaran di Kaskus. Lalu minta bantuan saya untuk promoin di Facebook. Responnya cukup lumayan karena Jepang terkenal akan barang-barangnya yang lucu dan unik. Pembeli kebanyakan nitip pernak-pernik lucu kayak gelas sake, hiasan rumah, furoshiki, Kit Kat green tea, dll. 

Oiya, waktu itu Kit Kat green tea belum segampang sekarang buat mendapatkannya. Kalaupun ada, harganya mahal banget. Yaiyalah, barang impor kan?

Selama menjalankan bisnis jastip, banyak sekali hal-hal yang diperhatikan. Di sini, saya akan cerita dari sisi penjual ya, karena memang pengalaman ini yang akan saya bagikan. 

Bisnis jasa titip termasuk susah-susah gampang. Susah karena banyak hal yang diperhatikan dan dipertimbangkan mengingat saat itu yang kami jual adalah barang dari luar negeri. Hal ini tentu akan berdampak pada transport dan bagasi saat balik nanti. 

Bisnis jastip bisa dikatakan gampang, sebenarnya barang yang dicari banyak, namun kadang bingung karena takut nggak sesuai seperti harapan pembeli. Entah harganya yang mahal atau motif yang kurang sesuai. 

Ketika masa dinas di Jepang diperpanjang, akhirnya saya menyusul pak suami. Nah, dari sini saya bisa merasakan langsung serunya bisnis jasa titip. 


Biasanya sih, saya dan pak suami jalan-jalan saat weekend. Di saat jalan-jalan itu, kami sekalian lihat pernak-pernik lucu yang jumlahnya banyak sekali. Di samping pernak-pernik, banyak barang yang fungsional dijual di sana. Kalau ketemu barang yang sekiranya lucu atau laku dijual, ya kami foto. Lalu kami tawarkan di medsos.

Semakin mudah barang tersebut didapat maka semakin murah harganya. Mudah didapat di sini artinya, nggak butuh transport yang mahal dan barangnya memang banyak dijual. Maklumlah, kami harus mempertimbangkan transport yang biayanya juga lumayan. 

Tapi ada juga permintaan yang nggak kami layani. Misalnya, ada yang minta produk dari Ghibli atau barang yang berat macam tea set. Saya dan pak suami nggak ngoyo dalam hunting barang. Kalau dirasa mudah dan nggak perlu modal banyak ya kami akan usahakan cari. 

Kalau barang dari Ghibli kan khusus ya hanya dijual di museum Ghibli. Nah, biaya dari Yokohama ke Tokyo kan lumayan (kami tinggal di Yokohama). Belum lagi kalau masuk museum Ghibli. Untuk tea set kami sejak awal kami sudah menolak karena itu akan merepotkan. Tea set berat bok, takut bagasi nggak muat. Maklum, kami juga memikirkan barang bawaan kami yang lumayan banyak. 

Pernah lho kami cancel karena ada pembeli nggak jelas maunya gimana. Dia ragu-ragu sih ngasih keputusan. Bodo amat dah kalau ketemu pembeli yang seperti ini. 

Oia, saya pernah dititipi gotochi, kartu pos yang unik di masing-masing daerah di Jepang. Ih, lucu banget ya gotochi. Tapi berhubung saya nggak terlalu suka koleksi kartu pos ya biasa aja. Mungkin next time kalau ada kesempatan ke Jepang lagi, saya akan beli gotochi buat pribadi, hahahaha. 

Nah, nyari gotochi tuh cuma ada di kantor pos besar. Waktu itu saya ada kegiatan sama ibu-ibu Jepang di sekitar stasiun Yokohama dan dibantu beli gotochi di kantor pos. Ya, nggak enak juga sih merepotkan orang. Untungnya, waktu itu mereka juga ada perlu di kantor pos jadi ya saya manfaatkan sekalian, hahahaha. 

Karena saya nggak enakan ama temen, akhirnya gotochi 3 lembar yang sekitar 50rb itu saya kasih cuma-cuma. Hhhmm, pak suami agak marah sih karena perjuangan buat mendapatkan gotochi lumayan susah. Tapi ya gimana, wong nggak enak ama temen. Padahal temen itu baru kenal di Facebook dan sok akrab sama saya. Yah, maklum saya orangnya gampang meleleh apalagi kalau sesama anggota komunitas. Duh.

Sejak itu saya bertekad untuk lebih tega menjadi penjual jasa titip, hahahahaha.

Pengalaman yang lebih seru sebenarnya dialami pak suami. Pertama, ada yang nitip jam tangan limited edition. Kedua, jastip kamera bekas.

Oke, saya ceritain ya.

#Jasa titip jam tangan limited edition

Ada pembeli yang hobi mengoleksi jam tangan limited edition. Ini adalah titipannya yang kesekian kali. Dia berkali-kali nitip jam tangan dan alhamdulillah dapet jamnya. Harganya pun sama-sama cucok. 

Awalnya, permintaan itu dikira jam tangan biasa. Maklum ya, pak suami kurang paham soal jam tangan limited edition. Nah, nyari di berbagai toko nggak ada. Akhirnya pembeli bilang kalau itu emang limited edition. 

Pak suami malah tertantang buat ngedapetin ini. Jadi dia nanya ke temennya yang asli Jepang. Dari info temen, jam tangan tersebut dijual di Rakuten. Buat mendapatkannya kudu melalui bidding.

Masalahnya adalah Rakuten di sana nggak ada bahasa Inggrisnya jadi pak suami nggak ngerti sama sekali. Akhirnya temennya tadi dengan baik hati menawarkan bantuan. Jadi mulai masuk Rakuten, bidding, sampai bayar pakai akun temen. Pak suami cuma ngasih harga penawaran aja.

Untungnya sih jam itu dimenangkan pak suami. Nah, pas mau bayar ke temen tadi, pak suami kaget lho. Si temen ngasih laporan komplit sampai potongan CC-nya. Hebatnya lagi, dia nggak mau dibayar lebih. Bahkan sekedar ditraktir makan juga nggak mau. 

Alhamdulillah, kalau gini kan rejeki anak soleh, hahahaha.

Emang sih sifat orang Jepang banyak yang kayak gini. Mereka akan tulus membantu tanpa ada kepentingan apa pun. Salut banget sama temen tadi.

#Jasa titip kamera bekas

Kalau bisnis kamera bekas sebenarnya nggak sengaja dan ini baru dijalanin saat mau balik ke Indonesia. Jadi ada temen kantor pak suami yang ngajak joinan bisnis ini. Tapi sistemnya adalah pak suami beli dulu baru dijual. Sistem ini yang bikin pak suami kurang sreg karena sangat beresiko.

Selama menjalankan bisnis jastip, pak suami selalu bikin aturan pembeli harus menyerahkan DP 50% dulu baru barang dibeli. Ada uang, ada baranglah. Kalau barang nggak dapet, DP tersebut akan dikembalikan 100%. 

Pak suami akhirnya memberanikan diri tes market dan berbisnis sendiri. 

Nah, karena bisnis kamera butuh effort yang nggak gampang makanya pak suami nyoba nawarin dulu di medsosnya. Ih, nggak disangka ternyata responnya luar biasa. Kami bisa jual 3 kamera bekas lho. Dan untungnya tuh lumayan banget.

Dalam bisnis jastip kamera, pak suami lebih waspada. Maklumlah ini nominalnya gedhe dan kalau ada cacat juga akan berdampak pada hasilnya. 

Hunting kamera bekas di Jepang lumayan susah. Saya pernah diajak nyari tuh. Pertama nyari di Akihabara. Dari siang sampai sore nggak dapet kamera yang diincar. Lalu malamnya kami ke Shinjuku. Akhirnya dapet sih di toko yang kecil gitu.

Oia, kamera bekas di Jepang ada gradenya dan semua dijamin kualitasnya. Barangnya juga asli Jepang kan makanya bisnis ini laku banget dijual di Indonesia. 

Pak suami masih penasaran sama kamera bekas. Akhirnya H-1 sebelum balik Indonesia, dia nekat ke Tokyo sehabis kerja. Pak suami nyari kamera bekas di salah satu distrik. Hhhmm, katanya sih di sana banyak yang jual barang bekas dan harganya lebih murah daripada di Shinjuku. 

Itu tadi pengalaman saya dan pak suami dalam berbisnis jasa titip kecil-kecilan. Kami hanya memanfaatkan waktu dan kesempatan aja. Alhamdulillah sih ini jadi pengalaman baru yang seru banget. Kami belajar tentang kesabaran, amanah, dan marketing. Bagi kami, bisnis jasa titip banyak untungnya selama kita bisa mengatur dengan baik. 

Jangan semua permintaan dituruti karena itu menyangkut amanah dan kualitas barang. Oia, jangan lupakan bagasi dan bea cukai ya, biar nggak tekor-tekor amat, hahahahaha.

Bisnis jastip ini kalau ditekuni bisa jadi bisnis yang menjanjikan lho. Banyak kan akun di IG yang menawarkan jastip. Omzet mereka dalam sebulan banyak banget. Emang sih bisnis ini mengutamakan amanah dan kualitas. Kalau pembeli sudah percaya maka barang apa pun yang dijual bakal laris manis. Percayalah. 

Oia, saya pernah menceritakan bisnis jasa titip waktu tinggal di Jepang. Tulisan tersebut dibuat di sana namun nggak sekomplit postingan ini.


Kamu pernah punya pengalaman dengan bisnis jasa titip nggak? Boleh sebagai penjual atau pembeli ya. Ceritain dong.^-^.























Continue Reading…

Wednesday, February 07, 2018

Susahnya Posting Lewat Handphone

Beberapa hari terakhir, saya lagi rajin ngeblog nih. Mungkin karena masih awal-awal tahun ya, jadi semangatnya masih ada. Kadang juga mikir, sayang banget kalau blog nggak di-update. Yah, semoga sifat rajin ini bisa bertahan lama ya, nggak cuma bentar doang. ^-^

Sebenarnya sih kemarin saya udah nyoba bikin postingan lewat handphone. Tapi ya Allah, susahnya posting lewat handphone. Baru bikin beberapa paragraf lalu delete. Terus bete sendiri.

Saya kan punya app blogspot. Pernah sih nulis di app blogspot. Enaknya nulis di situ karena simple, cuma modal hape dan kuota aja. Tapi nulis di app blogspot kayak ngedraft doang. Kenapa? Karena nulis pakai app blogspot jadinya ancur banget. Misal nih, kita udah nulis paragraf baru tapi setelah di-preview jadinya awut-awutan. Postingan nggak ada paragrafnya. Huft -_-

Selain itu, nulis pakai aplikasi ini susah ngeditnya. Jangan-jangan saya yang norak nih karena nggak tahu cara ngeditnya. Jadi saya tetap buka kompi buat merapikan postingan.

Saya pikir, kalau pakai app ini bakal enak dan mudah bikin postingan kapan pun dan di mana pun. Ternyata sama aja, masih perlu diedit via laptop atau kompi.  Aplikasi blogspot masih perlu perbaikan yang banyak. 

Eh, dulu saya pernah bikin postingan tentang app blogspot deh. Silakan baca di sini ya.

Karena emang lagi semangat ngeblog, akhirnya saya nyoba bikin postingan lewat dashboard blogger via browser. Kalau ini sih kayak buka laptop atau kompi biasa ya. Tapi entahlah, kemarin itu nyebelin banget. Saya udah nulis beberapa paragraf dan mau saya edit rata kiri dan kanan biar rapi, nggak bisa mulu. Buat ngeklik pilihan pengaturan paragraf aja susah banget. Pas dapet yang justify, nggak bisa dipilih. Tetep aja tulisan di rata kiri. 

Bermenit-menit cuma gitu doang akhirnya saya emosi dan nggak jadi bikin postingan. Akhirnya kembali ke cara lama biar saya waras dan blog tetap ada postingan baru. Saya nulis di kompi seperti biasa, hahahaha. Yah, mungkin saya emang gaptek jadi nggak tahu nih cara posting lewat handphone yang nyaman.

Btw, ada yang punya pengalaman yang sama nggak? Kamu lebih suka posting lewat handphone atau laptop nih? 



PS : Mau dikasih foto tapi uploadnya lama jadi nggak ada fotonya.-_-

Continue Reading…

Monday, February 05, 2018

Belajar Hidup dari Orang Kecil

Saya suka sekali membaca buku autobiografi seorang tokoh. Pelajaran yang dapat diambil dari membaca buku tersebut tentu saja kisah inspiratif dan perjuangan si Tokoh dalam meraih kesuksesan. Namun, kadang saya berpikir. Kayaknya suatu hal yang lumrah kalau belajar hidup dari tokoh terkenal. Lalu, apa salahnya jika kita belajar hidup dari orang kecil di sekitar kita?

Orang-orang kecil yang saya maksud di sini yaitu mereka yang pendapatannya di bawah UMR. Pendapatan sih bisa dikatakan 'sedikit' tapi kan kita nggak tahu, bisa jadi di dalam yang sedikit itu justru terdapat keberkahan yang besar.*benerin jibab dulu

Saya dan pak suami sempat tertegun dengan tukang rumput langganan. Sebut saja namanya Pak Karto. Pak Karto merantau dari Wonogiri ke Jakarta dengan harapan agar kehidupannya menjadi lebih baik. Bertahun-tahun merantau akhirnya beliau bisa membangun rumah di Depok. 

Istri Pak Karto bekerja sebagai ART di perumahan elit di daerah Jakarta. Istri Pak Karto tinggal di rumah majikan dan pulang ke Depok seminggu sekali. Anak Pak Karto ada 4. Ada yang sudah menikah, bekerja, dan sekolah. Karena ibu mereka nggak tiap hari di rumah, anak-anak Pak Karto hidup mandiri.

Sehari-hari Pak Karto bekerja sebagai pemotong rumput. Mesin pemotong rumputnya sudah tua. Nggak heran kalau saat kerja, mesin tersebut kerap kali ngadat. Tapi Pak Karto sudah lihai dengan hal ini. Tanpa menunggu berjam-jam, mesin tersebut dapat digunakan lagi.

Suatu kali, kami memanggil Pak Karto untuk membersihkan rumput. Pak Karto termasuk orang yang rajin. Beliau selalu datang sebelum waktu yang ditentukan. Ah, senangnya jika bekerja sama dengan orang seperti beliau. 

Di saat sedang bekerja di rumah kami, hape Pak Karto tiba-tiba berbunyi. Hape tersebut disimpan di kantong bajunya. Jadi meskipun suaranya tidak terdengar tapi getaran saat ada panggilan masuk terasa. Pak Karto mematikan mesin sebentar lalu bercakap dengan orang yang telepon tadi.

Setelah itu Pak Karto bilang ke kami bahwa setelah dari rumah kami sebenarnya dia dapat job memotong rumput di area komplek yang lebih besar. Asumsinya, dengan luasan yang lebih besar tentu pendapatan Pak Karto lebih besar dari pendapatan di rumah kami. Tapi apa yang dilakukan oleh Pak Karto? 

Beliau menolak job tersebut, saudara-saudara. Ya, menolak job. Terkesan songong ya, Pak Karto, hahahaha. 

Saya dan pak suami yang mendengar ini juga kaget. Saya pun penasaran dan memberanikan diri bertanya alasan menolak job tersebut.

Pak Karto dengan santai bilang kalau dalam sehari, dia bekerja cukup di 1 tempat saja. Rejeki berapa pun yang didapat hari itu akan selalu disyukuri. Besok nyari rejeki lagi. 

Wow, matematika saya nggak masuk nih. Maklumlah pikiran udah terlalu njlimet jadi kadang saya nggak bisa berpikir sederhana seperti Pak Karto. Kalau pikiran saya, semakin banyak job berarti makin banyak pula pendapatan. Kalau ada sisa di hari itu, bisa ditabung kan ya. Tetapi ternyata matematika saya nggak berlaku untuk kehidupan Pak Karto. Beliau ingin bekerja dan istirahat secara seimbang. Kalau bekerja terus memang nggak ada habisnya. Toh, syukuri dan nikmati saja pemberian rejeki di hari itu.

See? Sebegitu simpelnya ya pemikiran beliau. Mungkin bukan hanya Pak Karto saja yang seperti itu. Masih banyak orang-orang kecil di luar sana yang percaya dan yakin akan rejekinya Tuhan. Mereka masih bisa hidup dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan di kota besar. Mereka masih bisa bersyukur atas nikmat dan rejeki yang datang tiap hari meski hanya cukup untuk makan di hari itu saja. 

Ah, saya jadi malu sama mereka. Memang ya, matematika manusia beda sama matematikanya Tuhan. Kita hanya perlu bersyukur dan berusaha, insya Allah rejeki akan datang. Ya, saya perlu banyak belajar tentang hidup dari orang-orang seperti mereka.

*Tulisan ini sekaligus buat self reminder untuk diri saya sendiri.

Continue Reading…

Friday, February 02, 2018

Hajimete no Otsukai, Cara Orang Jepang Mendidik Anak Mandiri Sejak Kecil

Saya suka banget dengan hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, terutama soal budayanya. Entahlah, sejak SMA saya sudah suka banget dengan karakter orang Jepang yang terkenal baik. Yah, meski nggak semua sih karakter orang Jepang seperti itu. Tapi mayoritaslah ya. Salah satu yang paling saya suka yaitu sifat mandirinya. Nggak tua, nggak muda mereka melakukan apa-apa sendiri. Umumnya, mereka nggak mau merepotkan orang lain. Ternyata sifat mandiri ini adalah hasil didikan orangtua sejak mereka masih kecil.

Didikan inilah yang dijadikan acara teve di Jepang bernama Hajimete no Otsukai. Terjemahan bahasa Indonesianya kurang lebih 'tugas pertama'. Jadi, ini semacam reality show dimana orangtua menyuruh anak mereka yang berusia 3-5 tahun untuk berani keluar rumah sendiri. Biasanya sih orangtua akan menyuruh membeli sesuatu di super market atau mengantar barang ke tetangga/keluarga terdekat. Intinya, anak diajarkan bertanggung jawab dan mandiri tanpa didampingi orangtua.

Hajimete no Otsukai tayang di salah satu stasiun teve di Jepang sejak tahun 1991. Acara ini disiarkan setahun hanya dua kali, yakni saat seijin shiki dan umi no hi. Seijin shiki (hari perayaan orang dewasa) biasanya jatuh pada minggu pertama bulan Januari. Sedangkan umi no hi (hari libur pantai) yaitu hari libur nasional pada musim panas di bulan Juni. Di tiap shownya, acara ini dipandu oleh pembawa acara dan komentator dari kalangan seleb atau orang terkenal di Jepang. 

Hajimete no Otsukai sangat terkenal dan menjadi acara favorit di Jepang. Penonton dapat melihat muka polos anak kecil yang nggak dibuat-buat, kawaii banget. Perjuangan anak batita ataupun balita untuk membantu orangtua menjadi daya tarik di acara ini. Mereka ada yang bersemangat, takut, bahkan sampai nangis selama menjalankan tugas tersebut. Tak jarang, hal ini membuat haru penonton maupun pembawa acaranya. 

Pembawa acara dan para komentator pun sering menangis melihat perjuangan anak-anak tersebut yang penuh semangat. Apalagi jika anak-anak sudah sampai rumah dan disambut oleh tangis bahagia orangtuanya. Saya aja ini ngetik sambil nangis nih. Hahahaha, emang saya cengeng banget.

Demi keamanan si anak, beberapa kru TV akan menyamar sebagai pejalan kaki biasa sehingga mereka nggak tahu kalau sedang direkam.  

Nah, untungnya nih TV kabel saya ada program Jepangnya. Teve langganan saya anti mainstream lho, bukan brand yang kebanyakan orang punya. Senengnya lagi ternyata ada acara Hajimete no Otsukai tiap Kamis malam. Meski bukan tayangan yang baru setidaknya saya bisa mengambil pelajaran dari acara tersebut. 

Acara Hajimete no Otsukai merupakan acara favorit saya dan pak suami. Ritual malam Jumatnya ya nonton acara ini, hahahahaha. Eh, kalau kalian penasaran bisa kok nonton di Youtube. Hari gini apa sih yang nggak bisa ditonton lewat Youtube, ya kan? Yakin deh, kalian bakal senyam senyum sendiri atau mungkin malah nangis melihat tingkah laku anak kecil ketika disuruh belanja sendiri.

Gambar dari Pixabay

Semalam, acara ini menampilkan tokoh bernama Yuta. Ceritanya Yuta udah gedhe dan mempunyai 2 orang anak. Yuta menjadi dokter di salah satu klinik di pulau yang jauh banget dari Tokyo. Nah, penonton diajak flashback waktu Yuta berusia 5 tahun. Yuta (5th) dan adiknya (3th) disuruh ibunya membeli bahan untuk makan malam. Yuta disuruh membeli wortel, kari, dan sayuran. Sedangkan adiknya disuruh membeli bunga 1 ikat. Ibunya memberi dompet yang berisi uang ke masing-masing anak yang dikalungkan di leher.

Petualangan Yuta dan adiknya dimulai. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju super market. Kalau adiknya lepas dari gandengan, Yuta bakal teriak-teriak. Dari arah berlawanan, mereka berpapasan dengan anak SMA. Yah, semacam bubaran sekolah gitu ya. Melihat jumlah anak SMA yang banyak (padahal ya nggak banyak banget), mereka sembunyi di bawah pohon. Lucunya, Yuta pengen melindungi adiknya. Makanya Yuta ngambil batu kecil yang dilemparin ke anak SMA tadi. Yuta tuh melemparnya lucu banget kayak ngglundungin kelereng gitu. Hahahaha, kocak deh.    

Di acara ini pasti deh ada adegan anak kecil menyeberang jalan. Mereka kalau menyeberang memperhatikan lampu merah, lalu tengok kanan-kiri sambil mengangkat salah satu tangan. Karena displin berlalu lintas di Jepang sangat tinggi, kayaknya hal ini nggak masalah ya buat mereka. Anak-anak bisa menyeberang dengan aman. 

Ketika di super market kadang kehebohan terjadi. Anak-anak kadang belanja melebihi yang dibutuhkan atau mereka malah berantem mau beli apa. Anak-anak ini hebat lho. Mereka mengambil keranjang belanja sendiri. Kalau nggak bisa ambil, mereka minta bantuan pegawai toko. Mereka ke kasir ya sendiri. Menyerahkan dompet ke kasir lalu memasukkan kembali uang kembalian.

Saat pulang inilah kadang ada drama yang bikin haru. Anak-anak yang semula berangkat tasnya ringan menjadi berat karena berisi barang belanjaan. Tak jarang mereka ada yang kecapekan dan istirahat berkali-kali di jalan. Kalau saking beratnya, mereka biasanya menyeret tas belanja. Tentu saja hal ini bikin tas tersebut rusak dan barang belanjaan ada yang rusak atau sobek. 

Nah, Yuta ini membawa belanjaan sendiri karena adiknya juga sibuk membawa bunga. Bawaan mereka cukup berat tapi dengan penuh semangat mereka pengen segera pulang. Eh namanya anak kecil, ketika melihat temannya main mereka pun ikut. Yuta dan adiknya nggak langsung pulang. Mereka bermain dulu ke bukit bersama teman-temannya. Setelah itu, mereka mampir ke toko cuma untuk main ayunan. Yuta dan adiknya gantian mengayun. So sweet banget deh adegan ini. 

Singkat cerita, mereka sudah sampai rumah. Si ibu sudah menunggu dari tadi dengan agak cemas karena mereka belanja selama 2 jam, hahahaha. Ibunya terharu ketika melihat Yuta dan adiknya bisa belanja sendiri dengan baik. Eh, tapi ketika dicek kok dompet adiknya nggak ada. Ke mana ya dompetnya?

Lalu si ibu mengajak Yuta dan adiknya napak tilas sepanjang perjalanan pulang. Mereka ngecek di sela-sela pohon dan di jalan. Kali aja jatuh di situ kan. Yuta bilang kalau tadi main ayunan dulu. Setelah dicek ternyata dompetnya ketinggalan di ayunan. 

Ibunya Yuta ingin mengajarkan kepada anak-anaknya untuk bertanggung jawab dan menghargai uang meskipun uang kembalian tersebut jumlahnya sedikit. Hebat, ya. 

Oia, melihat kisah Yuta, saya jadi ingat sama mba Weedy Koshino. Kompasianer yang menikah dengan orang Jepang dan tinggal di sana. Mba Weedy juga penulis buku Unbelievable Japan. 

Beliau juga mempraktikkan hajimete no otsukai kepada anaknya. Cerita ini ditulisnya pada hal 135. Tentu saja mba Weedy melakukan bersama keluarga, nggak ada kru teve dan kamera. 

Cerita Mba Weedy di buku Unbelievable Japan

Mba Weedy dan suami mengawasi anak mereka dari kejauhan. Biar nggak dikenali, mereka memakai masker dan kaca hitam. Gerak-gerik ini dilihatin banyak orang karena agak mencurigakan. 

Saat di super market kayaknya para pegawai banyak yang tahu kalau si anak sedang menjalankan tugas. Untungnya si anak sukses menjalankan tugas tersebut. Mba Weedy sampai menangis begitu anaknya sudah di rumah. Beliau teringat perjuangan anaknya saat istirahat dan belanja sendiri. 

Acara hajimete no otsukai bagus banget ya. Hm, saya ngayal nih. Mungkin nggak ya hal ini bisa dicontoh di Indonesia? 

Misalkan pengen nyoba kayak Mba Weedy, ya gampangnya sih nyuruh anak belanja di warung dekat rumah. Kalau misal agak jauhan kan ngeri gimana nanti nyeberangnya. Kalau mau ekstrem misal belanja di mini market sih pasti takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diingankan pada anak tersebut. Bisa jadi, orangtua yang mengawasi anak dengan menyamar malah dianggap penculik. Hahahaha, susah ya. 

Tapi kalau ada tim dari teve sih kayaknya mereka akan bertindak profesional dan melindungi anak kecil. Jadi kira-kira ada stasiun teve yang mau nyontoh program ini nggak ya? Menurut kamu gimana?  






























  
Continue Reading…

Thursday, February 01, 2018

Sudah Nggak Ada Steny di Delta FM, Atiku Ambyar

Cerita ini mungkin agak lebay. Biarin aja ya wong ini blog milik saya, hahahaha. Terserah saya dong mau cerita kayak gimana. Kan emang blog ini isinya curhatan. Tapi kalau ada brand yang mau kerja sama di blog ini, silakan lho ya. Asal cucok, hahahaha.#ehgimana

Udahan ya intro yang nggak penting tadi.

Jadi nih kemarin pagi bisa dibilang perasaan saya agak embuhlah. Ceritanya saya kan buka IG terus ada feed dari Steny Agustaf. Btw, ada yang tahu Steny nggak sih? Kalau nggak tahu, tanya ke mbah gugel ya, hahahaha. Dia tuh cuma ngasih kabar bakal ada pengumuman penting di Delta FM, jam 9-nan. Agak penasaran sih kira-kira apa ya yang mau diomongin sama Steny. Kok kayaknya penting banget. Dan ketika baca-baca komennya, atiku ambyar mbyar mbyar.

Kaget dan shock ketika tahu kalau Steny mau resign dari Delta FM. OMG, saat itu juga saya sedih banget dan benar-benar nggak nyangka sama berita ini. 

Maklumlah, saya pendengar radio Delta FM sekitar 4 tahun lalu. Lebih intens mendengarkan Delta tepatnya saat saya ikut pak suami dinas di Jepang. Dari pagi sampai malam, ya radio Delta yang menemani saya tiap hari. Lha gimana enggak sayang sama Delta coba.

Bayangkan, kalau kamu di Jepang nggak kenal siapa-siapa di apartemen terus nonton tivi Jepang juga nggak mudeng, njuk peh ngopo? Hayo aluwung ngenet sak puase mumpung internet di sana kuenceng dan nggak mikir kuota. Jadi aktivitas saya di apartemen kebanyakan ya di depan laptop atau cuma ndengerin radio Delta biar rame. Hal ini pernah saya tulis waktu tinggal di sana. 


Btw, di postingan tersebut ada komennya Harsya Subandrio lho. Salah satu presenter tivi dan penyiar di Delta juga. Jujur, saya nggak promoin postingan tersebut di media sosial manapun. Makanya waktu dapet komen tersebut, saya seneng banget.*penting ditulis, hahaha.

Balik lagi soal Steny ya. Nah, habis baca komen-komen di IG-nya Steny, saya langsung nyalain radio. Dan bener aja, Mba Asri Welas sebagai partnernya Steny menangis selama siaran. Tapi ya dasarnya Steny, suasana yang harusnya haru malah jadi lucu ama becandaannya dia. 

Asri dan Steny merupakan duo penyiar favorit saya tiap pagi. Mereka siaran mulai jam 6 sampai jam 10 pagi di acara Asri-Steny In The Morning. Ini lebih kayak talk show tapi di radio. Di talk show ini, mereka membahas hal-hal yang berhubungan sama kehidupan sehari-hari. Mulai masalah rumah tangga, pertemanan, percintaan, sampai politik juga dibahas di sini. Asyiknya tuh, meski temanya berat tapi mereka bisa membawakan dengan santai. Mereka mampu membuat suasana pagi jadi ceria dengan suara dan tawa sutranya, hahahahaha.

Duet Asri-Steny saling melengkapi. Mba Asri yang suaranya cempreng diimbangi sama suaranya Steny yang adem. Steny bisa mengimbangi karakter Asri yang emosian atau ceplas-ceplos. Dan, Steny tuh cerdas kalau bikin guyonan. Jadi dia pintar banget kalau nyindir secara halus. Ya maklumlah, pengalaman dia sebagai public speaker udah mumpuni banget. 

Kemarin, nggak terasa saya sediiih banget denger siaran terakhir di Delta FM. Hei, kalau kamu radio mania pasti tahu kan ya gimana rasanya ditinggal sama penyiar favorit. Gimana hampanya hari-hari tanpa suaranya. Secara sebagai pendengar setia pasti merasa dekat dengan penyiar meski belum pernah ketemu. Bener kan?

Nah, itu yang kemarin saya rasain. Saya masih belum rela kalau Steny resign dari Delta. Saya juga pasti merasa aneh kalau pagi dengerin radio nggak ada suaranya. Dan saya juga pasti akan adaptasi lagi dengan penyiar baru yang menggantikan Steny. 

Kayak pagi ini aja deh. Ketika saya dengerin Delta, ternyata cuma Asri Welas aja yang siaran ditemani Jodi. Biasanya bakal denger penyiar ngomong #AsriStenyIntheMorning, pagi ini cuma denger #AsriInTheMorning doang. Ih, aneh banget. Pasti deh Mba Asri juga merasa aneh kalau ngomong kayak gini. Apalagi masih hari pertama ditinggal kan, pastinya masih kangen sama Steny. 

Sebagai pendengar setia, kebahagiaan apa yang kamu rasain selain menang kuis di radio? Yak betul, pastinya ketemu penyiar kesayangan.

Eh btw, alhamdulillah saya dan pak suami pernah ketemu Asri dan Steny. Ceritanya, bulan Mei tahun lalu abis Mba Asri lahiran, pengen ketemu sama sobat Delta. Jadi mereka kasih 10 tiket nonton gratis. Beruntung, saya dan pak suami dapet tiketnya. Saya agak nawar nih. Jatah per orang kan cuma 1. Tapi saya minta 2, satunya buat pak suami. Lha mosok saya pergi sama pak suami ke Kemang Village tapi dia beli tiket sendiri. Yo rak lucu. Dan eman-eman duitnya kalau beli tiket sendiri. Selagi masih bisa memperjuangkan gratisan, kenapa enggak? *emaksukagratisan

Waktu nobar di Kemang Village

Oia, tim Delta lumayan banyak yang ikut. Selain Asri-Steny, juga ada Danar Gumilang, Mas Budi, dan 2 pegawainya. Asri dan Steny masing-masing membawa keluarga. 

Saya sangat terkesan dengan mereka. Orangnya rendah hati dan mau menyalami kami satu per satu dengan mengulang kata yang sama. Kayak gini nih contohnya,

"Halo, saya Danar".

Nah, kami kan denger dan tahu ya siapa namanya, misal nggak diucapin pun atau cuma salaman doang, bagi kami sih biasa ya. Tapi para penyiar ini tetap mengucapkan salam perkenalan seperti itu ke kami, satu per satu sambil salaman erat lho. Emang beda ya kalau orang yang udah jago public speaking, mereka bisa membawa diri dengan baik. Salut deh. 

Perasaan saya jangan ditanya lagi waktu ketemu sama mereka. Seneeeng banget. Penyiar yang selama ini cuma bisa didengerin suaranya di radio dan diliat di tivi akhirnya bisa bertatap muka dan ngobrol langsung. Eh, Mba Asri Welas kalau di tivi kelihatan biasa banget kan. Nah, kalau ketemu aslinya, cantik lho orangnya. 

Yang bikin saya respek banget ke mereka yaitu sikap humblenya. Mereka nggak ngerasa sok artis lho. Malah mereka ramah juga saat ada wartawan yang mau wawancara.

Terima kasih ya #AsriStenyInTheMorning udah menemani pagi saya dengan penuh tawa. Makasih, udah bikin pagi saya jadi semangat. Makasih udah nemenin saya saat masak. Dengan nggak ada Steny, semoga Mba Asri bisa dapet partner siaran yang cocok lagi. Sebagai sobat Delta, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik dan menunggu gratisan-gratisan selanjutnya, hahaahaha.^-^.

Eh, btw kalian pernah nggak sih ngalamin kejadian kayak saya? Ati ambyar karena ditinggal mantan penyiar favorit? Hahaha. 












Continue Reading…

Wednesday, January 10, 2018

Food Combining Membuat Saya Sehat

Gaya hidup sehat menjadi kebutuhan bagi tiap manusia. Apalagi akhir-akhir ini kayaknya sudah menjadi trend ya. Saya setuju kalau sehat adalah kebutuhan, terlebih setelah divonis PCO yang membuat saya susah hamil. Bagi pembaca yang sering mampir ke sini tentu sudah paham kalau saya melakukan berbagai ikhtiar supaya bisa hamil. Berobat ke alternatif, insem sebanyak 2x, minum obat hormon, belum juga ada hasilnya. 

Ketika saya konsul ke dokter kandungan, memang sih penderita PCO mau nggak mau harus hidup sehat dan mengurangi berbagai makanan tertentu. Hal ini sebaiknya dilakukan secara rutin agar hormon bisa normal. 

Tapi untuk konsisten menjalankan hidup sehat tidaklah semudah itu. Sungguh, saya mengalami berbagai tahap sebelum akhirnya mantap untuk melakukan food combining dengan benar.

Saya masih inget banget saat itu menjelang akhir Desember 2016 tiba-tiba saya pengen bikin resolusi untuk hidup sehat. Beneran random deh. Emang sih saya sudah melakukan hidup sehat tapi belum maksimal.

Kayak makan nasi merah, sarapan (waktu itu) cuma buah dan sayur, serta mengurangi gorengan. Tapi saat itu saya masih suka jajan dan makan snack. Sampai akhirnya saya ikutan no junk food challenge for 21 days. Tapi setelah hari ke-21 saya balik lagi makan junk food, hahahaha.

Lalu saya gugling tentang food combining. Nggak tahu kenapa kok tiba-tiba pengen tahu soal FC. Apa karena kekinian? Saya pikir bukan. Satu yang pasti, saya hanya ingin sehat.

Bisik-bisik netizen juga banyak yang ngomongin tentang food combining. Apalagi di grup 'PCO Fighter' yang saya ikuti. Sesekali di grup tersebut ada yang posting kabar gembira tentang kehamilan. Kebanyakan dari mereka yang berhasil hamil karena melakukan hidup sehat. Setelah saya baca pengalaman mereka, kenapa nggak nyoba food combining aja.

Bukan berarti pola makan yang diterapkan orang lain jelek ya. Bukaaann. Tiap orang kan punya pemahaman dan pilihan hidup masing-masing ya. Bahkan pak suami aja nggak saya suruh ikutan food combining kok. Dia masih menggunakan pola makan seperti orang kebanyakan. Dan saya nggak masalah tuh soal ini. 

Sebelum menerapkan food combing, akhir Desember 2016 saya cuma baca-baca blognya orang sampai chat sama Mba Widyanti Yuliandari. Mba Widya (btw kok namanya sama sih) adalah blogger yang juga pelaku food combining. Beliau juga penulis buku tentang food combining. Karena sesama blogger dan berada di grup KEB makanya saya SKSD menanyakan food combining. 

Percakapan dimulai dengan saya cerita sarapan ala-ala yang masih campuran sayur dan buah. Lalu pola makan yang masih seenaknya.

Responnya Mba Widya bikin saya kaget. Saya merasa ditampar sama Mba Widya yang kata-katanya langsung bikin makjleb. Mba Widya bilang kalau saya salah kaprah bila saat itu mengaku sudah menerapkan food combining. Mba Widya orangnya kalau ngomong to the point tanpa tedheng aling-aling. Tapi berkat omongan beliau saya jadi sadar nih, hahahaha. Makasih ya Mba Widya.

Kata-katanya Mba Widya yang masih saya ingat sampai sekarang yaitu,
"Mba, percayalah, hasil tidak akan mengkhianati usaha."

Buku food combining yang saya beli

Kemudian Mba Widya menjelaskan food combining globalnya saja. Merasa tidak puas, saya pun membeli bukunya Mba Widya tentang food combining. Hanya dalam hitungan jam buku food combining sudah saya khatamkan. 

Dari buku tersebut, pengetahuan saya tentang food combining bertambah. Ternyata bener, saya seenaknya dalam menjalankan food combining. Jika ingat chat dengan Mba Widya waktu itu, saya tertawa dan malu sendiri. Hahahaha, emang saya bandel sih, pengen enaknya aja. Padahal di dalam FC sudah ada aturan yang jelas dan alasan kenapa hal itu dilakukan. 

Di sini saya nggak mau panjang lebar menceritakan tentang FC. Secara umum pola makan food combining adalah pola makan yang mengikuti irama sirkadian tubuh yang berlangsung secara fisiologis selama 24 jam. Irama sirkadian ini meliputi fase cerna, fase serap, dan fase buang. Dari irama inilah maka aturan makan dalam FC dibuat supaya apa yang kita makan tidak memberatkan kerja organ tubuh.

Secara garis besar, aturan di dalam food combining yaitu (cmiiw ya) :

1. Pagi hari saat bangun tidur dan mulut masih kering langsung minum air jeniper (jeruk nipis peres) atau air lemon anget.

2. Sarapan eksklusif buah, kalau bisa 3 macam buah.

3. Makan siang dimulai jam 12 saat fase cerna.

4. Karbo nggak boleh ketemu protein hewani. Karbo bolehnya dimakan dengan protein nabati.

5. Protein nabati boleh ketemu protein hewani.

6. Makanan dikunyah secara perlahan.

7. Usahakan untuk menambah sayuran mentah di menu makan.

8. Aktivitas makan sampai pukul 8 malam.

Ini hanya garis besarnya saja ya. Di dalam buku tersebut dijelaskan lebih mendalam bab per bab dan tata cara makan serta aturan FC yang benar. Penjelasannya nggak rumit kok sehingga saya cepat paham dan langsung praktik keesokan harinya.

Saat praktik FC pertama kali, jujur aja saya lemes banget. Mungkin karena belum terbiasa sarapan eksklusif buah kali ya. 

Tiga minggu pertama saya berada di jalur yang benar sesuai juklak FC sehingga BB sempat turun 3 kg. Poinnya di sini adalah saya bukan menurunkan BB dengan food combining ya. Saya ingin hidup sehat dengan food combining. 

Penerapan FC sesuai juklak cuma berlangsung sebentar aja, hahahaha. Saya mulai cheating dikit-dikit saat weekend. Hahahaha, wajar kan ya namanya juga manusia pastilah pengen jajan di luar yang mana susah banget kalau harus sesuai juklaknya FC. Cheating ini sering berlanjut bahkan nggak cuma di weekend aja. Saya mulai sering cheating di weekday juga. Meski cheating tapi kalau pagi saya tetap minum jeniper lho.

Karena kebanyakan cheating, lama-lama saya kok merasa berdosa ya. Saya merasa bahwa percuma saja jika tahu ilmunya tapi nggak menerapkan dengan baik dan benar.

Enam bulan berikutnya saya mulai fokus FC lagi dan cheating saat weekend doang. Selama weekday saya benar-benar menerapkan pola food combining sesuai juklak. 

Saat saya menerapkan pola FC, godaan terbesar adalah tanggapan dari lingkungan sekitar dan keluarga yang menganggap saya aneh. Hal ini wajar sih karena kan tiap orang punya kepentingan yang berbeda.

Saya menerapkan FC karena banyak membaca pengalaman penderita PCO bisa hamil dengan menerapkan food combining. Saya ingin seperti mereka. Jika saya yakin akan suatu hal maka saya akan meyakini sepenuhnya dan berusaha menjalaninya dengan baik.

Godaan lain datang saat traveling. Nah, ini saya sempat cemas karena cuma sarapan buah di jalan. Saat itu saya juga pusing mungkin dikarenakan kepala terkena AC.

Saat traveling tersebut saya ikut open trip dan salah ambil posisi duduk yang dekat AC. Lemesnya minta ampun, hahahaha.

Tapi kabar baiknya yaitu saya irit saat jajan makan siang karena menu FC sebenernya simpel. Seringnya saya jajan maksi yaitu menu karbo dan protein nabati. Simpel, gampang, murah dan sehat kan, hahaha.

Oia, saat bulan puasa, saya masih belum kuat kalau sahur cuma eksklusif buah. Saya terapkan aturan FC tapi sahur pakai karbo dan protein nabati.

Waktu buka puasa saya jarang banget makan nasi. Nah, saat fokus FC inilah saya udah jarang banget buka puasa pakai gorengan dan bikin kolak. Menu buka puasa seringnya sih takjil buah dan makanan yang non gorengan kayak ubi kukus, jagung, dan singkong rebus. Setelah tarawih, saya makan sayur dan lauk aja. 

Dengan pola makan seperti ini saat puasa, jujur sih saya nggak laper. Malah saya merasa bahwa tubuh jadi enteng dan sehat. 

Setelah menerapkan FC agak bener, saya merasa kondisi tubuh lebih baik. Dulu kalau bangun pagi badan terasa berat dan pernah pusing beberapa kali. Namun sejak menerapkan FC, sekarang sudah nggak pusing lagi. Tiap bangun pagi rasanya enteng. 

Percaya atau tidak, sekarang saya jarang banget sakit kepala atau migren. Bahkan saya juga jarang terkena flu. Kalau badan meriang, biasanya cukup dikerik dan minum air jahe merah aja. 

Sejak saat itu saya nggak ragu lagi menerapkan food combining meski masih cheating saat weekend sih. Perubahan yang besar saat menerapkan pola FC dengan benar yaitu saya udah jarang ngemil makanan pabrikan. Karena di dalam FC diajarkan untuk mengonsumsi makanan yang sebisa mungkin dalam bentuk aslinya dan minim olahan. 

Alhamduillah, food combining membuat saya sehat.


































Continue Reading…

Tuesday, January 09, 2018

Keliling Tokyo Nggak Cukup Sehari

Akhirnya saya bisa nulis tentang Tokyo. Sebenernya saya pengen banget nulis tentang ini dari dulu tapi karena males jadinya tertunda mulu. Berawal dari seringnya saya dapet pertanyaan seperti ini,

Kalau keliling Tokyo, sehari cukup nggak? 

Jujur ya, keliling Tokyo tuh sehari nggak bakal cukup. Karena apa? Sungguhlah pesona Tokyo sangat luar biasa karena banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Mumpung lagi di Tokyo, lho. Mumpuuuuunnnggg. Ntar kalau udah balik ke Indonesia biar nggak nyesel, hahahaha. 

Tokyo, sebagai ibu kota Jepang pesonanya memang luar biasa. Segala macam hiburan ada di sini. Mulai dari mall, distrik-distriknya, museumnya, teknologinya, keindahan alamnya, budayanya, belum lagi kulinernya. 

Semua ada di kota ini tinggal duitnya ada atau enggak, hahahahahaha. Dulu, saat tinggal di Jepang, saya beberapa kali ke Tokyo. Itu pun seharian sudah diplanning full lho, masih aja berasa kurang. 

Sebelum kalian pergi ke Tokyo, sebaiknya cari info yang banyak soal tiket murah, penerbangan yang murah, mau naik shinkansen apa enggak (mumpung ada di Tokyo), nginep di mana, mau ke mana aja. Semua kudu diatur dengan baik biar keuangan nggak jebol.

Saya dan pak suami yang saat itu tinggal di Yokohama (sekitar 45 menit ke Tokyo) benar-benar merencanakan perjalanan dengan baik. Kami tahu karena biaya di Tokyo nggak murah. Dengan begini aja kami sering keteteran karena keasyikan menikmati Tokyo. Jadi pas ada kesempatan ke sana lagi, alhamdulillah kami bisa menikmati Tokyo layaknya warga lokal yang nggak kemrungsung, hahahahaha. Maklum ya, mumpung di sana kan. 

Oia, saya mau kasih sedikit gambaran buat kamu yang mau ke Tokyo.

Hanami di Shinjuku Gyoen

#Banyak Distrik

Tokyo itu gedheeee dan rameeee banget. Maklumlah ini kan ibu kota ya. Beda banget kalau kamu jalan-jalan ke daerah pinggiran Jepang. Tapi serame-ramenya Tokyo ya di tempat wisata dan sekitar stasiun sih.

Tokyo punya beberapa distrik yang ngehits bagi turis. 

*Akihabara, kalau kamu mau cari elektronik atau anime-anime. Oia, kalau kamu mau lihat AKB48 atau sekedar nongkrong di kafenya juga ada di sini.

Kafe dan theaternya tempatnya agak jauhan. Kalau kafe AKB48 deket stasiun. Sedangkan theaternya ada di Don Quijote.

*Shibuya, nah ini ngehits karena ada patung Hachiko dan cross junctionnya yang ruameeee itu. Tempat ini jadi syuting Tokyo Drift-nya Fast and Farious. Sumpah, saya norak ada di sini. Bolak-balik nyebrang karena cuma pengen ngerasain sensasi nyebrang bareng sebegitu banyak orang, hahahaha.

*Ginza, tempat belanja yang ngehits di Tokyo. Saya nggak terlalu banyak menghabiskan waktu di sini karena duitnya mepet euy, hahahaha.

Tokyo Tower di malam hari

*Roppongi, tempat belanja juga tapi ada juga Fujifilm Square di sini. Saya pernah mampir sih cuma lihat-lihat gallery-nya doang. Kalau kamu penggemar Fuji ya wajib ke sini. Foto-foto di gallerynya bagus-bagus. Di sini juga ada kamera Fuji yang sudah kuno. Terfujilah.

*Harajuku, tempatnya anak muda dengan style nyleneh. Biasanya mereka ngumpul saat weekend bisa di Harajuku atau Yoyogi park.

*Omotesando, tempat untuk belanja atau shopping atau ngafe. Deket ama Harajuku.

*Kawasaki, yang terkenal karena ada museum Doraemon. Sumpah, saya nggak nyesel mampir ke sini. Seru abis museumnya karena seakan-akan kita bertamu ke rumah Doraemon. Kalau ke sana, coba rasain dorayakinya deh. Enaaakkk.

Pintu ke mana saja Doraemon

*Shinjuku, ada Shinjuku Gyoen yang bagus banget saat hanami. Tiket masuknya juga murah. Kalau ke sini nggak berasa waktu cepet banget karena emang bagus kalau hanami.

Selain itu, di Shinjuku ada kantor pemerintahan bernama Tokyo Metropolitan Government. Ada bagian dari kantor ini yang boleh dimasuki oleh pengunjung dan gratis.

*Ueno, taman Ueno yang ruameee banget saat hanami. Kayaknya di Ueno gratis deh dan luasnya ampun-ampunan. Ada kebun binatang juga di sini. Pasar Ameyayokocho yang terkenal murah juga ada di sini. Kalau di Ueno terlalu rame, mlipir hanami ke Shinjuku Gyoen aja.

Hanami di Ueno Park

*Odaiba, pulau buatan di Teluk Tokyo. Di sini bisa lihat Rainbow Bridge yang bagus di malam hari, patung Liberty kawe, Gundam yang gedhenya minta ampun, ada juga Madam Tussaud, serta mall. Coba deh rasain naik kereta yang driverless. Seruuu banget.

Rainbow Bridge di Odaiba

#Banyak Tempat Wisata Ngehit

Yaiyalah Tokyo banyak banget tempat wisatanya. Komplit banget deh. Mau belanja kaki lima ada di Asakusa, di Tokyo ada banyak mall, ada Tokyo Tower, Tokyo Sky Tree, museum Doraemon, Tokyo Disney Land, ke Odaiba juga bisa.

Selain itu ada Museum Gibli, Masjid Tokyo Camii, taman di Yoyogi, Ueno, Shinjuku. Lalu istana kaisar yang tamannya bagus banget dan gedhe. Kalau hanami malam bisa ke Chidorigafuchi atau Naka Meguro.

Wah, pokoknya banyak banget deh.

Kalaupun nggak mau ke mana-mana, kamu keliling stasiun Tokyo juga bisa kok. Stasiun Tokyo tuh gedheee banget. Banyak banget line-nya sampai saya bingung. Hhmm, kamu jangan kayak saya ya. Semoga nggak bingung dan nyasar di stasiun Tokyo.

Selain itu juga banyak restoran dan tempat jual suvenir atau oleh-oleh. Nyari Tokyo Banana juga ada di sana.

Yang paling saya suka saat di stasiun Tokyo yaitu mendengar langkah orang yang buanyak banget. Langkah manusia yang selalu cepat dan suara sepatu yang sahut-sahutan membuat saya rindu pada stasiun ini. Hahaha, receh banget ya saya.

Sakura malam di Chidorigafuchi

Oia, di Tokyo kamu juga bisa lihat pelelangan ikan di Tsukiji Market dan makan sushi di sana. Kalau mau lihat lelang ikan kudu berangkat pagi atau kalau perlu nginep di warnet deket Tsukiji. Sayangnya, waktu itu saya nggak dapet momen lelang ikannya. Udah berangkat pagi dari Yokohama tapi nyampe sana udah nggak bisa lihat. Ya udah akhirnya cuma makan sushi di Tsukiji. Sushinya enaaak banget karena ikannya segar. Mantaaap!!

Sushi di Tsukiji market


#Cari yang Murah

Saya yakin kalau keliling Tokyo nggak bakal cukup sehari. Bayangin aja perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Belum kalau nyasar. Belum kalau antre kayak masuk ke Disney Land atau naik ke Tokyo Sky Tree. 

Makanya kamu kudu cari info yang banyak. Bisa saja nggak semua tempat dikunjungi. Atau kamu juga bisa datang ke tempat yang gratis aja. Kalaupun mau ke tempat yang kudu bayar, pastikan keuangan diatur biar nggak boros.

Supaya nggak tekor-tekor amat, kamu bisa beli tiket terusan yang murah. Bisa aja kamu pakai Tokyo Pass atau Kanto Pass. Saya nggak hapal masa berlakunya masing-masing tiket tersebut.

Kalau pakai Tokyo Pass kamu bisa keliling Tokyo naik kereta JR gratis.

Tokyo Camii

Nah, kalau kamu pengen sekalian keliling ke Gunung Fuji, Kawaguchiko, Hakone, Nikko baiknya sih pakai Kanto Pass. Kenapa? Karena Tokyo dan tempat-tempat wisata tersebut berada di area Kanto. Tentu saja kalau pakai Kanto pass lebih murah.

Dengan Kanto pass kamu juga bisa naik shinkansen gratis. Saya dan pak suami pernah pakai Kanto Pass buat ngabisin liburan golden week. Beneran deh, nggak nyesel beli tiketnya. 

Kalau soal penginapan murah, jujur saya nggak tahu soalnya saya nggak pernah nginep di Tokyo. Karena waktu itu saya dan pak suami tinggalnya di Yokohama. Jadi kami seharian keliling Tokyo pakai Tokyo pass. Coba aja cari di gugel pasti banyak kok penginapan yang murah di sana kayak air bnb. Oia, jangan lupa buat sewa mifi selama di sana biar enak kalau mau internetan atau eksis di medsos.

Btw, kalau mau info lebih detil lagi soal tempat wisata di Tokyo, bisa ubek-ubek blog ini di label 'Jepang'. 

Selamat jalan-jalan ke Tokyo, ya.^-^. 























Continue Reading…

Monday, January 08, 2018

Tahun 2017 yang Lalu

Wah, udah tahun 2018 aja ya. Waktu kok rasanya cepet banget berlalu. Kayaknya saya masih bisa ngerasain perayaan tahun baru 2017 tiba-tiba aja ini udah tahun 2018. Beneran nggak kerasa banget.

Kalau ngomongin tahun 2017, jujur aja termasuk tahun termalas saya. Di sisi lain, tahun 2017 yang lalu merupakan tahun terajin untuk menjalani hidup sehat dan berolah raga. Pasti semua ada hal-hal yang positif dan negatif ya dalam tiap tahunnya. 

Namanya juga kehidupan, tahun 2017 ada peristiwa yang mengenakkan tapi ada juga yang bikin mangkel karena saya sempat kena tipu. Hhhmm, tepatnya beberapa blogger sih. Saya jadi makin banyak belajar untuk tidak mudah percaya sama orang lain dan tentu saja lebih berhati-hati. 

From pixabay

Selama 2017 saya males-malesan banget. Di rumah pengennya cuma golar-goler, baca-baca sampai kuota tiba-tiba cepet habis, hahaha. Tiap urusan memasak selesai lalu istirahat sambil buka hape bikin saya males ngurus rumah. Seringnya beberes rumah sore hari saat pak suami mau pulang. Entahlah setiap abis masak atau ngurus rumah, badan terasa capek banget. Apakah saya jenuh di rumah atau jenuh dengan kerjaan rumah yang itu-itu saja dan seakan nggak ada habisnya. Jadinya pengen gegoleran mulu. 

Sumpah, saat itu tahun termalas saya untuk melakukan sesuatu. Hhmm, rasanya kayak pengen banget menikmati hidup. Jadi ya saya selow banget beraktifitas di rumah. Mau baca ya baca, mau tidur ya tidur, mau gegoleran ya sok tanpa mempedulikan rumah yang masih berantakan. Itu duluuuu.-,-

Dan di tahun itu pula saya agak berubah jadi lebih pendiam. Memang sih dulu kalau ngomong saya kurang direm jadi mungkin ada yang tersakiti secara sengaja atau tidak sengaja. Maaf ya kalau ada yang merasa kayak gini. 

Nah, seiring berjalannya waktu, saya banyak belajar dan berpikir untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Maklum ya, saya udah merasa tua. 

Kalau mau jelek terus, kapan bisa dewasanya? 
Lalu, bekal untuk akhirat nanti apa? *uhuk*

Iyap, saya seriiiing banget punya pikiran kayak gini. Ada ketakutan bila kelak belum bawa bekal yang cukup di akhirat. Bukannya saya sok alim tapi saya mengimani ajaran agama yang saya anut.

Hal ini nggak serta merta langsung berubah sih. Semua ada prosesnya dan berjalan secara bertahap. Mungkin kamu yang udah berusia 30-an tahu banget ya proses ini. Bener nggak?

Di usia ini saya kembali berkaca dan belajar. Dimulai dari keluarga sendiri. Bagaimana sikap dan perilaku saya berubah sedikit demi sedikit ke pak suami dan keluarga besar. Gimana saya harus menempatkan diri dengan baik sehingga tidak ada yang tersinggung. Dan yang terpenting gimana saya menikmati hidup tanpa mempedulikan omongan orang lain. Saya juga belajar bersyukur atas hal-hal yang kecil. Intinya, saya ingin menikmati hidup dan menjadi diri saya sendiri. 

Yes, saya sudah berada di tahap yang demikian. Ketika ada hal yang berbeda, saya sudah menganggap hal itu adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu dibesar-besarkan. Karena tiap orang punya pemikiran dan kepentingan yang berbeda. Saya menghargai mereka selayaknya saya juga ingin dihargai. Perbedaan adalah hal yang sangat wajar. Dengan perbedaan itu, dunia makin indah dan berwarna.*uhuk lagi*

Hal inilah yang membuat saya makin enjoy menjalani hidup. Saya udah nggak sembarangan ngomong ke banyak orang. Seringnya saya bercerita hanya kepada orang-orang yang bikin nyaman aja. Kalau ketemu orang yang kurang nyaman, ya saya ngobrol seperlunya aja.

Tahun 2017 merupakan awal untuk lebih serius menjalani pola hidup sehat dengan food combining dan rajin berolah raga. Kedua hal ini tentunya juga butuh proses dan komitmen supaya goal saya terkabul. Bukan sok-sokan ikut kekinian sih tapi lebih kepada sadar akan pentingnya hidup sehat. Sebagai lulusan kesehatan, saya tahu bahwa kesehatan merupakan investasi. Cuma kalau kitanya nggak melakukan hidup sehat ya percuma saja. 

Hari gini banyak sih cara untuk melakukan hidup sehat. Tempat ngegym ada di mana-mana dan komunitas pecinta olahraga juga banyak sekali. Tapi yang perlu diingat, hari gini juga ada banyak cara untuk merusak kesehatan. 

Makin banyaknya jajanan kekinian yang enak tapi belum tentu bergizi membuat kita pengen beli. Padahal bisa saja itu hanya keinginan demi dibilang kekinian. Belum lagi tuntutan kerjaan atau jaman yang menjadikan kita kurang bergerak atau berolah raga. Semua pilihan ada di mana-mana, tinggal kitanya mau pilih yang mana. Ingat, hasil tidak akan mengkhianati usaha.*halah sok bijak

Kalau urusan ngeblog, jangan ditanya. Tahun 2017 merupakan tahun paling malas buat ngeblog. Lha itu tadi karena saya banyak gegoleran di rumah. Tiap mau nulis jadi stuck. Tiap mau posting jadi galau sendiri. Akhirnya delete draft atau postingan. Terus besoknya pengen mulai lagi tapi ya gitu lagi. Hahahaha, tarsok tarsok mulu jadinya. Akhirnya blog terbengkalai.

Gara-gara ini saya sampai menolak job karena malu blog jarang di-update. Gini-gini, saya juga menjaga integritas sebagai seorang blogger lah. Meski pada akhirnya saya lumayan nyesel karena malas ngeblog. Tapi sungguh ya untuk menjaga konsistensi ngeblog kok lumayan susah ya. Salut buat blogger yang masih rajin update. 

Tahun 2017 juga memberikan pelajaran yang sangat berharga. Pertengahan tahun saya pernah ketipu oleh cleaning service abal-abal. Saya menjadi bagian ini karena tahu dari blogger juga dan trialnya gratis. Jujur, saya juga lagi nyari jasa tersebut untuk mengurus kasur dan sofa. 

Tapi apalah daya ternyata itu adalah kedok untuk mencari keuntungan semata. Uang beberapa ratus ribu hilang. Sedihnya, saya sudah mempromosikan jasa ini ke tetangga dan teman. Untungnya mereka mau mengerti kejadian yang sebenarnya. Alhamdulillah, mereka nggak perlu jadi seperti saya.

Tahun 2017 tentu saja mengajarkan saya banyak hal untuk menjadi lebih baik lagi. Mengajarkan saya untuk lebih dewasa. Dan, mengingatkan bahwa saya seorang istri untuk lebih patuh pada suami. Iya sih seringnya saya kena apes karena nggak nurut sama pendapat pak suami. 

Duh, nyuwun ngapura nggih, Pak.

Harapan selalu ada di tahun baru. Karena lembaran tersebut masih bisa diisi dengan berbagai cerita yang penuh warna. Semoga tahun 2018 saya nggak males-malesan lagi. Semoga blog ini juga nggak banyak bolongnya. Dan semoga di tahun yang baru kehidupan menjadi lebih baik. Aamiin. 

Kalau kamu, tahun 2017 kemarin gimana?
Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com