Friday, May 20, 2016

Buka Mata, Hati, dan Telinga

Seminggu belakangan ini saya merasa galau rauwis-uwis. Kegalauan tersebut pasti ada sebabnya. Galau setelah membaca postingan blogger yang saya ikuti kemudian galau karena ngeklik akun yang nggak sengaja saya temukan. Kegalauan tadi akhirnya membuka mata, hati, dan telinga saya. 

Kadang, saya berpikir kok bisa ya semua yang saya baca, lihat, dan dengar lagi-lagi membuka hati saya untuk lebih sadar akan besarnya dunia ini. Besarnya dunia hanya mengingatkan saya betapa kecilnya saya. Padahal saya sudah berusaha untuk tahu dan memahami. Tapi, setelah saya baca lagi ternyata saya belum benar-benar tahu. Iya, dunia ini berisi aneka macam orang dengan urusannya masing-masing yang kadang bikin pusing. Toh, dengan membaca dan memahami kehidupan mereka maka saya menarik kesimpulan, inilah hidup yang penuh warna. 

Hahahaha, ngomong apa sih ini? 

Ya sudah, yuk ngomongin yang bikin saya galau.

#Memahami Perbedaan

Ini gegara saya membaca postingan blogger 'sunyi'. Iya, saya menyebutnya demikian karena blognya isinya cuma tulisan dan tulisan tok! Jangankan foto, identitas si empunya blog pun sangat minim dan bikin penasaran. Namun followers blog dan media sosialnya nggak sesunyi blognya, jumlahnya ribuan. Saya maklum karena memang tulisan blogger ini bernas dan cetar, berkisah kehidupan yang terjadi di masyarakat. 

Tulisannya di awal Mei kemarin ada yang membuat saya mengiyakan dan sependapat dengannya. Dia menulis tentang keheranannya melihat fenomena yang terjadi di masyarakat yang berdebat soal datangnya puasa, natal, tahun baru, dll. Berbagai perdebatan dan nyinyiran akan memenuhi media sosial yang isinya itu-itu saja tiap tahun. Hal-hal yang diributkan sudah usang dan semua orang juga paham. 

Jika puasa Ramadhan tiba, biasanya yang diperdebatkan soal warung yang boleh buka mulai jam berapa, pakai penutup atau enggak, dan penetapan awal puasa yang merembet ke penentuan tanggal 1 Syawal atau lebaran. 

Sebagai umat muslim, kalau kita memang niat puasa, saya yakin mau datang godaan apapun pasti niat tak akan goyah. Kalau bisa dengan niat tersebut, kita akan menuntaskan puasa sampai selesai. Godaan saat puasa banyak. Godaan soal makanan mah ini hanya godaan yang kecil. Masih banyak hal lain yang bisa bikin konflik batin saat puasa lho, nggak melulu soal makanan. 

Oia, saya pernah diceritain pak suami tentang indahnya perbedaan. Di dalam Islam sendiri pun ada banyak banget perbedaan. Jujur, saya nggak terlalu paham karena ilmu agama saya masih cetek banget. 

Ceritanya sewaktu di Jepang, setiap ketemu sesama muslim itu rasanya seneng banget. Berasa nggak sendirian. Ketemu sesama muslim dan hanya tersenyum itu rasanya udah nyes banget, deh. Apalagi kalau ada yang mengucapkan salam. Maklum, muslim di sana masih minoritas. 

Nah, kantornya pak suami di Jepang ada tempat khusus untuk sholat. Setiap waktu sholat tiba, pak suami dan teman-temannya yang muslim akan menunaikan ibadah wajib tersebut. Di tempat sholat ini, pak suami kadang ketemu dengan muslim dari Iran. Mereka nggak saling kenal karena beda departemen. Namun, setiap orang Iran tersebut diajak sholat berjamaah, dia mau lho. Pun begitu dengan sholat Jumat. 

Di tempat ini, masing-masing orang akan mendapat giliran menjadi imam. Tapi, muslim Iran ini nggak mau kalau jadi imam. Dia hanya mau jadi makmum saja. Pak suami dan teman-temannya nggak mempermasalahkan hal ini. Nggak papalah, toh sudah sholat berjamaah saja udah seneng banget. 

Mendengar cerita pak suami tersebut saya merasa begitu indah dan damainya Islam di negeri yang notabene bukan negara muslim. Kebersamaan sangat terasa tanpa penuh tanya ataupun nyinyir sana-sini. Yang mereka tahu, mereka sama-sama muslim dan menyembah Tuhan yang sama. 

Lalu tentang memberi ucapan saat natal.

Coba deh perhatikan ramenya media sosial tentang perdebatan soal ini yang tiap tahun isinya sama. Boleh atau nggak mengucapkan natal. Kalau Teman-teman memang ingin mengucapkan selamat natal, ya sudah ucapkan saja. Kalau ada yang tidak ingin mengucapkan, ya silakan. Mereka pasti punya pertimbangan sendiri-sendiri kok. Dan, pengguna media sosial juga banyak yang sudah dewasa. Mereka pasti tahu akan semua yang diucapkan dan dilakukannya. 

Lucunya, pas natal kemarin saya nggak sengaja membaca timeline facebook yang isinya status seorang blogger terkenal. Blogger tersebut beragama nasrani. Statusnya kurang lebih seperti ini,

"Kalian mau ngucapin selamat natal atau enggak, itu nggak mengurangi kebahagiaan dan keceriaanku merayakan natal."

See? Dia saja legowo dan maklum dengan kondisi yang terjadi di dunia maya dan nyata. 

Jadi, perbedaan itu pasti ada. Terima saja perbedaan yang ada di masyarakat. Bukan perbedaannya yang dipermasalahkan tapi bagaimana reaksi kita menghadapi perbedaan tersebut. Lakukanlah semua itu dengan baik tanpa menyakiti perasaan orang lain. Kalau kita sendiri disakiti pasti nggak enak, kan?

#Profesional Dancer

Ini semua bermula dari yang namanya kebetulan, hahahahaha. Bermula dari ajakan pak suami agar saya mau ngegym. Beliau rela mengambil brosur dan jadwal di salah satu tempat gym yang lokasinya dekat rumah. 

Di tempat gym tersebut, ada pilihan member yaitu gym only atau gym plus. Harga member per bulannya tentu saja beda. Nah, pak suami menyarankan saya untuk ikut member gym plus. Artinya, selain ngegym saya juga bisa ikutan aerobik, yoga, zumba, aerocombat, dan belly dance. Semua itu terserah member, mau ikut kapan saja. Jadwal sudah tersedia. 

Saya cuma diam dan merenung mau ikut ngegym dan kelas senam ini-itu. Tapi kemudian ragu kalau saya nggak bisa menepati sendiri. Jika sudah jadi member dan nggak aktif ikut ngegym atau senam, sayang banget kan uangnya. Jadi saya cuma bolak-balik brosur tersebut dan melihat jadwal kelas senam, hahahahaha. 

Nah, pas melihat brosur, mata saya tertuju pada foto kelas belly dance. Pakaian yang ikut senam belly dance kayak penari dari Timur Tengah. Iya, penari Timur Tengah yang pakaiannya warna-warni, seksi, dan memakai celana harem. Saya hanya diam melihat itu lalu mikir. Kalau saya ikut belly dance, apa pakaian saya harus seperti mereka? Kalau iya, kayaknya nggak sanggup, deh. Hahahahhaha, nggak pede, Kakaaak. 

Bermula dari itu saya akhirnya searching tentang belly dance. Nggak sengaja pula saya nemu akun media sosial seorang profesional belly dancer di luar negeri. Haduh, melihat mereka saya seperti terintimidasi. Tubuhnya bagus banget, Ciiiin!! Sebagai sesama wanita, saya iri dan minder sama mereka, hahahahaha. 

Ngomongin belly dancer di luar negeri, saya merasa ini udah menjadi sebuah profesi, ya. Kalau di Indonesia, saya kurang tahu banyak. Di Indonesia, belly dance biasanya ada di sangar-sanggar senam dan sepertinya belum menjadi profesi layaknya di luar negeri. 

Biar gampang, belly dancer yang saya kepoin sebut saja namanya X. Ketika stalking akun media sosial Mbak X, saya melongo. Foto-foto di akunnnya hampir semua tentang kegiatannya menari bersama teman-temannya. Foto-fotonya artistik. Saya suka bajunya yang warna-warni ditambah dengan liukan tubuh yang bagus. 

Hampir di semua akunnya baik facebook, youtube atau instagram, Mbak X ingin dikenal sebagai seorang penari.  Iya, jiwanya ada di menari. 

Seorang belly dancer apalagi yang profesional, mereka akan manggung di mana-mana termasuk di festival berskala internasional. Kayaknya sih nggak ada foto yang menceritakan kelas belly dance layaknya kegiatan di Indonesia yang hanya untuk senam. Mereka menari dan menari. Sesekali ada foto yang menceritakan liburan ke luar negeri bersama rombongan tarinya, bahkan mereka pernah di Bali. Selama di Bali, selain aktivitas berlibur, mereka juga mengunggah foto saat latihan dan menari bersama.

Saya menangkap bahwa kegiatan di Bali tersebut mirip retreat yang bisa memberikan pengalaman dan energi baru setelah mereka melakukan kegiatan ini. Hhhmm, mereka sangat menjiwai setiap gerakan meliuk ke kanan dan kiri. Bagi mereka, belly dance bukan hanya soal tari tapi juga pencarian jati diri. 

Hanya di akun instagram, Mbak X mengunggah foto bersama keluarganya. Kegiatan liburan atau berkumpul bersama keluarga dan teman non penari hanya ada di instagram. 

Di semua akunnya saya mengambil kesimpulan kalau Mbak X adalah seorang penari sejati dan dia bangga dengan profesinya. Menariknya lagi, selama dia menari ternyata penontonnya nggak cuma pria saja, lho. Banyak juga yang wanita. Para penonton tersebut juga sopan dan menghargai penari. 

Ketika melihat akun media sosial Mbak X, saya jadi tahu kalau profesi belly dancer itu nggak gampang. Bagi saya, nggak gampang ini banyak artinya. Misalnya waktu perform yang kebanyakan malam dan nggak di tempat tertentu. Iya, profesional dancer ini harus siap manggung di mana-mana, di kapal misalnya. Lalu, menghadapi penonton yang ada prianya juga butuh persiapan mental tersendiri. Bener, kan?

Hasil ocehan saya kali ini adalah murni curhat, hahahaha. Membaca tulisan blogger yang saya sebutkan di atas dan cerita seorang profesional belly dancer membuat saya lebih terbuka lagi. Iya, terbuka mata, hati, dan telinga saya untuk melihat aneka rupa yang ada di dunia ini. Saya tentu nggak bisa menyalahkan atau menjudge ini dan itu. Saya hanya melakukan apa yang saya yakini. Bagaimanapun, perbedaan pasti ada. Tinggal bagaimana kita memandangnya dan menyikapi perbedaan tersebut. Dan, kalau bisa jangan nyinyir.^-^.




























Continue Reading…

Wednesday, May 18, 2016

Menginap di Red District Singapura, Siapa Takut?

"Nanti pas di Singapur, kita nginepnya di red district, lho," kata pak suami. 
Saya pun membalas agak sedikit sewot, "What?? Nggak ada yang lebih enak dikit emangnya?"
"Itu udah yang paling murah dan udah fix pesen," jawab pak suami datar. Lalu saya pun pasrah. 

Sedikit percakapan antara saya dan pak suami sekitar dua tahun lalu saat kami mau jalan-jalan ke Singapura. Saya dan pak suami menginap di Fragrance Hotel Ruby tepatnya di distrik merah Singapura yaitu di kawasan Geylang.

Geylang merupakan kawasan prostitusi legal di Singapura. Iyap, prostitusi di kawasan ini dilegalkan oleh pemerintah setempat. Pekerja se*s komersial (PSK) di kawasan ini berasal dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, India, Vietnam, Filipina, bahkan Indonesia. 

Kegiatan prostitusi di Geylang konon kabarnya dimulai sejak kedatangan Stamford Raffles pada tahun 1819. Daerah ini awalnya kerap didatangi pria dari berbagai negara. Raffles sadar akan potensi pelacuran di kawasan ini maka ia membiarkan Geylang menjadi pusat prostitusi. 

Meski pemerintah Singapura nggak pernah mempromosikan kawasan Geylang sebagai daerah pariwisata namun banyak wisatawan yang datang ke sini. Mereka yang sengaja datang ke sini biasanya suka dengan hiburan malam. Atau mungkin yang ingin menikmati suasana malam yang berbeda di Singapura *halah.

Etapi meski saya dan pak suami sengaja menginap di Geylang bukan berarti kami suka hiburan malam, lho *pencitraan. Boro-boro suka, melihat saja belum pernah, hahahaaha. Kami sengaja ke sini karena budget travelling yang mefet, Kakaaaak. Huahahaahaha.

Para PSK di Geylang ada yang legal dan ilegal. Mereka yang legal biasanya ada di bar dan motel berizin. Di tempat yang dilegalkan ini, para PSK diawasi secara ketat terutama kondisi kesehatannya. Pengawasan ini dilakukan untuk menghindari terjadinya penularan penyakit kelamin. Sedangkan PSK yang ilegal ada yang menjajakan sendiri atau lewat mucikari di sepanjang lorong reman-remang. 

#Kenapa Memilih Red Distirict?

Sekali lagi, karena biaya menginap di kawasan ini murah. Saya dan pak suami menginap di Fragrance Hotel Ruby (maaf tarifnya lupa). Fasilitas yang ada di hotel ini cukup bagus dan bersih. Ada wifi di lobby, kamar yang cukup untuk 2 orang. Oia di kamar ini ada TV flat, AC, dan kamar mandi dalam yang airnya bisa pilih panas atau dingin. 

Di dekat lobby juga ada toilet umum yang bersih dan cukup luas, sehingga membantu aktivitas cuci muka setelah tiba di hotel. Untuk pelancong yang budgetnya mepet seperti kami, biasanya tiba di hotel sebelum waktu check in dan kami cuma menitipkan tas lalu mbolang. Saat travelling, alokasi waktu sangat dibutuhkan supaya itinerary yang sudah dibuat dapat terlaksana. Betul, kan?

Fragrance Hotel Ruby di Geylang dekat dengan stasiun MRT Aljunied. Jarak dari stasiun ke hotel sekitar 10 menit. Dan, di dekat hotel banyak banget tempat makan yang murah meriah. Kalau saya dan pak suami langganan sarapan di tempat makan yang dekat banget sama hotel. Mirip warteg lah. Pegawainya juga ada yang dari Indonesia. Kalau nggak salah ingat, pegawainya ada yang berasal dari Surabaya. Karena sering sarapan di sini, Si Mbak sampai hapal lho dengan kami. 

#Kesan Terhadap Geylang

Sewaktu pak suami bilang kalau kami akan menginap di red district, saya sempat shock dan agak takut karena image red district bagi saya agak menyeramkan. Namun ketika saya sudah sampai di Stasiun Aljunied dan berjalan menuju hotel, hal-hal yang menyeramkan tersebut hilang. 

Saat keluar dari stasiun Aljunied, kesan pertama yang saya rasakan yaitu rame dan banyak orang India. Sambil berjalan menuju hotel, saya melihat sekeliling kawasan ini. Seperti kota tua. Pikiran saya tentang Geylang pertama kali karena gedung-gedung di kawasan ini memang sudah tua namun terawat. 

Lalu banyak tempat makan atau restoran China. Iyap, selain orang India, kawasan ini banyak juga dihuni orang China. 

Di sepanjang jalan dari Aljunied ke hotel banyak sekali lorong. Saya sendiri nggak hafal, hotel yang kami tempati ada di lorong berapa. Yang kami hafalkan saat itu hanya arah menuju stasiun terdekat saja.

Pagi Hari di Geylang

Pagi itu saya dan pak suami sampai di Stasiun Aljunied dan bergegas menuju hotel. Kami melewati lorong demi lorong. Saya berjalan penuh penasaran karena ingin ketemu para PSK di sini. Dan, saya pun tersenyum ketika melihat ada mbak-mbak amoy yang cantik berdiri di pinggir lorong. Pak suami sempat dilirik lho, dikira mau mencari jasa mereka, hahahahaha. 

Kesan saya terhadap para amoy di Geylang yaitu cantik, seksi, dan bermake-up sederhana. Seperti halnya para PSK, tubuh mereka langsing, rambut lurus, dan pakaian mereka seksi. Namun riasan yang sederhana nggak mengurangi kecantikan mereka. Sebagian dari mereka ada yang sudah mangkal sejak pagi. Yah, namanya juga red district, kan?

#Geylang di Malam Hari

Nah, ini dia yang saya tunggu. Melihat Geylang di malam hari. Kenapa saya penasaran? Karena ini red district yang pasti akan rame kalau malam sudah tiba. Saya hanya penasaran dengan suasana di sini. Saya hanya ingin menikmati suasana yang berbeda selama di Singapura.

Setelah city sight seeing di Singapura dari pagi sampai malam, saya antusias ketika langkah kaki keluar dari stasiun Aljunied. Suasana malam di luar stasiun rame sekali. Kebetulan, di dekat stasiun ada acara yang banyak didatangi orang India. Saya nggak tahu acara tersebut. Selain hiruk pikuk nya acara tersebut, di luar stasiun ada juga pedagang yang menjual buah dan aneka dagangan. Ah, hampir mirip dengan Indonesia.  

Langkah kaki melambat karena saya benar-benar ingin menikmati suasana malam di Geylang. Di berbagai resto yang saya lewati, banyak banget orang kumpul dan tertawa terbahak-bahak. Sebagian besar dari mereka beretnis China. Mereka makan sambil menghabiskan waktu dengan ngobrol. Di dekat mereka juga ada gadis-gadis yang seksi. Saya hanya melirik dan melihat sekeliling.

Geliat Geylang di malam hari lebih rame dibanding pagi atau siang. Meski malam, ada juga toko sayur yang masih buka. Bahkan, pedagang pinggir jalan yang menjual aksesoris untuk se*s juga ada. Namanya juga red district, saya pun maklum dengan kondisi ini.

Namun mata saya tertuju salah satu sudut yang rame. Saya sengaja melangkah ke situ. Area pertokoan yang masih buka sampai malam. Di sepanjang trotoar dan pinggir toko banyak banget orang yang berkumpul di situ. Saya memberanikan diri lewat toh di belakang ada body guard yang siap melindungi, hahahahaha. 

Mata saya tak mau kehilangan untuk melihat apa yang terjadi di sana. Oh, di salah satu sudut saya melihat ada yang bertransaksi. Yang pria berperawakan India sedangkan yang wanita beretnis China. Sepertinya mereka sedang melakukan tawar menawar *sotoy, hahahahaha. 

Ya ya ya saya hanya tersenyum. Setelah agak jauh dari lokasi tersebut, saya berbisik ke pak suami,
"Berani nawar berapa, Bang?". Hahahahahahaha. Yang saya godain hanya tersenyum sambil menyuruh berjalan lebih cepat.

Saya dan pak suami nggak sampai ke lorong yang remang-remang. Badan sudah capek dan penginnya langsung rebahan dan mandi di hotel. Pliket banget soalnya. 

#Apakah Geylang Aman untuk Wisatawan?

Karena pernah menginap di kawasan ini dan nggak terjadi apa-apa, saya bisa mengatakan kalau kawasan ini aman bagi wisatawan. Mungkin orang-orang yang biasa ngumpul di sana tahu mana yang turis dan yang bukan. Selama kita bisa membawa diri dengan baik, orang-orang di kawasan Geylang juga baik kok. 

Oia, saya juga terkesan dengan orang Singapura di kawasan ini. Saat akan menyeberang jalan, pengendara mobil tetap mengutamakan pejalan kaki, lho. Saya kira mereka akan seenaknya saja kalau ada di red district. Ternyata enggak, mereka juga masih tertib. 

Jadi, kamu masih takut untuk menginap di red district Singapura? 


Fragrance Hotel-Ruby 
10 Lorong 20 Geylang Singapore 398730
Phone : +65 6841 3888

  
















Continue Reading…

Tuesday, May 17, 2016

People Change

People change. Saya anggap sebagai hal yang wajar jika orang berubah ke arah yang lebih baik. Setiap orang pasti mengalami proses dalam hidupnya yang akan membawanya ke arah pilihan hidup yang akan dijalani. Proses yang terjadi akan membuat pola pikir, perbuatan, bahkan penampilan akan berubah. Perubahan tersebut pasti akan membuat orang lain merasa atau berpikiran lain terhadap diri kita. 

Hal ini juga saya alami. Mulai dari penampilan, pola pikir, dan perbuatan banyak yang berubah. Jangankan dari zaman sekolah, mulai dari kuliah sampai sekarang pun banyak yang berubah. Semua perubahan yang saya alami tentu ada sebabnya, bukan terjadi secara kebetulan. 

Banyak sekali kejadian yang saya alami hingga membuat saya seperti sekarang. Dulu, saya yang suka bicara terlalu blak-blakan tanpa kontrol sekarang sudah bisa saya kurangi. Dulu, saya yang berpikiran sempit sekarang sudah bisa menerima dan menyaring segala informasi dengan baik. Dan, emosi yang dulu naik turun sekarang sedikit demi sedikit sudah berkurang. 

Ketika melakukan itu semua saya nggak sadar kalau perbuatan-perbuatan tersebut nggak baik dan berdampak negatif pada orang lain. Saya kurang peka. Saya kurang memikirkan perasaaan orang lain jika bicara terlalu blak-blakan atau emosi nggak terkendali. Saat itu saya hanya ingin melampiaskan apa yang ada di diri saya. Setelah melakukan itu memang terasa plong. Setelahnya, saya pasti menyesal. 

Ketika ada peristiwa yang sangat menampar saya, seketika itu saya tersadar. Bahwa yang saya lakukan dulu ternyata nggak baik untuk diteruskan. Namun saya perlu merubah reaksi atas apa yang sudah saya alami. 

Saya sadar bahwa orang-orang yang dulu dekat dengan saya sekarang agak menjaga jarak. Entah kenapa. Mungkin karena perubahan saya tersebut. Padahal saya berubah untuk diri sendiri ke arah yang lebih baik. Dan itu ternyata nggak gampang. Susah banget!!

Saya merasa bahwa beberapa sahabat yang dulunya sering cengengesan, sekarang agak takut untuk mengajak saya bercanda. Heiy, padahal saya masih suka hahahihi, lho. Beneran!! Malah sering cengengesan sendiri kalau melihat sesuatu yang saya anggap aneh atau lucu. Haahahahaha..

Kemarin, saya baru saja menegur sahabat saya soal ini. Saya merasa bahwa dia menjaga jarak banget dengan saya. Padahal kami sudah bersahabat sejak SMP. Ketika saya utarakan kenapa ini bisa terjadi, ternyata dia takut kalau guyonannya menyinggung karena dia pikir saya sudah berubah. Iya, berubah menurut versi dia.

Hhhhmmm, perubahan yang saya alami saat ini nggak sepenuhnya merubah kepribadian yang sudah dikenal orang. Dulu saya yang celelekan, saya yang suka guyon, atau saya yang ngambekan, hahahahahaha. Semua itu masih hanya saja sekarang saya akan menempatkan itu semua pada porsi dan waktu yang tepat. 

Ada kalanya bila saya sudah lelah dan nggak ingin terlibat dalam perselisihan, saya hanya diam. Pergi tidur, entah mengantuk atau nggak akan saya lakukan. Setelah bangun tidur dan otak agak waras lagi, saya akan menuntaskan masalah tersebut. Jika nggak, maka saya akan melupakannya. Yang sudah ya sudah, nggak perlu ada pembahasan lagi.

Beruntungnya, saat ini saya sudah tahu kebahagiaan untuk diri saya sendiri. Saya akan melakukan tindakan yang tentunya sudah saya pikirkan dulu bagaimana reaksi orang lain terhadap tindakan tersebut. Saya berusaha untuk mengeluarkan kata-kata yang baik dari mulut saya maupun kalimat dari jari-jari saya. Saya nggak ingin menyakiti orang lain. Dengan melakukan ini, saya merasa bahagia. 

Ajining diri saka lathi. 

























Continue Reading…

Monday, May 16, 2016

Resensi Buku 'Unbelievable Japan'

Judul : Unbelievable Japan
Penulis : Weedy Koshino
Tahun : Cetakan I, 2016
Tebal : 355 Halaman
Penerbit : PT Elex Media Komputindo


Hari Sabtu kemarin saya membeli buku Unbelievable Japan karena saya suka hal-hal yang berhubungan dengan Jepang, terutama tentang budaya dan kehidupan sehari-hari warganya. Saya tahu buku tersebut dari blog Kompasiana Mbak Weedy Koshino. Saya memang suka membaca blog si penulis yang selalu menceritakan kehidupan sehari-hari selama beliau tinggal di Jepang. Penulisan di blognya ringan jadi mudah dimengerti. Sssttt, saya menjadi silent reader blognya, lho.^-^.  

Asal tahu saja, kalau bulan lalu saya nggak beli buku sama sekali karena masih ada novel dan autobiografi yang belum selesai dibaca. Tapi sejak beli buku Unbelievable Japan ini entah kenapa saya nggak mau lepas dan selalu penasaran dengan cerita-cerita selanjutnya. Makanya ini rekor bagi saya yang bisa menghabiskan buku baru, nggak sampai 24 jam. Iyap, Minggu siang kemarin saya sudah mengatamkan buku tersebut. Seperti judulnya, so unbelievable!! Hahahahahaha. 



Kenapa sih saya mengatamkan buku tersebut cepet banget?

Jujur, saya kangen banget dengan kehidupan di Jepang. Meski hanya beberapa bulan tinggal di sana namun banyak hal yang membuat saya terkaget-kaget dengan budaya dan masyarakatnya. Ketika membaca buku ini saya seperti bernostalgila. Lagipula tempat tinggal Mbak Weedy di Chiba, saya pernah tinggal di Yokohama. Chiba dan Yokohama sama-sama ada di Kanagawa Prefecture. Haduh, baper karena saya juga pernah main ke Chiba. 

Di buku tersebut, Mbak Weedy menceritakan kehidupan sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga yang menikah dengan orang Jepang. Beliau hijrah ke Jepang tahun 2007 dan dikaruniai dua orang anak. 

Pengalaman sebagai orang asing yang tinggal di negara yang sangat berbeda dengan Indonesia membuat beliau mengalami shock culture sebagai seorang istri dan menantu. Nah, pengalaman-pengalaman inilah yang diceritakan Mbak Weedy di buku tersebut. 

Semua yang ditulis oleh Mbak Weedy Koshino di bukunya berdasarkan kisah nyata yang dialami sehari-hari. Kisah tersebut terbagai dalam 3 kategori, yakni Life Style, Culture, dan Education. Masing-masing kategori berisi kisah-kisah yang menarik dan membuat saya manggut-manggut mengiyakannya karena memang pernah mengalami hal yang sama. 

Cerita mengenai Jepang yang maju, keren, masyarakatnya makmur dan berdisiplin tinggi, kayaknya sudah biasa, kan? Hahahahaha. Memang itulah image Jepang di sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun jangan salah lho kalau kehidupan di sana nggak cuma enaknya saja. Dalam bukunya, Mbak Weedy juga menceritakan sisi lain tentang Jepang. 

Beberapa kisah tersebut ada yang membuat saya melongo karena nggak percaya dan sempat bilang, 

'Ih, di Jepang ada juga ya kejadian kayak gini. Untung kemarin nggak ngalami kejadian ini.'
Atau seperti ini
'Waduh, kok serem amat ya kehidupan di sana. Beneran tuh ada kejadian kayak gitu?'

Dan, apa yang diceritakan Mbak Weedy memang benar. Terutama ceritanya sebagai ibu rumah tangga di Jepang. Kalau saya mengikuti cerita facebook teman yang tinggal di sana terasa banget tuh betapa rempongnya menjadi ibu rumah tangga di sana. Mereka harus menyiapkan segala keperluan untuk keluarganya dari pagi sampai malam. Mulai belanja, masak, antar jemput anak sekolah, sampai sibuk mempersiapkan kebutuhan anak-anaknya yang ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Kalau weekend atau liburan sekolah, para ibu tetap capek karena mengurusi ekskul atau pertandingan antar tim. Lah, kalau di Indonesia jarang banget saya jumpai orangtua yang sibuk mengurusi kegiatan ekskul anaknya.

Lha kenapa kok bisa sibuk, sih? Apa ekskul di Jepang nggak ada yang ngurusi? 

Tenyata bukan itu masalahnya. Di Jepang, peran orangtua di sekolah dan kegiatan ekskul anaknya sangat besar. Mereka akan kebagian tugas ini-itu demi kelancaran kegiatan tersebut. Tugas-tugas tersebut akan diberitahukan jauh-jauh hari secara detail melalui email. Mbak Weedy pun menceritakan kalau beliau pernah jadi petugas patroli sekolah yang disangka anaknya kayak pencuri. Dan, Mbak Weedy juga cerita kalau beliau pernah dijutekin saat menjadi tukang parkir di acara ekskul anaknya. Lha, kok bisa sih? Ya, baca sendiri saja bukunya. Saya yang membaca kisah-kisah tadi ikutan tertawa dan kasihan. Selain itu, saya mendapat pelajaran untuk nggak jutek sama tukang parkir, hahahaha. Kasihan mereka karena sudah capek cari tempat parkir.

Saya memang suka membaca kehidupan dan budaya negara lain, apalagi Jepang. Bab yang saya suka yaitu cerita yang berjudul 'Belajar Rendah Hati dari Orang Jepang.' Cerita ini ada di halaman 211. Mbak Weedy menceritakan bagaimana beliau kagum dengan sifat rendah hati masyarakat Jepang. Mereka nggak mau terlihat mencolok dan dianggap sombong. Bahkan, Mbak Weedy tahu kehebatan teman-temannya bukan dari si empunya atau cerita dari orang lain, lho. Beliau tahu kehebatan dan kerendahan hati orang Jepang saat main ke rumah temannya. Lah, kok bisa sih? Main ke rumah teman terus tahu kehebatannya? Apa hubungannya? Semua diceritakan detail kok sama Mbak Weedy. 

Cerita Favorit

Saya sependapat dengan apa yang diceritakan Mbak Weedy soal kerendahan hati ini. Beliau membandingkan keadaan ini dengan sikap masyarakat Indonesia yang saat ini suka banget bergaya hidup mewah dan pamer. Hal ini beda banget dengan sikap orang Jepang yang sederhana. Saya membaca kisah itu terasa mak jleb, manggut-manggut, dan hok-ah hok-oh melulu, hahahaha. Membaca kisah ini saya teringat dengan ibu-ibu Jepang di Jakarta yang saya kenal. Mereka jauh dari kesan glamour meski saya tahu mereka sangat berada. Persis plek seperti cerita Mbak Weedy.

Selain itu ada juga pengalaman Mbak Weedy dan suaminya yang mencari sekolah untuk anaknya. Mbak Weedy dan keluarganya muslim. Saat anaknya mau sekolah, mereka mencari sekolah yang menyediakan bento yang nggak mengandung babi. Pencarian sekolah tersebut susahnya bukan main. Sebab nggak semua sekolah mau menyediakan makanan khusus atau yang berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Akhirnya mereka bisa menemukan sekolah yang mau menerima keyakinan Islam namun dengan negosiasi yang terbilang nggak gampang. 



Sekolah di Jepang rata-rata menyediakan makan siang untuk murid-muridnya. Sebagian besar menunya mengandung babi. Namun demi menjalankan keyakinan Islam, Mbak Weedy harus menyediakan bento yang berbeda untuk anaknya. 

Setelah mendapat sekolah yang mau menerima nego tersebut ternyata masalah lain datang yaitu ketakutan Mbak Weedy dan suaminya kalau anaknya dibully karena makanannya berbeda.  Kejadian bully di Jepang ternyata cukup parah, lho. Saya tahu dari cerita yang membahas soal ijime (bully) di Jepang. Bagaimana orangtua menghadapi ini? 

Kisah 'Menyikapi Menu Sekolah yang Mengandung Babi' sangat menarik karena saat ini banyak orang Indonesia yang ikut suaminya bekerja di Jepang. Salah satu kekhawatiran mereka tentu saja menemukan makanan halal terutama untuk anaknya yang sudah sekolah. Jadi kalau Teman-teman mau ke Jepang dalam waktu yang lama dan menghadapi masalah ini, bisa belajar dari pengalaman Mbak Weedy. Beliau menceritakan kisah yang sangat sensitif  ini dengan bahasa yang tidak menggurui. 

Oia, buku ini juga cocok dijadikan panduan bagi Teman-teman yang baru pertama kali ke Jepang. Buku Unbelievable Japan ada bab yang menceritakan manner yang nggak boleh dilakukan di sana. Mbak Weedy memberikan contohnya dan menceritakan itu semua dengan alasan-alasan yang mengerikan karena berhubungan dengan funeral. Lho, kok bisa sih? Ya baca saja bukunya.^-^.

Yang suka travelling atau yang mau menginap di ryoukan, ada juga panduan dan tata cara menginap di sini. Sssttt, yang suka onsen tapi telan**ang bulat, juga diceritakan semua di sini. Onsennya seperti apa? Dan di mana? Ceritanya komplit deh di halaman 185, hahahaha.

Selain panduan manner, ada juga panduan musim untuk berkunjung di sana. Musim apa yang tepat untuk berkunjung dan hal-hal apa yang nggak boleh dilakukan sebagai turis di sana. Katanya sih di Jepang itu nggak cuma 4 musim tapi malah 6 musim. Biasanya kan musim cuma musim panas, dingin, gugur, dan semi. Lha ini kok sampai 6 musim. Yang dua lagi apa? Mbak Weedy menceritakan musim yang ada di Jepang plus bulan-bulannya. Jadi kalian yang mau travelling ke Jepang bisa mempersiapkan apa saja ketika musim tersebut tiba. 

Kalau mengikuti blognya Mbak Weedy, membaca buku ini serasa memindahkan tulisan di blog ke dalam buku. Bahasa yang ada di blog sama seperti yang ada di dalam buku. Bahasa yang digunakan dalam buku Unbelievable Japan sangat mudah dipahami sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima pembaca.  

Sebenarnya tulisan di blog dan buku itu berbeda. Buku ini terkesan 'memindahkan blog' saja karena beberapa kalimat juga tidak tepat tanda bacanya. Kalau soal ini pun saya juga masih banyak kesalahan di blog karena kurang taat pada aturan EYD. Kalau kata-kata yang nggak baku sih oke ya, nggak papa karena biar bahasanya santai. Namun ada yang aneh nih saat saya membaca buku ini. 

Di hal 321 menceritakan tentang kampanye pemilu di Jepang. Di situ ada tulisan yang menurut saya agak janggal yaitu di paragraf terakhir yang bunyinya seperti ini,

'Coba lihat deh foto di bawah ini, foto ini saya ambil ketika mau pergi belanja ke supermarket....'


Sebagai pembaca buku, tentunya saya langsung melihat ke bawah dong, ingin tahu seperti apa sih fotonya. Ternyata tulisan tersebut hanya beberapa jarak saja dengan akhir halaman sehingga fotonya ada di halaman sebaliknya. 

Kalau saya membaca tulisan tersebut di blog nggak masalah karena bisa melihat foto langsung ke bawah. Tapi ini kan sudah menjadi buku. Blog dan buku berbeda karena buku mempunyai halaman. Dan ketika buku sudah diedit bisa saja foto yang letaknya semula di bawah pindah ke halaman selanjutnya. Hhhmm, setelah saya baca bagian depannya, ternyata nggak ada editornya, ya. 

Secara keseluruhan, buku ini memang menyajikan cerita-cerita yang menarik dan inspiratif. Banyak sekali kisah-kisah inspiratif yang selalu dihubungkan dengan kehidupan di Indonesia. Harapan penulis sih semoga pembaca dapat mengambil hikmah dan sisi positif dari kehidupan di Jepang. Syukur-syukur kalau dapat mempengaruhi perubahan kehidupan di Indonesia. Tirulah apa yang baik. Sebaliknya, jangan meniru hal-hal yang kelihatannya keren tapi setelah tahu esensinya ternyata nggak keren sama sekali. Sebagai pembaca kita harus cerdas dalam mengambil setiap hikmah dari apa yang kita baca. 

Jujur nih ya, membaca buku Unbelievable Japan membuat saya sadar bahwa setelah membaca buku ini, justru makin banyak hal-hal yang nggak saya ketahui tentang Jepang. Dan benar, kehidupan di Jepang ternyata nggak melulu ada cerita baiknya saja seperti yang kita ketahui selama ini. Unbelievable!!.^-^.





















Continue Reading…

Friday, May 13, 2016

Jangan Menilai Orang dari Luarnya Saja

Ajining raga saka busana. Pepatah Jawa yang artinya kurang lebih seperti ini 'berharganya penampilan seseorang dinilai dari busananya.' Pepatah ini nggak sepenuhnya salah karena orang akan dinilai atau dihargai pasti dari penampilannya dulu. Dan, kebanyakan dari kita malah melihat orang hanya dari penampilan luarnya saja tapi nggak tahu dalamnya. Sssstt, jangan menilai orang dari luarnya saja. Rugi, karena penampilan nggak menjamin sikap orang tersebut baik atau nggak. Salah-salah malah kita nanti yang terkecoh dan rugi sendiri lho, hahahahaha.

Hhhhmmm, banyak sekali kejadian yang saya alami terkait hal ini. Maklum, saya bukan darah biru jadi kalau ke mana-mana selalu berpenampilan sederhana. Parahnya, saya sering dipandang sebelah mata karena penampilan yang biasa tadi. 

Iya, pengalaman karena kurang dihargai tersebut pernah saya ceritakan di postingan bukan darah biru. Postingan tersebut mendapat komentar yang lumayan banyak. Bahkan beberapa dari mereka ada yang bernasib sama seperti saya.

Sehari-hari saya dan pak suami memang berpenampilan sederhana, nggak suka yang neko-neko. Barang-barang yang dipakai sehari-hari juga bukan yang harganya mihil bingit. Saya dan pak suami lebih suka memakai barang-barang yang bikin nyaman. 

Nah, ada cerita nih. Saat ini, saya dan pak suami sedang menjual rumah pertama yang dibangun sendiri. Biasanya calon pembeli akan minta ketemuan pas weekend dan mereka biasanya memberi kabar mendadak.

Bertemu dengan calon pembeli yang dadakan pas weekend pula, membuat pak suami harus buru-buru biar nggak terlambat. Untuk menemui mereka, biasanya pak suami pakai kaos oblong, celana pendek, dan motor butut yang masih berplat H, daerah asal kami

Ketika sampai di lokasi, kebanyakan para pembeli suka nanya gini ke pak suami,

+ 'Maaf, ini rumah atas nama Bapak sendiri?'
-  'Iya, rumah sudah SHM atas nama saya sendiri.'

+ 'Maaf, Bapak tinggal sendiri atau dengan keluarga?'
-  'Saya sama istri. Keluarga semua di Semarang.'

+ 'Pak, orangtuanya juga ikut tinggal ya?'
-  'Enggak, saya tinggal sama istri.'

Dan, ketika tahu jawaban pak suami, mereka pada nggak percaya. Mungkin karena pak suami penampilannya biasa banget, motornya butut pula jadi mereka nggak nyangka kalau pak suami adalah pemilik rumah tersebut. Namun situasi segera cair setelah mereka ngobrol beberapa menit. 

Saya pun tak luput dari sikap ini. Saya tipikal orang yang gampang banget kagum dan simpati sama orang lain. Saya hanya ingin berpikiran positif *tsaaaah*. Kalau saya nggak melihat atau mengalami kejadian buruk terkait dengan orang tersebut maka saya akan tetap bersimpati. Tapi beda ceritanya kalau saya sudah mengetahui kejelekan orang tadi. 

Ceritanya saya kagum dan simpati dengan Z, seorang pria yang saat itu dekat dengan Mbak A. Bagi saya, Z merupakan orang yang baik dan pintar. Selalu itu yang ada di pikiran saya. Namun sekarang pandangan saya terhadap Z berubah seketika. Tepatnya kemarin, saya nggak sengaja melihat profilnya di facebook. Saya tahu Z jarang sekali update status atau ganti foto profil. Ketika tahu dia ganti profil, saya penasaran. Saya klik akun tersebut.

Saat ngeklik akun tersebut, nggak sengaja saya menemukan percakapan Z dengan teman perempuannya yang berprofesi sebagai belly dancer. Penari tersebut sebut saja, Mbak B. Wow, ternyata Mbak B cantik dan seksi sekali. Menurut saya, B lebih cantik dibanding A. Karena stalking to the max (soalnya nanggung kalau stalking setengah-setengah, hahahahahaha) saya menemukan percakapan yang agak ganjil. Jadi si Mbak B mengundang Z di suatu acara. Z pun menyanggupi untuk datang demi B dengan catatan Mbak B jangan bilang ke Mbak A.

Setelah membaca percakapan tersebut, langsung deh saya ngakak huahahahaahahahahahaha. Saya ngakak karena menertawakan diri saya sendiri yang terkecoh dengan penampilan Z. Yup, Z selalu berpenampilan rapi dan omongannya juga tertata. 

Orang yang selama ini saya anggap alim ternyata kok begitu, ya. Entah ada apa dengan A, B, dan Z.*huahahahaha kayak sekuel AADC, ya*. Saya nggak mau ikut campur karena itu bukan hak saya. Saya cukup tahu dan menyimpulkan sendiri. Namun, bukan berarti saya menjauh dari Z. Enggak. Kejadian ini saya ambil hikmahnya saja untuk diri saya sendiri supaya lebih waspada terhadap Z. Saya tetap kagum dan simpati terhadap Z namun sekarang sudah berbeda kadarnya.*tsaaaah lagi*.

Ada yang pernah mengalami seperti saya? Makanya, jangan menilai orang dari luarnya saja, dong. Hahahahaha.


*Postingan ini untuk mengingatkan diri sendiri, self toyor.* 





















Continue Reading…

Thursday, May 12, 2016

Profesionalitas Kerja di Sektor Migas

Saya nggak kerja di sektor migas, lho ya. Yang saya ceritakan adalah hasil ngulik ke pak suami yang sampai tulisan ini dibuat, kebetulan beliau masih bekerja di industri migas. Pak suami bekerja di sektor migas sudah 8 tahun, tepatnya di bidang EPC (Engineering Procurement Construction). Saat ini pak suami bekerja di kantor yang sahamnya dimiliki oleh Indonesia dan Jepang. 

Kenapa saya nulis ini? Sebab ada yang bilang ke saya kalau punya suami yang bekerja di sektor migas itu enak karena konon katanya gajinya besar. Hhhhmmm, saya tertawa saja mendengar ocehan seperti itu. Ketika hal ini saya sampaikan ke pak suami, beliau cuma senyam-senyum. Artine apa jal? hahahahaha. Kata pak suami sih, gaji besar itu tergantung profesionalitasnya. Memang sih profesionalitas di sektor migas sangat dibutuhkan. Karena kalau nggak profesional dan nggak tahu prosedur yang benar, bahaya pasti mengancam.

Sudah jadi rahasia umum kalau sektor migas di Indonesia masih menduduki posisi teratas yang dicari para pencari kerja. Berdasarkan sumber yang bisa dibaca di sana dan sini, memang industri migas menduduki posisi yang mentereng dalam daftar gaji terbesar di Indonesia. Daftar gajinya sungguh menggiurkan sehingga banyak pencari kerja yang menginginkan bekerja di sektor ini. Itu daftar gaji menurut survey lho ya, belum tentu sama dengan kenyataannya, hahahaha. 

Asal tahu aja kalau kantor migas itu banyak departemennya. Ada bagian engineering seperti process, petroleum, mechanical, electrical, civil, process safety, instrument, dan operation. Untuk non engineering juga ada HRD, finance, supply chain management. Dan masih banyak lagi kalau diuraikan satu per satu. Semua tergantung besarnya perusahaan, bidang, serta kebutuhannya. Semua bagian tadi gajinya beda-beda. Yang membedakan tentu saja skill dan pengalaman. 

Pak suami bekerja di on shore bagian process engineering, beliau nggak mau kalau disuruh bekerja off shore. Bekerja di off shore memang gajinya lebih besar dibanding on shore. Namun perlu diingat juga faktor resiko di off shore jauh lebih banyak dan nyawa taruhannya. Nggak main-main, kan? 

Iya, bekerja di off shore biasanya sistemnya 2 minggu kerja - 2 minggu libur. Atau mungkin ada yang sebulan. Itu tergantung kebijakan masing-masing kantor, sih. 

Bekerja di lepas pantai tentu nggak mudah karena para pekerja tersebut harus meninggalkan keluarga dan hidup di laut dengan tim yang itu-itu saja. Di sini, semua harus dihitung dengan detail seperti kebutuhan logistik dan HSE-nya. Dan, pekerja yang hidup di laut harus menghadapi berbagai faktor resiko yang besar seperti cuaca ekstrim yang nggak bisa diprediksi. Bekerja dengan tim yang sama, hiburan terbatas, serta faktor resiko yang tinggi tentu akan mengakibatkan pekerja mengalami tingkat kejenuhannya yang besar. Maka dari itu, biar nggak jenuh dan puyeng, obatnya ya gaji yang besar, hahahahaha. 

Kalau di on shore gimana? Ya sama saja.

Jadi gini, pak suami pernah ditugaskan ke site yang ada di Jawa dan luar Jawa. Masing-masing site tentu beda medannya meski hampir sama. Selama di site, biasanya para pekerja akan tinggal di mess supaya kalau berangkat ke tempat proyek bisa barengan. Begitu juga dengan pulangnya.

Lokasi proyek migas di site biasanya agak jauh dari rumah penduduk atau penginapan. Pekerja lapangan biasanya akan berangkat dan pulang naik mobil jemputan bersama-sama. Mobil di sini bisa saja pick up, nggak cuma mobil-mobil yang umum digunakan. 

Mereka berangkat dan pulang bareng karena masalah lokasi. Kalau di Jawa, lokasinya bisa dibilang cukup aman. Kalau di luar Jawa, sangat menyedihkan. Beberapa tahun lalu, pak suami pernah bertugas di site yang ada di Palembang. Lokasi proyeknya di hutan, jauh dari mana-mana. Kalau mau telepon ke saya harus susah payah cari sinyal. Kalau malam, pekerja nggak berani keluar karena masih banyak hewan buas di sekitar lokasi proyek. Kalau mau keluar lokasi, biasanya diantar jemput oleh warga lokal yang tahu seluk beluk hutan. Tuh, sesuatu banget, kan?

Baru-baru ini pak suami cerita kalau temannya yang ada di site mengalami kecelakaan kerja dan sempat bikin heboh di kantor. Temannya sudah memakai wearpack namun kurang taat pada prosedur. 

Sebut saja namanya X, seorang supervisi operator di lapangan. Ceritanya si X lagi filling tank yang isinya bahan kimia berbahaya yaitu fenol. Sebenarnya tugas pengisian fenol bukan job desk si X tapi karena disuruh atasan maka dia lakukan juga. Di tempat pengisian tersebut ada lambang 'tengkorak' yang artinya bahan tersebut memang berbahaya. X nggak ijin ke bagian HSE dulu, asal isi tank aja. Nah, ngisi tankinya pakai portable pump. Ketika mau pasang pompa, si X kelupaan pasang klem atau klemnya kurang kenceng. Pas X mulai menjalankan pompa, selangnya copot terus fenolnya nyembur ke mana-mana. Meski sudah pakai wearpack tapi badan X kena juga. Berhubung si X nggak langsung lepas wearpacknya, beberapa bagian di badan X mengalami luka bakar yang cukup parah.

Kata pak suami, wearpack didesign tidak waterproof/chemicalproof. Jadi ketika ada bahan kimia membasahi wearpack maka badan akan terpapar bahan kimia tersebut. Si X langsung mandi di safety shower tetapi karena dia malu telanjang, wearpacknya malah dipakai lagi. Hal ini membuat X terpapar fenol lebih lama. Seandainya dia nggak memakai wearpack lagi, kemungkinan luka bakarnya nggak tambah parah. 

Beberapa kejadian yang saya ceritakan di atas hanyalah sedikit cerita bagi mereka yang bekerja di sektor migas. Bekerja di bidang ini memang membutuhkan skill sesuai keahlian masing-masing. Selain itu, ilmu pengetahuan juga harus diupdate karena perkembangan ilmu dan software di sektor migas lumayan cepat. 

Memang, bekerja di sektor mana pun butuh profesionalitas. Tapi di sini saya hanya ingin menceritakan bahwa bekerja di sektor migas yang konon katanya gajinya gedhe cukup wajar mengingat keahlian dan pengalaman yang dibutuhkan serta faktor resiko yang tinggi. 

Tapi jujur ya, saat ini industri migas lagi lesu banget karena harga minyak dunia yang jatuh dan juga embargo Iran sudah dicabut (jadi apa enggaknya, kurang tahu pasti hahahaha). Kondisi ini tentu membuat saya, sebagai istri seorang kuli yang kerja di bidang ini agak ketar-ketir. Kabarnya dua perusahaan raksasa dunia sudah merumahkan ribuan karyawannya. 

Gimana kabarnya kantor pak suami?

Alhamdulillah, kantornya pak suami sampai tulisan ini dibuat masih aman dan belum ada PHK (duh, jangan sampai terjadi, ya). Meski tergolong aman namun kenyataannya kantor pak suami melakukan 'diet' ketat. Beberapa kebijakan yang dulu ditetapkan dan agak longgar sekarang nggak ada.

Misalnya nih, aturan makan malam gratis yang dulu dibagikan pukul 7 malam diganti pukul 8 malam. Artinya apa? Biar karyawanan nggak pada lembur atau pura-pura lembur untuk mendapatkan makan malam gratisan, hahahaaha. Kalau sedikit karywan yang lembur berarti pengeluaran kantor untuk makan malam dan uang lembur juga sedikit, kan?

Mirisnya, sudah 2 tahun lebih kantornya pak suami nggak ada kenaikan gaji. Huhuhuhu, sedih banget, deh. Meski gaji cukup tapi karena cicilan KPR yang gedhe, berasa kurang tuh gajinya.*curcol, hahahaha. 

Ketika saya curhat masalah ini ke pak suami, beliau cuma bilang gini 

"Semua memang harus disyukuri. Berapa pun gajinya kalau merasa cukup ya cukup. Pintar-pintarnya kita mengatur keuangan. Kalau kita nggak pernah puas dan merasa bersyukur, mau gaji sebesar apa pun nggak akan pernah cukup."

Setelah mendengar nasihatnya pak suami, hati jadi plong, deh. Rasanya adem tapi tetep ya masih berharap ada kenaikan gaji, hahahahaha.*Istri matre yang realistis*

Jadi, buat yang penasaran gimana bekerja di sektor migas semoga mendapat gambaran meski masih abstrak, hahahahaha. Etapi kalau untuk pegawai adminnya biasanya sih nggak ditempatkan di site. Mereka biasanya di HO (head office) mengurus kelancaran administrasi. Gajinya berapa kalau admin migas ya? Katanya nih, admin migas gajinya tetap lebih tinggi daripada admin sektor lain dengan skill dan pengalaman yang sama. Bener atau enggaknya, hhhhhmmm nggak tahu, deh, hahahahaha. 

















Continue Reading…

Friday, April 29, 2016

Odaiba dan Anak Rantau

Ini kali kedua saya dan pak suami pergi ke Odaiba. Tahun sebelumnya kami memang sudah pernah ke Odaiba karena ingin melihat gundam dan bernarsis ria di Madame Tussauds. Sebenarnya pergi ke Odaiba bukanlah bagian dari rencana liburan golden week. Berhubung dari Fuji Shibazakura masih sore, maka kami berniat pergi ke Odaiba sekedar untuk nostalgia saja. 

Kami naik kereta rapid dari Otsuki sampai ke pemberhentian terakhir yaitu di Shinjuku. Dari Shinjuku, saya dan pak suami transit ke JR Yamanote Line dan turun di Shimbashi. Setelah itu transit lagi ke Yurikamome Line. 

Saya menikmati perjalanan menggunakan kereta Yurikamome Line, kereta canggih yang driver less. Perjalanan saat itu membuat memori saya untuk mengulang kembali waktu pertama kali ke Odaiba. Jujur saja, luapan emosi dan rasa penasaran kali ini nggak sebesar waktu perjalanan pertama. Iya, saya hanya ingin bernostalgia dan benar-benar menikmati setiap langkah perjalanan. Saya menikmati antrean di kereta. Saya mengincar tempat duduk di bagian depan. Meski mendapat tempat duduk namun saya dan pak suami memilih berdiri agar bisa menikmati indahnya Teluk Tokyo dan berjalan di dalam Rainbow Bridge. Ah, tetap saja rasa kagum tak bisa lepas dari senyum saya.

Di Odaiba, saya dan pak suami nggak ke mana-mana. Kami hanya menikmati sunset di Teluk Tokyo berlatar belakang Rainbow Bridge. Kami bercerita ngalor ngidul sambil mengingat masa lalu. Bunyi gemericik air menjadi suguhan tersendiri kala itu. Hhhmm, suasananya lumayan romantis, hahahaha.

Rainbow Bridge di Malam Hari

Keadaan sore itu cukup rame. Banyak juga turis yang menyaksikan sunset seperti kami. Mungkin karena saat itu sedang golden week dan udara cukup bersahabat jadi banyak turis yang ingin mengabadikan momen di Odaiba. 



Tak jauh dari tempat kami duduk terdengar percakapan bahasa Indonesia lebih spesifik ada yang berbahasa Jawa. Ah, senangnya ada orang Indonesia, pikir saya saat itu. Maka saya pun memberanikan diri bertanya kepada mereka. 

Usia mereka masih muda, sekitar 20 tahunan. Mereka adalah anak rantau yang sedang berlibur ke Tokyo. Mereka pergi berombongan. Setelah tanya sana-sini ternyata mereka tinggal di Okinawa (kalau nggak salah). Berlibur ke Tokyo adalah impian yang harus dibayar mahal karena mereka harus menabung sekian lama. Biar irit, mereka harus menginap di tempat teman atau menginap secara rombongan. Sayangnya, mereka nggak tahu soal Kanto Pass. Kalau mereka punya kartu ini, pasti biaya transportasi lebih murah dan mereka bisa saja pergi ke Fuji atau Kawaguchiko. 

Oia, siapa mereka?

Mereka adalah anak-anak lulusan SMK yang bekerja di Jepang. Untuk bisa ke Jepang tentu saja mereka melalui seleksi yang ketat. Nggak cuma urusan nilai namun juga bahasa Jepang. Karena apa? Sebab di daerah yang jauh dari Tokyo, biasanya masyarakat yang bisa berbahasa Inggris semakin sedikit. Mungkin itu 'desa-nya' Jepang. Mau nggak mau mereka harus bisa menguasai percakapan sehari-hari atau percakapan di tempat kerja. 

Ketika saya ajak bercanda, mau nggak cari istri orang Jepang? Mereka menjawab nggak mau, hahahaha. Mereka lebih baik pulang kampung mencari istri lokal dan membeli tanah dari hasil menabung tersebut. Aduh, sungguh mulia sekali cita-cita mereka. 

Selama sunset, saya dan pak suami lebih banyak mengobrol dengan mereka. Berbagi cerita dengan sesama orang Indonesia. Sampai akhirnya kami berpisah karena mereka ingin melihat objek yang lain. Tak lama setelahnya, saya dan pak suami pun mengikuti jejak mereka. Berfoto di Liberty, bernarsis ria dengan latar belakang Rainbow Bridge dan melihat gundam lagi. Gundam yang tinggi besar dan gagah di waktu malam. 

'Hai Gundam, akhirnya bisa ketemu kamu lagi,' bisik saya waktu. 
*saya memang lebay, hahahaha*.

Kalau Malam, Gundam Nakutin :(

Setelah puas melihat gundam dan berfoto ria akhirnya kami pulang. Sewaktu menunggu kereta datang, saya dan pak suami bertemu dengan anak rantau lagi. Anak laki-laki yang berasal dari Medan dan tinggal di Omiya. Dia juga sama seperti anak rantau yang saya jelaskan di atas. Namun, masa kontraknya sudah mau habis. Mungkin sekarang dia sudah balik ke Indonesia. 

Ada yang menarik dalam percakapan kami. Ketika tahu bahwa ini kali kedua kami ke Jepang dan kebetulan dua tahun berturut-turut, dia malah ingin seperti kami. Katanya kami beruntung karena kalau ke Jepang selalu bertemu dengan musim semi. Lanjutnya lagi, lebik baik kayak kami daripada bertahun-tahun tinggal di Jepang. 

'Lho, kenapa, Mas, bukannya enak tinggal di Jepang?' tanya saya. 

'Lumayan enak tapi kehidupan di Jepang sepi,' katanya.

Hahahahaha, dalam hati, saya malah ingin seperti kamu, Mas, yang bisa menikmati Jepang di setiap musim. Ah, hidup memang sawang-sinawang ya. 

Selama perjalanan pulang, tak hentinya saya dan pak suami membicarakan anak-anak rantau tadi. Kami yakin bahwa mereka harus kerja keras setiap hari. Uang yang didapat selain untuk memenuhi kebutuhan hidup juga ditabung untuk keluarga mereka di Indonesia. Mereka harus pandai mengelola keuangan supaya bisa untung dan membeli apa yang mereka inginkan sewaktu pulang nanti. Kalau mereka hanya memikirkan jalan-jalan saja, takutnya mereka nggak punya simpanan untuk keluarga. Mereka masih muda namun daya juangnya sangat luar biasa. Saya salut!

Pak suami lalu mengingatkan untuk lebih bersyukur karena kami tinggal nggak jauh dari Tokyo, pusat kota yang penuh dengan hiburan. Untuk mencari apa pun juga gampang. Dan, beliau juga bilang, kalau saya lebih beruntung karena bisa ke Jepang tanpa proses yang njlimet seperti mereka. Ya kali, saya juga pengin ke Okinawa, melihat objek wisata yang ada di sana. Hahahahaha, tuh kan hidup itu sawang-sinawang. 




























Continue Reading…

Monday, April 25, 2016

Fuji Shibazakura, Alternatif Liburan Musim Semi di Jepang

Liburan musim semi di Jepang berarti saatnya hanami atau melihat sakura. Jutaan orang rela merogoh kocek untuk melihat indahnya sakura. Keindahan sakura saat hanami di Shinjuku Gyoen dan sakura malam di Chidorigafuchi pernah saya ceritakan di sini dan sono. Bunga sakura mekarnya nggak lama, sekitar 2 minggu doang. Setelah itu akan gugur lagi. Mekarnya bunga sakura antara tempat yang satu dengan yang lain berbeda. Kalau Teman-teman sedang liburan musim semi dan nggak bisa melihat sakura, jangan khawatir. Masih ada Fuji Shibazakura, alternatif liburan musim semi di Jepang. Festival bunga ini nggak kalah cantiknya sama sakura.

Berawal dari saya dan pak suami yang ingin menghabiskan liburan golden week selama 3 hari. Tahun lalu liburan golden week jatuh di Bulan Mei. Seperti biasa, kami membeli tiket Kanto Pass 3 days karena kami tinggal di Shin Yokohama, daerah Kanto. Melihat fuji shibazakura festival adalah liburan di hari pertama. 

Liburan golden week kali ini kami lalui dengan santai, nggak kemrungsung seperti tahun sebelumnya. Kami ingin menikmati liburan layaknya warga lokal. 

#Apa itu Fuji Shibazakura Festival?

Festival di kaki Gunung Fuji yang berlangsung mulai pertengahan April sampai akhir Mei. Lokasinya ada di Fuji Motosuko Resort, Kawaguchiko. 

Festival yang berlangsung selama musim semi ini menyajikan pemandangan yang luar biasa bagus dengan hamparan ribuan bunga moss phlox yang berlatang belakang Gunung Fuji. Warna-warni bunga moss phlox disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan karya yang indah. Keindahan gradasinya dari pink hingga ungu membuat pengunjung terkesima. Bunga moss phlox mekar bertahap dan akan mekar 100% menjelang akhir Mei. 

Fuji Shibazakura


#Akses ke Fuji Shibazakura by Kanto Pass

Untuk sampai ke Fuji, saya dan pak suami harus berangkat pagi karena kami akan berganti-ganti kereta. Saya dan pak suami berangkat sekitar pukul 06.00 dari St. Shin Yokohama menggunakan JR East turun di Hachioji. 

Dari Hachioji kami transfer kereta cepat yang turun di Otsuki. Kereta ini ada banyak jenisnya. Ada kereta rapid, Super Azusa, Azusa, dan Kaiji. Semua kereta tersebut berangkat dari Shinjuku. Untuk lebih jelasnya silakan dilihat jadwalnya di link ini

Di dalam kereta ada petugas yang akan memeriksa tiket. Oia, kereta ini juga dilengkapi dengan toilet yang bersih dan nyaman. Perjalanan dari Hachioji ke Otsuki membutuhkan waktu sekitar satu jam. 

Sepanjang perjalanan kami dimanjakan dengan pemandangan alam yang hijau serta gunung Fuji. Kalau Fuji san sudah nampak, turis biasanya langsung beraksi untuk foto, hahahaha. 

Pemandangan dari Kereta

Setelah turun di Otsuki, kami ganti kereta Fujikyu Railway. Tahun sebelumnya saya dan pak suami pernah naik kereta yang sama. Saat itu kami liburan ke Kawaguchiko. Yup, perjalanan ke Fuji Shibazakura sama dengan perjalanan ke Kawaguchiko. Namun setelah sampai di Stasiun Kawaguchiko kami transit naik bus. Jadwal keberangkatan bus dari Kawaguchiko ke lokasi festival tiap satu jam sekali. 

Fujikyu Railway

Liburan di Jepang itu sangat mengenakkan turis karena semua informasi yang dibutuhkan lengkap termasuk info mengenai bunga shibazakura ini. Jadi ketika kami mau naik bus, di loket tersebut dipasang pengumuman mekarnya bunga ini. Pada awal Mei, bunga indah ini baru mekar 50%. Tiket Kanto Pass nggak termasuk harga tiket bus dan masuk ke festival, ya. 

Pengumuman Mekarnya Moss Phlox
Harga Tiket
Selama perjalanan menggunakan bus, wisatawan juga dimanjakan dengan pemandangan danau-danau indah yang ada di sekitar Gunung Fuji. Sayangnya, bus nggak turun untuk melihat keindahan tersebut. Perjalanan menggunakan bus dari Kawaguchiko ke lokasi festival sekitar satu jam. 



Pemandangan dari Bus

Banyak Warga Lokal yang Camping di Sekitar Danau


Selama festival Fuji Shibazakura, sebaiknya pengunjung membawa payung atau topi karena cuaca lumayan panas. Di lokasi festival ada toko suvenir, toilet, dan stand makanan. Supaya lebih hemat, sebaiknya bawa air minum atau camilan untuk bekal makan siang di sana. Makan siang di bawah kaki Gunung Fuji, hhmm nikmatnyaaa.^-^.



Fuji Mini :)

Gunung Fujinya Sudah Nggak Kelihatan

Jadi, gimana? Bagus kan? Makanya jangan sedih kalau nggak bisa melihat sakura. Masih ada Fuji Shibazakura yang tak kalah cantiknya. Have fun, ya!

Kalau mau ke sini, baiknya pagi karena bisa melihat Gunung Fuji yang bagus. Semakin siang atau sore, gunungnya kurang nampak apalagi kalau cuaca kurang mendukung. 

Untuk pulangnya, kami menggunakan transportasi yang sama. Dari shuttle bus Fuji Shibazakura kami ke Kawaguchiko lalu ke Otsuki dan turun di Shinjuku. Yup, dari Shinjuku perjalanan liburan masih lanjut ke Odaiba untuk melihat Gundam kedua kalinya. Yeay!


More Info about Fuji Shibazakura please click this site. 



















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Member Of

Recent Posts

Recent Post no Thumbnail by Tutorial Blogspot

Follow Me

Contact Me

Name

Email *

Message *

Page Views

Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com