Thursday, September 29, 2016

Handmade Soap by Una

Jiaaah, judulnya sok kemenggres yes? Padahal tulisannya Bahasa Indonesia, hahahaha. By the way, ini bukan review ala-ala beauty blogger lho. Ini cuman mau cerita aja. Cerita tentang sabun buatan Una. Versi kerennya, handmade soap by Una, hahahahaha. 

Handmade soap by Una

Mungkin pembaca blog ini ada yang nggak tahu siapa Una ya? Maklumlah dia bukan artis ataupun seleb dunia maya. Una pemilik blog www.sittirasuna.com. Gih, buruan main ke blognya, keren deh. *lirik Una minta bayaran promosi ^-^

Mungkin banyak Teman-teman (termasuk blogger) yang nggak tahu kalau Una bisa bikin sabun lho. Serius! Saya tahunya gegara baca tulisannya tentang handmade soap. Di blog tersebut, Una cerita kalau dia terinspirasi bikin sabun oleh tantenya. Tantenya Una suka bikin sabun dan sering ngasih ke dia. 

Lama-lama, Una kepengen nyoba bikin sabun sendiri karena kata tantenya bikin sabun itu gampang. Bikin sabun ala Una, nggak perlu menakar bahan-bahannya. Semua bahan dicampur dan mengikuti instruksi yang ada. Etapi setelah proses penyampuran selanjutnya bagaimana, saya nggak tahu ya. Kan saya cuma dikasih sabun yang sudah jadi, hahahahaha. 

By the way, saya jadi inget toko kimia yang terkenal di Semarang. Kalau nggak salah namanya Toko Indrasari, lokasinya di Jalan Stadion. Seingat saya dulu, toko kimia tersebut yang paling komplit dan rame deh. Toko tadi menyediakan aneka bahan kimia untuk dijadikan barang do it yourself. Misal, kita pengen bikin sabun, lilin, pewangi, semua bahannya ada lho di toko tersebut. Tinggal nyampur bahan dan mengikuti petunjuknya aja. CMIIW.

Nah, mungkin ini juga terjadi pada Una. Tapi menurut ceritanya, dia cuma minta tantenya untuk membelikan handmade soap kitnya aja sih. Dia tinggal mencampur bahan dan mengikuti petunjuknya aja. 

Pertama kali, Una memberi saya sabun kamboja. Sabunnya berwarna putih dan bentuknya kurang rapi. Aroma kambojanya enak tapi kurang wangi. Ini yang namanya berkah ngeblog. Lewat blog, teman nambah, rejeki jadi berlimpah. Hahahaha, lebay.

Bulan Agustus lalu merupakan kali kedua Una memberi sabun ke saya. Katanya, sabun kali ini beda sama yang pertama. Sabun yang ini aromanya strawberry. 

Saya seneng banget lah mendapat sabun dari Una. Hawong gratisan, hahahaha. Wah, asyik nih. Setelah mendapat sabun beraroma bunga, sekarang aroma buah. Saya tambah penasaran dengan sabunnya.

Bayangan saya waktu mendapat sabun strawberry, bentuknya bakal agak bagusan dan warnanya merah kayak sabun-sabun yang ada di pasaran. Setelah dibuka ealah ternyata bentuk sabunnya masih sama kayak yang dulu. Potongan di pinggir masih kurang rapi. Warna sabunnya juga masih putih sama kayak sabun kamboja. 

Mungkin Una motong sabunnya nggak pakai alat khusus kali ya jadi agak kurang rapi. Katanya sih kalau sudah dijadikan bisnis, dia akan beli alat pemotong yang bagus. 

Meski bentuknya nggak rapi tapi aroma sabun strawberry ini enak banget nggak kayak sabun-sabun yang dijual di pasaran. Aroma sabunnya juga tahan lama. Dibanding dengan sabun kamboja, saya lebih suka aroma strawberry karena wanginya lebih kuat. Sabun strawbery busanya juga melimpah. Jadi kalau mandi pakai sabun ini enak banget deh. 


PS : Una, makasih ya sabunnya. Kalau kamu bikin sabun lagi, aku minta lagi ya. Kan lumayan tuh mengurangi biaya buat beli sabun. Lagian kan kamu tahu kalau aku suka gratisan, hahahahaha. Una, hhmm jangan-jangan kamu mau belajar jadi pengusaha sabun nih ceritanya? ^-^
















Continue Reading…

Wednesday, September 28, 2016

Pengalaman Tinggal di Kompleks

Saya pernah sharing pengalaman tinggal di kampung ataupun kompleks pada Februari lalu. Tulisan tersebut sebenarnya dibuat sekedar sharing bagi pembaca yang bingung menentukan pilihan mau tinggal di kampung atau kompleks. Nah, kali ini saya akan lebih spesifik berbagi pengalaman tinggal di kompleks. Sekali lagi, bagi yang mau tinggal di kompleks dan masih mencari informasi tambahan, perhatikan dulu deh hal-hal yang mau saya ceritakan ini.

Ada yang beranggapan kalau tinggal di kompleks itu enak dan mentereng. Semacam ada prestige lah tinggal di kompleks. Hhhmm, kompleks yang kayak apa dulu nih. Jika dibandingkan dengan rumah yang ada di perkampungan, memang sih lingkungan di kompleks lebih tertata. Dan, tinggal di kompleks sebenarnya gapnya nggak terlalu jauh. Hal ini dapat terlihat dari karakteristik warganya. Bisa dilihat tuh tetangga kanan-kirinya dari kemampuan membeli rumah di kompleks kan? Umumnya orang-orang yang tinggal di kompleks kebanyakan warga pendatang, terutama kompleks yang ada di kota besar. Istilahnya kaum urban lah ya. 

Dengan adanya karakteristik seperti ini, logikanya untuk mengoordinir warga yang tinggal di kompleks lebih gampang jika dibandingkan dengan warga yang tinggal di kampung kan?

Tapi, kenyataannya nggak segampang itu Ciiin. Hahahaha, curcol nih.

Gambar dari Katch Properties

Seperti biasa, saya curhat dulu ya. 

Saat tulisan ini dibuat, saya tinggal di kompleks yang baru dan masih jadi tanggungan developer. Keuntungan tinggal di kompleks yang belum di-hand over full salah satunya yaitu fasilitas yang ada di kompleks menjadi tanggung jawab developer. Namun kenyataannya nggak 100% demikian. 

Karena apa?

Semakin banyak rumah yang sudah dihuni maka tanggungan developer semakin kecil. Developer kalau diminta untuk menanggung semua fasilitas kompleks nggak mau. Menurut pandangan mereka, semakin banyak warga maka makin banyak pula fasilitas yang sudah terpakai. Selain itu, developer kewalahan jika harus mengcover semua keinginan warga yang pengennya aman, nyaman, dan lingkungan asri tapi dengan iuran yang murah kalau perlu gratis.

Untuk mewujudkan keinginan warga, pastinya butuh duit kan? Uangnya siapa? Developer juga manusia kan? Mereka punya pegawai yang harus digaji tiap bulan entah ada rumah yang laku atau enggak. 

Sedangkan dari sudut pandang warga, karena belum di-HO full maka lingkungan kompleks menjadi tanggung jawab developer. Hal ini untuk kepentingan developer juga kan? Masak mau menjual kompleks yang lingkungannya sudah nggak terawat.

Nah, ini gambaran buat Teman-teman yang mau tinggal di kompleks baru. Permasalahan ini kemungkinan bisa saja terjadi apalagi kalau kalian benar-benar tinggal sebagai penghuni yang babad alas kompleks, hahahaha. Maksudnya, lingkungan banyak yang belum tertata. Bisa saja Teman-teman nanti malah menjadi pioneer di kompleks untuk menata lingkungan supaya tetap terawat dengan baik.  

Tapi kalau kalian tinggal di kompleks yang sudah tertata, baik lingkungan maupun manajemen ke-RT-annya, ya tinggal mengikuti aturan yang sudah dibuat.

Di sisi lain, kompleks yang saya tinggali, mayoritas warganya seumuran jadi terlihat lebih homogen. Jujur sih tinggal bersama warga yang seumuran lumayan menyenangkan karena gapnya nggak terlalu jauh. Obrolan bisa lebih santai dan nggak ewuh pakewuh. Bukan berarti saya mengesampingkan etika dan tata krama dalam bergaul lho. Sopan santun tetap dipegang di manapun meski kadang saya masih keseleo kalau guyonan dengan tetangga.

Gimana, gambarannya tinggal di kompleks terlihat menyenangkan ya?

Tunggu! 

Sebelum Teman-teman yakin tinggal di kompleks, perhatikan dulu nih hal-hal berikut ini :

#Surat-surat Rumah

Sebelum akad kredit, pastikan dulu surat-surat rumah yang mau dibeli lengkap. Cek SHM-nya, cek luas tanahnya, cek IMB, PBB, dll. Pengalaman tetangga saya macem-macem nih terkait hal ini. Ada yang belum ada IMB-nya, luas tanah yang tercetak di SHM nggak sesuai, PBB tahun sebelumnya belum dibayar. 

Jika Teman-teman mengalami permasalahan seperti itu, laporkan ke pengembang sebelum akad kredit dan minta penjelasan kapan akan diperbaiki. Usahakan saat HO full, permasalahan tadi sudah beres.

#Renovasi

Tinggal di kompleks pada umumnya bentuk rumahnya sama. Developer juga memakai jasa borongan dalam pengerjaannya. Pihak ketiga yang membangun rumah bisa saja kualitasnya berbeda, ada yang bagus dan enggak. Kalau bagus berarti bangunan rumah nggak ada yang bocor. Sebaliknya, banyak juga yang rumahnya bocor. Kalau rumah banyak yang bocor, siapkan dana renovasinya. Jangan sampai bangunan bolong karena sering terpapar panas dan hujan.

Perhatikan juga kondisi rumah sebelum ditempati. Dilihat dulu apakah lay outnya sesuai atau enggak. Kalau enggak, apakah perlu direnovasi sebelum ditempati? Lalu, ruangan di dalam rumah perlu direnovasi dalam waktu dekat atau enggak? 

Oia, kebanyakan rumah sekarang tipenya kecil kan ya. Kalau Teman-teman punya anak dan butuh kamar sendiri, perkirakan kapan perlu renovasi rumah. Apakah perlu renovasi total atau hanya penambahan tingkat untuk kamar anak. 

Temannya pak suami semula membeli rumah bertipe kecil. Setelah anaknya bertambah dan tumbuh besar, dia bingung antara mau renovasi rumah atau beli lagi. Karena biaya renovasi rumah tingkat seperti membangun rumah baru, dia memutuskan pindah dan mencari rumah yang lebih besar.

#Iuran

Perbedaan antara kampung dan kompleks terlihat mencolok di lingkungannya kan? Biasanya rumah-rumah di kampung nggak tertata rapi seperti di kompleks. Pun begitu dengan kondisi lingkungannya. Jadi, kalau Teman-teman membeli rumah di kompleks sama juga kalian membeli lingkungan. Catet!

Sewaktu Teman-teman mau membeli rumah di kompleks, dilihat master plan kompleksnya terutama fasos dan fasumnya. 

Ada taman nggak? 
Ada play ground anak-anak nggak? 
Ada musholla/masjid nggak? 
Ada pos security nggak?

Jika fasos dan fasum itu semua ada, ya siap-siap bakal kena iuran bulanan yang lumayan besar. Secara nalar nih, dengan banyaknya fasos dan fasum maka sebanding dengan iuran yang dikeluarkan untuk memelihara itu semua kan?

Kalau nggak ada iuran yang memadai maka fasos dan fasum yang semula bagus dan indah saat mau akad kredit bakalan cepat pudar dan tak terawat. Keindahannya hanya dalam sekejap mata saja.*halah*

Teman-teman ingin tahu besarnya iuran per bulan di kompleks?
Bisa kok ditanyakan ke teman atau orang yang sudah tinggal di kompleks. Ingat ya, iuran tiap kompleks berbeda tergantung banyak faktor nggak cuma banyaknya fasos dan fasum saja. Besarnya kompleks juga berpengaruh. 

Pengalaman saya pribadi nih, sebelum pak suami mau memutuskan membeli rumah di kompleks, berkali-kali saya tanyakan hal ini. Siap nggak nanti kalau pengeluaran bulanan bakal nambah dengan iuran endebrei-endebrei yang ada di kompleks? 

#Karakteristik Warga

Mau tinggal di mana pun, pasti deh akan menemui karakter orang yang berbeda-beda. Nggak di kampung atau di kompleks, sama saja. Karena tiap orang mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. Namun biasanya orang yang tinggal di kompleks sedikit dipandang lebih berpendidikan. Pandangan ini nggak sepenuhnya salah sih. Maaf ya bukan berarti saya berpikiran negatif pada warga yang tinggal di kampung. Nggak sama sekali. Justru ini yang akan saya curhatin. 

Melihat tetangga kanan-kiri, depan-belakang, sudut sono-sini, yang sama-sama tinggal di kompleks, pastinya kita tahu ya kapasitas tetangga kita. Pasti nggak beda jauh sama kita lah ya. Maksudnya, jika dibandingkan dengan warga yang tinggal di kampung, kehidupan di kompleks lebih terlihat homogen. Secara kasat mata nih gap antarwarga nggak terlihat mencolok.

Kenyataannya?
Sama saja, Ciiiin. Hahahahaha. 

Perbedaan karakter tiap orang pasti mempengaruhi pola pikir dan perilakunya dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada di lingkungan. Di sini attitude atau perilaku dalam bertetangga sangat penting. Ada yang berperilaku kalem, blak-blakan, keras, halus, apa adanya, lembut, sotoy, suka kepo, suka baperan, suka nggosip, lalalili lululele nanonano deh pokoknya. 

Sebagai warga yang baik gimana?

Menjadi diri sendiri dan menempatkan diri dengan baik dalam menghadapi masalah yang ada. 

Saya tipe yang cuek dan santai. Saya nggak mau terlalu memikirkan permasalahan berlarut-larut. Kalau ada masalah di kompleks baiknya diobrolin sama pasangan saja, supaya lebih aman. Iyap, saya sering banget ngobrolin (inget, ngobrol ya bukan nggosip hahahaha) semuanya ke pak suami. Kadang sih obrolan bakal seru kalau dijadikan morning talk bukan pillow talk lho ya. Kalau jadi pillow talk takut kebawa mimpi, hahahaha.

Jadi, dalam menghadapi permasalahan di kompleks, jangan mudah terpancing emosinya. Dibawa santai saja. Lama-lama juga akan hilang. Jujur sih, awalnya saya gampang tersulut emosi saat ada masalah di kompleks. Seiring waktu, saya belajar untuk lebih sabar dan berpikir positif. Alhamdulillah sekarang saya bisa sedikit mempraktikkan ilmu tersebut dan sudah mulai stabil emosinya. Agak sedikit kalem lah sekarang. *kibas jilbab*.^-^.

#Life Style

Waini, ungkapan kere tapi kece banyak ya di kota besar? Mungkin ada yang nggak tahan kalau tetangga punya ini-itu dan lalalili. Setiap tetangga punya ini-itu, bawaannya pengin beli juga? Ada yang seperti itu? 

Kayaknya ada ya? Hhmm, jumlahnya banyak atau, malah buanyak nih, hahahaha.

Nah ini, selama tinggal di manapun jangan terpengaruh sama orang lain. Jadilah diri sendiri dan mulai aware dengan apa yang menjadi kebutuhan kita. Dan belilah apa yang menjadi kebutuhanmu bukan keinginanmu.*sok bijak banget ya*

Kalau memang belum mampu beli, ya baiknya nabung dulu. Jangan lakukan prinsip biar tekor asal kesohor, ya. Jangaaan!

#Keamanan

Selama tinggal di kompleks entah yang ada securitynya atau enggak, keamanan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama. Jangan menjadi tetangga yang cuek banget sampai nggak kenal tetangga kanan-kirinya. 

Sistem keamanan di kompleks macem-macem ya tergantung kesepakatan warga. Ada kompleks yang mempekerjakan security 24 jam. Banyak juga yang mempekerjakan security sesuai kebutuhan.

Misalnya security berjaga dari pagi sampai sore atau saat liburan saja. Hal ini dikarenakan banyaknya warga yang bekerja dari pagi sampai sore ataupun piknik saat liburan. Kalau malam, kompleks yang seperti ini cuma pasang portal tanpa ada security. Jika ada tamu ya tuan rumah membuka portal sendiri untuk tamunya. 

#Kepengurusan RT

Lha ini, kecil tapi besar. Maksudnya gini, kepengurusan RT bagi masyarakat dipandang sebagai suatu hal yang kecil atau remeh temeh. Padahal peran ini "lumayan" dibutuhkan di lingkungan lho. Apa karena tanggung jawabnya yang "lumayan" tadi maka banyak yang nggak mau menjadi pengurus RT?

Suatu tempat atau lingkungan sebaiknya ada pemimpin yang mengurus warganya sebab keinginan dan kebutuhan hidup di kompleks makin lama makin bertambah. Jika hal ini nggak ada yang mengoordinir dengan baik ya bubar jalan deh warganya. 

Peran pengurus lingkungan di kompleks meski kelihatan sepele tapi ternyata ampun-ampun Ciiinn. Beneran. 

Persis yang saya bilang di atas. Kalau melihat sifat tetangga yang homogen harusnya lebih mudah dikoordinir kan? Kenyataannya sih nggak segampang itu. Maklumlah makin banyak kepala makin banyak keinginan dan ide kan? 

Keputusan memang nggak bisa memuaskan semua pihak. Tapi seenggaknya keputusan yang diambil dapat membuat lingkungan jadi lebih baik. 

Hhhmm, itu sih hal-hal yang ingin saya sampaikan buat kalian yang mau tinggal di kompleks. Gimana, sudah siap dengan hal-hal yang saya sebutkan tadi? 

Gini, pak suami kan pernah tanya-tanya ke temannya yang sudah lama tinggal di kompleks. Temannya pak suami bilang, kehidupan di kompleks yang belum di-hand over full awalnya memang terasa menyenangkan. Tapi hal ini akan berubah saat sudah hand over full. Warga mungkin akan lebih susah dikoordinir karena mereka beranggapan "ini rumah dan kehidupan gue, ngapain lo ngurusin." 

Kesepakatan-kesepakatan awal yang sudah disetujui saat developer menyerahkan semuanya ke warga bisa saja berubah karena mungkin ada warga yang nggak sependapat. 

Masing-masing orang punya keinginan dan pendapat yang berbeda. Perbedaan ini hendaknya bukan menjadi pemicu ketidakharmonisan tinggal di kompleks. Perbedaan pasti ada. Namun hendaknya dapat disikapi dengan baik demi kepentingan bersama. 

Di sinilah pentingnya peran seorang pemimpin yang dapat mengoordinir itu semua. Peran pemimpin di sini diharapkan bisa mengendalikan perbedaan pendapat dan menghasilkan keputusan untuk kehidupan yang lebih baik. Suatu lingkungan yang tampak indah dari luar tapi bila suasana di dalamnya nggak guyub, serasa ada kebutuhan batin yang kosong. 

Sekian dulu Teman-teman sharing pengalaman tinggal di kompleks. Sharingnya lumayan panjang ya. Isinya curhatan semua sih, hahahaha.

Oia, baca juga : pertimbangan mencari rumah, supaya Teman-teman punya gambaran sebelum membeli rumah.  


































Continue Reading…

Resep Bacem yang Gampang dan Enak

Ada yang suka bacem? Bacem merupakan masakan khas Indonesia yang cukup populer. Warnanya coklat dan cenderung agak hitam. Warna ini karena adanya gula jawa di bumbunya. Jadi nggak heran kalau bacem ini rasanya manis.

Saya suka bacem karena cara masaknya mudah, cepat, nggak pakai minyak, dan awet. Tinggal ngulek bumbu, masukin bahan-bahannya terus ditunggu sampai matang. Udah gitu doang. 

Masakan bacem cenderung awet. Teman saya ada yang suka masak bacem diinapkan dulu semalam. Sehari setelahnya baru diangetin dan dikonsumsi. Katanya, bumbunya lebih meresap dan terasa gurih.

Memang sih ini nggak salah kok. Saya pun kadang demikian, sering ngangetin bacem apalagi bacem telur. Bacem telur kalau diinapkan semalam, telurnya makin mempur dan terasa kenyal. Kata teman saya, kayak telur seribu tahun. Hahahaha, lebay. 

Bacem telur dan tempe favoritnya pak suami

Oia, kalau mau masak bacem, saya nggak langsung masak begitu aja lho. Maksudnya, kalau pengen langsung beli bahan terus dimasak. Nggak gitu. Saya seringnya hunting air kelapa dulu di pasar. Iya, saya kalau masak bacem nggak pakai air biasa tapi air kelapa. 

Jadi, kalau pengen bacem tapi nggak ada air kelapa di pasar ya ditunda dulu masak bacemnya. Kalau ketemu air kelapa ya langsung beli bahan-bahan lainnya dan eksekusi secepatnya. Soalnya saya takut air kelapanya keburu bau dan nggak enak. 

Dulu sih kalau masak bacem, saya pakainya air biasa. Setelah dikasih tahu teman kalau bacem lebih enak dan lebih gurih pakai air kelapa, jadi sekarang kalau masak bacem pakai air kelapa. Malah, saya nggak pernah lagi masak bacem pakai air biasa. Hahaha, lumayan rempong yes? 

Secara rasa sih memang beda ya antara bacem dengan air biasa dan bacem air kelapa. Proses memasaknya pun juga lebih harum yang pakai air kelapa. Yang bisa membedakan secara detail sih pak suami karena dia yang lebih peka indera penciuman dan perasanya. 

Ya udah ya, ini dia resep bacem telur-tempe ala saya

Bahan :

Telur 6 butir (rebus lalu kupas kulitnya)
Tempe ukuran sedang
Air kelapa (beli di pasar seribu dapat seplastik)
Asam jawa sedikit
Gula jawa disisir (saya pakai gula aren ukuran separo batok kelapa yang besar)

Bumbu halus :

Bawang merah 6 butir
Bawang putih 3 butir
Kemiri 5 butir
Tumbar bubuk 1 sdt
Daun salam 2 lembar
Lengkuas secukupnya
Garam

Cara memasak :

Siapkan wajan. Masukkan semua bahan dan bumbu yang sudah dihaluskan. Rebus sampai air tinggal separuh. Jangan lupa, cicipi rasanya.

Oia, untuk bahannya bisa diganti sih sesuai selera. Bisa tahu-tempe atau tahu-telur. Hhmm, gampang banget kan masak bacem. Mau nyoba? 

Continue Reading…

Monday, September 26, 2016

Yuk, Ikutan No Junk Food Challenge for 21 Days!

Ada yang sudah pernah mencoba challenge ini? Saya menyebutnya challenge, nggak diet, hahahaha. Soalnya, no junk food challenge ini memang benar-benar menantang, lebih dari sekedar diet. 

Pertama kali ada no junk food challenge gegara baca postingannya Mbak Riski yang ini. Mbak Riski di blognya cerita kalau dia melakukan diet dengan cara ini. Dia melakukan challenge ini sejak Juni lalu. Tapi pas saya inbox pertengahan September kemarin, kayaknya sih dia kurang melakukan challenge ini secara rutin. Maksudnya, Mbak Riski nggak melakukan challenge berurutan tiap bulannya. 

Sewaktu membaca postingannya Mbak Riski tentang no junk food challenge, awalnya sih saya kaget. Karena nggak nyangka ada tantangan yang sehat kayak gini. Secara saya kan alumni fakultas kesehatan dan tahu banget kalau makanan yang dipantang di no junk food challenge memang kudu dikurangin. Jadi, saya kok ya pengen mencoba tantangan ini. 

Teman-teman tahu kan arti junk food? Junk food termasuk dalam makanan yang nggak sehat. Kenapa? Karena kandungan gizinya rendah. Junk food biasanya mengandung banyak lemak, gula, garam, tapi rendah serat. Kandungan serat yang rendah menjadikan junk food sebagai makanan yang harus dibatasi konsumsinya. Kalau dikonsumsi terlalu banyak dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kesehatan. 

Masalahnya adalah makanan yang termasuk dalam kategori junk food ini sejujurnya makanan yang enak-enak dan berat banget untuk dipantang. Bayangin aja, ada snack yang rasanya gurih, coklat, es krim, kue-kue yang endes, gorengan, dan masih banyak lagi.

Sumber : Pinterest

Untungnya nih challenge ini cuman 21 hari jadi saya masih bisa makan junk food setelahnya, hahahaha. Ya saya kan cuma manusia biasa dan gampang goyah, hahaha. Jujur, saya nggak bisa lepas dari junk food seutuhnya. Dalam tahap ini, saya ingin mengurangi konsumsi junk food *kibas jilbab*.

#Pelaksanaan no junk food challenge

Saya mulai challenge ini sejak Agustus. Berarti sudah kali kedua saya rutin melakukan challenge ini. Saya niat banget melakukan challenge ini rutin tiap bulan. Jadi, tiap tanggal 1-21 saya nggak makan junk food. Selain itu, saya juga rutin melakukan aerobik dan yoga. 

Pada bulan Agustus, pas awal banget nyobain challenge ini rasanya lebay, lemes braaay. Soalnya, kalau siang atau sore saya biasanya kan ngemil snack. Nah pas challenge ini kan nggak boleh makan snack. Haduuuh, berat Ciiiiin.

Saya melakukan challenge ini dengan lirak-lirik snack yang ada di rumah. Saya merasa kalau snack di rumah nantangin minta dimakan, hahahaha. Apalagi perut yang kosong karena pagi nggak makan karbo. Kalau pagi saya kan nggak makan nasi. Sebenarnya, sudah lama tiap pagi saya cuma minum jus dan makan buah. Ceritanya sarapan ala food combining gitu deh. 

Sarapan pagi hari


Kalau lapar sebelum jam 12 siang sih biasa ya karena memang saya nggak makan nasi, cuma buah aja. Tapi setelah makan siang dan nggak ngemil snack, haduh duh duh lidah pahit. Tiap lihat snack pengennya ngemil. Tiap lewat mie ayam langganan, pengennya mampir. 

Dengan ikutan challenge ini, saya dipaksa untuk nggak makan snack, mie ayam, apalagi kue. Inilah tantangan terberatnya karena saya suka banget sama mie ayam, kue ataupun bakery-bakeryan. 

Jadi nih kalau tanggal 1-21 kalau ada tetangga yang main ke rumah atau ada acara yang mana suguhannya kue, asli saya ngiler. Di situ saya merasa sedih banget. Belum lagi kalau pengen ini-itu duh rasanya semua tanggal pengennya nggak ada tulisan angka 1-21, hahahahaha. 

Pas tantangan ini mau berakhir di bulan Agustus, tepatnya tanggal 20, saya kalap. Tanggal 20 Agustus kan hari Sabtu. Saya dan pak suami beli mie ayam dan kue favorit yaitu bolu pisang. Pertahanan saya jebol. Terus, pas tanggal tersebut ada pengajian pula. Nah pas pengajian ada yang bawa kue yang baru dibikin, masih anget dan aromanya sungguh nggak nguatin. Akhirnya ya saya makan kuenya. Nggak tahan Ciiiin. Hayati sudah lelah, hahahaha.

Nah, habis itu saya rakus banget. Makan snack dan kue nggak terkontrol. Richeese Nabati setengah kaleng habis buat camilan. Belum lagi jajan di luar dan ngemil snack yang ada di rumah. Hasilnya, timbangan badan yang semula udah ke kiri balik ke kanan lagi.

Iyap, no junk food challenge ini emang ngefek banget ke BB apalagi kalau kalian rutin olahraga. Saya pernah ngalami hal ini. Pas challenge dimulai, BB yang semula 55 jadi 53. Karena setelahnya saya kalap, nggak lama BB naik lagi jadi 55. 

Sejak itu, saya mikir. Kok saya bisa kalap atau sakau banget sama junk food ya terutama snack dan kue. Padahal kan makanan tersebut seratnya rendah banget yang ada malah tinggi MSG dan gula. Nah, gimana nih komitmen untuk hidup sehat? Apalagi saya pernah belajar ilmu gizi sewaktu kuliah dulu. Haduh, self toyor deh.

Saat tantangan bulan kedua, saya niatnya cuma satu yakni biar nggak sakau sama junk food setelah tanggal 21. Udah itu tok!

Pada no junk food challenge yang kedua, saya lalui tanpa lebay kayak yang pertama. Semua berjalan biasa. Kalau ada snack saya masih bisa tahan. Kalau ada suguhan kue, saya agak goyah meski nggak makan, cuman ngiler dalam hati. Dan, setelah tanggal 21 September alhamdulillah saya nggak sakau sama snack, biasa aja. Paling pol saya cuma ngemil cheese stick. Yup, saya suka banget sama cheese stick. Pertengahan September lalu, saya habisin cheese stick 1/4 kilo dalam 2 hari saja. 

Saya akui kalau no junk food challenge ini sungguh tantangan yang berat tapi menyehatkan. Dengan mengurangi junk food, badan saya terasa enteng banget. Kepala yang dulu sering pusing, sekarang nggak lagi. Dan, tubuh terasa fit. 

Setiap melakukan challenge ini saya imbangi dengan olahraga lho ya. Karena saat ini lagi promil, jadi aerobik dan yoga saya stop dulu. Sebenarnya berat banget ninggalin olahraga favorit ini. Olahraga yang masih rutin saya lakukan cuma jalan cepat dan dilakukannya pas weekend doang. Kurang nendang nih kalau olahraga cuma kayak gini, ya gimana lagi. Dokter nyaranin nggak boleh aerobik dan yoga dulu sih. Kapan-kapan ya saya ceritain promil saya ini.

Oia, perubahan yang nyata banget setelah ikutan no junk food challenge, sekarang saya nggak greget banget sama snack kecuali snack favorit ya yakni roti pisang coklat, roti Boy, Richeese Nabati, Serena Monde, dan cheese stick. 

Ceritanya, Sabtu kemarin kan saya belanja bulanan. Kalau belanja bulanan saya sekalian nyetok snack. Biasanya nih lewat lorong makanan, saya ambil snack tanpa pikir panjang. Snack yang lagi promo diambil, snack yang lagi ngehit di tivi diambil juga. Ndilalah setelah ikutan tantangan ini, pas belanja kemarin saya cuma ngambil snack yang dipengenin aja. 

Selain sudah bisa ngurangin snack (meski cuma sedikit), saya juga nggak OD sama mie ayam dan bakso. Sebelum ikutan no junkfood challenge, tiap minggu saya bisa makan mie ayam dan bakso. Bahkan bisa lebih dari sekali dalam seminggu. Sejak ikutan tantangan ini, otomatis saya makan mie ayam dan bakso setelah tanggal 21 dan nggak maruk-maruk amat. Saya jadi bisa mengontrol konsumsi jajanan favorit saya ini. 

Dengan ikutan no junk food challenge ini, secara nggak sadar pengeluaran untuk jajan berkurang lho. Lumayan kan bisa menghemat uang, hahahaha.

Saya tahu sih junk food memang bukan makanan yang sehat. Tapi jumlahnya yang banyak di pasaran membuat kita, sebagai konsumen, untuk nggak bisa menolak keberadaan junk food. Apalagi rasa junk food memang bikin nagih. Nggak papa makan junk food, tapi sebaiknya dikurangi ya konsumsinya. Efeknya sih nggak terasa sekarang tapi akan numpuk di dalam tubuh kita, entah kapan tumpukan zat-zat yang nggak sehat itu akan terasa menganggu pada diri kita. Saya cuma mau bilang, kesehatan itu investasi. 

Hhmm, kalian berani ikutan no junk food challenge for 21 days ini nggak? ^-^

















































Continue Reading…

Thursday, September 15, 2016

Kuliner Depok : RM Bu Yanti

Kalau Teman-teman bosan dengan menu jajanan yang ada di mall atau di pinggir jalan sekitar Margonda, coba deh cari masakan rumahan. Jangan salah lho, di Margonda ada kuliner masakan rumahan yang enak dan murah. Namanya RM Bu Yanti. 

RM Bu Yanti menjadi alternatif tempat makan saya dan pak suami kalau kami bosan dengan menu jajanan di mall atau di pinggir jalan di sepanjang Margonda. Karena sering makan di sini, lama-lama RM Bu Yanti menjadi tempat makan favorit kami. 

Bukan tanpa alasan kami menjadikan RM Bu Yanti sebagai tempat favorit. Alasannya sih banyak, antara lain :

#Lokasi

RM Bu Yanti letaknya strategis banget yakni di Jalan Margonda Raya No.345. Kalau Teman-teman pengen tahu persisnya di sebelah mana, gampang kok nyarinya. 

Tempat makan ini letaknya dekat dengan Detos dan Margo City. RM Bu Yanti sederetan dengan Detos. Jadi kalau kalian bosan dengan jajanan yang ada di mall, bisa lho mampir makan di sini. 

Masih bingung juga? Kalau kalian datang dari arah Citayam, RM Bu Yanti ada di kiri jalan, sebelum Detos. Sebaliknya, jika kalian datang dari arah Jakarta, letak RM Bu Yanti di seberangnya Toyota setelah Margo City. Nah, Teman-teman bisa putar balik di situ. 

#Menu

Menu yang ada di RM Bu Yanti sih nggak ada yang spesial, standart seperti masakan rumahan. Ada sayur sop, aneka tumis, aneka lauk mulai dari telur, daging, dan ikan. 

Justru karena 'sangat biasa' inilah yang saya suka. Kalau makan di sini, seringnya saya beli sayur atau lauk yang jarang saya temui atau jarang saya masak. Biasanya saya suka makan pepes dan botok yang ada di RM Bu Yanti. 

Suka banget sama botok mlanding dan teri

Oia, nasi di RM Bu Yanti ada 2 lho, ada nasi putih dan merah. Berhubung saya di rumah makannya nasi merah, jadi kalau  di sini saya seringnya makan nasi putih. 

#Pelayanan

Waini yang bikin enak. Jujur sih saya agak bingung dan kaget sewaktu makan di sini. Kalau di warteg kan biasanya pembeli dilayani dan ditanya mau lauk apa. Kalau di RM Bu Yanti sistemnya prasmanan. Mulai dari nasi, sayur, dan lauk silakan ambil sendiri sesukanya. 

Cuma untuk minumnya yang pesan. Tempat makan ini menyediakan aneka minuman. Kalau mau minuman yang gratis juga ada. Beneran, kalau pesan air putih kayaknya gratis deh. Tapi bukan air mineral lho ya. 

Pegawai di tempat makan ini baik dan mereka cekatan. Biasanya tamu yang sudah ambil lauk akan ditanya mau minum apa. 

#Bersih

Meski seperti warteg tapi tempat makan ini nggak kayak warteg pada umumnya. Tempatnya luas dan bersih jadi kalau habis makan biasanya saya dan pak suami ngobrol dulu di sini. Ngobrolnya sedikit terganggu kalau ada pengunjung yang merokok. Yah harap maklum lah ya, namanya juga tempat makan yang banyak dikunjungi banyak orang. 

Tempatnya luas dan bersih
Satu hal yang bikin saya lumayan terkesima *halah bahasane* yaitu adanya wastafel di tempat ini. Jarang banget kan tempat makan sejenis warteg yang menyediakan wastafel untuk cuci tangan. Bahkan di beberapa tempat makan yang ngehits pun nggak semuanya ada wastafel lho. Makanya saya salut deh dengan adanya wastafel ini. Terlihat sepele sih tapi bagi saya ini cukup penting. Jadi nggak cuma kebersihan tempatnya saja yang diperhatikan, namun juga kebersihan pengunjung. 

#Harga

Sering banget saya tulis di blog kalau saya suka nyari tempat makan yang rame. Alasannya biasanya cukup 2 sih, tempat makan tersebut antara enak atau murah. So pasti, RM Bu Yanti memenuhi keduanya. Jangan khawatir kalau makan di sini karena harganya terjangkau banget. Pelanggannya juga banyak yang mahasiswa ataupun orang kantoran. 

Jadi nih, kalau Teman-teman mau ngemall di Detos atau Margo City dan nggak pengen kantongnya jebol, silakan mampir di RM Bu Yanti. Nggak usah gengsi makan di tempat yang merakyat kayak gini. Overall, not bad lah. Gimana, mau mampir nggak nih setelah baca ulasan RM Bu Yanti? ^-^



Continue Reading…

Thursday, September 08, 2016

Penulisan Feature di Sport Writing

Di dalam dunia olahraga, penyajian informasi terkini tak melulu soal tim yang kalah dan menang serta perolehan skornya. Dengan berkembangnya teknologi internet, penulisan dunia olahraga pun berkembang pesat dan memiliki cakupan yang luas. Inilah yang membedakan penulisan olahraga zaman dulu dan sekarang terutama di dalam industri sepakbola. 

Dunia sepakbola sekarang bukan lagi ngomongin tim mana yang menang atau kalah. Sudah nggak zamannya ngomongin bola yang direbutin oleh 22 orang di lapangan. Katanya, it's so yesterday. :p

Sepakbola sekarang lebih banyak menyajikan berita yang bersifat hiburan sehingga fans bisa tahu lebih banyak tentang timnya, tentang pemain idolanya bahkan kehidupan pribadinya. Sampai kadang heboh sama WAGS kan ya. Itu lho kumpulan wifes and girlfriends para pemain bola terutama yang berasal dari Inggris. Istilah ini lama-lama populer dan kadang beritanya nggak kalah heboh dengan pertandingan bolanya itu sendiri. 

Nah, ini dia yang dibahas oleh #DepokMenulis dalam acara 'Be A Sport Writer' yang berlangsung di Detos pada hari Minggu yang lalu. Acara ini saya ketahui di grup KEB (Kumpulan Emak Blogger). Meski saya nggak terlalu ngerti tentang dunia olahraga apalagi sepakbola tapi saya menikmati acara ini. Soalnya, narasumbernya nggak pelit berbagi ilmu kepenulisan Ciiin. Dan mereka nggak melulu ngomongin bola. Malah dari acara ini saya tahu sisi lain dari penulisan di bidang olahraga.  

Acara dibuka oleh founder #DepokMenulis yaitu Mbak Talita Zahra. Komunitas Depok Menulis merupakan komunitas kepenulisan di Depok yang sering mengadakan acara kumpul bareng atau sharing kepenulisan. Ini kali pertama saya ikutan acara yang diadakan oleh Depok Menulis. Komunitas ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi Teman-teman yang hobinya menulis. 

Kemudian acara dilanjutkan dengan penampilan dari AVC (Alliance Violin Community). AVC merupakan komunitas biola yang di Depok. Komunitas ini rutin mengadakan latihan setiap hari Sabtu dan Minggu di area Kantor Walikota Depok.  Mereka piawai memainkan lagu-lagu nasional yang cukup menggugah rasa nasionalisme. 

Setelah asyik mendengar alunan biola, kemudian satu per satu narasumber dan moderator naik ke panggung. Nggak sabar saya mendengarkan ilmu kepenulisan dari narasumber yang sudah berpengalaman. 

Menurut Aditya Nugroho, blogger dan penulis olahraga di portal online, menulis itu pekerjaan yang membutuhkan proses dan passion. Mas Adit memulai kegiatan menulis dari ngeblog. Iya, ngeblog. Mas Adit lebih suka menulis sepakbola. Selesai nulis sepakbola di blog, beliau biasanya share tulisan ke twitter dan mention ke orang-orang terkenal. Nah, dari situ beliau mendapat banyak retweed dan kenal dengan banyak orang. Semakin banyak koneksi maka Mas Adit mulai dipercaya mengisi rubrik olahraga di berbagi portal media terutama media online. 

Menulis olahraga apalagi sepakbola memang kudu dikuasai oleh mereka yang ngerti bola. Kalau ngomongin sepakbola, jujur sih saya nggak ngerti-ngerti amat. Dulu sempat suka nonton pertandingan bola di tivi tapi hanya sebagai penikmat saja. Dan saya pun nggak mudeng dengan istilah-istilah di dalam sepakbola. Saya suka mantengin acara bola karena seru. Bola satu kok direbutin banyak orang. Beli sendiri, gih. Hahahaha, bercanda. Etapi faktor pemainnya juga dong ya. Kan banyak tuh pemanin bola yang keren-keren.^-^.

Mas Aditya Nugroho sedang memberikan tips menulis 

Ada hal unik yang disampaikan oleh narasumber lainnya yaitu Abimanyu Bimantoro. Untuk menghasilkan tulisan yang bagus kadang informasi dari internet kurang greget. Tulisan akan lebih bernyawa bila ada pengalaman dari si penulis. Semakin banyak melangkah maka informasi yang didapat akan semakin beragam. Iyap, menulis ibarat pekerjaan kaki bukan tangan. Lhoh, bukannya menulis itu pakai tangan ya bukan kaki. 

Kata-kata itu yang cukup membekas di benak saya sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa menulis bukan hanya merangkai kata namun ada fakta dan opini yang disampaikan oleh penulis. Dengan fakta dan opini tersebut akan menambah konten sebuah tulisan.

Abimanyu mengatakan, dalam dunia olahraga, langkah kaki yang semakin jauh akan menghasilkan sisi lain dari sport writing yaitu feature. 

Feature bukan berita, melainkan cerita yang bersumber pada data dan fakta yang diperoleh melalui proses jurnalistik. Tulisan feature lebih mengandung banyak bahasa dan ada unsur human interest di dalamnya. Seringkali feature menceritakan hal-hal yang ada di sekeliling peristiwa. 

Contohnya, ketika PERSIB melangsungkan final dan jadi juara ISL. Euforianya ada di mana-mana. Maklum, PERSIB sudah puasa gelar juara selama 19 tahun. Banyak banget media yang memberitakan pertandingan dan pesta kemenangannya. Namun, ketika ada orang jeli, bagaimana keadaan di markas PERSIB sendiri? 

S.E.P.I.

Iya, kaget kan? Sangat kontradiktif dengan perayaan kemenangannya kan? Pemberitaan di mana-mana menyebutkan tentang kemenangan ini. Logikanya, yang namanya markas pastinya akan ikut merayakan euforia kemenangan PERSIB kan ya? Namun, fakta di lapangan nyatanya nggak demikian.

Cerita lengkap tentang nggak adanya euforia di markas PERSIB bisa ditanyakan ke mbah gugel dengan keyword keheningan di Soreang. 

Nah, inilah gambaran tentang feature. Menampilkan sisi lain yang mungkin nggak banyak diketahui banyak orang. 

Lalu, apa bedanya feature dengan berita?

Kalau berita sudah pasti ada unsur 5W+1H. Menceritakan kejadian secara runut berdasarkan unsur-unsur tadi. Mulai dari hal-hal yang melatarbelakangi sampai terjadinya peristiwa tersebut. 

Berita bisa juga disajikan dengan komposisi piramida terbalik. Di sini penulis menceritakan kejadian secara global lalu dikerucutkan ke hal-hal kecil yang menjadi pelengkap berita.  

Nah, gimana udah ngerti kan tentang penulisan feature di sport writing? Berani nyoba nulis, nggak? 













Continue Reading…

Friday, September 02, 2016

Tinggal di Shin Yokohama

Lagi kangeeen banget sama Jepang nih terutama kangen saat tinggal di Shin Yokohama. Postingan ini harusnya kemarin udah tayang. Saya udah nulis berjam-jam tiba-tiba komputer ngehang dan postingan hilang. Nangis deh, huhuhu. Daripada sedih terus-terusan, nggak lama kemudian saya bikin postingan baru. Etapi hari ini rasa kangen sama Shin Yokohama masih belum hilang, jadi kepikiran bikin postingan lagi. Soalnya banyak banget kenangan selama tinggal di Shin Yokohama.*uhuk*

Saya tinggal di Shin Yokohama tahun lalu karena menyusul pak suami yang saat itu udah stay duluan di sana. Ini kali kedua pak suami dinas ke Jepang. Sebelum tinggal di Shin Yokohama, kami pernah tinggal di Kannai. 

Sampai sekarang, kalau saya ingat masa-masa mau menyusul pak suami ke Jepang masih kebayang paniknya karena visa yang belum di tangan saat H-1. Padahal tiket pesawat udah pesen, tinggal passport ama visanya doang. Berkat kerja sama antara kantor pak suami dan agen akhirnya visa nyampe rumah pagi pas hari H. Pyuh, cerita lengkapnya bisa dibaca di sini ya

Sebelum saya nyusul ke Shin Yokohama, pak suami cerita kalau Shin Yokohama termasuk daerah pinggiran dan jauh dari kantor. Pak suami ngantornya di Minato Mirai (daerah Sakuragicho). Saat dinas pertama di Kannai, jarak Kannai-Sakuragicho lebih dekat dibandingkan jarak Shin Yokohama-Sakuragicho. 

Sewaktu dinas pertama pak suami dapet fasilitas tiket kereta JR tapi selama tinggal di Shin Yokohama dapetnya tiket subway. Artinya, pak suami membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke subway. Jarak dari apartemen ke subway lumayan jauh. Secara apartemen kami lebih dekat ke stasiun kereta JR. Iya, stasiun subway dan JR di Shin Yokohama letaknya nggak jadi satu. Stasiunnya terpisah lumayan jauh. 

Ketika mendapat cerita seperti yang dikatakan pak suami, bayangan saya selama tinggal di Shin Yokohama agaknya kurang seru nih. Soalnya udah kebayang bakal sepi dan nggak menarik duluan sih. 

Lah, saya dan pak suami sebenernya sudah pernah main ke Shin Yokohama ding. Dulu pas dinas pertama saya dan pak suami sempat main ke museum ramen dan Nissan Stadium. Kami bela-belain ke Museum Ramen karena kayaknya cuma di sini museum ramen yang ada di Jepang. Sepanjang jalan dari stasiun menuju ke museum ramen sepi banget. Nggak banyak orang yang berlalu lalang. Bahkan pertokoan dan konbini juga tampak sedikit. 

Etapi keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Ketika saya sudah tinggal di sana, menikmati kotanya, dan berpetualang sebentar langsung merasa betah lho. Bayangan yang dulunya bakal nggak asyik ternyata nggak terbukti, hahahaha. Saya benar-benar menikmati selama tinggal di Shin Yokohama. 

Sekarang, andai disuruh memilih tinggal di Kannai atau di Shin Yokohama, saya akan memilih tinggal di Shin Yokohama. Yah, secara emang kota ini kecil tapi tempat refreshingnya lumayan banyak. Ini kesan saya selama tinggal di Shin Yokohama.

Sumber gambar dari Wikipedia


#Stasiun Shin Yokohama

Stasiun Shin Yokohama lumayan besar dan tempatnya strategis. Stasiun ini cukup besar karena selain melayani kereta JR juga melayani rute shinkansen. Penumpang shinkansen bisa naik dan turun di sini, tergantung rutenya mau ke mana ya. Penumpang kereta di stasiun ini cukup banyak apalagi kalau ada event di Nissan Stadium. Wes, stasiun bakal rame sampai ada polisi yang mengatur penumpang. 

Di Jepang banyak yang tahu kalau area di dalam dan sekitar stasiun menjadi pusat bisnis. Begitu pula yang ada di stasiun ini. Stasiun Shin Yokohama terhubung dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran yang ada di sekitarnya.

Jika kita turun di stasiun ini dan mau ngemis wifi ngopi, cukup naik eskalator ke Starbuck. Mau belanja-belanji atau window shopping bisa ke Bic Camera dan Uniqlo. Mau membaca, ada toko buku. Mau nyari oleh-oleh, ada toko souvenir. Mau makan, silakan mampir di restoran yang jumlahnya banyak. Bahkan kalau duitnya mepet, bisa makan di Mekdi. Iya, ada Mekdi di dekat stasiun ini. Tapi, saya dan pak suami belum pernah ke sana sih. Soalnya saya dan pak suami nggak suka Mekdi.

Saya kagum dengan pemerintah setempat yang sangat memperhatikan kenyamanan pengunjung di stasiun ini. Mereka sangat memperhatikan keefektifan waktu, kenyamanan, dan lay out bangunan sehingga mudah dijangkau. Saya nggak berlebihan memuji karena saya tahu sendiri keadaan di sana. 

Jadi di luar stasiun ada jembatan melingkar yang menghubungkan stasiun dengan beberapa spot yang menarik di sana. Tinggal sekali melangkah keluar stasiun, langsung sampai ke tempat tujuan tanpa repot. Apalagi fasilitas umum yang ada di sini juga bisa dinikmati oleh penyandang disabilitas. Iyap, jembatan melingkar ini juga ada liftnya. Tentunya ini diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan. Dengan demikian semua warga, turis, dan pengunjung bisa memakai fasilitas umum yang ada. Saya kagum dan takjub. 

Dari GoJapanGo.com, itu jembatan melingkarnya

Oia, di area depan stasiun juga ada shuttle untuk naik dan turun penumpang ke Bandara Haneda. Di shuttle ini nggak ada pegawainya. Cuma ada jadwal keberangkatan dan kedatangan bus dari dan ke Haneda. 

#Ada Bic Camera

Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa ada Bic Camera di stasiun ini. Saya dan pak suami sering banget datang ke sini untuk beli jam tangan, hahahaha. Ssstt, jam tangan Japan branded keluaran terbaru ada di sini lho dan komplit ada katalognya. Senengnya lagi katalognya bisa dibawa pulang. Kalau mampir ke counternya tinggal bilang deh jam ini kapan readynya dan speknya gimana.

Apa itu Bic Camera?
Bic Camera merupakan departemen store yang palugada, apa yang lu butuhin ada. Sumpah, komplit banget barang yang dijual di sini. Ada make up, barang elektronik, barang rumah tangga, jam tangan, kacamata, aksesoris, sepeda, gadget, mainan, dll.

Saya dan pak suami langganan di sini karena kami punya member card. Cara bikinnya tinggal nunjukin passport ke customer servicenya terus nggak pakai lama dapet member card. Jadi kalau punya member card, biasanya pembeli dapat diskon. Kudu pinter sih kalau belanja. Saya dan pak suami kalau belanja diatur dulu supaya dapet potongan gedhe. Pernah lho kami beli jam tangan tapi nggak bayar karena diskon dari member card. Mayan lah ya untuk ekspat pas-pasan kayak kami ini, hahahahaha.

Plusnya Bic Camera tuh pelayanannya yang sangat memuaskan. Kami nggak pernah dijudesin sama SPGnya meski cuma lihat-lihat doang. Seringnya sih kami menolak kalau disuruh nyobain ini-itu. Nggak enak e kalau nggak beli, hahahaha. Kami agak riwil di counter jam tangan sih. Lah soalnya pak suami buka bisnis oleh-oleh dan banyak yang nitip jam tangan. Cerita seru bisnis oleh-oleh pernah saya ceritakan di sini

#Nissan Stadium

Kalau dulu sewaktu tinggal di Kannai, saya dan pak suami olahraga di tempat fitnes yang no staff. Tempat fitnesnya tertutup dan kecil. Selama tinggal di Shin Yokohama, kami olahraga nggak di tempat fitnes soalnya nggak ada tempat fitnesnya Ciiiin, hahahaha. Sebagai gantinya kami olahraga di Nissan Stadium.

Beruntung banget ya jarak apartemen ke Nissan Stadium deket banget. Tinggal ngesot euy. Seneng dong ya bisa ngesot jogging di stadion ini meski cuma di arena luarnya saja. Yaelah kalaupun jogging muterin stadion sih udah keringetan karena stadionnya gedhe banget. 

Selain untuk event olahraga baik skala lokal atau internasional, stadion ini juga diperuntukkan untuk event-event lain. Misalnya konser musik dan flea market. Saya sering dateng ke flea market Nissan Stadium dan pernah saya tulis di sini. Seru flea marketnya.

Menurut kabar yang beredar nih, Nissan Stadium bakal diokupasikan untuk gelaran akbar pertandingan sepak bola saat Japan Olympic 2020. Wah, bakal rame dan seru nih di sini.

#IKEA

Waini obat penghilang stress, hahahaha. Jujur sih saya belum pernah ke IKEA yang ada di Indonesia. Mau ke IKEA yang di Alam Sutra, males sama transportasinya dan kebayang macet weekend. Meski katrok belum pernah ke IKEA Indonesia tapi saya sudah ke IKEA yang ada di Jepang.

Salah satu IKEA di Jepang letaknya di Shin Yokohama. Untuk akses ke sana, saya dan pak suami menggunakan shuttle yang sudah disediakan di stasiun Shin Yokohama (lagi-lagi Stasiun Shin Yokohama). Enaknya lagi, shuttlenya gratis Ciiiin. Jadi nggak usah pusing mau bolak-balik ke sana. 

Meski gratis, tapi yang namanya Jepang, tetap service is number one. Busnya bagus, besar dan drivernya juga nggak ugal-ugalan. Drivernya banyak yang sudah tua. Penampilan mereka rapi dengan seragam dan memakai topi kayak masinis.

Shuttle ini ada setiap hari dan penuh saat weekend. Kedatangan dan keberangkatan shuttle tiap satu jam. Rutenya hanya Shin Yokohama-IKEA. Iyap, shuttle nggak berhenti di mana-mana cuma itu tok

Antrean penumpang saat weekend atau hari libur lumayan panjang. Mereka tetap tertib antre masuk ke dalam bus. Nggak ada yang rebutan tempat duduk. Yah, namanya juga siapa cepat dia dapat. Kalau bus sudah penuh, silakan naik bus berikutnya. Wah wah saya masih terbayang rasanya naik shuttle IKEA ini. Rasanya nyaman, hati senang dan mulut pun berdendang.*halah*

Antre masuk shuttle IKEA

Kalau di IKEA pengennya sih mborong ini-itu ya. Tapi kalau inget bagasi pesawat, dadah babay deh. Yah, meski nggak mborong tapi melihat design ruangan yang dipajang sudah seneng banget. Ketika saya membeli produk IKEA Pruta, harganya kok lebih murah dibanding harga di Indonesia ya. Beneran murah karena cuma separuh harganya dari Indonesia. 

#Taman

Saya iri tiap kali melihat taman yang ada di Jepang. Kapan ya Indonesia punya banyak taman yang benar-benar nyaman seperti di negara-negara maju. Padahal manfaat taman kota sudah terbukti banyak banget ya salah satunya untuk penghilang stress. Iya sih memang bener. 

Taman yang ada di dekat apartemen letaknya jadi satu dengan Nissan Stadium. Taman ini fasilitasnya cukup komplit. Ada bangku, play ground anak-anak, air mancur, toilet, dan kran air minum. Fasilitas-fasilitas ini semuanya gratis dan siapa pun boleh pakai.

Taman dengan fasilitas yang komplit

Taman ini kalau musim semi cantik banget karena banyak ditanami pohon sakura. Saat musim semi, ada lho orang Jepang yang hanamian di sini. Saya pernah melihat orang kantoran sedang hanami di malam hari. Jumlah mereka nggak banyak sih. Biasanya mereka membawa tikar, camilan, dan minuman. Mereka ngobrol dan tertawa di bawah pohon sakura. Benar-benar refreshing yang murah tapi meriah. Aih, saya kangen melihat suasana seperti itu.

#Sepi

Tinggal di Shin Yokohama terbilang sepi. Sebenernya nggak cuma di Shin Yokohama saja sih. Di beberapa tempat lain juga demikian. Mungkin karena Jepang mengalami depopulasi kali ya. Mungkin lho ya.

Shin Yokohama ramenya hanya di area sekitar stasiun. Sedangkan di sekitaran apartemen sepi banget nget. Kalau mau rame biasanya pagi atau siang saya keluar apartemen. Saat pagi atau siang, orang kantoran banyak yang berseliweran. Apalagi kalau berbarengan jam istirahat. Wes, saya bisa lihat mbak-mbak dan mas-mas yang beli bento atau rame-rame jalan ke restoran buat maksi. 

Sore juga sepi lho apalagi kalau sudah matahari tenggelam. Waktu itu, kalau malam dan pak suami belum pulang, saya ngayal mendengar suara abang bakso atau nasgor lewat. Terus saya buru-buru pakai jilbab dan turun buat beli bakso atau nasgor. terus abangnya udah pergi karena saya kelamaan turun. Hawong tinggal di lantai paling pucuk kon piye? Hahahaha, ngayal banget karena saking sepinya. Kalau malam nungguin pak suami pulang, saya sering mendengarkan radio Indonesia via streaming. Untung ya ada internet, jadi hidup lebih hidup deh, hahahaha.

Itu saja Teman-teman cerita saya selama tinggal di Shin Yokohama. Banyak sih kenangan selama tinggal di sana. Bertemu dengan Teman-teman baru dan bisa keliling di tempat yang belum pernah saya datengin, merupakan pengalaman yang asyik dan nggak terlupakan. Kalau kalian disuruh tinggal di Shin Yokohama kira-kira betah nggak ya?.^-^.



































Continue Reading…

Thursday, September 01, 2016

Membaca, Yuk!

Di era digital seperti sekarang, kebiasaan orang untuk membaca buku semakin berkurang. Kebiasaan membaca buku secara konvensional sudah banyak digantikan dengan membaca menggunakan smartphone. Melihat perkembangan ini, saya termasuk orang yang masih suka dengan cara konvensional. Bagi saya, membaca secara konvensional masih ada manfaat positifnya. Maka saya pengin mengajak Teman-teman untuk lebih senang membaca, yuk! 

Kebiasaan membaca masyarakat Indonesia tergolong rendah. Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu orang yang suka membaca. Duh, menyedihkan ya. 

Minat baca yang rendah disebabkan oleh banyak faktor. Namun hal yang paling mendasar yakni nggak adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak kecil. 

Kebiasaan membaca di dalam keluarga sebenarnya gampang banget diterapkan. Supaya anak-anak menyukai kegiatan membaca sejak kecil, sebaiknya orangtua pun memberikan contoh yang sama. Gimana anak mau suka membaca kalau orangtuanya nggak memberi contoh atau mendukung kegiatan ini?

Bapak dan ibu saya kurang suka membaca buku. Tapi mereka setiap hari membaca koran. Bapak memang berlangganan koran sejak aktif bekerja hingga sekarang beliau sudah pensiun. 

Kebiasaan membaca koran setiap hari lama-lama menular ke anak-anaknya. Terlebih pada saya sendiri. Kebiasaan membaca buku sudah saya sukai sejak SD. Saya masih ingat waktu liburan sekolah, saya sering minta dibelikan majalah Bobo atau majalah bekas asal masih bisa dibaca. Dan, bapak sering mengajak saya ke tukang loak yang ngemper tiap malam di Jalan Pemuda, Semarang.

Untuk memenuhi hobi membaca, sekarang saya banyak membeli bacaan dan berlangganan majalah. Saya cenderung suka bacaan yang ringan. Seringnya saya membeli novel dan biografi tokoh. Novel yang saya baca beragam, kebanyakan dari novelis Indonesia sih.

Majalah Langganan dan Terfavorit 

Meski sekarang membaca bisa dilakukan secara digital tapi saya tetap suka kegiatan membaca linear dengan menatap buku atau majalah. Saya suka banget dengan bau buku atau bacaan baru. Nggak tahu ya kenapa. Enak aja gitu. Saya bangga jika bisa membeli dan berhasil menamatkan isinya. Setelahnya, ada nafas panjang dan perasaan lega karena sudah mengetahui isi cerita.

Membaca secara konvensional dan digital sangat berbeda sensasinya. Jika membaca konvensional, saya bisa mendengar bunyi kertas jika membalik halaman. Dengan membaca secara fisik, saya bisa berulang kali membaca dan membuka halaman yang saya sukai. Membaca secara konvensional juga nggak bikin mata cepat lelah. 

Ya, itulah alasan kenapa lebih suka membaca bacaan secara linear. Bagi saya, membaca bacaan yang ada fisiknya membuat saya lebih fokus untuk memahami keselurahan maksud yang disampaikan penulis. 

Oia, ada cerita menarik nih. Saya kan ikut kegiatan perpustakaan keliling yang digagas oleh ibu-ibu Jepang yang tinggal di Indonesia. Ketika mereka saya tanya kenapa memilih kegiatan ini untuk anak Indonesia, jawaban mereka membuat saya tersenyum. Katanya, mereka prihatin dengan anak-anak yang nggak suka membaca. Bagaimana nasib bangsa ini kalau anak-anaknya saja nggak suka membaca?

Deg, hati saya berdesir mendengar itu. Mereka kok sampai segitu perhatiannya ya pada kegiatan membaca ini. Apa pun akan mereka lakukan supaya anak-anak mau membaca dan sering datang ke perpustakaan keliling. Mengganti bacaan secara berkala dan memberikan dongeng pun pernah mereka lakukan. 

Memang benar sih apa yang dikatakan oleh ibu-ibu Jepang tadi. Kebiasaan membaca akan mempengaruhi karakter dan kreativitas anak di masa mendatang. Jika anak semakin banyak tahu literasi maka daya nalar akan berkembang dan kreativitas anak semakin terasah. Dengan demikian, mereka akan punya karakter yang kuat dan lebih percaya diri menghadapi derasnya arus globalisasi yang makin menggila ini. 

Semakin banyak membaca akan membuat kita lebih banyak tahu. Tapi, dengan banyak tahu tersebut sejujurnya makin banyak yang nggak kita ketahui lho. Jadi terus membaca, yuk!


Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com