Thursday, February 16, 2017

Email dari Jepang

Saya rasanya campur aduk ketika membaca email dari sensei yang tinggal di Jepang. Rasanya antara baper, terharu, nggumun, dan tentu saja senang. Yah, kayak permen nano-nano karena saya nggak nyangka kalau beliau masih ingat sama saya. Kali ini saya akan cerita tentang sensei tersebut.

Namanya Izumi Isomura, seorang wanita usia paruh baya yang usianya saya taksir sekitar 60 tahunan. Izumi san seorang sensei yang mengajar di Kohoku Lounge. Tempat ini merupakan tempat belajar Bahasa Jepang yang murah meriah bagi pendatang yang tinggal di Shin Yokohama dan sekitarnya. Tempat belajar seperti ini banyak dijumpai di Jepang dan sangat membantu bagi WNA yang tinggal di sana. Cerita tentang Kohoku Lounge pernah saya ceritakan secara lengkap di sini, ya. 

Saya kenal Izumi san saat mengambil kelas hari Kamis. Karena term baru, saat itu suasana di Kohoku Lounge rame sekali. Tiap murid yang baru daftar seperti saya, akan dites. Tes ini untuk mengetahui si murid cocoknya di kelas mana, dasar banget atau nggak. Paham Bahasa Jepang dasar apa enggak. 

Saat perkenalan, saya dan Izumi san pakai Bahasa Inggris. Setelah tahu saya dari Indonesia, Izumi san langsung berbicara pakai Bahasa Indonesia. Saya pun nggumun dan melongo. Kok bisa, sih?

Beliau cerita kalau pernah ke Indonesia dan suka banget sama Bali. Bahkan anaknya ada yang menikah di Bali. Pyuh, memang sih kalau orang Jepang ketemu orang Indonesia yang dibicarakan seringnya Bali. Padahal kan Indonesia nggak cuma Bali kan ya? ^-^

Yaelah, Izumi san cuma ke Bali aja sudah jago Bahasa Indonesia. Lah, saya sampai sekarang belum jago Bahasa Jepang, huhuhu. 

Saya inget banget waktu itu beliau mengenalkan diri dengan panggilan 'Isomura'. Belakangan saya tahu kalau itu adalah nama keluarga. Di Jepang, biasanya kalau perkenalan pertama kali mereka sering menyebut dengan nama keluarga.  Hampir semua sensei saya yang tinggal di Jepang dan berusia paruh baya mengenalkan diri dengan nama keluarga mereka. Katanya itu juga menandakan belum adanya kedekatan dengan kita.

Tapi, untuk anak mudanya sih udah enggak. Mereka banyak yang mengenalkan diri dengan nama depan, kok. Beberapa anak muda Jepang yang saya kenal sih begitu. Cmiiw, ya.

Izumi san juga demikian. Awalnya beliau mengenalkan diri dengan nama keluarganya, Isomura. Tapi lama kelamaan, di email beliau menyertakan nama hanya Izumi. Nggak pakai Isomura lagi. Entah biar nggak kepanjangan atau beliau sudah merasa dekat dengan saya. *ge-er dikit boleh lah ya -,-

Perkenalan dengan Izumi hanya sebatas sensei yang ngetes masuk doang. Saya bukan murid yang diajar oleh beliau. Saat itu, sensei hari Kamis saya seorang kakek bernama Sakaki-san. Btw Sakaki itu nama keluarga lho. Nama depannya saya nggak tahu, hahahahaha. 

Jadi tiap Kamis kalau berpas-pasan dengan Izumi san kami saling sapa dan senyum. Kadang juga diselingi ngobrol sebentar. 

Saat pertemuan pertama, beliau tanya saya di Jepang sampai kapan. Dan, saya nggak nyangka kalau beliau ingat dengan tanggal terakhir saya les di Kohoku Lounge.

Di hari terakhir les, Izumi san bertemu dengan saya. Beliau mau ketemu saya saat jam pulang. Dan saya pun menyanggupi. Duh, rasanya gimana gitu mau ninggalin tempat les kesayangan, hahahaha lebay ya. 

Saat mau pulang kami foto bersama dan beliau memberi saya oleh-oleh. Saya sempat nolak, sih. Biasalah ya orang Indonesia, malu-malu tapi mau. Saya kaget kalau beliau akan memberi saya oleh-oleh (omiyage). Oleh-olehnya imut banget. Ada origami bikinan beliau, foto sakura dan alamat email di belakangnya, serta gantungan kucing yang imut banget. Saya terharu banget menerima omiyage ini.

Omiyage dari Izumi san masih tersimpan

Meski sudah dua tahun saya kembali dari Jepang tapi oleh-oleh tersebut masih saya simpan dengan baik. Iya, itulah cara saya untuk mengingat beliau. Sayangnya, waktu itu saya nggak ngasih apa-apa karena barang-barang khas Indonesia sudah habis saya bagikan ke teman dan sensei hari Selasa.

Walaupun saya sudah di Indonesia namun komunikasi antara saya dengan Izumi san masih berjalan. Bahkan Izumi san termasuk orang yang rajin menyapa dan berkirim kabar via email. Beberapa teman dan sensei lain yang saya kenal biasanya hanya menyapa kalau saya menyapa duluan. Mereka akan kirim email duluan kalau ada yang penting. 

Misal kayak Bom Sarinah tahun lalu. Beberapa sensei yang saya kenal mengirim email dan menanyakan kabar. Hm, senang sih punya teman yang care. 

Nah, bulan Januari kemarin saya mendapat email dari Izumi san sebanyak 2 kali. Yang pertama saat tahun baru lalu seminggu setelahnya beliau email lagi. Sayangnya, saya baru tahu email tersebut di akhir Januari. Maklum, saya jarang membuka email yahoo. Aktivitas surat-menyurat elektronik banyak yang lewat gmail. Duh, maaf ya Izumi san. 

Pertengahan Februari saya membalas email dari Izumi san. Yah, mengucapkan maaf dan selamat tahun baru serta cerita hal-hal ringan seperti yang beliau lakukan. 

Oia, di awal Januari, Izumi san cerita tentang tahun baru di Jepang. Katanya, saat tahun baru orang Jepang berdoa di kuil. Beda banget ya sama orang Indonesia yang heboh dan bikin pesta. Untuk perayaan tahun baru di Jepang memang sepi dan nggak semeriah di Indonesia. Saya tahu dari bacaan teman-teman yang tinggal di sana. 

Izumi san juga cerita tentang ibunya yang sudah sepuh. Beliau juga merawat ibunya. Tapi akhir-akhir ini malah Izumi san sakit pinggang jadi nggak bisa merawat ibunya dengan baik.

Selang sehari setelah saya membalas email, Izumi san kirim email lagi. Wah, saya terharu dengan respon cepatnya. Di email yang terakhir, Izumi san cerita kalau beliau bekerja di asrama mahasiswa asing (ryuu gakusei no ryou). Katanya lagi, mulai bulan April tahun ini, asrama tersebut menerima mahasiswa dari Indonesia. Wow. 

Saya tersenyum dan senang membaca ceritanya. Saya juga kagum dengan cara beliau untuk belajar bahasa Indonesia. Iyes, Izumi san email saya pakai bahas Indonesia. Di setiap emailnya, Izumi san selalu menyapa dengan kalimat 'apa kabar'. 

Sebenarnya kami kirim email pakai bahasa gado-gado yang penting tahu sama tahu. Ya pakai Bahasa Indonesia, Jepang, dan Inggris. Bahasa Jepangnya saya pakai romaji soale sampai sekarang pakai huruf Jepang lewat komputer masih belum bisa. Yah, gaptek tingkat dewa hawong sudah tanya ke mbah gugel dan mempraktikkan ilmunya tetep aja nggak bisa nongol huruf Jepangnya. Nggak papalah yang penting antara diriku dan dirinya mudeng.-,-

Silaturahmi ini bagi saya juga proses belajar untuk tahu karakter orang serta belajar bahasa gado-gado secara gratis, hahahahaha. 

Setelah membaca emailnya kemudian saya baper. Yah, baper karena nggak nyangka kalau masih ada orang Jepang yang ingat dengan saya meski sudah 2 tahun berlalu dan belum pernah ketemu lagi. Saya juga baper karena Izumi san mengingatkan saya pada Jepang serta Shin Yokohama

Saya baper dapat email dari Jepang. Apalagi ada teman yang di akhir emailnya bilang 'see you around'. Huhuhuhu, kapan ya saya bisa ke sana lagi bertemu dengan sensei dan teman-teman di Jepang. Saya berharap semoga masih ada kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman di sana dan membalas kebaikan mereka. Aamiin.

Anyway, kamu pernah baper nggak sih gara-gara email? ^-^
























Continue Reading…

Sunday, February 12, 2017

Peduli Jaminan Hari Tua, Pensiun Bahagia

Dalam dunia kerja, fresh graduate yang bekerja di perusahaan sebagian besar kurang peduli terhadap kepesertaan jaminan hari tua. Hal ini juga terjadi pada karyawan yang sudah lama bekerja. Umumnya mereka hanya peduli pada lifestyle saja sehingga jaminan pensiun kurang diperhatikan. Padahal jika mulai sekarang kita peduli pada jaminan hari tua maka saat pensiun bisa jadi bahagia. By the way, jaminan hari tua selanjutnya saya singkat JHT aja, ya. 

Gambar dari Pixabay

Apakah Teman-teman tahu berapa persentase iuran BPJS JHT? Terus, siapa saja yang iuran? Apakah full dari perusahaan atau ada potongan gaji dari karyawan?

Di blog ini, saya akan berbagi pengalaman tentang BPJS jaminan hari tua atau yang dulunya dikenal dengan nama Jamsostek. Lebih tepatnya, pengalaman pak suami sih karena saya kan ibu rumah tangga.☺

Pada 2012 saat masa kerja pak suami sudah 5 tahun, dia merasa bahwa tabungan JHT sangat kecil. Tabungan ini jika diproyeksikan saat pensiun mungkin tidak lebih dari 200jutaan. Nilai yang tentunya sangat kecil di masa tua nanti. Pak suami menghitung perkiraan ini dari laporan JHT. Tiap tahun pak suami mendapat laporan tabungan JHT dari Jamsostek. Apa iya kami perlu JAMINAN PENSIUN LAIN??

Pak suami galau karena beberapa temannya ada yang sudah ikut kepesertaan pensiun dari provider sebelah. Bermula dari kegelisahan ini pak suami melakukan riset kecil-kecilan. Dari mulai menganalisa besar-kecilnya iuran sampai besarnya hasil investasi di Jamsostek. Namun riset ini tidak menghasilkan apa pun karena akses saat itu belum online. Pusing pala pak suami kalau menghitung manual.-.- 

Setelah Jamsostek berganti nama menjadi BPJS Ketenagakerjaan, sistem mulai berubah dan tentunya pesertalah yang paling banyak diuntungkan. Perubahan ini antara lain mulai dari komunikasi dua arah yang lebih lancar, monitoring JHT secara online, bahkan pengajuan pencairan pun sudah bisa online.

Just info bagi yang belum tahu, penghitungan iuran jaminan hari tua terdiri dari karyawan dan perusahaan. Besaran iuran JHT yaitu: 

*perusahaan berkontribusi 3,7% 
*karyawan sebesar 2% 

Jadi iuran JHT besarnya 5,7%. Hal ini diatur dalam PP No.46 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Hari Tua.

Pertanyaannya, iuran 5,7% dihitung dari gaji yang mana? Apakah gaji pokok atau take home pay?

Nah, saya punya cerita yang menarik nih. Masih seputar pengalamannya pak suami. 

Pada tahun 2014 pak suami rutin memonitor tabungan JHT dan kegelisahan yang sama di tahun 2012 kembali datang. Akhirnya dia memberanikan diri riset ke temannya yang sudah sering pindah kerja tentang gaji yang dihitung sebagai acuan JHT. Apakah GAJI POKOK atau TAKE HOME PAY? 

Karena jawaban dari rekan kerja yang berbeda, pak suami mencoba menanyakan langsung ke facebook fanpage BPJS Ketenagakerjaan yang kebetulan adminnya sangat aktif di FB. Percakapannya seperti ini 

Tanya Jawab Pak Suami dengan BPJS via Facebook

Dengan acuan jawaban dari admin BPJS, pak suami memberanikan diri email ke HRD Manager dan Direktur Operasional serta cc ke satu tim divisi di tempat dia bekerja. Untungnya, HRD Manager merespon dengan baik. Pihak perusahaan menjawab akan melakukan studi lebih lanjut tentang itu. 

Setelah berjalan beberapa bulan, pak suami kaget karena gajinya dipotong lebih banyak dari biasanya. Tentu saja hal ini sempat menghebohkan dan menjadi pertanyaan besar bagi seluruh karyawan yang lain. Setelah berkomunikasi langsung dengan HRD, pak suami baru tahu kalau BPJS Ketenagakerjaan sudah dihitung dari gaji total atau take home pay.

Dalam PP No.46 tahun 2015 pasal 17 ayat 2 menyebutkan bahwa besarnya iuran peserta BPJS JHT selain non pemerintahan dihitung dari upah pokok dan tunjangan tetap. 

PP No.46 Tahun 2015

Tunjangan tetap di sini artinya tunjangan yang bersifat tetap tiap bulannya misalnya uang transport, tunjangan jabatan, dll. Bila ada bonus atau uang lembur atau tunjangan yang berubah setiap bulannya maka tidak dihitung dalam penghitungan JHT.

Dengan adanya perubahan penghitungan iuran JHT maka ada pengurangan gaji yang diterima pak suami. Namun saya dan pak suami nggak galau karena potongan gaji masuk ke tabungan BPJS JHT. Toh tabungan tersebut juga akan kembali ke kita, peserta BPJS JHT. Kami sepakat tidak akan mencairkan tabungan JHT sebelum pak suami pensiun. 

Pelayanan dengan sistem online pun membuat semuanya lebih praktis dan hemat waktu. Pak suami lebih mudah memonitor tabungan JHT-nya. Tiap berapa bulan sekali pak suami cuma ngasih screen shoot jumlah tabungan JHT lalu dikirim ke saya via whatsapp. Simpel banget kan? Alhamdulillah, sekarang jumlahnya sudah lumayan.^-^ 

Selain simpel dalam sistem online, tabungan BPJS JHT ini juga fleksibel penggunaannya. Misalnya, peserta pindah kerja maka yang bersangkutan boleh membuat tabungan yang baru atau melanjutkan yang lama. Jika membuat JHT baru maka tabungan JHT yang lama bisa dicairkan. 

Mengingat besarnya manfaat tabungan JHT untuk hari tua nanti maka sudah sepantasnya kita peduli dengan jaminan hari tua supaya kelak saat pensiun bisa bahagia. 

Anyway, kantor kamu sudah menerapkan BPJS JHT apa belum? Hayo, penghitungannya dari gaji pokok atau take home pay nih? Dicek ya dari sekarang.^-^.


Continue Reading…

Friday, February 10, 2017

Ngomongin JKT48

Tadi pagi saat buka trending topik twitter, saya nemu hestek ultahnya Haruka. Saya nggak hafal hesteknya, intinya tentang ulang tahun Haruka yang ke-25. Dua hari yang lalu saya nonton Ini Talkshow bintang tamunya Shania JKT48. Dari Shania, saya baru tahu kalau Haruka bukan anggota JKT48 lagi. Alasannya kenapa, saya juga nggak tahu. Nah, jadi deh saya pengin ngomongin JKT48. Yah, ngomongin Jeketi yang ringan aja. 

Lalu tersengar teriakan fans Jeketi
oioioioioi *sambil pakai lightstick ☺

Sumber @officialJKT48

Terus terang, saya bukan penggemar jeketi forti eit. Namun saya kagum dan nggumun setiap melihat penampilan JKT48. Saya cuma membayangkan keriweuhan di back stage. Anggota Jeketi kan banyak banget. Nah, untuk ganti kostum dan make up gimana ya suasananya? Lalu untuk mengatur member yang segitu banyaknya, gimana coba? 

Saya baru ngeh tentang JKT48 tahun 2014 saat ikut pak suami dinas di Jepang. Pak suami dinas bareng temannya. Si teman ini cowok tapi suka sama idol grup kayak SNSD, AKB48, dan JKT48. Btw, sampai sekarang saya nggak tahu singkatan SNSD, hahahahaha. Ada yang tahu?

Saat itu teman pak suami cerita kalau dia harus nonton konser AKB48. Lah, mumpung di Jepang kan? 

Perjuangannya untuk mendapatkan tiket konser AKB48 nggak mudah. Berkali-kali dia pesan online selalu kehabisan. Nah, baru yang kesekian kalinya akhirnya dia mendapatkan tiket konser. Orang Jepang pun sampai geleng-geleng melihat dia ngefans banget sama AKB48.

#Tentang JKT48 

Sebelum ngomongin JKT48, mari kita ngomongin AKB48 dulu. Mbaknya Jeketi yang ada di Jepang. 

Pada Desember 2005, Akimoto Yasushi membentuk idol grup di Akihabara, Jepang. AKB singkatan dari Akihabara, salah satu distrik di Tokyo, Jepang. Sedangkan angka 48, saya juga nggak ngerti ceritanya gimana. 

Setelah AKB48 sukses, Yasushi membentuk sister grup di distrik lain, namun masih di Jepang. Ada NMB48 (Namba, Osaka), SKE48 (Sakae, Nagoya), dan HKT48 (Hakata, Fukuoka). Nah, JKT48 merupakan sister grup pertama di luar Jepang. Selain di Indonesia, ada juga SNH48 (Shanghai, China). 

Yungalah, ternyata Jepang nggak cuma ekspor barang-barang elektronik ya tapi juga idol grup. Hahaha.

Pada Desember lalu, saya melihat acara di teve yang menampilkan ulang tahun JKT48. Saya ikuti sampai selesai karena penasaran. 

Dari acara tersebut, saya juga baru ngeh ada tim J, K, dan T. Belakangan saya baru tahu kalau idol grup ini mengenal sistem tim. Nama tim sesuai dengan 3 huruf yang membentuk nama timnya. Misal JKT48 ada tim J, K, T. Sedangkan NMB48 punya tim N, M, dan B. Masing-masing tim ada center dan kaptennya. Selain itu ada juga kapten pusat yang memimpin semua yaitu dari 3 tim.

#Fakta Unik JKT48

*JKT48 bukan girlband

JKT48 bukan girl band ya, mereka adalah idol grup. 

Berdasarkan info yang saya dapat, idol grup sejenis akademi keartisan. Mereka yang ingin bergabung dalam Jeketi harus mengikuti tahapan seleksi yang ketat. Setelah lolos mereka akan dididik menjadi idola yang multi talenta. Anggota Jeketi diharapkan nggak cuma bisa nyanyi dan nari tapi juga akting, berbicara di depan publik dengan baik, membawakan acara, dll.

Namanya akademi, di Jeketi juga ada istilah member graduate. Kelulusan ditentukan oleh Akimoto Yasushi, apakah seorang anggota layak lulus atau tidak. Graduate juga diberikan kepada member yang melanggar aturan. Untuk ini pastinya lulus yang tidak terhormat, ya. 

Lalu, apa bedanya dengan girlband?

Idol group dan girlband berbeda di konsep dan tariannya. Kalau di Jeketi konsepnya tim. Tariannya juga sedikit rumit dan lebih atraktif dibanding girlband.

*tentang wota

Wota adalah sebutan fans idol grup di Jepang. Karena Jeketi ada di Indonesia maka sebutan wota nggak cocok dipakai di sini. Fans Jeketi ya fans JKT48 aja. 

Oia, saya punya kenangan dengan wota sewaktu tinggal di Jepang. Waktu ke Tokyo Tower ada penampilan dari idol grup mirip AKB48, entah namanya apa. Nah, wota ini kebanyakan cowok dan mereka sangat ekspresif sekali waktu menonton idolanya bernyanyi. Biasanya mereka akan menari dan teriak 'oioioi' sambil mengayunkan lightstick. Seruu banget lihat ginian di Jepang. Saya sampai tertawa sendiri.

*teater sendiri

AKB48 mengusung konsep idol you can meet everyday. Mereka punya teater sendiri yang terletak di Don Quijote Lt.8, Akihabara, Tokyo, Jepang. Saya pernah ke teaternya karena penasaran. Teater AKB48 menyatu dengan Don Quijote, pusat perbelanjaan di Jepang. Tempatnya kecil tapi terdiri beberapa lantai. Yah, maklum, tanah di Jepang kan nggak seluas di Indonesia.

Selain teater, di Akihabara juga ada AKB48 Cafe and Shop. Tempat ini berkonsep kafe dan menjual barang-barang tentang AKB48. Kalau kamu wota berat mereka, wajib ke sini. Tempatnya nggak menyatu dengan teaternya, ya. Malah cenderung agak jauh.

AKB48 cafe and shop letaknya nggak jauh dari stasiun Akihabara dan dekat dengan kursi taman kok jadi pasti bakal nemu dengan mudah. 

di Teaternya AKB48

Sewaktu ke teater AKB48, saya dan pak suami nggak niat untuk melihat penampilannya sih. Kami cuma penasaran aja dengan teaternya. Ketika masuk ke teater AKB48, ada beberapa foto dan barang-barang khas AKB48. Di situ juga ada layar televisi yang menayangkan penampilan saat pentas di dalam ruangan.

Kalau kamu ingin melihat penampilan AKB48 di teaternya, ya kudu beli tiketnya dulu. Saya nggak tahu cara belinya. Mungkin lewat online. Kalau kamu kehabisan tiket, masih bisa bernyanyi dan menari bersama wota di luar teater sambil melihat layar teve yang dipasang di sana.

Kebanyakan wota AKB48 cowok. Saya yang melihat pemandangan ini langsung di Akihabara, takjub dan senyum sendiri. Hahahaha.

Hal ini nggak jauh beda sama Jeketi. JKT48 juga punya teater sendiri yang ada di FX Senayan, lantai 4. Saya malah belum pernah ke teaternya Jeketi. Lah, ngapain coba? Hawong hafal lagunya saja enggak. 

Itu saja cerita ngomongin JKT48. Saya bukan penggemar namun kagum dengan grup ini yang kebayang super duper ribet kalau mau tampil saking banyaknya anggota. Saya yakin, beberapa tahun lagi, kita atau kamu yang masih muda bakal ingat banget sama JKT48 karena mereka sangat ikonik. Mulai dari bajunya, penampilan, lagunya, dan wajah cantiknya. Inilah yang membuat JKT48 sangat populer dan banyak penggemar yang fanatik. 

Hm, kalau kamu punya idol yang ikonik nggak? 


Sumber tentang Jeketi dari sini.
























Continue Reading…

Thursday, February 09, 2017

Inseminasi di Klinik Morula RS Bunda Margonda Depok

Sudah lama saya tidak berbagi cerita tentang ikhtiar hamil, ya. Hm, meski jarang cuap-cuap di media sosial tapi saya tetap berusaha untuk hamil, lho. Untuk kedua kalinya, saya melakukan inseminasi di Klinik Morula RS Bunda Margonda, Depok. Fyi, insem pertama saya pada tahun 2014 lalu. Cerita lengkapnya bisa dibaca di sini, ya.

Sebenarnya ini late post banget karena saya melakukan insem pada bulan September 2016 lalu. Inseminasi kedua ini saya lakukan karena kami ingin mencoba untuk mendapatkan anak lagi. Terus terang, saya lelah dengan semua ini. Lelah dengan berbagai omongan. Jujur, kadang lelah dalam berharap. Tapi saya juga yakin bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan bentuk yang sempurna. Jadi, saya juga harus tetap semangat berikhtiar.

Awalnya, saya cuma ingin ganti dokter meski tetap di RS yang sama. Iya, saya dari dulu periksa di RS Bunda Margonda, Depok. Kali ini saya konsul dengan dr. Mirna Myrnawati, Sp.OG. Selanjutnya saya singkat drM aja ya biar ringkas, hahaha. 

Saya tahu kalau drM ini bertugas di klinik Morula. Namun ketika saya melakukan insem kemarin, klinik Morula mengalami perubahan, lho. 

Saya ceritain dulu tentang perubahan klinik Morula RS Bunda Margonda.

Kwitansi yang Masih Tersimpan

#Tentang Klinik Morula RS Bunda Margonda

Dulu, saat insem pertama, semua administrasi menyatu dengan RS. Artinya saya mendaftar di CS dan bayar di kasir seperti pasien non morula. Sekarang, klinik ini manajemennya beda meski masih satu gedung.

Saat ini, klinik morula bisa dikatakan berdiri sendiri. Manajemen morula terpisah dengan pasien non morula. Jadi pasien morula dari mulai daftar, konsul dokter, ketemu perawat dan bayar administrasi ya di klinik morula. Namun beberapa tindakan misal pengambilan sperma dan tindakan insem masih memakai ruangan yang sama seperti insem pertama. Tindakan lanjutan tidak dilakukan di klinik namun memakai ruangan di RS.

Untuk pasien hamil atau promil yang tidak ditangani di klinik morula mulai pendaftaran sampai pembayaran seperti pasien lain, dilakukan di CS dan kasir RS. 

Bisa dibilang kalau klinik ini baru banget manajemennya. Ketika saya tanyakan ke CS morula, perubahan ini terjadi sekitar bulan Juli 2016. CMIIW, ya.

Dulu, dokter di Morula ada 3. Sekarang, cuma satu doang yaitu drM tadi. Saya nggak tahu juga kalau di tahun 2017 ada penambahan dokter lagi. Dalam hal ini, saya menceritakan kejadian saat insem saja, ya.

Oia, kesan saya terhadap drM yaitu dokternya cantik, logatnya medok kayak saya, dan ngomongnya cepet. Saran saya, kalau mau konsul dokter siapkan pertanyaan dari rumah. Kalau perlu ditulis biar  nggak lupa dan bisa dijawab oleh dokter dengan baik. 

Pegawai klinik Morula ramah sih. Namun yang bikin bete yaitu (saat itu) belum ada mesin EDC. Dengan begini, saya harus bawa uang tunai atau ambil di ATM. Mesin ATM di RS Bunda cuma Mandiri dan BNI. CMIIW ya kalau lupa-lupa ingat. Alhamdulillah, saya dan pak suami masing-masing nasabah di bank tersebut. 

Saya kok kasihan sama pasien yang bukan nasabah bank tersebut. Hm, lumayan biaya tarik tunainya, haha. 

#Biayanya berapa? 

Saya masih menyimpan semua kwitansi saat insem kedua ini. Biaya minimal di klinik Morula yaitu Rp.508.000,-. Biaya ini di luar biaya obat yang meliputi :

*biaya administrasi 30rb.
*biaya konsultasi dan treatment 478rb.

Ingat, itu biaya minimal lho. Treatment di sini cuma ditimbang BB, periksa tensi dan USG trans vagina.

#Tahap Inseminasi

Tanggal 3 September 2016

Saya periksa, konsul kalau ada PCO, lalalili sama dokter sambil menunjukkan buku kunjungan dan daftar mens. Saya datang ketika memasuki hari ke-4 mens. 

Karena niat mau insem, akhirnya dokter memberikan resep obat penyubur.

Resep :
*Dipthen 50 Mg 10 tablet 166rb
*Inlacin Cap 100 Mg 30 kapsul 213rb
*Folda kaplet 20 tablet 124rb.

Biaya resep 503rb

Folda seharusnya dapat 30 tablet karena di rumah masih ada folamil jadi saya habiskan dulu folamilnya. Toh, isinya sama yaitu asam folat.

Total biaya admin dan resep : 508rb+503rb = 1.011.000

Tanggal 10 September 2016

Cuma konsul dokter dan cek ovum. Saya mendapat resep Progynova 2 Mg 12 tablet.

Total biaya admin dan resep : 508rb+102rb = 610.000

Tanggal 15 September 2016 

Konsul dokter dan persiapan insem. Pada saat USG, ada 2 buah telur yang bagus. Selain itu, rahim saya juga bersih. Alhamdulillah tidak ada penyakit lain. Iyap, saya cuma PCO saja. Meski cuma, tapi perjuangannya berat lho. 

Proses insem ini sama seperti insem yang dulu. Saya disuruh suntik ovidrel jam 9 malam. Yang membedakan yaitu saat insem pertama, tindakan insem dilakukan esok hari setelah suntik ovidrel. Namun di insem kedua, tindakan insem (menyuntikkan sperma) dilakukan 2 hari setelahnya. Oia, selama disuntik ovidrel saya tidak boleh berhubungan dengan pak suami.

Mengenai perbedaan tindakan insem setelah ovidrel kenapa berbeda dengan yang pertama, saya pun tak tahu. 

Resep :
*Ovidrel 765rb
*Plastik 600
*Progynova 2 mg 40 tablet 340rb

Biaya resep : 1.105.600

Total biaya admin dan resep : 508.000+1.105.600 = 1.613.600 

Tanggal 17 September 2016

Tindakan IUI (Intra Uteri Insemination). Saya dan pak suami datang ke RS pagi. Pak suami dibawa ke ruangan khusus dan diberi tontonan film biru, hahaha. Lalu diambil spermanya. Sedangkan saya dibawa ke ruangan bersalin untuk disuntik sperma.

Yang membedakan yaitu dulu pas insem pertama saya mendengar lagu untuk menenangkan pasien namun kali ini tidak. Entahlah, sudah tidak ada lagu lagi atau saya yang kurang beruntung, hahahaha.

Penyuntikan sperma dilakukan oleh drM dibantu dengan 2 suster dan 1 pegawai laborat yang membawa sperma. 

Posisi saya litotomi dan sperma disuntikkan. Rasanya agak gimana gitu karena mendengar bunyi alat yang terbuat dari logam. Ngilu-ngilu gimana gitu, hahahaha. Setelah IUI, saya tidak boleh bergerak selama kurang lebih 15 menit. Hal ini dimaksudkan agar sperma bisa masuk sempurna. 

Oia, biar prosesnya cepat, suster menyarankan agar pak suami langsung antre di apotek. Saat saya istirahat setelah litotomi dan nggak boleh turun dari kasur (masih dalam posisi litotomi), pak suami antre ke apotek dan membayar admin. Lumayan banget lho ini jadi mempersingkat waktu karena kami nggak tunggu-tungguan. Begitu saya selesai langsung cus pulang.

Resep :
*Duphaston 10 Mg 30 tablet 642rb
*Utrogestan 200 Mg 15 kapsul 370.500

Biaya resep : 1.012.500

Oia, saat IUI, biaya admin 30rb dan IUI 2,2juta. Saya tidak dikenakan biaya konsul dan trans vagina. Biaya admin dan IUI dibayarkan di CS Morula. Jadi saya bayar uang segepok karena tidak ada EDC di CS-nya.-.-

Total biaya admin dan resep : 30.000+2.200.00+1.012.500 = 3.242.500

Setelah insem, saya beraktivitas seperti biasa nggak selebay saat insem pertama. Tapi memang saya nggak beraktivitas fisik yang berat. Tugas rumah tangga dibagi sama pak suami lah. Saya juga naik motor seperti biasa. 

#Hasil Insem

Hasil Insem diketahui pada tanggal 3 Oktober 2016. Saya mendapat rujukan untuk melakukan tes Beta-HCG untuk mengetahui apakah saya hamil atau tidak.

Gini, saat tanggal 3 Oktober saya datang ke klinik morula untuk daftar antre. Namun, saya bilang kalau misal saya positif maka saya langsung menggunakan asuransi. Selama ini biaya insem tidak ditanggung asuransi. 

Nah, apakah klinik morula bisa melakukan ini?

Alhamdulillah, katanya sih bisa. Saya akan dibantu jika nanti pemeriksaan langsung pakai asuransi.

Setelah itu saya ke bagian laboratorium. Oia, baiknya telepon lab dulu ya apakah diharuskan puasa atau tidak. Dan sebaiknya jam berapa ambil darahnya. Saya lupa-lupa ingat, puasa atau enggak. Tapi sebaiknya ambil darahnya pagi.

Setelah darah diambil, saya ngendon di musholla untuk sholat dan baca buku. Tepat setelah sholat luhur, hasil lab sudah jadi. 

Sayang, hasil lab negatif dan saya belum hamil. Segera saya laporkan ke suster dan nggak konsul ke dokter. Hm, saya merasa percuma ketemu dokter karena hasilnya sudah dibaca suster. Kata suster, saya disuruh datang lagi pas mens hari ke-2, bulan setelahnya. Namun sampai sekarang saya tidak datang karena nabung dulu. Celengan Semarnya nggak gendut lagi-.-

Biaya lab Beta-HCG : 431.200

Lumayan shock dengan biaya labnya, hahahaha.

Jujur, saya sedih dengan hasil ini. Sepanjang jalan menuju pulang saya menangis sendiri di angkot. Saya berusaha menguatkan diri sendiri. Tidak ada yang saya kabari kecuali pak suami. Bahkan berbulan-bulan setelahnya saya baru menceritakan hal ini kepada orangtua saya. Bukan apa-apa sih, saya malas jika sering ditanya tentang insem ini. 

Selain itu, saya juga menenangkan diri dengan melakukan yoga. Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya. 

Esok hari setelah lab yakni tanggal 4 Oktober 2016 saya mens. Darah saya hitam dan banyak sekali. Mungkin itu akumulasi obat hormon sebelum dan setelah insem.

Proses inseminasi ini tidak sedrama insem yang pertama. Saya lebih siap dan lebih kuat menghadapi apa pun yang terjadi. Meski lelah dan kantong jebol tapi saya sudah berusaha. Saya hanya menjalani hidup ini dengan baik. Saya berusaha untuk selalu berpikir positif serta berharap agar sehat dan bahagia. Saya hanya pelaku kehidupan di dunia ini. Peran ini akan saya jalani dengan baik.^-^.

Untuk ibu-ibu yang masih berjuang seperti saya, yuk selalu semangat dan berpikir positif. Ada yang punya cerita tentang inseminasi? Share, dong.^-^.


























Continue Reading…

Friday, February 03, 2017

Selamat Tinggal pi23tz

Bulan Januari kemarin saya baru saja mengubah domain blogspot. Ingat ya, bukan domain dotcom lho tapi yang blogspot. Perubahan ini saya lakukan berbarengan saat sewa domain berbayar (dotcom) habis. Jadi sekalian aja dan biar nggak terlalu ribet. Perubahan nama domain ini saya lakukan karena sudah eneg dengan alamat yang lama. 

Nama domain, baik blog gratisan ataupun yang berbayar lebih baik diperhatikan lagi terutama bagi blogger pemula.

Bagi saya, nama domain blog itu penting. Kenapa? Karena nama domain blog identik dengan diri kita. Kita mau dikenal sebagai siapa di dunia blogger. Apalagi sekarang, dunia blogger yang katanya rame dan riuh melebihi dunia persilatan, haha. Jadi, kita pengin gampang diingat atau enggak?

Pixabay

Nama domain blog ibarat identitas bagi pemilik blog. Misal kalau lagi kopdar sesama blogger, banyak lho yang mengenalkan diri dengan nama blognya. Sering banget saya mendengar kalimat seperti ini,

"Kenalin ini si A yang blognya xyzdotcom itu lho."

Tak jarang kadang blognya lebih ngehits dibanding pemilik blog. Bahkan, nama asli pemilik blog kadang nggak tahu, lho.

Saya, di dunia blogger dikenal dengan pipit widya meskipun ini bukan nama lengkap saya. Tapi saya enjoy dan senang karena dikenal dengan nama blog tanpa embel-embel yang lain. Saya senang karena dikenal dengan nama sendiri dan menjadi diri sendiri. 

Kalau flash back lagi, saya mengganti nama domain blogspot karena sudah eneg dengan pi23tz.blogspot.com. Iya, nama itu terlalu susah untuk diucapkan dan diingat jadi saya membeli domain pipitwidya.com. 


Semakin lama kok saya masih nggak enak dengan pi23tz meski sudah ketutup dengan domain pipitwidya.com. Saya pengin banget mengubah dengan domain yang lebih mudah diucapkan. Niat ini sebenarnya sudah ada sejak oktober 2016 silam namun nggak juga saya kerjakan. Setelah tanya beberapa teman blogger, sebenarnya sayang kalau diubah karena akan mempengaruhi PA, DA, dan angka statistik blog lainnya. 

Tapi saya nggak peduli, udah eneg soalnya.-.-

Malah saya sudah bikin blog baru lho untuk antisipasi jika harus ekspor tulisan. Blog baru ini nama domainnya lebih mudah diucapkan sih dibanding yang pi23tz.-.-

Tapi atas saran teman yang juga seorang blogger, sebaiknya mengganti domain kalau sewanya sudah habis aja. Katanya, nggak perlu bikin blog baru dan prosesnya lebih gampang. Enaknya lagi nggak perlu ekspor postingan juga. 

Selama menunggu domain habis, saya malas banget bikin postingan. Rasanya pengin segera habis sewa domain dotcom-nya. Penginnya ingin segera ganti domain blogspotnya. Memang, menunggu itu pekerjaan yang nyebelin dan nggak enak. 

Setelah sewa domain habis, saya menghubungi penyedia domain yaitu Qwords. Ini bukan iklan lho, ya. Saya chat CS-nya dan bilang apa adanya. CS-nya Qwords baik banget dan ramah menanggapi kebawelan saya. Untuk masalah ini, saya cuma disarankan untuk chat ke bagian billing via email.

Biasanya kalau sewa domain mau habis, kita akan mendapat email untuk lanjut apa enggak. Nah, di situ kita balas dan curhatkan kemauan kita.

Saya cuma pengin domain pipitwidya.com dikeep sebentar karena saya akan mengganti alamat blogspot. Saya takut kalau tiba-tiba domain pipitwidya.com dibeli orang. Intinya itu sih keinginan saya.

Ternyata penjelasan dari pihak billing sangat menyenangkan yakni domain yang masa sewanya habis akan expired sebulan setelah tidak ada perpanjangan. 

Jadi nih, domain pipitwidya.com katakanlah habis tanggal 1 Januari. Nah, selama domain ini nggak dibayar perpanjangannya domain tersebut masih milik kita sampai sebulan setelahnya. Domain tersebut nggak akan hilang, masih aman. Jangan takut domain bakal dibeli orang. Kalau sampai 1 Februari nggak diperpanjang juga maka domain tersebut expired dan bisa dibeli orang lain. 

Tapi, sehari setelah masa sewa habis (tanggal 2 Januari), domain tersebut memang tidak bisa diakses. Lah, kan masa sewanya sudah habis. Kalau ingin diakses ya harus bayar perpanjangan dulu dong.

Setelah tahu blog nggak bisa diakses, saya menghubungi Rani, pemilik www.novariany.com. Saya minta tolong dibantu untuk mengonekkan (bahasanya yang lebih bagus apa ya) alamat blogspot yang baru ke domain. Iya, saya gaptek, Kakak.

Prosesnya saya ganti dulu alamat blogspotnya lalu melakukan perpanjangan domain di Qwords.

Nggak cuma itu saja. Saya juga bikin alamat email baru yang nggak ada pi23tz-nya. Nah, email baru ini juga konek ke email yang lama. Jadi saya nggak perlu buka email baru. Enak kan? 

Demi apa coba?

Demi nggak eneg ama pi23tz, hahahaahaha. 

By the way, untuk ganti alamat blogspot ternyata susah-susah gampang ya Cin nyari yang cocok. Bolak-balik ganti ini-itu ternyata domain nggak tersedia, sudah dipakai orang. Saking jengkelnya, saya sampai cek lho blognya, bener nggak sih sudah dipakai atau saya cuma di-php-in doang. 

Untuk domain blogspot, saya penginnya pipitwidya.blogspot.com. Yah, saya penginnya domain gratisan dan berbayar sama. Ternyata domain ini tidak tersedia. Ketika saya search, yaelah blognya kosong mlompong. KZL!! Coba deh cek sendiri sana.

Tahu gitu, mbok ya blognya dihapus aja. Kalau gini kan malah nyusahin orang. Ada yang pengin domain tersebut tapi nggak bisa. Kalau sudah bikin blog, lha mbok blognya diisi gitu lho. Paling nggak 5 postingan lah, mengikuti aturan lomba blog. Hahahahaha. 

Setelah beberapa menit utak-atik nama blog, dari blogpipitwidya, diarypipitwidya, pipitwidyanote, catatanpipitwidya (mirip sekuel catatan hati seorang istri), diaryofpipit, hipipitwidya, akhirnya nemu pipitwidyablog.blogspot.com. Alhamdulillah, saya pakai domain ini. Daripada bingung dan nggak ketemu juga. Saya sempat hopeless duluan karena pas ganti ini WA sama Rani dan cekikikan nyari nama blog. 

Oia, karena gaptek maksimal, saya nggak tahu lho caranya ganti nama blog kalau sudah pernah pakai domain berbayar atau domain berbayar masih melekat. Berkat Rani, saya jadi tahu.

Cara mengganti nama domain blogspot :

Masuk ke Dashboard-Setting-Basic-Blog adress. Nah di situ kan ada 2 alamat blog yaitu nama blog yang berbayar dan yang gratisan. Kalau mau diubah, domain yang berbayar diklik tanda silangnya. Setelah domain berbayar hilang, lakukan perubahan nama domain blogspot. 

Tanda silangnya diklik terus diganti alamat blogspotnya


Kalau untuk mengonekkan blogspot ke domain dotcom dan email baru ke email lama, saya nggak tahu. Hawong saya dibantuin sama Rani. Terima kasih banyak ya, Ran, untuk bantuannya.

Moral story dari postingan ini :

1. Kalau mau bikin blog, perhatikan nama domain. Pilih nama yang mudah diucapkan dan diingat. Kalau bisa jangan pakai angka. Oia, hal ini juga berlaku untuk alamat email, ya. Saya nggak bisa bikin email yang halo@pipitwidya.com kayak gitu. Bagi saya, hipipitwidya@gmail.com sudah bagus, hahahahaha. 

2. Kalau bikin blog ya harus diisi jangan dibiarkan kosongan. Kasihan orang lain yang pengin domain tersebut.

3. Jika tidak bisa utak-atik blog, jangan keminter. Lebih baik tanya teman yang tahu. Sumpah saya deg-degan mau ganti nama blogspot. Pak suami bilang jangan gegabah. Karena kalau salah setting, blog nggak bisa diapa-apain, kelar hidup lo! *lebay

4. Komunikasikan uneg-unegmu dengan penyedia domain dan hosting. Insha Allah mereka akan membantu dengan senang hati.

Sekian postingan curhat kali ini. Intinya, alamat blogspot sudah ganti dan nggak alay lagi meski email yang pi23tz masih digunakan untuk membuka blog ini. 

Domain kalian gimana? Mudah diingat dan diucapkan nggak? ^-^


















Continue Reading…

Friday, January 27, 2017

Thanaka, Bedak Tradisional dari Myanmar

Di salah satu rubrik majalah langganan saya, beberapa bulan lalu menceritakan tentang Myanmar. Tulisan dari pembaca yang pernah pergi ke Myanmar, sangat menarik. Tulisan tersebut membuat saya untuk tahu lebih banyak tentang Myanmar. Dalam rubrik itu si Penulis menceritakan tentang tradisi yang tak lekang di Myanmar. Salah satunya yaitu masih banyaknya orang Myanmar yang tidak malu memakai thanaka.

Apa itu thanaka?

Singkatnya, thanaka adalah semacam bedak dingin yang dipakai orang Myanmar. Tapi ini bukan sembarang bedak, lho. Bagi orang Myanmar, memakai thanaka merupakan warisan leluhur dan tradisi yang sudah ada sejak lama. Baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda, banyak sekali yang memakai thanaka. Mereka memakai thanaka di mana-mana dan tidak malu meski di tempat umum.

Kalau misal memakai bedak dingin seperti itu di Indonesia, gimana ya? Pastinya bakal dilihatin banyak orang. Pede banget, ya. ☺

Orang Myanmar tidak malu karena thanaka bukan sembarang bedak tradisional. Bedak thanaka berasal batang dari kayu thanaka. Potongan kayu tersebut selanjutnya diulek untuk diambil serbuknya. Lalu serbuk thanaka diberi sedikit air dan dioleskan di pipi. 

Kayu thanaka mudah didapat karena banyak dijual di pasar tradisional ataupun pasar modern yang ada di Myanmar. Namun saat ini thanaka dalam bentuk instan banyak juga dijual di toko kosmetik atau apotek. Maka tak heran bila masih banyak masyarakat Myanmar yang memakai thanaka. 

Kayu Thanaka-Sumber dari unctad.org

Masyarakat Myanmar memakai thanaka setiap hari karena mereka percaya akan khasiatnya. Mereka memakai thanaka untuk melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Hm, penggunaannya hampir mirip sun block ya. Di samping itu, thanaka juga bisa digunakan sebagai obat kulit misalnya untuk mengatasi jerawat atau gatal-gatal. 

Tidak lama setelah saya membaca tentang thanaka di majalah, saya melihat postingan Una di timeline media sosial. Dia berfoto memakai bedak dingin. Statusnya saat itu, dia mengatakan kalau sedang memakai thanaka. Saat itu juga saya inbox Una tentang thanaka. Lalu kami bercerita soal thanaka.

Ternyata Una mendapat oleh-oleh dari Myanmar. Wow, thanaka asli dari sononya. 

Una yang baik hati menawarkan thanaka karena dia punya beberapa buah. Alhamdulillah, saya sih nggak menolak ya diberi bedak thanaka. Saya penasaran banget dengan bedak thanaka. Kalau membaca khasiatnya sih nggak ragu, ya. Thanaka merupakan bedak alami yang sudah lama dipercaya manfaatnya. Apalagi kalau gratis, siapa yang nggak nolak coba? ☺☺ 

Kiriman Thanaka dari Una

Sekitar 2 minggu terakhir, hampir tiap hari saya memakai bedak thanaka. Saya memakai thanaka biasanya sehabis sholat dhuhur sampai sebelum ashar. Selama memakai thanaka, saya tidak menggunakan sun block sebelumnya. Jadi wajah benar-benar bersih dari make up. 

Cara memakai thanaka mudah banget. Bedak kiriman teman saya keras sekali. Jadi saya harus mengirisnya sebelum digunakan. Iris thanaka secukupnya lalu beri air. Usapkan thanaka di bagian wajah.

Kalau orang Myamnar memakai thanaka di pipi, saya memakai di seluruh wajah, persis seperti memakai bedak dingin saat saya masih kecil. Hm, biar maksimal aja sih, hahaha. 

Gimana rasanya memakai bedak thanaka?

Jujur, saya suka sekali memakai thanaka. Saat thanaka masih basah, wajah terasa adem. Namun ketika bedak thanaka sudah mengering, kulit wajah terasa kencang sekali seperti memakai masker. 

Membersihkan thanaka juga cukup dibilas dengan air. Bedak thanaka yang kering mudah dibersihkan dan wajah bersih seketika. Iyes, wajah terasa adem, segar, dan bersih.

Pakai Thanaka
Kalau bedak thanaka sudah habis, saya pengin banget membeli thanaka di Indonesia. Tapi setelah gugling kayaknya tidak ada penjual bedak thanaka di Indonesia bahkan di Jakarta juga belum ada. Saran dari mbah gugel kebanyakan disuruh membeli di olshopnya Malaysia. 

Hm, apa saya yang katrok ya tidak tahu info penjual bedak thanaka. Mungkin Teman-teman ada yang tahu penjual thanaka di Indonesia? Tapi harganya yang reasonable, ya.☺

PS : Makasih ya Una, untuk bedak thanakanya. Kalau aku dikasih lagi nggak nolak kok.^-^.


















Continue Reading…

Friday, January 06, 2017

Abang Ojek Online

Malam itu, saat pak suami pulang kerja, saya ajak jalan keluar rumah. Hal yang sering saya lakukan jika saya merasa bosan di rumah. Jika bosan, obat andalannya biasanya makan bakso di lapak langganan. Iya, saya orangnya memang sereceh itu. 

Kalau keluar rumah tapi tidak ada tujuan, biasanya pak suami ogah banget. Buang waktu dan tenaga, katanya. Lagipula besok juga harus berangkat pagi ke kantor, melakukan aktivitas rutin.

Daripada pergi tanpa tujuan, akhirnya dia usul untuk sekalian belanja bulanan aja. Apalagi saat itu mau long weekend natal. Artinya, swalayan sebentar lagi bakal ramai. Kami memang malas kalau belanja saat libur panjang atau weekend. Nggak kuat sama antrenya.

Mengingat mepetnya waktu karena sudah malam, akhirnya kami pergi belanja dengan persiapan yang ala kadarnya.

Saya akui kalau pria itu lebih berpikir menggunakan logika dibanding wanita. Ini yang saya suka, karena saya banyak memakai perasaan, hahaha. Menurut pak suami, sebenernya masih ada waktu kalau mau beli bakso. Apalagi lapak bakso langganan jualannya simpel yakni cuma melayani bakso. Minumannya hanya air mineral gelas yang kardusnya ditata di dekat kursi pembeli. 

Akhirnya saya pun menyanggupi. 

Meski lapak bakso cukup ramai akhirnya kami bisa makan tanpa lama mengantre dan cus belanja di swalayan sebelum tutup.

Sampai di swalayan, parkiran agak ramai. Tumben amat padahal saat itu weekday, lho. Untungnya kondisi di dalam lumayan lengang. Antrean di kasir tidak terlalu ramai. Syukurlah. Saya dan pak suami mulai menyusuri lorong demi lorong yang sudah kami hafal.

Saat kami tiba di lorong sabun cuci, mata saya tertuju kepada pria yang berjaket dan memakai masker. Saya lirik sedikit ke arahnya. Oh, ternyata dia abang ojek online yang sedang belanja. Saya tahu saat dia memegang hape bergambar foto sabun cuci. Si Abang agak lama mencari sabunnya. Entah karena kurang familiar atau untuk memastikan bahwa pesanannya benar, sesuai keinginan pelanggan.

From Pixabay
Saya tersenyum melihat kejadian ini. Teringat beberapa bulan lalu saat pak suami mengalami kejadian yang sama dengan abang ojek tadi. Iyes, pak suami pernah belanja bulanan sendiri meski cuma beberapa menit.

Jadi waktu itu pak suami ngedrop saya di klinik perawatan kulit. Dikiranya saya bakal facial. Daripada nungguin lama akhirnya pak suami belanja bulanan sendiri. Nggak tahunya saya cuma konsul dokter dan membeli krim saja.

Selama saya di klinik, pak suami berkali-kali mengirim gambar via whatsapp. Untuk memastikan aja sih barang yang dibeli benar atau tidak. Atau malah menunjukkan kalau barang yang mau dibeli tidak ada, penggantinya ada merk lain. 

Saya anggap ini wajar sih karena takut kalau saya ngomel atau malah barangnya salah dan tidak terpakai. Lah, sayang uangnya kan? -.-

Setelah konsul dokter, saya pun cus menyusul pak suami ke swalayan naik angkot nyusul belanja bulanan.

❤❤❤

Kembali ke abang ojek online yang belanja tadi. Saya menaruh hormat dan respek yang luar biasa terhadap pekerjaan apa pun dan kepada siapa pun. Karena saya tahu untuk mendapatkan pekerjaan itu sulit. Untuk mencari uang itu butuh perjuangan dan kerja keras. Apalagi di saat sekarang ini, ya. Ekonomi semakin sulit saat kebutuhan sudah tidak bisa ditolak lagi meski bukan untuk sekedar gengsi.

Si Abang masih bekerja saat yang lain sudah di rumah bertemu keluarganya. Si Abang bekerja dengan sungguh-sungguh memastikan bahwa pelanggan akan puas dengan jasanya. Si Abang yang mungkin kurang paham dengan barang-barang yang didominasi kaum ibu dipaksa harus tahu dan mencari sampai ketemu.

Ah, apalah arti saya dibanding perjuanganmu, Bang. Saya salut.

Setelah melewati lorong sabun cuci, saya bertanya ke pak suami.

"Tadi lihat ada abang ojek belanja, nggak?"

"Iya," jawab pak suami.

"Hebat, ya, dia. Jam segini masih kerja. Kalau kamu udah pulang, belanja ama aku lagi."

"Hu um. Harus banyak bersyukur, tuh," jawab pak suami lagi.

Saya tersenyum penuh syukur dan kagum kepada si Abang tadi.

❤❤❤

Di lain cerita, saat booming AADC2 saya sempat membaca status teman saya di media sosial. Teman saya mengunggah foto abang ojek online yang ikut antre tiket. Antrenya panjang dan lama kayak choki-choki. 

Eh, pas giliran si Abang dilayani ternyata tiketnya habis. Si Abang bingung dan telepon customer. Akhirnya pembelian tiket pun nggak jadi. 

Duh, kebayang kan perjuangan mereka. Saya yakin cerita abang ojek online nggak cuma ini saja. Masih banyak kejadian tidak terduga yang dialami oleh abang ojek online. Maklumlah, saya suka nonton acara OK-Jek jadi tahu sedikit kehidupan mereka. 

❤❤❤

Etapi nama juga manusia, ya. Hari ini saya kumat ngambeknya karena kurang bersyukur piknik. Malu dengan abang ojek online yang belum genap sebulan bertemu. Ah, nama juga manusia.-.-

Kalau Teman-teman punya cerita dengan abang ojek online, nggak?


















Continue Reading…

Thursday, January 05, 2017

Seminar Laktasi : Standar Emas Pemberian Makan Bayi dan Anak

Saya paling suka jika dapat menghadiri acara bertema kesehatan. Pada hari Minggu (18/12/2016), saya mendapat undangan dari AIMI Depok untuk menghadiri seminar laktasi di Hotel Bumi Wiyata, Depok. Seminar ini diadakan dalam rangka selebrasi AIMI Depok yang ke-2. 

AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) Depok merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada 1 November 2014, yang bertujuan meningkatkan persentase ibu menyusui. Dalam rangka ulang tahun ke-2, AIMI Depok menyelenggarakan seminar laktasi yang dihadiri oleh tenaga kesehatan dan masyarakat umum.  



Segala hal tentang bayi dan anak selalu menarik untuk diikuti. Saat ini banyak sekali informasi yang beredar mengenai tumbuh kembang bayi dan anak. Hal yang sama juga terjadi pada banyaknya info tentang makanan bayi. Pemberian makan pada bayi dan anak akan mempengaruhi perkembangan otak dan anggota tubuh lainnya. Dampak pemberian makan yang kurang tepat bisa menyebabkan bayi gagal tumbuh atau malah obesitas. 

Meski belum punya momongan namun saya antusias mengikuti acara ini karena narasumber yang hadir sangat kompeten dan mereka tak sekedar berbagi ilmu tapi juga pengalaman. Narasumber di seminar laktasi ini, yaitu :

1. dr. Utami Roesli, Sp.A, IBCLC, FABM
2. dr. Stella Tinia, M.Kes, IBCLC
3. dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC
4. dr. Hikmah Kurniasari, MKM, CIMI
5. Tiur Hutagalung, LLM, CIMI

Oke, saya akan cerita apa saja yang dibagikan oleh narasumber tersebut.

#Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Sesi pertama tentang IMD. Menurut dr. Utami Roesli, IMD dimulai secepatnya, segera setelah bayi lahir. IMD dilakukan dengan cara bayi ditengkurapkan di dada ibu sehingga kulit bayi melekat pada kulit ibu minimal satu jam. Kulit ibu mempunyai kemampuan menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi.  

Di sesi ini, dr. Utami berbagi pengalaman IMD melalui video saat cucunya lahir. Dalam video tersebut, selama IMD bayi tidak langsung bisa menyusu. Bayi akan mengalami fase menangis, merangkak mencari payudara, dan mengenali payudara. Setelahnya, bayi akan menyusu. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Saat skin to skin contact inilah, ayah bisa mendoakan anak.  

Indikasi keberhasilan IMD yaitu ibu dan bayi dalam keadaan stabil. Setelah bayi melakukan kontak kulit dengan ibu dan kondisi ibu stabil baru dilakukan kontak kulit dengan ayah. 

Manfaat skin to skin contact antara ibu dan bayi antara lain :

1. Mempertahankan kehangatan bayi
2. Lebih berhasil dan lebih lama menyusui
3. Detak jantung dan pernafasan lebih cepat stabil
4. Bayi lebih jarang dan lebih sebentar menangis
5. Kasih sayang dan bonding lebih baik

Dalam menutup sesi pertama, dr. Utami Roesli memberikan catatan yang sangat berharga
"ASI merupakan hadiah sangat berharga yang dapat diberikan orangtua pada anaknya. Dalam keadaan miskin mungkin itu hadiah satu-satunya yang dapat diberikan. Dalam keadaan sakit, ASI adalah hadiah yang menyelamatkan jiwa." 

#Kriteria Evaluasi Keberhasilan Menyusui

Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013, cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Tahun 2013 cakupan ASI eksklusif hanya 54,3% dari target 80%. 

Penyebab rendahnya cakupan ini antara lain :

1. Pemasaran susu formula
2. Kesulitan pemberian ASI pada ibu bekerja
3. Tenaga kesehatan belum berpihak pada ASI eksklusif
4. Tenaga konselor ASI jumlahnya terbatas
5. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye ASI
6. Belum semua RS melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM)

Pada sesi ini, dr. Stella menjelaskan indikator menyusu dapat terlihat mulai dari rooting, latch on, suckle, dan swallowing. Tahapan yang dimulai dari bayi memutar kepala ke arah payudara dan membuka mulut mencari payudara. Lamanya pelekatan pada payudara, gerakan menghisap sampai menelan yang membutuhkan ASI yang cukup.

Menilai keberhasilan proses menyusui tidak bisa dilihat dari 1 parameter saja namun memerlukan observasi menyeluruh baik faktor biometrik maupun psikososial pada ibu dan bayi. 

Untuk itu, memberikan edukasi kepada ibu tentang pemantauan keberhasilan menyusui akan membantu ibu menilai kondisinya sendiri. Dalam hal ini, dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang penting. Jika bermasalah, sebaiknya segera mencari bantuan agar dapat memberikan ASI kepada bayi. 

#Relaktasi pada Bayi Bingung Puting

Sesi ketiga merupakan sesi yang krusial karena berlangsung saat mendekati waktu istirahat. Namun narasumber yang membawakan sesi ini sangat komunikatif membuat peserta tidak mengantuk malah semangat mengikuti paparan yang disampaikan oleh dr. Asti Praborini.

Jujur, saya membaca judul pada sesi ini sering salah. Relaktasi saya baca relaksasi. Duh, padahal artinya beda banget. Parahnya, saya baru pertama kali mendengar istilah relaktasi.  

Apa itu Relaktasi?
Relaktasi adalah usaha mengembalikan bayi untuk menyusu lagi ke payudara. 

Kasus relaktasi ini banyak terjadi misalnya ibu yang tidak sabar mendengar tangisan bayi lalu memberikan susu formula dan dot sehingga proses menyusui berakhir. Kasus ini tidak hanya terjadi pada ibu bekerja saja namun juga terjadi pada ibu yang tidak bekerja. 

Relaktasi sangat penting karena selain sebagai makanan terbaik bagi bayi, ASI adalah obat. Selain itu, menyusu bukan hanya kegiatan memberikan ASI saja tapi lebih dari itu. Menyusu dapat meningkatkan bonding antara ibu dan bayi yang dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang anak.

Cara melakukan relaktasi sebagian besar menggunakan metode rawat inap di RS disertai bantuan konselor. Dengan metode ini akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk ibu dan bayi dalam proses relaktasi. 

Bagi saya, sesi ini sangat menarik karena ada pasien dr.Asti yang menceritakan pengalaman relaktasi secara langsung. Sebut saja namanya Ibu Melati temannya Ibu Mawar. Ibu Melati seorang pekerja. Karena aktivitasnya di kantor maka dia memberikan ASI ke bayinya dengan dot. Setelah pulang kerja dan hendak menyusui, bayi itu menolak. Iya, bayinya mengalami bingung puting. Hal ini terjadi terus menerus. 

Ibu Melati sudah mau resign demi bayinya namun dilarang si Bos. Ibu Melati diberi kelonggaran waktu untuk cuti sesukanya. Maka, Ibu Melati melakukan relaktasi selama cuti. 

Ibu Melati melakukan relaktasi dengan rawat inap di rumah sakit. Berkat kesabaran dan bantuan konselor ASI selama relaktasi akhirnya si Anak mau menyusu sampai usia 2 tahun. 

Pasien dr.Asti Berbagi Pengalaman Relaktasi

Tahap relaktasi ini lumayan panjang. Intinya adalah menyapih dari dot menggunakan gelas, melakukan skin to skin contact antara ibu dan bayi. Jika kasusnya berat, yakni bayi sudah tidak mau puting maka relaktasi dibantu dengan alat bantu laktasi yang dibuat dari Naso gastric Tube no 5F40cm dan Spuit 50cc. Alat bantu laktasi digunakan untuk membuat bayi senang di payudara, karena bayi sudah terbiasa dengan aliran deras dot. Alat bantu laktasi dapat diisi dengan ASI donor yang sudah dipasteurisasi/susu formula. 

Jika suplai ASI ibu berkurang maka ibu akan mendapatkan terapi laktogog dan akupuntur. 

Jumlah susu dalam alat bantu laktasi lama-lama akan dikurangi. Begitu juga dengan dosis laktogog sehingga nantinya bayi hanya akan menyusu langsung ke payudara. 

#Makanan Pendamping ASI

Banyak yang sudah tahu kalau MP-ASI diberikan saat bayi berusia 6 bulan. Kenapa?

1. Kemampuan oromotorik bayi sudah baik
2. Bayi mampu menegakkan kepala
3. Mampu duduk dengan bertopang
4. Saluran pencernaan sudah siap menerima makanan padat

dr. Hikmah, selaku narasumber menyebutkan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemberian MP-ASI yaitu :

1. Usia : 6-9 bulan, 9-12 bulan, >12 bulan
2. Frekuensi  dalam 1 hari yang terdiri dari makanan utama dan selingan
3. Jumlah, seberapa banyak porsi makan bayi dalam 1 kali makan
4. Tekstur, kekentalan bentuk makanan bayi
5. Variasi, macam-macam makanan yang diberikan
6. Responsif, cara memberikan makan pada bayi
7. Kebersihan mulai dari bahan makanan, alat makan dan tangan ketika makan

Banyak sekali mitos mengenai MP-ASI yang beredar di masyarakat. Apa saja mitos tersebut?

1. Cukup berikan ASI saja bila ana tidak mau makan
2. Makanan yang diberikan teksturnya cair supaya mudah ditelan
3. Tidak boleh memberikan lauk hewani
4. Bayi melepeh makanan tandanya bayi tidak menyukai makanan tersebut

Do's saat MP-ASI :

1. Berikan dorongan jika anak menolak makan
2. Berikan pujian saat anak makan
3. Bersabar dalam memberikan makan pada anak
4. Tetap susui bayi on demand

Don'ts :

1. Jangan paksa anak jika tidak mau makan
2. Jangan berikan banyak minum sebelum dan sewaktu makan

#Pijat Bayi, Sentuhan untuk Tumbuh Kembang Optimal

Materi terakhir disampaikan oleh Tiur Hutagalung, SH, MH, CIMI. Beliau adalaha anggota IAIM ( International Association of Infant Massage) dan pengurus IAIM Indonesia.

Ibu Tiur mengatakan bahwa selama ini banyak sekali bayi yang dipijat oleh dukun bayi dengan gerakan yang keras. Tak jarang, bayi sering takut dan menangis ketika dipijat.

Pijatan pada bayi merupakan suatu penyaluran kasih sayang berupa sentuhan yang diberikan oleh orangtua terhadap bayinya. Pijat adalah terapi sentuhan tertua yang dikenal manusia dan yang terpopuler. Dalam beberapa kultur di dunia banyak yang mempraktikkan pijat bayi dari generasi ke generasi.

Waktu memijat bayi disesuaikan dengan bayi. Bisa saat setelah mandi, sebelum tidur, dll. Saat memijat, perhatikan tingkah laku bayi dan sebaiknya dilakukan secara rutin.

Pijat bayi sebaiknya dilakukan oleh orangtua sendiri. 

Hal-hal yang diperhatikan saat memijat :

1. Meminta izin setiap kali akan memijat
2. Menggosokkan minyak ke telapak tangan di depan wajah bayi sehingga bayi mengenali suaranya sebagai awal pijat. Minyak untuk memijat bayi sebaiknya menggunakan minyak dari sayuran, biji, buah, yang tidak melalui proses pemanasan.
3. Bernyanyi untuk bayi
4. Berbicara kepada bayi dan berinteraksi selalu
5. Bila bayi menangis/lapar/mengantuk/ingin ganti popok, sesi pijat harus dihentikan.

Ibu Tiur membagikan pengalaman pribadinya saat memijat bayi. Beliau rutin melakukan pemijatan pada anaknya saat bayi. Pemijatan yang dilakukan tidak berupa gerakan yang keras namun sentuhan dan gerakan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sampai sekarang saat anaknya sudah SMA masih minta dipijat oleh ibunya. Uniknya, bukan pijatan seperti orang dewasa namun sentuhan dan gerakan halus bagi anaknya merupakan pijatan. Meski demikian, si Anak tetap senang dan tertidur lelap. 

Nah, itu tadi ilmu yang bisa saya bagi saat seminar laktasi pada bulan Desember yang lalu. Banyak banget kan ilmunya. Selain diisi sharing ilmu dan tanya jawab, seminar laktasi juga banjir hadiah. Banyak banget door prize yang dibagikan ke peserta. Serunya, ada door prize yang ditempel di bawah kursi, lho. Jadi bikin peserta heboh karena hadiahnya tiket pesawat PP dari sponsor. Dan masih banyak lagi keseruan-keseruan lainnya.

Sebagian Peserta dan Narasumber

Terima kasih ya AIMI Depok karena sudah memberikan kesempatan kepada saya. Sukses terus untuk program-programnya. ASI YES!!☺
   




                                      




















Continue Reading…
Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com