Tuesday, March 18, 2014

Imperial Palace East Garden Tokyo


Kali ini kami ke Tokyo. Masih sedikit wilayah yang kami jajahi di ibukota Jepang ini. Berangkat dari Kannai ke Stasiun Tokyo membeli tiket seharga 540 yen. Begitu sampai Tokyo, saya terkagum-kagum dengan stasiunnya yang besar dan membuat bingung. Banyak sekali orang berlalu lalang. Supaya tidak bingung, kami membaca peta dulu (padahal yang mudeng suami dan temannya, saya hanya makmum hehe), mencari tahu di mana letak Tourist Informationnya.

Ruangan yang terletak di dekat pintu keluar tersebut cukup ramai. Dengan sabar petugas informasi memberikan penjelasan dan mempersilakan kami mengambil tourist guide. Wow komplit sekali informasinya ada Tokyo handy map, Tokyo handy guide, Kyoto guide, bahkan Yokohama Visitor Guide juga ada dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua gratis. Di ruangan itu, tatanannya apik, simple, dan komplit karena ada wifi dan komputer berisi panduan wisata.
Lobby
Bagian luar dari stasiun ini juga cantik sekali. Sebuah bangunan yang kuno berwarna merah bata dengan gaya khas Eropa. Gedung yang terawat sejak dulu dengan fasilitas yang modern di dalamnya.
Di sekeliling stasiun tampak bangunan yang menjulang dengan puluhan lantai. Bangunan modern yang diperuntukkan untuk perkantoran. Di luar stasiun juga berbaris puluhan taksi yang dengan tertib mereka antri mendapatkan penumpang. Sungguh pemandangan yang berbeda ketika saya keluar dari stasiun Gambir.

Bagian luar Stasiun Tokyo
Gedung di sekitar stasiun dan puluhan taksi
Kami berencana ke Imperial Palace East Garden, yang kata orang wajib hukumnya bila kita ke Tokyo. Untuk sampai ke sana cukup jalan kaki 10-15 menit dari Stasiun Tokyo. Taman ini terbuka untuk umum setiap tahunnya secara gratis kecuali pada hari Senin, Jumat dan acara-acara khusus. Taman ini bentuknya sangat tradisional. Pintu masuknya masih mempertahankan bentuk kuno yang sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya. 




Jembatan ini letaknya kurang lebih 5 menit dari pintu utama East Garden




Lihatlah lebih jauh

 Memasuki taman rasanya sejuk sekali. Banyak sekali tanaman dan bunga yang indah meski ada beberapa yang belum mekar bahkan meranggas. Namun itu semua tak mengurangi keindahan dari taman tersebut karena bila dilihat dari jauh maka tanaman yang meranggas itu memberikan sentuhan yang artistik jika digabungkan dengan kolam dan tanaman di sekelilingnya.
Setiap ayun kaki kami tak lelahnya berhenti mengagumi indahnya berbagai warna bunga ada merah, putih, kuning semua menyatu memberikan keunikan sendiri-sendiri. 






Yang unik dari taman ini yakni beberapa bangunan kuno yang ada di dalamnya masih terawat dengan baik. Masing-masing punya nama dan fungsi sendiri, tapi maaf, saya tidak mengetahui secara detail.


Atapnya unik



Menariknya lagi pada saat kami di sana ada rombongan manula yang sedang melukis. Mereka berpencar mencari obyek yang berbeda untuk dilukis dan saat hari mulai siang, mereka akan berkumpul dan lukisannya akan dikoreksi. Jadi para manula di sini sangat aktif sekali. Mungkin ini salah satu resep agar mereka panjang umur.


Eyang sedang melukis


Eyang sedang memberi komentar
Saran saya sebaiknya membawa perbekalan ketika datang ke sini. Kalau air minum habis, bisa diisi ulang di kran yang tersedia di taman, letaknya dekat toko suvenir. Jika lelah, bisa beristirahat dan makan di bangku yang ada.
Sebenarnya saya belum cukup puas berada di taman ini karena masih ada beberapa tanaman yang belum mekar dan meranggas. Suatu hari nanti, semoga suami saya mau diajak berkunjung lagi ke sini. Semoga.


0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com