Monday, April 14, 2014

Ada Rindu di Pasar


Engga salah itu judulnya? Masak rindu dengan pasar? Apa tidak ada tempat lain yang lebih bagus?

Hehe mungkin itu yang ada di benak teman-teman. Engga salah kok. Saya memang sedang rindu pada tempat dimana anak dan ibu berpetualang mencari barang dengan kepuasan menawar. Banyak lho manfaat dari berbelanja di pasar.

Ada dua pasar yang selalu saya ingat yakni pasar krempyeng yang dekat rumah dan Pasar Johar. Semuanya ada di Semarang, kota kelahiran saya.

# Pasar Krempyeng

Orang menyebutnya dengan pasar krempyeng. Mengapa disebut demikian? Karena pasar ini hanya buka sampai jam 12 siang. Terletak di daerah Semarang bawah, dekat dengan Pelabuhan Tanjung Emas. Pasarnya kecil, tidak sampai berlos-los jumlahnya. Sebagian pedagang malah berjualan di pinggir jalan sehingga membuat arus di lokasi itu agak tersendat di pagi hari, apalagi pasar krempyeng lokasinya dekat dengan puskesmas.

Dulu setiap hari Minggu saya selalu diajak ibu berbelanja di pasar untuk membeli stok sayur dan lauk terutama ikan. Maklum, ibuku bekerja sebagai pelayan masyarakat di salah satu rumah sakit di Semarang, jadi untuk keperluan dapur beliau selalu menyetok di kulkas. 

Kami berdua naik motor selama 5 menit untuk sampai di pasar krempyeng. Melewati gang demi gang dan bertegur sapa dengan tetangga membuat hati senang apalagi jika dibalas senyuman. Memang benar kata pepatah, senyum adalah sedekah yang paling mudah dan indah.

Karena seringnya berbelanja, tak heran jika ibu mempunyai pedagang langganan di pasar ini terutama di los ikan. Kalau membeli ikan, biasanya ibuku menghitung mau membeli berapa kilo dan kira-kira cukup untuk sehari apa tidak. Selain itu, membelinya juga berbagai jenis karena untuk stok beberapa hari. 

Yang saya suka dari ibu adalah kemampuannya dalam menawar. Pintar sekali beliau. Memang prosesnya tak singkat, karena ibu benar-benar lihai. Mulai dari tanya ikan apa, harganya per kilo berapa, kalau beli sekian kilo dapat harga berapa, terus ditawar, sampai ada kesepakatan. Jika hal ini tidak terjadi, ibuku akan berkeliling ke tempat lain dulu, tapi ujungnya balik lagi ke penjual tadi meski harganya harus dinaikkan sedikit. Memang ibu tak punya malu kalau urusan menawar di pasar, malah saya yang malu hehe.

Tidak hanya ikan. Daging ayam, bakso, tahu dan tempe sering juga mengisi ruang di kulkas kami. Kalau lauk yang ini sepertinya engga ditawar karena biasanya sudah harga pas.

Di pasar tradisonal, kalau engga jajan kudapan yang ndeso enggak afdol dong! Jika ingin jajan pasar, saya menuju ke penjual yang terletak di pinggir jalan, seberang los ikan. Ada getuk, cetot, tiwul, putu mayang, cantel, lopis, dll. Hhhhmmm nikmatnya kudapan-kudapan tersebut apalagi bila diberi parutan kelapa dan kinca (gula jawa yang dicairkan). Kalau masih lapar, di sebelahnya ada penjual nasi jagung berikut urap dan rempeyek ikan asinnya. 

Jika ingin minum jamu, mampirlah saya ke penjual yang terletak di dekat pintu masuk. Ibu yang memakai caping dan membawa dunak yang terbuat dari bambu serta kain jarik itulah ciri khasnya. Botol berisi cairan warna-warni namun kaya akan gizi dijual dengan harga yang cukup murah per gelasnya. Seringnya saya memesan kunyit asam dicampur cabe puyang. Rasanya asam agak pahit sedikit. Di akhir minum, biasanya pembeli mendapat jamu beras kencur sebagai penawar pahit.

Meskipun rumah kami sudah pindah di daerah atas enam tahun lalu, tetapi ibu tetap setia berbelanja ikan di pasar krempyeng. Biasanya diantar bapak karena saya sudah 'berpisah' dengan mereka. Hihi biarlah mereka pacaran di pasar.

# Pasar Johar 

Konon, menurut beberapa sumber, Pasar Johar merupakan pasar terbesar dan termodern di Asia Tenggara sekitar tahun 1930-an. Letaknya yang dekat dengan Masjid Besar Kauman dan berada di kawasan kota lama Semarang, menjadikan dua tempat ini sebagai cagar budaya.

Memasuki pasar yang penuh dengan nilai sejarah membuat saya kagum dengan bangunannya. Bangunannya kokoh dan artistik. Tampak pilar-pilar tinggi serupa jamur menyangga atap. Sayang, makin lama bangunan ini tidak terawat dengan baik. Warnanya kusam, banyak sampah, dan panas. Maka tak heran, jika musim hujan datang dapat dipastikan pasar ini selalu banjir. 

Sumber dari sini
Pasar ini sangat lengkap karena menjual aneka dagangan mulai baju, sayuran, daging, ikan, perlengkapan salon, perlengkapan menikah, batik, sampai buku bekas juga ada. Mau mencari apa saja ada di sini.

Di Pasar Johar, biasanya ibu mengajakku untuk membeli perlengkapan salon, kain batik dan berbagai baju untuk dijual kembali atau untuk perlengkapan lebaran. Saya akui, ibu memang ulet. Selain bergantung pada gaji bulanan, beliau juga mengais rejeki dengan membuka rias pengantin serta jualan aneka baju dan kain batik.

Kalau batik ibu membeli di Toko Djakarta atau penjual langganan di salah satu los. Kalau  perlengkapan salon di Toko Kris atau Candra. Biyuh-biyuh, kalau membeli batik di Toko Djakarta harus sabar karena ramenyaaa. Toko ini memang legendaris karena sudah puluhan tahun. Saat ini, si pemilik membuka cabang di daerah Srondol namanya Toko Jayakarta.

Waspadalah jika berbelanja di sini. Katanya banyak pencopet jadi barang berharga sebaiknya dibawa dengan hati-hati. Jika menawar, tawarlah harga separo lebih, jika tidak boleh berpura-puralah berjalan ke tempat lain dulu. Jika beruntung, anda akan dipanggil lagi tetapi jika tidak berarti memang harganya belum masuk perhitungan mereka, naikkanlah sedikit.

Saya sering tertegun melihat tingkah laku manusia di tempat ini. Misalnya para penjual yang selalu memakai kode bila mereka berbicara masalah harga dengan pegawainya. Saya tertawa sendiri kalau mendengarnya. Ada juga gerakan pegawai toko yang cekatan merapikan barang atau bahkan melihat mereka yang mengantuk menunggu pembeli datang, dan masih banyak lagi.

Yang membuat saya iba adalah para kuli yang berjuang untuk keluarganya. Tak hanya lelaki, di pasar ini kuli perempuan yang umurnya paruh baya juga banyak ditemui. Mereka biasanya berasal dari wilayah sekitar Semarang seperti Demak, Kendal, dan Boja. Yang lelaki umumnya kuli toko yaitu mereka yang mengangkut barang dari atau ke toko tempat mereka bekerja. Sedangkan yang perempuan umumnya kuli yang menawarkan jasa ke pengunjung untuk dibawakan belanjaannya, biasanya mereka membawa jarik untuk menggendong barang. Sungguh berat kehidupan mereka, apakah seberat beban yang dipanggulnya? Entahlah.

Jika lelah berbelanja pastinya kami melepas penat di Bakso Surabaya atau Gudeg Bu Tini yang tersohor itu. Tempatnya sederhana, beralas tanah dengan meja dan kursi panjang seperti warteg. Untuk urusan minum, saya selalu membeli es gempol di sudut pasar, yang penjualnya gemuk. Sedangkan ibu lebih suka minum teh anget manis. Nikmatnya makan di pasar apalagi bersama ibu. Sungguh.

Seiring berjalannya waktu ternyata saya merasakan manfaat berbelanja dengan ibu, diantaranya :

1. Kami menjadi semakin dekat karena dengan berbelanja bersama ada emosional yang terjalin, kami merasakan capek dan senang bersama.

2. Komunikasi diantara kami juga semakin akrab. Hal ini dikarenakan seringnya mengobrol bersama dan meminta pertimbangan satu sama lain ketika memutuskan untuk membeli barang.

3. Saya mengetahui cara menawar yang baik. Jangan ragu untuk menawar separo harga lebih dulu. Hal ini ternyata tidak berlaku jika saya berbelanja di Tanah Abang tetapi berlaku jika berbelanja di ITC.

Tak hanya itu, saya juga dapat mengenal berbagai jajanan tradisional yang kini jarang ditemui serta lebih menghargai setiap profesi orang lain. Karena tak mudah untuk mencukupi kebutuhan hidup di jaman sekarang yang membutuhkan peluh dan tenaga tak sedikit.

Saya senang dengan pasar karena banyaknya aktivitas yang terjadi di sana. Menyaksikan transaksi jual beli, menunggu antri dilayani, atau melihat beratnya beban para kuli yang membawa barang pesanan, semua beradegan sesuai perannya masing-masing. Meski bau, becek, kotor, panas, tetapi tempat ini memberikan penghidupan bagi banyak orang. Banyak cerita yang terjadi di sana. Ada rindu saya di sana. Berbagai manusia dengan segala rupa dan aktivitasnya berjuang hanya untuk satu, yakni : HIDUP!!




8 comments:

  1. Waktu saya kecil, yang suka belanja ke pasar itu, Bapak. Jadi kalau Bapak belanja dan ngajak, saya seneng banget. Sekarang, suami saya juga seneng belanja ke pasar :D

    ReplyDelete
  2. Wah, ada makmin cantik mampir..
    Enak ya mak ke pasar, kalo sekarang, saya+suami ke pasar bareng :)
    Makasih maaak..

    ReplyDelete
  3. Saya juga sukaaa banget ke pasar gitu pagi-pagi yang kayak pasar krempyeng. Seringnya sih beli jajan :D

    ReplyDelete
  4. Iya, mbak Hilda..
    Asyik banget ya rasanya..
    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  5. aku sama ibu rajin pagi2 kepasar sambil jln kaki dan olahraga

    ReplyDelete
  6. Pulang-pulang seger ya, mbak..
    Salam kenal :)

    ReplyDelete
  7. Eh, pingin ke semarang jadinya... Masih tinggal disana, temenin jalan yaaa

    ReplyDelete
  8. Mak Noe, daku rumahnya di depok, yang di Semarang keluarga besar..
    Kalau maen ke Depok, bolehlah..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com