Radio dan Kenangannya

Halo, anak 90-an. Apa kabar? Seri 90-an hadir lagi. Kali ini saya mau ngomongin tentang kenangan dengan radio khususnya radio di Semarang. Plus cerita dikit soal perkembangan dunia radio.

Kenapa di Semarang?

Karena saya lahir dan besar di kota ini. Jadi saya tahunya radio di Semarang. Kalau di kota lain, maaf, saya nggak tahu. Bisa jadi hampir mirip. Dunia radio kan di mana-mana polanya hampir sama.

Sebagai radio mania, tiap pagi dan malam saya selalu mendengarkan radio. Biasanya saat mau berangkat sekolah, saya nyalain radio. Kalau pagi musik-musiknya kan ngebeat, bisa jadi mood booster ke sekolah. Kalau malam, biasanya saya belajar sambil mendengarkan radio. Lagunya yang selow kadang bikin ngantuk atau malah ketiduran. Pas bangun pagi tahu-tahu ada suara kayak semut di radio karena lupa dimatikan.

Ada yang sama kayak saya? Hahaha.

Radio zaman sekarang tinggal atur gelombang aja udah jadi. Kalau mau dengerin radio, tinggal pencet remotenya, pilih radio nomor berapa sesuai settingan.

Radio jadul saya merknya Polytron, radio analog yang cari gelombangnya kudu diputer. Kalau tabrakan sama gelombang radio lain, ada bunyi kresek-kresek. Btw radio jadul saya sampai sekarang masih terawat. Tiap pagi bapak saya masih mendengarkan tembang kenangan di radio.


Radio jadul saya kayak gini. Foto dari Buka Lapak

Sungguh, perjuangan banget pakai radio analog. Apalagi kalau lagi hujan. Udah lah mending dimatiin aja radionya daripada emosi nyari gelombang nggak dapet-dapet, hahaha.

Eh, saya ada banyak kenangan dengan radio di Semarang. Biarpun sekarang tinggal di Jakarta coret, tapi saya masih inget radio-radio di Semarang. Ada RCT FM, Imelda FM, Gajahmada FM, IBC FM, KIS FM, dan masih banyak lagi.

Saya juga masih inget sama penyiar-penyiarnya. Mereka yang menemani masa-masa remaja saya dan indahnya jatuh cinta apalagi pas cinta pertama, hahaha.

Zaman kuliah baru tu masuk radio dari Jakarta macam Prambors. Eh, btw di Semarang ada Hard Rock FM nggak sih?

Kenangan saat saya jadi anak radio, diantaranya:

#Kirim salam ke gebetan

Saya selalu mendengarkan radio karena selain untuk dengerin lagu, radio bisa jadi tempat update info gaul. Radio juga bisa dijadikan ajang kirim salam untuk someone alias gebetan di sekolah. Hahahaha, hayo ngaku siapa yang suka kayak gini?

Dulu saya tu centil banget. Waktu SMP saya suka kirim salam ke gebetan via radio. Eh, dulu kirim salam di radio termasuk perjuangan lho karena teleponnya di wartel (warung telepon) biar nggak ketahuan ama orang rumah, hahaha.

Tahu sendiri kan nelpon di wartel gimana. Nggak bisa ditebak wartelnya rame atau enggak. Kadang ada room yang kosong. Nah, kalau gini enak, kita nggak perlu antre.

Yang bikin bete saat kita nunggu lama banget karena ada orang telepon. Biasanya sih ini orang pacaran. Kalau gini, saya nggak semangat karena biasanya udah lewat jadwal kirim salam on air.

Yes, kirim salam on air.

Saking hapal dengan program tertentu di salah satu radio, saya sampai hapal kapan bisa kirim salam on air. Iya, kirim salamnya live. Widiw, kalau bisa on air rasanya seneng banget karena bisa ngomong langsung. Padahal someone yang dikirimi salam belum tentu dengerin radionya.😂

Itu belum seberapa. Dulu telepon ke radio juga untung-untungan karena line di radio sibuk mulu. Apalagi kalau lagi ada kuis yang jawabannya kudu cepet.

Nomor telepon radio di-redial bolak-balik nggak bisa. Kalau situasinya kayak gini, saya gemes karena nggak bisa ikutan jawab kuis. Atau pulang dari wartel tanpa kirim salam ke someone kesayangan, hahaha.

Kalau kirim salam di radio, saya pasti pakai kata 'someone' daripada pakai nama asli. Takut ketahuan, hahaha. Template kirim salam di radio biasanya kayak gini

'Buat someone di 3A SMP X, selamat belajar ya. Semoga besok ujiannya lancar.' Dari someone di 3B SMP X.

'Buat teman-teman di 3B salam kompak.'

Hahahahahaha, centil kaaaannn.🙈🙈

Emang sih semua orang akan alay pada waktunya. Hal ini wajar. Alay adalah bagian dari proses kehidupan dan pendewasaan diri, hahahaha. Zaman sekarang kalau mau kirim salam atau minta diputerin lagu di radio tinggal Whatsapp aja. Setiap radio pasti punya nomer WA.

Zaman dulu penyiar atau adminnya nulis salam pakai kertas. Jadi kalau kirim salam, jangan cepet-cepet. Biasanya orang radio bakal marah kalau kita ngomongnya kecepetan.

#Lagu-lagunya

Ini termasuk lagu nostalgia sih. Tapi dari dulu sampai sekarang, radio masih aja muterin lagu-lagu ini.

Untuk cinta pertama biasanya lagu First Love by Nikka Costa atau First love by Utada Hikaru, tiap tanggal 14 Februari pasti ada lagu Valentine by Jim Brickman atau lagu-lagu cintanya Kahitna. Ada juga lagu-lagu cinta hit sepanjang masa kayak Right Here Waiting by Richard Marx. Dan ada lagunya Bryan Adam yang Everthing I Do I Do It For You dan Heaven. Terus ada lagunya Bening, ME, Boyzone, Backstreet Boys, dan masih banyak lagi.

Omaigaaatt jadi kangen lagu 90an. Pan kapan ya saya cerita. Kalau nggak males, hahaha.

#Rekam lagu via radio

Karena dulu uang saku saya mepet, jadi saya kudu nabung untuk beli kaset. Kadang saya eman-eman beli kaset karena nggak semua lagunya cocok. Jadi akhirnya saya milih rekam lagu via radio. Jadi saya suka beli kaset kosong.

Ada yang gini juga nggak? Hahaha.

Pixabay

Zaman dulu seneng banget kalau bisa rekam lagu full tanpa gangguan suara penyiar. Tapi pernah juga ambyar dikerjain penyiar. Biasanya ada lagu yang diputar hampir full. Saya udah seneng lagunya mau selesai, eeee tiba-tiba suara penyiar ngagetin di bagian akhir lagu. Wah, kampretos.

Kalau gini, saya hapus lagu rekamannya dan hunting lagu lagi dengan prediksi yang bikin deg deg ser, hahaha.

#Program acara

Masing-masing radio punya program acara sendiri disesuaikan dengan target pendengarnya. Program radio RCT yang membidik anak muda tentu berbeda dengan program radio Imelda. Segmen radio Imelda lebih ke pendengar dewasa.

Dulu tiap pagi saya selalu mendengarkan RCT FM karena lagu-lagunya khas anak muda dan bikin semangat ke sekolah. Tapi saya masih ingat beberapa program andalan di radio yang lain.

Misalnya radio Gajahmada. Tiap hari Minggu pukul 8 malam, Gajahmada FM ada program menulis lirik lagu barat. Awalnya akan diputar satu lagu barat yang lagi ngehit. Setelah itu penyiar akan mendikte lirik lagunya. Kayaknya sama artinya juga. Maaf saya lupa karena saya nggak terlalu greget dengan program ini karena lama dan bikin ngantuk. Hahaha. Biasanya sih saya pinjam cover kaset milik sahabat yang ada liriknya atau pinjam majalah remaja yang ada lirik lagunya.

Ada lagi nih program di radio yang pernah hit di tahun 90-an. Tiap kamis malam di radio Imelda ada program 'nightmare on the air'. Namanya juga cerita horor jadi tayang tiap Kamis malam dari jam sepuluh sampai jam dua belas.

Wah, ini ngeri. Saya pernah dengerin sebentar dan beneran takut, terus ganti gelombang. Saya pernah dengerin pas lagi live ada suara yang menyeramkan dari penelepon. Kayaknya peneleponnya diganggu. Beneran, sampai ditutup teleponnya. Kadang penyiarnya juga nyuruh tutup dulu teleponnya. Tapi ada juga penelepon yang iseng ngerjain penyiar. Istilah zaman now mungkin prank kali ya.

Jujur, saya nggak berani dengerin nightmare on the air karena saya penakut. Bisa-bisa kebayang terus sama cerita misterinya. Hiiiii.

#Penyiar radio

Nah, ini saya masih inget beberapa nama penyiar radio di Semarang. Dulu, jadi penyiar radio yang dicari adalah suaranya yang khas jadi bisa dikenal oleh pendengar dengan cepat. Tapi untuk saat ini kayaknya udah nggak terlalu mementingkan suara khas ya. Yang penting adalah bisa membawakan acara dengan baik dan ada engagement dengan pendengar.

Penyiar radio Semarang yang masih saya ingat yaitu Erman Cahyadi, Ade Lita, Merry Indira, Samuel, Beta Lovinska, Erik Faisal, Halida, VS atau Victor Sandy, dan Pasila.

Oia, ada yang unik nih. Beberapa radio ada yang memakai tanda tertentu untuk identitas penyiar.

Misal, Gajahmada FM memakai identitas warna. Jadi penyiarnya ada yang bernama Ade Magenta, Nina Orange, dll. Sedangkan radio Imelda identitas penyiarnya pakai angka. Dulu yang terkenal di geng cewek adalah Pasila Imelda 47. Katanya dia dari Jakarta dan cakep. Hahaha, saya nggak tahu beneran cakep apa enggak karena belum pernah ketemu Pasila.

Cuma saya agak lupa nih sama Pasila dan Victor Sandy (VS). Antara Pasila Imelda 47 atau VS  yang Imelda 47. Atau malah VS yang Imelda 49. Hahaha, lupa.


Pixabay

Btw ini cuma intermeso aja. Mumpung saya lagi bahas radio.😁

Sejak pindah ke Jakarta, saya tetap dengerin radio. Awalnya agak kaget atau shock culture dengan radio di Jakarta. Beda banget atmosfernya dengan radio Semarang.

Coba deh dengerin radio-radio di Jakarta. Tiap pagi mereka kayak perang bintang. Karena penyiar paginya adalah para selebritis. Ada yang suaranya khas, enak didengar, dan ada yang cempreng.

Yang namanya seleb pasti mereka udah terkenal meski suaranya cempreng. Tapi mereka punya fans sendiri. Pendengar radio di Jakarta nggak peduli dengan suara penyiar. Yang penting sesama penyiar bisa klik dan mereka bisa membawakan acara dengan baik. Istilahnya, mereka berjodoh di radio. Kayak Desta dan Nycta Gina, Kemal dan Tije, Ronald dan Tike.

Salah satu dari mereka resign, udah deh penggemarnya berkurang atau bisa hilang. Kayak ada yang kurang greget dan berasa hilang jodohnya. Saya pernah sih ngalami hal ini.

Baca juga: Sudah nggak ada Steny di Delta FM, atiku ambyar

Padahal kalau dilihat seksama, acara-acara radio di Jakarta hampir semua sama. Radio pagi di Jakarta isinya ya ngobrolin hal yang lagi hit sesuai segmen pendengarnya. Bisnis radio di Jakarta termasuk bisnis yang cukup besar. Masing-masing radio berdiri di bawah naungan grup yang dipunyai orang berduit. Bahkan satu grup punya beberapa radio.

Yang saya tahu Female radio, Delta FM, dan Bahana FM adalah di bawah management grup yang sama. Gen FM dan Jak FM juga milik satu grup. dan masih banyak lagi grup radio lainnya. 

Radio-radio yang asli dari Jakarta sekarang udah berekspansi ke daerah. Contohnya, di Semarang udah ada Prambors dan Delta FM. Di program tertentu, pendengar bisa mendengarkan acara atau suara seleb sama persis kayak yang diputar di Jakarta.

Dampaknya tentu saja persaingan makin ketat terutama untuk radio lokal. Dari segi frekuensi mungkin radio dari Jakarta lebih bagus dan lebih luas cakupannya. Namun, kalau pendengar udah cocok dengan penyiar atau program tertentu, hal ini nggak bisa diganti dengan apa pun.

Mau ada perubahan seperti apa, pendengar akan loyal. Nah, ini yang jadi PR bagi dunia radio untuk memaintain pendengar supaya setia. Makanya radio-radio Jakarta yang berkespansi ke daerah tetap memakai penyiar lokal meski aksen atau acaranya berkiblat ke Jakarta.

Cuma yang bikin malas adalah saat ini radio disisipi iklan politis. Kadang bikin nggak asyik aja dengerinnya. Udahlah ya urusan politik biar di teve atau di medsos aja. Please, radio jangan. Biar radio di Indonesia tetap mengudara. Sekali di udara tetap di udara. Hahaha.

Buat para penyiar radio, terima kasih sudah menemani masa-masa remaja saya. Saat saya jatuh cinta, saat saya belajar mau ujian, dan saat saya patah hati. Semua lagu-lagunya sangat membekas dan menjadi bagian dari hidup saya.😆

Udah ya cerita ngalor ngidulnya tentang radio. Maaf ceritanya panjang.😂

Kalau kamu punya kenangan sama radio nggak?


No comments