Thursday, September 03, 2015

Seperti Anak Sendiri

Budhe dan ibu saya mempunyai beberapa persamaan. Mereka sama-sama seorang ibu dengan beberapa anak. Mereka juga punya "anak" lain yang bukan dari darah daging sendiri. Bertahun-tahun mereka tinggal di rumah yang sama jadi budhe dan ibu menganggap seperti anak sendiri. Kisah mereka berbeda tapi hampir mirip.

#Asisten Jadi Anak Ragil

Beberapa tahun lalu budhe punya asisten yang umurnya masih ABG, sebut saja namanya Si A. Usia A sekarang mungkin hampir sama dengan adik bontot saya, sekitar 22 tahun. Si A berasal dari desa yang dekat dengan Semarang. Sebagai asisten, tugas A hanya mengurus rumah. Pekerjaan A cukup bagus dan anaknya jujur jadi keluarga budhe senang sama dia. Setiap anaknya budhe jalan-jalan biasanya A selalu ikut. Karena keluwesannya dan terkenal sebagai anak yang rajin maka keluarga besar juga kenal baik dengan A. 

Kebetulan salah satu anak budhe ada yang bekerja sebagai guru SMP. Singkat cerita Si A bersekolah di tempat kerja sepupu saya. Sambil sekolah, A juga masih mengurus rumah. Setelah lulus SMP, A melanjutkan ke SMK jurusan akuntansi. Karena semangat belajarnya yang tinggi, A melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hebatnya, saat ini Si A kuliah sambil bekerja sehingga dia bisa membiayai pendidikannya sendiri. Jadwal kerja yang membutuhkan fisik yang kuat tak lantas membuat A menyerah. Berbagai pekerjaan kerap dilakoni hingga sekarang sudah nyaman dengan pekerjaannya. Sejak A kuliah, budhe punya asisten baru untuk mengurus rumah. Bukan anak ABG lagi tapi seorang ibu yang merupakan tetangga dekatnya. Kalau terus-menerus mengandalkan A, budhe kasihan juga mengingat tenaga A sudah habis untuk bekerja dan kuliah. Meski demikian, A tetap tidur dan beraktivitas seperti biasa di rumah budhe. Iya, budhe sudah menganggap A bagian dari keluarganya bahkan sudah seperti anak ragilnya. 

Meski bukan anak kandung, budhe juga tidak memberi batasan kepada A. Terserah mau melakukan apa pun di rumah asal tidak membuat onar. Lucunya lagi kalau semisal ada keluarga yang punya hajat dan A tidak mendapat jatah seragam maka budhe akan marah-marah, hahahaha. Ini terjadi saat saya menikah dan ibu tidak memberi jatah seragam kepada A. Karena budhe mengomel akhirnya ibu membeli tambahan seragam. 

Dulu, kalau A memanggil ibu saya dengan sebutan 'buk' sekarang sudah memanggil 'tante', hahahahaha. Si A sudah tidak sungkan memanggil seperti sepupu saya. Bahkan A kalau pulang kampung cuma sebentar, katanya lebih betah tinggal di rumah budhe daripada di rumahnya sendiri. Hahahaha, ada-ada saja nih Si A. Dan, keluarga besar juga tidak masalah dengan semua perubahan tersebut. Malah semua salut dengan usahanya untuk maju. 

#Betah di Rumah Ibu

Kalau ini cerita di rumah ibu saya. Selama mudik kemarin di rumah ibu ketambahan satu anggota lagi. Bukan kali ini saja kejadiannya tapi sering banget. Sebut saja B, teman dari adik saya. Pertemanan B dan adik saya cukup lama. Si B sering menginap di rumah ibu karena di lantai dua memang ada kamar yang kosong. Adik saya sering meminta B untuk membantu memasukkan data di komputer atau otak-atik progam baru. Begitu juga dengan ibu, kalau pas lembur dan harus memasukkan data keuangan, biasanya ibu menyuruh B. Waktu itu B belum bekerja, masih luntang-luntung mencari pekerjaan.

Sekarang B sudah bekerja di Lampung tapi setiap pulang ke Semarang yang menjadi jujugan itu bukan rumah orang tuanya tapi rumah ibu saya. Jadi seringnya adik saya janjian dengan B di kantornya. Setiap hari B makan dan tidur di rumah ibu. Mau ngapain aja di rumah ibu tidak ada yang melarang asal tidak mengganggu tetangga. Mau makan apa saja yang ada di meja makan, silakan, tidak ada yang melarang. 

Hhhhmm, tindakan B agak aneh sih bagi saya. Kenapa dia tidak ketemu orangtuanya dulu? Kenapa dia betah di rumah ibu? Padahal dulu sering saya jutekin loh, hahahahaha. Ketika hal ini saya tanyakan ke ibu, alasan B betah tinggal karena dia sebal sama orangtuanya sendiri. Tiap pulang ke sana pasti orangtuanya meminta uang yang tidak sedikit dan dia disuruh membayar hutang. Kalau tidak memberi mereka uang, orangtuanya marah. Bukan karena dia pelit dan tidak sayang kepada orangtuanya tapi hutang orangtuanya yang dibebankan kepadanya membuat dia eneg dan tidak bisa menabung untuk dirinya sendiri. Makanya dia kurang betah. Mengetahui hal ini, lambat laun sikap saya sama dia berubah, yang dulunya jutek sekarang malah kasihan. Anaknya juga ringan tangan, mau disuruh apa saja kalau kami minta bantuan. 

Dua kisah tersebut memang berbeda. Meski berbeda tapi keduanya hampir sama, ya. Si A dan B lebih suka tinggal di rumah orang lain, bukan di rumah orangtuanya sendiri. Jujur, saya merasa beruntung karena mempunyai keluarga yang cukup dan bahagia. Hhhhmmm, kadang ya nggak bahagia sih kalau lagi berantem sama adik atau ibu, hahahahahaha. Tapi saya sangat beruntung memiliki mereka semua. 

Kisah A dan B membuat saya untuk lebih bersyukur dan menghargai orang lain. Bagaimanapun, mereka seorang anak yang butuh kasih sayang. Mereka juga manusia yang sama seperti kita, ingin mempunyai kehidupan yang lebih baik minimal untuk diri mereka sendiri atau untuk keluarga kecilnya jika mereka nanti sudah menikah. 














9 comments:

  1. Pipiiiiit...
    Sungguh mulia sekali siiih hati ibu dan Bude-mu ituuuu :))

    Pastinya hanya ketulusan hati ibu & Bude lah yang membuat A & B pada betah di rumah mereka yaaah...

    Alhamdulillah, beruntung sekali Pipit dikelilingi oleh orang2 yang hatinya pada tulus begitu :))

    Salam hormat buat ibu & bude yah Piiit :))

    ReplyDelete
  2. Memang sih jikalau keadaan di rumah membosankan pastilah sahbat terbaik yang selalu menjadi andalan, ya pastilah banyak kisah seperti si B itu.
    semoga saja nikmat seht selalu tercurah untuk ibu dan bude. jangan jutek lagi yaaaa :)

    ReplyDelete
  3. kedua kisah tadi membuat saya sadar mba :)

    ReplyDelete
  4. si B tau mana tempat yang lebih nyaman ya, walaupun itu bukan rumah orangtuanya sendiri

    ReplyDelete
  5. Salam kenal mbak Pipit...
    Budhe dan Ibu mbak baik banget...semoga selalu sehat ya... aaminn...

    ReplyDelete
  6. Wah iya Mbak Pipit, Ibu sama Budhenya baik banget. Seneng sih ya klo ada tambahan keluarga gini selama orangnya juga saling mengerti.

    ReplyDelete
  7. siapapun dia yg memiliki hati mulia pasti semua orang yg ada disana akan betah ya mbak...

    ReplyDelete
  8. keren yaa ibu dan budhe pipit, Inshaa Allah banyak diberkahi Allah karena tulus membantu orang lain...

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com