Tuesday, December 01, 2015

Kegiatan Sosial Bersama Ibu Jepang

Dua minggu sejak kepulangan saya ke Indonesia, tepatnya pertengahan Juni lalu, saya memutuskan untuk melanjutkan kegiatan sosial bersama ibu-ibu Jepang yang tinggal di Indonesia. Sebenarnya kegiatan ini sudah saya ikuti sejak saya tinggal di Yokohama. Saya tahu tentang kegiatan tersebut dari seorang sensei yang mengajar di tempat kursus dan kebetulan beliau pernah tinggal di Indonesia selama tiga tahun. 

Sensei tersebut bernama Watanabe-san. Perkenalan saya dengan beliau sebenarnya nggak sengaja sih. Jadi sewaktu hari pertama kursus kelas kaiwa (percakapan) materinya tentang perkenalan. Mungkin beliau mendengar "Indonesia kara kimashita" (saya dari Indonesia) langsung deh saya dijawil. Kebetulan juga waktu itu kami duduknya saling membelakangi. Reaksi saya pertama kali antara kaget dan senang ketika tahu ada orang Jepang yang mengajak ngobrol Bahasa Indonesia. Nggak nyangka ada orang Jepang yang bisa bicara Bahasa Indonesia dengan baik.

Watanabe-san tinggal di Indonesia dari tahun 1997-2000 ikut suaminya yang saat itu ditugaskan di Jakarta. Jadi selama rentang waktu tersebut, beliau tahu soal reformasi di Indonesia dan hebohnya Jakarta selama era reformasi. Selama tinggal di Jakarta, beliau juga belajar Bahasa Indonesia di UI. Jujur sih, Bahasa Indonesianya masih bagus meski sudah lama nggak ke Indonesia. Salut, deh!

Sewaktu di Yokohama

Dari beliau juga, saya tahu kalau ibu-ibu Jepang yang ada di Jakarta punya kegiatan sosial untuk orang Indonesia. Dan, kegiatan tersebut tetap dilanjutkan meski mereka balik ke Jepang. Bingung ya? Gini ceritanya..

Ibu-ibu Jepang yang tinggal di Jakarta punya komunitas sosial untuk membantu orang Indonesia. Kegiatan yang ditangani macam-macam, salah satunya perpustakaan keliling. Yup, saya hanya ikut kegiatan perpustakaan keliling. Sedangkan kegiatan yang lain saya kurang begitu paham.

#Perpustakaan Keliling di Jepang

Kegiatan utama perpustakaan keliling pastinya menyediakan buku baik untuk anak-anak maupun untuk ibu-ibu. Mereka ingin supaya anak Indonesia suka membaca karena mereka tahu minat baca di Indonesia sangat rendah. Buku-buku yang disediakan ada buku cerita dan pengetahuan, ada buku Indonesia dan terjemahan. Untuk buku terjemahan, tentunya ada juga buku cerita Jepang. Jadi buku-buku terjemahan Jepang ini dikirim melalui KBRI. Nah, yang menerjemahkan buku cerita Jepang yaitu ibu-ibu Jepang yang pernah tinggal di Indonesia dan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Jepang.

Karena saya tinggal di Yokohama, jadi saya tahunya perkumpulan ibu-ibu yang tinggal di kota tersebut. Mereka berkumpul setiap Jumat kedua dan keempat di gedung rakyat (istilah saya sendiri). Gedung tersebut dekat dengan Stasiun Yokohama dan ada 10 lantai. Ibu-ibu tersebut berkumpul di lantai 10. Menariknya, gedung tersebut bisa dipakai siapa saja lho dan gratis. Rame bener gedungnya dan mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa saling mengganggu. Takjub saya, hahahaha. 

Selama ngumpul, ibu Jepang ada yang setor bacaan. Maksudnya, ibu-ibu Jepang sudah menerjemahkan satu buku lalu diserahkan ke ibu-ibu Indonesia. Yup, ibu Indonesia kebanyakan sih hanya mengoreksi susunan kalimat dan kosa katanya saja. Maklum, mereka menerjemahkan memakai kamus dan ada beberapa kata yang asing bagi anak-anak jadi harus disesuaikan penggunaan katanya. 

Ini pengalaman baru bagi saya menjadi editor ala-ala, hahahaha. Bekerja dengan mereka ternyata nggak sembarangan lho. Mereka tuh mengerjakan terjemahan dengan sungguh-sungguh. Saya juga takut karena nggak mudeng Bahasa Jepang tapi untungnya saya masih bisa mengoreksi sedikiiit meski banyak tanya ke ibu-ibu Indonesia yang sudah lama tinggal di sana. Salutnya lagi, mereka bekerja serius tapi santai. Kalau minggu keempat, biasanya sih kami makan-makan. Soal kebiasaan ini, saya ceritain terpisah ya *sok misterius, hahahahaha.

Buku-buku yang sudah diterjemahkan tersebut dikumpulkan di Tokyo, kalau jumlahnya sudah banyak baru dikirim ke KBRI. Kenapa KBRI? biar urusannya gampang, ciiin. Soalnya dulu pernah dikirim langsung ke ekspatriat Jepang yang tinggal di Jakarta, urusannya ribet sama petugas imigrasi, hahahahaha. Jadi, sejak kejadian tersebut mereka mengirim lewat KBRI aja biar gampang. 

#Perpustakaan Keliling di Jakarta

Lokasi kegiatan sosial di Jakarta ada di dua tempat yakni hari Sabtu di Cikini dan Selasa di Matraman. Pertama kali saya ikut yang di Cikini dan membuat saya bengong dengan lokasinya. Perpustakaan kelilingnya ada di semacam rumah singgah yang kecil.

Sumpah, sebagai orang Indonesia, saya nggak nyangka kalau ternyata ada kehidupan di dalam Pasar Cikini. Maksud saya, di dalam pasar ada gang-gang sempit dan kampung bahkan motor bisa lewat. Omaigaaaaatttt!!! Bahkan ada beberapa toko yang ditingkat, lantai bawah untuk jualan sedangkan lantai dua untuk tempat tinggal. Kenapa saya tahu? Karena di lantai 2 banyak banget cucian yang gelantungan dijemur. Wow, lokasi ini benar-benar membuka mata saya tentang kondisi di Indonesia terutama Jakarta. 

Lokasi kedua yaitu di daerah Matraman, sekitar Stasiun Pondok Jati. Tempat untuk membaca lebih luas dan lebih bagus karena ada di PAUD. Jadi lebih enak dan nyaman untuk membaca. Makanya, di Matraman pula jumlah ibu-ibu Jepangnya yang ikut lebih banyak karena kalau di Cikini sempit banget baik tempat membacanya ataupun gangnya. 

Di Dalam PAUD-Matraman
Buku-buku bacaan disusun dengan rapi, diberi sampul dan kode. Begitu juga dengan tempat bukunya. Misal buku yang berkode merah untuk anak usia 2-4 tahun, warna oranye untuk anak 5-8 tahun, buku warna hijau untuk orang dewasa atau ibu-ibu. Semua yang datang membaca tidak boleh makan/minum dan bukunya juga wajib dibaca di tempat, nggak boleh dibawa pulang. Hhhhmmm, aturan sama orang Jepang kudu ketat, euy! Bagus juga, sih.

Karakter masyarakat dan anak-anak di kedua daerah tersebut beda banget. Yang saya rasakan, sambutan dan antusias warga untuk membaca bagus yang di Matraman. Di daerah tersebut, masih banyak anak-anak yang membaca sedangkan ibu-ibunya ada juga yang membaca atau menulis resep. Kalau di Cikini, ibu-ibunya lebih cuek bahkan jarang banget ada yang mampir membaca. Menyedihkan :(

Ibu di Matraman Menulis Resep

Yang namanya kegiatan pasti ada naik turunnya. Kadang rameee banget kadang sepi. Lucunya lagi, kegiatan membaca gratis ini kalah sama odong-odong, hahahahaha. Beneran, kalau ada odong-odong, anak-anak pasti memilih naik kereta-keretaan tersebut. Bahkan ibu-ibu Jepang juga kepengin naik odong-odong, lho. Entah kapan mereka mau naik tapi yang jelas mereka penasaran banget naik odong-odong. Saya cuma tertawa dan mengiyakan saja. Nggak kuat mbayangin ibu-ibu Jepang naik odong-odong diiringi lagu anak-anak. Hahahahahahaha. 

Saat ini, saya lebih banyak ikut kegiatan hari Selasa yang berlokasi di Matraman karena Sabtu saya sudah ada kegiatan baru yang juga menyenangkan. Nanti juga akan saya ceritakan terpisah *sok misterius lagi, hahahahaha. 

Hampir 6 bulan ikut kegiatan tersebut tapi saya sudah mendapat pengalaman yang unik. Salah satunya dari yang nggak tahu soal Frozen sekarang jadi tahu gegara pernah satu hari membacakan buku Frozen 2 kali. Hiyaaaa, anak-anak suka banget sama Frozen, saya sampai bosen membacakan, hahahahaha. Tapi demi mereka, saya ceritakan lagi. 

Dengan mengikuti kegiatan sosial tersebut, mata hati saya juga terbuka. Kegiatan yang saya lakukan hanya secuil dan nggak ada apa-apanya tapi begitu melihat anak-anak membaca atau meminta untuk dibacakan buku, ada kebahagiaan yang saya rasakan. Melihat tawa mereka, melihat keingintahuan mereka, melihat keasyikan mereka sungguh membuat saya terharu dan bersyukur. 

Ada satu anak yang nggak akan saya lupa. Anak tersebut tinggal di Cikini bersama budhe dan kakeknya, bukan bersama orangtuanya. Dia anak berkebutuhan khusus. Dia suka sekali dengan kereta. Ketika saya memperlihatkan buku tentang kereta, pesawat atau mobil, senyumnya lebar sekali. Saya mau menangis tapi saya tahan. Saya hanya ingin melihat dia tertawa dan bahagia, nggak mau membuat yang lain bingung dengan keadaan saya. Bersikap senetral mungkin demi senyumnya. Begini ya rasanya menjadi relawan. Begini ya rasanya meluangkan waktu sebentar untuk anak Indonesia, untuk senyum mereka.

Bahagia Melihat Senyummu, Dek ^-^



Memang, ini hanya kegiatan kecil tapi berkat kegiatan yang kecil ini saya jadi tahu perjuangan mereka bertahan di Jakarta. Kehidupan keras di dalam pasar. Kehidupan di pinggir kali. Melihat kehidupan lain yang ada di Jakarta. Ternyata Jakarta nggak hanya ada cerita kehidupan mewah ala sinetron yang nggak bermutu namun ada juga usaha yang nggak pernah lelah. Yang membuat saya salut, mereka tetap bahagia dengan kesederhanaannya. Jangan lupa, ada senyum anak-anak di sana. Ada harapan anak-anak di sana. Ada masa depan Indonesia bersama anak-anak di sana. 






















8 comments:

  1. kemane aje dikau mbk piitt ?, baru nongol yak..

    btw kegiatan ibu2 jepang keren, salut dg kepedulian mereka trhdp masyarakat Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mba Inda, iya baru nongol :)
      Makasih ya sudah mampir.

      Delete
  2. Kegiatan yang positif...dan menarik karena bersama ibu-ibu dari negara lain.
    Pasti beda kultur beda metode ya...

    ReplyDelete
  3. kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat ya, mak. kalau di sini ada juga perpustakaan keliling pakai mobil dari perpus, nanti boleh pinjam dan dikembalikan sesuai jadwal.

    ReplyDelete
  4. Saya terharu baca yang terakhir mbak Pipit...
    Menyenangkan ya mbak bisa membantu orang lain apalagi berhubungan dg pendidikan..
    Saya juga ingin ada perpustakaan utk anak-anak spy minat baca mereka tumbuh, nggak cuma main gadget saja... *kayak anak saya..hikss..

    ReplyDelete
  5. Saya terharu baca yang terakhir mbak Pipit...
    Menyenangkan ya mbak bisa membantu orang lain apalagi berhubungan dg pendidikan..
    Saya juga ingin ada perpustakaan utk anak-anak spy minat baca mereka tumbuh, nggak cuma main gadget saja... *kayak anak saya..hikss..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com