Wednesday, January 06, 2016

Resensi "Novel Ayah"

Judul : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Tahun : Cetakan I, Mei 2015
Tebal : 396 Halaman
Penerbit : PT Bentang Pustaka

Ayah, sosok yang tak kalah penting dalam mendidik anaknya. Ia akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan anaknya, meski sosok tersebut bukanlah orangtua kandung. Di Novel Ayah ini, saya mendapat pelajaran tentang arti persahabatan, cinta, dan keluarga. 




#Cerita Novel Ayah

Di bab-bab awal, penulis sengaja mengenalkan tokoh-tokoh utama di novel ini secara bergantian dari bab satu ke bab yang lain. Awalnya saya sedikit bingung karena cerita antar bab nggak berhubungan sama sekali. Akhirnya, di salah satu bab Andrea Hirata memusatkan alur cerita yang beruntun dan saling menyambung.

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Sabari, Ukun, dan Tamat. Mereka berteman sejak sekolah hingga dewasa dengan segala problematikanya, salah satunya tentang cinta. Dikisahkan bahwa Sabari sangat dingin terhadap perempuan. Sedangkan kedua sahabatnya gampang sekali jatuh cinta dengan berbagai gadis, tapi mereka hanya sekedar suka tanpa berani menyatakan perasaannya.

Secara tak sengaja Sabari kenal dengan gadis cantik bernama Marlena, yang akrab dipanggil Lena. Sabari jatuh cinta sejak pandangan pertama. Sayang, Lena sangat membencinya karena rupa Sabari yang tak setampan pria-pria yang dikenalnya. Segala usaha dilakukan Sabari demi mendapatkan perhatian Lena. Akhirnya usaha tersebut berbuah manis karena Sabari dapat menikah dengan Lena yang ternyata sudah mengandung. Lena hamil dengan pria lain, tak tahu siapa ayah dari anak itu. 

Zorro atau Amiru, nama anak tersebut. Kehadiran Zorro telah merubah hidup Sabari menjadi seorang ayah. Meski Zorro bukan darah daging sendiri tapi Sabari sangat mencintainya. Setiap hari Sabari bekerja keras dan merawat Zorro dengan baik. Dia bahagia hidup berdua bersama Zorro. Baginya, Zorro adalah segala-galanya. Bila melihat Zorro, sakit hatinya seakan terobati kalau mengingat Lena yang meninggalkan rumah dan pulang seenaknya. 

Rumah tangga yang tak didasari cinta membuat Lena menggugat cerai Sabari. Bagi Sabari, tak apalah bercerai asal ia masih bisa merawat Zorro, toh selama ini mereka memang hidup berdua. Namun nasib berkata lain, hingga suatu hari Zorro diambil paksa oleh Lena. Ibu dan anak tersebut hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Karena kecantikannya, Lena menikah lagi. Sayangnya, pernikahan Lena sering diguncang drama sehingga dia kerap bercerai. 

Sepeninggal Zorro, hidup Sabari makin tak tentu. Badan tak terawat, rumah tak diurus, dan ia tak mau kerja. Dia stress berat hingga membuat kedua sahabatnya iba dan berinisiatif mencari Zorro. Tamat dan Ukun rela mencari Lena dan Zorro ke seantero Sumatera. Perjuangan mereka mencari ibu dan anak tersebut penuh liku. Mereka rela melakukan apa saja demi kebahagiaan Sabari dan persahabatan yang telah lama terjalin.

Apakah Sabari dapat bertemu kembali dengan Zorro? Dan, bagaimana kisah cinta antara Sabari dan Lena? Apakah mereka akan bersatu? Silakan dibaca sendiri ya novelnya. Nggak seru dong kalau diceritakan semua di sini, hahaha.

#Bagian yang Disuka

Andrea Hirata dikenal sebagai perangkai kata yang ulung. Setiap kalimat yang ditulisnya sangat indah dan penuh makna. Pemilihan diksi yang tepat membuat kalimat demi kalimat di novel ini enak dibaca. Hal ini membuat Bahasa Indonesia tampak agung karena pilihan katanya banyak. 

Uniknya lagi, di novel ini banyak sekali puisi-puisi yang dibuat sebagai pelengkap cerita. Misalkan, percakapan antara Sabari dengan ayahnya yang saling sahut menyahut menggunakan puisi. Ada pula puisi ketika Sabari meninabobokan Zorro kecil. Puisinya bagus banget dan sangat menyentuh.

Contohnya, puisi yang terdapat di halaman 64. Puisi ini dirangkai oleh Ayah Sabari untuk menyindir anaknya yang sedang jatuh cinta.


Waktu dikejar
Waktu menunggu
Waktu berlari
Waktu bersembunyi
Biarkan aku mencintaimu
Dan biarkan waktu menguji

Bagus kan puisinya?

Selain berbagai macam puisi, di Novel Ayah ini, Andrea Hirata seakan ingin mengabarkan bahwa perbendaharaan Bahasa Indonesia sangat banyak dan bagus. "Kata-kata mencerminkan watak orang yang mengucapkannya." Begitu salah satu dialog dalam novel tersebut yang menyiratkan bahwa kita bisa memakai percakapan menggunakan Bahasa Indonesia yang kaya kosakata indah. 

Andrea juga menuliskan beberapa kata Belitong kuno yang saat ini jarang sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari. Misalnya saja, gelaning, hademat, ngayau, dan ketumbi. Hayoo, teman-teman tahu artinya nggak? Di Novel Ayah, kata-kata tersebut diartikan dengan percakapan sederhana dan tak berkesan menggurui.

#Bagian yang Nggak Disuka

Beberapa halaman terutama di awal-awal bab, Andrea sering melakukan pengulangan nama yang nggak perlu. Misal Ukun suka sama A, B, C, D, dst. Penyebutan nama ini terlalu banyak dan sering diulang. Selain itu, ada pula cerita yang terlalu berliku-liku. Misalnya, menceritakan panjangnya hubungan kekerabatan seseorang. Sumpah, urutannya panjang banget. Menurut saya, ini terlalu lebay dan bikin pusing pembaca. Kalau ada banyak nama dan silsilah seperti itu, langsung saya skip.^-^.

#Pelajaran yang Diambil

Setiap karya Andrea Hirata pasti ada nilai yang diambil karena sebagian besar karyanya menceritakan perjuangan hidup orang-orang yang dikenalnya. Perjuangan hidup tersebut dikemas secara apik dengan kata-kata yang mudah dipahami sehingga nggak mengurangi inti cerita. Di Novel Ayah, ada banyak sekali kisah kehidupan yang bisa dipelajari.

Pertama, persahabatan antara Sabari, Ukun, dan Tamat. Kisah mereka membuat saya untuk lebih memahami arti sahabat. Persahabatan yang kuat dan tulus tak akan lekang oleh waktu. Masing-masing akan saling menguatkan dan mencoba melakukan yang terbaik untuk sahabatnya. Seperti kisah Ukun dan Tamat yang rela berjuang keliling Sumatera dengan biaya yang pas-pasan demi kebahagiaan Sabari. Demi melihat hidup Sabari seperti semula. 

Kedua, kisah cinta Sabari dan Lena. Hubungan cinta yang unik karena mereka membangun rumah tangga karena terpaksa dan nggak ada cinta yang seimbang. Yang ada hanya cinta Sabari kepada Lena saja. Sebaliknya, Lena nggak peduli sama sekali dengan pasangannya. Kisah cinta yang pondasinya kurang kuat maka akan rapuh dan berakhir seperti rumah tangga Sabari. Namun, kesetiaan Sabari pada Lena membuat saya menangis dan merinding membaca akhir cerita ini. Sungguh!

Ketiga, perjuangan seorang ayah dalam keluarga. Membaca kisah Sabari yang sangat menyayangi Zorro membuat saya berkaca pada perjuangan bapak. Sabari rela bekerja keras, merawat, dan memberikan yang terbaik untuk Zorro, meski ia bukan anak kandungnya. Sabari selalu mendongeng dan membacakan puisi ketika Zorro mau tidur. Kebiasaan ini membentuk ikatan batin yang kuat antara ayah dan anaknya. Hal ini membuat Zorro selalu teringat sosok Sabari meski dia sudah terpisah jauh dengan ayahnya itu. Zorro juga tumbuh menjadi anak yang pintar dan pandai berpuisi seperti Sabari. Ah, kisah ayah dan anak ini membuat saya kangen pada bapak yang tinggal di Semarang

Keempat, kisah Amiru yang berbakti kepada orangtua. Amiru melanjutkan kursus di kota Bogor dan menjadi salah satu lulusan terbaik. Tawaran bekerja di perusahaan elektronik terkenal di Jakarta pun ditolak. Ia lebih memilih pulang ke Belitong untuk mengurus ayahnya. Ia malah membuka kios reparasi elektronik di kampung halamannya.

Akhir Cerita yang Penuh Kejutan

Novel Ayah akan memberikan kejutan-kejutan di setiap lembarnya. Kejutan kisahnya. Kejutan kalimatnya. Dan, kejutan puisinya.  Di akhir cerita kita akan tahu bagaimana akhir kisah Sabari dan Lena  yang tak disangka oleh pembaca. Kisah cinta yang membuat kita ternganga karena semua yang dikisahkan di novel ini ternyata KISAH NYATA.   











32 comments:

  1. Sabariiii yg sabaarrr ,, suka sama cinta tulusnya :)

    ReplyDelete
  2. Belum baca. Masih menimbang tentang buku-buku Andrea. Soal selera aja kayanya sih, Mba Pit. Tapi best seller banget nih buku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, selera orang memang beda-beda kan Mba?
      Iya, termasuk best seller.

      Delete
  3. krn pingin sudah beli bukunya tapi belum sempet baca

    ReplyDelete
  4. Udah lama pengen baca buku ini tapi blm sempat baca karna masih bnyak bukt yg harus di selesain juga wkwk. Baca review ini bikin ga sabar utk cepet2 baca bukunya. Huwaa~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe diselesein satu-satu klo gitu.

      Delete
  5. Aku belum sempat nih beli buku ini. Lupa mulu

    ReplyDelete
  6. sempat juga ngebetz pengen beli karya2 beliau tapi gagal mulu cz diberbagai tempat yang aku kunjung gada mulu :(

    ReplyDelete
  7. Puisinya bagus ya, Pit. Jadi kepingin baca novelnya, tulisan Ayah di sampulnya juga bagus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih byk puisi lain di novel ini yg bagus2.

      Delete
  8. tentang perjuangan hidup yang bisa kita ambil hikmahnya ya mbak cerita2 dari Andrea Hirata

    ReplyDelete
  9. belum pernah baca novelnya -_-
    dari reviewnya sangat seru ini novel Ayah :)

    ReplyDelete
  10. Aku sudah baca novel Ayah. Secara umum aku tetap suka gaya Andrea Hirata bertutur sperti novel-novel beliau sebelumnya. Poin lebih tetap pada tokoh-tokoh dan keunikan mereka bercampur budaya lokal. Iya sih pada beberapa hal agak lebay namun selalu ada pelajarannya.

    Salam kenalmbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, salam kenal Mbak.
      Yup, Andrea Hirata mmg khas bertutur.

      Delete
  11. Andrea Hirata bukan selera saya. Laskar pelangi aja gak tamat-tamat saya bacanya hehehe. Tapi tertarik juga baca novel Ayah. Karena tema ayah, suka menarik buat saya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, Laskar Pelangi eru lho, Mba.
      Ayo dong baca ini, Mba Chi :)

      Delete
  12. Ini dari kisah nyata Mbak?
    Berarti Sabari itu sosok yg luar biasa. Tulus dan sabar. Sosok manusia yg langka di muka bumi, tapi ternyata benar2 ada. Jadi penasaran sama kejutan2 di novelnya ^_^

    ReplyDelete
  13. belum pernah baca novel ini aku, dari dulu penasaran dan selalu nggak sempat kalo mau baca :)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com