Saturday, January 02, 2016

Saya Suka Indonesia

Saya suka Indonesia. Adalah wajar bila yang berkata seperti itu merupakan orang Indonesia. Apalagi jika orang tersebut lahir dan besar di Indonesia. Tapi kalau yang bilang orang asing, baru deh terasa agak aneh di telinga. Kadang terbersit tanya, mengapa mereka suka Indonesia?

Hari Sabtu akhir Desember lalu, berhubung les Bahasa Jepang di UI sedang libur, maka saya memutuskan datang ke perpustakaan keliling di Cikini. Kegiatan sosial yang buku-bukunya dibiayai oleh Jepang tersebut sudah saya ikuti sejak 6 bulan lalu. Ada rasa senang dan kangen ketika mau berangkat hingga saya mengajak pak suami meninggalkan rumah pukul 8 pagi, supaya nggak terlambat. Campur aduk antara senang sekaligus kangen sebab saya sudah beberapa bulan absen ke Cikini sehingga lama tak bersua dengan muka-muka polos yang selalu ceria. Karena terlalu bersemangat, saat itu saya dan pak suami merupakan orang yang pertama kali datang padahal seringnya mendapat predikat termolor. Bahkan pintu di rumah baca belum dibuka.

Pagi itu meski tak banyak ibu-ibu Jepang yang datang tapi suasana rumah baca rame sekali. Bukan saja rame karena banyak anak-anak yang membaca namun ada banyak mahasiwa Jepang yang hadir. Mahasiswa tersebut umumnya baru pertama kali datang ke Indonesia. Mereka sekitar 6 orang beserta 1 dosen. Mahasiswa-mahasiswa tersebut berasal dari Chiba University, The University of Tokyo, dan Toyo University. 

Kebanyakan mahasiswa tersebut laki-laki, hanya ada satu perempuan dalam rombongan itu. Perempuan tersebut rambutnya dicat warna-warni dan bibirnya ditindik. Ia mengingatkan saya pada dandanan anak muda di Harajuku. Ah, ia membuat saya kangen Jepang. Ia membaur bersama kami untuk bercanda bersama anak-anak. Komunikasi campuran antara Bahasa Inggris dan bahasa tubuh membuat saya tersenyum akan kemajemukan manusia di dunia ini. Ketika saya tanya berapa lama di Indonesia, ia menjawab 7 hari, yang akan dihabiskan di Jakarta dan Bali. 

Usai percakapan tersebut saya sibuk membacakan buku kepada anak-anak. Sedangkan perempuan tersebut masih asyik memperlihatkan aneka gambar di buku bacaan dan bercanda dengan anak-anak. Beberapa anak ada yang menanyakan nama dan asal mahasiswa tadi. Anak-anak tampak antusias ketika tahu kakak-kakak tersebut dari Jepang, negara yang mereka kenal lewat gambar kereta di buku yang mereka baca. Tak berapa lama, rombongan mahasiswa tadi pamit untuk sarapan. Maklum, mereka baru saja tiba di Jakarta tengah malam dan pagi itu wajar kalau perut minta diisi. 

Keasyikan membacakan buku membuat saya nggak ngeh kalau di dekat jendela masih ada satu perempuan muda Jepang. Dia duduk di dekat jendela memakai kacamata dan tas punggung. Saya baru menyadari keberadaannya saat merapikan buku, tanda perpustakaan keliling sudah selesai. Dengan ramah, ia menyapa saya dalam Bahasa Indonesia yang fasih, "Selamat siang." Saya pun menjawab dengan sapaan yang sama dilanjutkan berkenalan satu sama lain. Semula saya mengira kalau ia bagian dari rombongan tadi. Ternyata dugaan saya salah dan dari obrolan singkat tadi membuat rasa penasaran saya mulai muncul. 

Namanya Michiho, akrab dipanggil Michi. Ia mahasiswa Osaka University jurusan Bahasa Indonesia. Sejak Agustus lalu ia tinggal di Indonesia dan rencananya belajar Bahasa Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah selama setahun. Iya, ia belajar di Universitas Islam Negeri yang ada di Ciputat, Tangerang. Selama di Indonesia, ia ngekos di dekat kampus.

Terus terang, saya agak aneh ketika mengetahui dia belajar Bahasa Indonesia dan kuliah di kampus yang berbasis Islam. Sependek pengetahuan saya, nggak semua orang asing belajar di universitas yang ada embel-embel agamanya apalagi Islam. Karena rasa penasaran yang tinggi, saya memberanikan diri untuk ngobrol lebih lama melalui whatsapp.

Michi san, kuliah Bahasa Indonesia di Jepang?
Iya, saya mahasiswa Bahasa Indonesia di Jepang.

Kok tahu UIN dari siapa?
Dari dosen saya. Dia punya teman di UIN.

Apa belajar Islam juga di UIN? Agamamu apa? Ada masalah nggak dengan itu?
Ya, saya belajar Islam di UIN. Saya Buddhis dan tidak ada masalah dengan itu. Karena saya ingin tinggal di sini dan kebanyakan orang Indonesia Islam, saya juga belajar Islam biar tahu.

Kenapa belajar Bahasa Indonesia?
Saya suka Indonesia. Saya suka makanan Indonesia yang enak dan pedas. Makanan di Jepang asin dan tidak pedas. Karena saya lahir dan besar di Jepang, maka sudah bosan hidup di Jepang. Saya mau bekerja di Indonesia dan menjadi warga negara di sini. Saya mau merasakan tinggal di negara berkembang.

*Agak kaget, sih, saya mendengarnya. Lalu saya tanya lagi.

Kenapa suka Indonesia? Bukannya Jepang lebih nyaman dibanding Indonesia?
Bagi saya cukup nyaman kok tinggal di sini. Indonesia orangnya ramah dan makanannya enak. Saat ini, Indonesia berkembang dan baru-baru ini banyak perusahaan Jepang memulai bisnis di Indonesia. Saya mau bekerja di perusahaan seperti itu. 

***

Jawaban Michi membuat saya tersenyum. Bukan kali ini saja saya bertemu orang Jepang yang bilang kalau mereka suka Indonesia. Pertama kali bertemu ibu-ibu dari negeri matahari terbit baik di negara asalnya sendiri maupun di Indonesia, pasti mereka bilang suka Indonesia. Dalam hati, apakah pernyataan mereka cuma basa-basi di depan saya? Hhmm, kalau dibandingkan dengan negara asal mereka yang maju, canggih, dan nyaman tentu pernyataan mereka agak nggak masuk akal. Bayangkan saja, di Indonesia apalagi Jakarta terkenal macet. Belum lagi masyarakatnya masih kurang disiplin, beberapa bagian semrawut, kurang nyaman, dll. Apa menariknya Indonesia bagi mereka? 

Sudah jamak yang tahu kalau negeri ini kekayaan alamnya melimpah. Sayangnya, banyak masyarakat yang mengakuinya tapi kurang memanfaatkan dengan baik. Selain itu, kurangnya kesadaran akan bangga menjadi orang Indonesia membuat rasa memiliki dan melihat potensi alam ini masih rendah menyebabkan hal ini lebih banyak dikuasai asing. Sehingga, eloknya kekayaan negeri ini tertutup oleh sisi negatifnya saja. Padahal kalau potensi tersebut dikelola dengan baik maka julukan sebagai negara penghasil kekayaan alam yang membanggakan secara global akan lengkap jika dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang jumlahnya nggak sedikit. 

Nah, peluang besar ini yang saat ini banyak dilirik negara asing, misalnya Jepang. Kalau diperhatikan secara seksama, ekspansi Jepang saat ini bukan hanya di bidang elektronik dan kendaraan saja namun lebih dari itu. Coba tengok ke mini market atau pasar swalayan di bagian makanan dan minuman. Di situ banyak banget produk-produk dari Jepang asli atau yang berkoporasi dengan perusahaan Indonesia. Bahkan, di Tangerang sudah ada Mall AEON yang sangat identik dengan Jepang. Sebagian besar outletnya menyediakan kuliner atau produk Jepang. 

Banyak yang tahu kalau Indonesia sangat pesat pertumbuhan ekonominya. Menurut laporan Boston Consulting Group yang sumbernya bisa dibaca di sini, Indonesia bakal menjadi negara yang besar di Asia apalagi didukung dengan potensi demografinya. Jumlah penduduk Indonesia yang terbesar ke-4 di dunia dengan usia produktif yang lebih besar dibanding non produktif merupakan potensi yang sangat bagus. Populasi masyarakat kelas menengah diperkirakan akan terus meningkat. 

Jumlah penduduk yang besar dengan jumlah kelas menengah yang terus meningkat merupakan pasar yang potensial. Apalagi kualitas penduduk Indonesia yang semakin lama semakin baik menandakan potensi daya saing yang hebat. Jika Indonesia dapat mengolah dan memasarkan segala potensi yang dimiliki, kita akan menjadi negara yang sangat diperhitungkan di ekonomi dunia. 

Meski sekarang banyak sekali produk asing membanjiri pasar Indonesia namun sejatinya ada tren yang bagus di masyarakat. Saat ini, banyak sekali muncul pengusaha-pengusaha muda yang mengolah kekayaan alam Indonesia menjadi produk lokal yang berkualitas bahkan banyak yang menembus pasar internasional. Hal ini didukung dengan pemasaran online yang sangat mudah sehingga pemasaran produk menjadi lebih cepat. Artinya, pemasaran produk yang cepat berbanding lurus dengan lapangan kerja yang semakin terbuka. Karena industri ini banyak menyerap tenaga kerja diharapkan jumlah pengangguran akan berkurang dan masyarakat berpenghasilan jumlahnya bertambah. 

Tentunya kita patut bersyukur akan potensi yang ada di negeri ini. Nggak banyak, lho, negara yang punya karunia seperti Indonesia. Contohnya Jepang *lagi* hahaha, yang saat ini punya masalah yang besar di demografinya. Jumlah penduduk usia non produktif di Jepang lebih banyak dibanding yang produktif. Kata salah satu ibu Jepang yang saya kenal, anak muda Jepang saat ini banyak yang nggak mau menikah atau beberapa ada yang malas punya anak. Keadaan ini tentu berbahaya bagi Jepang sendiri karena penduduknya sedikit jadi diperkirakan kelangsungan hidup akan terancam punah. Bahkan ada wilayah di Jepang yang dikenal dengan "pulau kucing" karena populasi kucing yang ada melebihi jumlah manusia di pulau tersebut. Informasi mengenai pulau tersebut bisa dibaca di sini

Hhmm, nggak mau juga kan kalau negeri kita seperti itu? Atau kekayaan kita dikuasai negara lain? Orang asing saja suka Indonesia, lho. Masak kita nggak? Bangga dong jadi orang Indonesia.^-^.





















45 comments:

  1. Mba.. Saya berencana untuk sekolah ke jepang. Kapan2 boleh tanya2 ya? Hihi..
    Salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Mba Dessy. Maaf, klo info sekolah di sana sy krg tahu krn di Jepang cm sebentar, menemani pak suami yg dinas :)

      Delete
  2. Saya terharu baca ceritanya Michi. Sambil merinding deh bacanya.
    Soal perusahaan Jepang di Indonesia, di tahun 2013 aja ada minimal 100 inisiatif kerjasama dari Jepang ke Indonesia. Potensi negara kita ini besaaaaarrr banget loh memang Mbak kalo kitanya sendiri mau bangkit dan ninggalin segala kemalesan *halah*.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow byk bgt ya rencana kerja samanya.
      Iya, mg Indonesia bisa mandiri ya. Aamiin.

      Delete
  3. Sulit dipercaya ya mb pit, terkadang kita yang gengsi dan menyepelekan bahasa indo, tp bagi orang luar malah menjadi hal yg menarik dan diulik lebih dalem.

    Jd pingin ke kepang ih jadinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Bhs Indonesia itu kompleks bgt kalau dipelajari.
      Hehehe sy jg pengen ke sana ketemu teman2.

      Delete
  4. Ketampar deh! orang indonesia banyak yang sok kebarat-baratan, kaya malu mengakui keindonesiaannya. Nah ini, michi yang jelas jelasan dr negara maju malah ingin jadi bagian indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Harus bangga jadi WNI ya, Mak.

      Delete
  5. Dulu Indonesia dikenal dg rempah-rempahnya. Abad 16 Orang2 eropa berebut masuk ke Indonesia karena rempah. Nah skg kok rempah ndak kadi buruan lagi ya? atau masih? tapi kok ndak bikin indonesia segera kaya raya? Hawong dulu rempah juga bikin penjajah kaya raya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin gini, standar kualitas rempah2 utk ekspor blm bisa dipenuhi oleh petani kita.

      Delete
  6. Emang, Mba Wid. Beberapa orang luar yang saya kenal juga ngomong lebih suka indonesia dari pada negara lain. Terutama personalnya.ini biasanya orang2 di dunia kerja gitu.

    Orang Indonesia lebih ramah, sampai sekarang masih dinilai seperti itu lho

    ReplyDelete
  7. Saya sekeluarga di Pontianak, Kalimantan Barat) mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 ya. Semoga di tahun 2016 ini kita semuanya diberikan kemudahan, keberkahan, kemakmuran, keselamatan dan kebahagiaan dari Allah SWT. Amin Amin Amin Ya Robbal Alaminn. Tetaplah terus menulis. Tetaplah terus menjalin Silaturahmi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Pak.
      Selamat tahun baru ya.

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  8. Gak hanya harus bangga, tapi juga harus ikut membangun supaya jadi lebih maju, lebih baik lagi, pasti tambah bangga ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener, dimulai dari diri sendiri ya, Mba.

      Delete
  9. Belum banyak orang Indonesia sadar akan potensi dan kekayaan yang dimiliki. Semakin banyak kita berinteraksi dengan orang asing, Insya Allah, kita akan semakin tersadarkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Smg byk yg sadar akan kekayaan Indonesia ya.

      Delete
  10. Hai Mbak Pipit, senang sekali ya belajar berbahasa Indoensia. Anak-anakku pertama kali kuajarkan Bahasa Indonesia..

    ReplyDelete
  11. Saya sih bangga jadi orang indonesia, cuma gak bangga melihat tingkah pemerintahnya aja mbak. :))

    Walau gak semua orang asing di indonesia selalu positi tapi, makin kenal orang asing makin luas wawasan kita ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, smg pemerintah kita makin baik ya.

      Delete
  12. jawaban yg tulus dr Mba MIchi hehe, hrs meningkatkan nasionalisme kyknya nih :)

    ReplyDelete
  13. harusnya aku ambil sastra Jepang dulu ya mbak :) tertarik banget sekarang . Anakku suka COnan sesekali dia belajar bahasa JEpang dari kamus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga usah disesali, Mba.
      Ikut les aja klo gitu.

      Delete
  14. Michi,satu dari sekian warga asing yang cinta Indonesia..
    iyap,sekarang banyak banget pengusaha2 yang megolah produk lokal untuk bisa go internasional..
    jadi pingin belajr bahasa jepang^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan skrg byk jg anak muda yg suka pake produk lokal.

      Delete
  15. kita harus bangga dg kepunyaankita krn negara lain kagak punya

    ReplyDelete
  16. banggaaa bangeeet...apalagi setelah melihat negara lain, sebenarnya tanah air kita jauh lebih indah dan cantik :)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi Mba Indah udh keliling ke mana-mana jadi tau ya.

      Delete
  17. malah banyak orang indonesia gak bangga dgn negaranya...negara kita khan indah banget dan cantik..setuju bgt sama mba indah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mg makin byk yg bangga sm negeri sendiri.

      Delete
  18. kecintaanku terhadap music dangdut berarti aku sudah termasuk salah satu orang yang bangga menjadi orang indonesia dong :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tooos, dangdut koplo suka juga nggak Mas? hahaha.

      Delete
  19. Salah satu wujud kebanggan kita pada Indonesia adalah membeli produk hasil karya orang Indonesia sendiri, ya kan mbak Pipit? Nggak perlulah beli barang2 bermerk dari luar negri padahal hasil karya sendiri jauh lebih bagus, berkualitas dan lebih murah... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setujuu..
      Skrg byk produk lokal yg bagus.

      Delete
  20. Saya hadir disini bukti kalau saya cinta indonesia, aku tak sudi bila tanah ini di kuasi orang asing. Lanjutkan ckck.

    ReplyDelete
  21. atau mungkin begitu, ya. Beberapa dari orang Indonesia lebih suka negara lain. Tapi beberapa warga negara lain lebih suka Indonesia. Yah, kadang rumput tetangga memang lebih hijau hahaha

    ReplyDelete
  22. Hai mbak Pipit, salam kenal, namaku Nisa., aku lagi sekolah di Sapporo, iya, beberapa temen Jepang suka sama Indonesia, karena orang orangnya ramah, dan makanannya enak enak. tapi, hampir semuanya berpikir Indonesia adalah muslim country..

    keren tu Michi san, intershipnya di UIN,
    disini temen temen dan sensei terutama, sangat toleran, dan tau kalo kita sholat 5 kali dalam sehari (yang agak susah adalah menjaga tetap on time ikut kelas dan on time sholat, hehe) maap kebanyakan curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai salam kenal, Mba.
      Makasih ya sudah mampir :)

      Iya, senseiku jg gt pas tau jam sholat aku disuruh cepet pulang utk sholat :)

      Delete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com