Monday, February 15, 2016

Tinggal di Kampung atau Kompleks?

Pada November tahun lalu, saya nggak ngeblog sama sekali. Selama vakum tersebut, saya iseng membuka blogger dashboard dan ngeklik search keyword. Dari beberapa search keyword, ada yang menarik karena kata-kata yang dicari oleh pembaca belum pernah ada di postingan blog ini. Ada pembaca yang nyasar ke blog ini dengan keyword seperti judul di atas "Tinggal di Kampung atau Kompleks?" Ngomong-ngomong, dengan membuka search keyword ternyata bisa menambah ide postingan blog, lho. Hahahaha. 

Saya akan berbagi sedikit pengalaman bagaimana rasanya tinggal di kampung atau kompleks. Kebetulan, saya pernah merasakan tinggal di kedua pemukiman tersebut. Rasanya tentu beda tinggal di kampung atau kompleks namun itu semua balik ke diri kita masing-masing. Kalau kita enjoy, ya nggak masalah tinggal di pemukiman tersebut. Namun, ada lho orang yang belum pernah atau malah nggak mau tinggal di kampung dengan berbagai alasan. Mungkin pengalaman yang akan saya bagi berikut ini dapat menjadi alasan-alasan tersebut.

#Tinggal di Kampung

Saya akan membagi cerita saat tinggal di kampung dalam dua waktu, yaitu sebelum dan sesudah menikah. Dari kecil sampai mau menikah, saya tinggal bersama orangtua di Semarang. Sedangkan awal-awal nikah dan punya rumah sendiri, saya dan pak suami tinggal di kampung orang bukan di kompleks. Saya merasa, ada perbedaan antara tinggal di kampung sendiri dan di kampung orang. 

*Sebelum Menikah

Orangtua saya dari dulu sampai sekarang selalu tinggal di kampung. Mereka nggak mau tinggal di kompleks dengan berbagai alasan, diantaranya rumah di kompleks cenderung sempit dan bentuk bangunan banyak yang nggak sesuai keinginan. Memang sih, untuk urusan rumah bapak saya termasuk orang yang ribet. Penginnya beliau, rumah itu atapnya yang tinggi dan bahan bangunannya yang bagus. Dan benar, rumah bapak memang cukup luas dan kualitas bangunannya oke banget. Kalau boleh dibandingkan, kualitas bangunan rumah bapak lebih bagus dibanding kualitas bangunan yang ada di kompleks pada umumnya. 

Rumah bapak atapnya tinggi dan rangkanya nggak mau pakai baja ringan. Rangka rumah memakai kayu dari tanaman kelapa atau pakel yang usianya sudah puluhan tahun. Batang pohon tersebut dikirim dari desa bapak, langsung dari  Yogyakarta.  Selain itu, kusen dan bahan-bahan bangunan lainnya juga terbilang bagus. Kalau bahan bangunan tersebut dipakai di rumah-rumah yang ada di kompleks, pasti harga rumah tersebut mahal. 

Ya begitulah bapak saya. Orangnya keras dan apa pun akan dilakukan untuk mewujudkan keinginannya. Sebagai anak, saya sih senang-senang saja karena rumah nyaman. Tapi kenyamanan rumah bapak sekarang berbeda dengan rumah saat kami tinggal di daerah Semarang bawah. 

Bingung ya dengan ceritanya? 

Gini, dulu saya dan keluarga tinggal di kampung yang ada di wilayah Semarang Utara. Keadaan kampung di tempat tersebut sangat padat. Rumah-rumah berimpitan. Karena faktor ekonomi, kadang satu rumah dibagi untuk beberapa anak yang sudah berkeluarga. Ya, istilahnya mereka beranak-pinak di rumah tersebut. Belum lagi lingkungannya kurang nyaman karena kalau musim kemarau sering  rob (air laut pasang). Bila musim hujan tiba sering terjadi banjir. Di daerah ini, air melimpah ruah tak kenal musim, hahaha. 

Meski terkenal sebagai daerah yang kotor tapi masyarakat yang hidup di situ sangat guyub. Suasana kekeluargaannya terasa sekali saat ada warga yang punya hajat atau sedang mengalami musibah. Tanpa harus dikomando, mereka akan datang membantu. Mereka membantu dengan ikhlas tanpa dibayar. Bagi mereka, membantu tetangga adalah wajib. Kalau nggak membantu, bila suatu saat mereka mengalami hal yang sama, bisa jadi malah dikucilkan oleh warga. Kadang sanksi sosial dari warga membuat hidup nggak tenang karena kejadian tersebut sering menjadi bahan omongan warga. 

Selama tinggal di daerah tersebut, keluarga kami untungnya belum pernah mendapat sanksi sosial. Kalau diomongin sama warga, ya pasti lah pernah karena hidup di kampung pasti ada saja warga yang menjadi sumber informasi bagi warga lainnya atau bigos, hahaha. Namun, berkat rasa gotong royong dan suasana guyubnya, sampai sekarang hubungan keluarga saya dengan warga di Semarang bawah masih baik banget. Rasanya sudah seperti saudara sendiri. Mungkin karena saya dari lahir sampai besar tinggal di daerah tersebut jadi hafal dengan tetangga. Yang saya rasakan, kalau kita lahir dan besar di tempat yang sama, sosialisasi dengan tetangga bukan suatu masalah yang besar. Mungkin karena ini pula, beberapa dari mereka ada yang hubungannya sangat dekat seperti saudara sendiri. 

Sayangnya, karena masalah lingkungan yang kotor, akhirnya orangtua memutuskan untuk pindah rumah di Semarang atas, tepatnya di daerah Ngaliyan. Beradaptasi di lingkungan baru ternyata nggak mudah. Saya merasa, hubungan saya dengan tetangga baru nggak sedekat dengan tetangga lama. Sisi baiknya, orangtua saya sangat ramah kepada siapa saja dan mereka cukup dikenal oleh warga sekitar. Bagi saya pribadi, hal ini dapat menjadi poin plus karena saya bisa mengenal tetangga meski hanya silaturahmi saat lebaran saja. Silaturahmi ini hanya dengan mengikuti orangtua, hahaha. Kalau lebaran, biasanya bapak berkeliling kampung mengunjungi rumah warga satu per satu. Saya hanya ngikut saja. Dengan begini, saya jadi kenal dengan tetangga. Pun begitu sebaliknya. Kebiasaan ini terbawa sampai saya menikah dan harus tinggal di luar kota. 

*Setelah Menikah

Kehidupan sangat berbeda setelah menikah karena saya harus tinggal di luar kota yang nggak ada saudara. Setahun setelah menikah, saya dan pak suami memutuskan membangun rumah sendiri di kampung. Pemikiran saya saat itu, harga tanah dan biaya membangun rumah di kampung tentu jauh lebih murah dibanding membeli rumah di kompleks. Dan, sebetulnya saya ingin merasakan suasana guyub seperti kehidupan saya di Semarang. 

Nyatanya, memang harga tanah di kampung lebih murah bila dibandingkan dengan biaya di kompleks. Namun, untuk membangun rumah sendiri tentu tergantung pada kondisi keuangan Teman-teman kan? Bisa saja kualitas rumah yang dibangun lebih bagus atau malah lebih jelek daripada rumah di kompleks. Hal ini nggak bisa disamaratakan antara yang satu dengan yang lain, sesama warga kampung. 

Untuk masalah sosialisasi, jujur saja saya mengalami kesusahan. Hal ini ada beberapa sebab, diantaranya faktor pengetahuan dan nggak adanya keluarga di sekitar tempat tinggal. 

Sewaktu tinggal di kampung, saya bersosialisasi hanya lewat pengajian dan arisan. Selebihnya, saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Saya kurang suka dengan tetangga karena kalau ngumpul, mereka lebih suka bergosip. Jika ada sesuatu yang berbeda sedikit dengan yang lain, pasti jadi omongan. Padahal tiap keluarga kan sejatinya berbeda dalam hal apa pun dan itu menjadi hak mereka dalam mengelola urusan rumah tangganya. Saya yakin, pasti tiap orang melakukan yang terbaik untuk keluarganya. 

Mungkin faktor pengetahuan dari warga yang notabene masih (maaf) berpendidikan rendah membuat pemikiran saya nggak klop dengan mereka. Ditambah lagi, tidak adanya saudara di sekitar saya seakan membuat saya terkucil. Coba kalau di sekitar rumah ada orangtua atau saudara yang sudah tinggal lebih dulu, pasti beda rasanya. 

Meski dalam kehidupan sehari-hari saya membatasi sosialisasi tapi hal ini berbeda saat pengajian dan arisan. Saat ada acara seperti ini, saya suka karena terasa guyubnya. Kalau urusan sosialisasi di kampung, saya lebih suka berhubungan langsung dengan ketua RT atau pengurus pengajian setempat. 

*Kampung di Jabodetabek

Selama tinggal di kampung daerah Depok, ada hal unik yang saya amati di sana. Hal ini nggak jauh berbeda dengan daerah lain di seputaran Jakarta lainnya. 

Selama di kampung, saya akui pertumbuhan properti sangat pesat. Artinya, naiknya nilai jual tanah dari tahun ke tahun selalu meningkat. Meski demikian, selalu ada pembangunan rumah atau kompleks baru di kampung. Kebanyakan mereka pendatang yang membangun tempat tinggal di daerah tersebut. Bisa dibilang rumah mereka mewah dibandingkan rumah warga yang lebih dulu tinggal. 

Selain itu, ada pula rumah seperti kompleks di kampung. Ceritanya, ada warga yang membeli tanah dan membangun rumah berdampingan yang bentuknya mirip satu sama lain. Tanah tersebut dibangun sekitar 4-8 rumah, tergantung dari luasnya tanah, sih. Iya, rumah-rumah yang dibangun mirip kompleks. Sayangnya, warga pendatang ini nggak pernah datang arisan atau pengajian di kampung. padahal mereka bukan tinggal di kompleks, lho.  

Ada juga yang membangun cluster mini di kampung. Jadi, ada tanah yang cukup besar dan dibangun sekitar 8-10 rumah saja di situ. Rumah ini ada di kampung, pemisahnya hanya pagar cluster saja. Biasanya cluster mini tersebut nggak ada security-nya. Kalau membeli sesuatu yang sifatnya kecil misalnya jajanan anak atau belanja sayuran, warga yang tinggal di cluster tersebut mau nggak mau harus membeli di warung yang ada di kampung itu. Kalau penghuni cluster mau bersosialisasi dengan warga kampung sih malah bagus. Tapi, seringnya mereka hanya membeli barang-barang yang sifatnya kecil saja di kampung dan jarang yang membaur dengan warga kampung. 

Sebetulnya, membangun cluster-cluster mini di kampung sepertinya saat ini menjadi tren di Jabodetabek. Banyak sekali kampung-kampung di Jabodetabek yang ada kompleks mini. Dengan harga jual yang lebih murah, pengembang menyulap tanah menjadi cluster hanya dengan membuat rumah yang mirip dan diberi pagar cluster. Untuk faktor kualitas bangunan biasanya ada harga, ada rupa lah, ya. Seringnya, kompleks mini tersebut nggak ada fasos dan fasumnya. Ya iyalah ya, namanya juga mini, lahannya terbatas kan?

#Tinggal di Kompleks 

Saat ini, saya tinggal di kompleks, rumah lama dijual. Saya pindah rumah pada September lalu. Kompleks saya terbilang baru namun cukup luas. Rumah yang dibangun jumlahnya ratusan unit dan ada fasos serta fasumnya. Kebanyakan warganya masih muda dan usianya nggak jauh beda jadi kalau bersosialisasi dengan tetangga cukup mudah. Selain itu, warga di kompleks umumnya cukup berpendidikan jadi kami bisa klop satu sama lain, gap-nya nggak terlalu jauh. 

Sampai saat ini, saya dan pak suami sudah merasa nyaman karena hubungan sosial antara kami dengan tetangga cukup baik. Setiap sore dan waktu-waktu tertentu ibu-ibu sering ngumpul. Bapak-bapak juga ada kegiatan sendiri. Fasilitas di dalam kompleks juga cukup bagus karena ada play ground untuk anak-anak, lapangan basket, dan mushalla. Bagi saya, fasilitas ini cukup lengkap.  

Namun, kalau Teman-teman mau membeli rumah di kompleks, harus hati-hati. Jangan terburu-buru kalau mau membeli rumah di kompleks. Saat ini, banyak sekali kompleks baru bermunculan. Banyak sekali pengembang yang mempromosikan kompleksnya namun nyatanya kualitas rumah kurang bagus atau malah tidak memenuhi standar. Bahkan, ada yang bermasalah soal sertifikat rumahnya. Semua harus diperhatikan secara detail karena ini menyangkut uang yang nominalnya nggak sedikit. Beberapa pertimbangan dalam mencari rumah di kompleks sudah pernah saya tulis di sini

Saya merasa bahwa di mana pun kita tinggal, kebutuhan rohani atau batin tetap diperlukan. Apalah arti kehadiran kita kalau nggak bisa bersosialisasi dengan baik. Justru dengan sosialisasi ini bukan nggak mungkin akan menambah jumlah saudara dan memperpanjang usia kita. Apabila batin senang, maka hidup pun akan tentram dan nyaman. Betul kan? 


















15 comments:

  1. kalau aku, wktu tinggal di kompleks yg dulu, cukup akrab sm tetangga, seneng, fasilitasnya jg oke. Kalau yg skrg bs dibilang hmpr gk pernah interaksi sm tetangga mbk. Ngerasa gk cocok aja sih, hehe, yup bs menjalin hubungan baik dg tetangga itu rasanya seneng bgd mbk

    ReplyDelete
  2. Wah mbak pipit orang semarang ternyata. Toss dlu ah :)
    Dulu pas tinggal di sidoarjo kami tinggal dikompleks perumahan tp tetangganya menyenangkan..lumayan guyub lah skr pindah deket rmh ibu di semarang kurang cocok sama tetangga jd interaksi sepwrlunya aja

    ReplyDelete
  3. Kalau saya mungkin lbh suka tinggal di komplek, hehe. Kyknya saya nih salah satu yg paling males datang ke acara2 arisan (ini krn masih rempong ma dua bayi dan saya hidup di perantauan sendiri tanpa ART). Mungkin saat anak2 dah besar kali ya, akan ngrasa gak rempong lg klo ada arisan2. Kalau skrng sih ya paling banter sapa tetngga kanan kiri sama kasi oleh2 klo dr bepergian, sekedar jaga silaturahim tetangga kanan kiri :D

    ReplyDelete
  4. jadi kangen suasana perkampungan,kalau di komplek kadang sosialisasinya kurang,tapi tergantung dari kita.kalau ikut pengajian rutin ibu2 lumayan akrab dan banyak teman tapi kl nggak, berasa asing hehhe

    ReplyDelete
  5. Aku pernah di kampung dan Di kompleks mba...semuanya tergantung bagaimana kita beradaptasi dan menikmatinya ya...

    ReplyDelete
  6. wah, pernah lama di semarang ya, mba? aku kuliahnya di semarang. semarang utaa itu agak jauh dr kota ya.

    ReplyDelete
  7. waktu kecil pernah tinggal di kampung, sejak TK sampai sekarang di komplek, baru mampunha beli disini mbak hehehe, lokasinya stategis Allhamduliillah

    ReplyDelete
  8. Dari kecil sampai dewasa saya tinggal di kampung mbak, setelah ambil KPR baru pindah ke perumahan :)

    ReplyDelete
  9. Kalo sy lbh suka di kampung Mbak. Mungkin karena dr lahir ampe besar blm pernah tinggal di kompleks perumahan hehehe! Sama seperti bapak Mbak Pipit, kalo di kampung rumah bisa terkesan luas. Kalo di kompleks, kanan kiri udah mentok tembok tetanggan hehe. Ngomong2 soal cluster kecil2 di dalam kampung, di sini jg udah mulai rame. Kadang cuma 4 rumah.

    ReplyDelete
  10. Kayaknya lebih pilih di kompleks deh... soalnya selama tinggal di kampung gak nyaman.. orang-orangnya terlalu ikut campur dan nyinyir

    ReplyDelete
  11. Tinggal di kampung kayaknya lebih guyub Mbak. Rumah berdekatan tanpa pagar, kesan yang di dapat "open", "ramah", gituh. Kadang saya iri juga.

    ReplyDelete
  12. Betul memang sekarang konsep cluster di tengah kampung banyak bermunculan. Biasanya dibangun oleh pemilik lahan yang cukup luas tetapi lebih memilih untuk membangun di atas lahan tersebut daripada menjual tanah kosong. Cluster di tengah kampung ini berada di tengah-tengah, suasana kampung tapi rasa kompleks...

    ReplyDelete
  13. Kalo aku tinggal di komplek yang masih banyak ilalang kayak kampung, hehehehe

    Salam,
    Roza.

    ReplyDelete
  14. aku lebih suka tinggal di desa sih mbak, lebih tentram aja gitu perasaan

    salam
    riby

    ReplyDelete
  15. Alhamdulillah di tempatku tinggal, tetangganya berasa kayak keluarga semua, mbak.

    Salam,
    Rava.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com