Kurir Jalan Kaki di Jepang

Saya suka banget mengamati orang. Nggak yang kepo atau gimana, ya. Suka aja mengamati hal-hal kecil yang ada di sekitar. Apalagi mengamati hal-hal yang jarang atau belum pernah saya jumpai.

Sebetulnya melihat kehidupan di Jepang tuh asyik banget karena budaya mereka yang beda dengan Indonesia. Oke, saya nggak akan membandingkan karena masing-masing punya keunikan sendiri.

Kehidupan di Jepang pun nggak selalu yang enak-enak aja, kok. Ada juga yang bikin melas. Di mana-mana pasti ada enak dan nggak enaknya, kan?

Kali ini saya mau cerita tentang kurir jalan kaki aja ya. Apalah ini bahasanya, hahaha.


Apartemen di Jepang nggak cuma untuk tempat tinggal doang. Biasanya bagian bawah berupa bangunan terpisah tapi satu gedung. Bangunan ini kebanyakan dipakai untuk bisnis atau disewa konbini.

Kalau di Indonesia, konbini semacam Indomaret atau Alfamart. Kalau di Jepang ada AEON, Lawson, Sevel, dan Family Mart.

Bagian bawah apartemen saya bukan konbini tapi tempat pengiriman barang namanya Yamato.

Duluuu banget waktu pertama kali (tahun 2014) tinggal di sini, saya nggak ngeh sama sekali kalau ada Yamato di dekat apartemen. Maklum, dulu masih pertama kali ke luar negeri jadi agak norak dan kurang memperhatikan hal-hal unik di sekitar.

Yamato merupakan perusahaan ekspedisi yang besar berlambang kucing hitam. Yamato terkenal juga sebagai kuro neko. Saya nggak tahu banyak tentang Yamato. Cuma agak ngeh karena akhir-akhir ini lumayan sering belanja online pakai jasa Yamato.

Karena lumayan hafal sama seragam dan trolinya, jadi kalau di jalan ketemu Yamato berasa gimana gitu. Eh, Yamato lagi lewat, hahaha. Lama-lama saya baru sadar kalau kurirnya antar barang jalan kaki. Ya, mereka jalan kaki, nggak pake sepeda apalagi motor. Kurirnya nggak cuma cowok aja lho tapi juga ada yang cewek. Yes, kurir cewek pun jalan kaki antar barang.

Kurir jalan kaki antar barang

Nggak semua kurir Yamato jalan kaki, sih. Ada juga yang pakai sepeda. Tapi saya sering banget melihat kurir lagi jalan kaki antar barang. Mungkin mereka antar barang sampai radius berapa km kali ya.

Saya tahu kurir yang jalan kaki sekitar area jajahan saja yaitu area main dan belanja, hahaha. Area main dan belanja saya ada di Akebono, Bandobashi, Isezaki, Kannai, Naka-ku, dan Yokohama Stadium. Jarak dari apartemen ke tempat-tempat tersebut kurang lebih 1 km.

Reaksi saya takjub melihat kurir yang jalan kaki antar barang. Mereka sering banget lari sambil mendorong troli, lihat peralatan, dan jalannya cepat. Mereka bekerja secara cepat supaya pelanggan puas. Waktu terasa sangat berharga.

Ada kejadian yang bikin saya agak gimana gitu. 

Saya pernah melihat bapak kurir membawa beberapa koper. Selain koper, beliau juga membawa beberapa barang yang ada di troli. Koper dan barang-barang tersebut tersusun rapi di troli. Waktu itu saya dan pak suami lagi berhenti di lampu merah. Beliau berdiri di depan saya. Begitu lampu berganti hijau, alamak ada koper yang jatuh. Pengen nolongin, takutnya malah ditolak. Orang lain yang lewat juga cuek aja melihat ini. Kasihan sih sebenarnya. Kasihan tapi nggak nolongin, ya. Huhuhu.

Selama memakai jasa Yamato, alhamdulillah selalu puas. Mereka antar barang selalu tepat waktu sesuai permintaan pelanggan. Ya, di sini pelanggan bisa rikues barang mau diantar kapan dan sekitar jam berapa.

Keberadaan barang kita juga bisa dilacak di mana. Hm, hampir sama kayak kurir di Indonesia, sih. Tapi kalau di sini bisa dilacak petanya juga. Enaknya lagi, pembayaran COD bisa dilakukan lewat Yamato. Jadi kalau COD penjualnya nggak perlu antar barang. Cukup dibayarkan ke kurir aja. Sesimpel itu.

Langganan pakai Yamato, diantar pagi

Tapi ada juga kejadian yang bikin pak suami nungguin Yamato lama banget.

Jadi pak suami pernah belanja online dan pakai kurir Yamato. Nah, dia minta barang sampai Sabtu pagi (jam 9-12) karena kan paksu nggak kerja. Di hari yang ditentukan, pak suami nungguin tuh barang. Sampai dia nggak berani mandi karena takut ada bel dari kurir. Ditungguin tuh barang kok nggak nongol padahal statusnya udah sampai di Yamato.

Setelah nunggu mayan lama ternyata barangnya nyampai jam 12 kurang dikiiiitt. Gila, on time banget. Dan kurirnya nggak salah juga kan, on time lho. Salut, deh. Pelanggannya aja yang nggak sabaran, hahaha.

Ada yang punya pengalaman berkesan dengan kurir juga nggak?


6 comments

  1. Kenapa enggak pakai pikap gitu, sih. Kan berat menurut saya. Hahaha. Budaya jalan kaki di Jepang ini bahkan sampai ke jasa kurir. Gila juga. Saya belum pernah ke Jepang, jadi masalah kurir palingan ya di Indonesia aja, tepatnya Jakarta. Enggak ada yang berkesan, biasa aja. Tapi selalu salut sama kurir yang misalnya nyasar atau kesusahan cari alamat rumah, dia mau menghubungi nomor yang tercantum. Bukan malah pas dicek di sistem pakai alasan penghuni rumah sedang keluar alias rumah kosong. Jengkel sama yang begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, mereka udah ada sistemnya kali ya. Ada yang bawa sepeda (jarang nemu), seringnya yang jalan kaki.

      Wah, iya, kurir di Jakarta memang gitu. Tapi kadang dititipin ke satpam/tetangga.

      Delete
  2. Wah gila juga ya. Baru tahu ada jasa kurir tapi jalan kaki. Kalo di Jakarta, itu kurir udah jadi ikan asin. Tiap berapa menit diklaksonin, panas, banyak motor di trotoar. Huhuhuh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, mungkin itu kali ya kurir jalan kaki di Jakarta nggak ada.

      Delete
  3. Seriusan jalan kaki?
    Kalau aku perhatikan yang di sini, mereka naik mobil gede, tapi parkirnya suka diujung jalan apa di belokan, mungkin ribet kalau berhenti tiap depan rumah. Ngga efisien, sama banyak jalan one way. Trus naruh barang-barangnya di troli, jadi biar segang sekalian gitu dianterinnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius, Na. Aku sering lihat mereka ambil barang soalnya di bawah apartemenku persis. Terus mereka jalan kaki. Pas belanja di Gyomu supa atau di pasar sering lihat mereka jalan kaki antar barang. Tuh, ada fotonya.

      Delete