Mobil dan Garasi

Lama banget nggak nulis tentang Depok. Kangen juga sama kota ini meski macet di mana-mana, hahaha. Bagaimana pun Depok adalah rumah kedua saya. Karena keluarga kecil saya tinggal di kota ini.

Saya tertarik menulis tentang mobil dan garasi karena beberapa hari lalu baca berita di portal online yang menyebutkan bahwa Pemkot Depok akan mengeluarkan Perda tentang hal ini. Inti dari Perda tersebut adalah kalau punya mobil ya harus punya garasi.

Sebegitu pentingkah aturan punya garasi ini sehingga sampai dibuatkan Perda?

Kalau saya sih, YES.

Mobil dan garasi ibarat satu paket. Kalau pengen beli mobil ya harus punya garasi. Masak punya mobil tapi parkirnya di rumah tetangga. Kan nggak lucu, ya.

Tapi fenomena orang perkotaan kayaknya yang penting punya mobil dulu, deh. Garasi gampang. Bisa parkir di mana-mana. Kalau semisal banyak yang bisa beli mobil tapi nggak punya garasi, lama-lama hal ini bisa jadi bom waktu dan tambah ruwet masalahnya.

Pixabay 

Saya jadi ingat waktu pertama kali pengen punya rumah. Waktu itu saya dan pak suami mencari rumah di daerah Depok II. Kalau nggak salah di situ ada perumnas, ya.


Rumahnya sih udah direnovasi. Sayang, jalannya sempit. Ketika pak suami tanya soal garasi mobil, ternyata warga di situ kalau parkir di lapangan.

Waktu itu saya kaget banget tahu tentang hal ini. Maklum soalnya masih baru merantau jadi masih gumunan, hahaha. 

Tapi jujur nih di dalam hati sedih dan sepertinya hal ini sudah umum terjadi.

Sebetulnya lapangan di komplek itu kan termasuk fasum dan fasos yang bisa dinikmati oleh warga komplek. Bisa untuk ngumpul-ngumpul atau untuk bermain. Tujuannya tentu saja supaya anak-anak bisa main di dalam komplek dan nggak perlu jauh-jauh. Kalau gini kan orangtua bawaannya juga tenang. 

Faktanya ternyata lain dengan tujuan mulia tersebut. Lapangan malah dipakai untuk parkir mobil. Jadi anak-anak nggak bisa main di lapangan.

Saya juga nggak tahu apakah lapangan yang terbatas tersebut bisa menampung semua mobil yang ada?

Kalau misal nggak muat, apa hal ini nggak bikin warga berantem rebutan parkir?

Makanya, paksu kurang sreg mau beli rumah di situ mengingat nggak ada garasi. Yah, waktu itu sih saya dan paksu belum punya mobil. Tapi yang namanya beli rumah kan harus mikir untuk ditempati dalam jangka panjang. Sebagai pembeli, kita kudu mikir hal-hal seperti ini. 

Baca juga: hal-hal yang diperhatikan sebelum membeli rumah

Kayak kasusnya budhe saya. Beliau kan tinggal di perumnas di daerah Tlogosari, Semarang. Gang rumahnya sempit, kalau buat parkir motor kanan kiri aja udah makan jalan.

Kalau saya ke rumah budhe dan bawa mobil pasti parkirnya di lapangan terdekat. Kadang deg-degan sih takut nggak dapat parkir karena tempatnya penuh.

Kalau sore lapangan tersebut dipakai untuk main bola. Cuma kadang saya mikir, kalau misal bolanya kena mobil, ini salah siapa? Salah yang parkir atau yang bermain bola? Hehehe.

Dilema banget kan kalau mengalami hal ini.

Jadi, keinginan manusia itu kan banyak. Kalau dituruti semua nggak ada habisnya. Nggak salah sih kalau udah punya rumah terus pengen beli mobil. Tapi sebaiknya dipikirin lagi soal parkirnya. Jangan sampai keinginan kita mengganggu orang lain.

Hayo, yang pada punya mobil udah punya garasi apa belum?


1 comment

  1. Uda baca dari sejak dipublish, bru sempat njejak mb pit hihi

    Sama mb, kupun klo fasilitas umum dipakai kpentingan pribadi rasanya uda berbuat dolim, klo di ilmu fikih jatuhnya tar kitanya dosya huhu

    Nah yg paling bikin piye ngunu loh, ada 1 tetangga mobil byk tp bikin garasi dewe di fasilitas umum td huaaaaaaaas

    ReplyDelete