Pengalaman Mengurus Tunjangan Anak di Jepang

Jadi gini, pak suami kan dinas di Jepang statusnya single bukan family status. Artinya, dapat apartemen untuk single jadi tampak mungil saat ketambahan saya dan sinok. Selain itu, jika ada keluarga yang datang ke Jepang, tiket pesawat ditanggung sendiri. Pihak kantor hanya memfasilitasi pembuatan surat menyurat yang diperlukan.

Kalau dipikir dengan statusnya yang bukan family, saya dan sinok nggak dapat apa-apa kan ya. Kenyataannya malah saya dan sinok mendapat hak layaknya warga Jepang. Alhamdulillah pemerintah Jepang baiiikkk banget. Saya dan sinok dimudahkan segala urusan selama tinggal di sini.


Kabar baiknya lagi, saya nggak nyangka kalau sinok malah dapat tunjangan anak selama hidup di Jepang. Yes, TUNJANGAN ANAK TIAP BULAN. Alhamdulillah, sesuatu banget kan. Mamak langsung semangat untuk hidup di Jepang, hahaha.


Saya tahu sih kalau anak di Jepang dapat tunjangan per bulan. Awalnya saya kira tunjangan ini hanya untuk anak-anak yang lahir dan besar di Jepang. Ternyata asumsi ini salah. Jadi semua anak yang hidup di Jepang dapat tunjangan per bulan. Tunjangan anak akan ditransfer setiap 4 bulan sekali.

Besarnya bervariasi,
  • Untuk anak di bawah 3 tahun, dapat 15.000Yen
  • Untuk anak 3th-SMP, dapat 10.000Yen
  • Bila pendapatan orangtua melebihi batas maksimal, maka mendapat 5.000Yen.

Enaknya lagi, ibu-ibu yang lahiran di sini dapat subsidi. Jumlahnya lumayan besar. Tapi ini ada aturannya. Saya nggak tahu persisnya berapa karena belum pernah melahirkan di Jepang. Lha kok enak men yo urip ning Jepang.

Pixabay 

#Gimana cara mendapatkan tunjangan anak di Jepang?

Lapor aja ke ward office setempat. Pasti nanti diarahkan sama petugasnya, kok.

Kalau pengalaman saya mengurus tunjangan anak di Jepang terbilang cepat tapi ada sedikit masalah sih. Hm, kayak ada manis-manisnya gitu. Hahaha.

Dua minggu setelah tinggal di Jepang, saya lapor ke ward office. Hm, mungkin semacam kantor kecamatan. Saya tinggalnya di Naka-ku. Kalau di Naka ward, hari Sabtu pelayanan tetap buka. Tapi nggak tiap Sabtu sih cuma tiap Sabtu ke berapa, saya lupa.

Saya, pak suami, dan sinok lapor ke lantai 2, bagian registrasi kependudukan. Kami membawa dokumen yang cukup lengkap, diantaranya paspor, resident card, dan surat pengantar dari kantor paksu yang menyatakan bahwa dia benar-benar karyawan kantor tersebut.

Sejak keluar dari imigrasi, saya dan sinok sudah dapat resident card tapi belum ada alamatnya. Setelah melapor ke ward office setempat baru deh alamat tersebut dicetak. Jadi semacam pengesahan gitu. Kalau udah ada alamatnya berarti sudah melapor ke ward office.

Nah, dokumen dari paksu juga diminta. Alhamdulillah prosesnya agak cepat tapi ternyata kami terkendala satu hal, yaitu mereka minta buku nikah asli.

Duh, kami nggak bawa buku nikah asli. Buku nikah asli ada di Indonesia.

Kenapa nggak bawa buku nikah asli?

Karena ini bukan pengalaman pertama tinggal di Kannai jadi kami mikirnya data yang dulu masih ada. Hm, antara sedikit nggampangke dan yakin akan sistem IT nya yang bisa menyimpan data komplit. Apalah ini namanya, hahaha.

Ilmu nggampangke kadang emang nggak sesuai ekspektasi. Realitanya sering bikin menyesal dengan nggampangke tadi. Paling dikasih foto kopi mau. Meski foto kopi tapi kan sama seperti aslinya.

Huhuhu, ternyata mereka kekeuh minta yang asli nggak mau yang foto kopi. Haduh, terpaksa kami bilang kalau buku nikah asli menyusul. Untungnya waktu itu ada teman yang mau mudik ke Indonesia jadi bisa dititipin.

Alhamdulillah, petugasnya baik banget. Mereka bilang nggak papa buku nikahnya menyusul.

Setelah itu kami diarahkan untuk mengurus asuransi kesehatan dan tunjangan anak.

Masalah asuransi kesehatan diskip dulu ya. Karena ini mau ngomongin tunjangan anak. Entar kepanjangan. Kapan-kapan kalau ada waktu, saya cerita tentang asuransi kesehatan di Jepang.

Lanjuuut.

Setelah urusan di lantai 2 selesai, kami menuju ke lantai 5, bagian yang mengurusi kesejahteraan anak. Namanya jidou teate.

Di lantai 5 kami dilayani oleh pegawai yang baik sekali. Sayangnya dia nggak bisa bahasa Inggris. Tapi dia mudeng kalau kami mau mengurus tunjangan anak. Tinggal menunjukkan berkas dari lantai 2 aja.

Berhubung pegawai tadi nggak bisa bahasa Inggris, jadi kami ngobrolnya minta bantuan interpreter. Hebatnya, interpreter ini by phone lho. Canggih, ya. Sumpah deh kalau urusan pelayanan, Jepang nomor satu. Swear. Mereka selalu siap dan memberi pelayanan maksimal.

Interpreternya by phone

Kami cuma ditanya-tanya aja sih dan ada berkas yang harus diisi. Kebanyakan data yang dibutuhkan tentang pak suami karena saya dan sinok memang ngekor paksu.

Data yang dibutuhkan kayak nama, alamat sesuai resident card, kantor suami, no telepon yang bisa dihubungi, dan rekening bank.

Semua pertanyaan bisa kami jawab kecuali rekening bank.

Rekening bank ini berguna untuk transfer tunjangan anak. Dan HARUS REKENING BANK JEPANG. Nggak bisa Indonesia. Ya kali, hahaha.

Emang sih jauh-jauh hari paksu udah daftar rekening bank Jepang untuk tunjangan anak. Tapi akunnya belum jadi. Btw sampai tulisan ini tayang, rekening bank tersebut nggak ada kabar.

Jadi kami tertunda lagi mengurus tunjangan anak.

Lagi-lagi pegawainya bilang nggak papa. Akun bank nanti bisa menyusul dan dikirimkan ke ward office. Lalu pegawai tersebut ngasih amplop guna mengirim akun bank yang akan dipakai untuk transfer.

Rekening bank yang sering banget direkomendasikan yaitu bank JP Post. Sayangnya kalau mau mengurus di sana harus bisa bahasa Jepang atau bawa teman yang bisa bahasa Jepang. Pihak JP Post kayaknya nggak bisa melayani dalam bahasa Inggris.

Ketika paksu minta bantuan orang kantor tentang masalah ini, mereka bilang nggak bisa menemani. Lalu paksu minta tolong pegawai bagian umum untuk membantu mencarikan bank yang bisa mengurus tunjangan anak. Paksu juga minta kalau bisa bank-nya yang buka di hari Sabtu. Akhirnya paksu dikasih link SMBC Prestia.

Hari Sabtu, saya, paksu, dan sinok membuka rekening bank SMBC Prestia. Lokasi dekat stasiun Yokohama.

Kesan pertama pada SMBC Prestia, WOW. Jepang memang efisien soal tenaga kerja. 

Belum sampai pintu masuk, pegawai bank sudah siap menyambut. Dia cowok lho. Lalu kami disuruh menunggu sebentar karena pegawainya sedang full melayani pelanggan.

Saat saya lirik-lirik ruangan, mas yang tadi menyambut kami ganti bertugas melayani pelanggan yang lain. Mungkin karena pegawainya sedikit tapi pelanggan saat itu banyak. Maklum, hari Sabtu nggak semua pegawai kerja. Si mas digantikan oleh rekannya yang lain yang juga multi tasking.

Jadi kabar kalau kerja di Jepang sangat efisien memang benar. Pegawai di sini tugasnya nggak cuma job desknya aja multi tasking. Saya sering melihat pegawai bank di dekat apartemen yang lagi ngelapin kaca.

Oke, ceritanya lanjut.

Ketika tiba giliran kami, satu-satunya pegawai cewek yang bertugas saat itu menyambut dengan ramah. Kami dijelaskan mengenai produk Prestia. Kami hanya manggut-manggut.

Saat penjelasan nominal tabungan Prestia seketika saya dan pak suami mendelik ketika tahu kalau tabungan minimal 500ribu Yen. Saya sampai ngitung nol-nya lho. Misal 1 Yen setara 100 rupiah, maka 500ribu Yen setara 50juta. Wuih, banyak amat.

Lah, padahal tabungan itu untuk transfer tunjangan anak doang. Ga salah tu??

Paksu sampai nanya,

"Beneran nih minimal tabungan segini?"

Kata mbaknya,

"Ooo tenang. Karena bank kami bekerja sama dengan perusahaan Anda, nggak perlu segini. Berapa aja bisa."

Pyuh, saya dan paksu lega. Tapi potongan bulanannya mayan gedhe juga, hahaha.

Lalu kami pun menyetujui semua persyaratannya dan siap buka akun rekening SMBC Prestia.

Setelah isi data dan fix dibikinkan akun, mbaknya nanya lagi, 

"Tabungan ini mau diisi gaji per bulan ya?"

Kami jawab, "No. Cuma buat tunjangan anak, kok, Mba."

Sumpah, mbaknya sampai kaget. Sampai nanya balik sambil mendelik,

"Tunjangan anak??"

"Kamu yakin? Nggak semua bank lho bisa menerima. Sudah tanya ke petugas ward office?"

Saya dan paksu paham sih maksud mbaknya. Kayaknya mbaknya nggak percaya dan nanya melulu buat memastikan. Kami paham sih. Mungkin maksudnya si mbak gini,

"Ini SMBC Prestia, mosok cuma diisi tunjangan anak doang. Tunjangan anak berapa siiihhh? Dibanding minimal tabungan yang 50jeti nggak ada apa-apanya."

Lalu saya jawab aja kalau paksu dapat rekomendasi dari bagian umum kantornya. Ya kami hanya mengikuti saran tersebut. 

Seketika itu, si mbak diam dan melanjutkan proses input data.

Setelah menunggu sekitar sejam urusan kami selesai. Nggak ada buku tabungan, euy. Kami cuma dikasih kartu ATM dan berkas untuk dipelajari sendiri cara menggunakan e banking.

Berkas dari SMBC Prestia 

Setelah beres semua, besoknya paksu mengirim akun dan nomer rekening bank ke ward office. Kirimnya via post pakai amplop dari ward office waktu daftar tunjangan.

Beberapa minggu kemudian, kami menerima surat yang menyatakan bahwa tunjangan anak akan dikirim. Alhamdulillah, ternyata pakai SMBC Prestia bisa.

Daaaan, pertengahan bulan Juni kemarin, akhirnya tunjangan anak perdana cair. Alhamdulillah, tunjangan ini bisa dipakai kalau nanti sinok daftar sekolah. Lumayaaannnn.

Jadi, kalau kalian tinggal di Jepang bersama bayi, jangan lupa mengurus tunjangan anak. Lumayan lho kalau dirupiahin bisa nambah tabungan anak. Siapkan aja segala dokumen kayak resident card, surat keterangan suami, paspor, dan jangan lupa buka rekening bank Jepang.

Oia, kalau kalian udah punya my number bisa dibawa tuh. My number tuh semacam nomer diri kita. Nomer ini dari ward office. Jangan sampai hilang ya my number ini.

Waktu saya mengurus tunjangan anak, my number belum jadi. Saya kan lapor di bagian kependudukan dan langsung daftar di jidou teate. Jadi my number dikirim belakangan.

Nggak masalah kok kalau belum punya my number. Asal dokumen lengkap proses pengurusan tunjangan anak cepat. Lagipula pegawainya baik dan sangat membantu.

Udahan dulu ya sharing pengalaman mengurus tunjangan anak di Jepang. Semoga sharing ini bisa membantu ya. Sayang anak, sayang anak. Hahaha.

Arigatou, Nihon.^_^.


6 comments

  1. Mba Piiit.. Alhamdulillah banget ya dengan Tunjangan Anaknya, penting banget siap sedia untuk Biaya Sekolah Sinok, aku langsung pengen pindah ke Jepang rasanya, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haniiii, kangeen.
      Iya, alhamdulillah banget. Sini, Hani, main ke sini.

      Delete
  2. Kanai itu di jepang bagian mana mb pit

    Syenangnya si nok uda bisa ke tempatnya doremon

    Unrunglah ada jasa interpreternya ya, jadi kebantu bgt, beneran ternyata jepang tu menjunjung tinggi bgt bahasa ibu ya mb pit

    Itu lumayan tuh klo dikurskan ke rupiah hahai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kannai di Yokohama.

      Alhamdulillah, tante, sinok bisa ikut ayahnya dinas.

      Hahaha, iya, mayan banget buat ngisi celengan semarnya sinok.

      Delete
  3. Halo mbak pipit,salam kenal saya ririe. Alhamdulillah nemu blog mbak pipit ini,kebetulan saya insya Allah jg akan menyusul suami ke yokohama. Kalo boleh tau, untuk mengurus tunjangan anak ini, bs menggunakan visa dependent? Terima kasih sebelumnya mbak pipit :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, salam kenal juga Mba Ririe.

      Bisa mba, saya juga dependent visa.

      Delete