Gusti Mboten Sare

Saya suka sekali mendengarkan podcast-nya Deddy Corbuzier. Dahsyat banget podcast-nya. Paket komplit, dah!

Podcast-nya nggak dibikin asal-asalan. Kontennya dibuat secara profesional. Saya yakin tim di balik layarnya keren banget.

Mulai dari pemilihan bintang tamu, kontennya yang berbobot sampai lay out ruangannya yang simple tapi bagus. Ah, suka banget. Betah deh saya mendengarkan obrolan-obrolannya.


Timnya Deddy emang top. Mereka tahu topik yang lagi hot di masyarakat tapi dibicarakan secara santai. Jujur nih, tiap abis mendengarkan podcast-nya Deddy, ada aja hal yang bisa saya pelajari dan ambil hikmahnya.

Oke, saya nggak lagi ngomongin podcastnya Deddy Corbuzier. Cuma tadi baru aja mendengarkan obrolan podcast-nya dengan bintang tamu Melanie Ricardo.

Obrolannya nggak saya bahas ya karena topiknya bukan itu.

*Maaf ini mbulet-mbulet dulu, hahaha.

Setelah mendengarkan podcast tadi saya klik YouTube Melanie. Nah, postingan terakhir waktu Melanie ngobrol ama Sandra Dewi. Saya klik deh.

Btw baru kali ini saya mampir ke YouTube-nya Melanie.

Saya nggak melihat YouTube-nya full sih. Lompat-lompat biar cepat. Menariknya, di akhir obrolan, Melanie nanya ke Sandra Dewi. Kurang lebih gini pertanyaannya,

'San, apa sih yang bikin elo tetap rendah hati meski hidup lebih dari cukup?'

Jawaban Sandra Dewi yang bikin saya meleleh,

'Karena gue takut ama Tuhan.'

Pixabay

Saya diam sesaat mendengar jawaban Sandra Dewi. Jawabannya ngena banget. Lalu, saya jadi ingat dengan ungkapan Jawa yang bunyinya,

'Gusti mboten sare.'

Sebagai orang Jawa tulen tentu saya nggak asing dengan ungkapan tersebut yang artinya 'Tuhan tidak tidur.' Makna secara garis besarnya mirip apa yang diucapkan oleh Sandra Dewi. Bahwa kita takut kepada Tuhan karena Gusti tidak tidur.

Sering saya mendengar orang mengatakan hal tersebut namun saya baru tahu betul maknanya saat masuk dunia kerja.

Di dunia kerja banyak sekali orang yang bermuka dua dan berambisi demi rupiah yang nggak seberapa. Mereka bekerja setengah hati namun minta bayaran yang aduhai. Jika nggak kebagian proyek, duh berasa gimana gitu. Apa kata dunia?

Meski waktu itu hanya pegawai kroco tapi saya berusaha jujur dan bekerja secara profesional. Lembur sampai malam sering dijabanin demi laporan ke instansi terkait lancar.

Namun tak semua orang bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mereka seenaknya dan semaunya sendiri tanpa memikirkan bagian lain. Kalau mereka nggak suka malah mencari kesalahan alih-alih mencari solusi bersama supaya kerjaan beres.

Terus yang bikin tambah mangkel jika diperlakukan nggak adil. Aduh, hati saya pengin berontak. Tiap kali saya mendapat perlakuan yang nggak mengenakkan, saya hanya bisa bergumam dalam hati,

'Gusti mboten sare.'

Dan ya, Gusti menepati janji-Nya, nggak pernah tidur. Sekarang saya kaget melihat kehidupan orang-orang yang dulu pernah menyakiti saya. Ada yang mendapat musibah beruntun, kariernya kurang bagus, kehidupan rumah tangganya nggak harmonis, dan ada juga yang terkena penyakit yang berbahaya.

Saya tahu kabar-kabar tersebut dari seorang teman yang masih berkomunikasi dengan saya. Sebenarnya bukan hanya teman saat kerja saja namun ada juga orang-orang yang saya kenal sehari-hari sedang dalam keadaan susah. Mereka yang saya tahu ada banyak. 

Apakah saya senang atau malah mengutuk mereka? 

Oh, nggak sama sekali.

Tiap ada orang yang berbuat kurang benar sesuai dengan aturan hidup, saya yakin bahwa suatu saat mereka akan menuai hasilnya. Sekecil apa pun kebaikan atau keburukan yang kita kerjakan di dunia pasti akan mendapat balasan dari Tuhan.

Karena apa?

Yak, Gusti mboten sare.

Maka, ketika ada orang yang menzalimi, saya cukup berdoa semoga dia sadar akan perbuatannya. Sedih boleh aja karena itu sangat manusiawi. Tapi nggak usah lama-lama.

Sekali lagi, ingat saja kalau Gusti mboten sare.

Setiap mengingat pepatah Jawa ini, saya takut. Kalau Gusti sudah murka maka apa yang kita usahakan selama ini bisa hilang dalam sekejap. Kebahagiaan, pekerjaan, kenikmatan, kesehatan, dan parameter semua keindahan duniawi.

Saya sering berpikir tentang hal ini, takut jika kelak akan mendapat murka-Nya. Saat ini, saya hanya ingin menjalankan ajaran agama dengan baik. Susah sih karena godaannya besar sekali.

Untuk mendapat sesuatu yang kita inginkan pastinya semua butuh usaha. Bukan perkara yang mudah memang karena dalam kenyataannya kita pasti akan mengalami kegagalan, kecewa, dan sedih. Dan, yang terpenting lagi kadang rasa malas untuk berbuat baik menguasai.

Tak apa, nikmati saja prosesnya. Yang penting jangan menyerah. Yakin saja kalau
semua yang terjadi di dunia ini tak akan lepas dari penglihatan-Nya.

Tumben nih saya lagi bener bisa bikin postingan kayak gini padahal udah lama ngedraft di pikiran. Daripada nggak disalurkan, lebih baik saya tuangkan di blog. Hahaha.

*catatan untuk pengingat diri sendiri

2 comments

  1. Aku juga penikmat podcast di yutubnya omded, salfok ma carkir tokpednya biasanya, obrolannya panjang tp selalu berbobot, hbs ngepoin tiap bintang tamu aku ngerasa bintang tamu yg selama ini kupikir biasa sj pas diwawancara om ded jd keliatan cerdas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Toos dulu dong. Iya, cangkirnya bagus ya, hahaha.

      Nah, iya, banyak yang kupikir cuma biasa aja ternyata mereka punya sisi lain yang unik ya. Mungkin karena Om Deddy yang cerdas juga jadi bisa ngobrol dan nanya-nanya dengan baik. Jadi asyik obrolannya.

      Delete