Bermain di Nonbirinko (2)

Postingan ini adalah lanjutan dari cerita bermain di Nonbirinko. Kali ini saya mau cerita tentang hal-hal lain di Nonbirinko.


Oia, bagi yang belum baca postingan sebelumnya, silakan dibaca dulu ya. Biar nyambung gitu, haha.


Oke, ceritanya dilanjut.

Meski termasuk lembaga nirlaba, Nonbirinko dikelola secara profesional. Saya sering ngobrol dengan salah satu staff yang bisa bahasa Inggris. Dari obrolan tersebut saya dapat info kalau staff di Nonbirinko ada beberapa kelompok.

Pertama, staff tetap. Mereka bekerja setiap hari dan yang mengurusi aktivitas di Nonbirinko. Hampir mirip kayak orang kantoran. Ruangannya kubikel mungil. Antara ruang kerja dan area bermain dibatasi kaca jadi aktivitas mereka kelihatan.

Kedua, staff part time. Staff masuk kerja hanya beberapa hari dalam seminggu. Sebagian besar dari mereka adalah ibu rumah tangga yang udah nggak punya tanggungan.

Staff part time bertugas mengawasi area bermain. Kadang juga ikut bermain bersama anak-anak. Staff ini sigap dan cepat tanggap kalau ada kejadian yang tidak terduga dan butuh pertolongan segera.

Misalnya saja ada anak yang muntah atau mengotori lantai. Mereka langsung mengamankan lokasi dari jangkauan siapa pun. Lalu dengan cepat mereka mengambil pembersih dan desinfektan untuk membersihkan lantai. 

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, saat anak saya terluka, mereka juga sigap memberikan pertolongan. Jadi luka anak saya nggak sampai parah.

Bisa dibayangkan dong ya perlengkapan yang dimiliki Nonbirinko komplitnya kayak apa.

Ketiga, relawan. Nah, relawan ini umumnya usianya udah sepuh. Beneran senior banget tapi fisiknya masih kuat. Saya salut dan kagum tiap melihat relawan ini masih gesit menemani anak-anak bermain.

Area prosotan 

Bersih-bersih di Nonbirinko

Kegiatan di Nonbirinko selesai jam 4 sore. Saking penasarannya habis selesai kegiatan staffnya ngapain aja, saya sengaja datang siang. Maksudnya supaya nggak kelamaan bermain di sana dan bisa lihat Nonbirinko sampai kelar.

Jadi alur kegiatan udah mau selesai kurang lebih kayak gini.

Sekitar pukul 15.45 salah satu staff membunyikan tanda kalau Nonbirinko mau tutup. Artinya, orangtua dan anak-anak disuruh merapikan mainan yang berantakan. Yup, masing-masing  orangtua bertanggung jawab merapikan mainan yang ada di dekatnya. Jadi merapikan mainan bukan hanya tanggung jawab staff aja.

Setelah mainan rapi dilanjutkan kumpul di tengah buat nyanyi bareng. Lalu salah satu staff menginfokan kegiatan apa aja untuk esok hari.

Setelah itu pengunjung pulang.

Tapi..tapi..staffnya nggak langsung pulang dong. Mereka masih beres-beres. Baik staff tetap maupun staff part time bekerja sama membersihkan ruangan dan mainan. Sedangkan yang relawan langsung pulang. Relawan yang udah sepuh nggak ikut beres-beres.

Saya kagum dan melongo melihat mereka cekatan beres-beres. Ada staff yang membersihkan mainan satu per satu pakai desinfektan. Beneran dilap satu per satu, lho. Ada yang menata ulang mainan supaya rapi dan ditaruh di tempat semula. Ada juga yang membersihkan lantai pakai vacuum.

Ya ya ya ternyata untuk membersihkan ruangan Nonbirinko mereka nggak pakai  jasa OB. Semua staff bertanggung jawab penuh atas pekerjaan dan inventaris yang dipunya.

Nonbirinko Disurvey

Jadi waktu itu saya main kayak biasa. Ternyata ada satu pengunjung, seorang bapak tapi kok megang kertas mulu ya. Bapak tersebut sesekali melihat kertas kayak ngisi checklist. Si bapak cuma melihat ruangan Nonbirinko. 

Saya pikir dia adalah bapak dari salah satu anak. Yah, di sini udah biasa melihat seorang bapak menemani anaknya bermain sih. Apalagi kalau wiken. Wih, banyak papa-papa yang nemenin anak mereka bermain.

Setelah saya lirik-lirik kayaknya bapak tersebut lagi survey. Lebih tepatnya kayak menilai.

Hm, jadi ingat pemeriksaan ISO dan akreditasi waktu kerja dulu. Hahaha.

Bapak tadi lamaaa banget surveynya. Berjam-jam. Detail banget kayaknya yang dinilai.

Apalagi pas itu ada kejadian anak saya kebentur meja. Si bapak langsung melirik sinok. Kayaknya bapaknya melihat kesigapan staff Nonbirinko saat ada yang terluka deh.

Ruangan kayak aula yang nggak dipakai bermain, tiap hari juga divacuum

Nitip Anak di Nonbirinko

Selain untuk bermain, Nonbirinko juga menyediakan baby sitter. Jasa baby sitter  dihitung per jam. 

Baby sitter ini disediakan untuk membantu ibu jika sedang sibuk atau butuh waktu sebentar untuk istirahat.

Yang menjadi baby sitter siapa?

Yang menjadi baby sitter adalah ibu rumah tangga yang butuh kerjaan.  Untuk menjadi baby sitter harus daftar dulu. Jadi kalau ada ibu yang mau nitipin anak, baby sitternya akan dihubungi bisa menerima pekerjaan ini atau enggak.

Btw, saya nanyain soal beginian dikira bakal mau pakai baby sitter lho. Ampun dah, sayang uangnya. Hahaha.

Selama bertugas, baby sitter ini pakai ID card dari Nonbirinko. Mereka melakukan aktivitas momong anak di Nonbirinko, nggak boleh keluar dari Nonbirinko. Jadi ya selama anak bermain, makan, dan tidur dilakukan di sana. Tugas mereka selesai setelah si ibu datang.

Setelah menyerahkan anak ke orangtuanya, baby sitter ini melengkapi berkas-berkas yang diberikan oleh staff. Jadi ya nggak asal momong.

Semuanya benar-benar teratur dan jelas antara yang nitipin dan yang dititipin. Enak ya kalau gini. Si ibu bisa melakukan aktivitasnya dengan tenang. Si anak juga berada di tempat yang aman. Sedangkan baby sitter mendapat upah sesuai tugasnya. Simbiosis mutualisme bangetlah ini.

Privasi Staff

Satu lagi nih, yang saya ingat sampai sekarang. Saya kan lumayan dekat dengan salah satu staff yang bisa bahasa Inggris. Nganu, soalnya anak staff tersebut pernah kuliah di Indonesia jadi kami nyambung banget.

Nah, saya kan minta nomer hapenya. Yah, biar tambah akrab gitu.

Ternyata nggak dibolehin lho.

Ya udah, saya minta emailnya aja. Kalau misal nanti saya balik ke Indonesia, siapa tahu masih bisa kontek-kontekan.

Tahu nggak, nggak dibolehin juga.

Saya nanya dong, kenapa nggak boleh. Ternyata nih aturan di Nobirinko gitu. Nggak boleh memberitahukan nomer telepon, email, dan alamat rumah ke pengunjung. Jadi kalau mau kontek-kontekan ya kirim surat ke Nonbirinko. Alamaaaakkk.

Setelah tahu alasannya, akhirnya saya minta maaf. Tapi emang bener sih, orang Jepang sangat menghargai privasi. Mereka nggak sembarangan ngasih nomer telepon ke orang lain. Bahkan untuk follow akun medsosnya aja harus ijin dulu. Ckckck..

Ya ya ya saya harus menghormati dan menghargai budaya mereka. Jadi tambah ilmu dan pengalaman, haha.

Kesan terhadap Nonbirinko

Saya selalu tersenyum dan geleng-geleng tiap berada di Nonbirinko. Satu tempat yang cuma tempat bermain anak tapi bisa memberikan pengalaman yang luar biasa.

Dari Nonbirinko aja ada beberapa hal yang bisa saya pelajari, antara lain:

1. Adanya ruang bagi IRT dan warga senior

Tahu sendiri kan jadi IRT sibuk dan capeknya kayak apa. Berasa kerjaan nggak ada habisnya. Ketika ada ruang bagi mereka untuk berinteraksi dan mengaktualisasikan diri, pasti mereka senang sekali.

Kalau dipikir upah sebagai part time dan baby sitter di Nonbirinko berapa sih? Bagi mereka (orang Jepang) bisa jadi kecil. Tapi ada nilai lain yang didapat ketika mereka diberikan ruang sendiri.

Mereka bisa rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari. Bisa berkumpul bersama teman-teman dan saling bercanda.

Udah banyak cerita soal IRT di Jepang kan yang nggak perlu saya ceritain lagi, haha.

Hal yang sama juga berlaku bagi warga senior. Meski udah sepuh tapi dengan bertemu anak kecil dan beraktivitas di Nonbirinko membuat mereka sedikit lebih bahagia dan merasa dihargai.

2. Profesionalitas

Yup, meski bukan tempat bermain yang berbayar tapi Nonbirinko memberikan pelayanan yang terbaik. Nggak cuma untuk warganya saja tapi juga untuk warga asing.

Mereka nggak pandang bulu dalam memberikan bantuan dan pelayanan. Hal yang sama juga berlaku untuk taat pada aturan. Siapa pun baik warga Jepang maupun warga asing harus menaati aturan dengan baik.

Udah segitu aja cerita tentang Nonbirinko. Banyak juga ya ternyata. Hahaha.

Terima kasih, Nonbirinko. Bakal kangen  berat sama Nonbirinko kalau nanti udah balik ke Indonesia.^-^.



8 comments

  1. Wah ketat juga di nonbirinko, bahkan minta nomor hape atau email saja tidak boleh, gimana kalo mau minta alamat rumah untuk nganter oleh-oleh karena sudah dibantu, kayaknya ngga boleh juga kali ya.

    Berarti kasihan yang jomblo..-_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, nggak terima bingkisan dari pengunjung. Privasi staff dijaga banget.

      Delete
    2. Berarti enakan di Indonesia ya, kalo jaga anak biasanya nanti ada yang nganterin makanan atau kue, sebagai tanda terima kasih.😄

      Delete
    3. Hahaha, bisa jadi. Orang Indonesia memang baik, ya. Suka memberi oleh2.

      Delete
  2. Kalau di negara maju karena usia produktifnya juga terbatas, maka yang usia lanjut pun semisal masih sehat akan tetap diberdayakan. Agar ada kegiatan, dan bisa sama-sama senang ya mba :D kayak di Singapore, sering lihat pekerja yang sebenarnya sudah tua dan sudah waktunya istirahat menikmati hidup di rumah, tapi memilih tetap kerja. Meski mungkin beberapa karena tuntutan biaya hidup yang mahal, tapi ada juga ternyata yang memang hanya ingin bergerak daripada di rumah sakit semua badannya :)

    Di Korea pun sama, saya sering lihat halmoni dan halaboji kerja di bandara dan lain sebagainya karena memang ingin beraktivitas dan karena mungkin tenaga serta pikiran mereka masih dibutuhkan. Sedangkan di Indonesia, nggak banyak perusahaan yang mau mempekerjakan orang lanjut usia kecuali Hamzah Batik (itu lho toko baju batik yang satu grup dengan Raminten di Yogya) yang saya lihat masih mempekerjakan lansia. Rata-rata lansia di Indonesia kerjanya lebih banyak di sawah maupun di perkebunan~

    Padahal saya rasa, banyak bapak bapak atau ibu ibu yang sudah pensiun sebenarnya tenaga masih banyak dan tetap ingin bekerja atau bergerak plus nggak jarang juga yang punya kualitas mumpuni untuk sebuah perusahaan. Cuma karena sudah waktunya pensiun, tapi tetap ingin kerja, alhasil banyak yang kena krisis setelah pensiun. Semacam stres, dan lain sebagainya (nggak jarang juga yang kena investasi bodong dan uang pensiunan hilang)~ :<

    Hehehe jadi meleber ke mana-mana bahasannya, tapi saya salut karena Jepang betul-betul memberdayakan orang tua berkualitas. Semoga hal positif seperti ini bisa diikuti juga oleh kita karena rentan hidup manusia juga sudah bertambah panjang, bisa 100 tahun lamanya. Kalau sudah pensiun di usia 60 tahun, masih ada 40 tahun untuk bertahan. Berat juga :"D

    Nah bicara soal Nonbirinko-nya sih nggak perlu dikomentari banyak karena memang sudah bagus banget dan bermanfaat banget untuk ibu-ibu yang butuh ruang agar anaknya bisa bermain while istirahat sejenak :D happy happy yaaa untuk le~baby di sana hihihihi~ <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba, saya baru tahu Raminten ada grupnya. Kudeeettt. Tahunya cuma Raminten yang dekat Pakem aja, soalnya dekat dengan rumah sunnah saya di Yogya. Makasih lho ini infonya.

      Wah wah, menarik sekali info2 tentang warga senior di Korea. Iya ya bisa jadi karena tuntutan hidup ya. Dan kayaknya mereka hepi2 aja ya melakukan itu semua. Biar gerak dan sehat.

      Delete
  3. Ya ALLAH enak banget ya di negara maju itu kalau sudah biacara soal fasilitas.
    Dan rata-rata penduduk di negara maju itu SDM-nya aware tantang displin dan profesionalisme. Gak yang apa-apa serba permissive.

    PR banget buat negara kita. Sebelum SDM memiliki kesadaran tinggi akan disiplin, profesionalisme maka Indonesia sepertinya tidak bisa maju.

    Masyarakat kita sih memang sudah kadung terlena jadi misal dikerasin dikit ngambek, merajuk :D Hahahaha.

    Berdoa saja dan aku optimist kalau Indonesia kelak bakal maju.

    BTW, ini ngomongin Nobirinko napa jadi curhat :D
    Ga banyak soalnya yang mau dikomentarin, almost perfect :D

    Salam dari Bali Mbak Pipit :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu, ini juga yang saya pikirkan. Masyarakat kita suka baper kalau diingatkan padahal mereka juga salah. Kadang udah tahu salah malah dibablasin sekalian. Hehe.

      Mba, saya pengen ke Bali. Malu sama orang Jepang yg sering banget ke Bali, haha.

      Delete