Tentang Privasi Tamu dan Perilaku Penyewa

Berhubung saya aktif di blog dan Twitter jadi ketika ada hal yang lagi rame di Twitter dan relate dengan apa yang pernah saya alami, kadang saya pengen cerita hal tersebut di blog.

Beberapa waktu lalu di timeline Twitter saya, ada tweet yang  lumayan rame. Tweet tersebut dari seorang pemilik villa. Kurang lebih tweetnya seperti ini,

"Dapat laporan dari housekeeping villa yang mengundang 12 selebgram berbaju rapat atas bawah dan followernya jutaan. Housekeeping menemukan pembalut yang jorok dan banyaknya 'alat pengaman' di kamar."

By the way, tweet ini saya perhalus bahasanya biar nggak kena password aneh-aneh saat ada yang googling, hahaha.

Tentu saja tweet ini mendapat reaksi beragam dari netizen. Mulai dari manner saat menginap, ada juga yang penasaran siapa saja selebgram tersebut, dan juga privasi tamu yang diumbar di media sosial.

Oke, saya pernah di situasi itu semua. Baik sebagai penyewa atau wisatawan, karyawan di bidang hospitality, dan owner dari rumah yang disewakan.



Saya akan cerita pengalaman tentang hal ini. Yuk, mulai!


#Sebagai penyewa atau wisatawan

Saat keluar kota, saya pernah menginap di Airbnb Syariah dan hotel. Bahkan saat tinggal di Jepang, saya juga melakukan hal yang sama. Saya pernah menginap di hotel dan rumah yang disewakan.

Ketika menginap baik di hotel maupun di rumah yang disewakan sebisa mungkin saya tidak mengotori ruangan secara berlebihan. Apalagi saya orangnya nggak suka jorok.

Note: taman di rumah saya berantakan karena saya paling malas mengurus taman. Jadi bagian ini jadi tanggung jawabnya pak suami.😝

Menginap di hotel, di Airbnb, maupun rumah yang disewakan tentu berbeda. Bagi saya, menginap di rumah orang lain yang bikin deg-degan karena aturannya banyak, hahaha.

Pengalaman yang berkesan yaitu saat menginap di sebuah rumah saat setahun lalu saya dan keluarga liburan di Kyoto.

Rumahnya mungil khas Jepang dan kuncinya bikin pusing. Jadi kunci rumahnya pakai gembok yang cara bukanya cukup rumit dan gemboknya ada passwordnya.

Sialnya, saat pusing dengan cara membuka kunci rumah, si pemilik rumah nggak komunikatif. Ditelepon berkali-kali nggak diangkat. Untung pak suami lumayan pintar. Akhirnya dia bisa membuka kunci meski dengan keringat bercucuran. Baru kali ini saya dan suami menemui hal kayak gini. Kalau diingat lagi, memori ini seru sih, hahahaha.

Di manapun saya menginap, saya usahakan untuk tidak terlalu jorok meninggalkan ruangan. Kalau terburu-buru pasti kamar agak berantakan. Namun saya usahakan untuk mematuhi aturan dan tidak membuat ruangan kotor banget.

Saya mempunyai prinsip untuk tidak mempersulit pekerjaan orang lain dan menjaga manner saat menginap.


#Sebagai karyawan

Saya pernah bekerja di wisma milik pemerintah yang ada di Jakarta. Wisma ini seringnya menerima tamu dari daerah saat ada acara di Jakarta baik acara kenegaraan dengan Presiden, menteri, para duta besar, sampai pentas seni dan budaya.

Jadi, sebagian besar tamu yang menginap di wisma adalah para pejabat dari level paling atas sampai staff dari daerah. Masyarakat biasa yang ingin menginap di wisma juga ada tapi jumlahnya sedikit dibandingkan para tamu tersebut.

Waktu itu saya bukan pegawai yang berhubungan langsung dengan para tamu. Saya hanya sebagai staff administrasi di bagian pemeliharaan kantor.

Tapi saya sering mendengar kisah dari teman yang bertugas sebagai driver, ajudan, protokol, housekeeping, dan juru masak. Mereka adalah pegawai yang berhubungan langsung dengan para tamu jadi lebih paham perilakunya.

Banyak sekali perilaku pejabat atau tamu yang bikin geleng-geleng kepala. Misal, seorang pejabat hanya mau dilayani oleh driver A. Mau nggak mau, driver A harus siap sedia saat ada pejabat tersebut. Kecuali jika ada kejadian yang membuat driver A benar-benar tidak bisa melayani tamu, pejabat harap maklum.

Ada juga pimpinan yang minta duduk bersebelahan dengan pejabat dari daerah tertentu saat ada acara kenegaraan dengan Presiden. Tentu saja ajudan dan bagian protokol harus melakukan tugasnya dengan baik supaya tidak kena marah.

Dan masih banyak lagi cerita tentang perilaku tamu saat menginap di wisma.

Apakah saya pernah mengumbar perilaku mereka di media sosial terutama blog?

Oh, tentu tidak. Kayaknya baru kali ini saya cerita. Itu pun masih hal-hal yang biasa terjadi di kalangan pejabat.

Saya sadar bahwa pembaca blog ini beragam dan saya tahu konsekuensi dari cerita di media sosial. Jadi saya harus hati-hati jika tidak ingin terkena UU ITE atau pasal pencemaran nama baik.

Sebagai mantan karyawan, saya selalu punya pemikiran bahwa saya tidak akan menceritakan kejelekan atau privasi tamu di media sosial. Toh, kantor tersebut juga pernah memberikan rejeki kepada saya. Apalagi tempat saya kerja dulu merupakan kantor plat merah atau milik pemerintah yang bisa menjadi sorotan masyarakat.


#Sebagai pemilik

Saya dan suami punya aset berupa rumah kosong yang disewakan secara tahunan. Saat saya ikut suami dinas, rumah yang kami tinggali saat ini juga kami sewakan semi furnish namun secara bulanan.


Rumah mungil yang kami sewakan 


Menyewakan rumah baik secara tahunan atau bulanan tentu berbeda dengan sistem harian. Kebanyakan yang menyewa adalah orang-orang yang sudah berkeluarga.

Saya dan suami juga tidak mempekerjakan housekeeping. Kami hanya memakai jasa tukang bangunan dan asisten kepercayaan saat ada trouble atau saat rumah butuh dibersihkan.

Sebagai pemilik, kami pusing karena harus memantau kondisi rumah dari jauh dan menerima komplain dari penyewa secara langsung. Apalagi kalau yang komplain ibu-ibu. Duh, WA juga nggak berhenti dan isinya panjang.

Ada perilaku penyewa yang sempat membuat suami marah hingga berbicara agak keras ke penyewa. Saat situasi seperti ini, saya sebagai istri menjadi penengah supaya keadaan tidak memburuk.

Saya mencoba melakukan komunikasi antarperempuan yang membuat istri penyewa mengaku semuanya. Dari komunikasi ini, saya tahu alasan kenapa mereka melakukan ini dan itu tanpa sepengetahuan kami.

Kata suami, saya harusnya lebih galak ke penyewa, hahaha. Memang, saya bukan tipe orang yang suka mencari musuh atau memperpanjang masalah. Kalau masalahnya sudah selesai ya sudah, tidak perlu dibahas lagi. Makanya saat bertemu secara langsung sekembalinya kami dari dinas, saya diam saja. Tidak pernah tanya atau membahas masalah yang telah terjadi. Saya dan suami sudah mengikhlaskan semuanya.

Apakah saya mengumbar perilaku mereka di media sosial?

Sudah setahun berlalu namun sampai sekarang saya masih belum menceritakan itu semua. Bahkan pengalaman sebagai owner dari rumah yang disewakan juga belum pernah saya ceritakan di blog.

Kenapa?

Karena saya masih mencari waktu yang tepat dan kata-kata yang tidak menyinggung pihak mana pun. Saya tahu mungkin saja pembaca blog ini ada yang mengenal saya sehari-hari dan menjadi silent reader.

Banyak hal yang dipertimbangkan saat saya mau menceritakan pengalaman di blog supaya pembaca tidak kepo terlalu jauh. Yang lebih penting lagi, saya harus mencari kata-kata supaya tidak dianggap berlebihan atau menyinggung pihak tertentu.

Itu saja pengalaman saya saat menanggapi tweet tentang pemilik villa yang menceritakan pengalamannya di media sosial. Memang sih, manner diperlukan di mana pun kita berada. Tapi jika kita merasa tersentil dengan status atau sindiran di media sosial, sebaiknya hal ini bisa membuat kita berperilaku lebih baik lagi.

Kalau teman-teman pernah punya pengalaman apa baik saat menginap atau sebagai pemilik penginapan?

10 comments

  1. Rumahmu apik banget, Mbak.
    Pernah jadi tukang bersih-bersih penginapan, bahagia banget kalau tamunya tuh kalau buang sampah pada tempatnya, atau udah dikumpulin di satu tempat gitu. Soalnya kalau sampah di mana-mana, kerjanya jadi makan waktu lama.

    Kalau jadi yang menginap aku juga selalu buang sampah pada tempatnya atau kalau ngga cukup ya kukresekin dikumpulin.

    Tapi aku punya satu dosa yang tak terlupakan lol, aku menginap di backpacker hostel trus kasurnya kayak masih baru gitu, trus aku mens ke mana-mana, hahaha nggilani :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mosok to Na? Rumah minimalis itu. Btw matur nuwun ya.

      Nah, iya, pengalamanmu waktu itu seru banget. Bolehlah diceritain lagi di blog.

      Soal sampah, emang sih jadi perhatianku juga kalau menginap soale aku nepakke awakku dewe. Yen resik2 tapi sampah akeh kan kesel banget. Padahal itu bukan milik kita.

      Haduh, dosamu Na. Nggak kebayang pegawai yang ngurus kasurmu waktu itu, hahaha.

      Delete
  2. Kak, aku sama banget sama Kakak saat jadi customer. Sebisa mungkin nggak mengotori tempat yang aku inapi. Kasurpun aku rapihkan kembali meskipun nggak bisa rapih banget πŸ˜‚. Handuk, keset dan sampah semua ditaruh di tempat yang udah disediakan sebab aku diajarkan kalau kita bisa menjadi berkat bagi siapapun dan bukan hanya lewat memberi materi aja, tapi bisa dengan membantu meringankan pekerjaan orang lain, se-simple membantu merapihkan piring makan saat pergi makan di resto atau membantu merapihkan kamar hotel, that's why kalau kita bisa membantu meringankan beban pekerjaan orang lain, kenapa tidak? 😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Liaaa wow bagus sekali sharing pengalamannya di sini. Iya ya kita bisa menjadi berkat bagi orang lain tanpa memberi materi melulu.

      Nah, soal merapikan piring di resto saya juga merapikan. Tapi kadang kala malah diliatin orang, hahaha.

      Delete
  3. Mbak Piiiit!

    Ya Allah, uda lama banget gak maen ke sini. Uda berapa taun yak? Wkwkwk.

    Iya nih, pengalaman yg sama kek aku. Rumah Papa juga disewain dan ditinggalin beberapa furniture karena gak ada tempat lagi kan. Eh gak taunya pada dijualin dong!

    Nah iya, kalo lagi staycation misalnya, aku suka lepasin bedcover, sprei sama sarung bantal guling pas mau cek out. Biasa HK nya tinggal angkut terus cuci. Sebisa mungkin gak ninggalin sampah yg berserakan sik. Kasian soalnya. Mana dikejer-kejer waktu kan.

    Sehat terus ya, Mbaaaak! 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bebyyyyyy apa kabaaaaarrr?

      Ya Alloh ke mana aja dirimu? Makasih ya Beb udah main di sini. Kangen banget sama kamuuuuuu. Ngeblog lagi dong, Beb.

      Lah, parah banget itu yang ngontrak. Kok berani banget menjual barang owner. Nggak minta ganti rugi, Beb?

      Nah, iya. Kalau bisa meringankan pekerjaan orang lain, kenapa nggak, ya kan.

      Delete
  4. Saya belum pernah menyewa kamar hotel karena jarang bepergian mbak, tapi sekarang ngontrak. Sama saja dengan menyewa ya.

    Memang kalo ngontrak menurutku agak kurang bebas, harus mematuhi aturan dari pemilik kontrakan, tapi tidak ada aturan yang aneh aneh sih, aturan kontrakan pada umumnya jadinya aman.

    Kadang biar dekat, tiap sebulan atau dua bulan sekali pemilik kontrakan dikasih makanan, biarpun kecil tapi senang sekali. Ujung-ujungnya kalo telat bayar kontrakan tidak kena marah.🀣

    Tapi memang sekarang harus hati-hati sih share apapun di sosmed, siapa tahu ada yang tahu lalu lapor polisi, kan gawat. Ada kejadian seperti itu disini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya dulu juga pernah ngontrak Mas Agus. Betul, agak kurang bebas. Dan si owner sempat mau ngusir tapi berhubung nanggung banget akhirnya saya naikkan uang kontrakan dan beliaunya baik lagi, hahaha.

      Wah, enak banget kalau punya penyewa kayak Mas Agus yang sering kasih makanan ke owner. Saya belum pernah dapet, nih. Hahaha.

      Betul Mas, kita harus menjaga jari kita supaya tidak lepas kontrol. Medsos kadang bisa membahayakan.

      Delete
    2. Ada beberapa keuntungan kalo kadang kadang ngasih makanan biarpun tidak terlalu mahal mbak, biasanya tuan rumah juga jadi baik, kedua biasanya kita dikasih balik kalo mereka bikin kue atau makanan, terus jarang ditegur kalo telat bayar kontrakan, dan biasanya kalo mau pindah kontrakan malah dihalangi, udah disini saja.

      Tapi tergantung pemiliknya juga, dulu pernah ngasih jajanan kalo pulang kampung tapi tuan rumah cuek saja bahkan pelit ngasih.

      Jadi tidak bisa di samaratakan sih, tiap orang kan beda-beda.πŸ˜„

      Delete
  5. Pengalaman yang menarik, memang sih sebagai owner atau pengelola penginapan gitu privasi tamu harus dijaga

    saya juga nih, kalo nginap di hotel, selalu saya rapiin kamar sebelum check out. Sebisa mungkin gak mau nyusahin petugas kebersihannya

    ReplyDelete