Cerita Mudik 2022

Hai, semua. Apa kabar?

Ada yang kangen sama blog ini? Hahaha, admin blognya ge-er banget kayak pembaca blognya banyak aja.😂

*Kretekin tangan dulu*

Tangan saya kaku nih mau nulis. Udah 2 bulan nggak ngeblog jadi bingung mau cerita apa. Niatnya sih mau ngucapin selamat lebaran. Tapi udah basi, tanggalnya lewat jauuuhhh. Hahaha.

Hhhmmm, mau cerita apa ya enaknya.

Kalau cerita tentang mudik kayaknya seru, nih. Iya, nggak? 

*iya-in aja biar cepet*🤣

Meski udah sebulan berlalu tapi keceriaan mudik masih terasa. Maklumlah selama 2 kali lebaran rakyat nggak boleh mudik. Jadi begitu pemerintah membolehkan mudik, rakyat senengnya luar biasa.

Euforia mudik kerasa di mana-mana. Saya aja merasakan euforianya jauh-jauh hari sebelum berangkat. Mulai dari persiapan apa yang kudu dibawa, nyiapin oleh-oleh untuk keluarga, mikirin angpau buat ponakan, sampai bikin jadwal ketemuan sama sahabat tercinta yang udah ribuan purnama nggak ketemu.

Serius, mudik tahun ini bener-bener seru!

Saya sampai ngasih judul postingan ini pakai tahun. Karena emang mudik tahun 2022 berbeda dari mudik tahun-tahun sebelumnya.

Selama 4 tahun saya nggak merasakan momen lebaran di kampung halaman. Dari 2018-2021 saya nggak lebaran di Semarang. Tapi bulan Februari 2020 saya sempat pulang sebentar ke Semarang setelah ikut dinas pak suami. Setelah itu saya nggak bisa pulang kampung karena corona.

Baca juga: Rehat sejenak

Pulang ke kampung halaman saat lebaran dan enggak lebaran, rasanya beda. Kalau pulang di luar lebaran, emang sih kita masih bisa ketemu orangtua dan keluarga tapi kita nggak dapat momen lebaran.

Kenapa?

Karena lebaran itu beda. Biasanya saat lebaran keluarga besar pada ngumpul. Acara silaturahmi jadi seru.

From Pixabay

Di Indonesia terutama di daerah Jawa, mudik atau pulang ke kampung halaman saat lebaran menjadi tradisi. Makanya kampung halaman jadi rame. Orangtua akan menyambut anggota keluarga yang merantau dengan suka cita. Mereka menanti anak dan cucunya yang udah lama nggak ketemu. Bahkan jauh hari sebelum pulang, ibu saya selalu bertanya,

"Mau dimasakin apa?"

Tradisi lebaran di Jawa nggak cuma itu aja, lho. Malah ada di daerah tertentu di Jawa yang masih merayakan lebaran di H+7. Namanya lebaran kupat (ketupat) atau sering disebut Syawalan.

Ini ada sejarahnya juga, sih. 

Orang-orang jaman dulu sangat taat pada perintah agama dan sunnah nabi. Bukan berarti orang-orang jaman sekarang nggak taat, terutama dalam menjalankan sunnah. Masih banyak kok orang yang melakukan puasa Syawal dan ibadah sunnah lainnya.

Puasa Syawal termasuk ibadah sunnah. Puasa ini boleh dilakukan mulai tanggal 2 Syawal (H+1 lebaran). Puasa Syawal dilakukan selama 6 hari berturut-turut. Jadi di H+7 lebaran mereka benar-benar merayakan kemenangan karena sudah menjalankan puasa wajib dan sunnah.

Fyi, puasa Syawal nggak harus dimulai pada tanggal 2 Syawal. Puasa ini bisa dimulai tanggal berapa saja asal dilakukan di bulan Syawal.

Menu saat Syawalan sama kayak lebaran biasa yaitu kupat atau ketupat, opor ayam, dan sambal goreng. Selain menu wajib tadi ada juga orang yang bikin lepet yaitu makanan yang terbuat dari ketan, kelapa, dan garam. Lepet dibungkus dengan janur atau daun kelapa muda.

Dibandingkan ketupat yang rasanya kayak lontong, lepet mempunyai rasa yang gurih. Bentuknya juga berbeda dengan ketupat. Lepet bentuknya lonjong.

Aduh, saya nulis ini jadi pengen makan lepet lagi, hahaha.

Jika ditelusuri lebih jauh, makna masing-masing menu lebaran mempunyai filosofi yang bagus untuk keselarasan hidup bermasyarakat. Kalau saya cerita di sini nanti malah kepanjangan. Kamu bisa tanya sendiri ke mbah Google, hahaha.

Di beberapa daerah terutama di luar Jawa mungkin berbeda. Suasana lebaran mungkin nggak seramai di Jawa. Saya justru tahu suasana lebaran yang berbeda saat kuliah. Saya kira suasana lebaran yang meriah sama se-Indonesia raya.

Waktu itu teman kuliah saya yang berasal dari luar Jawa nggak mudik. Mereka  mengeluh karena saat lebaran susah cari makan. Warung pada tutup. Yaiyalah, orang-orang pada pulang kampung.

Mereka mengalami shock culture dengan suasana lebaran di Jawa. Hahaha.

Kata temen saya, kalau di luar Jawa perayaan yang rame itu lebaran haji atau Iduladha. Makanya mereka pulang ke kampung halaman saat Iduladha. Mungkin di beberapa negara juga begitu yaitu ramenya saat Iduladha bukan Idulfitri.

Hal ini berbeda dengan tradisi yang ada di masyarakat Jawa. Lebaran Idulfitri dijadikan momen untuk bersilaturahmi dengan keluarga, saudara, dan handai taulan di kampung halaman.

Orang-orang yang merantau akan pulang ke kampung halaman meski harga tiket mahal. Mereka rela melakukan perjalanan yang jauh demi mudik. Macet tak masalah asal bisa lebaran di kampung halaman.

Iyeee, lebaran kemarin saya kena macet di mana-mana. Macet pas berangkat mudik dan balik ke Jakarta, hahaha.

Saya berangkat mudik H-5. Saya kena macet saat keluar tol MBZ di KM 47. Titik ini adalah titik temu antara tol MBZ dan tol bawah. Lalu macet menuju rest area karena diberlakukan sistem buka tutup. Saya baru bisa masuk rest area di KM 102. Sepanjang tol Cipali macet. Mantap!!

Karena nggak kuat dengan macetnya, pak suami sampai membatalkan puasa. Pak suami baru bisa gas pol di daerah Cirebon. Tapi dia nyetir saingan sama bus gedhe dan truk. Duh, ngeri. Sopir bus dan truk dilawan.😂

Mudik tanpa macet itu ibarat sayur tanpa garam. Mudik tanpa macet itu nggak seru. Justru macetnya itu yang banyak diceritain saat silaturahmi dengan siapa pun. Hahaha.

Coba aja lihat di teve. Liputan lebaran isinya pantuan lalu lintas mulu kan? Beritanya macet di mana-mana.

Etapi emang mudik tahun ini macetnya nggilani. Untuk mengantisipasi euforia mudik, pemerintah memberlakukan berbagai rekayasa lalu lintas. Mulai dari contra flow sampai one way di tol untuk orang Jakarta.

One way diberlakukan saat arus mudik dan arus balik. One way nya juga spesifik berdasar plat nomor ganjil-genap. Gileeee, segitunya upaya pemerintah untuk memfasilitasi mudik tahun ini.

Tapi kebijakan ini tentu berdampak ke wilayah lain yang nggak bisa masuk ke Jakarta. Macet parah di Cipularang dan daerah lain terjadi imbas dari kebijakan ini.

Pixabay

Selama di kampung halaman, kami semua hepi. Anak-anak apalagi. Ini pengalaman pertama mereka mudik ke kampung halaman.

Kami bisa kumpul sama keluarga yang udah lama nggak ketemu. Saya kaget lihat ponakan yang udah pada ABG dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Ada juga ponakan kecil yang polahnya bikin ngakak.

Daaann, yang bikin saya hepi banget tu bisa ketemuan dengan sahabat tercinta. Duh, ini momen yang saya tunggu-tunggu banget.

Meski saya dan sahabat cuma makan siang dan ngobrol di rumah tapi pertemuan kami cukup intens. No gadget, no posting foto di media sosial. Bener-bener quality time banget bersama sahabat tercinta.😍

Mudik selalu membawa cerita baru. 

Mudik tidak hanya rindu pada kampung halaman. Tapi keakraban bersama keluarga di kampung halaman. Mudik juga bukan tentang ketemuan di kafe tapi serunya obrolan di kafe bersama sahabat tercinta.

Mudik memberikan banyak cerita kehidupan. Tidak hanya mendengar pengalaman hidup orang lain tapi juga belajar dari pengalaman hidup mereka.

Dan, mudik sejatinya mengingatkan kita untuk kembali pulang. Bukan pulang ke Jawa, ke Sumatra atau ke daerah lain. Tapi pulang ke keluarga. Pulang ke teman. Sebab tanpa mereka, kampung halaman hanya sekadar lokasi.

Gimana cerita mudikmu tahun ini?

No comments