Friday, September 02, 2016

Tinggal di Shin Yokohama

Lagi kangeeen banget sama Jepang nih terutama kangen saat tinggal di Shin Yokohama. Postingan ini harusnya kemarin udah tayang. Saya udah nulis berjam-jam tiba-tiba komputer ngehang dan postingan hilang. Nangis deh, huhuhu. Daripada sedih terus-terusan, nggak lama kemudian saya bikin postingan baru. Etapi hari ini rasa kangen sama Shin Yokohama masih belum hilang, jadi kepikiran bikin postingan lagi. Soalnya banyak banget kenangan selama tinggal di Shin Yokohama.*uhuk*

Saya tinggal di Shin Yokohama tahun lalu karena menyusul pak suami yang saat itu udah stay duluan di sana. Ini kali kedua pak suami dinas ke Jepang. Sebelum tinggal di Shin Yokohama, kami pernah tinggal di Kannai. 

Sampai sekarang, kalau saya ingat masa-masa mau menyusul pak suami ke Jepang masih kebayang paniknya karena visa yang belum di tangan saat H-1. Padahal tiket pesawat udah pesen, tinggal passport ama visanya doang. Berkat kerja sama antara kantor pak suami dan agen akhirnya visa nyampe rumah pagi pas hari H. Pyuh, cerita lengkapnya bisa dibaca di sini ya

Sebelum saya nyusul ke Shin Yokohama, pak suami cerita kalau Shin Yokohama termasuk daerah pinggiran dan jauh dari kantor. Pak suami ngantornya di Minato Mirai (daerah Sakuragicho). Saat dinas pertama di Kannai, jarak Kannai-Sakuragicho lebih dekat dibandingkan jarak Shin Yokohama-Sakuragicho. 

Sewaktu dinas pertama pak suami dapet fasilitas tiket kereta JR tapi selama tinggal di Shin Yokohama dapetnya tiket subway. Artinya, pak suami membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke subway. Jarak dari apartemen ke subway lumayan jauh. Secara apartemen kami lebih dekat ke stasiun kereta JR. Iya, stasiun subway dan JR di Shin Yokohama letaknya nggak jadi satu. Stasiunnya terpisah lumayan jauh. 

Ketika mendapat cerita seperti yang dikatakan pak suami, bayangan saya selama tinggal di Shin Yokohama agaknya kurang seru nih. Soalnya udah kebayang bakal sepi dan nggak menarik duluan sih. 

Lah, saya dan pak suami sebenernya sudah pernah main ke Shin Yokohama ding. Dulu pas dinas pertama saya dan pak suami sempat main ke museum ramen dan Nissan Stadium. Kami bela-belain ke Museum Ramen karena kayaknya cuma di sini museum ramen yang ada di Jepang. Sepanjang jalan dari stasiun menuju ke museum ramen sepi banget. Nggak banyak orang yang berlalu lalang. Bahkan pertokoan dan konbini juga tampak sedikit. 

Etapi keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Ketika saya sudah tinggal di sana, menikmati kotanya, dan berpetualang sebentar langsung merasa betah lho. Bayangan yang dulunya bakal nggak asyik ternyata nggak terbukti, hahahaha. Saya benar-benar menikmati selama tinggal di Shin Yokohama. 

Sekarang, andai disuruh memilih tinggal di Kannai atau di Shin Yokohama, saya akan memilih tinggal di Shin Yokohama. Yah, secara emang kota ini kecil tapi tempat refreshingnya lumayan banyak. Ini kesan saya selama tinggal di Shin Yokohama.

Sumber gambar dari Wikipedia


#Stasiun Shin Yokohama

Stasiun Shin Yokohama lumayan besar dan tempatnya strategis. Stasiun ini cukup besar karena selain melayani kereta JR juga melayani rute shinkansen. Penumpang shinkansen bisa naik dan turun di sini, tergantung rutenya mau ke mana ya. Penumpang kereta di stasiun ini cukup banyak apalagi kalau ada event di Nissan Stadium. Wes, stasiun bakal rame sampai ada polisi yang mengatur penumpang. 

Di Jepang banyak yang tahu kalau area di dalam dan sekitar stasiun menjadi pusat bisnis. Begitu pula yang ada di stasiun ini. Stasiun Shin Yokohama terhubung dengan pusat perbelanjaan dan perkantoran yang ada di sekitarnya.

Jika kita turun di stasiun ini dan mau ngemis wifi ngopi, cukup naik eskalator ke Starbuck. Mau belanja-belanji atau window shopping bisa ke Bic Camera dan Uniqlo. Mau membaca, ada toko buku. Mau nyari oleh-oleh, ada toko souvenir. Mau makan, silakan mampir di restoran yang jumlahnya banyak. Bahkan kalau duitnya mepet, bisa makan di Mekdi. Iya, ada Mekdi di dekat stasiun ini. Tapi, saya dan pak suami belum pernah ke sana sih. Soalnya saya dan pak suami nggak suka Mekdi.

Saya kagum dengan pemerintah setempat yang sangat memperhatikan kenyamanan pengunjung di stasiun ini. Mereka sangat memperhatikan keefektifan waktu, kenyamanan, dan lay out bangunan sehingga mudah dijangkau. Saya nggak berlebihan memuji karena saya tahu sendiri keadaan di sana. 

Jadi di luar stasiun ada jembatan melingkar yang menghubungkan stasiun dengan beberapa spot yang menarik di sana. Tinggal sekali melangkah keluar stasiun, langsung sampai ke tempat tujuan tanpa repot. Apalagi fasilitas umum yang ada di sini juga bisa dinikmati oleh penyandang disabilitas. Iyap, jembatan melingkar ini juga ada liftnya. Tentunya ini diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan. Dengan demikian semua warga, turis, dan pengunjung bisa memakai fasilitas umum yang ada. Saya kagum dan takjub. 

Dari GoJapanGo.com, itu jembatan melingkarnya

Oia, di area depan stasiun juga ada shuttle untuk naik dan turun penumpang ke Bandara Haneda. Di shuttle ini nggak ada pegawainya. Cuma ada jadwal keberangkatan dan kedatangan bus dari dan ke Haneda. 

#Ada Bic Camera

Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa ada Bic Camera di stasiun ini. Saya dan pak suami sering banget datang ke sini untuk beli jam tangan, hahahaha. Ssstt, jam tangan Japan branded keluaran terbaru ada di sini lho dan komplit ada katalognya. Senengnya lagi katalognya bisa dibawa pulang. Kalau mampir ke counternya tinggal bilang deh jam ini kapan readynya dan speknya gimana.

Apa itu Bic Camera?
Bic Camera merupakan departemen store yang palugada, apa yang lu butuhin ada. Sumpah, komplit banget barang yang dijual di sini. Ada make up, barang elektronik, barang rumah tangga, jam tangan, kacamata, aksesoris, sepeda, gadget, mainan, dll.

Saya dan pak suami langganan di sini karena kami punya member card. Cara bikinnya tinggal nunjukin passport ke customer servicenya terus nggak pakai lama dapet member card. Jadi kalau punya member card, biasanya pembeli dapat diskon. Kudu pinter sih kalau belanja. Saya dan pak suami kalau belanja diatur dulu supaya dapet potongan gedhe. Pernah lho kami beli jam tangan tapi nggak bayar karena diskon dari member card. Mayan lah ya untuk ekspat pas-pasan kayak kami ini, hahahahaha.

Plusnya Bic Camera tuh pelayanannya yang sangat memuaskan. Kami nggak pernah dijudesin sama SPGnya meski cuma lihat-lihat doang. Seringnya sih kami menolak kalau disuruh nyobain ini-itu. Nggak enak e kalau nggak beli, hahahaha. Kami agak riwil di counter jam tangan sih. Lah soalnya pak suami buka bisnis oleh-oleh dan banyak yang nitip jam tangan. Cerita seru bisnis oleh-oleh pernah saya ceritakan di sini

#Nissan Stadium

Kalau dulu sewaktu tinggal di Kannai, saya dan pak suami olahraga di tempat fitnes yang no staff. Tempat fitnesnya tertutup dan kecil. Selama tinggal di Shin Yokohama, kami olahraga nggak di tempat fitnes soalnya nggak ada tempat fitnesnya Ciiiin, hahahaha. Sebagai gantinya kami olahraga di Nissan Stadium.

Beruntung banget ya jarak apartemen ke Nissan Stadium deket banget. Tinggal ngesot euy. Seneng dong ya bisa ngesot jogging di stadion ini meski cuma di arena luarnya saja. Yaelah kalaupun jogging muterin stadion sih udah keringetan karena stadionnya gedhe banget. 

Selain untuk event olahraga baik skala lokal atau internasional, stadion ini juga diperuntukkan untuk event-event lain. Misalnya konser musik dan flea market. Saya sering dateng ke flea market Nissan Stadium dan pernah saya tulis di sini. Seru flea marketnya.

Menurut kabar yang beredar nih, Nissan Stadium bakal diokupasikan untuk gelaran akbar pertandingan sepak bola saat Japan Olympic 2020. Wah, bakal rame dan seru nih di sini.

#IKEA

Waini obat penghilang stress, hahahaha. Jujur sih saya belum pernah ke IKEA yang ada di Indonesia. Mau ke IKEA yang di Alam Sutra, males sama transportasinya dan kebayang macet weekend. Meski katrok belum pernah ke IKEA Indonesia tapi saya sudah ke IKEA yang ada di Jepang.

Salah satu IKEA di Jepang letaknya di Shin Yokohama. Untuk akses ke sana, saya dan pak suami menggunakan shuttle yang sudah disediakan di stasiun Shin Yokohama (lagi-lagi Stasiun Shin Yokohama). Enaknya lagi, shuttlenya gratis Ciiiin. Jadi nggak usah pusing mau bolak-balik ke sana. 

Meski gratis, tapi yang namanya Jepang, tetap service is number one. Busnya bagus, besar dan drivernya juga nggak ugal-ugalan. Drivernya banyak yang sudah tua. Penampilan mereka rapi dengan seragam dan memakai topi kayak masinis.

Shuttle ini ada setiap hari dan penuh saat weekend. Kedatangan dan keberangkatan shuttle tiap satu jam. Rutenya hanya Shin Yokohama-IKEA. Iyap, shuttle nggak berhenti di mana-mana cuma itu tok

Antrean penumpang saat weekend atau hari libur lumayan panjang. Mereka tetap tertib antre masuk ke dalam bus. Nggak ada yang rebutan tempat duduk. Yah, namanya juga siapa cepat dia dapat. Kalau bus sudah penuh, silakan naik bus berikutnya. Wah wah saya masih terbayang rasanya naik shuttle IKEA ini. Rasanya nyaman, hati senang dan mulut pun berdendang.*halah*

Antre masuk shuttle IKEA

Kalau di IKEA pengennya sih mborong ini-itu ya. Tapi kalau inget bagasi pesawat, dadah babay deh. Yah, meski nggak mborong tapi melihat design ruangan yang dipajang sudah seneng banget. Ketika saya membeli produk IKEA Pruta, harganya kok lebih murah dibanding harga di Indonesia ya. Beneran murah karena cuma separuh harganya dari Indonesia. 

#Taman

Saya iri tiap kali melihat taman yang ada di Jepang. Kapan ya Indonesia punya banyak taman yang benar-benar nyaman seperti di negara-negara maju. Padahal manfaat taman kota sudah terbukti banyak banget ya salah satunya untuk penghilang stress. Iya sih memang bener. 

Taman yang ada di dekat apartemen letaknya jadi satu dengan Nissan Stadium. Taman ini fasilitasnya cukup komplit. Ada bangku, play ground anak-anak, air mancur, toilet, dan kran air minum. Fasilitas-fasilitas ini semuanya gratis dan siapa pun boleh pakai.

Taman dengan fasilitas yang komplit

Taman ini kalau musim semi cantik banget karena banyak ditanami pohon sakura. Saat musim semi, ada lho orang Jepang yang hanamian di sini. Saya pernah melihat orang kantoran sedang hanami di malam hari. Jumlah mereka nggak banyak sih. Biasanya mereka membawa tikar, camilan, dan minuman. Mereka ngobrol dan tertawa di bawah pohon sakura. Benar-benar refreshing yang murah tapi meriah. Aih, saya kangen melihat suasana seperti itu.

#Sepi

Tinggal di Shin Yokohama terbilang sepi. Sebenernya nggak cuma di Shin Yokohama saja sih. Di beberapa tempat lain juga demikian. Mungkin karena Jepang mengalami depopulasi kali ya. Mungkin lho ya.

Shin Yokohama ramenya hanya di area sekitar stasiun. Sedangkan di sekitaran apartemen sepi banget nget. Kalau mau rame biasanya pagi atau siang saya keluar apartemen. Saat pagi atau siang, orang kantoran banyak yang berseliweran. Apalagi kalau berbarengan jam istirahat. Wes, saya bisa lihat mbak-mbak dan mas-mas yang beli bento atau rame-rame jalan ke restoran buat maksi. 

Sore juga sepi lho apalagi kalau sudah matahari tenggelam. Waktu itu, kalau malam dan pak suami belum pulang, saya ngayal mendengar suara abang bakso atau nasgor lewat. Terus saya buru-buru pakai jilbab dan turun buat beli bakso atau nasgor. terus abangnya udah pergi karena saya kelamaan turun. Hawong tinggal di lantai paling pucuk kon piye? Hahahaha, ngayal banget karena saking sepinya. Kalau malam nungguin pak suami pulang, saya sering mendengarkan radio Indonesia via streaming. Untung ya ada internet, jadi hidup lebih hidup deh, hahahaha.

Itu saja Teman-teman cerita saya selama tinggal di Shin Yokohama. Banyak sih kenangan selama tinggal di sana. Bertemu dengan Teman-teman baru dan bisa keliling di tempat yang belum pernah saya datengin, merupakan pengalaman yang asyik dan nggak terlupakan. Kalau kalian disuruh tinggal di Shin Yokohama kira-kira betah nggak ya?.^-^.



































15 comments:

  1. ahahah nggak di mana2 IKEA selalu jadi hiburan buat perempuan terutama emak2 ya, hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mba.
      Cuman ngeliat aja udah seneng ya :)

      Delete
  2. Emang kalau tinggal dilantai paling pucuk kalau ada abang bakso atau nasgor lewat bisa kedengaran ya mbak Pipit? Hahaha

    Jepang memang sangat disiplin ya mbak, saya sangat kagum dengan budaya antrinya. Mungkin itu sudah diajarkan sejak bayi kali ya. Andai di Indonesia bisa begitu dijamin nggak ada korban saat pembagian sembako *loh kok kesitu sih?? :)

    ReplyDelete
  3. wah orang jepang emang udah terbiasa untuk teratur mba. jangan iri :D pengalaman yang menarik mba

    ReplyDelete
  4. [Kalau kalian disuruh tinggal di Shin Yokohama kira-kira betah nggak ya?.^-^.]

    Betah...
    Sponsorin Mbak.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhhhmmm, njuk aku njaluk sponsor sapa dong?

      Delete
  5. Pipiiiit...
    Asyik banget siiiih tinggal disono, aku jadi pengeeeen!
    Walaupun sepertinya kalo kelamaan tinggal disono aku bakalan kangen berat sama mang bandros, bakso sama tukang tahu bulat digoreng limaratusan yang tiap sore muter di komplek itu yah Piiiit hehehe...
    *anaknya suka lemah ama tukang dagang*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bibiii, tahu bulat yg digoreng dadakan itu kan? Itu mah asiiin banget hahahahaha.

      Delete
  6. Wah kayanya seru ya menetap di jepang. Secara kotanya tertib rapih gituuu. Makasi sharingnya ya Maaaaaak :D

    ReplyDelete
  7. Keyen mbaa pipit..serunya tinggal disanaa...pengennn jadinyaa ke jepang.....hhehe

    ReplyDelete

Powered by Blogger.

Recent Posts

    Follow Me

    Page Views

    Copyright © Pipit Widya | Powered by Blogger
    Design by Saeed Salam | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com