2 comments

“Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu” itulah quote terkenal dari Ali Bin Abi Thalib RA, salah satu sahabat Rasulullah SAW. Mendidik anak merupakan amanah dari Tuhan yang harus dijalankan dengan baik. Apalagi mendidik mereka di era digital ini tentu banyak sekali tantangannya. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini teknologi berkembang sedemikian pesatnya. Setiap orang tak pernah lepas dari gadget, piranti yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru. Berbagai kemudahan ditawarkan dalam gadget. Selain itu, fasilitas di dalam gadget dapat digunakan oleh orang dewasa maupun anak-anak. Maka tak heran gadget banyak ditemui di manapun, baik pada orang tua maupun anak-anak. Mereka semua menjadi pengguna aktif terutama anak-anak. Untuk itulah saat ini banyak gadget yang membidik pasar tersebut.

Gambar dari sini
Anak-anak lebih suka bermain dengan gadget karena dalam piranti tersebut menyediakan banyak sekali permainan. Beragam permainan tersebut dikemas secara apik untuk menarik minat mereka. Aneka gambar dengan komposisi warna disertai musik yang apik tentu tak kan luput dari minat mereka. Karena memang pada masa tumbuh kembang anak-anak, sebaiknya tak hanya diisi dengan pembelajaran saja tetapi juga bermain agar mereka senang dan tidak bosan.

Melalui beragam permainan tersebut sebenarnya secara tak langsung anak belajar dengan sendirinya. Pada dasarnya beragam permainan yang dilakukan membutuhkan keterampilan, kecekatan, fokus, dan keuletan anak untuk memenangkan permainan. Dalam hal ini gadget dapat menstimulasi indera dan imajinasi anak-anak yang berpengaruh positif pada perkembangan kognitifnya. Selain itu, anak-anak juga bisa mengenal warna, belajar mengenali suara, serta meningkatkan kemampuan mendengar dan berbicara.

Di samping berdampak positif, gadget juga dapat memberikan dampak negatif bila digunakan secara berlebihan karena akan mempengaruhi kesehatan dan kehidupan sosial anak itu sendiri. Semakin sering anak memakai gadget maka semakin sedikit waktu untuk bergerak dan bermain dengan teman-temannya. Jika anak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memakai gadget, dikhawatirkan pula konsentrasi akan pelajaran di sekolahnya menurun.

Saat ini merupakan suatu hal yang mustahil jika ingin menghilangkan penggunaan gadget pada anak. Memang semua ada untung ruginya termasuk dalam memperkenalkan teknologi pada anak. Jangan sampai niat untuk mengenalkan teknologi justru membuat anak terjerumus dalam bahaya yang ditimbulkan. Memberi batasan waktu serta melakukan pengawasan dan pendampingan ketika si kecil menggunakan gadget juga diperlukan. Untuk itu bijaklah dalam memakai gadget.


-Gerimis saat akhir April, sambil ngantuk dan mau menyetrika-










13 comments
Ada rasa haru ketika kakiku berdiri di sebuah rumah yang berada di tepi jalan raya dan menghadap sawah itu. Pintu kayu terbuka sedikit dan berderit ketika coba kulebarkan. Ada Om Budi yang sedang duduk menonton televisi. Kerabat dan tetangga sebelah itulah yang menjaga dan merawat rumah simbah sejak ditinggal pergi si empunya.

''Sugeng ndalu, Om,'' sapaku.

''Ee..keluarga Semarang sampun rawuh. Pripun kabare?'' jawab Om Budi seraya bersalaman dan mempersilakan duduk.

Aku tidak langsung mengiyakan tetapi kubiarkan mataku menatap sekeliling ruangan tanpa memedulikan adik dan suamiku mengangkut barang-barang bawaan dari mobil. Terakhir aku datang ke rumah simbah sekitar lebaran dua tahun lalu. Sudah lama ternyata. Memang, sejak menikah aku harus pandai berbagi waktu untuk keluargaku dan keluarga suami, dan seringnya yang kukorbankan saat keluargaku berkunjung ke rumah simbah di Yogyakarta. Ada rasa kangen yang tiba-tiba menyelinap di hatiku.

Rumah simbah terbilang cukup lapang. Halamannya bisa memuat dua mobil dari Semarang dan Bandung, daerah rantau anak-anaknya. Ruang tamunya lebih tinggi dibanding ruang lainnya. Uniknya, tidak ada bangunan yang berbentuk kamar untuk tidur, hanya sekat dari kayu atau sketsel yang menandakan itu adalah ruang untuk beristirahat.

Rumah Simbah
Rumah yang lantainya dari campuran pasir dan semen itu sekarang sudah dikeramik meski hanya di bagian teras dan ruang tamunya saja. Foto simbah yang menempel di dinding masih terlihat, mengingatkan kepada siapa saja tentang si empunya rumah. Ketika memandang foto itu, dalam hati aku bergumam,

''Mbah, pripun kabare? Cucumu datang nih. Besok kita ketemu, Ya Mbah. Kula kangen.''

Simbahku
Ah, hampir saja butir bening di kelopak mataku menetes. Langsung saja aku menyekanya dan berbaur dengan ibuku di dapur.

Aku melewati ruangan yang dipisahkan dengan pintu kayu, ruang tengah antara dapur dan ruang tamu. Ketika menengok ke kanan, aku membatin diisi apa ya gudang di sana sekarang? Dulu simbah putri menyimpan hasil panen dan belanjaan di sana.

Dapur simbah masih memakai kayu, tidak berubah dari dulu. Ada meja dan kursi kecil di pojokan, tempat simbah kakung ngeteh dan merokok. Ada juga meja dan kursi panjang yang membelakangi tungku, tempat simbah kakung dhahar (makan). Kalau untuk yang lain, makannya tidak di meja makan tapi di tempat berbentuk persegi yang terbuat dari pasir dan semen, beralas tikar. Tempat itu tingginya sekitar 30 cm dari lantai dan ukurannya cukup besar. Saat makan, semua anak dan cucu simbah berkumpul di situ sambil duduk bersila mengitari hidangan yang disajikan di tengah. Makan muluk (tanpa sendok dan garpu) bersama-sama dan saling bercerita atau berebut lauk, rasanya seru sekali.

Biasanya, tempat tersebut akan beralih fungsi menjadi tempat tidur setelah makan malam. Tinggal diberi tikar lagi dan kasur, jadilah tempat tidur rame-rame.

Aku duduk di pinggir tempat makan itu. Sambil melepas penat, kubiarkan pikiranku berlari ke masa kecilku. Dulu, waktu aku masih kecil, simbah putri sering bercerita atau bernyanyi ala pemain ketoprak di depan anak dan cucunya. Suatu kali simbah menceritakan tentang pahitnya zaman penjajahan, kadang juga bercerita enggak jelas yang dikarang beliau sendiri.

Aku tak peduli pada isi ceritanya. Yang kuingat saat itu cara simbah melucu. Gerak tubuh simbah yang berjoget dan bernyanyi memonyongkan bibir sukses mengocok perut anak dan cucu sampai terbahak-bahak. Tertawanya bulikku sangat kencang sampai-sampai tetangga mendengarnya. Hal ini kami ketahui esok hari, ketika bermaafan keliling kampung. Tetangga tersebut akan bertanya, semalam cerita apa kok tertawanya terdengar sampai rumahnya.

Kerianganku berlibur di rumah simbah bertambah karena di masa itu aku masih bisa melihat kunang-kunang menerangi sawah di depan rumah simbah. Indah sekali. Sayapnya yang bercahaya menari-nari mengitari rumpun padi. Hewan-hewan itu bak primadona malam. Sayang, kunang-kunang sekarang tak bisa lagi dijumpai. Entah kemana sekarang mereka pergi, mengepakkan sayap cahaya mencari tempat yang layak untuk huni.

Sawah Depan Rumah Simbah
Pemandangan di Area Sawah Lainnya

Ajakan ibuku untuk makan malam membuyarkan lamunanku.

''Nok, enggak maem? Tuh suaminya disiapin makan,dong,'' begitu kira-kira ajakan ibuku dalam Bahasa Jawa yang kental.

''He..em. Buk, sekarang rumah ini sepi ya. Dulu kalau lebaran semua tumplek blek kumpul jadi satu, sekarang sepertinya susah, Ya Buk,'' jawabku kepada ibu yang sedang makan.

''Lha kan bulik sebelum puasa sudah ke sini, ikut nyadran,'' kata ibuku sambil mengunyah makanan.

Memang, sejak simbah sudah pergi semua, rumahnya menjadi sepi, apalagi kalau lebaran keluarga Semarang dan Bandung tidak bisa ketemu. Biasanya orang tuaku dan keluarga Bandung bertemu saat-saat tertentu saja, misalnya acara setahun, dua tahun, atau seribu hari untuk memperingati meninggalnya simbah. Kadang saudaraku yang di Bandung ikut acara nyadran sebelum puasa, yang diadakan masyarakat setempat di area makam. Kalau mereka datang di acara nyadran, seringnya mereka enggak mudik lagi saat lebaran.

Berhubung orang tuaku tinggal di Semarang, yang mana jaraknya ke Yogya lebih dekat dibanding Bandung, maka keluargaku yang sering pulang kampung, bermalam di Desa Cangkringan, Kabupaten Sleman. Bapakku sayang sekali dengan tempat kelahirannya yang dekat dengan Merapi itu.

Setelah malam itu, aku terbangun di pagi yang fitri. Tak banyak yang kulakukan untuk membantu merawat rumah simbah, yang kini mirip dengan markas itu. Hanya menyapu di teras dan ruang tamu agar terlihat bersih ketika ada tetangga atau kerabat datang. Menyapu sambil menikmati hangat mentari yang sinarnya menyilaukan dari sawah depan rumah simbah.

Aku bergegas menyelesaikan tugasku karena setelah sholat Ied nanti, aku akan bertemu dengan simbahku, di makam.

Tuhan, mungkin aku belum bisa membahagiakan orang-orang yang telah memberikan kehangatan di masa kecilku. Hanya doa yang kupanjatkan agar mereka dapat bahagia menjalani kehidupannya baik saat ini maupun nanti, saat kami semua tak abadi lagi.
<div style="overflow:auto; border: 5px solid #000000; margin: auto; padding: 3px; width: 90%; height: 300px; background-color: #00ffcc; text-align: left;">


Artikel ini diikutsertakan dalam A Place to Remember Give Away
<div style="overflow:auto; border: 5px solid #000000; margin: auto; padding: 3px; width: 90%; height: 300px; background-color: #00ffcc; text-align: left;">







13 comments
Baru-baru ini saya membaca sebuah running text tentang rencana penutupan Dolly di Surabaya. Sebenarnya rencana penutupan lokalisasi tersebut sudah lama, tetapi sejak era kepemimpinan Ibu Risma, rencana itu digalakkan kembali. Menurut kabar malah sebelum Ramadhan tahun ini, tempat tersebut akan ditutup.

Berbicara mengenai Dolly memang tidak ada habisnya. Kawasan pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya itu kabarnya termasuk lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Para wanita penghibur dipajang di dalam ruangan berdinding kaca, mirip etalase. 

Nama Dolly diambil dari nama noni keturunan Belanda, Dolly Van Der Mart. Perempuan itulah yang mengelola kawasan tersebut sejak zaman Belanda. Keturunan Dolly sampai sekarang masih di Surabaya, namun mereka sudah tidak mengelola bisnis tersebut. Kawasan Dolly makin lama makin berkembang sehingga tidak hanya menjadi lahan rejeki untuk para PSK tetapi juga masyarakat sekitarnya.

Rencananya tempat tersebut akan diproyeksikan menjadi sentra bisnis dan perdagangan. Memang, pemerintah setempat telah melakukan berbagai pendekatan dan pembinaan kepada warga yang tinggal di situ. Warga yang tinggal di Dolly diberi berbagai pelatihan ketrampilan. Dengan cara ini, diharapkan mereka dapat mencari rezeki yang lebih baik dan halal.

Tentu saja rencana penutupan lokalisasi ini berdampak besar baik dari sisi ekonomi dan sisi sosial. Dari sisi ekonomi, banyak warga yang bingung jika nanti mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya dengan baik karena selama ini mereka menggantungkan rezekinya di lokalisasi. Namun, yakinlah, jika kita mau berusaha maka selalu saja ada jalan untuk mendapatkan rezeki. Lalu, apakah masyarakat pernah berpikir akan dampak sosial yang diakibatkan?

Penutupan lokalisasi tentu akan berdampak sosial yang besar. Para PSK yang sebelumnya terwadahi di satu tempat, maka jika tempat itu ditutup, mereka tidak ada tempat bernaung lagi. Bisa saja, mereka yang belum mendapat rezeki akan berkeliaran dimana-mana. Bahkan dengan kemajuan teknologi saat ini, maka transaksi pemuas nafsu bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Coba bayangkan, jika mereka terinfeksi virus HIV/AIDS, maka berapa banyak orang yang akan tertular. Konon, adanya para PSK dikarenakan permintaan yang juga tak kalah besar dari pria berhidung loreng. Dan, sebagian besar pria tersebut tidak mau memakai kondom ketika jajan sembarangan.

Gabungan antara kemajuan teknologi dan menjamurnya bisnis hotel, spa, salon, pijat plus-plus membuat prostitusi tidak hanya terfokus pada satu tempat tetapi akan menyebar di mana-mana. Hal ini sangat berbahaya karena pemerintah akan sulit memantau perkembangan dan penyebaran penyakit kelamin, terutama HIV/AIDS, yang masih menjadi momok di masyarakat.

Para pelaku prostitusi ada karena permintaan untuk mereka juga ada. Maka tidak ada cara lain kecuali membentengi diri dan keluarga dengan ajaran agama yang kuat, agar dapat terhindar dari perbuatan yang tercela dan merugikan diri sendiri seperti sex bebas, zina, dan selingkuh, karena penularan penyakit kelamin dapat terjadi bila berhubungan badan dengan orang yang terinfeksi, meski hanya sekali.

Semoga saja rencana pemerintah untuk menutup lokalisasi Dolly dimudahkan berbagai pihak. Bagaimanapun, semua elemen turut berperan sesuai porsinya masing-masing. Sejatinya, tidak ada wanita yang mau melacur, mereka pasti ingin hidup bahagia bersama keluarganya.



*Informasi mengenai Dolly saya ambil dari sini






6 comments
Hayooo siapa yang enggak kenal doraemon?? Engga ada yang angkat tangan? Berarti kenal semua dong, ya *maksa ^.^

Ini sebenarnya cerita bersambung selama di Kawasaki. Setelah puas di Daishi Park, saya dan suami buru-buru ke stasiun Kawasaki karena rencananya mau ke museum Doraemon. Museum ini tergolong baru karena dibuka tahun 2011. Sebenarnya nama museum ini bukan Doraemon Museum melainkan Fujiko F. Fujio Museum, diambil dari pencipta Doraemon.

Karena inilah, di dalam museum tidak hanya Doraemon saja yang dipamerkan tetapi juga tokoh kartun ciptaan Fujiko F. Fujio lainnya seperti P-Man, dan ada lagi yang saya tidak tahu namanya.

Waktu berjalan menuju stasiun, kami berdua tak henti-hentinya tengak-tengok mencari Lawson sebab untuk dapat masuk ke museum ini, tiketnya hanya bisa dibeli di Lawson seluruh Jepang. Harga per tiket 1000 Yen. 

Deg-degan karena tidak ada Lawson sampai di St.Kawasaki Daishi. Kami takut kehabisan tiket lagi  karena pernah waktu pulang kerja, suami mampir beli tiket untuk kunjungan jam 10.00 ternyata habis. So, buat teman-teman yang pengen banget ke sana, ada baiknya jika beli jauh-jauh hari. Dilihat juga jam kunjungannya yang masih ada karena museum ini menyediakan kunjungan jam 10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00. Oia, museum Doraemon tutup setiap Selasa kecuali pas Golden Week (29 April - 5 Mei) dan Summer Holidays (20 Juli - 3 September).

Untunglah ketika di Kawasaki Keikyu, ada Lawson dan langsung deh beli 2 tiket. Belinya pakai mesin khusus dan semuanya berbahasa Jepang. Tentu saja kami minta tolong pegawai toko untuk membantu mengurus tiket. Karena sudah siang, kami membeli tiket kunjungan jam 16.00.

Mesin Untuk Beli Tiket

Setelah tiket di tangan, kami langsung ke St.Kawasaki. Suami mengajak jalan-jalan sebentar di sekitar stasiun. Bangunan di sekitarnya gedung-gedung pencakar langit. Di sekitar stasiun juga ada mall dan hall musik. Yang membuat takjub di sini yaitu adanya taman di atap mall. Tamannya lumayan lebar. Banyak anak-anak dan orang dewasa beristirahat di situ. Bahkan ada tempat berdoanya juga lho. Jadi jika lelah berbelanja, bisa istirahat dan berdoa di situ.

Taman di Roof Top
Istirahat di Taman

Bagaimana, takjub enggak? Ya sudah, kembali ke topik. Untuk sampai ke museum Doraemon, dari St.Kawasaki langsung ke Nambu Line, dan turun di St. Noborito. Keluar dari stasiun, naiklah bis yang gambarnya Doraemon. Ketika masuk bis, langsung menyerahkan uang ke pak sopir sebesar 210 Yen per orang.

Di dalam museum ini, pengunjung akan diberi alat semacam radio untuk mengetahui sejarah dan cerita yang ada. Radio ini terdiri dari berbagai bahasa antara lain Jepang, Inggris, Korea, dan China. Jadi teman-teman dapat melihat berbagai koleksi dan menikmati karya Fujiko F. Fujio sambil mendengarkan cerita melalui radio tersebut. 

Museum ini menceritakan kehidupan Fujiko F. Fujio dari kecil sampai beliau meninggal, memajang benda-benda miliknya yang digunakan untuk menggambar kartun, serta menampilkan karya-karya kartunnya yang terkenal itu. Di beberapa ruangan tertentu, ada peraturan yang harus ditaati pengunjung, diantaranya dilarang menggunakan kamera. Jangan khawatir, begitu di lantai 3, kita bebas berfoto ria.




Bioskop Doraemon juga ada di lantai ini. Film yang diputar merupakan cuplikan film Doraemon berbahasa Jepang. Selain itu, di tempat rekreasi ada kafe, toko suvenir dan miniatur dari benda-benda yang sering nongol di Doraemon. Jangan lupa untuk membeli dorayakinya, enak juga lho.





So, buat teman-teman yang mau ke Jepang, jangan lupa mampir ke Museum Doraemon, ya..






No comments


Oke, saya akan menulis jalan-jalan pada hari Sabtu ketiga bulan April di daerah Kawasaki. Sebelum jalan-jalan, saya dan suami biasa melakukan ritual googling mencari event dan tempat yang asyik untuk dikunjungi. Jadi, tidak sekedar jalan melihat taman atau museum saja tetapi kita juga melihat kegiatan yang sedang berlangsung. Seru lho kalau seperti ini soalnya selain daerah jajahan bertambah, tentu saja kita ikut dalam kemeriahan acaranya.

Kami pergi ke Kawasaki Daishi, yaitu salah satu daerah yang ada di Kawasaki. Tempat ini mempunyai kuil dan taman yang cantik. Pada waktu kami ke sana, bertepatan dengan acara Music Festival yang digelar secara rutin setiap tahun. Tahun ini memasuki festival yang ke-10.

Untuk sampai ke sana, tentunya kami naik kereta ke Sta.Kawasaki kemudian perjalanan bisa dilanjutkan dengan bis atau kereta lokal menuju Kawasaki Daishi. Berhubung di shuttle bis semua berhuruf Jepang dan takut kesasar akhirnya kami memilih naik kereta lokal dari St.Keikyu Kawasaki. Stasiun ini letaknya tidak jauh dari St.Kawasaki, tinggal menyebrang saja.

Tempat di Jepang memang unik, semakin terletak di daerah pinggiran, maka semakin kecil pula tulisan berhuruf biasa atau berbahasa Inggris. Hal ini juga terjadi ketika di St.Keikyu Kawasaki. Untuk mengakalinya kami mencocokkan huruf 'Kawasaki Daishi' pada peta dengan huruf kanji yang terpampang di dinding stasiun. Cara ini untuk mengetahui berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli tiket. Atau bisa juga bertanya kepada petugas yang sedang piket. 

Kami naik kereta Keikyu Daishi Line yang ada di line 3.  Tak butuh waktu lama karena Kawasaki Daishi hanya berjarak 3 stasiun dari Keikyu Kawasaki.

St.Kawasaki Daishi
Kawasaki tergolong kota yang kecil. Sepanjang jalan menuju kuil yang kami temui berjejer deretan toko yang menjual suvenir dan makanan. Kami akan ke Heikenji Temple dan Daishi Park karena letaknya berdekatan. 

Heikenji temple adalah salah satu kuil Budha yang ada di Daerah Kanto. Kuil ini dipercaya sebagai tempat untuk menolak bala dan mendatangkan kebahagiaan. Bangunannya unik dan ada lampion cukup besar di pintu gerbangnya. Penjual makanan yang ada di sekitarnya juga terkenal akan kue dan permennya yang enak.



Lampion di Gerbang

Pagoda  
#Daishi Park


Letak taman ini ada di belakang Heikenji Temple. Tamannya cukup luas karena ada lapangan tenis, baseball, kolam, dll. Menurut mbah google, di Daishi Park ternyata ada taman lagi namanya Shinshu-En, yang merupakan miniatur taman-taman di China. Sayang, kami tidak mampir ke sana waktu itu karena buru-buru. Sedih? Pasti. Tapi kami cukup terhibur dengan berbagai atraksi di taman ini.

Di Daishi Park ada panggung utama untuk acara musik dan tari kemudian di sekitarnya ada stand makanan serta puluhan stand yang memajang berbagai benda-benda khasnya. Saya yang semula underestimate untuk acara ini ternyata kagum.

Perpaduan tradisonal dan modern begitu kental di acara ini. Acara dibuka dengan sambutan dan iringan orang yang membawa patung atau sesajen. Mereka berjalan ke kiri dan kanan lalu ke belakang dengan hitungan dan aba-aba peluit dari pemimpin. Bajunya khas Jepang, baik laki-laki maupun wanita sama. Mereka memakai atasan abu-abau yang berlengan lebar dan bercelana pendek warna putih, serta memakai sepatu putih tipis khas Jepang. Mereka berarak dari taman menuju Heikenji Temple dan finish di taman lagi.


Arak-arakan Pembukaan


Setelah Finish


Acara dilanjutkan dengan tarian dan pertunjukan musik. Kalau untuk tarian, umumnya anak muda Jepang itu American minded, mereka menyukai musik hip hop dan melakukan break dance.


Anak-anak Menari Hip Hop
Keramaian juga tampak dari berbagai stand yang ada. Yang menarik di stand-stand ini, semua pengunjung terutama anak-anak bisa mencoba barang-barang yang dipamerkan. Sebut saja stand permainan tradisional, pengenalan hewan, simulasi pengenalan gempa, bahkan mereka juga bisa merasakan menjadi seorang pemadam kebakaran. Dengan cara ini, anak-anak akan dikenalkan tentang hal-hal di sekitar mereka dan pengenalan profesi atau cita-cita sedini mungkin.

Pengenalan Hewan 




Permainan Tradisional


Mencoba Sebagai Damkar
Tak hanya itu saja, di stand robot, para pengunjung juga dapat menjajal prototipe yang ada. Bahkan pameran mobil dan motor antik juga engga mau kalah, mereka pamer gagahnya mobil dan motor tua yang masih mereka rawat dengan baik. Asyiknya lagi, komunitas manga yang umumnya anak muda memakai kostum manga yang unik. Mereka berpencar di taman dan menghibur pengunjung terutama anak-anak. Terlihat anak-anak antusias sekali dengan kehadiran mereka, termasuk saya dan suami. Jarang-jarang kan di negri sendiri menemukan yang seperti ini.

Bermain Robot
 


Deretan Mobil Kuno

Di taman ini baik tua maupun muda mereka semua bergembira. Semua berkumpul jadi satu memberi hiburan yang berbeda-beda. Tak hanya sekedar hiburan, sebenarnya ada unsur pendidikan yang terselip terutama untuk anak-anak.  

Setelah cukup puas di Daishi Park, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Doraemon. Ceritanya ada di sini. Engga kalah seru lho karena kami belum memesan tiket, jadi agak terburu-buru.






















4 comments
Ramainya Asakusa, Sumida River, dan Tokyo Sky Tree saat musim semi tiba. Semua berkumpul dan menikmati hangatnya musim semi dan indahnya sakura.

Sumida River
Ramainya di Taman Sky Tree




5 comments

Siapa yang suka makan sushi? Tinggal di Jepang kalau belum menyicipi segarnya sushi di Pasar Tsukiji tentu belum afdol dong. Jalan-jalan ke pasar Tsukiji memang telah kami rencanakan sebelumnya. Rencananya, kami akan melihat proses pelelangan ikan di pasar yang tersohor itu.

Agar tidak terlambat, kami berangkat dari apartemen jam 4 pagi, sebelum subuh. Kami berjalan menembus dinginnya pagi menuju Sta.Kannai. Tapi jangan salah, meski pagi buta ternyata banyak juga warga Jepang yang sudah di stasiun, padahal itu hari Sabtu, hari dimana orang-orang libur bekerja.

Untuk sampai ke sana, kami naik kereta dari Sta.Kannai (Omiya Line) turun di Hamamatsucho, keluar pintu utara, lalu oper dengan subway Toei Line, turun di Sukijishijo.

Setelah itu, kami menuju pasar Tsukiji dengan tergopoh-gopoh karena waktu sudah menunjukkan  pukul 05.30. Saya mengamati aktivitas di sana. Meski masih pagi, pasar sudah ramai, bahkan di salah satu sudut banyak orang yang mengantri untuk makan sushi.

Pasar ini besar, banyak aktivitas di pasar ikan terbesar di dunia ini. Para pekerja sibuk mengangkat kardus berisi ikan, melakukan bongkar muat, dan hilir mudik dengan alat transportasi khusus yang memudahkan pekerjaan mereka. Meski besar dan sibuk, pasar ini sangat bersih dan tidak bau amis. Bahkan, saya tidak melihat kucing yang berseliweran di dalam pasar.


Aktivitas di Tsukiji
Ketika kami sampai di tempat lelang, ternyata lelangnya sudah tutup. Mereka tidak bisa menerima pengunjung lagi. Menurut informasi, lelang ikan dimulai sejak jam 3 pagi. Padahal kami berangkat jam 4 pagi. Kecewa? Pasti. Yaaah, sia-sia sudah pengorbanan kami untuk berangkat pagi. Tetapi kami tidak larut dalam kesedihan. Kami berkeliling pasar untuk mencari sushi buat sarapan.

Ketika berkeliling, beberapa kedai ada yang sudah buka, tapi banyak juga yang belum buka. Kami menemui salah satu kedai yang ramai banget. Jika ke sana, jangan langsung menuju ke salah satu tempat makan. Berkelilinglah dahulu, melihat-lihat harga dan menu yang ditawarkan. Berdasarkan observasi kami, beberapa kedai ada yang menjual sushi satu set saja (tidak menjual satuan) dan ada juga yang menjual satuan, harganya juga beda-beda. Salah masuk kedai, bisa-bisa tekor gara-gara sushi.


Antri Demi Sushi
Setelah berkeliling, ternyata kedai yang ramai tadi memang yang reasonable. Hal ini karena kedai tersebut juga menjual sushi secara satuan meski ada juga yang satu set. Harganyapun cukup terjangkau sekitar 300-800 Yen.


Menu



Nama Kedainya
Untuk makan di sana, kami harus antri dengan pengunjung lain, yang kebanyakan turis manca negara. Jika kita rombongan, maka untuk mendapatkan tempat duduk akan ditawarkan akan dipisah atau digabung. Jika rombongannya banyak, maka kita harus sabar menunggu kursi kosong sejumlah rombongan kita. Rata-rata yang makan di sini jumlah rombongannya tidak banyak, sekitar 2-3 orang. Ada juga yang makan seorang diri, malah lebih cepat dapat tempat duduknya.

Ketika duduk, kita langsung diberi ocha, kuah seafood isinya kerang kecil, dan tempat sushi yang isinya jahe. Jahe di sini diiris tipis-tipis, bentuknya mirip irisan ikan. Jahe berguna untuk menetralisir ikan mentah yang kita makan.


Sushi Segar


Sushi Enak dan Jahe

Setelah itu chef akan menawarkan sushi apa yang akan kami makan. Sushi yang disajikan di sini sangat segar dan enak. Tidak ada bau amis sama sekali. Wow, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata makan sushi di tempat ini. Benar-benar nikmat sekali. Dagingnya yang merah dipadu dengan saus yang lezat, hhhmmm bikin nambah sushi dan nambah lagi. Apalagi kulit ikan yang dibalutkan pada nasi, hhhmm enak sekali. Ada juga tamago (telur dadar) yang dibungkus nori. Hati-hati, norinya asin banget.
Tamago
Soal harga sebandinglah sama rasanya. Semakin banyak yang kita makan, semakin banyak pula pengeluaran. Uniknya, dalam satu perhitungan, chef akan memakai alat seperti mainan dari plastik, yang warnanya putih dan hijau serta ada angkanya. Misalnya kita memesan sushi 'A', maka alat tersebut akan diletakkan di sebelahnya, dan akan bertambah terus tumpukannya sampai kita selesai makan, kemudian diberikan ke kasir sebagai dasar perhitungan harga.

Memang benar kata orang, makan sushi di Pasar Tsukiji memang sensasinya luar biasa. Terbayar sudah perjuangan antri selama satu jam sebelum makan. Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan berhanami di Taman Ueno, ke Asakusa, dan melihat Sky Tree. Ceritanya ada di sini dan di sana.






8 comments

Engga salah itu judulnya? Masak rindu dengan pasar? Apa tidak ada tempat lain yang lebih bagus?

Hehe mungkin itu yang ada di benak teman-teman. Engga salah kok. Saya memang sedang rindu pada tempat dimana anak dan ibu berpetualang mencari barang dengan kepuasan menawar. Banyak lho manfaat dari berbelanja di pasar.

Ada dua pasar yang selalu saya ingat yakni pasar krempyeng yang dekat rumah dan Pasar Johar. Semuanya ada di Semarang, kota kelahiran saya.

# Pasar Krempyeng

Orang menyebutnya dengan pasar krempyeng. Mengapa disebut demikian? Karena pasar ini hanya buka sampai jam 12 siang. Terletak di daerah Semarang bawah, dekat dengan Pelabuhan Tanjung Emas. Pasarnya kecil, tidak sampai berlos-los jumlahnya. Sebagian pedagang malah berjualan di pinggir jalan sehingga membuat arus di lokasi itu agak tersendat di pagi hari, apalagi pasar krempyeng lokasinya dekat dengan puskesmas.

Dulu setiap hari Minggu saya selalu diajak ibu berbelanja di pasar untuk membeli stok sayur dan lauk terutama ikan. Maklum, ibuku bekerja sebagai pelayan masyarakat di salah satu rumah sakit di Semarang, jadi untuk keperluan dapur beliau selalu menyetok di kulkas. 

Kami berdua naik motor selama 5 menit untuk sampai di pasar krempyeng. Melewati gang demi gang dan bertegur sapa dengan tetangga membuat hati senang apalagi jika dibalas senyuman. Memang benar kata pepatah, senyum adalah sedekah yang paling mudah dan indah.

Karena seringnya berbelanja, tak heran jika ibu mempunyai pedagang langganan di pasar ini terutama di los ikan. Kalau membeli ikan, biasanya ibuku menghitung mau membeli berapa kilo dan kira-kira cukup untuk sehari apa tidak. Selain itu, membelinya juga berbagai jenis karena untuk stok beberapa hari. 

Yang saya suka dari ibu adalah kemampuannya dalam menawar. Pintar sekali beliau. Memang prosesnya tak singkat, karena ibu benar-benar lihai. Mulai dari tanya ikan apa, harganya per kilo berapa, kalau beli sekian kilo dapat harga berapa, terus ditawar, sampai ada kesepakatan. Jika hal ini tidak terjadi, ibuku akan berkeliling ke tempat lain dulu, tapi ujungnya balik lagi ke penjual tadi meski harganya harus dinaikkan sedikit. Memang ibu tak punya malu kalau urusan menawar di pasar, malah saya yang malu hehe.

Tidak hanya ikan. Daging ayam, bakso, tahu dan tempe sering juga mengisi ruang di kulkas kami. Kalau lauk yang ini sepertinya engga ditawar karena biasanya sudah harga pas.

Di pasar tradisonal, kalau engga jajan kudapan yang ndeso enggak afdol dong! Jika ingin jajan pasar, saya menuju ke penjual yang terletak di pinggir jalan, seberang los ikan. Ada getuk, cetot, tiwul, putu mayang, cantel, lopis, dll. Hhhhmmm nikmatnya kudapan-kudapan tersebut apalagi bila diberi parutan kelapa dan kinca (gula jawa yang dicairkan). Kalau masih lapar, di sebelahnya ada penjual nasi jagung berikut urap dan rempeyek ikan asinnya. 

Jika ingin minum jamu, mampirlah saya ke penjual yang terletak di dekat pintu masuk. Ibu yang memakai caping dan membawa dunak yang terbuat dari bambu serta kain jarik itulah ciri khasnya. Botol berisi cairan warna-warni namun kaya akan gizi dijual dengan harga yang cukup murah per gelasnya. Seringnya saya memesan kunyit asam dicampur cabe puyang. Rasanya asam agak pahit sedikit. Di akhir minum, biasanya pembeli mendapat jamu beras kencur sebagai penawar pahit.

Meskipun rumah kami sudah pindah di daerah atas enam tahun lalu, tetapi ibu tetap setia berbelanja ikan di pasar krempyeng. Biasanya diantar bapak karena saya sudah 'berpisah' dengan mereka. Hihi biarlah mereka pacaran di pasar.

# Pasar Johar 

Konon, menurut beberapa sumber, Pasar Johar merupakan pasar terbesar dan termodern di Asia Tenggara sekitar tahun 1930-an. Letaknya yang dekat dengan Masjid Besar Kauman dan berada di kawasan kota lama Semarang, menjadikan dua tempat ini sebagai cagar budaya.

Memasuki pasar yang penuh dengan nilai sejarah membuat saya kagum dengan bangunannya. Bangunannya kokoh dan artistik. Tampak pilar-pilar tinggi serupa jamur menyangga atap. Sayang, makin lama bangunan ini tidak terawat dengan baik. Warnanya kusam, banyak sampah, dan panas. Maka tak heran, jika musim hujan datang dapat dipastikan pasar ini selalu banjir. 

Sumber dari sini
Pasar ini sangat lengkap karena menjual aneka dagangan mulai baju, sayuran, daging, ikan, perlengkapan salon, perlengkapan menikah, batik, sampai buku bekas juga ada. Mau mencari apa saja ada di sini.

Di Pasar Johar, biasanya ibu mengajakku untuk membeli perlengkapan salon, kain batik dan berbagai baju untuk dijual kembali atau untuk perlengkapan lebaran. Saya akui, ibu memang ulet. Selain bergantung pada gaji bulanan, beliau juga mengais rejeki dengan membuka rias pengantin serta jualan aneka baju dan kain batik.

Kalau batik ibu membeli di Toko Djakarta atau penjual langganan di salah satu los. Kalau  perlengkapan salon di Toko Kris atau Candra. Biyuh-biyuh, kalau membeli batik di Toko Djakarta harus sabar karena ramenyaaa. Toko ini memang legendaris karena sudah puluhan tahun. Saat ini, si pemilik membuka cabang di daerah Srondol namanya Toko Jayakarta.

Waspadalah jika berbelanja di sini. Katanya banyak pencopet jadi barang berharga sebaiknya dibawa dengan hati-hati. Jika menawar, tawarlah harga separo lebih, jika tidak boleh berpura-puralah berjalan ke tempat lain dulu. Jika beruntung, anda akan dipanggil lagi tetapi jika tidak berarti memang harganya belum masuk perhitungan mereka, naikkanlah sedikit.

Saya sering tertegun melihat tingkah laku manusia di tempat ini. Misalnya para penjual yang selalu memakai kode bila mereka berbicara masalah harga dengan pegawainya. Saya tertawa sendiri kalau mendengarnya. Ada juga gerakan pegawai toko yang cekatan merapikan barang atau bahkan melihat mereka yang mengantuk menunggu pembeli datang, dan masih banyak lagi.

Yang membuat saya iba adalah para kuli yang berjuang untuk keluarganya. Tak hanya lelaki, di pasar ini kuli perempuan yang umurnya paruh baya juga banyak ditemui. Mereka biasanya berasal dari wilayah sekitar Semarang seperti Demak, Kendal, dan Boja. Yang lelaki umumnya kuli toko yaitu mereka yang mengangkut barang dari atau ke toko tempat mereka bekerja. Sedangkan yang perempuan umumnya kuli yang menawarkan jasa ke pengunjung untuk dibawakan belanjaannya, biasanya mereka membawa jarik untuk menggendong barang. Sungguh berat kehidupan mereka, apakah seberat beban yang dipanggulnya? Entahlah.

Jika lelah berbelanja pastinya kami melepas penat di Bakso Surabaya atau Gudeg Bu Tini yang tersohor itu. Tempatnya sederhana, beralas tanah dengan meja dan kursi panjang seperti warteg. Untuk urusan minum, saya selalu membeli es gempol di sudut pasar, yang penjualnya gemuk. Sedangkan ibu lebih suka minum teh anget manis. Nikmatnya makan di pasar apalagi bersama ibu. Sungguh.

Seiring berjalannya waktu ternyata saya merasakan manfaat berbelanja dengan ibu, diantaranya :

1. Kami menjadi semakin dekat karena dengan berbelanja bersama ada emosional yang terjalin, kami merasakan capek dan senang bersama.

2. Komunikasi diantara kami juga semakin akrab. Hal ini dikarenakan seringnya mengobrol bersama dan meminta pertimbangan satu sama lain ketika memutuskan untuk membeli barang.

3. Saya mengetahui cara menawar yang baik. Jangan ragu untuk menawar separo harga lebih dulu. Hal ini ternyata tidak berlaku jika saya berbelanja di Tanah Abang tetapi berlaku jika berbelanja di ITC.

Tak hanya itu, saya juga dapat mengenal berbagai jajanan tradisional yang kini jarang ditemui serta lebih menghargai setiap profesi orang lain. Karena tak mudah untuk mencukupi kebutuhan hidup di jaman sekarang yang membutuhkan peluh dan tenaga tak sedikit.

Saya senang dengan pasar karena banyaknya aktivitas yang terjadi di sana. Menyaksikan transaksi jual beli, menunggu antri dilayani, atau melihat beratnya beban para kuli yang membawa barang pesanan, semua beradegan sesuai perannya masing-masing. Meski bau, becek, kotor, panas, tetapi tempat ini memberikan penghidupan bagi banyak orang. Banyak cerita yang terjadi di sana. Ada rindu saya di sana. Berbagai manusia dengan segala rupa dan aktivitasnya berjuang hanya untuk satu, yakni : HIDUP!!




5 comments


Hidup di era 90-an yang kala itu masih ada Melisa, Bondan Prakoso, Enno Lerian, Trio Kwek-kwek dan teman-temannya. Acara anak-anak kala itu masih banyak.

Hidup di era 90-an yang doeloe ada anak mas, krip-krip, roti prima, tic-tic, coklat jago, dan jajanan lainnya. Jajanan dulu yang tak mengenal boraks, pewarna berbahaya, dan makanan rekondisi.

Hidup di era 90-an yang musiknya diramaikan Base Jam, Humania, ME, Andre Hehanusa, Fatur-Nadila, Bening, NEO, Gigi, dan lainnya. Musiknya masih enak dinikmati sampai sekarang.

Sambil beraktivitas pagi, yuk bernostalgia di era 90-an. Hhhmmm, era 90-an selalu di hati.

Bukan bermaksud promo, bahkan saya tidak mengenal pemiliknya. Saya pernah pesan online jajanan krip-krip dan coklat jago di Olshop 'Sobat Ngemil'. Suenengnyaaaa ketemu jajanan masa kecil. Jika teman-teman ingin menikmati jajanan jadoel lagi, silakan saja googling, siapa tahu ketemu toko yang lain. 

Nih, kalau mau mendengarkan kumpulan lagu di era 90.


https://www.youtube.com/watch?v=KGhwYEiBmRw&list=PL7197BD5782846A62 


Bagiku era 90-an memang engga ada matinya, endeeeeeessssss :)



-Sabtu pagi kala memasak ditemani musik 90-an-
3 comments
Tidak seperti keluarga muda lainnya yang lebih suka tinggal di komplek, saya dan suami memilih tinggal di kampung. Alasannya karena kami bisa memiliki tanah yang agak lapang. Alhamdulillah kami bisa memilikinya dan untuk membangunnya memang butuh usaha yang luar biasa. Kami benar-benar merasakan betapa susahnya untuk memiliki sebuah rumah meski itu semua kami lakukan dengan KPR.
2 comments
Masakan Indonesia salah satu yang paling saya kangeni di sini. Maklum, lidah tidak bisa lepas dari makanan dan bumbu negeri sendiri. Masakan atau makanan ndeso justru yang paling bikin kangen seperti ikan asin, sambal terasi, tempe, tumis oncom-leunca yang pedas, dan tumis kangkung pakai tempe busuk. Masakan atau makanan tersebut menurut saya justru Indonesia banget.

Ketika bilang ke suami kalau saya kangen dengan hal-hal tadi, suami mengajak saya ke restoran yang menjual masakan Indonesia, Restoran Surabaya namanya. Karena saya tinggal di Yokohama, baru tempat itu yang saya ketahui sebab berada di lantai 5 World Porter, mall yang tidak jauh dari arena Cosmo World, tepatnya di daerah Sakuragicho.
Saya naik kereta dari Sta.Kannai ke Sta.Sakuragicho seorang diri karena janjian dengan suami. Beliau dari kantor tinggal jalan kaki ke stasiun tersebut.

Dari Sta.Sakuragicho menuju ke World Porter cukup berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Kami menikmati jalan-jalan sore tersebut sambil melihat bunga sakura yang ada di taman, melewati Cosmo World, dan berfoto di taman sekitar area Pacifico yang dekat dengan laut.


Arena Cosmo World




Restoran Surabaya ini ternyata milik orang Jepang, tetapi chef dan pegawainya orang Indonesia. Selain di Yokohama, restoran ini mempunyai cabang yang lumayan banyak antara lain di daerah Odaiba, Chofu, Urawa, dan Kouhoku. 

Bentuk bangunan luarnya cukup menarik dengan ornamen patung Bali. Restoran ini cukup besar. Saat masuk kami disambut dengan iringan musik Bali yang khas. Wah, serasa di Indonesia. Penataan ruangnya pun cukup bagus, simple, dengan kursi dan meja kayu khas Indonesia.
Pengunjung yang datang kebanyakan orang dewasa yang baru pulang kerja (karena kami ke sana hari Jumat). Sepertinya anak muda Jepang jarang yang datang ke sini.


Di Depan Restoran
Masalah harga jangan ditanya, pastilah jauh dibandingkan di negeri asalnya. Memang, kalau urusan makan di sini, jangan dikurskan, nanti malah engga menikmati makanannya lho. Waktu itu saya pesan mie ayam dan tempe goreng. Suami pesan sop buntut. Untuk penyajiannya sudah beradaptasi dengan Jepang yakni ketika pengunjung duduk tak lama kemudian diberi suguhan air es. Lumayanlah untuk pengiritan karena kami tidak perlu memesan minuman.
Porsi mie ayamnya besar ditambah bakso ayam sebanyak 3-4 butir. Karena besar, mie ayam bisa dimakan oleh dua orang. Sedangkan tempe gorengnya satu porsi isi enam ditambah sambal dabu-dabu. Kalau sop buntut porsinya kecil.

Harga Mie Ayamnya Jika Dikurskan Bikin Emosi :)
Tempe Goreng
Porsi Mie Ayam

Urusan rasa, jelas masih mantap masakan aslinya. Menurut saya, bumbunya kurang nendang, masakannya kurang panas, sambalnya kurang pedas, dan sambalnya dingin. Tempenya rasanya aneh, kebanyakan tepung, jadi kurang terasa. Untuk mengobati kerinduan akan masakan Indonesia, restoran ini cukup memuaskan. Bagaimanapun, yang asli tidak pernah bohong hehe. Saya cinta masakan Indonesia.




No comments


April dan kedewasaan

April dan kebahagiaan

April dan pengalaman

April dan perjuangan

April dan harapan



Bertambah dalam kedewasaan

Bertambah dalam kebahagiaan

Bertambah dalam pengalaman

Bertambah dalam perjuangan

Bertambah 'tuk mencapai harapan




2 comments
 
Bunga Sakura
Tidak lengkap rasanya kalau di Jepang belum melihat bunga sakura yang menjadi simbol negri ini. Bunga sakura merupakan bunga nasional Jepang yang mekar pada musim semi, sekitar awal April hingga akhir April. Sakura menjadi simbol penting yang diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, dan kematian. Bunga ini juga menjadi simbol untuk mengeksperesikan ikatan antarmanusia, keberanian, kesedihan, dan kegembiraan. Bahkan si cantik ini menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal.

Pohon sakura berbunga setahun sekali. Yang menarik adalah waktu mekarnya yang hanya 1 sampai 2 minggu saja dalam setahun. Jika mekar, sakura cantik sekali dan warna bunganya tergantung pada spesiesnya, ada yang berwarna putih dengan sedikit warna merah jambu, kuning muda, merah jambu, hijau muda atau merah menyala. 


Sakura yang Cantik
Sebagian besar jenis pohon sakura yang tersebar di Jepang adalah jenis someiyoshino yang merupakan hasil persilangan pohon sakura di zaman Edo akhir, sehingga kebanyakan orang hanya mengenal someiyoshino (yang merupakan salah satu jenis sakura) sebagai sakura. Ciri khas sakura jenis ini adalah bunganya lebih dahulu mekar sebelum daunnya, dan hanya dapat bertahan kurang lebih 7 sampai 10 hari dihitung mulai dari kuncup bunga terbuka hingga bunga mulai rontok.

Pohon sakura menghasilkan buah yang dikenal sebagai buah ceri (bahasa Jepang: sakuranbo). Walaupun bentuknya hampir serupa dengan buah ceri kemasan kaleng, buah ceri yang dihasilkan pohon sakura ukurannya kecil-kecil dan rasanya tidak enak sehingga tidak dikonsumsi. Pohon sakura yang menghasilkan buah ceri untuk keperluan konsumsi umumnya tidak untuk dinikmati bunganya dan hanya ditanam di perkebunan.

Daun, bunga, ranting, dan kuncup sakura juga bermanfaat. Daun dan bunga sakura yang sudah direndam di dalam air garam digunakan untuk bahan makanan karena wanginya yang harum. Daun sakura dapat digunakan untuk membungkus kue mochi yang disebut sakura mochi. Selain itu ada es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Tak hanya itu, bunga sakura juga dapat digunakan sebagai teh. Bahkan ranting dan kuncup bunga sakura digunakan sebagai bahan pewarna alami.

Karena keunikan dan keindahannya inilah maka masyarakat Jepang sangat antusias menyambut dan merayakan mekarnya bunga sakura. Mereka akan piknik beramai-ramai baik bersama keluarga, sahabat, teman sekolah, kelompok organisasi maupun perusahaan. Acara perayaan ini dinamakan hanami. 

Pada saat hanami mereka akan berkumpul di bawah rindangnya pohon sakura. Mereka umumnya membawa makanan sendiri dari rumah atau membeli dari pedagang makanan yang ada di taman. Karena di kebun, mereka juga membawa tikar atau alas yang digelar di sepanjang jalan di bawah pohon sakura. Taman Ueno merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi untuk hanami.



Hanami di Taman Ueno
Taman Ueno terletak di Tokyo, sekitar tujuh menit dari stasiun Tokyo. Taman ini merupakan salah satu taman yang terkenal dan terbesar di Jepang. Di dalam Taman Ueno ada wahana permainan, kebun binatang, kuil, danau, Science Museum, Tokyo National Museum dan beberapa museum seni lainnya.

Pada saat kami ke Ueno ramainya luar biasa karena ini merupakan minggu pertama di bulan April atau puncak mekarnya bunga sakura. Banyak sekali alas yang bertebaran di bawah pohon sakura. Masyarakat Jepang berkumpul, makan, minum, dan tertawa bersama. Pengunjung juga bisa membeli makanan dan minuman yang dijual di sekitar taman atau di dalam taman. Tak hanya itu saja, aksi musisi jalanan juga meramaikan acara ini. Sungguh ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan di musim semi. 


Keramaian Ueno di Salah Satu Sudut
Kami sangat menikmati semua yang ada di taman tersebut dari indahnya bunga sakura, hiruk pikuknya pengunjung, tertawanya mereka saat berkumpul, asyiknya turis yang berfoto, nikmatnya kuliner yang ditawarkan, aksi musisi jalanan, sampai lucunya ikan dan burung yang saling berebutan makanan. Kami juga ditawari untuk berhanami oleh kumpulan kakek di salah sudut taman. Wah senangnya, kami dijamu minum teh dan diberi onigiri serta berkanpai (bersulang) bersama. Secara tidak sengaja kami menemukan turis dari China yang melamar kekasihnya di tengah jalan dengan berlatar sakura dan disaksikan orang-orang yang berlalu lalang. Puluhan tempat sampah juga telah disediakan untuk menampung sampah yang menggunung dari pengunjung dan peserta hanami. Berikut saya abadikan beberapa momen tersebut.
Diajak Hanami Oleh Kakek Jepang :)
Musisi di Taman Ueno 
Kumpulan Sakura di Taman Ueno
 
Itu Tunangan atau Nembak Ya? 
Danau di Taman Ueno


Tempat Sampah untuk Hanami
Saya sangat kagum dengan masyarakat Jepang yang masih mempertahankan tradisi sederhana ini meski zaman sudah modern. Kemajuan teknologi tak lantas menggeser budaya yang telah mereka lakukan selama puluhan atau mungkin ratusan tahun. Mereka tetap memilih berkumpul dan bersantai bersama di bawah pohon sakura sambil menikmati keindahannya meskipun bisa saja mereka berkumpul di tempat yang lebih modern seperti mall, kafe, atau tempat karaoke. Perayaan ini mungkin tak kan kita jumpai di tempat manapun sehingga hal ini juga menjadi daya tarik wisata tersendiri di Jepang.


*Sumber tentang bunga sakura saya ambil dari sini http://id.wikipedia.org/wiki/Sakura
*Semua foto adalah dokumen pribadi