10 comments
Ceilah judulnya sok-sokan dewasa aja nih, hahaha. Padahal ya balik lagi isinya bakal curhat semua. Kalau ngomongin tentang hubungan pertemanan rasanya complicated.
8 comments
Hari Selasa, seminggu yang lalu..

Hati saya masih terasa sesak dan sedih jika mengingat kejadian ini. Sebagai migran, saya sadar untuk selalu siap dengan segala risiko yang terjadi.

Cerita yang akan saya tulis mungkin bisa diambil hikmahnya. Tentang pemakaman muslim di Jepang.

4 comments
Halo, adakah yang masih membaca tentang baby program di blog ini?

Yuk, ngomongin baby program lagi.
10 comments
Hah, ada orang minta-minta di Jepang?

Pasti teman-teman pada heran, ya. Padahal Jepang kan termasuk negara yang maju dan makmur. Jadi kelihatan banget hingar bingarnya di luar. Seakan-akan hal ini kontras dengan apa yang dilihat masyarakat selama ini.

Hm, saya mau cerita tentang kejadian yang pernah kami alami. Yak, maksudnya saya dan pak suami pernah ketemu sama orang minta-minta di Jepang.

4 comments
Uti adalah panggilan untuk ibu saya. Sejak punya cucu, beliau dipanggil Uti oleh cucu-cucunya. Kalau di Jawa, panggilan tersebut cukup populer, yang berasal dari eyang/simbah putri. Biar kekinian dan nggak terlalu panjang, biasanya cukup dipanggil Uti.

Beberapa hari yang lalu, Uti WA saya. Beliau mengirim saya beberapa hasil karyanya. Tiap selesai bekerja, beliau sering ngasih kabar dan foto-foto riasnya.

2 comments
Saya suka sekali mendengarkan podcast-nya Deddy Corbuzier. Dahsyat banget podcast-nya. Paket komplit, dah!

Podcast-nya nggak dibikin asal-asalan. Kontennya dibuat secara profesional. Saya yakin tim di balik layarnya keren banget.

Mulai dari pemilihan bintang tamu, kontennya yang berbobot sampai lay out ruangannya yang simple tapi bagus. Ah, suka banget. Betah deh saya mendengarkan obrolan-obrolannya.

8 comments
Emang masih ada yang baca blog?
Dapat berapa duit dari blog?
Blog kok isinya sponsor melulu?

Akhir-akhir ini saya sering banget dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bahkan pertanyaan terakhir sering saya sebutkan dalam hati ketika membuka daftar update-an blog yang saya ikuti. Saya merasa resah ketika ada hal yang sepertinya agak kurang pas atau justru terlalu berlebihan. Tapi ini semua tergantung dari sudut pandang masing-masing orang sih, nggak bisa dipukul rata.
No comments
Halo, semua?

Ada yang kangen sama blog ini nggak sih?

Hahaha, pede abis ya.

Sudah dua bulan nggak ngeblog, rasanya kangeeen banget. Kesibukan mengurus anak dan kehidupan di dunia nyata membuat saya cepat lelah dan memilih leyeh-leyeh sambil skrol dan skrol teruuuss, hahaha.

Bikin postingan satu aja nggak selesai-selesai padahal udah nyicil bikin draftnya lho. Jadinya blog nggak keurus.

Curhat lagi, yuk.
9 comments
Saya suka banget mengamati orang. Nggak yang kepo atau gimana, ya. Suka aja mengamati hal-hal kecil yang ada di sekitar. Apalagi mengamati hal-hal yang jarang atau belum pernah saya jumpai.

Sebetulnya melihat kehidupan di Jepang tuh asyik banget karena budaya mereka yang beda dengan Indonesia. Oke, saya nggak akan membandingkan karena masing-masing punya keunikan sendiri.

Kehidupan di Jepang pun nggak selalu yang enak-enak aja, kok. Ada juga yang bikin melas. Di mana-mana pasti ada enak dan nggak enaknya, kan?

Kali ini saya mau cerita tentang kurir jalan kaki aja ya. Apalah ini bahasanya, hahaha.

4 comments
Lama banget nggak nulis tentang Depok. Kangen juga sama kota ini meski macet di mana-mana, hahaha. Bagaimana pun Depok adalah rumah kedua saya. Karena keluarga kecil saya tinggal di kota ini.

Saya tertarik menulis tentang mobil dan garasi karena beberapa hari lalu baca berita di portal online yang menyebutkan bahwa Pemkot Depok akan mengeluarkan Perda tentang hal ini. Inti dari Perda tersebut adalah kalau punya mobil ya harus punya garasi.

Sebegitu pentingkah aturan punya garasi ini sehingga sampai dibuatkan Perda?
6 comments
Jadi gini, pak suami kan dinas di Jepang statusnya single bukan family status. Artinya, dapat apartemen untuk single jadi tampak mungil saat ketambahan saya dan sinok. Selain itu, jika ada keluarga yang datang ke Jepang, tiket pesawat ditanggung sendiri. Pihak kantor hanya memfasilitasi pembuatan surat menyurat yang diperlukan.

Kalau dipikir dengan statusnya yang bukan family, saya dan sinok nggak dapat apa-apa kan ya. Kenyataannya malah saya dan sinok mendapat hak layaknya warga Jepang. Alhamdulillah pemerintah Jepang baiiikkk banget. Saya dan sinok dimudahkan segala urusan selama tinggal di sini.


Kabar baiknya lagi, saya nggak nyangka kalau sinok malah dapat tunjangan anak selama hidup di Jepang. Yes, TUNJANGAN ANAK TIAP BULAN. Alhamdulillah, sesuatu banget kan. Mamak langsung semangat untuk hidup di Jepang, hahaha.

2 comments

Kemarin saat leyeh-leyeh, saya merasakan gempa yang lumayan kencang. Perabotan dapur pada goyang. Apartemen yang saya tempati bergoyang. Kejadian ini lumayan lama. Yang terpikir saat itu adalah sinok.

Saya segera lari menuju tempat tidurnya dan memastikan barang-barang yang ada di dekatnya aman, nggak jatuh menimpa sinok.

Bila terjadi gempa di Jepang, saya seringnya diam di apartemen. Merapal doa sebisanya dan berusaha tetap tenang. Selain itu, saya biasanya nengok keluar apartemen, melihat reaksi tetangga apartemen sebelah gimana. Tapi kemarin saya cuma diam aja menunggu sinok yang tertidur lelap.

Hm, emang sih di Jepang sering banget terjadi gempa. Dulu pas dinas pertama, pernah juga ngalami gempa yang cukup kencang. Kata tetangga sebelah, orang-orang India pada keluar apartemen saking takutnya.
2 comments
Akhir tahun 2017 saya dan pak suami jalan-jalan ke Bandung. Tujuan ke Bandung mau silaturahmi dengan keluarga besar saya yang ada di sana. Selain itu, saya dan pak suami pengen menikmati malam pergantian tahun di kota Bandung.

Saya dan pak suami menginap semalam di Air BnB yang lokasinya dekat dengan Gedung Sate. Jarak dari penginapan ke Gedung Sate nggak jauh. Cukup jalan kaki sekitar 10 menit aja. Jadi kami memutuskan melihat pesta kembang api di Gedung Sate.

Selama menuju ke Gedung Sate, banyak sekali pedagang yang berjualan. Mereka tak henti-hentinya menawarkan dagangan. Ada nasi ayam, sosis bakar, mie instant, dll. Saya cuma lirik-lirik aja. Nggak beli karena udah kenyang dan nggak niat jajan.

Tahu sendiri kan kalau malam tahun baru ramenya kayak apa. Jalanan macet karena orang-orang mau tahun baruan. Saya aja ngeri kalau jalan di keramaian gitu. Kalau misal terjadi hal-hal yang nggak diinginkan, cara kaburnya gimana? Jalanan sampai macet cet nggak gerak sama sekali.

4 comments
Menjelang lebaran saya melakukan introspeksi selama ramadan. Hal-hal apa yang sudah saya lakukan dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan pribadi.

Jujur aja, ramadan tahun ini saya keok. Beda banget dengan ramadan tahun lalu. Ramadan tahun lalu meski lagi hamil, saya masih bisa puasa. Bolongnya cuma 2 hari. Sedangkan ramadan tahun ini saya puasa cuma 4 hari. Selebihnya nggak puasa sama sekali. Hal ini dikarenakan saya masih menyusui.

Udah nggak puasa, ibadah yang lain juga standar banget. Duh, Gusti, nyuwun ngapura. Saya merasa bahwa kecanduan pada media sosial yang membuat saya begini.

Install app beberapa media sosial di hape tujuannya supaya nggak kudet kalau ada info dari grup komunitas yang saya ikuti. Setelah install kenyataannya malah lain. Bukannya mengikuti update kegiatan di komunitas malah sekrol nggak karu-karuan. Dari yang awalnya sekrol timeline teman jadi merambah ke akun-akun yang nggak jelas, hahaha. Kepo sana kepo sini, mantengin timeline dan akhirnya kerjaan rumah jadi berantakan.

Siapa yang begitu juga? *nyari teman, hahaha.

Pixabay 

3 comments
Disclaimer dulu ya: ini bukan postingan berbayar lho. Saya menulis ini karena pengen sharing aja. Siapa tahu ada yang mau download app-nya dan bikin ngeblognya makin asyik lewat hape.^-^

Kegiatan ngeblog saya makin lama makin turun. Tiap tahun jumlah postingan bukannya tambah tapi malah sedikit. Awal-awal ngeblog sih rajin banget. Setahun bisa posting sampai ratusan. Makin lama kok males, hahaha. Hm, teman-teman juga ngerasain juga, nggak?

Alhamdulillah banyak yang mampir ke blog ini karena tulisan organik bukan yang berbayar. Jadi saya yakin di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan informasi sebagai acuan sebelum melakukan sesuatu. Entah mau beli apa, traveling, nyari info di kota tertentu, dll. Seneng banget kalau ada yang sampai email meski sekadar curhat atau nanya-nanya hal yang saya tulis.


Akhir-akhir ini saya ngeblog pakai hape. Alasannya biar lebih praktis. Maklumlah, sebagai mamak baru saya harus gercep kalau tiba-tiba anak nangis. Kan repot kalau misal ngetik di laptop atau desktop. Dikit-dikit shutdown malah membuat peralatan tersebut rusak.

No comments
Postingan ini saya buat karena geli mendengar cerita pak suami. Hhmm, kok ya sampai segitunya ada yang nanya soal beras halal.

Biar enak, teman pak suami disebut Pak Hamdan aja, ya. Ini nama samaran, kok.

10 comments
Belum lama saya tinggal di Jepang. Tepatnya bulan April, saya dan sinok menyusul pak suami yang udah tinggal duluan di sini.

Saya tinggal di Yokohama (lagi) karena kantor pak suami ada di sini. Tempat tinggal kali ini sama seperti dinas yang pertama. Tinggal di apartemen yang mungil sekali, hahaha.

2 comments
Yeay, akhirnya blog ini templatenya baru.

Salah satu hal yang penting dalam blogging adalah tampilan blog itu sendiri. Tampilan blog yang menarik dan memudahkan pembaca tentu saja bikin betah berlama-lama main di blog.

Dulu banget tampilan blog ini norak. Kerlap-kerlip berwarna pink dan ada tulisan pi23tz, hahaha.

Maklum, dulu saya masih baru banget di dunia blogging jadi nggak tahu apa-apa. Setelah ikut komunitas dan mendapat ilmu dari sana-sini, pelan-pelan tampilan blog saya perbaiki meski belum menarik.

6 comments
Dulu kayaknya saya tipe orang yang ekstrovert. Gampang banget cerita ke orang yang baru dikenal. Cerita hal-hal nggak penting yang nggak semua orang harus tahu.

Inget banget nih saat mau ke Jepang tahun 2014 lalu. Saya ketemu dosen UI yang sudah senior dan mau menghadiri acara di Jepang.

Nah, baru ketemu orang yang baru dikenal saya udah cerita macem-macem. Kuliah, ke Jepang ngapain, belum punya anak (saat itu), dll.

Dosennya suka ngobrol juga sih jadi kami menghabiskan waktu boarding buat cerita pengalaman masing-masing.

Tapi makin ke sini saya kok rasanya makin pendiam ya. Hahaha.

Gimana ya buat menjelaskannya?

Hm, jadi sekarang saya lebih suka cerita ke orang-orang yang saya kenal akrab. Kalo nggak akrab ya diam aja. Seringnya sih saya bakal ngomong kalau ditanya duluan.

Dan yang paling berubah yaitu saya menjaga privasi dengan baik. Nggak asal ngomong kayak dulu. Hal-hal yang nggak perlu orang tahu, nggak bakal saya ceritain secara gamblang lagi.

Nggak tahu kenapa kok sekarang agak pendiam, hahaha.

Yah, mungkin seiring bertambahnya umur kali ya jadi saya banyak belajar dari pengalaman. Banyak banget peristiwa yang bikin saya akhirnya memilih jalan hidup seperti sekarang.

Nyesel?

Nggak lah.

Saya justru bahagia dengan pilihan hidup seperti ini.

Dari Pixabay 


No comments
Halo, lama ya nggak ngeblog. Kangen banget nulis di blog. Niat bikin draft sih udah ada tapi tiap ngetik beberapa kalimat ketunda karena Sinok nangis. Abis itu mood buat ngedraft lagi udah ga ada, huhuhu.

Benar kata orang, kalau udah punya anak waktu buat me time emang dikit. Dan saya merasakan banget momen ini, hahaha.

Nggak papa lah ya. Semua akan saya syukuri dan lakukan dengan baik.

Oia, saya saat ini tinggal di Jepang, tepatnya di Kannai, Yokohama. Ikut bapake dinas. Alhamdulillah, saya bisa balik lagi di sini.

Daerah Sakuragicho, ikonnya Yokohama


7 comments
Entah kenapa saya dari dulu gampang banget nangis. Beneran gampang nangis.

Baca berita tentang cerita sedih, nangis. Ada temen curhat cerita sedih, ikutan mewek. Apalagi kalau nonton film yang bikin mewek, bisa banjir, hahaha. Terus abis itu keluar bioskop malu ama mba-mba yang jaga bioskop, haha.

Saya masih inget banget, dulu pas SMP nonton Air Bud aja nangis. Padahal kan ceritanya ga sedih-sedih amat. Tapi lihat perpisahan anak dengan si anjing kesayangan, saya nangis.

Terus pas nonton Stand By Me Doraemon nangis dong ah. Masak lihat perpisahan Nobita dengan Doraemon yang dramatis nggak nangis sih, hahaha.
8 comments
Sudah 1,5 bulan saya tinggal bersama orangtua di Semarang. Tepatnya saya dan sinok ngungsi karena ditinggal dinas pak suami.


Waktu tahu bakal mau tinggal bersama orangtua lagi, agak gimana gitu.

Soalnya dari awal nikah udah diboyong pak suami ke Jakarta meski jadi kontraktor dulu. Alhamdulillah akhirnya kami bisa tinggal di rumah sendiri di Depok.


Tinggal bersama orangtua setelah menikah rasanya beda dibanding waktu masih gadis. Yang kerasa banget tuh saya sering ewuh sama orangtua. Padahal orangtua sendiri lho bukan mertua.

Kalau di rumah sendiri kan kita bisa bebas mau ngapain aja dan mau beli apa aja. Tapi karena di rumah orangtua jadinya kurang leluasa aja.
9 comments
Akhir-akhir ini kayaknya makin jarang ya blog yang isinya curhat. Blogger curhat pada ke mana? 

Ehm, ada sih yang masih eksis. Beberapa dari mereka banyak juga yang saya baca tapi jarang ninggalin komen, hahaha. 

Makin ke sini saya merasa kok blog yang berisi curhat atau cerita personal makin dikit aja. Emang sih tiap orang punya gaya nulis dan tujuan ngeblog yang berbeda. Tapi kebanyakan berawal dari blog curhat kan ya. 

Sebenernya saya udah lama kepengen banget nulis tentang ini. Tapi rasanya maju-mundur. 

Pas baca postingan Mas Belalang Cerewet tentang Merindukan Blogger Jadul dan Gembul Nita tentang kangen cerita di blog personal, saya jadi kepengen mengeluarkan uneg-uneg juga.
No comments
Awal tahun biasanya semangat ngeblog masih kenceng, abis itu ya gitu deh, hahaha. Blog banyak bolongnya sampai berbulan-bulan saking malesnya.

Akhir Desember kemarin saya bayar perpanjangan domain blog ini. Tiap tahun harganya naik otomatis pajaknya juga naik kan, huhuhu.

Setelah bayar domain, saya merenung sebentar.

Kalau gini terus, saya rugi dong ya. Maksudnya, udah bayar domain yang tiap tahun naik tapi blog banyak kosongnya.

Hhmm, di tahun 2019 ini, bisa nggak ya saya rajin ngeblog?

Pixabay 

Dulu waktu belum ada sinok aja malesnya minta ampun. Blog sampai banyak bolongnya. Apalagi sekarang udah ada sinok?


Pengennya sih mau rajin ngeblog untuk melepaskan stress setelah momong anak. Saya juga udah sayang banget ama blog ini.

Makanya saya lagi belajar memanfaatkan waktu dengan baik. Pas sinok tidur dan urusan di dunia nyata selesai, baru deh ngeblog.

Kalau dulu ngeblognya di komputer, sekarang lewat handphone karena lebih efisien. Lah, misal pas bikin postingan di komputer terus sinok nangis kan sayang on off komputer mulu. Listrik jadi boros juga kan.

Momong anak kan nggak tentu jamnya, tergantung kondisi sinok. Bisa bentar udah bisa ditinggal. Tapi seringnya sih lama karena banyak aktifitasnya.

Maaf ya kalau di postingan saya nggak ada foto yang ciamik karena semua dilakukan via handphone. Demi bisa posting dan melepaskan stress, hahaha.

Bikin postingan via handphone tuh butuh kesabaran karena fiturnya nggak kayak komputer. Mana ukurannya kecil kan. Saya nggak pakai tablet cuma handphone biasa yang penting bisa internetan.

Doakan saya ya semoga bisa rajin ngeblog di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, hahaha.
15 comments
Memenuhi janji kemarin tentang gimana saya yang penderita PCO dan bisa hamil alami. Padahal sebelumnya udah promil ke mana-mana dan sempat insem 2x tapi gagal semua.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa hamil setelah menanti selama 8 tahun. Anak saya udah 4 bulan (lahir bulan Agustus 2018).

Sampai sekarang masih ada yang email atau DM soal promil yang saya jalani. Emang sih saya belum cerita tentang kehamilan saya dan bagaimana prosesnya.

Nah, daripada saya jawab satu per satu, lebih baik saya bikin postingan tentang hal ini. Jadi kalau ada yang nanya, tinggal kasih linknya.

Menikah selama 8 tahun dan belum ada anak sebenarnya biasa aja. Jujur ya, saya biasa dan santai banget. Yang nggak santai tuh malah paksu.

Yah gimana enggak santai setelah beberapa promil gagal dan uang juga lumayan kesedot buat promil kan. Tapi saya pernah berada di titik yang bener-bener serba salah. Mengalami masa putus asa dan menyalahkan diri sendiri kenapa kok bisa begini begitu. Andai nggak ini itu.

Lelah? 
Sedih?

Pastinya ya.

Justru dengan menyalahkan diri sendiri dan nggak menerima keadaan, bikin saya tambah terpuruk dan selalu terbawa energi negatif. Bawaannya uring-uringan mulu di rumah.

Makanya ketika udah agak on lagi, saya pasrah dan berusaha menerima kondisi saya dengan ikhlas. Keyakinan saya hanya Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk kita.

Kelihatan klise ya?

Tapi kalau itu dijalani rasanya enaaak banget. Nggak ada tuh yang namanya baper ditanya kapan punya anak, lihat orang hamil atau nengokin orang lahiran.

Saya udah berada di fase-fase tersebut.

Saya enjoy aja menjalani kehidupan dengan berpikir positif dan banyak refreshing. Saya nggak peduli dengan kehidupan orang lain. Saya hanya fokus ke diri sendiri dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Ini membuat saya bahagia.

Makanya pak suami ketularan energi positifnya. Akhirnya dia juga santai aja ama sikap saya selama masih berada di jalan yang benar, hahaha.

#Banyakin Refreshing dan Santai

Saya dan pak suami memutuskan banyak refreshing. Kami sering jalan-jalan. Nggak usah ke tempat yang jauh dan mahal. Asal kami bahagia maka di mana pun enak aja.
Waktu itu kami sering ikut open trip ke luar kota atau jalan-jalan di Bogor dan Jakarta. Jalan-jalan yang benar-benar jalan. Hahaha.

Kalau open trip kebanyakan sih ke tempat yang ngehit. Kalau jalan-jalan biasa, saya hanya menikmati hal-hal kecil di sekitar tanpa banyak gangguan gadget. Receh banget ya hal-hal yang bikin saya bahagia.

Mau shopping? Silakan. Saya juga suka kok, hahaha. Biasanya ngajak sahabat kalau belanja belanji, hahaha.

Oke, refreshing udah ya ceritanya.

#Ikhtiar lain

Waduh saya mau nyeritain hal ini agak gimana itu. Maaf ya saya bukan pamer atau riya. Saya hanya cerita pengalaman pribadi aja.

Saya bukan orang yang alim banget kok. Banyak sih yang nyaranin ini itu biar cepat dapat momongan. Tapi saya melakukan hal-hal ringan aja yang penting dilakukan secara rutin.

Sebelum hamil, saya rajin puasa Senin-Kamis, rutin santunan ke anak yatim, dan berusaha untuk lebih dekat lagi sama Tuhan.

Saat melakukan hal-hal ini, saya mendapat ketenangan, kebahagiaan, dan lebih banyak bersyukur.

#Hidup sehat

Nah, kalau di kehidupan sehari-hari, saya mencoba untuk berpikir positif, menjalani hidup sehat dengan food combining, dan rajin olahraga.


Kondisi kesehatan yang baik jangan hanya di pihak wanita aja ya. Alangkah baiknya kalau suami diajak ikutan hidup sehat.

Kalau pak suami, dia dulu rutin bekam. Tapi bukan bekam yang seperti kebanyakan orang lakukan. Bekamnya di titik tertentu dan darahnya emang kental banget.

Kalau bekam yang biasa, kami juga pernah coba. Dulu banget sih. Itu lho bekam yang diambil darah kotornya. Tapi setahun belakangan nggak. Cuma bekam kering aja karena saya dan paksu sering masuk angin, hahaha.

Kalau ada orang yang nanya tentang usaha saya kok bisa hamil secara alami ya bakal saya jawab secara universal yaitu hidup sehat dan rajin olahraga. Dua hal ini efeknya bagus banget buat tubuh.

Tapi ya balik lagi sih. Tiap orang kan masalahnya berbeda. Cari tahu dulu penyebabnya baru lakukan ikhtiar.

Kalau saya kan masalahnya hormon nggak seimbang jadi haid juga nggak teratur. Saya mikirnya, kalau gini berarti makanan harus dikontrol. Karena kan hormon dipengaruhi oleh makanan dan gaya hidup.

Makanya saya (saat itu) benar-benar menjalani hidup sehat. Diantaranya mengurangi gorengan, roti, dan makanan pabrikan. Bahkan saya juga nggak tertarik dengan makanan kekinian yang belum tentu sehat.

Oia, saya juga nggak makan ayam potong dan telurnya. Semua saya ganti dengan ayam kampung dan telur ayam kampung. Hal ini saya lakukan sampai sekarang. Tapi kalau untuk pak suami masih ayam potong dan telur biasa biar murah, hahaha.

Dengan niat yang kuat alhamdulillah sampai sekarang saya kurang tertarik dengan makanan kekinian dan malas jajan di luar. Kalau bisa sih masak sendiri. Masaknya yang simpel aja.

Hal ini juga berlaku untuk makanan pabrikan. Saya kurang greget ama makanan pabrikan. Tetep makan kok tapi dikiit dan kalau lagi pengen banget.

Menjalani pola hidup sehat seperti ini nggak saklek sih. Semampunya saya aja. Kalau lagi pengen ini itu ya beli dan makan aja. Hahaha.

Biar semangat hidup sehat tetap membara (halah membara), follow aja akun yang berbagi tentang hidup sehat. Banyak kok yang bisa diikutin. Dengan follow dan rajin baca caption mereka, percaya deh, ngefek ke kehidupan sehari-hari.

Oia, jangan lupa olahraga ya. Karena olahraga benar-benar bikin bahagia lahir batin deh. Saya dan pak suami memang penyuka olahraga. Jadi kami senang menjalani kegiatan ini. Eh, kalau rajin olahraga ngefek lho ke hal yang enak-enak, hahaha. Coba aja buktiin sendiri.

Setelah setahun menjalani pola hidup seperti ini, alhamdulillah saya hamil tanpa disangka sama sekali.

Hasil test pack baru dan yang kadaluarsa

Ceritanya, waktu pulang jalan-jalan, pak suami curiga kok saya belum haid. Saya mah cuek karena emang udah sering telat. Tapi pak suami ngotot suruh test pack. Sampai saya dibeliin test pack baru. Saya ogah-ogahan ngecek.

Pikirnya pak suami, kalau misal saya hamil takutnya kandungannya lemah karena masalah hormon. Kalau misal hamil diketahui sejak awal, semoga aja hal ini bisa dicegah.

Setelah tes pack pakai yang baru, lha kok ternyata hasilnya dua garis. Terus coba pakai test pack yang udah kadaluarsa kok hasilnya sama.

Langsung deh saat itu saya nyuruh pak suami cuti buat nemenin ke dokter kandungan.

Sampai di rumah sakit, setelah lalalili dengan bu dokter, dia kaget dengan kisah saya. Malah ditanyain kok bisa hamil alami dengan berbagai masalah yang ada.

Ya akhirnya saya cerita apa adanya.

Segitu dulu ya curhat tentang gimana saya bisa hamil alami meski divonis PCO.

Buat yang udah komen, mendoakan, dan memberikan semangat, terima kasih banyak ya, teman-teman. Itu semua sangat berarti buat saya. Saya mendapat banyak semangat dari komen-komen tersebut. Saya juga belajar dari pengalaman teman-teman meski lewat komen.

Buat kalian yang masih berusaha punya momongan, yakin aja kalau kamu bisa jadi ibu. Mungkin saat ini waktunya belum tepat.

Beneran deh, ketika saya mikir lagi, kalau saya dikasih anak dari dulu mungkin emosi saya masih labil dan belum sebaik sekarang.

Tuhan tahu yang terbaik untuk kita.

Udah dulu ya curhatnya. Maaf kepanjangan.